Header ads

Featured Post (Slider)

Saudaraku, Jangan Engkau Sia-Siakan Puasamu?

Kajian Salaf Senin, 30 Juni 2014 0

Saudaraku, janganlah engkau sia-siakan puasamu. Janganlah sampai engkau hanya mendapat lapar dan dahaga saja, lalu engkau lepaskan pahala yang begitu melimpah dan tak terhingga di sisi Allah dari amalan puasamu tersebut. Isilah hari-harimu di bulan suci ini dengan amalan yang bermanfaat, bukan dengan perbuatan yang sia-sia atau bahkan mengandung maksiat. Janganlah engkau berpikiran bahwa  karena takut berbuat maksiat dan perkara yang sia-sia, maka lebih baik diisi dengan tidur. Lihatlah suri tauladan kita memberi contoh kepada kita dengan melakukan banyak kebaikan seperti banyak berderma, membaca Al Qur’an, banyak berzikir dan i’tikaf di bulan Ramadhan. Manfaatkanlah waktumu di bulan yang penuh berkah ini dengan berbagai macam kebaikan dan jauhilah berbagai macam maksiat.

Di bulan Ramadhan ini setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjalankan puasa dengan menahan lapar dan dahaga mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Namun ada di antara kaum muslimin yang melakukan puasa, dia tidaklah mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja yang menghinggapi tenggorokannya. Inilah yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur lagi membawa berita yang benar,
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi -yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya-)
Apa di balik ini semua? Mengapa amalan puasa orang tersebut tidak teranggap, padahal dia telah susah payah menahan dahaga mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari?
Saudaraku, agar engkau mendapatkan jawabannya, simaklah pembahasan berikut mengenai beberapa hal yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia -semoga Allah memberi taufik pada kita untuk menjauhi hal-hal ini-.

1. Jauhilah Perkataan Dusta (az zuur)
Inilah perkataan yang membuat puasa seorang muslim bisa sia-sia, hanya merasakan lapar dan dahaga saja.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)
Apa yang dimaksud dengan az zuur? As Suyuthi mengatakan bahwa az zuur adalah berkata dusta dan menfitnah (buhtan). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang. (Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/121, Maktabah Syamilah)

2. Jauhilah Perkataan lagwu (sia-sia) dan rofats (kata-kata porno)
Amalan yang kedua yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia adalah perkataan lagwu dan rofats.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Apa yang dimaksud dengan lagwu? Dalam Fathul Bari (3/346), Al Akhfasy mengatakan,
اللَّغْو الْكَلَام الَّذِي لَا أَصْل لَهُ مِنْ الْبَاطِل وَشَبَهه
Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.”
Lalu apa yang dimaksudkan dengan rofats? Dalam Fathul Bari (5/157), Ibnu Hajar mengatakan,
وَيُطْلَق عَلَى التَّعْرِيض بِهِ وَعَلَى الْفُحْش فِي الْقَوْل
“Istilah Rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.”
Al Azhari mengatakan,
الرَّفَث اِسْم جَامِع لِكُلِّ مَا يُرِيدهُ الرَّجُل مِنْ الْمَرْأَة
“Istilah rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita.” Atau dengan kata lain rofats adalah kata-kata porno.
Itulah di antara perkara yang bisa membuat amalan seseorang menjadi sia-sia. Betapa banyak orang yang masih melakukan seperti ini, begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kotor, dusta, sia-sia dan menggunjing orang lain.

3. Jauhilah Pula Berbagai Macam Maksiat
Ingatlah bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram. Perhatikanlah saudaraku petuah yang sangat bagus dari Ibnu Rojab Al Hambali berikut:
“Ketahuilah, amalan taqarrub (mendekatkan diri) pada Allah ta’ala dengan meninggalkan berbagai syahwat yang mubah ketika di luar puasa (seperti makan atau berhubungan badan dengan istri, -pen) tidak akan sempurna hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.” (Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah)
Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan petuah yang sangat bagus:
“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Lihat Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah)
Itulah sejelek-jelek puasa yaitu hanya menahan lapar dan dahaga saja, sedangkan maksiat masih terus dilakukan. Hendaknya seseorang menahan anggota badan lainnya dari berbuat maksiat. Ibnu Rojab mengatakan,
أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ
“Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja.”
Itulah puasa kebanyakan orang saat ini. Ketika ramadhan dan di luar ramadhan, kondisinya sama saja. Maksiat masih tetap jalan. Betapa banyak kita lihat para pemuda-pemudi yang tidak berstatus sebagai suami-istri masih saja berjalan berduaan. Padahal berduaan seperti ini telah dilarang dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun hal ini tidak diketahui dan diacuhkan begitu saja oleh mereka.
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ
Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ
Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi –shohih dilihat dari jalur lain-)
Apalagi dalam pacaran pasti ada saling pandang-memandang. Padahal Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memerintahkan kita memalingkan pandangan dari lawan jenis. Namun, orang yang mendapat taufik dari Allah saja yang bisa menghindari semacam ini. Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.
Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku. (HR. Muslim no. 5770)
Kalau di luar Ramadhan, perbuatan maksiat semacam ini saja jelas-jelas dilarang maka tentu di bulan Ramadhan lebih tegas lagi pelarangannya. Semoga kita termasuk orang yang mendapat taufik dari Allah untuk menjauhi berbagai macam maksiat ini.

Apakah Dengan Berkata Dusta dan Melakukan Maksiat, Puasa Seseorang Menjadi Batal?
Untuk menjelaskan hal ini, perhatikanlah perkataan Ibnu Rojab berikut, “Mendekatkan diri pada Allah ta’ala dengan meninggalkan perkara yang mubah tidaklah akan sempurna sampai seseorang menyempurnakannya dengan meninggalkan perbuatan haram. Barangsiapa yang melakukan yang haram (seperti berdusta) lalu dia mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan yang mubah (seperti makan di bulan Ramadhan), maka ini sama halnya dengan seseorang meninggalkan yang wajib lalu dia mengerjakan yang sunnah. Walaupun puasa orang semacam ini tetap dianggap sah menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama) yaitu orang yang melakukan semacam ini tidak diperintahkan untuk mengulangi (mengqodho’) puasanya. Alasannya karena amalan itu batal jika seseorang melakukan perbuatan yang dilarang karena sebab khusus dan tidaklah batal jika melakukan perbuatan yang dilarang yang bukan karena sebab khusus. Inilah pendapat mayoritas ulama.”
Ibnu Hajar dalam Al Fath (6/129) juga mengatakan mengenai hadits perkataan zuur (dusta) dan mengamalkannya:
“Mayoritas ulama membawa makna larangan ini pada makna pengharaman, sedangkan batalnya hanya dikhususkan dengan makan, minum dan jima’ (berhubungan suami istri).”
Mula ‘Ali Al Qori dalam Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih (6/308) berkata, “Orang yang berpuasa seperti ini sama keadaannya dengan orang yang haji yaitu pahala pokoknya (ashlu) tidak batal, tetapi kesempurnaan pahala yang tidak dia peroleh. Orang semacam ini akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang dia lakukan.”
Kesimpulannya: Seseorang yang masih gemar melakukan maksiat di bulan Ramadhan seperti berkata dusta, memfitnah, dan bentuk maksiat lainnya yang bukan pembatal puasa, maka puasanya tetap sah, namun dia tidak mendapatkan ganjaran yang sempurna di sisi Allah. –Semoga kita dijauhkan dari melakukan hal-hal semacam ini-

Ingatlah Suadaraku Ada Pahala yang Tak Terhingga di Balik Puasa Kalian
Saudaraku, janganlah kita sia-siakan puasa kita dengan hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Marilah kita menjauhi berbagai hal yang dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa kita. Sungguh sangat merugi orang yang melewatkan ganjaran yang begitu melimpah dari puasa yang dia lakukan. Seberapa besarkah pahala yang melimpah tersebut? Mari kita renungkan bersama hadits berikut ini.
Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى »
Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim no. 1151)
Lihatlah saudaraku, untuk amalan lain selain puasa akan diganjar dengan 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Namun, lihatlah pada amalan puasa, khusus untuk amalan ini Allah sendiri yang akan membalasnya. Lalu seberapa besar balasan untuk amalan puasa? Agar lebih memahami maksud hadits di atas, perhatikanlah penjelasan Ibnu Rojab berikut ini:
“Hadits di atas adalah mengenai pengecualian puasa dari amalan yang dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan hingga 700 kebaikan yang semisal. Khusus untuk puasa, tak terbatas lipatan ganjarannya dalam bilangan-bilangan tadi. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla akan melipatgandakan pahala orang yang berpuasa hingga bilangan yang tak terhingga. Alasannya karena puasa itu mirip dengan sabar. Mengenai ganjaran sabar, Allah ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” (QS. Az Zumar [39]: 10). Bulan Ramadhan juga dinamakan dengan bulan sabar. Juga dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi, Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Al Jami’ Ash Shogir no. 2658 mengatakan bahwa hadits ini dho’if , -pen)
Sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam menjalani ketaatan, sabar dalam menjauhi larangan dan sabar dalam menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan. Dan dalam puasa terdapat tiga jenis kesabaran ini. Di dalamnya terdapat sabar dalam melakukan ketaatan, juga terdapat sabar dalam menjauhi larangan Allah yaitu menjauhi berbagai macam syahwat. Dalam puasa juga terdapat bentuk sabar terhadap rasa lapar, dahaga, jiwa dan badan yang terasa lemas. Inilah rasa sakit yang diderita oleh orang yang melakukan amalan taat, maka dia pantas mendapatkan ganjaran sebagaimana firman Allah ta’ala,
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At Taubah [9]: 120).” -Demikianlah penjelasan Ibnu Rojab (dalam Latho’if Al Ma’arif, 1/168) yang mengungkap rahasia bagaimana puasa seseorang bisa mendapatkan ganjaran tak terhingga, yaitu karena di dalam puasa tersebut terdapat sikap sabar.-

Saudaraku, sekali lagi janganlah engkau sia-siakan puasamu. Janganlah sampai engkau hanya mendapat lapar dan dahaga saja, lalu engkau lepaskan pahala yang begitu melimpah dan tak terhingga di sisi Allah dari amalan puasamu tersebut.
Isilah hari-harimu di bulan suci ini dengan amalan yang bermanfaat, bukan dengan perbuatan yang sia-sia atau bahkan mengandung maksiat. Janganlah engkau berpikiran bahwa  karena takut berbuat maksiat dan perkara yang sia-sia, maka lebih baik diisi dengan tidur. Lihatlah suri tauladan kita memberi contoh kepada kita dengan melakukan banyak kebaikan seperti banyak berderma, membaca Al Qur’an, banyak berzikir dan i’tikaf di bulan Ramadhan. Manfaatkanlah waktumu di bulan yang penuh berkah ini dengan berbagai macam kebaikan dan jauhilah berbagai macam maksiat.
Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, kemampuan untuk menjauhi yang larang dan diberikan rasa kecukupan.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Penulis : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Sumber: www.muslim.or.id

Nasehat Syaikh Utsaimin Berkenaan Dengan Datangnya Bulan Ramadhan

Kajian Salaf Jumat, 27 Juni 2014 0

Berikut adalah nasehat dari syaikh utsaimin rahimahullah kepada kaum muslimin berkaitan denan datangnya bulan ramadhan. Silahkan disimak dan semoga kita bisa mengamalkannya.
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Berkenan dengan datangnya bulan Ramadhan, yang bulan itu sebagai musim ibadah dan ketaatan. Alangkah baiknya jika Anda berkenan memberikan nasihat kepada kaum muslimin berkaitan dengan hal ini. Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga, menolong dan memberikan taufiq kepada Anda.
Jawaban
Sebuah kalimat yang saya tujukan kepada kaum muslimin, bahwasanya pada bulan ini terdapat tiga macam ibadah yang agung, yaitu zakat, puasa, dan qiyam (berdiri untuk shalat).
1. Zakat
Kebanyakan manusia menunaikan zakatnya pada bulan ini. Menunaikan zakat dengan penuh amanah merupakan kewajiban setiap orang. Hendaknya seseorang merasa bahwa zakat merupakan ibadah dan sebagai salah satu kewajiban Islam. Dengan itu, ia bisa mendekatkan diri kepada Rabbnya dan melaksanakan salah satu dari rukun Islam yang agung. Membayar zakat bukan sebuah kerugian sebagaimana yang digambarkan syaitan.

Allah Azza wa Jalla berfirman.
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). Sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lag Maha Mengetahui” [al-Baqarah/2 : 268]
Bahkan membayar zakat sebenarnya merupakan keuntungan. Karena Allah Azza wa Jalla telah berfirman.
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” [al-Baqarah/2 : 261]
وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka adalah seperti kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat. Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat itu tidak menyiraminya, maka hujan gerimispun (telah cukup baginya). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” [al-Baqarah/2 : 265]
Kemudian hendaknya seorang muslim mengeluarkan zakat yang wajib atasnya, baik dari harta yang sedikit maupun banyak. Selalu mengintropeksi diri dan tidak melalaikan setiap yang wajib dizakati, melainkan ia membayarkannya. Dengan demikian, dia akan terbebas dari tanggungan dan ancaman dahsyat, sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman.
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil terhadap harta-harta yang Allah berikan kepada mereka sebagai karunia-Nya itu menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sesungguhnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak pada hari Kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala urusan(yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” [Ali-Imran/3 : 180]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman.
وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿٣٤﴾ يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu” [at-Taubah/9 : 34-35]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang diberi harta oleh Allah Azza wa Jalla, lalu ia tidak menunaikan zakatnya, (maka) pada hari Kiamat hartanya dijelmakan menjadi seekor ular jantan aqra’ (yang putih kepalanya, karena banyaknya racun pada kepala itu) yang berbusa di dua sudut mulutnya. Ular itu dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat. Ular itu mencengkeram dengan kedua rahangnya, lalu ular itu berkata, ‘Saya adalah hartamu, saya adalah simpananmu”.
Adapun ayat yang kedua, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkannya dengan bersabda.
مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحَ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ
“Tidaklah pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan haknya (yaitu zakat) melainkan pada hari Kiamat akan dijadikan lempengan-lempengan di neraka. Kemudian dipanaskan di dalam neraka Jahannam. Lalu dibakarlah dahi, lambung dan punggungnya. Tiap-tiap lempengan itu dingin kembali (dipanaskan dalam neraka Jahannam) untuk (menyiksa)nya. (Hal itu dilakukan pada hari Kiamat), yang satu hari sebanding dengan 50 ribu tahun, hingga diputuskan (hukuman) di antara seluruh hamba. Kemudian dia akan melihat (atau akan diperlihatkan) jalannya. Apakah dia menuju surga atau neraka.
Demikian juga wajib baginya untuk memberikan zakat kepada orang yang berhak menerimnya. Janganlah membayar zakat hanya sebagai kebiasaan atau dalam keadaan terpaksa. Dan dengan pembayaran zakat itu, (kemudian) tidak (berarti) menjadikan kewajiban-kewajiban selain zakat menjadi gugur. Sehingga dengan demikian, pembayaran zakat akan menjadi amalan yang diterima.
2. Adapun Perkara Kedua Yang Dilakukan Kaum Muslimin Pada Bulan Ini, Ialah Puasa Ramadhan, Satu Diantara Rukun-Rukun Islam.
Adapun manfaat puasa, ialah sebagaimana telah disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” [al-Baqarah/2 : 183]
Maka manfaat puasa yang sesungguhnya, ialah takwa kepada Allah Azza wa Jalla dengan cara melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi laranganNya. Sehingga manusia melaksanakan apa yang diwajibkan Allah Azza wa Jalla kepadanya, yaitu berupa bersuci dan shalat, serta menjauhi yang telah Allah Azza wa Jalla haramkan baginya, seperti berdusta, menggunjing, dan menipu, serta lalai dengan kewajiban-kewajibannya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan masih juga melakukannya, serta melakukan perbuatan-perbuatan bodoh, maka Allah tidak membutuhkan terhadap puasanya, meskipun ia meninggalkan makan dan minumnya”.
Yang amat disayangkan, kebanyakan kaum muslimin yang berpuasa pada bulan ini, perbuatan mereka tidak jauh berbeda dengan tatkala hari-hari berbuka (saat tidak berpuasa). Terkadang antara mereka dijumpai ada yang masih melalaikan kewajiban atau melakukan keharaman. Dan sekali lagi, ini sangat disesalkan. Adapun mukmin yang berakal, ialah mereka yang tidak menjadikan hari-hari puasanya sama seperti hari-hari berbukanya. Akan tetapi (sudah menjadi keharusan), apabila pada hari-hari puasanya, ia menjadi hamba yang lebih bertakwa dan lebih taat kepadaNya.
3. Perkara Ketiga, Yaitu Qiyam (Berdiri Untuk Shalat)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajak untuk melakukan qiyam dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan balasan, maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”.
Sebagaimana telah dimaklumi, qiyam Ramadhan ini mencakup shalat-shalat sunnah pada malam hari dan shalat tarawih. Oleh karena itu, seharusnya setiap orang supaya memperhatikan dan menjaganya, serta berusaha mengikuti imam shalat sampai selesai. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Barangsiapa yang shalam (malam) bersama imam hingga selesai shalatnya, akan ditulis (pahala) shalat semalaman”.
Adapun bagi para imam yang mengimami manusia pada shalat tarawih, mereka wajib bertakwa kepada Allah dalam hal-hal yang berkaitan dengan ma’mum. Mereka harus shalat dengan tuma’ninah dan tenang (tidak tergesa-tergesa), sehingga para ma’mum bisa melaksanakan setiap kewajiabn dan amalan-amalan sunnah sebaik mungkin. Sedangkan yang dilakukan kebanyakan manusia pada hari ini. Mereka shalat secara cepat sehingga tidak tuma’ninah. Padahal tuma’ninah merupakan bagian dari rukun-rukun shalat. Shalat tidak sah kecuali dengan tuma’ninah. Oleh karena itu, tergesa-gesa dalam shalat adalah haram. Sebab (1) mereka meninggalkan tuma’ninah, (2) seandainya mereka (imam) tidak meninggalkan tuma’ninah, maka sesungguhnya mereka menjadikan lelah orang-orang yang di belakangnya serta menyebabkan orang-orang itu meninggalkan tuma’ninah.
Oleh karena itu, seseorang yang mengimami manusia, jangan seperti jika ia shalat sendiri. Dia harus menjaga amanah terhadap manusia dan melaksanakan shalat dengan benar. Para ulama telah menyebutkan, bahwasanaya seorang imam dimakruhkan untuk mempercepat shalat sehingga menghalangi ma’mum untuk melaksanakan amalan sunnah. (Apabila demikian keadaannya), maka bagaimana jika imam mempercepat shalat sehingga menghalangi ma’mum dari mengerjakan sesuatu yang wajib?

Sumber: http://almanhaj.or.id/content/3943/slash/0/nasihat-menjelang-bulan-ramadhan/

Tabligh Akbar Nasional 22 Juni 2014

Kajian Salaf Senin, 16 Juni 2014 0

HADIRILAH!!
Tabligh Akbar Nasional Bersama Ulama Timur Tengah
Kajian Ini Terbuka Untuk Umum Bagi Kaum Muslimin Dan Muslimah

Pemateri
Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al Halabi hafidzhahullah
(Ulama Ahlus Sunnah Yordania, murid Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani)
Syaikh Ali Hasan Al Halabi adalah ulama yang sering datang berkunjung ke Indonesia untuk mengisi acara tabligh akbar dan seminar para da’i. Beliau adalah salah satu murid senior dari ahli hadits terkenal zaman ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.  

Waktu
Ahad 22 Juni 2014, pukul 15.30 s/d 20.30WIB

Tempat
Masjid Al Istiqlal, Jakarta Pusat

Tema
“Meneladani Kepemimpinan Umar bin Khathab Radhiallahu’anhu”

Penerjemah
Ustadz Firanda Andrija, Lc., MA.
Info: 0821 4067 5825


Nasehat dalam Menyambut Bulan Ramadhan

Kajian Salaf Jumat, 13 Juni 2014 1

Hendaklah kita menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah, bulan yang memiliki banyak keistimewaan, dengan penuh harapan dan kebahagiaan. Kita harus bersyukur kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala, karena masih memberi kita kesempatan untuk berjumpa dengannya. Pada bulan Ramadhân, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih giat lagi beribadah dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Ini juga yang dilakukan oleh para ulama salaf. Mereka benar-benar serius memperhatikan bulan ini. Mereka meluangkan waktunya untuk beribadah kepada kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan menunaikan berbagai amal shaleh. Mereka memanfaatkan detik demi detik waktu dalam ketaatan kepada Rabb mereka. Hendaklah kita memohon kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala agar ditolong dalam melakukan berbagai amal shalih, serta mohonlah kepada-Nya agar Allâh Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amal kita. Amin
Sebagai seorang muslim kita diwajibkan selama masih hidup untuk senantiasa taat dan beribadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Allâh berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kematian kepadamu.” (Q.S. al-Hijr/15: 99) .
Sebagian ulama salaf mengatakan, “Tiada tujuan lain amalan seorang muslim, kecuali untuk menghadapi kematian.”
Oleh karena itu, merupakan suatu keharusan bagi seorang muslim untuk lebih serius memperhatikan dan mengerahkan segala kemampuannya pada mawâsimil khair (waktu-waktu yang utama untuk melakukan kebaikan). Di antara bentuk rahmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala yaitu Dia menyediakan bagi para hamba-Nya waktu-waktu utama yang pada saat itu semua kebaikan dilipat gandakan balasannya dibandingkan waktu-waktu lainnya. Di antara waktu itu adalah bulan Ramadhân yang penuh berkah. Pada bulan ini, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Alqurân yang merupakan petunjuk bagi umat manusia. Inilah musim melakukan kebaikan yang sangat agung.

Sungguh akan datang kepada kalian tamu yang membawa keberkahan dan lagi mulia. Maka, hendaklah kita menyambutnya dengan penuh harapan dan kebahagiaan. Hendaklah kalian bersyukurlah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala, karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala masih memberi kita kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadhân! Hendaklah kita memohon kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala agar ditolong dalam melakukan berbagai amal shalih, serta mohonlah kepada-Nya agar Allâh Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amal kita. Karena bulan Ramadhân sebagaimana telah kita ketahui memiliki banyak keistimewaan.
Di antara keistimewaannya adalah Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan puasa pada bulan Ramadhân sebagai salah satu rukun Islam. Orang yang telah memenuhi persyaratan tidak diperkenankan meninggalkan berpuasa pada bulan itu, kecuali dengan alasan yang dibenarkan syariat, seperti bepergian jauh atau sakit. Itupun dia tetap dikenai beban untuk menggantinya di bulan-bulan yang lain. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (Q.S. al-Baqarah/2: 185).
Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keringanan kepada orang yang sudah berusia lanjut dan tidak mampu lagi untuk berpuasa. Orang seperti ini tidak dikenai kewajiban mengganti pada bulan yang lain. Dia hanya dikenai kewajiban membayar fidyah sesuai dengan ketentuan syariat.

Di antara keistimewaan Ramadhân yaitu shalat tarawih yang disyariatkan khusus pada bulan ini. Shalat sunat disyariatkan dikerjakan secara berjamaah di masjid. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
Barangsiapa yang shalat bersama imam, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mencatat untuknya pahala shalat semalam penuh.
Para ulama mengatakan bahwa shalat ini hukumnya sunat mukkad, sehingga seharusnya bagi seluruh kaum muslimin memperhatikannya dengan baik. Hendaknya kita memperhatikan cara pelaksanaanya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak hanya sekadar mengikuti adat atau kebiasaan. Sangat disayangkan fenomena di tengah masyarakat, banyak di antara mereka yang melaksanakannya, namun seakan sebagai adat saja. Sehingga, apa yang mereka lakukan tidak berbekas sama sekali dalam jiwa. Nas’alullah ‘afiyah.

Keistimewaan lain dari Ramadhân yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya sebagai waktu untuk menurunkan Alquran yang merupakan petunjuk bagi manusia. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhân, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alqurân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Qs al-Baqarah/2:185)
Ibnu Abbâs mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan seluruh Alquran sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia pada bulan Ramadhân. Lalu di sana, diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan berbagai kejadian.”

Keistimewaan ramadhan yang selalu ditunggu-tunggu dan diharap-harap yaitu dia memiliki Lailatul Qadr yang dijelaskan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala keistimewaannya yaitu lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang diberi taufik oleh untuk beramal malam itu, berarti sama dengan beramal selama delapan puluh tiga tahun. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk beramal shalih pada malam itu.
Dan masih banyak lagi keistimewaan bulan Ramadhân, bulan yang ditunggu kehadirannya oleh seluruh kaum muslimin yang memiliki kepedulian terhadap hari akhiratnya. Bulan yang penuh berkah ini akan segera datang. Mestinya, sejak sekarang sudah bertekad akan bersungguh-sungguh dalam melakukan amal shalih pada bulan Ramadhân, sebagaimana anjuran Rasûlullâh. Bersungguh-sungguh melaksanakan berbagai amalan shalih, baik yang wajib, ataupun sunnah, seperti shalat, shadaqah, dan sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Maka, janganlah kita sia-siakan bulan ini dengan melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat, sebagaimana kelakuan orang-orang celaka. Yaitu orang-orang yang lupa kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala, sehingga Allâh pun melupakan mereka. Mereka tidak bisa memetik manfaat apapun dari bulan yang penuh kebaikan yang akan menjelang ini. Mereka tidak mengetahui kehormatan bulan ini dan tidak mengetahui nilainya.

SIKAP YANG PERLU DIWASPADAI
Pada bulan Ramadhân, pintu-pintu surga dibuka, sementara pintu-pintu neraka ditutup. Setan yang senantiasa menggoda dan menjebak manusia agar berbuat maksiat pun dibelenggu. Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ
Apabila bulan Ramadhân telah tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. (H.R. Muslim).
Dengan demikian, kesempatan untuk melakukan kebaikan itu terbuka lebar. Kita juga bisa menyaksikan pada bulan Ramadhân, banyak orang yang berubah drastis. Dari yang tidak pernah ke masjid jadi gemar ke masjid; dari yang bakhil berubah menjadi pemurah dan lain sebagainya.
Namun sangat disayangkan, banyak orang yang tidak mengerti hakikat bulan yang mulia ini, yang mereka tahu adalah bulan ini merupakan kesempatan untuk menghidangkan dan menyantap makanan dan minuman yang bervariasi. Asumsi ini mendorong berusaha keras untuk memenuhi apapun yang diinginkan oleh hawa nafsunya. Mereka mengeluarkan biaya yang banyak untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Mereka berfoya-foya. Padahal sudah dimaklumi bersama, bahwa terlalu banyak makan menyebabkan seseorang malas melaksanakan perbuatan taat. Sementara pada bulan yang mulia ini, seorang muslim diharapkan mengurangi makan sehingga bisa bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Sebagian lagi memahaminya sebagai kesempatan untuk tidur dan bermalas-malasan. Dia pun “memanfaatkan” sebagian besar waktunya untuk mendengkur, bahkan sampai tertinggal shalat jamaah di masjid. Mereka berdalil dengan hadits lemah,
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ
Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah. (Hadits ini dinyatakan dhaif oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah Ahadits adh-Dhaifah, no. 4696).
Ini jelas sebuah kekeliruan.
Sebagian lagi memahaminya sebagai waktu untuk begadang, bukan dalam rangka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tapi mereka habiskan waktu malam mereka dengan bercanda-ria dan melakukan berbagai aktivitas yang sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka di akhirat. Ketika badan sudah terasa lelah akibat begadang, mereka segera sahur, selanjutnya tidur sampai melewati shalat Shubuh. Na’udzubillah.
Sebagian lagi asik menyantap hidangan saat berbuka sampai lupa diri dan meninggalkan shalat Maghrib berjama’ah di masjid. Inilah di antara fenomena meyedihkan yang sering kita temukan di tengah masyarakat pada bulan Ramadhân. Mereka meninggalkan berbagai kewajiban dan melakukan aneka perbuatan yang diharamkan. Rasa takut kepada adzab Allâh Subhanahu wa Ta’ala seakan sudah tidak ada lagi di hati mereka. Kalau kelakuan mereka, masihkah Ramadhân memiliki keistimewaan di mata mereka? Manfaat apa yang bisa mereka petik darinya?

Ada lagi sebagian orang yang memahami bulan Ramadhân sebagai kesempatan emas untuk berbisnis. Mereka mencurahkan segala kemampuan untuk menyusun strategi demi meraup untung sebanyak-banyaknya di bulan ini. Waktu-waktu mereka dihabiskan di lokasi-lokasi bisnis, sampai-sampai tidak lagi untuk ke masjid, kecuali sebentar saja dan itupun dalam suasana terburu-buru. Di kepala mereka, Ramadhân merupakan kesempatan meraih dunia dan bukan akhirat. Mereka letihkan diri mereka pada bulan Ramadhân demi mencari sesuatu yang fana dan meninggalkan sesuatu yang manfaatnya kekal abadi.
Inilah beberapa contoh sikap yang keliru dalam menyikapi kemuliaan bulan Ramadhân. Tanpa disadari, ini merupakan musibah besar bagi mereka. Mereka dari terhalang berbagai kebaikan yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala janjikan bagi orang-orang yang memanfaatkan momen berharga ini dalam rangka beribadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala semata. Semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengerti akan arti Ramadhân dan semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua untuk senantiasa beramal shaleh.

Sikap sebagian kaum Muslimin yang keliru dalam menyikapi Ramadhân bertolak belakang dengan sikap Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena, pada bulan Ramadhân, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih giat lagi beribadah dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan berbagai kesibukan demi beribadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Ini juga yang dilakukan oleh para ulama salaf. Mereka benar-benar serius memperhatikan bulan ini. Mereka meluangkan waktunya untuk beribadah kepada kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan menunaikan berbagai amal shaleh. Mereka memanfaatkan detik demi detik waktu dalam ketaatan kepada Rabb mereka dan bersungguh-sungguh melaksanakan shalat tahajjud. Az-Zuhri rahimahullah mengatakan, “Apabila bulan Ramadhân telah tiba, maka waktu itu hanya untuk membaca Alqurân dan memberi makan orang lain.” Para ulama salaf juga senantiasa duduk di masjid dan mengatakan, “Kami menjaga puasa kami dan tidak menggunjing seorangpun.” Mereka juga memiliki antusias tinggi untuk melaksanakan shalat tarawih dan menyelesaikannya bersama imam. Maka dengan demikian bertakwalah kalian kepada Allâh wahai kaum muslimin dan jagalah bulan Ramadhân ini, perbanyaklah di dalamnya ketaatan-ketaatan kepada Allâh mudah-mudahan Allâh menggolongkan (menetapkan) bagi kita ke dalam orang-orang yang beruntung dan memperoleh kemenangan di bulan ini.





Kajian Balikpapan Mei 2014 Bersama Ust. Syafiq Basalamah

Kajian Salaf Senin, 19 Mei 2014 0

Berikut rangkaian agenda kajian daurah bersama Ust. Syafiq Basalamah di Balikpapan, dari jumat 23 mei 2014 sampai senin 26 mei 2014. Ayo ajak semuanya untuk menghadirinya. Pamflet bisa didownload dibawah.

JUM’AT, 23 MEI 2014
Waktu : Khutbah Jum’at
Tempat : Masjid As-Salam (Bandara Sepinggan)
Tema : Mengumpulkan Pundi Kesenangan Akhirat
Waktu : Ba’da Maghrib – Selesai
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Masjid Istiqomah (Jl. Sport, Gn Dubs, Samping Lapangan Merdeka)
Tema : Do’aku untuk Pemimpinku

SABTU, 24 MEI 2014
Waktu : 08.30 – 11.30 Wita
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Pondokan Nadita (Jl. Marsma Iswahyudi)
Tema : Akibat Lidah Tak Bertulang.
Waktu : Ba’da Maghrib – Selesai
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Masjid Baiturrahman (Balikpapan Regency Sektor II)
Tema : Masih Adakah Hari Esok Untuk Kita?

AHAD, 25 MEI 2014
Waktu : 08.30 – Zhuhur
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Masjid Al-Imam An-Nasa’i (Jl. Syarifudin Yos, Depan Sepinggan Pratama)
Tema : Gali Lubang Tutup Lubang
Waktu : Ba’da Maghrib – Selesai
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Masjid Istiqlal (Jl. Panorama, Samping Stadion PERSIBA)
Tema : Bahagia di Alam Kubur

SENIN, 26 MEI 2014
Waktu : 09.00 – 11.30 Wita
Peserta : Khusus Muslimah
Tempat : Pondokan Nadita (Jl. Marsma Iswahyudi)
Tema : Suamiku, “Sudah Cantikkah Aku?”


Diselenggarakan atas kerjasama :
Pondokan Nadita
Yayasan Ath-Thoifah Al-Manshuroh
Ruziqa TV
Informasi :
0812 5437 401
Grup FB : Majelis Ilmu Balikpapan
Web : majelisilmu.com

Daurah Islamiyah Semarang Mei-Juni 2014

Kajian Salaf Rabu, 14 Mei 2014 0

DAUROH ISLAMIYYAH

BERSAMA USTADZ DR. ERWANDI TARMIZI, MA

(Doktor lulusan fakultas syariah Universitas Al-Imam Muhammad bin Sa’ud, Riyadh, Arab Saudi)

“DAUROH KITAB” (Untuk peserta undangan dan peserta terdaftar)

Membahas KITABUL BUYUU’ dari kitab MANHAJUS SAALIKIEN (Syaikh Sa’diy Rohimahullah)

Kamis – Sabtu (29 – 31 Mei 2014)

Masjid Imam Ahmad bin Hambal

Jl. Durenan Asri RT. 01 RW.09 Dukuh Tunggu
Kel. Meteseh Kec. Tembalang , Semarang

Pendaftaran Hub. 085727290077 via sms ketik (Nama_Umur_Kota Asal_Utusan(…)/Bukan utusan)

Syarat : 1. Bisa memahami kitab ulama 2.Bersedia mengikuti dauroh sampai selesai

Batas akhir pendaftaran Tgl 20 Mei 2014 jam 12.00WIB

Kitab disediakan dengan mengganti biaya copy (Kitab Terbatas)


“DAUROH UMUM” (untuk umum, ikhwan & akhwat)

dengan tema “TINJAUAN SYAR’I DALAM BERMUAMALAH DENGAN PERBANKAN”

Ahad (1 Juni 2014) 08.30WIB – Selesai

Masjid Raya Candi Lama

Jalan Doktor Wahidin 109 Semarang

Informasi Kajian : 081914547674
binhambal.wordpress.com


Kajian Ilmiah Tanjung Priok Jakarta Utara Mei 2014

Kajian Salaf 0

Hadirilah...!!
TEBAR KAJIAN ILMIAH, .....!!!
& Tabligh Akbar, DI TANJUNG PRIOK JAKARTA UTARA

Insya Alloh bersama;

1. Ustdz Badru Salam,Lc
Tema:
"SECAWAN AIR DARI TELAGA AL'KAUTSAR"
Ahad, 25 mei 2014,
Jam 09.00 - Dzuhur
Tempat Masjid AL-HUSNAH
Jl. Enggano tanjung priok Jakarta utara.

2. Ustadz DR. Syafiq Basalamah,MA
Tema:
"AKU SETIA MENANTIMU DIPINTU SYURGA"
Selasa, 27 Mei 2014
Jam 09.00-dzuhur
Tempat ; masjid Astra,
Jl. Raya Gaya motor sunter II Jakarta utara,

3. Ustadz Mubaroq bamualim,Lc
Tema :
"10 Wasiat Rasulullah shalallahu'alihi wasallam, kepada Mu'adz bin Jabal"
Kamis, 29 Mei 2014
jam : 09.00-Dzuhur
Tempat :
"Jakarta Islamic Centre,"
Jl. Kramat koja tanjung priok jakarta Utara,.

Jangan lewatkan,..!
TERBUKA UNTUK UMUM IKHWAN AKHWAT,..
ajak keluarga, kerabat, teman dan handaitaulan utk Dpt hadir pd kajian yg sangat menarik ini.

Penyelenggara:
Majelis ilmu,
AL'MADINAH AN'NABAWIYAH JAKARTA

Informasi :
-0812-956-7095
-0815-904-2654
-0812-8233-5270