Header ads

NASEHAT SYAIKH MUBARAK AL MILI TENTANG DAKWAH TAUHID

azdinawawi Kamis, 23 Agustus 2018 0

NASEHAT SYAIKH MUBARAK AL MILI TENTANG DAKWAH TAUHID

Syaikh Mubarak bin Muhammad Al Miili, seorang ulama Al Jazair bermadzhab Maliki yang wafat tahun 1945M, beliau mengatakan:
كان تعريف الناس به أمراً لازماً أكيداً، وإذا كان الباعث على هذا التعريف إقامة العقيدة؛ فهو من النصيحة المفيدة الحميدة، وليس الإِرشاد إلى الخير النافع بأولى من التنبيه على الباطل الضار، بل كلاهما غرض حسن وسَنن، لا يعدل عنه الساعون في خير سُنن، وهذا ما حمل المصلحين المجددين على الاهتمام بدعوة المسلمين إلى إقامة التوحيد وتخليصه من خيالات المشركين
"Mengenalkan tentang jenis dan bahaya syirik kepada umat adalah perkara yang sangat wajib. Jika mengenalkan hal tersebut merupakan bentuk penegakkan akidah, maka ia merupakan nasehat yang bermanfaat dan terpuji. Tidak mesti dakwah yang membimbing kepada kebaikan itu lebih utama dari dakwah yang memperingatkan orang dari kebatilan. Bahkan keduanya merupakan tujuan yang baik dan merupakan Sunnah Nabi.
Maka orang yang benar-benar menjalani Sunnah tidak berpaling darinya. Dan dakwah inilah yang dibawa para Mushlih (orang-orang yang memperbaiki umat) dan para Mujaddid (orang-orang yang memperbaharui praktek beragama), yaitu mereka memiliki perhatian besar untuk menegakkan tauhid dan membersihkan masyarakat dari khayalan kaum Musyrikin"
Beliau juga mengatakan:
وما رفعنا صوتنا بتلك الدعوة؛ حتى ثارت علينا زوابع ممن سلكوا للشرك كل الذرائع، وشوهوا للعامة غرضنا الحميد بما يجدون الجزاء عنه يوم الوعيد، ومن أقوى ما لبسوا به على العموم، ومدوا به صخب الخصوم: رميهم لنا بأنا نحكم على المسلمين بحكم المشركين، ثم ينتصبون للدفاع؛ محافظة على غفلة الأتباع، الذين ينتفعون منهم بكل وجوه الانتفاع، ولكن قذف الله بالحق على الباطل بعيد الأثر، وسنته في ظهور المصلحين على المعاندين قديمة في البشر
"Dan tidaklah kami mengangkat suara kami (dalam dakwah tauhid) kecuali mendapat terpaan angin kencang dari orang-orang yang melakukan berbagai praktek kesyirikan. Dan mereka meracuni pikiran orang-orang awam tentang tujuan-tujuan dakwah kami yang mulia, yang ini kelak akan dibalas di hari pembalasan. Dan tuduhan yang paling gencar yang mereka bisikkan kepada orang-orang awam, dan paling sering disampaikan di keramaian perdebatan, adalah tuduhan bahwa kami memvonis kaum Muslimin sebagai Musyrikin.
Kemudian mereka memproklamirkan perlawanan dengan memanfaatkan keawaman orang awam yang hanya ikut-ikutan. Namun Allah akan membuka kedok kebatilan mereka dengan para pengikut atsar. Dan merupakan sunnatullah bahwa akan tetap ada orang-orang (ahli tauhid) yang menang para penentang (dakwah tauhid) di kalangan manusia"
(Risaalatusy Syirki wa Mazhahiruhu, 1/51)
Source channel TG  @fawaid_kangaswad

PRAHARA STATUS

azdinawawi Rabu, 22 Agustus 2018 0

Prahara Status

Az-Zubair bin al-'Awwaam radhiallau 'anhu berkata:
من استطـاع أن تكون له خبيئة من عمل صالــح 

فليفعل

"Barang siapa yang mampu untuk memiliki amalan shalih yang tersembunyikan maka lakukanlah" (Az-Zuhd karya Abu Dawud hal 119)
Amalan sholeh yang tidak mengetahuinya kecuali Allah Yang Maha Mengetahui amalan hambanya, bukan amalan yang disiarkan (apalagi dipamerkan) melalui status FB dan BB, atau jadi Display picture, berangan-anganlah engkau umroh, sedekah, i'tikaf, dll dan yang mengetahuinya hanyalah Allah....
Kalau orang lain bahagia tatakala amalannya diketahui orang lain maka berusahalah untuk gembira dan bahagia tatkala tidak ada yang mengetahui amalanmu kecuali Allah...
Status : Lagi i'tikaf, jangan ganggu !!!
Status : Lagi baksos semoga ikhlas ??!
Status : Alhamdulillah hari ini sudah 1 juz...
Status : Mau ke tanah suci nih, ada yang mau nitip doa??, gratis...!!
Status : Lagi khusyuk mendengarkan lantunan bacaan qur'an syaikh fulan...
Status : Puasa hari ini sungguh melelahkan tidak seperti biasanya...
Status : Walaupun lelah yang penting demi umat...
Status : Lagi safari dakwah alhamdulillah sambil pulang kampung....
Status : Alhamdulillah bisa mendoakan saudara- saudaraku dalam sholat malamku..., semoga dikabulkan...
Meskipun para penulis contoh status-status di atas ikhlas, akan tetapi hukum asal amalan yang tersembunyi lebih baik..., dan berusaha menutup pintu dan celah riya' sangat dianjurkan, kecuali jika ada kemaslahatan yang sangat diharapkan.
والله أعلم بالصواب
Oleh Ustadz DR. Firanda Andirja, MA, حفظه الله تعالى

HUKUM SHALAT ‘IED WAJIB ATAU SUNNAH

azdinawawi Selasa, 21 Agustus 2018 0

HUKUM SHALAT ‘IED WAJIB ATAU SUNNAH

Pertanyaan.
Syaikh Abu al-Hasan Mustafa bin Ismail as-Sulaimani ditanya : Tentang dua orang yang berselisih pendapat mengenai shalat ‘Ied, apakah hukumnya wajib, atau sunnah yang bila dilaksanakan akan berpahala tetapi bila ditinggalkan tidak berdosa.
Jawaban
“Berkaitan dengan persoalan ini, ada tiga pendapat yang masyhur di kalangan Ulama :”
1. Shalat ‘Ied hukumnya sunnah. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) Ulama.
2. Fardhu Kifayah, artinya (yang penting) dilihat dari segi adanya shalat itu sendiri, bukan dilihat dari segi pelakunya. Atau (dengan bahasa lain, yang penting) dilihat dari segi adanya sekelompok pelaku, bukan seluruh pelaku. Maka jika ada sekelompok orang yang melaksanakannya, berarti kewajiban melaksanakan shalat ‘Ied itu telah gugur bagi orang lain. Pendapat ini adalah pendapat yang terkenal di kalangan madzhab Hambali.
3. Fardhu ‘Ain (kewajiban bagi tiap-tiap kepala), artinya ; berdosa bagi siapa yang meninggalkannya. Ini adalah pendapat madzhab Hanafiyah serta pendapat salah satu riwayat dari Imam Ahmad.
Dalil-Dalil
Para pendukung pendapat pertama berdalil dengan hadits yang muttafaq ‘alaih, dari hadits Thalhah bin Ubaidillah, ia berkata :
“Artinya : Telah datang seorang laki-laki penduduk Nejed kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kepalanya telah beruban, gaung suaranya terdengar tetapi tidak bisa difahami apa yang dikatakannya kecuali setelah dekat. Ternyata ia bertanya tentang Islam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :”Shalat lima waktu dalam sehari dan semalam”. Ia bertanya lagi : Adakah saya punya kewajiban shalat lainnya ?. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :”Tidak, melainkan hanya amalan sunnah saja”. Beliau melanjutkan sabdanya :”Kemudian (kewajiban) berpuasa Ramadhan”. Ia bertanya : Adakah saya punya kewajiban puasa yang lainnya ?. Beliau menjawab :”Tidak, melainkan hanya amalan sunnah saja”. Perawi (Thalhah bin Ubaidillah) mengatakan bahwa kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan zakat kepadanya. Iapun bertanya ;”Adakah saya punya kewajiban lainnya ?. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab :”Tidak, kecuali hanya amalan sunnah saja”. Perawi mengatakan :”Setelah itu orang ini pergi seraya berkata : Demi Allah, saya tidak akan menambahkan dan tidak akan mengurangkan ini”. (Menanggapi perkataan orang itu) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :”Niscaya dia akan beruntung jika ia benar-benar (melakukannya)”. Mereka (para pendukung pendapat kesatu) mengatakan : Hadits ini menunjukkan bahwa shalat selain shalat lima waktu dalam sehari dan semalam, hukumnya bukan wajib (Fardhu) ‘Ain (bukan kewajiban perkepala). Dua shalat ‘Ied termasuk kedalam keumuman ini (yakni bukan wajib melainkan hanya sunnah saja, -pen). Pendapat ini di dukung oleh sejumlah Ulama diantaranya Ibnu al-Mundzir dalam “Al-Ausath IV/252”.
Sedangkan pendukung pendapat kedua, yakni berpendapat bahwa shalat ‘Ied adalah Fardhu Kifayah, berdalil dengan argumentasi bahwa shalat ‘Ied adalah shalat yang tidak diawali adzan dan iqamat. Karena itu shalat ini serupa dengan shalat jenazah, padahal shalat jenazah hukumnya fardhu kifayah. Begitu pula shalat ‘Ied juga merupakan syi’ar Islam. Disamping itu, mereka juga berdalil dengan firman Allah :
“Artinya : Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah (karena Rabbmu) “. [Al-Kautsar : 2] [Ayat ini berkaitan dengan perintah melaksanakan shalat ‘Ied, yakni ‘Iedul Adha, wallahu a’lam, red]
Mereka juga berkeyakinan bahwa pendapat ini merupakan titik gabung antara hadits (kisah tentang) Badui Arab (yang digunakan sebagai dalil oleh pendapat pertama) dengan hadist-hadits yang menunjukkan wajibnya shalat ‘Ied. Perhatikanlah Al-Mughni II/224.
Sementara para pengikut pendapat ketiga berdalil dengan banyak dalil. Dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mendukung pendapat ini.
Beliau mengukuhkan dalil-dalil yang menyatakan (bahwa shalat ‘Ied adalah) wajib ‘Ain (kewajiban perkepala). Beliaupun menyebutkan bahwa para shahabat dulu melaksanakan shalat ‘Ied di padang pasir (tanah lapang) bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memberikan keringanan kepada seorangpun untuk melaksanakan shalat tersebut di Masjid Nabawi.
Berarti hal ini menunjukkan bahwa shalat ‘Ied termasuk jenis shalat Jum’at, bukan termasuk jenis shalat-shalat sunnah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak pernah membiarkan shalat ‘Ied tanpa khutbah, persis seperti dalam shalat Jum’at. Hal semacam ini tidak didapati dalam Istisqa’ (do’a meminta hujan), sebab Istisqa’ tidak terbatas hanya dalam shalat dan khutbah saja, bahkan Istisqa’ bisa dilakukan hanya dengan berdo’a di atas mimbar atau tempat-tempat lain. Sehingga karena itulah Abu Hanifah Rahimahullah membatasi Istisqa’ hanya dalam bentuk do’a, ia berpandangan bahwa tidak ada shalat khsusus untuk istisqa’.
Begitu pula, sesungguhnya ada riwayat yang jelas dari Ali (bin Abi Thalib) Radhiyallahu ‘anhu, yang menugaskan seseorang untuk mengimami shalat (‘Ied) di Masjid bagi golongan kaum Muslimin yang lemah. Andaikata shalat ‘Ied itu sunnah, tentu Ali tidak perlu menugaskan seseorang untuk mengimami orang-orang yang lemah di Masjid. Karena jika memang sunnah, orang-orang lemah ini tidak usah melaksanakannya, tetapi toh Ali tetap menugaskan seseorang untuk mengimami mereka di Masjid, berarti ini menunjukkan wajib, sehingga orang-orang lemahpun tetap harus melaksanakannya -red).
Dalil lain ialah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kaum wanita keluar (ke tanah lapang) walaupun sedang haidh guna menyaksikan barakahnya hari ‘Ied dan do’a kaum Mukminin. Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para wanita haidh untuk keluar (ke tanah lapang) -padahal mereka tidak shalat-, apalagi bagi para wanita yang sedang dalam keadaan suci. Ketika ada diantara kaum wanita berkata kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa :”Salah seorang di antara kami tidak memiliki jilbab (kain menutupi seluruh tubuh wanita dari atas kepala hingga ujung kaki, -pen), beliau tetap tidak memberikan keringan kepada mereka untuk tidak keluar, beliau bahkan menjawab :
“Artinya : Hendaknya ada yang meminjamkan jilbab untuknya”. [Hadits shahih, muttafaq ‘alaihi, sedangkan lafalnya adalah lafal Imam Muslim]
Padahal dalam shalat Jum’at dan shalat berjama’ah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (bagi para wanita).
“Artinya : Dan (di dalam) rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”.
Juga bahwa shalat Jum’at ada gantinya bagi kaum wanita serta kaum musafir, berbeda dengan shalat ‘Ied (yang tidak ada gantinya). Shalat ‘Ied hanya satu atau dua kali dalam satu tahun, berlainan dengan shalat Jum’at yang terulang sampai lima puluh kali atau lebih (dalam satu tahun). Sementara itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahkan (ummatnya) untuk melaksanakan shalat ‘Ied, memerintahkan (agar ummatnya) keluar menuju shalat ‘Ied. Beliau dan kemudian di susul para Khalifahnya serta kaum Muslimin sesudahnya terus menerus melakukan shalat ‘Ied. Demikian pula tidak pernah sekalipun diketahui bahwa di negei Islam shalat ‘ied ditinggalkan, sedangkan shalat ‘Ied termasuk syi’ar Islam yang paling agung. Firman Allah berbunyi.
“Artinya : Dan hendaklah kamu bertakbir (mengagungkan) kepada Allah atas petunjuk-Nya”. [Al-Baqarah : 185].
Pada ayat itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan bertakbir pada hari Iedul Fitri dan Iedul Adha. Artinya, pada hari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan shalat yang meliputi adanya takbir tambahan, sesuai dengan cara takbir pada raka’at pertama dan raka’at kedua. [Demikianlah secara ringkas apa yang dikemukakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah disertai sedikit penambahan keterangan dan pengurangan. Lihat Majmu’ Fatawa XXIV/179-183].
Imam Shana’ani, dan Shidiq Hasan Khan dalam “Ar-Raudhah An-Nadiyah” menambahkan bahwa apabila (hari) ‘Ied dan Jum’at bertemu, maka (hari) ‘Ied menggugurkan kewajiban shalat Jum’at. Padahal shalat Jum’at adalah wajib, tidak ada yang bisa menggugurkan kewajiban ini melainkan yang menggugurkannya pasti merupakan perkara yang wajib. [Lihat pula Subul as-Salam II/141].
Mereka (para ahli pendapat ketiga ini) membantah dalil yang digunakan oleh para pendukung pendapat pertama, bahwa hadits (yang mengisahkan persoalan) orang Badui Arab itu mengandung beberapa kemungkinan.
[a]. Mungkin karena orang Badui Arab itu tidak berkewajiban melaksanakan shalat Jum’at, sehingga apalagi shalat ‘Ied.
[a]. Mungkin pula karena hadits tentang Badui Arab itu (khusus menerangkan) masalah kewajiban shalat dalam sehari dan semalam (bukan mengenai kewajiban setiap tahun). Padahal shalat ‘Ied termasuk kewajiban shalat yang bersifat tahunan, bukan kewajiban harian. [Kemungkinan kedua ini dikemukakan oleh Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah dalam “Kitab ash-Shalah” halaman 39].
Hadist (kisah tentang) Badui Arab inipun masih bisa dibantah (dari sisi lain, yaitu bahwa) keterangan umum pada hadits itu (mengenai shalat wajib hanyalah shalat lima waktu dalam sehari dan semalam) telah dikhususkan dengan shalat nadzar, yaitu shalat yang seseorang mewajibkan dirinya untuk melaksanakannya karena nadzar (maksudnya : seseorang yang bernadzar untuk melaksanakan shalat, maka shalat itu hukumnya wajib untuk dilaksanakan, padahal itu tidak tertuang dalam hadits (kisah tentang Badui Arab, -red). Jika argumentasi ini dibantah bahwa tentang kewajiban shalat nadzar ada dalilnya tersendiri, maka demikian pula kewajiban shalat ‘Ied juga ada dalilnya tersendiri. Jika dibantah lagi bahwa tentang kewajiban shalat nadzar diakibatkan karena seseorang mewajibkan dirinya (dengan nadzar) untuk melaksanakan shalat tersebut, maka apalagi shalat yang kewajibannya ditetapkan oleh Allah untuknya, tentu kewajiban melaksanakan shalat baginya itu lebih nyata daripada melaksanakan shalat yang ia wajibkan sendiri.
[Tulisan ini merupakan terjemahan dari fatwa Syaikh Abu al-Hasan Mustafa bin Ismail as-Sulaimani murid senior dari Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i berkaitan dengan hukum Shalat ‘Ied dan Takbir pada hari ‘Ied dari kitab Silsilah al-Fatawa Asy-Syar’iyah No. 8 bulan Muharram dan Shafar 1419H, soal jawab No. 131 dan 137. Dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 07/Th III/1419-1998M.]
Adapun argumentasi yang digunakan oleh orang yang mengatakan bahwa shalat ‘Ied hukumnya Fardhu Kifayah berdasarkan ayat.
“Artinya : Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah (karena Rabbmu) “. [Al-Kautsar : 2].
Atau bahwa shalat ‘Ied merupakan syi’ar Islam, maka dalil ini justru lebih mendukung pendapat yang mengatakan bahwa shalat ‘Ied hukumnya Wajib ‘Ain (wajib bagi tiap-tiap kepala).
Mengenai qiyas yang mereka lakukan terhadap shalat jenazah bahwa shalat ‘Ied adalah shalat yang tidak didahului adzan maupun iqamat (Qamat) hingga mirip dengan shalat jenazah, maka qiyas itu adalah qiyas yang berlawanan dengan nash.
Disamping itu, sesungguhnya telah dinyatakan bahwa manusia tidak membutuhkan adzan bagi shalat ‘Ied, adalah karena:
[1]. Mereka keluar (untuk shalat) menuju tanah lapang, dan karena jauhnya dari tempat -tempat pemukiman.
[2]. (Sebelumnya) Mereka telah menunggu-nunggu untuk memasuki malam hari raya, sehingga telah bersiap sedia untuk melaksanakan shalat ‘Ied (pada pagi harinya), dan telah menghentikan segala kesibukan lain (sehingga mereka tidak lagi memerlukan adanya adzan, -red), berbeda keadaannya dengan shalat yang lima waktu. Wallahu ‘alam.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengatakan :”Siapa yang berpendapat shalat ‘Ied itu Fardhu Kifayah, maka perlu dikatakan kepadanya bahwa hukum Fardhu Kifayah hanya terjadi pada sesuatu yang maslahatnya dapat tercapai jika dilakukan oleh sebagian orang, misalnya menguburkan jenazah atau mengusir musuh. Sedangkan shalat ‘Ied maslahatnya tidak akan tercapai jika hanya dilakukan oleh sebagian orang. Kemudian kalau maslahat shalat ‘Ied ini (dapat dicapai dengan hanya sebagian orang) berapakah jumlah orang yang dibutuhkan agar maslahat shalat tersebut dapat tercapai ..? Maka sekalipun dapat diperkirakan jumlah tersebut, tetapi pasti akan menimbulkan pemutusan hukum secara pribadi, sehingga mungkin akan ada yang menjawab ; satu orang, dua orang, tiga orang …. dan seterusnya”. [Dinukil dari Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah].
Imam Shana’ani, Imam Syaukani, guru kita Syaikh Al-Albani dan Syaikh kami Syaikh (Muhammad bin Shalih) Al-Utsaimin -hafizhallahu al-jami- berpegang kepada pendapat bahwa shalat ‘Ied adalah “Wajib ‘Ain. Saya pribadi cenderung mengikuti pendapat ini, sekalipun pada beberapa dalil yang digunakan oleh para pendukung pendapat ini ada yang perlu dilihat kembali, tetapi pendapat tersebut adalah pendapat yang dalilnya paling kuat dibandingkan dalil-dalil pendapat lainnya.
Kendatipun saya takut menyelisihi jumhur (mayoritas) ahli ilmu (Ulama), namun dalam hal ini saya lebih menguatkan pendapat yang mengatakan (shalat ‘Ied) hukumnya Wajib ‘Ain, berdasarkan kekuatan dalil yang (menurut saya) mereka gunakan, terutama karena sejumlah Ulama juga berpendapat seperti ini.
Begitulah kiranya sikap adil (tidak taklid).
Wallahu a’lam
TAKBIR PADA SAAT ‘IED KERAS-KERAS ATAU PELAN-PELAN?
Pertanyaan.
Syaikh Abu al-Hasan Mustafa as-Sulaimani ditanya : “Apakah seseorang yang pergi untuk menunaikan sahalat ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha (mesti) bertakbir ..?. Jika mesti bertakbir apakah dengan suara keras atau dengan suara pelan ?”
Jawaban.
Bertakbir pada saat pergi untuk menunaikan shalat ‘Ied terdapat dalam atsar-atsar shahih yang mauquf dan maqthu’ (yakni atsar-atsar/yang dilakukan para sahabat dan atau tabi’in), tetapi tidak benar jika dikatakan ada hadits marfu’ (dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang berkaitan dengan masalah ini.
Al-Faryabi mengeluarkan riwayat dalam “Ahkam Al-‘Idain” No. 53, bahwa Ibnu Umar mengeraskan suara takbirnya pada hari ‘Iedul Fitri (sejak) ketika pergi (di pagi hari) menuju Mushala (tanah lapang tempat melaksanakan Shalat ‘Ied), sampai hadirnya Imam untuk melaksanakan shalat ‘Ied. (Atsar ini, sanadnya hasan). Atsar ini ada yang meriwayatkannya secara marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), tetapi riwayat itu riwayat mungkar.
Dalam riwayat Hakim I/298 dan lainnya, disebutkan bahwa : Ibnu Umar pada dua hari raya (Iedul Fitri dan Iedul Adha) keluar dari Masjid (setelah shalat shubuh, -red), kemudian beliau bertakbir hingga tiba di Mushala (tanah lapang tempat dilaksanakan shalat ‘Ied). Sanadnya hasan.
Syu’bah juga pernah bertanya kepada Al-Hakam dan Hammad : “Apakah saya (mesti) bertakbir ketika saya keluar menuju shalat ‘Ied.?” Keduanya menjawab : “Ya” [Atsar ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan No. 5626, sedangkan sanadnya hasan].
Kemudian dalam riwayat Al-Baihaqi III/279, melalui jalan Tamim bin Salamah, ia (Tamim) Berkata : “Ibnu Zubair keluar pada hari raya Kurban, ia tidak melihat orang-orang bertakbir, maka ia berkata :”Mengapa mereka tidak bertakbir .?. Ketahuilah, demi Allah apabila mereka mengumandangkan takbir, tentu engkau akan melihat kami dalam (barisan) pasukan yang tidak dapat dilihat ujungnya, yaitu seseorang (diantara kami) bertakbir, lalu disusul orang berikutnya hingga berguncanglah pasukan itu karena gema takbir. Memang ternyata perbedaan antara kalian dengan mereka (generasi shahabat) adalah ibarat bumi yang rendah dengan langit yang tinggi” [Sanad atsar ini shahih].
Sementara itu Abu Hanifah -dalam salah satu riwayat yang berasal darinya- berpendapat bahwa mengumandangkan takbir secara keras hanya ada pada hari Raya Kurban, tidak pada hari Raya Fitri, ketika pagi-pagi berangkat menuju mushala. Ia berdalil berdasarkan atsar yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah No. 5629, melalui jalan Syu’bah maula Ibnu Abbas.
Dalam atsar itu diceritakan bahwa Syu’bah berkata :
“Saya menuntun Ibnu Abbas pada suatu hari raya, ia mendengar orang-orang mengumandangkan takbir, maka ia bertanya :”Orang-orang itu sedang ada apa ?”. Saya menjawab :”Mereka bertakbir”. Ia bertanya ;”Apakah imam sedang bertakbir?” Saya menjawab :”Tidak!”. Ia berkata :”Apakah orang-orang sudah gila .?
[Ini adalah atsar yang sanadnya dha’if/lemah, sebab Syu’bah meriwayatkan riwayat-riwayat yang mungkar dari Ibnu Abbas. Mungkin yang dimaksudkan Ibnu Abbas olehnya adalah Ibnu Abbas yang lain. Kalaupun kita katakan bahwa Syu’bah meriwayatkan kisah itu secara tepat, namun ‘illat (penyakit)nya ada pada Abu Dzi’b, seorang muridnya, yang ada dalam sanad dimana ia meriwayatkan atsar tersebut melalui berbagai sisi, dan periwayatannyapun mudtharib (goncang/tidak mantap].
Tentang firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (sebuah ayat yang berkaitan dengan takbir pada ‘Iedul Fitri) :
“Artinya : Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya (bulan Ramadhan), dan hendaklah kamu bertakbir (mengagungkan) kepada Allah atas petunjuk-Nya” [Al-Baqarah : 185]
Sebagian pengikut madzahb Hanafi menjawab bahwa yang dimaksud dengan takbir dalam ayat itu adalah takbir dalam shalat, atau yang dimaksud adalah mengagungkan Allah, berdasarkan firman Allah dalam ayat lain.
“Artinya : Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya”.[Al-Israa’ : 111].
Tetapi pembatasan makna seperti itu pada ayat di atas tidak benar, sebab makna ayat tersebut lebih umum dari sekedar takbir dalam shalat atau sekedar mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Imam Thahawi, beliau adalah juga seorang pengikut madzhab Hanafi -justru menguatkan pernyataan bahwa kedua hari ‘Ied (hari raya) itu (yakni ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha) adalah satu. Pembedaan (hukum) antara kedua hari raya tersebut tidak ada dalilnya. Itulah pedapat kebanyakan Ulama, dan itu pulalah apa yang dilakukan oleh para Salaf (Lihat Mukhtashar Ikhtilaf al-Ulama, karya Imam Thahawi I/376-378, Bada-i ash-Shana-i’, karya al-Kasani I/415 dan Fathul Bari karya Ibnu Rajab IX/31-32).
Catatan Penting.
Wanita juga ikut bertakbir apabila aman dari fitnah, tetapi tidak perlu sekeras suara kaum laki-laki. Dasarnya adalah hadits Ummu ‘Athiyah. Bisa dilihat dalam Fathul Bari Ibnu Rajab IX/33).

Catatan Redaksi.
Berdasarkan atsar-atsar di atas, maka terbukti ada tuntunan untuk takbir dengan suara keras menjelang shalat ‘Iedul Fitri dan ‘Iedul Adha.
Wallahu a’lam.
[Tulisan ini merupakan terjemahan dari fatwa Syaikh Abu al-Hasan Mustafa bin Ismail as-Sulaimani murid senior dari Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i berkaitan dengan hukum Shalat ‘Ied dan Takbir pada hari ‘Ied dari kitab Silsilah al-Fatawa Asy-Syar’iyah No. 8 bulan Muharram dan Shafar 1419H, soal jawab No. 131 dan 137. Dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 07/Th III/1419-1998M.]

KHUTBAH IED : SEKALI ATAU DUA KALI?

azdinawawi 0

Khuthbah ‘Ied : Sekali atau Dua Kali ?

Tanya : Berapakah jumlah khuthbah ‘Ied yang sesuai dengan sunnah ?
Jawab : Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian ulama mengatakan khutbah (shalat) ‘Ied adalah dua kali diselingi dengan duduk seperti khuthbah (shalat) Jum’at, dan sebagian yang lain mengatakan sekali.
Dalil paling kuat yang dibawakan oleh pendapat pertama adalah hadits :
نَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الأَعْلَى الصَّنْعَانِيُّ، نَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ، ثنا عُبَيْدُ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْطُبُ الْخُطْبَتَيْنِ وَهُوَ قَائِمٌ، وَكَانَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمَا بِجُلُوسٍ "
Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Abdil-A’laa Ash-Shan’aaniy : Telah mengkhabarkan kepada kami Bisyr bin Al-Mufadldlal : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah, dari Naafi’, dari ‘Abdullah (bin ‘Umar) : Bahwasannya Rasulullah ﷺ dulu berkhutbah dengan dua kali khuthbah dalam keadaan berdiri. Beliau memisahkan antara keduanya dengan duduk [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah 2/349 no. 1446; shahih].
Ibnu Khuzaimah rahimahullah meletakkan hadits tersebut dalam bab : Jumlah khuthbah dalam shalat ‘Iedain, dan pemisahan antara dua khuthbah dengan duduk. Ini adalah wahm dari Ibnu Khuzaimah rahimahullah, karena dalam riwayat yang lain, hadits tersebut merupakan hadits tentang shalat Jum’at.
وحَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ الْقَوَارِيرِيُّ، وَأَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِيُّ، جميعا عَنْ خَالِدٍ، قَالَ أَبُو كَامِلٍ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ، عَنْ نَافِعٍ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: " كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ قَائِمًا، ثُمَّ يَجْلِسُ، ثُمَّ يَقُومُ، قَالَ: كَمَا يَفْعَلُونَ الْيَوْمَ "
Dan telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Umar Al-Qawaariiriy dan Abu Kaamil Al-Jahdariy, keduanya dari Khaalid – Abu Kaamil berkata : Telah menceritakan kepada kami Khaalid bin Al-Haarits - : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : “Dulu Rasulullah ﷺ berkhutbah pada hari Jum’at dengan berdiri, kemudian duduk, kemudian berdiri”. Ibnu ‘Umar berkata : “Sebagaimana yang dilakukan pada hari ini” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 861].
Khaalid dalam tashriih penyebutan ‘(hari) Jum’at’ mempunyai mutaba’ah dari Ma’mar bin Raasyid dan ‘Abdurrahmaan bin ‘Utsmaan Al-Bakraawiy.
Selain itu, beberapa imam yang lain meletakkan hadits Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa tersebut di atas dalam Kitaabul-Jum’ah, seperti Al-Bukhaariy (no. 920), Muslim, At-Tirmidziy (no. 506), An-Nasaa’iy (no. 1416), dan yang lainnya.
Juga hadits :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَكِيمٍ، حَدَّثَنَا أَبُو بَحْرٍ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيل بْنُ مُسْلِمٍ الْخَوْلَانِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَوْمَ فِطْرٍ أَوْ أَضْحَى، فَخَطَبَ قَائِمًا، ثُمَّ قَعَدَ قَعْدَةً، ثُمَّ قَامَ
Telah menceritakan kepada kami Yahyaa bin Hakiim : Telah menceritakan kepada kami Abu Bahr : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Muslim Al-Khaulaaniy : Telah menceritakan kepada kami Abuz-Zubair, dari Jaabir, ia berkata : “Rasulullah ﷺ keluar pada hari raya ‘Iedul-Fithri atau ‘Iedul-Adlha (untuk menunaikan shalat), lalu beliau ﷺ berkhutbah dengan berdiri, kemudian duduk sejenak, dan kemudian berdiri kembali” [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 1289].
Sayangnya, riwayat ini sangat lemah dikarenakan Ismaa’iil bin Muslim dan Abu Bahr. Dilemahkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaaniy dalam Dla’iif Sunan Ibni Maajah 1/95].
Ada beberapa atsar dari sebagian salaf yang menunjukkan khuthbah ‘Ied terdiri dari dua khuthbah, di antaranya :
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقَارِي، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ، قَالَ: " مِنَ السُّنَّةِ أَنْ يُكَبِّرَ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ عَلَى الْعِيدَيْنِ: تِسْعًا قَبْلَ الْخُطْبَةِ، وَسَبْعًا بَعْدَهَا "
Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari Muhammad bin ‘Abdirrahmaan Al-Qaariy, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, ia berkata : “Termasuk sunnah adalah imam bertakbir sebanyak sembilan kami di atas mimbar pada waktu ‘Iedain sebelum khuthbah, dan tujuh kali setelahnya (yaitu pada khuthbah kedua)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/190 no. 5916; hasan].
وَقَالَ سَعِيدٌ : حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ ، قَالَ : يُكَبِّرُ الْإِمَامُ عَلَى الْمِنْبَرِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ أَنْ يَخْطُبَ تِسْعَ تَكْبِيرَاتٍ ، ثُمَّ يَخْطُبُ ، وَفِي الثَّانِيَةِ سَبْعَ تَكْبِيرَاتٍ
Dan telah berkata Sa’iid (bin Manshuur) : Telah menceritakan kepada kami Ya’quub bin ‘Abdirrahmaan, dari ayahnya, dari ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, ia berkata : “Imam bertakbir di atas mimbar pada hari ‘Ied sebelum berkhuthbah sebanyak sembilan kali, kemudian berkhuthbah. Dan dalam khuthbah yang kedua sebanyak tujuh kali takbir” [Dibawakan oleh Ibnu Qudaamah dalam Al-Mughniy, 2/239; sanadnya shahih].
‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah adalah salah seorang 7 fuqahaa terkemuka di Madiinah (al-fuqahaa’ as-sab’ah), generasi tabi’iin pertengahan, dan wafat tahun 90-an H.
عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أُمَيَّةَ، قَالَ سَمِعْتُ أَنَّهُ يُكَبَّرُ فِي الْعِيدِ تِسْعًا وَسَبْعًا "
Dari Ma’mar, dari Ismaa’iil bin Umayyah, ia (Ma’mar) berkata : Aku pernah mendengarnya (Ismaa’iil) bertakbir (ketika khuthbah) pada hari ‘Ied sembilan kali dan tujuh kali [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq no. 5671; shahih].
Ismaa’iil bin Umayyah termasuk ulama dari kalangan shighaarut-taabi’iin yang tsiqah lagi tsabat, dan wafat tahun 144 H.
Inilah madzhab jumhur ulama 4 madzhab dan yang lainnya. Bahkan, sebagian kalangan mengatakan adanya ijmaa’ dua khuthbah dengan diselingi duduk antara keduanya dalam shalat ‘Iedain (misal : Ibnu Hazm dalam Al-Muhallaa, 3/293).
Adapun dalil yang dibawakan oleh sebagian ulama lain yang menyatakan hanya sekali khuthbah (tanpa diselingi duduk) adalah :
وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ يَوْمَ الْعِيدِ، فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ، ثُمَّ قَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى بِلَالٍ فَأَمَرَ بِتَقْوَى اللَّهِ وَحَثَّ عَلَى طَاعَتِهِ وَوَعَظَ النَّاسَ وَذَكَّرَهُمْ، ثُمَّ مَضَى حَتَّى أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ، فَقَالَ: " تَصَدَّقْنَ فَإِنَّ أَكْثَرَكُنَّ حَطَبُ جَهَنَّمَ "، فَقَامَتِ امْرَأَةٌ مِنْ سِطَةِ النِّسَاءِ سَفْعَاءُ الْخَدَّيْنِ، فَقَالَتْ: لِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟، قَالَ: " لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ الشَّكَاةَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ "، قَالَ: َجَعَلْنَ يَتَصَدَّقْنَ مِنْ حُلِيِّهِنَّ، يُلْقِينَ فِي ثَوْبِ بِلَالٍ مِنْ أَقْرِطَتِهِنَّ وَخَوَاتِمِهِنَّ
Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah bin Numair : Telah menceritakan kepada kami ayahku : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Malik bin Abi Sulaimaan, dari ‘Athaa’, dari Jaabir bin ‘Abdillah, ia berkata : Aku hadir bersama Rasulullah ﷺ pada hari ‘Ied. Beliau memulai shalat sebelum khutbah tanpa adzan dan iqamat. Kemudian beliau berdiri dengan berpegangan kepada Bilaal. Lalu beliau memerintahkan untuk bertaqwa kepada Allah, menganjurkan ketaatan kepada-Nya, lalu beliau memberi nasihat dan mengingatkan mereka. Kemudian beliau berjalan hingga mendatangi wanita, menyampaikan nasihat kepada mereka dan mengingatkan mereka, lalu bersabda : “Wahai sekalian wanita, hendaklah kalian mengeluarkan shadaqah, karena kalian adalah kayu bakar Jahannam yang paling banyak”. Seorang wanita dari kerumunan para wanita yang kedua pipinya kehitaman, berdiri dan berkata : “Mengapa wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab : “Karena kalian banyak mengeluh dan mengingkari suami”. Jaabir berkata : “Maka mereka dengan segera bershadaqah dengan perhiasan mereka, dengan melemparkan ke kain Bilal, berupa anting-anting dan cincin mereka” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 885].
Dhahir hadits di atas menunjukkan beliau ﷺ hanya berkhutbah sekali tanpa diselingi duduk, dan kemudian pergi ke tempat para wanita (karena mereka tidak mendengar apa yang disampaikan Nabi ﷺ sebelumnya).
Selain itu juga terdapat riwayat:
عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، قَالَ: قُلْتُ لِعَطَاءٍ: مَتَى كَانَ مَنْ مَضَى يَخْرُجُ أَحَدُهُمْ مِنْ بَيْتِهِ يَوْمَ الْفِطْرِ لِلصَّلاةِ؟ فَقَالَ: كَانُوا يَخْرُجُونَ حَتَّى يَمْتَدَّ الضُّحَى فَيُصَلُّونَ، ثُمَّ يَخْطُبُونَ قَلِيلا سُوَيْعَةً، يُقَلِّلُ خُطْبَتَهُمْ؟ قَالَ: لا يَحْبِسُونَ النَّاسَ شَيْئًا، قَالَ: ثُمَّ يَنْزِلُونَ فَيَخْرُجُ النَّاسُ قَالَ: مَا جَلَسَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مِنْبَرٍ حَتَّى مَاتَ، مَا كَانَ يَخْطُبُ إِلا قَائِمًا، فَكَيْفَ يُخْشَى أَنْ يَحْبِسُوا النَّاسَ؟ وَإِنَّمَا كَانُوا يَخْطُبُونَ قِيَامًا لا يَجْلِسُونَ، إِنَّمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَعُثْمَانُ، يَرْتَقِي أَحَدُهُمْ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَيَقُومُ كَمَا هُوَ قَائِمًا لا يَجْلِسُ عَلَى الْمِنْبَرِ، حَتَّى يَرْتَقِيَ عَلَيْهِ، وَلا يَجْلِسُ عَلَيْهِ بَعْدَمَا يَنْزِلُ وَإِنَّمَا خُطْبَتُهُ جَمِيعًا وَهُوَ قَائِمٌ، إِنَّمَا كَانُوا يَتَشَهَّدُونَ مَرَّةً وَاحِدَةً الأُولَى، قَالَ: لَمْ يَكُنْ مِنْبَرٌ، إِلا مِنْبَرُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى جَاءَ مُعَاوِيَةُ حِينَ حَجَّ بِالْمِنْبَرِ، فَتَرَكَهُ، قَالَ: فَلا يَزَالُونَ يَخْطُبُونَ عَلَى الْمَنَابِرِ بَعْدُ
Dari Ibnu Juraij, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada ‘Athaa’ : “Kapan orang-orang dulu keluar dari rumahnya pada hari ‘Iedul-Fithri untuk shalat ?”. ‘Athaa’ berkata : “Mereka biasanya keluar hingga nampak waktu Dluhaa, dan kemudian mereka shalat. Setelah itu mereka berkhuthbah singkat”. Ia melanjutkan : “Mereka tidak menahan orang-orang sedikitpun (seandainya ingin pergi). Kemudian mereka turun (dari mimbar), hingga orang-orang pun keluar. Nabi ﷺ tidak pernah duduk di atas mimbar (ketika berkhuthbah) hingga beliau meninggal. Beliau berkhuthbah dengan berdiri. Lantas, bagaimana bisa dikhawatirkan menahan manusia ?. Orang-orang dulu berkhuthbah hanyalah dengan berdiri, tidak duduk. Nabi ﷺ, Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmaan naik ke atas mimbar, lalu berdiri. Mereka tidak duduk di atas mimbar hingga menyelesaikannya. Mereka tidak duduk di atas mimbar setelah turun memulai khuthbahnya. Khuthbah mereka semuanya dilakukan dalam keadaan berdiri. Mereka mengucapkan syahadat sekali saja pada awalnya”. ‘Athaa’ meneruskan : “Dulu tidak ada mimbar kecuali mimbar Nabi ﷺ saja hingga datang Mu’aawiyyah ketika melaksanakan haji dengan membawa mimbar, lalu ia meninggalkan mimbar Nabi ﷺ tersebut. Maka setelah itu mereka senantiasa berkhuthbah di atas mimbar-mimbar” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq 3/285-286 no. 5650].
Diriwayatkan juga oleh ‘Abdurrazzaaq no. 5265 dan Al-Faakihiy dalam Akhbaar Makkah no. 1728.
Dalam riwayat Al-Faakihiy terdapat tambahan lafadh:
وَقَالَ بَعْضُ الْمَكِّيِّينَ: أَوَّلُ مَنْ خَطَبَ عَلَى مِنْبَرٍ بِمَكَّةَ: مُعَاوِيَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، جَاءَ بِمِنْبَرٍ مِنَ الشَّامِ صَغِيرٍ عَلَى ثَلاثِ دَرَجَاتٍ
“Sebagian orang-orang Makkah berkata : “Orang yang pertama kali berkhuthbah di atas mimbar di Makkah adalah Mu’aawiyyah radliyallaahu ‘anhu. Ia datang dengan membawa mimbar kecil dari Syaam yang memiliki tiga tangga”.
Atsar ini shahih hingga ‘Athaa’, namun mursal dalam hal penyandarannya terhadap Nabi ﷺ dan para Khulafaa’ Raasyidiin. Atsar ini memberi faedah:
1. Menurut pendapat ‘Athaa’; dulu Nabi ﷺ, Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmaan radliyallaahu ‘anhum melakukan khuthbah ‘Ied dengan berdiri sepanjang khuthbahnya tanpa duduk.
2. Menurut pendapat ‘Athaa’; Nabi ﷺ, Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmaan radliyallaahu ‘anhum hanya mengucapkan tasyahhud dalam khuthbah sekali saja. Ini menunjukkan khuthbah yang mereka lakukan hanya sekali karena Nabi ﷺ pernah bersabda:
كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ
“Setiap khuthbah yang tidak ada padanya tasyahhud (syahadat), maka ia seperti tangan yang terpotong” [Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy no. 1106, Abu Daawud no. 4841, Ahmad 2/302, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Shahiih Sunan At-Tirmidziy 1/562].
Pandangan ‘Athaa’ ini membatalkan klaim ijmaa’ Ibnu Hazm rahimahullah. Apalagi ‘Athaa’ menisbatkan pandangannya tersebut kepada para pembesar shahabat seperti Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmaan radliyallaahu ‘anhum.
Namun demikian, perkataan ‘Athaa’ bahwa Nabi ﷺ dan para khalifah setelahnya berkhuthbah ‘Ied dengan menggunakan mimbar adalah keliru. Terlebih penyandaran ini kualitasnya mursal, sehingga ia menyampaikan sebatas yang ia ketahui saja. Riwayat shahih menyatakan mimbar tidak pernah dipakai oleh Nabi ﷺ, Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan, dan ‘Aliy radliyallaahu ‘anhum ketika khuthbah ‘Ied di mushalla (tanah lapang). Mimbar dalam khuthbah ‘Ied baru ada di jaman Marwaan ketika menjabat sebagai amir Madiinah.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى، فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ الصَّلَاةُ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوسٌ عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوصِيهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ، فَإِنْ كَانَ يُرِيدُ أَنْ يَقْطَعَ بَعْثًا قَطَعَهُ أَوْ يَأْمُرَ بِشَيْءٍ أَمَرَ بِهِ، ثُمَّ يَنْصَرِفُ،
قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: فَلَمْ يَزَلِ النَّاسُ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى خَرَجْتُ مَعَ مَرْوَانَ وَهُوَ أَمِيرُ الْمَدِينَةِ فِي أَضْحًى أَوْ فِطْرٍ، فَلَمَّا أَتَيْنَا الْمُصَلَّى إِذَا مِنْبَرٌ بَنَاهُ كَثِيرُ بْنُ الصَّلْتِ، فَإِذَا مَرْوَانُ يُرِيدُ أَنْ يَرْتَقِيَهُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَجَبَذْتُ بِثَوْبِهِ فَجَبَذَنِي، فَارْتَفَعَ فَخَطَبَ قَبْلَ الصَّلَاةِ، فَقُلْتُ لَهُ: غَيَّرْتُمْ وَاللَّهِ، فَقَالَ أَبَا سَعِيدٍ قَدْ ذَهَبَ مَا تَعْلَمُ، فَقُلْتُ: مَا أَعْلَمُ وَاللَّهِ خَيْرٌ مِمَّا لَا أَعْلَمُ، فَقَالَ: إِنَّ النَّاسَ لَمْ يَكُونُوا يَجْلِسُونَ لَنَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَجَعَلْتُهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ
Dari Abu Sa’iid Al-Khudriy, ia berkata : “Rasulullah ﷺ keluar pada hari raya ‘Iedul-Fithri dan ‘Iedul-Adlhaa menuju mushalla (tanah lapang). Maka hal pertama yang dimulai beliau ﷺ adalah shalat. Setelah itu, beliau ﷺ berpaling lalu berdiri menghadap orang-orang, sedangkan orang-orang dalam keadaan duduk dalam shaff-shaff mereka. Beliau ﷺ memberikan nasihat, pesan, dan perintah kepada mereka. Apabila beliau hendak ﷺ mengirim pasukan, maka beliau ﷺ memotong khuthbahnya (sebentar); atau apabila beliau ﷺ hendak memerintahkan sesuatu, maka beliau memerintahkannya; kemudian beliau ﷺ berpaling (melanjutkan khuthbahnya).
Abu Sa’iid berkata : “Orang-orang senantiasa dalam keadaan seperti itu hingga (suatu saat) aku keluar bersama Marwaan yang menjabat sebagai amir kota Madiinah pada ‘Iedul-Adlaa atau ‘Iedul-Fithri. Ketika kami mendatangi mushallaa, ternyata ada mimbar yang dibuat oleh Katsiir bin Shalt. Saat Marwaan hendak menaikinya sebelum shalat, aku menarik bajunya dan ia pun kemudian menarikku. Ia tetap naik ke atas mimbar dan berkhuthbah sebelum shalat. Aku katakan kepadanya : ‘Engkau telah mengubah (sunnah Nabi ﷺ), demi Allah’. Ia (Marwaan) berkata : ‘Wahai Abu Sa’iid, sungguh apa yang engkau ketahui telah berlalu’. Aku berkata : “Apa yang aku ketahui – demi Allah – lebih baik daripada yang tidak aku ketahui’. Ia berkata : ‘Sesungguhnya orang-orang tidak duduk untuk kami setelah shalat, sehingga aku menjadikannya sebelum shalat” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 956].
Dalam riwayat lain, Abu Sa’iid berkata:
أَخْرَجَ مَرْوَانُ الْمِنْبَرَ فِي يَوْمِ عِيدٍ، وَلَمْ يَكُنْ يُخْرَجُ بِهِ، وَبَدَأَ بِالْخُطْبَةِ قَبْلَ الصَّلَاةِ، وَلَمْ يَكُنْ يُبْدَأُ بِهَا
“Marwaan mengeluarkan mimbar pada hari ‘Ied, dan hal itu belum pernah dilakukan sebelumnya. Ia memulainya dengan khuthbah sebelum shalat, dan hal itu belum pernah dilakukan sebelumnya” [Diriwayatkan oleh Ahmad 3/10, Abu Daawud no. 1140, Ibnu Maajah no. 1275, dan yang lainnya; shahih].
Marwaan bin Al-Hakam menjabat amir/gubernur Madiinah di jaman Mu’aawiyyah bin Abi Sufyaan, sehingga dipahami bahwa mimbar dalam khuthbah ‘Iedain dimulai pada era kekhilafahan Mu’aawiyyah bin Abi Sufyaan radliyallaahu ‘anhumaa. Marwaan adalah orang yang pertama kali mendahulukan khuthbah sebelum shalat di Madiinah[1].
‘Athaa’ mengatakan Nabi ﷺ, Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsmaan radliyallaahu ‘anhum berkhuthbah di atas mimbar kemungkinan karena masyhurnya perkara tersebut di jamannya, sehingga ia menyangka itu dilakukan semenjak jaman Nabi ﷺ dan para shahabat radliyallaahu ‘anhum[2].
Jika mimbar tidak pernah dibawa ke mushalla (tanah lapang), bagaimana dapat dikatakan khuthbah ‘Ied dilakukan dua kali dipisah dengan duduk, yang kemudian diqiyaskan dengan khuthbah Jum’at?. Duduk hanya dilakukan jika ada mimbar.
Telah shahih riwayat dari Nabi ﷺ dan para shahabat radliyallaahu ‘anhum mereka berkhuthbah ‘Iedain di atas hewan tunggangannya.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ خَطَبَ يَوْمَ عِيدٍ عَلَى رَاحِلَتِهِ
Dari Abu Sa’iid, ia berkata : “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ pernah berkhuthbah ‘Ied di atas hewan tunggangannya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/188 no. 5901, Abu Ya’laa no. 1182, Ibnu Khuzaimah no. 1445, Ibnu Hibbaan no. 2825, dan yang lainnya; shahih].
عَنْ مَيْسَرَةَ أَبِي جَمِيلَةَ، قَالَ: " شَهِدْتُ مَعَ عَلِيٍّ الْعِيدَ فَلَمَّا صَلَّى خَطَبَ عَلَى رَاحِلَتِهِ "، قَالَ: وَكَانَ عُثْمَانُ يَفْعَلُهُ
Dari Maisarah Abu Jamiilah, ia berkata : “Aku pernah menghadiri ‘Ied bersama ‘Aliy (bin Abi Thaalib). Ketika selesai shalat, ia berkhuthbah di atas hewan kendaraannya. Ia berkata : ‘Dulu ‘Utsmaan juga melakukannya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/188 no. 5902; hasan].
Maisarah mempunyai syawaahid dari Al-Mughiirah bin Syu’bah, Ibnu Abi Lailaa,
Sisi pendalilannya : Orang berkhuthbah di atas hewan kendaraannya tidak seperti orang yang berkhuthbah Jum’at yang ia berdiri, lalu duduk, lalu berdiri lagi.
Tidak ternukil satupun riwayat shahih dari Nabi ﷺ dan para pembesar shahabat radliyallaahu ‘anhum berkhuthbah ‘Ied dua kali dengan diselingi duduk antara keduanya. An-Nawawiy rahimahullah berkata:
وَمَا رُوِيَ عَنْ اِبْن مَسْعُود أَنَّهُ قَالَ : السُّنَّة أَنْ يَخْطُب فِي الْعِيد خُطْبَتَيْنِ يَفْصِل بَيْنهمَا بِجُلُوسٍ ضَعِيف غَيْر مُتَّصِل ، وَلَمْ يَثْبُت فِي تَكْرِير الْخُطْبَة شَيْء ، وَالْمُعْتَمَد فِيهِ الْقِيَاس عَلَى الْجُمُعَة
“Dan apa yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’uud bahwasannya ia berkata : ‘Termasuk sunnah adalah berkhuthbah di hari ‘Ied dengan dua khuthbah yang dipisahkan antara keduanya dengan duduk’, dla’iif tidak bersambung (sanadnya). Tidak ada sama sekali riwayat shahih dalam hal pengulangan khuthbah (‘Ied). Dan yang dianggap/diakui dalam permasalahan tersebut adalah qiyas terhadap khuthbah Jum’at” [Al-Khulaashah – dinukil melalui perantaraan ‘Aunul-Ma’buud 4/4].
Jika demikian, tersisa bagi pendapat pertama (jumhur) hujjah qiyas. Apakah qiyas tersebut valid ?. Jawabnya tidak, karena tidak ada ‘illat shahih antara keduanya sehingga khuthbah ‘Iedain dapat diqiyaskan dengan khuthbah Jum’at.
Seandainya pun qiyas tersebut diterima, maka seharusnya hukum-hukum khuthbah Jum’at yang lain juga mesti diterapkan dalam khuthbah ‘Ied. Kenyataannya tidak.
Misalnya : menghadiri menghadiri khuthbah Jum’at adalah wajib, sedangkan menghadiri khuthbah ‘Iedain tidak wajib. Dasarnya adalah hadits:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ، قَالَ: شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ الْعِيدَ، فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ، قَالَ: " إِنَّا نَخْطُبُ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ
Dari Abdullah bin Saib radliyallaahu ‘anhu ia berkata : “Aku menghadiri ‘Ied bersama Rasulullah ﷺ. Ketika telah selesai shalat, maka beliau bersabda : ‘Sesungguhnya kami akan berkhuthbah. Barangsiapa yang ingin duduk untuk mendengarkan khuthbah, hendaklah ia duduk. Dan barangsiapa yang ingin pergi, maka silakan ia pergi” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 1155, Ibnu Maajah no. 1290, dan yang lainnya; dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Irwaaul-Ghaliil 3/96 no. 629].
Begitu juga dengan pensyarai’atan waktu pelaksanaannya. Khuthbah Jum’at dilakukan sebelum shalat, sedangkan khuthbah ‘Iedain setelah shalat.
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: " شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَأَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ "
Dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Aku menghadiri shalat ‘Iedul-Fithri bersama Rasulullah ﷺ, Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman. Semuanya melaksanakan shalat sebelum khutbah” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 919 dan Muslim no. 884].
Seandainya qiyas ini benar, mengapa mereka tidak mengqiyaskan juga pada pada khuthbah hari ‘Arafah yang statusnya hampir sama dengan khuthbah ‘Ied ?. Khuthbah hari ‘Arafah dilakukan hanya sekali khuthbah tanpa dipisahkan dengan duduk. Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata:
وَهِمَ مَنْ زَعَم أنه خَطَب بعرفة خُطْبتين جَلَس بينهما ثمَّ أذَّن المؤذِّنُ، فلمَّا فَرَغ أخَذَ في الخُطْبة الثانية، فلمَّا فَرَغ منها أقام الصلاةَ، وهذا لم يجئ في شيءٍ مِنَ الأحاديث ألبتَّةَ، وحديثُ جابرٍ صريحٌ في أنه لمَّا أكمل خُطْبتَه أذَّن بلالٌ وأقام الصلاةَ فصلَّى الظهرَ بعد الخُطْبة
“Telah keliru orang yang menyangka beliau ﷺ khuthbah pada hari ‘Arafah dengan dua khuthbah yang diselingi duduk antara keduanya, kemudian muadzdzin mengumandangkan adzan. Ketika selesai, beliau melakukan khuthbah kedua, lalu dilanjutkan setelahnya mendirikan shalat. Perkara ini tidak ada dalilnya sama sekali dalam hadits-hadits. Hadits Jaabir jelas menunjukkan ketika beliau ﷺ menyempurnakan khuthbahnya, Bilaal mengumandangkan adzan, dan shalat ditegakkan. Lalu beliau ﷺ melakukan shalat Dhuhur setelah khuthbah…” [Zaadul-Ma’aad, 2/306].

Dari sini diketahui bahwa masing-masing khuthbah mempunyai sifat-sifat tersendiri berdasarkan nash yang tidak bisa diqiyaskan semua dengan khuthbah Jum’at.
Lantas bagaimana dengan perkataan sebagian salaf seperti ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah ?.
Kita tidak dapat menyepakati untuk mengatakan sunnah dalam khuthbah ‘Iedain berkhuthbah dua kali di atas mimbar sementara mimbar tidak pernah dibawa ke mushalla (tanah lapang) oleh Rasulullah ﷺ dan Al-Khulafaaur-Raasyidiin. Apakah mungkin ada sunnah yang tidak dilakukan Nabi dan Khulafaa' Raasyidiin ?. Tidak lain ini adalah ijtihad beliau rahimahullah karena masyhurnya perkara ini di jamannya. Begitu juga dengan riwayat yang ternukil dari Ismaa’iil bin Umayyah di atas.
Kesimpulannya, khuthbah ‘Ied hanya dilakukan sekali. Inilah pendapat Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsmaan, dan ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu. Juga pendapat ‘Athaa’ bin Abi Rabbah rahimahullah. Dari kalangan ulama muta’khkhiriin, pendapat ini dikuatkan oleh Sayyid Saabiq, Al-Albaaniy, Al-‘Utsaimiin, dan Al-Wadii’iy rahimahumullah.
Wallaahu a’lam.
Semoga ada manfaatnya.
[Abul-Jauzaa’ - akhir Ramadlaan, Ciomas, Bogor].

Source : abul-jauzaa.blogspot.com

DOA MENYEMBELIH QURBAN

azdinawawi 0

Doa Menyembelih Qurban

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du,
Pada pembahasan sebelumnya, kita telah mengupas permasalahan niat dalam ibadah qurban. Di kesempatan ini, akan kita bahas doa ketika berqurban.
Pertama, syarat halal sembelihan.
Syarat halalnya sembelihan yang terkait dengan ucapan adalah membaca basmalah.
Allah berfirman,
وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ
“Janganlah kalian makan hewan yang tidak disebutkan nama Allah ketika menyembelih. Sesungguhnya itu hewan yang tidak halal.” (QS. Al-An’am: 121)
Di ayat yang lain, Allah memerintahkan untuk makan hewan yang dibacakan basamalah ketika menyembelih:
فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ بِآيَاتِهِ مُؤْمِنِينَ
“Makanlah binatang yang disebutkan nama Allah ketika menyembelihnya, jika kalian orang yang beriman kepada ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An’am: 118).
Orang yang menyembelih dengan membaca basmalah sebelum dia melukai leher hewan yang hendak disembelih, maka hewannya halal dimakan. Dan jika diniatkan untuk berqurban maka bernilai sebagai ibadah qurban yang sah.
Karena itu, membaca basmalah merupakan ucapan yang paling penting ketika menyembelih. Sehingga perlu diperhatikan oleh para jagal, agar jangan sampai lupa atau tidak membaca apapun. Ingat, taruhannya, hewan yang disembelih bisa menjadi bangkai.
Kedua, dianjurkan untuk mengikrarkan kepemilikan hewan qurban.
Hal ini dicontoh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dikisahkan oleh Abu Rafi’ radhiyallahu ‘anhu,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak berqurban, beliau membeli dua kambing yang gemuk, putih belang hitam. Setelah selesai shalat, dan berkhutbah, beliau mendatangi salah satu kambingnya dan beliau sembelih sendiri dengan pisau, ketika menyembelih beliau mengucapkan:
اللَّهُمَّ هَذَا عَنْ أُمَّتِي جَمِيعًا مِمَّنْ شَهِدَ لَكَ بِالتَّوْحِيدِ وَشَهِدَ لِي بِالْبَلَاغِ
Ya Allah, ini qurban dariku dan dari semua umatku yang bersaksi mentauhidkan-Mu, dan bersaksi bahwa aku yang menyampaikan risalah.
Selanjutnya, beliau mendatangi kambing kedua. Ketika menyembelih beliau mengucapkan:
هَذَا عَنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ
Ini qurban dari Muhammad dan keluarga Muhammad.
Kemudian beliau sedekah kedua hewan qurban itu kepada orang miskin, dan beliau juga makan dan beliau berikan kepada keluarganya. (HR. Ahmad 27190).
Dalam riwayat lain, dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa beliau mengikuti shalat idul adha bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di lapangan. Setelah selesai berkhutbah, beliau turun dari mimbar dan mendatangi kambing qurban beliau. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelihnya dengan tangannya, sambil mengucapkan:
بِسْمِ اللَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، هَذَا عَنِّي، وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي
Bismillah, wallahu akbar, ini qurban dariku dan dari umatku yang tidak berqurban. (HR. Ahmad 14837, Abu Daud 2810 dan dishahihkan Al-Albani).
Berdasarkan riwayat di atas, dianjurkan bagi orang yang hendak menyembelih qurban untuk mengucapkan kalimat ikrar di atas. Jika pemilik hewan menyembelih sendiri, dia bisa ucapkan :
– Bismillah, Allahumma hadza minka wa laka ‘anni wa ahli baitii, atau
– Bismillah, Allahumma hadza ‘anni wa ahli baitii
Tapi jika mewakili qurban orang lain, si jagal mengucapkan:
– Bismillah, Allahumma hadza minka wa laka ‘an fulan (nama orangnya) wa ahli baitihi, atau
– Bismillah, Allahumma hadza ‘an fulan (nama orangnya) wa ahli baitihi
Ketiga, ungkapan di atas statusnya adalah ikrar (menegaskan) apa yang ada dalam hatinya, dan bukan termasuk bentuk melafalkan niat bukan pula doa ketika berqurban.
Keterangan ini sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Ibnu Utsaimin,
“Ini bukan bentuk melafalkan niat. Karena perkataan orang yang menyembelih: ‘Ini qurban dariku dan keluargaku’ sifatnya sebatas memberitakan apa yang ada dalam hatinya. Karena dia sendiri tidak mengatakan: ‘Ya Allah, saya ingin berqurban.’ Sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang melafalkan niat. Akan tetapi yang dilakukan orang ini hanya menampakkan apa yang ada di hatinya saja…” (Majmu’ Fatawa Ibnu Utsaimin, 22/20)
Keempat, tidak ada doa khusus ketika menyembelih qurban.
Hanya saja, karena ibadah qurban termasuk amal soleh yang benar nilainya maka kita harus berharap agar amal itu diterima Allah. Salah satu bentuk doa untuk mengiringi harapan agar amal kita diterima Allah adalah doa yang dilantunkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam setelah beliau membangun ka’bah:
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Ya Allah, terimalah amal kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 127).
Doa semacam ini pernah dipraktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sewaktu beliau berqurban. Aisyah mengisahkan:
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan kambing bertanduk, berdiri dengan kaki belang hitam, duduk di atas perut belang hitam, melihat dengan mata belang hitam. Kemudian beliau menyuruh Aisyah untuk mengambilkan pisau dan mengasahnya. Setelah kambingnya beliau baringkan, beliau membaca:
بِاسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ
“Bismillah, Ya Allah, terimalah qurban dari Muhammad dan keluarga Muhammad, serta dari umat Muhammad – shallallahu ‘alaihi wa sallam – .” (HR. Muslim no. 1967)
Untuk itu, doa permohonan agar amal anda dikabulkan seperti contoh di atas, bisa anda baca ketika anda berqurban atau setelah anda berqurban.
Allahu a’lam
Ustadz Ammi Nur Baits hafidzahullah

BERLINDUNG DARI KEKUFURAN DAN MUNAFIK

azdinawawi 0

Berlindung dari Kekufuran & Munafik

Ingin tanya cara berdoa untuk supaya dilindungi dari kekafiran caranya baca apa ya Pak?
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Memohon perlindungan kepada Allah dari kekufuran dan kemunafikan merupakan bukti adanya perasaan takut terhadap penyebab hilangnya iman. Yang ini merupakan bukti bahwa dia sangat perhatian terhadap imannya.
Allah mencontohkan salah satu doa Nabi Ibrahim – sang panglima Tauhid –,
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ
Jauhkanlah diriku dan anak keturunanku dari mennyembah berhala. (QS. Ibrahim: 35)
Ada seorang ulama bernama Ibrahim at-Taimi, ketika membaca ayat ini beliau berkomentar,
ومن يأمن البلاء بعد إبراهيم؟
“Siapa yang merasa aman dari bala’ setelah Ibrahim?” (HR. Ibnu Khuzaimah)
Maksud beliau, Ibrahim sangat menghargai imannya dan beliau sangat ketakutan dengan sebab kekufuran, hingga memohon perlindungan kepada Allah dari kesyirikan. Siapakah kita dibandingkan beliau? Padahal kita tidak pernah memohon perlindungan seperti yang diucapkan Ibrahim.
Ada beberapa doa yang diajarkan dalam al-Quran dan sunah, yang isinya permohonan perlindungan dari kekafiran dan kemunafikan,
Pertama, Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis shalatu was sallam,
وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ – رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ
Jauhkanlah diriku dan anak keturunanku dari mennyembah berhala. Ya Allah, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak orang. (QS. Ibrahim: 35 – 36).
Kedua, memohon hidayah dan taufiq
Hakekat memohon hidayah, berarti memohon untuk diberikan jalan istiqamah di atas kebenaran dan dilindugi dari setiap kekufuran dan kemunafikan.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca doa,
اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu hidayah, ketaqwaan, terjaga kehormatan, dan kekayaan…(HR. Ahmad 3950 & Muslim 7079).
Ketiga, doa dari kekufuran dan kemunafikan
اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ وَالْكُفْرِ ، وَالْفُسُوقِ ، وَالشِّقَاقِ ، وَالنِّفَاقِ ، وَالسُّمْعَةِ ، وَالرِّيَاءِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekufuran, kefasikan, kedurhakaan, kemunafikan, sum’ah, dan riya’.”
Doa ini diriwayatkan oleh al-Hakim (1944) dan dishahihkan al-Albani.
Keempat, perlindungan dari syirik, yang disadari maupun yang tidak disadari
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu, jangan sampai aku menyekutukan-Mu sementara aku menyadarinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu untuk yang tidak aku sadari.
Doa ini dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyebutkan tentang bahaya syirik,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ، أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا قُلْتَهُ ذَهَبَ عَنْكَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ
Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh syirik itu lebih samar dibandingkan jejak kaki semut. Maukah kutunjukkan kepada kalian satu doa, jika kalian mengucapkannya, maka syirik akan menjauhimu yang seidkit maupun yang banyak.
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan doa di atas. (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad 716 dan dishahihkan al-Albani).
Kelima, doa sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu,
Beliau rajin membaca doa berikut,
اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran… ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur… laa ilaaha illaa anta…
Sahabat Abu Bakrah membaca ini diulang 3 kali setiap pagi dan sore. Ketika beliau ditanya alasannya, beliau mengatakan,
إِنِّي سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِنَّ ، فَأُحِبُّ أَنْ أَسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ
Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa dengan doa ini, dan aku ingin meniru sunah beliau. (HR. Abu Daud 5092, Nasai 5482 dan dihasankan al-Albani).
Semoga doa-doa di atas bisa kita rutinkan…
Dan yang tidak kalah penting adalah selalu menghadirkan perasaan butuh terhadap hidayah dan bimbingan Allah.. karena Allah melihat hati kita, jangan sampai muncul perasaan, saya tidak butuh hidayah karena tidak mungkin tersesat… perasaan semacam ini berbahaya, karena dia merasa sombong dengan kondisinya. Semoga Allah melindungi kita dari suasana semacam ini…
Allahu a’lam.
Ustadz Ammi Nur Baits hafidzahullah

Ringkasan Kaidah-kaidah dalam Mengimani Sifat-sifat Allah Ta’ala

azdinawawi 0

Ringkasan Kaidah-kaidah dalam Mengimani Sifat-sifat Allah Ta’ala 

Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray, Lc hafidzahullah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Kaidah Pertama:
أن من الإيمان بالله الإيمان بما وصف به نفسه.
“Bahwa termasuk keimanan kepada Allah adalah mengimani sifat Allah yang Dia sifatkan untuk diri-Nya.”
Kaidah Kedua:
أن صفات الله عز وجل من الأمور الغيبية، والواجب على الإنسان نحو الأمور الغيبية: أن يؤمن بها على ما جاءت دون أن يرجع إلى شيء سوى النصوص.
“Bahwa sifat-sifat Allah termasuk perkara ghaib, sedang kewajiban manusia terhadap perkara ghaib adalah mengimaninya berdasarkan dalil, tanpa bersandar pada sesuatu apa pun selain nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah.”
Kaidah Ketiga:
أننا لا نصف الله تعالى بما لم يصف به نفسه.
“Bahwa kita tidak boleh mensifatkan Allah ta’ala, dengan sifat yang tidak Dia sifatkan untuk diri-Nya.”
Kaidah Keempat:
وجوب إجراء النصوص الواردة في الكتاب والسنة على ظاهرها، لا نتعداها.
“Wajib membiarkan nash-nash (tentang sifat Allah ta’ala) yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai zhahir-nya, kita tidak boleh melampaui batas terhadapnya (dengan mentakwilnya tanpa dalil).”
Kaidah Kelima:
عموم كلام المؤلف يشمل كل ما وصف الله به نفسه من الصفات الذاتية المعنوية والخبرية والصفات الفعلية.
“Keumuman ucapan Penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah) mencakup semua sifat yang Allah sifatkan untuk diri-Nya, baik sifat dzatiyyah ma’nawiyah dan khabariyyah, maupun sifat fi’liyyah.”
Penjelasan:
• SIFAT ALLAH TERBAGI DUA: SIFAT DZATIYYAH DAN FI’LIYYAH.
• MAKNA SIFAT DZATIYYAH:
الصفات الذاتية هي التي لم يزل ولا يزال متصفاً بها
“SIFAT-SIFAT DZATIYYAH (YANG TIDAK PERNAH TERPISAH DENGAN DZAT-NYA) ADALAH YANG SENANTIASA DAN SELAMANYA ALLAH BERSIFAT DENGANNYA.”
PEMBAGIAN SIFAT DZATIYYAH:
PERTAMA: SIFAT DZATIYYAH MA’NAWIYYAH, YAITU SIFAT-SIFAT YANG BERDASARKAN DALIL DAN DAPAT DIKETAHUI BERDASARKAN AKAL. CONTOHNYA: SIFAT MAHA HIDUP, MAHA BERILMU, MAHA MAMPU, MAHA HIKMAH DAN YANG SEMISALNYA.
KEDUA: SIFAT DZATIYYAH KHABARIYYAH, YAITU SIFAT-SIFAT YANG HANYA DAPAT DIKETAHUI BERDASARKAN DALIL, TIDAK DAPAT DIKETAHUI BERDASARKAN AKAL. CONTOHNYA: SIFAT DUA TANGAN, WAJAH, DUA MATA DAN YANG SEMISALNYA.
• MAKNA SIFAT FI’LIYYAH:
الصفات الفعلية هي الصفات المتعلقة بمشيئته
“SIFAT-SIFAT FI’LIYYAH (YANG TERKAIT DENGAN PERBUATAN) ADALAH SIFAT-SIFAT YANG TERKAIT DENGAN KEHENDAK ALLAH TA’ALA.”
PEMBAGIAN SIFAT FI’LIYYAH:
PERTAMA: SIFAT FI’LIYYAH YANG MEMILIKI SEBAB YANG DAPAT DIKETAHUI MAKHLUK, CONTOHNYA: SIFAT MERIDHOI, ALLAH TA’ALA TIDAKLAH MERIDHOI KECUALI KARENA ADA SEBABNYA, SEBAGAIMANA FIRMAN-NYA,
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ
“JIKA KAMU KAFIR, MAKA SESUNGGUHNYA ALLAH TIDAK MEMERLUKAN (IMAN) MU DAN DIA TIDAK MERIDAI KEKAFIRAN BAGI HAMBA-NYA; DAN JIKA KAMU BERSYUKUR, NISCAYA DIA MERIDAI BAGIMU KESYUKURANMU ITU.” [AZ-ZUMAR: 7]
KEDUA: SIFAT FI’LIYYAH YANG TIDAK MEMILIKI SEBAB YANG DAPAT DIKETAHUI MAKHLUK, CONTOHNYA: TURUN KE LANGIT DUNIA DI SEPERTIGA MALAM YANG TERAKHIR.
• TAMBAHAN PENJELASAN: SEBAGIAN SIFAT MENGANDUNG DUA SISI, DI SATU SISI ADALAH SIFAT DZATIYYAH DAN DI SISI LAIN ADALAH SIFAT FI’LIYYAH, CONTOHNYA: SIFAT MAHA BERBICARA. ALLAH TA’ALA SENANTIASA MEMILIKI SIFAT BERBICARA (INI ADALAH SIFAT DZATIYYAH), AKAN TETAPI ALLAH BERBICARA KAPAN DIA MENGHENDAKINYA (INI ADALAH SIFAT FI’LIYYAH).
Kaidah Keenam:
أن العقل لا مدخل له في باب الأسماء والصفات.
“Bahwa akal tidak ada baginya pintu masuk dalam bab Asma’ wash Shifat.”
Kaidah Ketujuh:
وصف رسول الله صلى الله عليه وسلم لربه ينقسم إلى ثلاثة أقسام: إما بالقول، أو بالفعل، أو بالإقرار.
“Pensifatan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam terhadap Rabb-nya terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu dengan ucapan, perbuatan atau penetapan beliau.”
Kaidah Kedelapan:
من غير تحريف ولا تعطي, ومن غير تكييف ولا تمثيل.
“Tidak melakukan tahrif dan ta’thil, serta tidak melakukan takyif dan tamtsil.”
Penjelasan:
في هذه الجملة بيان صفة إيمان أهل السنة بصفات الله تعالى، فأهل السنة والجماعة يؤمنون بها إيماناً خالياً من هذه الأمور الأربعة: التحريف والتعطيل، والتكييف، والتمثيل.
“DALAM KALIMAT INI TERDAPAT PENJELASAN CARA BERIMAN AHLUS SUNNAH TERHADAP SIFAT-SIFAT ALLAH TA’ALA, YAITU AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH MENGIMANI SIFAT-SIFAT ALLAH DENGAN KEIMANAN YANG BERSIH DARI EMPAT PERKARA: TAHRIF, TA’THIL, TAKYIF DAN TAMTSIL.”
TAHRIF (PENYELEWENGAN) ADALAH:
تغيير لفظ النص أو معناه
“MERUBAH LAFAZ NASH ATAU MAKNANYA.”
CONTOH PENYELEWENGAN LAFAZ:
MERUBAH FIRMAN ALLAH TA’ALA,
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيما
“DAN ALLAH TELAH BERBICARA KEPADA MUSA SECARA LANGSUNG.” [AN-NISA’: 164]
MEREKA MERUBAH HAROKAT AKHIR PADA NAMA “ALLAH” DALAM AYAT TERSEBUT, DARI ROFA’ (DENGAN DHOMMAH) MENJADI NASHOB (DENGAN FATHAH), SEHINGGA MAKNANYA BERUBAH DARI “ALLAH YANG BERBICARA KEPADA MUSA” MENJADI “MUSA YANG BERBICARA KEPADA ALLAH” KARENA MEREKA MENGINGKARI SIFAT MAHA BERBICARA BAGI ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA.
CONTOH PENYELEWENGAN MAKNA:
MERUBAH MAKNA ISTIWA MENJADI ISTILA (MENGUASAI).
MERUBAH MAKNA TANGAN MENJADI KEKUATAN ATAU KEINGINAN MEMBERI NIKMAT.
BEBERAPA PERINGATAN:
PERINGATAN PERTAMA: ORANG YANG MELAKUKAN TAHRIF BERBUAT DUA KESALAHAN:
PERTAMA: KESALAHAN TAHRIF ITU SENDIRI.
KEDUA: KESALAHAN MENUDUH AHLUS SUNNAH DENGAN TUDUHAN-TUDUHAN JELEK SEPERTI TUDUHAN MELAKUKAN TAJSIM DAN TASYBIH, LALU MEREKA MEMBUAT JULUKAN JELEK TERHADAP AHLUS SUNNAH DENGAN MUJASSIMAH DAN MUSYABBIHAH.
PERINGATAN KEDUA: ORANG YANG MELAKUKAN TAHRIF MENAMAKANNYA SEBAGAI TA’WIL ATAU TAFSIR, MAKA PERLU DIPAHAMI BAHWA TA’WIL TERBAGI DUA:
PERTAMA: TA’WIL FAASID (YANG RUSAK) YANG TIDAK BERDASARKAN DALIL. TA’WIL FAASID PADA HAKIKATNYA ADALAH TAHRIF (PENYELEWENGAN) BUKAN TA’WIL.
KEDUA: TA’WIL SHAHIH (YANG BENAR) YANG BERDASARKAN DALIL.
AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH TIDAK MENGINGKARI TA’WIL, TETAPI MENGINGKARI TA’WIL YANG RUSAK, YANG PADA HAKIKATNYA ADALAH TAHRIF (PENYELEWENGAN).
TA’THIL (PENGINGKARAN) ADALAH:
إنكار ما أثبت الله لنفسه من الأسماء والصفات، سواء كان كلياً أو جزئياً، وسواء كان ذلك بتحريف أو بجحود.
“MENGINGKARI NAMA DAN SIFAT YANG ALLAH TETAPKAN UNTUK DIRI-NYA, SAMA SAJA APAKAH SELURUHNYA ATAU SEBAGIANNYA, DAN SAMA SAJA APAKAH DENGAN MEN-TAHRIF ATAU MENENTANG.”
SETIAP PELAKU TAHRIF ADALAH PELAKU TA’THIL, TAPI TIDAK SEBALIKNYA.
TAFWIDH TERMASUK TA’THIL. TAFWIDH ADALAH MASA BODOH, TIDAK MEYAKINI NAMA DAN SIFAT BAGI ALLAH DENGAN CARA TIDAK MAU TAHU DENGAN MAKNA-MAKNA YANG TERKANDUNG DI DALAMNYA, DAN MENGEMBALIKAN PERKARANYA KEPADA ALLAH.
ADAPUN TAFWIDH YANG DIBENARKAN ADALAH TAFWIDHUL KAIFIYYAH, YAITU MENYERAHKAN HAKIKAT BENTUK SIFAT-SIFAT ALLAH KEPADA-NYA, TIDAK MELAKUKAN TAKYIF DAN TAMTSIL.
TAKYIF:
التكييف: هو أن تذكر كيفية الصفة
“TAKYIF ADALAH PENYEBUTAN HAKIKAT BENTUK SIFAT.”
TAKYIF TERMASUK BERBICARA TENTANG ALLAH TANPA ILMU, KARENA ALLAH TIDAK MENJELASKAN BENTUK-BENTUK SIFAT DI DALAM AL-QUR’AN DAN AS-SUNNAH. MAKA TAKYIF MENYELISIHI DALIL SYAR’I DAN DALIL AKAL.
HENDAKLAH KITA MENGIMANI SEMUA SIFAT-SIFAT ALLAH TA’ALA SESUAI DENGAN KEAGUNGAN DAN KEBESARAN-NYA, ADAPUN BAGAIMANA HAKIKAT BENTUK SIFAT-SIFAT-NYA KITA KEMBALIKAN KEPADA-NYA.
JANGANLAH MENANYAKAN SEPERTI APA BENTUK SIFAT ALLAH, KARENA PERTANYAAN TERSEBUT TERMASUK BID’AH. CONTOHNYA:
-- MENANYAKAN BAGAIMANA CARA ALLAH BER-ISTIWA?
-- MENANYAKAN BAGAIMANA BENTUK TANGAN ALLAH?
-- MENANYAKAN BAGAIMANA CARANYA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA DI SEPERTIGA MALAM YANG TERAKHIR PADAHAL WAKTU MALAM DI SUATU NEGERI BERBEDA DENGAN NEGERI YANG LAIN?
TAMTSIL:
التمثيل: ذكر مماثل للشيء
“TAMTSIL ADALAH PENYEBUTAN SESUATU YANG SEMISAL DENGAN SESUATU YANG LAIN.”
PENJELASAN:
أهل السنة والجماعة يثبتون لله عز وجل الصفات بدون مماثلة، يقولون: إن الله عز وجل له حياة وليست مثل حياتنا، له علم وليس مثل علمنا، له بصر، ليس مثل بصرنا، له وجه وليس مثل وجوهنا له يد وليست مثل أيدينا وهكذا جميع الصفات.
“AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH MENETAPKAN (SEBAGAIAMANA YANG ALLAH TETAPKAN) UNTUK DIRI-NYA SIFAT-SIFAT TANPA MENYERUPAKANNYA DENGAN SIFAT-SIFAT MAKHLUK. AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH BERPENDAPAT BAHWA:
-- ALLAH ‘AZZA WA JALLA MEMILIKI SIFAT MAHA HIDUP DAN TIDAK SEPERTI KEHIDUPAN KITA,
-- ALLAH TA’ALA MEMILIKI SIFAT MAHA BERILMU DAN TIDAK SEPERTI ILMU KITA,
-- ALLAH TA’ALA MEMILIKI SIFAT MAHA MELIHAT DAN TIDAK SEPERTI PENGLIHATAN KITA,
-- ALLAH TA’ALA MEMILIKI WAJAH DAN TIDAK SEPERTI WAJAH-WAJAH KITA,
-- ALLAH TA’ALA MEMILIKI TANGAN DAN TIDAK SEPERTI TANGAN-TANGAN KITA,
DEMIKIANLAH SELURUH SIFAT-SIFAT ALLAH TA’ALA TIDAK SAMA DENGAN SIFAT-SIFAT MAKHLUK.”
SETIAP PELAKU TAMTSIL ADALAH PELAKU TAKYIF, DAN TIDAK SEBALIKNYA.
[Diringkas dari Syarhu Al-Aqidah Al-Waashitiyyah karya Asy-Syaikh Al-‘Allaamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dan disertai tambahan]
Kaidah Kesembilan:
طريقة القرآن في الصفات النفي والإثبات: نفي المماثلة، وإثبات صفات الكمال.
“Metode Al-Qur’an dalam permasalahan sifat-sifat Allah ta’ala adalah penafikan dan penetapan, yaitu menafikan penyerupaan (antara sifat Allah ta’ala dan sifat makhluk) dan menetapkan sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah jalla wa ‘ala.” [Lihat Syarhul Aqidah Al-Waasithiyyah hal. 69 karya Asy-Syaikh Muhammad bin Khalil bin Hasan Harras rahimahullah].
Kaidah Kesepuluh:
النفي على وجه الإجمال والإثبات على وجه التفصيل.
“Menafikan pernyerupaan secara global dan menetapkan sifat-sifat secara terperinci.”[Lihat Majmu’ Al-Fatawa, 3/4 dan 6/37 dan 515, At-Tadmuriyyah hal. 8].
Kaidah Kesebelas:
ولا ينفون عنه ما وصف به نفسه.
“Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak menafikan dari Allah satu sifat yang Allah sifatkan untuk diri-Nya.”
Kaidah Keduabelas:
ولا يحرفون الكلم عن مواضعه.
“Tidak menyelewengkan (menafsirkan tanpa dalil) ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah hingga keluar dari makna-maknanya yang sebenarnya.”
Kaidah Ketigabelas:
ولا يلحدون في أسماء الله وآياته.
“Tidak melakukan ilhad (penyimpangan) terhadap nama-nama Allah dan ayat-ayat-Nya.”
PENJELASAN:
• MACAM-MACAM ILHAD DALAM NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH TA’ALA:
PERTAMA: MENAMAKAN ALLAH DENGAN NAMA YANG TIDAK DIA NAMAKAN UNTUK DIRI-NYA. SEPERTI ORANG-ORANG KRISTEN MENAMAKAN ALLAH TA’ALA DENGAN “BAPAK”.
KEDUA: MENGINGKARI SALAH SATU NAMA ALLAH TA’ALA.
KETIGA: MENGINGKARI SIFAT-SIFAT YANG DITUNJUKKAN OLEH NAMA-NAMA ALLAH TA’ALA (LIHAT PENJELASAN KAIDAH SELANJUTNYA).
KEEMPAT: MENETAPKAN NAMA-NAMA DAN SIFAT-SIFAT ALLAH TA’ALA TETAPI MELAKUKAN TAMTSIL (PENYERUPAAN SIFAT-SIFAT ALLAH DENGAN MAKHLUK).
KELIMA: MENAMAKAN SESEMBAHAN-SESEMBAHAN SELAIN ALLAH DENGAN NAMA-NAMA-NYA ATAU DENGAN PECAHAN KATA DARI NAMA-NAMA-NYA. SEPERTI KAUM MUSYRIKIN MENAMAKAN SESEMBAHAN MEREKA DENGAN AL-LAATA DARI NAMA AL-ILAH, AL-‘UZZA DARI AL-‘AZIZ DAN AL-MANAT DARI AL-MANNAN.
• MACAM-MACAM ILHAD DALAM AYAT-AYAT ALLAH TA’ALA KAUNIYYAH:
MENISBATKAN AYAT-AYAT ALLAH TA’ALA KAUNIYYAH (SEPERTI PENCIPTAAN LANGIT DAN BUMI, PENGATURAN DAN PENGUASAANNYA) KEPADA SELAIN-NYA, APAKAH DALAM BENTUK ISTIQLAL (BERDIRI SENDIRI TANPA ALLAH TA’ALA), MUSYAROKAH (BERSEKUTU DENGAN ALLAH TA’ALA) ATAU I’AANAH (MEMBANTU ALLAH TA’ALA), MAKA INI SEMUA TERMASUK KESYIRIKAN DAN KEKAFIRAN.
MACAM-MACAM ILHAD DALAM AYAT-AYAT ALLAH TA’ALA SYAR’IYYAH:
PERTAMA: MENDUSTAKANNYA, DALAM DUA BENTUK: (1) TIDAK MEYAKININYA BERASAL DARI ALLAH TA’ALA ATAU (2) MEYAKININYA BERASAL DARI ALLAH TA’ALA NAMUN TIDAK MEMPERCAYAINYA.
KEDUA: MELAKUKAN TAHRIF (PENYELEWENGAN), SEPERTI MENAFSIRKAN MAKNA ISTIWA DI ATAS ‘ASRY DENGAN ISTILA (BERKUASA DI ATAS ‘ARSY) ATAU MENAFSIRKAN MAKNA ALLAH TURUN KE LANGIT DUNIA DENGAN “TURUN PERINTAH-NYA”, MAKA INI ADALAH PENYIMPANGAN.
KETIGA: MENYELISIHINYA, YAITU DENGAN MENINGGALKAN PERINTAHNYA DAN MELAKUKAN LARANGANNYA.
Kaidah Keempatbelas:
الاسم له أنواع ثلاثة في الدلالة: دلالة مطابقة، ودلالة تضمن، ودلالة التزام:
1- فدلالة المطابقة: دلالة اللفظ على جميع مدلوله، وعلى هذا، فكل اسم دال على المسمى به، وهو الله، وعلى الصفة المشتق منها هذا الاسم.
2- ودلالة التضمن: دلالة اللفظ على بعض مدلوله، وعلى هذا، فدلالة الاسم على الذات وحدها أو على الصفة وحدها من دلالة التضمن.
3- ودلالة الالتزام: دلالته على شيء يفهم لا من لفظ الاسم لكن من لازمه ولهذا سميناه: دلالة الالتزام.
“Nama Allah memiliki tiga macam penunjukan: Penunjukan secara muthoobaqoh (ketercakupan makna), tadhammun (kandungan makna) dan iltizam (konsekuensi makna):
Penunjukkan secara muthoobaqoh adalah penunjukan suatu lafaz terhadap seluruh maknanya, maka setiap nama Allah menunjukan adanya dzat yang dinamakan dengannya, yaitu Allah, dan menunjukan adanya sifat yang terkandung dalam nama tersebut.
Penunjukan secara tadhommun adalah penunjukan suatu lafaz terhadap sebagian maknanya, maka satu nama Allah menunjukan adanya dzat Allah itu sendiri dan menunjukan adanya sifat itu sendiri yang dipahami dari penunjukan secara tadhommun.
Penunjukan secara iltizam adalah penunjukan suatu lafaz terhadap sesuatu yang dipahami bukan dari lafaz satu nama Allah, akan tetapi sesuatu tersebut termasuk konsekuensinya (kelazimannya), oleh karena itu kita menamakannya: Penunjukan secara konsekuensi.”
CONTOH:
Nama Allah ta’ala: Al-Khaliq (Maha Mencipta) maka secara muthoobaqoh menunjukan adanya dzat Allah dan sifat yang terkandung padanya, yaitu sifat al-khalqu (mencipta).
Secara tadhommun nama Al-Khaliq dari satu sisi menunjukan adanya dzat Allah saja, dan di sisi yang lain nama Al-Khaliq menunjukan adanya sifat al-khalqu (mencipta) saja.
Secara iltizam nama Al-Khaliq menunjukan adanya sifat ilmu (maha berilmu) dan qudroh (maha mampu), karena tidak mungkin dapat mencipta kecuali harus memiliki ilmu dan qudroh.
CONTOH LAIN UNTUK MENDEKATKAN PEMAHAMAN:
KATA RUMAH SECARA MUTHOOBAQOH MENUNJUKAN ADANYA SEBUAH RUMAH DENGAN SEGENAP SIFAT-SIFATNYA (BAGIAN-BAGIANNYA) SECARA KESELURUHAN.
SECARA TADHOMMUN KATA RUMAH DI SATU SISI MENUNJUKAN ADANYA KAMAR TIDUR, DI SISI YANG LAIN KATA RUMAH MENUNJUKAN ADANYA RUANG TAMU, DI SISI YANG LAIN KATA RUMAH MENUNJUKAN ADANYA WC DAN SETERUSNYA, INI DISEBUT PENUNJUKAN TERHADAP SEBAGIAN MAKNA RUMAH (TADHOMMUN).
SECARA ILTIZAM KATA RUMAH MENUNJUKAN ADANYA ORANG YANG MEMBANGUN RUMAH TERSEBUT, KARENA TIDAK MUNGKIN SEBUAH RUMAH BERDIRI TANPA ADA YANG MEMBANGUNNYA.
Kaidah Kelimabelas:
الصفات أعم من الأسماء، لأن كل اسم متضمن لصفة، وليس كل صفة متضمنة لاسم.
“Sifat-sifat lebih luas dari nama-nama, karena setiap nama Allah ‘azza wa jalla mengandung sifat, dan tidak setiap sifat mengandung nama.” [Lihat Al-Qowaa’idul Mutsla, hal. 30, sebagaimana dalam Shifaatullaahi ‘Azza wa Jalla Al-Waaridah fil Kitab was Sunnah, hal. 26].
Kaidah Keenambelas:
ولا يكيفون ولا يمثلون صفاته بصفات خلقه؛ لأنه سبحانه لا سمي له وكفو له ولا ند له, بخلقه سبحانه وتعالى.
“Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak melakukan takyif (menggambarkan bentuk) dan tamtsil (menyerupakan) sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya, karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada yang semisal dengan-Nya, tidak ada yang setara dengan-Nya dan tidak ada yang sebanding dengan-Nya.”
Kaidah Ketujuhbelas:
ولا يقاس بخلقه سبحانه وتعالى.
“Allah tidak boleh di-qiyas-kan dengan makhluk-Nya subhanahu wa ta’ala.”
PENJELASAN:
MAKSUD PENULIS (SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH RAHIMAHULLAH) ADALAH QIYAS SYUMUL DAN QIYAS TAMTSIL, BUKAN QIYAS AULAWIYYAH. KARENA QIYAS ADA TIGA MACAM:
PERTAMA: QIYAS SYUMUL, YAITU SECARA UMUM YANG MENCAKUP KESELURUHAN MAKNANYA, CONTOHNYA MENG-QIYAS-KAN KEHIDUPAN ALLAH DENGAN KEHIDUPAN MAKHLUK, DENGAN ALASAN KEDUANYA SAMA-SAMA HIDUP, MAKA QIYAS SEPERTI INI JELAS KEBATILAN DAN KEBODOHAN.
KEDUA: QIYAS TAMTSIL, YAITU MENYAMAKAN SIFAT ALLAH DENGAN SIFAT MAKHLUK, INI JUGA TERMASUK KEBATILAN DAN KEBODOHAN.
KETIGA: QIYAS AULAWIYYAH, YAITU DALAM SATU SIFAT YANG ALLAH LEBIH PANTAS MENYANDANGNYA DARIPADA MAKHLUK. SEPERTI SIFAT ILMU, QUDROH, HIKMAH, HAYAT DAN LAIN-LAIN ADALAH SIFAT-SIFAT YANG SEMPURNA BAGI MAKHLUK, MAKA ALLAH TA’ALA LEBIH PANTAS MENYANDANG SIFAT-SIFAT TERSEBUT DAN DALAM BENTUK YANG LEBIH TINGGI DAN LEBIH SEMPURNA.
Kaidah Kedelapanbelas:
فإنه سبحانه أعلم بنفسه وبغيره، وأصدق قيلاً وأحسن حديثاً من خلقه.
“Sesungguhnya Allah lebih tahu tentang diri-Nya (baik dzat-Nya, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya) dan tentang selain-Nya, lebih benar ucapannya dan lebih baik pembicaraannya daripada makhluk-Nya.”
Kaidah Kesembilanbelas:
ثم رسله صادقون مصدقون؛ بخلاف الذين يقولون عليه ما لايعلمون.
“Kemudian (yang lebih tahu tentang Allah, lebih benar ucapannya dan lebih baik pembicaraannya) adalah para rasul-Nya yang benar lagi dibenarkan, berbeda dengan orang-orang yang berkata tentang Allah tanpa ilmu.”
Kaidah Keduapuluh:
صفات الله عز وجل قسمان: ثبوتية وسلبية, فالثبوتية: ما أثبت الله تعالى لنفسه في كتابه أو على لسان رسوله صلى الله عليه وسلم، وكلها صفات كمال، ليس فيها نقص بوجه من الوجوه كالحياة، والعلم، والقدرة، والاستواء على العرش، والنزول إلى السماء الدنيا، والوجه، واليدين، ونحو ذلك.
والصفات السلبية: ما نفاها الله سبحانه عن نفسه في كتابه، أو على لسان رسوله صلى الله عليه وسلم، وكلها صفات نقص في حقه، كالموت، والنوم، والجهل، والنسيان، والعجز، والتعب. فيجب نفيها عن الله تعالى مع إثبات ضدها على الوجه الأكمل.
“Sifat-sifat Allah ada dua macam, tsubutiyyah (yang ditetapkan) dan salbiyyah (yang dinafikkan):
Tsubutiyyah (sifat yang ditetapkan) artinya adalah sifat-sifat yang ditetapkan Allah ta’ala untuk diri-Nya di dalam kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.
Dan semua sifat yang Allah ta’ala tetapkan untuk diri-Nya adalah sifat-sifat kesempurnaan, tidak mengandung kekurangan dilihat dari sisi mana pun.
Seperti sifat maha hidup, maha berilmu, maha mampu, istiwa di atas ‘arsy, turun ke langit dunia, wajah, dua tangan dan yang semisalnya.
Salbiyyah (sifat yang dinafikan) artinya adalah sifat-sifat yang dinafikan Allah ta’ala dari diri-Nya dalam kitab-Nya atau melalui lisan Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.
Dan semua sifat yang Allah nafikan dari diri-Nya adalah sifat-sifat kekurangan apabila disematkan kepada-Nya.
Seperti sifat mati, tidur, bodoh, lupa, lemah dan capek.
Maka wajib menafikannya dari Allah ta’ala disertai dengan penetapan sifat yang berlawanan dengannya dalam bentuk yang paling sempurna.”
Kaidah Keduapuluhsatu:
الصفات تنقسم إلى ثلاثة أقسام: صفة كمال مطلق، وصفة كمال مقيد، وصفة نقص مطلق.
“Sifat-sifat (terkait dengan kesempurnaan dan kekurangan) terbagi menjadi tiga macam:
Sifat yang sempurna secara mutlak (umum).
Sifat yang sempurna dengan disertai taqyid (tambahan keterangan).
Sifat yang kurang secara mutlak.”
PENJELASAN:
SIFAT YANG SEMPURNA SECARA MUTLAK ADALAH SIFAT-SIFAT YANG ALLAH TETAPKAN SECARA MUTLAK UNTUK DIRI-NYA YANG MENGANDUNG KESEMPURNAAN TANPA KEKURANGAN SEDIKIT PUN, DARI SISI MANA PUN, SEPERTI SIFAT MAHA HIDUP, MAHA BERILMU, MAHA MAMPU, ISTIWA DI ATAS ‘ARSY, TURUN KE LANGIT DUNIA, WAJAH, DUA TANGAN DAN YANG SEMISALNYA.
SIFAT YANG SEMPURNA SECARA TIDAK MUTLAK ADALAH SIFAT-SIFAT YANG TIDAK BOLEH DISIFATKAN KEPADA ALLAH SECARA MUTLAK (UMUM) TANPA ADANYA TAQYID (TAMBAHAN KETERANGAN), SEPERTI SIFAT MAKAR, MENIPU, MEMPEROLOK-OLOK DAN YANG SEMISALNYA. TIDAK BOLEH MENGATAKAN SECARA MUTLAK: “ALLAH MEMBUAT MAKAR, ALLAH MENIPU, ALLAH MEMPEROLOK-OLOK”. TETAPI HARUS DENGAN TAMBAHAN KETERANGAN: “ALLAH MEMBUAT MAKAR TERHADAP ORANG-ORANG YANG BERBUAT MAKAR, ALLAH MENIPU KAUM MUNAFIKIN, ALLAH MEMPEROLOK-OLOK KAUM MUNAFIKIN”.
SIFAT YANG KURANG SECARA MUTLAK ADALAH YANG MENGANDUNG KEKURANGAN DILIHAT DARI SISI MANA PUN, CONTOHNYA LEMAH, KHIANAT, BUTA, TULI DAN YANG SEMISALNYA, TIDAK BOLEH DISIFATKAN KEPADA ALLAH TA’ALA.
Kaidah Keduapuluhdua:
الصفات المأخوذة من الأسماء هي كمال بكل حال.
“Sifat-sifat yang diambil dari nama-nama Allah adalah sifat-sifat yang sempurna dalam semua keadaan.”
Kaidah Keduapuluhtiga:
عدة طرق لإثبات الصفة:
الطريق الأول: دلالة الأسماء عليها، لأن كل اسم، فهو متضمن لصفة.
الطريق الثاني: أن ينص على الصفة، مثل الوجه، واليدين، والعينين.
الطريق الثالث: أن تؤخذ من الفعل.
“Beberapa cara untuk menetapkan sifat:
Cara Pertama: Penunjukan satu nama terhadap sifat, karena setiap nama mengandung sifat.
Cara Kedua: Terdapat nash (Al-Qur’an dan As-Sunnah) yang menunjukan kepada sifat tersebut, seperti wajah, dua tangan dan dua mata.
Cara Ketiga: Diambil dari perbuatan.”
Kaidah Keduapuluhempat:
فلا عدول لأهل السنة والجماعة عما جاء به المرسلون؛ فإنه الصراط المستقيم, صراط الذين أنعمت عليهم من النبيين والصديقين والشهداء والصالحين.
“Maka tidak ada penyimpangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari ajaran para rasul, karena itu adalah jalan yang lurus, jalan orang-orang yang Engkau (Allah) berikan kenikmatan, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada dan shaalihin.”
[Diringkas dari Syarhu Al-Aqidah Al-Waashitiyyah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah dan disertai tambahan]
Kaidah Keduapuluhlima:
التوقف في الألفاظ المجملة التي لم يرد إثباتها ولا نفيها، أما معناها؛ فَيُسْتفصل عنه، فإن أريد به باطل يُنَزَّه الله عنه؛ رُدَّ، وإن أريد به حق لا يمتنع على الله؛ قُبِلَ، مع بيان ما يدلُّ على المعنى الصواب من الألفاظ الشرعية، والدعوة إلى استعماله مكان هذا اللفظ المجمل الحادث
“Tawaqquf terhadap lafaz-lafaz global yang tidak ditetapkan dan tidak pula dinafikan oleh dalil syar’i. Adapun maknanya, harus diminta perinciannya, apabila bermakna batil yang Allah suci darinya maka ditolak, namun apabila bermakna benar yang sesuai dengan (keagungan) Allah maka diterima, namun disertai dengan penjelasan lafaz-lafaz yang sesuai syari’at yang memenunjukkan makna yang benar tersebut dan ajakan menggunakan lafaz-lafaz yang sesuai syari’at tersebut untuk mengganti lafaz mujmal yang baru itu.”[1]
Kaidah Keduapuluhenam:
كل صفة ثبتت بالنقل الصحيح؛ وافقت العقل الصريح، ولابد
“Semua sifat yang ditetapkan dengan dalil yang shahih pasti sesuai dengan akal yang sehat, tidak mungkin tidak.”[2]
Kaidah Keduapuluhtujuh:
صفات الله عَزَّ وجَلَّ يستعاذ بها ويُحلف بها
“Boleh ber-isti’adzah dan bersumpah dengan sifat-sfat Allah ‘azza wa jalla.”[3]
Penjelasan:
1) Boleh ber-isti’adzah dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala,
2) Boleh bersumpah dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala,
3) Hendaklah hanya berdoa dengan menyeru nama-nama Allah ta’ala,
4) Tidak boleh berdoa dengan menyeru sifat-sifat Allah ta’ala, bahkan sepakat ulama bahwa perbuatan itu adalah kekafiran, karena itu artinya menjadikan sifat-sifat Allah ta’ala terpisah dari-Nya. (Lihat Liqo’ Al-Baabil Maftuh lbnil ‘Utsaimin rahimahullah, 30/234)
5) Boleh ber-tawassul dengan sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla (lihat Fatawa Nur ‘alad Darb libnil Baz rahimahullah, 2/131, no. 44)
Kaidah Keduapuluhdelapan:
الكلام في الصفات كالكلام في الذات
“Pembicaraan tentang sifat sama dengan pembicaraan tentang dzat.”[4]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
وَقَدْ أَطْلَقَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِمَّنْ حَكَى إجْمَاعَ السَّلَفِ – مِنْهُمْ الخطابي – مَذْهَبَ السَّلَفِ: أَنَّهَا تَجْرِي عَلَى ظَاهِرِهَا مَعَ نَفْيِ الْكَيْفِيَّةِ وَالتَّشْبِيهِ عَنْهَا؛ وَذَلِكَ أَنَّ الْكَلَامَ فِي ” الصِّفَاتِ ” فَرْعٌ عَلَى الْكَلَامِ فِي ” الذَّاتِ ” يُحْتَذَى حَذْوُهُ وَيُتَّبَعُ فِيهِ مِثَالُهُ؛ فَإِذَا كَانَ إثْبَاتُ الذَّاتِ إثْبَاتَ وُجُودٍ لَا إثْبَاتَ كَيْفِيَّةٍ؛ فَكَذَلِكَ إثْبَاتُ الصِّفَاتِ إثْبَاتُ وُجُودٍ لَا إثْبَاتُ كَيْفِيَّةٍ فَنَقُولُ إنَّ لَهُ يَدًا وَسَمْعًا وَلَا نَقُولُ إنَّ مَعْنَى الْيَدِ الْقُدْرَةُ وَمَعْنَى السَّمْعِ الْعِلْمُ.
“Dan telah menyebutkan secara mutlak tidak seorang ulama saja yang telah menghikayatkan ijma’ (kesepakatan) generasi Salaf –diantaranya yang dinukil oleh Al-Khattabi- tentang mazhab Salaf: Bahwa ayat-ayat sifat dibiarkan sesuai zhahir-nya (tidak ditakwil tanpa dalil), disertai dengan penafikan kaifiyyah (tidak menggambarkan bentuk sifat Allah) dan tidak menyerupakannya dengan sifat makhluk.
Hal itu karena pembicaraan tentang sifat Allah adalah cabang dari pembicaraan tentang dzat-Nya, maka harus sama dan semisal; maksudnya adalah:
Apabila penetapan (keimanan) terhadap dzat Allah adalah penetapan (keimanan) terhadap wujudnya, bukan penetapan untuk menggambarkan bentuk dzat Allah, demikian pula penetapan (keimanan) terhadap sifat Allah adalah penetapan (keimanan) terhadap wujudnya, bukan penetapan untuk menggambarkan bentuk sifat Allah; maka kita katakan bahwa Allah memiliki tangan dan pendengaran, dan kita tidak boleh mengatakan bahwa makna tangan adalah kemampuan (qudroh) dan tidak pula boleh pula mengatakan pendengaran adalah ilmu.” [Majmu’ Al-Fatawa, 6/355]
Kaidah Keduapuluhsembilan:
القول في بعض الصفات كالقول في البعض الآخر
“Ucapan tentang sebagian sifat sama dengan ucapan tentang sebagian sifat yang lain.”[5]
Kaidah Ketigapuluh:
ما أضيف إلى الله مما هو غير بائنٍ عنه؛ فهو صفة له غير مخلوقة، وكلُّ شيء أضيف إلى الله بائن عنه؛ فهو مخلوق؛ فليس كل ما أضيف إلى الله يستلزم أن يكون صفةً له
“Apa yang disandarkan kepada Allah sedang ia tidak terpisah dengan Allah, maka itu adalah sifat Allah ta’ala dan bukan makhluk, dan segala sesuatu yang disandarkan Allah sedang ia terpisah dengan Allah maka ia makhluk, karena tidak setiap yang disandarkan kepada Allah mengharuskannya sebagai sifat Allah.”[6]
Kaidah Ketigapuluhsatu:
صفات الله عَزَّ وجَلَّ وسائر مسائل الاعتقاد تثبت بما ثبت عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، وإن كان حديثاً واحداً، وإن كان آحاداً
“Sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla dan seluruh masalah aqidah ditetapkan (juga) dengan hadits shahih dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam walau hanya satu hadits, walau hadits ahad.”[7]
Kaidah Ketigapuluhdua:
باب الأخبار أوسع من باب الصفات، وما يطلق عليه من الأخبار؛ لا يجب أن يكون توقيفياً؛ كالقديم، والشيء، والموجود والقائم بنفسه
“Bab pengabaran lebih luas dari bab sifat, dan pengabaran secara umum tidak wajib berdasarkan dalil, seperti al-qodim, asy-syaiu, al-maujud dan al-qooim bi nafsihi (berdiri sendiri).”[8]
Kaidah Ketigapuluhtiga:
صفات الله عَزَّ وجَلَّ لا حصر لها؛ لأن كل اسم يتضمن صفة، وأسماء الله لا حصر لها، فمنها ما استأثر الله به في علم الغيب عنده.
“Sifat-sifat Allah ‘azza wajalla tidak ada batasan jumlahnya, karena setiap nama mengandung sifat, sedang nama-nama Allah tidak ada batasan jumlahnya, karena diantara nama-nama Allah ada yang Allah khususkan dalam ilmu ghaib di sisi-Nya.”[9]
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
——————-
[1] Shifaatullahi ‘Azza wa Jalla Al-Waaridah fil Kitab was Sunnah, hal. 24. Lihat juga Majmu’ Al-Fatawa, 5/299 dan 6/36, At-Tadmuriyyah, hal. 65 dan Mukhtashor Ash-Showaa’qul Mursalah, hal. 139.
[2] Shifaatullahi ‘Azza wa Jalla Al-Waaridah fil Kitab was Sunnah, hal. 25. Lihat juga Mukhtashor Ash-Showaa’qul Mursalah, hal. 141.
[3] Shifaatullahi ‘Azza wa Jalla Al-Waaridah fil Kitab was Sunnah, hal. 27. Lihat Majmu’ Al-Fatawa 6/143, 229 dan 35/273, dan lihat Syarhus Sunnah lil Baghowi, 1/185-187.
[4] Shifaatullahi ‘Azza wa Jalla Al-Waaridah fil Kitab was Sunnah, hal. 27. Lihat juga Majmu’ Al-Fatawa, 5/330 dan 6/335, dan At-Tamuriyyah, hal. 43.
[5] Shifaatullahi ‘Azza wa Jalla Al-Waaridah fil Kitab was Sunnah, hal. 28. Lihat juga Majmu’ Al-Fatawa, 5/212, dan At-Tamuriyyah, hal. 31.
[6] Shifaatullahi ‘Azza wa Jalla Al-Waaridah fil Kitab was Sunnah, hal. 28. Lihat juga Majmu’ Al-Fatawa, 9/290, Al-Jawaabus Shahih, 3/145 dan Majmu’ Fatawa wa Rosaal Ibni ‘Utsaimin, 1/166.
[7] Shifaatullahi ‘Azza wa Jalla Al-Waaridah fil Kitab was Sunnah, hal. 29. Lihat juga Mukhtashor Ash-Showaa’iq Al-Mursalah, 2/332, 412 dan 433.
[8] Shifaatullahi ‘Azza wa Jalla Al-Waaridah fil Kitab was Sunnah, hal. 30. Lihat juga Badaai’ul Fawaaid, 1/162.
[9] Shifaatullahi ‘Azza wa Jalla Al-Waaridah fil Kitab was Sunnah, hal. 30.