Header ads

Featured Post (Slider)

Sebab-Sebab Pelemah Iman

Azdi Ibn Muhammad Rianthoby Kamis, 30 Juni 2016 0

Iman seseorang fluktuatif. Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin hafidzahullah
menyampaikan bahwa di antara faktor penyebab turunnya iman.
Pertama, bodoh tentang ilmu agama.
Kedua, hati yang lalai.
Ketiga, mengerjakan maksiat.
Keempat, mengikuti hawa nafsu.
Kelima, mengikuti bujukan syaitan.
Keenam, berlebihan dengan urusan dunia.
Ketujuh, teman yang jelek.
(Asbab Ziyadah Al Iman wa Nuqshanihi, hal 77-105)
Semoga اَللّهُ سبحانه وتعالى memberi kita hidayah taufiq dan kekuatan iman, agar kita istiqomah diatas ketaatan.
Aamiin ya Robbal 'alamin...
-------
Via BC BBM An-Nasihah 

Hati Ini Berbolak-Balik, Iman Kadang Naik Kadang Turun

Azdi Ibn Muhammad Rianthoby 0

Ketahuilah, iman yang ada di dalam diri seorang hamba itu bisa bertambah dan bisa pula berkurang atau bahkan hilang tanpa bekas dari diri seseorang. Al-Imam Abdurrahman bin Amr Al-Auza’i rahimahullah pernah ditanya tentang keimanan, apakah bisa bertambah. Beliau menjawab: “Betul (bertambah), sampai seperti gunung.” Lalu beliau ditanya lagi: “Apakah bisa berkurang?” Beliau menjawab: “Ya, sampai tidak tersisa sedikitpun.”
Demikian pula Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya tentang keimanan, apakah bisa bertambah dan berkurang? Beliau menjawab: “Iman bertambah sampai puncak langit yang tujuh dan berkurang sampai kerak bumi yang tujuh.” Beliau juga menyatakan: “Iman itu (terdiri atas) ucapan dan amalan, bisa bertambah dan berkurang. Apabila engkau mengamalkan kebajikan, maka iman akan bertambah, dan apabila engkau menyia-nyiakannya, maka iman pun akan berkurang.
Nah, inilah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu, yakni meyakini bahwa sesungguhnya iman seseorang itu bisa bertambah dan bisa pula berkurang. Setelah kita tahu bahwa ternyata iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang, lalu apa yang harus dilakukan oleh seorang mukmin untuk menjaga kualitas imannya? Al Imam Allamah Abdurrahman bin Nashr As Sa’di rahimahullah mengatakan: “Seorang mukmin yang diberi taufiq oleh Allah Ta’ala, dia senantiasa berusaha melakukan dua hal: Pertama, memurnikan keimanan dan cabang-cabangnya, dengan cara mengilmui dan mengamalkannya. Kedua, berusaha untuk menolak atau membentengi diri dari bentuk-bentuk ujian (cobaan) yang tampak maupun tersembunyi yang dapat menafikannya (menghilangkannya), membatalkannya atau mengikis keimanannya itu.” (At Taudhih wal Bayan lisy Syajarotil Iman, hal 38).
Saudaraku muslimin, ketahuilah! Ada beberapa amalan yang insya Allah akan dapat menyebabkan bertambahnya iman seseorang, di antaranya adalah:
Pertama: Membaca dan tadabbur (merenungkan atau memikirkan isi kandungan) Al Quranul Karim. Orang yang membaca, mentadabburi dan memperhatikan isi kandungan Al Quran akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang menjadikan imannya kuat dan bertambah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang orang-orang mukmin yang berbuat demikian: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati-hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah iman bereka, dan kepada Rabb mereka itulah mereka bertawakkal.” (QS. Al Anfal [8]: 2)
Al Imam Al Ajurri rahimahullah berkata: “Barangsiapa mentadabburi Al Quran, dia akan mengenal Rabb-nya Azza wa Jalla dan mengetahui keagungan, kekuasaan dan qudrah-Nya serta ibadah yang diwajibkan atasnya. Maka dia senantiasa melakukan setiap kewajiban dan menjauhi segala sesuatu yang tidak disukai maulanya (yakni Allah Ta’ala).
Kedua: Mengenal Al Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al Quran dan As Sunnah yang menunjukkan kesempurnaan Allah secara mutlak dari berbagai segi. Bila seorang hamba mengenal Rabbnya dengan pengetahuan yang hakiki, kemudian selamat dari jalan orang-orang yang menyimpang, sungguh ia telah diberi taufiq dalam mendapatkan tambahan iman. Karena seorang hamba bila mengenal Allah dengan jalan yang benar, dia termasuk orang yang paling kuat imannya dan ketaatannya, kuat takutnya dan muroqobahnya kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah ulama.” (QS. Fathir [35]: 28). Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan: “Sesungguhnya hamba yang benar-benar takut kepada Allah adalah ulama yang mengenal Allah.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/533).
Ketiga: Memperhatikan siroh atau perjalanan hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni dengan mengamati, memperhatikan dan mempelajari siroh beliau dan sifat-sifatnya yang baik serta perangainya yang mulia.
Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan: “Dari sini kalian mengetahui sangat pentingnya hamba untuk mengenal Rasul dan apa yang dibawanya, dan membenarkan pada apa yang beliau kabarkan serta mentaati apa yang beliau perintahkan. Karena tidak ada jalan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan di akhirat kecuali dengan tuntunannya. Tidak ada jalan untuk mengetahui baik dan buruk secara mendetail kecuali darinya.Maka kalau seseorang memperhatikan sifat dan akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Al Quran dan Al Hadits, niscaya dia akan mendapatkan manfaat dengannya, yakni ketaatannya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi kuat, dan bertambah cintanya kepada beliau. Itu adalah tanda bertambahnya keimanan yang mewariskan mutaba’ah dan amalan sholih.”
Keempat: Mempraktekkan (mengamalkan) kebaikan-kebaikan agama Islam. Ketahuilah, sesungguhnya ajaran Islam itu semuanya baik, paling benar aqidahnya, paling terpuji akhlaknya, paling adil hukum-hukumnya. Dari pandangan inilah Allah menghiasi keimanan di hati seorang hamba dan membuatnya cinta kepada keimanan, sebagaimana Allah memenuhi cinta-Nya kepada pilihan-Nya, yakni Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat QS. Al Hujurat [49]: 7)
Maka iman di hati seorang hamba adalah sesuatu yang sangat dicintai dan yang paling indah. Oleh karena itu seorang hamba akan merasakan manisnya iman yang ada di hatinya, sehingga dia akan menghiasi hatinya dengan pokok-pokok dan hakikat-hakikat keimanan, dan menghiasi anggota badannya dengan amal-amal nyata (amal sholih). (At Taudhih wal Bayan, hal 32-33)
Kelima: Membaca siroh atau perjalanan hidup Salafush Shalih. Yang dimaksud Salafush Shalih di sini adalah para shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orangyang mengikuti mereka dengan baik (lihat QS. At Taubah [9]: 100). Barangsiapa membaca dan memperhatikan perjalanan hidup mereka, akan mengetahui kebaikan-kebaikan mereka, akhlak-akhlak yang agung, ittiba’ mereka kepada Allah, perhatian mereka kepada iman, rasa takut mereka dari dosa, kemaksiatan, riya’ dan nifaq, juga ketaatan mereka dan bersegera dalam kebaikan, kekuatan iman mereka dan kuatnya ibadah mereka kepada Allah dan sebagainya.
Dengan memperhatikan keadaan mereka, maka iman menjadi kuat dan timbul keinginan untuk menyerupai mereka dalam segala hal. Sebagaimana ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : “Barangsiapa lebih serupa dengan mereka (para shahabat Rasulullah), maka dia lebih sempurna imannya.” (lihat Kitab Al Ubudiyah, hal 94). Dan tentunya, barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.
Itulah beberapa amalan yang insya Allah akan dapat menyebabkan bertambahnya keimanan. Adapun hal-hal yang dapat melemahkan iman seseorang adalah sebaliknya, di antaranya: Kebodohan terhadap syari’at Islam, lalai, lupa dan berpaling dari ketaatan, melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa besar, mengikuti hawa nafsu dan sebagainya.
Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa diberi tambahan iman, dan dijauhkan dari kelemahan dan kehinaan. Wallahul musta’an.
Sumber:https://qurandansunnah.wordpress.com/2009/10/27/5-lima-perkara-yang-dapat-meningkatkan-iman-seseorang/

Untaian Hikmah Imam Hasan Al-Bashri

Azdi Ibn Muhammad Rianthoby Rabu, 08 Juni 2016 0

Hasan al-Bashri adalah pembesar diantara ulama tabi’in menengah. Beliau wafat pada tahun 110 H dalam usia 88 tahun, sebagaimana disebutkan oleh Imam Ibnu Abdil Hadi rahimahullah (lihat Thabaqat ‘Ulama al-Hadits, Juz 1 hal. 140-142)

Abu Burdah berkata, “Tidaklah aku melihat orang yang lebih mirip dengan para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi dirinya.” (lihat Min A’lam as-Salaf, Juz 1 hal. 143),

Abu Ja’far Muhammad bin ‘Ali mengatakan, “Dia itulah -Hasan al-Bashri- orang yang ucapan-ucapannya mirip ucapan para nabi.” (lihat Min A’lam as-Salaf, Juz 1 hal. 144)

Guru-Guru Hasan al-Bashri

 
Berikut ini sebagian guru-guru Hasan al-Bashri:
1.    ‘Imran bin Hushain
2.    al-Mughirah bin Syu’bah
3.    Abu Bakrah
4.    an-Nu’man bin Basyir
5.    Ibnu ‘Abbas
6.    Ibnu ‘Umar
7.    Abdullah bin ‘Amr
8.    Abu Hurairah
9.    Anas bin Malik, dsb (lihat Min A’lam as-Salaf, Juz 1 hal. 150)

Murid-Murid Hasan al-Bashri

Berikut ini sebagian murid-murid beliau:
1.    Humaid ath-Thawil
2.    Ayyub as-Sakhtiyani
3.    Qotadah
4.    Bakr bin Abdullah al-Muzani
5.    Sa’ad bin Ibrahim
6.    Ibnu ‘Aun
7.    al-Mu’alla bin Ziyad
8.    Yunus bin ‘Ubaid, dsb (lihat Min A’lam as-Salaf, Juz 1 hal. 150)

Sebagian Nasihat dan Mutiara Hikmah Hasan al-Bashri

[1] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Benar-benar ada dahulu seorang lelaki yang memilih waktu tertentu untuk menyendiri, menunaikan sholat dan menasehati keluarganya pada waktu itu, lalu dia berpesan: Jika ada orang yang mencariku, katakanlah kepadanya bahwa ‘dia sedang ada keperluan’.” (lihat al-Ikhlas wa an-Niyyah, hal.65)

[2] al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Kalau bukan karena keberadaan para ulama niscaya keadaan umat manusia tidak ada bedanya dengan binatang.” (lihat Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 15)

[3] Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Demi Allah! Tidaklah tegak urusan agama ini kecuali dengan adanya pemerintah, walaupun mereka berbuat aniaya dan bertindak zalim. Demi Allah! Apa-apa yang Allah perbaiki dengan keberadaan mereka jauh lebih banyak daripada apa-apa yang mereka rusak.” (lihat Da’aa’im Minhaj Nubuwwah, hal. 279)

[4] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sungguh, apabila aku dijatuhkan dari langit ke permukaan bumi ini lebih aku sukai daripada mengatakan: Segala urusan berada di tanganku!” (lihat Aqwal Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman [1/134])

[5] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Barangsiapa mendustakan takdir sesungguhnya dia telah mendustakan al-Qur’an.” (lihat Aqwal Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman [1/138])

[6] Dikatakan kepada al-Hasan, “Wahai Abu Sa’id, apa yang harus kami lakukan? Kami berteman dengan orang-orang yang selalu menakut-nakuti kami sampai-sampai hati kami terbang melayang.” Maka beliau menjawab, “Demi Allah, sesungguhnya jika kamu bergaul dengan orang-orang yang selalu menakut-nakuti kamu sampai akhirnya kamu benar-benar merasakan keamanan; lebih baik daripada berteman dengan orang-orang yang selalu membuatmu merasa aman sampai akhirnya justru menyeretmu ke dalam keadaan yang menakutkan.” (lihat Aina Nahnu min Ha’ulaa’i, hal. 16)

[7] Ada yang berkata kepada al-Hasan, “Sebagian orang mengatakan: Barangsiapa mengucapkan laa ilaha illallah maka dia pasti masuk surga.”? Maka al-Hasan menjawab, “Barangsiapa yang mengucapkan laa ilaha illallah kemudian dia menunaikan konsekuensi dan kewajiban darinya maka dia pasti masuk surga.” (lihat Kitab at-Tauhid; Risalah Kalimat al-Ikhlas wa Tahqiq Ma’naha oleh Imam Ibnu Rajab rahimahullah, hal. 40)

[8] al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dijadikan dia tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah, hal. 62).

[9] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya bisa jadi ada seorang yang senantiasa berjihad walaupun tidak pernah menyabetkan pedang -di medan perang- suatu hari pun.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [6/264] cet. Dar Thaibah)

[10] al-Hasan rahimahullah menangis sejadi-jadinya, maka ditanyakan kepadanya, “Wahai Abu Sa’id, apa yang membuatmu menangis?”. Maka beliau menjawab, “Karena takut kalau Allah melemparkan aku ke dalam neraka dan tidak memperdulikan nasibku lagi.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i, hal. 75)

[11] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Wahai anak Adam. Sesungguhnya engkau adalah kumpulan perjalanan hari. Setiap hari berlalu maka hilanglah sebagian dari dirimu.” (lihat Ma’alim fi Thariq Thalab al-‘Ilmi, hal. 35)

[12] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang faqih itu adalah orang yang zuhud kepada dunia dan sangat memburu akhirat. Orang yang paham tentang agamanya dan senantiasa beribadah kepada Rabbnya. Orang yang berhati-hati sehingga menahan diri dari menodai kehormatan dan harga diri kaum muslimin. Orang yang menjaga kehormatan dirinya dari meminta harta mereka dan senantiasa mengharapkan kebaikan bagi mereka.” (lihat Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 28)

[13] al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang menjauhi perkara-perkara yang diharamkan Allah kepada mereka dan menunaikan kewajiban yang diperintahkan kepada mereka.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 211)

[14] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Bukanlah iman itu dicapai semata-mata dengan menghiasi penampilan atau berangan-angan, akan tetapi iman adalah apa yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan dengan amalan.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1124)

[15] al-Hasan rahimahullah menafsirkan makna firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Wahai Rabb kami berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.” Beliau mengatakan, “Kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah. Adapun kebaikan di akhirat adalah surga.” (lihat Akhlaq al-‘Ulama, hal. 40)

[16] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “al-Qur’an itu diturunkan untuk diamalkan, akan tetapi orang-orang justru membatasi amalan hanya dengan membacanya.” (lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hal. 116)

[17] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang yang benar-benar faqih/paham agama adalah yang senantiasa merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla.” (lihat al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hal. 136)

[18] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah memahami agamanya orang yang tidak pandai menjaga lisannya.” (lihat Aina Nahnu min Haa’ulaa’i [2/84])

[19] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya orang beriman bersangka baik kepada Rabbnya sehingga dia pun membaguskan amal, adapun orang munafik bersangka buruk kepada Rabbnya sehingga dia pun memperburuk amal.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1157)

[20] Hasan al-Bashri rahimahullah menjelaskan tentang sifat orang-orang beriman yang disebutkan dalam firman Allah [QS. Al-Mu’minun: 60] yang memberikan apa yang bisa mereka berikan dalam keadaan hatinya merasa takut. Al-Hasan berkata, “Artinya, mereka melakukan segala bentuk amal kebajikan sementara mereka khawatir apabila hal itu belum bisa menyelamatkan diri mereka dari azab Rabb mereka ‘azza wa jalla.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1160)

[21] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sebagian orang enggan untuk mudaawamah [konsisten dalam beramal] . Demi Allah, bukanlah seorang mukmin yang hanya beramal selama sebulan atau dua bulan, setahun atau dua tahun. Tidak, demi Allah! Allah tidak menjadikan batas akhir beramal bagi seorang mukmin kecuali kematian.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1160)

[22] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Iman yang sejati adalah keimanan orang yang merasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla walaupun dia tidak melihat-Nya. Dia berharap terhadap kebaikan yang ditawarkan oleh Allah. Dan meninggalkan segala yang membuat murka Allah.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1161)

[23] Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Iman adalah ucapan. Dan tidak ada ucapan kecuali harus disertai dengan amalan. Tidak ada ucapan dan amalan kecuali harus dilandasi dengan niat. Tidak ada ucapan, amalan dan niat kecuali harus dilandasi dengan as-Sunnah.” Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1153)

[24] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang tidak khawatir tertimpa kemunafikan maka dia adalah orang munafik.” (lihat Aqwal at-Tabi’in fi Masa’il at-Tauhid wa al-Iman, hal. 1218)

[25] Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Seorang mukmin memadukan antara berbuat ihsan/kebaikan dengan merasa takut. Adapun orang kafir memadukan antara berbuat jelek/dosa dan merasa aman.”.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [5/350] cet. Maktabah at-Taufiqiyah).

Demikianlah sekelumit faidah yang bisa kami sajikan dengan taufik dari Allah semata. Semoga bisa memberikan manfaat dan pencerahan bagi kita. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhamadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Sumber: https://terjemahkitabsalaf.wordpress.com/

Ujian Pasti Menerpa

Azdi Ibn Muhammad Rianthoby Jumat, 27 Mei 2016 0

‪#‎Ujian‬ pasti menerpa#

Ada seorang ibu berkata:
"saya sudah sholat, sedekah, puasa, zakat..
sayapun telah meninggalkan larangan..
tapi mengapa kesempitan hidup masih tetap menghimpit..
mengapa ujian terus bertubi tubi menimpa.."
saya hanya bisa menjawab :
ibu.. apakah selama ini ibu beribadah agar tidak diuji..
tidak mungkin..
karena Allah ﷻ berfirman, yang artinya: 
alif laam miim..
apakah manusia mengira akan dibiarkan berkata kami beriman  
sementara ia tidak diuji?.. 
[Lihat QS al Ankabut ayat 1]
Ibadah yang kita lakukan adalah untuk mengokohkan hati..
bukan untuk menepis ujian..
karena ujian pasti menerpa kehidupan mukmin..
Nabi 
 ﷺ bersabda :
"Senantiasa ujian menimpa mukmin..
sampai ia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa."
[HR Ahmad]

Diambil dari laman FB Ust Abu Yahya Badrusalam, Lc 
hafizahullāh

Show more reactions

Taubat Setiap Saat

Azdi Ibn Muhammad Rianthoby Kamis, 26 Mei 2016 0

♢ Taubat Setiap Saat.

Setan memang tak pernah henti menggoda dan menjerumuskan anak cucu Adam.

Maka setiap kali terjatuh dalam perbuatan dosa dan maksiat.

Maka setiap kali itu pula kita harus segera beristighfar dan bertaubat...

Dan yang pasti, berhenti dari perbuatan nista tersebut.

Maimun bin Mihran rahimahullah berkata,

“Dzikir kepada Allah dengan lisan itu baik, namun akan lebih baik apabila seorang hamba mengingat Allah tatkala bermaksiat ia pun segera berhenti darinya...”

(Hilyatul Auliya: 4/90)

Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اَلتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ

“Orang yang bertaubat dari perbuatan dosa, bagaikan orang yang tidak berdosa...”(Shahih, HR. Ibnu Majah: 4250)

@sahabatilmu

Hadirilah Kajian Ilmu Syar'i

Azdi Ibn Muhammad Rianthoby 0


Berapa banyak manusia yang meluangkan seluruh waktu, tenaga dan pikirannya dalam rangka mencari uang untuk membiayai anak dan istri...


● Namun sungguh sedikit sekali manusia yang berkorban untuk meluangkan waktu menghadiri majlis ilmu walaupun hanya satu kali atau dua kali dalam sepekan ...


● Alangkah ruginya mereka tidak menghadiri kajian ilmu syar'i ...


● Umar bin Khaththab - semoga Allah meridhainya - berkata:

"Sesungguhnya seseorang betul-betul keluar dari rumahnya dimana dosa-dosanya seperti gunung Tihamah, maka apabila dia mendengar ilmu ... dia takut, dia kembali dan dia bertaubat, maka dia pulang ke rumahnya dalam keadaan tidak ada padanya dosa sedikitpun, maka janganlah kalian meninggalkan Majlis-majlis ulama."
[Miftah daar Assa'dah (1/122)]

Ustādz Nuruddin Abu Faynan Al Makkiyyah, Lc



Dunia, Mengejarnya Sulit, Meninggalkannya Mudah

Azdi Ibn Muhammad Rianthoby Senin, 23 Mei 2016 0

Qorun tidak pernah tahu bahwa kartu ATM yang ada di saku kita sudah cukup daripada semua kunci-kunci yang orang-orang paling kuat keberatan membawanya
Kisra raja Persia tidak pernah tahu jika sofa busa yang ada dirumah kita lebih menyenangkan daripada singgasananya
Kaisar yang budak-budaknya mengipasinya dengan kipas dari bulu merak di atas kepalanya tidak pernah sekalipun melihat AC yang ada dirumah kita
Heraklius yang minum air dari botol porselen yang orang orang disekitarnya merasa iri dengan kesejukan airnya, Tidak pernah merasakan dinginnya air kulkas di rumah kita
Khalifah Al-Manshur yang budak-budaknya menuangkan air panas ke air dingin sebagai campuran untuk mandinya, Dan memandang dirinya dengan kebanggaan, Tidak pernah sekalipun mandi dengan jacuzzy atau shower air panas
Orang-orang dulu berhaji dan mesti tinggal diatas unta selama satu bulan. Tidak seperti perjalanan haji kita yang hanya beberapa jam diatas pesawat ber AC
Kita hidup dalam kehidupan yang tidak pernah dilewati para raja, Bahkan tidak pernah mereka impikan
Tapi kebanyakan kita merasa hanya mendapat sedikit bagian
Semakin terbuka matamu
Semakin sempit dadamu
Ya Allah segala puji bagi-Mu atas semua nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepada kami, Pada agama dan dunia kami
Kami tidak mampu menghitungnya sebagai mana kami tidak bisa menghitung pujian atas-Mu
*Sebuah artikel yang diterjemahkan akhi Muhammad Rofiq
Diambil dari grup WA El Fata