Header ads

Featured Post (Slider)

Doa Perlindungan Anak Dari Setan

Kajian Salaf Senin, 31 Maret 2014 0

Sebagai orang tua, pernahkah kita mengucapkan doa tersebut. Doa memohon perlindungan bagi anak kita dari gangguan setan. Doa tersebut artinya “Aku memohon perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna untuk kalian berdua, dari gangguan setan dan binatang berbisa, dan dari pandangan mata (ain) yang membuat sakit.”
 Ukuran wallpaper download disini
Berikut beberapa orang soleh yang disebutkan dalam dalil, yang berdoa kepada Allah, memohon perlindungan dari gangguan setan untuk anak keturunannya,
Pertama, Istri Imran (Neneknya Nabi Isa)
إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ( ) فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.”Tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk., ” (QS. Ali Imran: 35 – 36)
Allah kabulkan doa wanita salihah ini, dan Allah memberikan perlindungan kepada keturunannya dari gangguan jin dan godaan setan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا مِنْ بَنِي آدَمَ مَوْلُودٌ إِلَّا يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ، غَيْرَ مَرْيَمَ وَابْنِهَا » ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ: {وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ }
“Setiap anak manusia pasti diganggu setan ketika dia dilahirkan, sehingga dia teriak menangis, karena disentuh setan. Kecuali Maryam dan putranya.” Kemudian Abu Hurairah membaca surat Ali Imran: 36. (HR. Bukhari 3431).
Kedua, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan perlindungan untuk Hasan dan Husain, (beliau membaca)
أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة
“Aku memohon perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna untuk kalian berdua, dari gangguan setan dan binatang berbisa, dan dari pandangan mata (ain) yang membuat sakit.” (HR. Bukhari 3371 & Abu Daud 4737).
Ketiga, Nabi Ibrahim ‘alahis shalatu was salam
Dalam hadis Ibnu Abbas di atas, setelah Rasulullah mengajarkan doa tersebut, beliau bersabda,
كان أبوكم يعوذ بهما إسماعيل وإسحاق
“Ayah kalian (Ibrahim) memohon perlindungan untuk Ismail dan Ishaq dengan kalimat doa tersebut.” (HR. Abu Daud 4737). Dari Muhammad bin Ali dari ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan perlindungan untuk Hasan dan Husain, beliau membaca,
أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة
“Aku memohon perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna untuk kalian berdua, dari gangguan setan dan binatang berbisa, dan dari pandangan mata (ain) yang membuat sakit.”
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عَوِّذُوا بِهَا أَبْنَاءَكُمْ، فَإِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا ابْنَيْهِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ
”Jadikanlah kalimat ini untuk memohon perlindungan dari gangguan setan bagi anak kalian. Karena Ibrahim ‘alaihis salam, beliau memohon perlindungan untuk Ismail dan Ishaq dengan kalimat doa tersebut.” (HR. Abdur Razaq dalam Mushannaf, no. 7987).
Sebagai umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang baik, selayaknya kita perlu melestarikan kebiasaan tersebut.
Allahu a’lam

Muslimah.Or.Id
Penulis: Ustadz Ammi Nur Baits

Kajian "Pemuda Yang Tumbuh Bersama Al Qur-an" Jakarta Timur 31 Maret 2014

Kajian Salaf Minggu, 23 Maret 2014 0

Kajian "Pemuda Yang Tumbuh Bersama Al Qur-an" ini merupakan Kajian Pembukaan GEHAMA (Gerakan Hafal Juz 'Amma) yang diselenggarakan oleh TKPM (Tim Kajian Pelajar dan Mahasiswa) bekerjasama dengan DKM Al Fattah.

 Kajian ini akan diselenggarakan pada :

Hari : Senin, 31 Maret 2014
Waktu : 08.00 - 12.00
Tempat : Masjid Al Fattah, Jl. Jatinegara Timur No.50, Kp. Melayu, Jakarta Timur.
Narasumber : Ust.Kurnaedi, Lc
Tema : Pemuda Yang Tumbuh Bersama Al Qur-an
Kajian ini khusus untuk Pelajar dan Mahasiswa.
CP : 0856 9706 3573
 Rute ke Masjid Al Fattah :
 Dengan Kereta

Turun di Stasiun Tebet, kemudian naik Mikrolet 44 atau Metromini 52 ke arah Jatinegara. Turun di belokan seberang RS. Premier,

atau

Turun di Stasiun Jatinegara, kemudian naik angkot ke arah Kp.Melayu (Mikrolet 02 atau Mikrolet 44), turun depan Masjid Al-Fattah

Dengan Busway
Naik koridor Kp Melayu-Ancol turun di Shelter RS. Premier

Dengan Bis atau kendaraan Umum
Dari Bekasi naik Bis Mayasari 9a tujuan pasar Senen turun depan Masjid
Dari Pasar Rebo atau UKI naik mikrolet 06a turun depan Masjid
Dari Kampung Melayu sama seperti dr Stas Tebet


Semoga Allah -subhaanahu wa ta'aala- memudahkan langkah kaki kita untuk memenuhi undangan yang berbahagia ini.

Mari datang dan ajak teman-temanmu menikmati indahnya kalamullaah, Al Qur-an !
sumber: pelajarmuslim.com

Keutamaan Menjadi Perintis dan Pembuka Pintu Kebaikan

Kajian Salaf Minggu, 16 Maret 2014 0

Barang siapa yang membuat jalan kebaikan dalam Islam, kemudian amalan tersebut tetap diamalkan setelahnya, maka akan dituliskan baginya ganjaran pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa harus mengurangi pahala mereka. dan Barang siapa yang membuat jalan kejelekan dalam Islam, kemudian kejelekan tersebut tetap dilakukan setelahnya, maka akan dituliskan baginya ganjaran dosa orang-orang yang melakukannya tanpa harus mengurangi dosa-dosa mereka.
Keutamaan menjadi perintis kebaikan
Dari Jarir bin Abdillah radhiallahu ’anhu berkata:” Datang serombongan orang dari dusun menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam maka Beliau melihat kondisi mereka yang memperihatinkan, ditimpa kemiskinan. Maka Beliau menganjurkan agar manusia bersedekah, namun mereka terlihat tidak menanggapi Beliau sehingga terlihat (kegelisahan) pada wajah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, hingga datanglah seorang lelaki dari golongan Ansar membawa satu kantong  uang perak, yang kemudian di ikuti yang lainnya sehingga terlihat kegembiraan di wajah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, setelah itu barulah beliau shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:”

مَنْ سَنَّ فِي الإسلام سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِها بعْدَهُ كُتِب لَه مثْلُ أَجْر من عَمِلَ بِهَا وَلا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، ومَنْ سَنَّ فِي الإسلام سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وزر من عَمِلَ بِهَا ولا يَنْقُصُ من أَوْزَارهِمْ شَيْءٌ
“Barang siapa yang membuat jalan kebaikan dalam Islam, kemudian amalan tersebut tetap diamalkan setelahnya, maka akan dituliskan baginya ganjaran pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa harus mengurangi pahala mereka. dan Barang siapa yang membuat jalan kejelekan dalam Islam, kemudian kejelekan tersebut tetap dilakukan setelahnya, maka akan dituliskan baginya ganjaran dosa orang-orang yang melakukannya tanpa harus mengurangi dosa-dosa mereka. HR Muslim
Nabi shallallahu ’alaihi wasallambersabda:”
الدال على الخير كفاعله
Yang menunjukkan manusia jalan kebaikan seolah-olah dia sama dengan orang yang mengamalkannya. (Disahihkan oleh syeikh al-Albani).
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda:”
خير الناس أنفعهم للناس
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat  bagi manusia lainnya. (Di Hasankan oleh syeikh al-Albani rahimahullah).

Jadilah pembuka pintu kebaikan
Ibnu majah dan Ibnu Abi ‘Ashim meriwayatkan dalam sunannya, dari hadis Anas bin Malik radhiallahu ’anhu dari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:”
Sesungguhnya sebagian dari manusia ada yang menjadi pembuka kebaikan, penutup kejelekan, dan sesungguhnya ada sebagian manusia yang menjadi pembuka kejelekan, penutup kebaikan, maka beruntunglah orang-orang yang dijadikan Allah kedua tangannya sebagai pembuka kebaikan, dan binasalah orang-orang yang dijdikan Allah kedua tanggannya sebagai pembuka kejelekan.”
” إن من الناس ناس مفاتيح للخيرمغاليق للشر، وإن من الناس ناس مفاتيح للشر مغاليق للخير فطوبى لمن جعل الله مفتاح الخيرعلى يديه وويل لمن جعل الله مفتاح الشر على يديه “
Hartamu adalah milik Allah
قال الله -تعالى-: (آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ)(الحديد:7)،
Maka berimanlah pada Allah dan RasulNya dan berinfaqlah dari apa-apa yang telah Allah berikan kepada kalian, dan adapun bagi mereka yang beriman dan berinfaq ganjaran yang besar
وقال -تعالى-: (وَمَا لَكُمْ أَلا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ)(الحديد:10).
Dan kenapa kalian enggan berinfaq di jalan Allah padahal milik Allah semua kekayaan yang terdapat di langit dan bumi.

Keutamaan bersedekah
قال -تعالى-: (مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ)(البقرة:261).
Perumpamaan orang-orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah sebagaimana perumpamaan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, di setiap tangkai menghasilkan seratus biji dan Allah akan melipat gandakan terhadap orang-orang yang dia kehendaki dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.

Investasi akhirat yang tidak terputus
قال صلى الله عليه و سلم ” إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : علم ينتفع به ، وصدقة جارية ، وولد صالح يدعو له “
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:” Jika Anak Adam meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: ilmu yang bermanfaat, shadaqah jariyah dan anak yang sholeh yang mendoakannya

Potret para salaf dalam berinfaq

Kisah Abu Thalhah al-Ansari radhiallahu ’anhu yang menyedekahkan kebun kurmanya ketika turun ayat
 (لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ)(آل عمران:92)
Kamu tidak akan pernah mendapatkan kebaikan hingga mampu menginfaqkan dari apa yang kamu cintai.
Ayat ini diwahyukan pada saat Rasulullah sudah menetap di Madinah. Diriwayatkan dalam hadis, sesaat setelah mendengarkan ayat 92 Surat Al Imran ini dibacakan, Abu Thalhah langsung menghadap Rasulullah. Sahabat ini mantap menyerahkan harta yang paling dicintainya, yakni kebun kurma ‘Bairahah’ kepada Rasulullah untuk dimanfaatkan sebagai pembiayaan perjuangan. Kebun ‘Bairahah’ saat itu terletak di depan masjid Nabawi Madinah, letaknya strategis di pinggir jalan raya, pun hasilnya selalu melimpah dan pemandangannya terkenal sangat indah.
Bagi para petani Madinah, kebun serupa ‘Bairahah’ adalah investasi ekonomi yang menjanjikan keuntungan berlipat ganda di dunia. Namun bagi Abu Thalhah, investasi akhirat jauh lebih mendatangkan manfaat, berbunga syafaat dan berjangka selamanya, yaitu dengan cara menyedekahkan harta ‘Bairahah’ tercintanya itu kepada kepentingan sosial.
Abu Thalhah meyakini jika kebun itu tertinggal di dunia dan tidak disedekahkan, mungkin hanya akan jadi hiasan atau seonggok warisan bagi keluarganya saja. Tapi bila didermakan, akan lebih banyak manusia selain keluarganya bisa menikmati hasil kebun itu.

Kisah Abu Dahdah radhiallahu ’anhu ketika turun ayat yang berbunyi
(مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا)(البقرة:245).
Siapa yang mau meminjamkan untuk Allah pinjaman yang baik
Abu Dahdah bergegas mendatangi Rasulullah untuk bertanya: “Ya Rasululah, apakah Allah ingin meminjam dari hambanya?” “Benar” jawab Rasul. Spontan Abu Dahdah mengacungkan tangannya seraya berkata “Ulurkan tangan anda, wahai Rasulullah”.
Rasulullah mengulurkan tangannya, dan langsung disambut olehAbu Dahdah sambil berkata “Aku menjadikan anda sebagai saksi bahwa kupinjamkan kebunku kepada Allah“.Tsabit sangat gembira dengan keputusannya itu. dalam perjalanan pulang, dia mampir ke kebunnya. Dilihatnya istri dan anak-anaknya tengah bercengkrama dibawah pepohonan yang sarat dengan buah kurma.
Dari pintu kebun, Abu Dahdah memanggil istrinya, “Hai Ummu Dahdah! cepat keluar dari kebun ini, Aku sudah meminjamkan kebun ini kepada Allah SWT” Istrinya menyambut dengan suka cita. “Engkau tidak rugi, suamiku, engkau beruntung, engkau sungguh beruntung,” katanya seraya mengeluarkan kurma yang sudah berada dalam mulut anak-anaknya. “Nak, ayo keluarkan, ayahmu sudah meminjamkan kebunini kepada Allah Ta’ala.”
Atas peristiwa tersebut Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa Rasulullah mengabarkan “Berapa banyak pohon sarat buah yang kulihat di surga atas nama Abu Dahdah“.

Kisah Utsman bin Affan radhiallahu ’anhu dan infaqnya pada perang Tabuk.
Abdurrahman bin Khabbab radhiallahu ’anhu mengkisahkan:Aku menyaksikan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam memotifasi berinfak kepada para pasukan dalam perang sulit(perang Tabuk), maka Utsman radhiallahu ’anhu berdiri dan berrkata:” Wahai Rasulullah…biar aku yang menanggung biaya perang dengan menginfakkan seratus ekor untaku lengkap dengan seluruh benda dan perbendaharaan yang ada diatas punggungnya”. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wasallam kembali memotivasi pasukan untuk berinfaq, ternyata kembali Utsman berkata: Biar aku yang menanggungnya Ya Rasulullah dengan menginfakkan tiga ratus ekor untaku lengkap dengan seluruh benda dan perbendaharaan yang ada padanya”. Berkata Abdurrahman: Aku  melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam turun dari mimbar  sembari berkata:”
« ما على عثمان ما فعل بعد هذه.. ما على عثمان ما فعل بعد هذه» أخرجه الترمذي وقال: غريب وله شواهد.
Tidak berbahaya lagi apa yang dilakukan Utsman setelah ini. Tidak berbahaya lagi apa yang dilakukan setelah ini. HR Tirimizi

Kisah Sahabat yang menjamu tamu Rasulullah yang padanya turun ayat
 (وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ)(الحشر:9)
Dan mereka lebih mendahulukan orang lain atas diri mereka walaupun sebenarnya mereka sangat membutuhkannya

Berinfaqlah sebelum matimu
قال الله -تعالى-: (وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ)(المنافقون:10)،
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Dan Infaqkanllah dari apa yang kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada kalian, maka ketika itulah baru jiwa berkata: Ya Rabb kenapa tidak kau tangguhkan  sebentar agar aku dapat berinfaq dan jadi orang yang sholeh.
وقال -صلى الله عليه وسلم-: (يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ) متفق عليه.
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:” Ada tiga Hal yang mengikuti jenazah, yang dua kembali dan yang satu menetap bersamanya, yang akan mengiringinya adalah keluarga, harta dan amalnya, adapun keluarga dan hartanya akan kembali dan yang tetap bersamanya adalah amalnya.

Sumber : www.abufairuz.com

Download Kajian Kitab Minhajus Salikin dan Ushulus Sunnah (Padang Februari 2014)

Kajian Salaf 0

Berikut ini rekaman dalam format mp3, yang berisi kajian yang membahas kitab Minhajus Salikin dan Ushulus Sunnah. Pemateri kajian ustadz Abu Ya'la. Beliau alumni Pondok Pesantren Imam Bukhari Solo dan Markaz Darul Hadits Ma'rib Yaman. Silahkan didownload dan diambil manfaatnya.
 Download di Link berikut ini:
1. Minhajus Salikin:
http://www.mediafire.com/listen/140hfs5pb78b254/Minhajus_Salikin.mp3

2. Ushulus Sunnah:
http://www.mediafire.com/listen/ycl7v1cp0oa9mr4/Dauroh_Ushulus_Sunnah.MP3

3. Rumah Tanggaku Surgaku:
http://www.mediafire.com/listen/96v5c3alm1p39y1/Tabligh_Akbar_Rumah_Tanggaku_Surgaku_.MP3


sumber: www.serambiyemen.com

Banyaknya Pintu Bersedekah... Semua Dari Kita Bisa Bersedekah

Kajian Salaf Rabu, 12 Maret 2014 0

Setiap kita –baik lelaki maupun wanita- bisa menemukan orang yang lebih miskin darinya lalu memberi bantuan kepadanya. Bagaimanapun miskinnya seseorang maka ia mampu untuk memberikan sesuatu kepada orang yang lebih miskin darinya. Dan banyak pintu-pintu cara bersedekah yang dilalaikan oleh banyak orang, padahal mudah untuk dilakukan. Barang siapa yang ingin Allah kirimkan baginya orang yang lebih kaya dan lebih kuat darinya (untuk membantunya) maka hendaknya ia memperhatikan orang yang lebih lemah dan lebih miskin darinya. Hendaknya kalian memuji Allah dengan praktek nyata, dan berbuatlah baik kepada orang lain sebagaimana kalian suka Allah berbuat baik kepada kalian.


Syaikh Ali At-Thonthoowi rahimahullah berkata :

"Semalam aku amati, kudapati ruangan terasa hangat dan api penghangat ruangan menyala. Sedangkan aku berada di dipan sambil santai. Aku sedang berfikir tentang tema yang akan kutulis. Lampu ada di sampingku, telepon di dekatku, anak-anakku sedang menulis, adapun ibu mereka sedang menenun kain wol.

Kami telah makan dan minum, dan radio mengeluarkan suara lirih, semuanya dalam ketenangan. Tidak ada yang aku keluhkan dan tidak ada pula yang aku meminta tambahannya. Maka lisanku berucap "Alhamdulillah...", kulepaskan dari lubuk hatiku

Lalu akupun merenung ... aku mendapati bahwasanya "Alhamdulillah" bukanlah sebuah kata yang sekedar diucapkan oleh lisan, meskipun diulan-ulang seribu kali...., akan tetapi "Alhamdulillah" atas kenikmatan-kenikmatan adalah sampainya aliran kenikmatan tersebut kepada orang yang membutuhkannya.

"Alhamdulillah" nya si kaya adalah memberi pemberian kepada faqir miskin, "alhamdulillah" nya si kuat dengan membantu kaum lemah, "alhamdulillah" nya si sehat dengan membantu orang-orang sakit, dan "alhamdulillah" nya si hakim dengan berbuat adil kepada orang-orang yang ia hukumi.

Lantas apakah aku sedang memuji Allah atas nikmat-nikmat ini, jika aku dan anak-anakku dalam keadaan kenyang dalam ruangan yang hangat, sementara tetanggaku dan anak-anaknya kelaparan dan kedinginan??

Jika tetanggaku tidak meminta-minta kepadaku, lantas apakah tidak wajib bagiku untuk bertanya kepadanya tentang kondisinya??

Istriku bertanya kepadaku, "Apa yang sedang kau renungkan?", lalu akupun mengabarkannya. Iapun berkata, "Benar, akan tetapi tidak ada yang bisa memberi kecukupan bagi para hamba kecuali Dzat yang telah menciptakan mereka. Jika engkau hendak memberi kecukupan kepada tetangga-tetanggamu yang miskin maka engkau akan memiskinkan dirimu sebelum engkau berhasil menjadikan mereka berkecukupan"

Aku berkata, "Jika aku seorang kaya tentunya aku tidak akan mampu menjadikan mereka berkecukupan (kaya), maka bagaimana lagi jika aku hanyalah seorang yang pas-pasan (tidak ada penghasilan jelas), Allah memberi rezeki kepadaku sebagaimana memberi rezeki kepada burung yang terbang di pagi hari dengan perut kosong dan balik di sore hari dengan perut kenyang"?

Tidak..., tidak...!!, aku tidak ingin menjadikan para faqir miskin menjadi orang-orang yang kaya berkecukupan, akan tetapi aku ingin berkata, "Permasalahannya adalah relatif !!!"

Dibandingkan para pemilik jutaan uang, aku adalah seorang yang faqir miskin, akan tetapi jika dibandingkan dengan pekerja yang menanggung sepuluh anak dan ia tidak memiliki penghasilan lain kecuali upah kulinya maka aku adalah seorang yang kaya. Pekerja ini jika dibandingkan dengan seorang wanita janda yang hidup sendirian tanpa penghasilan sama sekali dan tidak memegang sepeser hartapun maka sang pekerja adalah seorang kaya. Sang jutawan terhitung miskin jika dibandingkan dengan sang milyarder. Tidak ada seorangpun di dunia yang miskin absolut mutlak atau kaya secara mutlak/absolute (semuanya relatif).

Kalian (mungkin) berkata, "Hari ini si At-Thonthoowi berfilsafat !!"

Tidak…, aku tidak sedang berfilsafat, akan tetapi aku ingin mengutarakan kepada kalian bahwasanya setiap kita –baik lelaki maupun wanita- bisa menemukan orang yang lebih miskin darinya lalu memberi bantuan kepadanya. Jika engkau wahai wanita yang mulia tidak memiliki kecuali lima potong roti, dan sepiring mujaddaroh (yaitu jenis makanan yang terbuat dari nasi dan 'adas, yang ini merupakan sederhana yang ma'ruf di Suria-pen) maka engkau mampu untuk memberikan sepotong rotimu kepada seorang yang sama sekali tidak memiliki roti. Seseorang yang setelah makan malam masih tersisa tiga piring sayur fasuliya (sejenis kacang-kacangan), nasi, dan sedikit buah-buahan, serta sedikit kue, maka ia mampu untuk memberikan sebagiannya sedikit kepada sang pemilik roti.

Bagaimanapun miskinnya seseorang maka ia mampu untuk memberikan sesuatu kepada orang yang lebih miskin darinya.

Dan janganlah kalian menyangka bahwa apa yang kalian berikan akan pergi hilang begitu saja gratisan, tidak demi Allah…, sesungguhnya kalian akan menerima harga pembayarannya berlipat-lipat ganda, kalian akan menerimanya di dunia sebelum di akhirat. Sungguh aku telah mencobanya dan merasakannya sendiri.

Aku bekerja dan berusaha, dan aku berinfaq/membiyai keluargaku semenjak lebih dari tiga puluh tahun. Aku tidak memiliki pintu-pintu kebaikan dan ibadah yang aku buka kecuali aku menyumbang di jalan Allah jika aku memiliki harta. Seumur hidup aku tidak pernah menabung sedikitpun. Istriku selalu berkata kepada, "Wahai suamiku, paling tidak minimal kau bangunkan rumah buat putri-putri kita !!". Aku hanya bisa berkata, "Biarlah itu diserahkan kepada Allah".

Tahukah kalian apa yang terjadi??. Sungguh apa yang telah aku sumbangkan di jalan Allah telah Allah simpan untukku di "bank" kebaikan yang bank tersebut memberi keuntungan bagi para nasabahnya setiap tahun besarnya 7000 %.

Iya…, Allah berfirman

كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ

"Serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji,…" (QS. Al Baqarah : 261)

Dan ada juga tambahan-tambahan yang melipat gandakan keuntungan

وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ

"…,Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki" (QS. Al Baqarah : 261)


Allah mengirimkan kepadaku seorang teman yang baik dan mulia, yang termasuk orang-orang terkenal di Damaskus, lalu iapun memberi pinjaman kepadaku biaya untuk membangun rumah. Lalu Allah juga mengirimkan kepadaku sahabat-sahabat yang baik, lalu mereka membangunkan rumah hingga selesai dan sempurna bangunannya. Adapun saya –demi Allah- sama sekali tidak mengetahui perkembangan pembangunan rumah tersebut kecuali sebagaimana orang-orang yang berjalan lewat depan rumah tersebut. Kemudian Allah menolongku dengan menganugerahkan kepadaku rizki yang halal yang tidak aku sangka-sangka, maka akupun melunasi seluruh hutang-hutangku. Kalau ada yang mau tahu maka aku akan menyebutkannya secara rinci dan aku akan sebutkan nama-nama para sahabatku tersebut.

Dan tidaklah aku terjatuh dalam kondisi sempit apapun kecuali Allah akan melapangkannya bagiku. Tidaklah aku membutuhkan sesuatupun kecuali Allah memberikannya kepadaku. Dan setiap aku memiliki harta berlebih kecuali aku simpan di bank akhirat ini.

Apakah ada di dunia ini orang yang berakal yang lebih memilih untuk berhubungan dengan bank makhluk (bank dunia) yang hanya memberi keuntungan yang haram yang hanya 5% , dan bisa jadi bank tersebut bangkrut atau terbakar, lalu ia meninggalkan bank Allah yang memberikan keuntungan bunga 7000% ?, selain itu hartanya di bank akhirat tersebut aman di sisi Penguasa alam semesta?, yang bank tersebut tidak akan bangkrut, tidak akan terbakar, dan tidak memakan harta masyarakat?

Karenanya janganlah kalian menyangka bahwa apa yang kalian sedekahkan akan hilang sia-sia, sesungguhnya Allah akan menggantinya (dengan lebih banyak) di dunia sebelum di akhirat.

Aku akan membawakan sebuah kisah bagi kalian, kisah tentang seorang ibu yang putranya sedang bersafar. Suatu hari ibu ini duduk sambil makan, dan tidak ada dihadapannya kecuali hanya sesuap sayur dan sepotong roti. Lalu datanglah seorang peminta-minta, lalu sang ibupun menahan mulutnya untuk tidak makan lalu ia memberikan makanan tersebut kepada sang peminta-minta sehingga iapun bermalam kelaparan. 

Tatkala sang putra tiba dari safarnya maka sang putrapun menceritakan kepada sang ibu tentang apa yang ia temukan dalam perjalanan safarnya. Sang putra berkata, "Diantara perkara yang sangat menakjubkan dalam safarku yaitu di tengah jalan ada seekor singa yang mengikutiku, dan tatkala itu aku hanya sendirian. Maka akupun lari, akan tetapi sang singa berhasil meloncat menerkam aku, dan tanpa aku sadari tiba-tiba aku sudah di hadapan mulutnya. Akan tetapi tiba-tiba ada seorang lelaki yang memakai baju putih muncul di hadapanku lalu menyelamatkan aku dari singa tersebut. Lalu lelaki itu berkata, "Suapan dibalas dengan suapan". Dan aku tidak paham maksudnya.".

Lalu sang ibupun bertanya kepada putranya tersebut tentang kapan waktu kejadian tersebut, ternyata pada hari yang sama tatkala ia memberi sesuap makanan kepada pengemis. Sang ibu telah melepaskan tangannya yang berisi sesuap makanan yang hendak ia makan untuk  diberikan sesuap makanan tersebut kepada sang pengemis, maka Allahpun melepaskan dan menyelamatkan anaknya yang hampir menjadi suapan bagi mulut singa.

Sedekah menolak bala' dan dengan sedekah Allah menyembuhkan orang yang sakit, dan Allah menolak gangguan-gangguan. Hal ini sudah terbukti. Dan ada hadits-hadits yang menunjukkan tentang hal ini.

Seseorang yang beriman bahwasanya alam semesta ini memiliki Tuhan yang mengatur alam, dan di tanganNya lah karunia, dan Dialah yang meyembuhkan dan menyelamatkan, maka dia akan tahu bahwasanya hal ini adalah benar.

Para wanita lebih dekat kepada keimanan dan kelembutan, dan saya sedang menujukan pembicaraanku kepada para wanita yang mulia. Barang apa saja yang sudah tidak dibutuhkan seorang wanita, seperti baju lamanya atau baju anak-anaknya, atau barang-barang yang sudah tidak dibutuhkan seperti kasur atau karpet, demikian juga makanan dan minuman yang berlebihan. Lalu hendaknya ia mengecek keluarga yang miskin dan memberikan kepada mereka, maka jadilah barang-barang ini menjadi kebahagiaan bagi mereka pada bulan ini. Dan janganlah ia memberikan dengan gaya seorang yang sombong dan merasa tinggi. Sesungguhnya pemberian yang sederhana jika disertai dengan senyuman dihadapan wajah sang miskin lebih baik dari pada uang banyak yang kau berikan kepadanya sementara engkau sambil mengangkat hidung karena sombong dan merasa tinggi.

Sungguh aku masih ingat –beberapa tahun yang silam-  putri kecilku si Banan membawa dua piring makanan –di bulan Ramadhan- hendak ia berikan kepada seorang penjaga. Maka aku berkata kepadanya, "Wahai putriku, kemarilah…, ambilah nampan, sendok, garpu, dan gelas yang bersih, lalu berikan dua piring makanan tersebut bersamanya begini…, engkau tidak rugi sedikitpun. Makanannya tidak berubah sama saja, akan tetapi jika engkau berikan kepadanya hanya piring dan roti maka engkau akan menyedihkan hatinya, engkau membuatnya merasa seakan-akan ia seorang peminta-minta atau pengemis. Adapun jika engkau berikan makanan tersebut di atas sebuah nampan disertai gelas, sendok, dan garpu, serta tempat bumbu maka akan mengobati perasaannya dan dia akan merasa seakan-akan ia adalah seorang tamu yang dimuliakan.

Banyak pintu-pintu cara bersedekah yang dilalaikan oleh banyak orang, padahal mudah untuk dilakukan. Diantaranya bersikap mudah dan ramah terhadap para pedagang yang datang ke pintu-pintu rumah-rumah, mereka menjual sayur-mayur, buah-buahan, dan bawang. Lalu ada seorang wanita yang menawarnya dan mendebatnya agar ia menurunkan harga barangnya meskipun sedikit, agar sang wanita menampakkan kemahiran dan kehebatannya dalam menawar. Padahal bisa jadi wanita ini adalah dari keluarga jutawan/ keluarga kaya raya. Adapun sang penjual yang miskin tersebut harga dagangannya yang seharian penuh ia memutari rumah-rumah untuk menjualnya hanya senilai taruhlah 100 ribu rupiah, sementara untungnya hanya 20 ribu rupiah !!!

Wahai para wanita…aku mohon kepada kalian atas nama Allah agar kalian bermudah-mudah untuk membeli dagangan para penjual tersebut, berikan kepada mereka apa yang mereka minta. Jika salah seorang dari kalian merasa rugi sejumlah uang (karena tidak menawar…), maka anggaplah itu sebagai sedekah, bahkan sedekah kepada para penjual tersebut lebih baik daripada sedekah kepada pengemis…

Intinya -wahai para pembaca yang budiman- barang siapa yang ingin Allah kirimkan baginya orang yang lebih kaya dan lebih kuat darinya (untuk membantunya) maka hendaknya ia memperhatikan orang yang lebih lemah dan lebih miskin darinya. Hendaknya setiap kita memposisikan dirinya seperti posisi saudaranya (yang miskin), hendaknya ia menghendaki kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia menghendaki kebaikan bagi dirinya. Sesungguhnya kenikmatan dan karunia hanyalah terjaga dan bertambah dengan bersyukur kepada Allah, dan bersyukur tidak hanya dengan sekedar diucapkan oleh lisan saja. Jika ada seseorang yang memegang tasbih lalu mengucapkan "Alhamdulillah" sebanyak 1000 kali, sementara ia tetap pelit dengan hartanya, pelit dengan kedudukannya (tidak mau membantu dengan memanfaatkan kedudukannya-pen), dan ia menzolimi dengan kekuasaannya jika ia memiliki kekuasaan, maka ia bukanlah orang yang memuji Allah, akan tetapi seorang yang pendusta dan riyaa'.

Hendaknya kalian memuji Allah dengan praktek nyata, dan berbuatlah baik kepada orang lain sebagaimana kalian suka Allah berbuat baik kepada kalian. Ketahuilah apa yang aku serukan kepada kalian pada hari ini adalah merupakan sebab kemenangan dan kejayaan Islam mengalahkan para musuh, dan merupakan bentuk persiapan untuk meraih kemenangan. Ini merupakan bentuk jihad dengan berkorban harta, dan jihad ini adalah saudaranya jihad dengan berkorban jiwa.

Semoga Allah merahmati seorang yang mendengar nasehat lalu ia mengamalkannya, dan tidak menjadikan nasehat tersebut masuk di telinga kanannya untuk dikeluarkan dari telinga kirinya. 

(Tulisan indah ini ditulis oleh Syaikh Ali Ath-Thonthoowi rahimhaullah di majalah al-Idzaa'ah pada tahun 1956. Tulisan ini banyak disebarkan di internet, diantaranya silahkan lihat http://www.paldf.net/forum/showthread.php?t=1075215, http://www.khawlan.com/vb/t23874.html, dan http://www.lyaleal6rb.net/vb/showthread.php?t=1405)
Tidak…, aku tidak sedang berfilsafat, akan tetapi aku ingin mengutarakan kepada kalian bahwasanya setiap kita –baik lelaki maupun wanita- bisa menemukan orang yang lebih miskin darinya lalu memberi bantuan kepadanya. Jika engkau wahai wanita yang mulia tidak memiliki kecuali lima potong roti, dan sepiring mujaddaroh (yaitu jenis makanan yang terbuat dari nasi dan 'adas, yang ini merupakan sederhana yang ma'ruf di Suria-pen) maka engkau mampu untuk memberikan sepotong rotimu kepada seorang yang sama sekali tidak memiliki roti. Seseorang yang setelah makan malam masih tersisa tiga piring sayur fasuliya (sejenis kacang-kacangan), nasi, dan sedikit buah-buahan, serta sedikit kue, maka ia mampu untuk memberikan sebagiannya sedikit kepada sang pemilik roti.

Pemateri: Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
Sumber: www.firanda.com

Daurah Keluarga Sakinah Bandung 15-16 Maret 2014

Kajian Salaf Selasa, 11 Maret 2014 0

Bila anda ingin mengabadikan cinta sejati antara suami istri, menjadi sangat penting untuk mengetahui apa saja hak dan kewajiban suami dan istri. Sehingga bisa saling memenuhi hak dan melaksanakan kewajiban suami-istri.
Maka jangat lewatkan kajian islam berikut ini:

Hadirilah Dauroh Keluarga Sakinah
Gratis, terbuka untuk umum kaum muslimin & muslimat

"Bila anda ingin mengabadikan cinta sejati antara suami istri, penuhi hak dan laksanakan kewajiban suami-istri"

Tema :
Hak dan Kewajiban Suami Istri

Waktu & tempat:
Sabtu, 15 Maret 2014, pukul 16.30 WIB - menjelang maghrib
Ahad, 16 Maret 2014, pukul 08.00 WIB - 11.00 WIB
@Masjid Raya Cipaganti, Jl. Raya Cipaganti Bandung

Pemateri:
Al-Ustadz Abu Haidar Al-Sundawy
Pembina Yayasan Ihya'u Al-Sunnah Bandung

Cp.: +62817400989

Diselenggarakan oleh:
Yayasan Ihya'u Al-Sunnah Bandung www.alsunnah.or.id
Tashfiyah UPI www.tashfiyah.or.id
Udrussunnah ITB www.udrussunnah.or.id

Disiarkan oleh:
Radio Rodja Bandung 1476AM
www.radiorodjabandung.com
- See more at: http://jadwalkajiansunnah.blogspot.com/2014/03/info-kajian-duroh-keluarga-sakinah-abu.html#sthash.etJ2XL9Y.dpuf


Dauroh Keluarga Sakinah
Gratis, terbuka untuk umum kaum muslimin & muslimat

Tema :
Hak dan Kewajiban Suami Istri

Waktu & Tempat:
Sabtu, 15 Maret 2014, pukul 16.30 WIB - menjelang maghrib
Ahad, 16 Maret 2014, pukul 08.00 WIB - 11.00 WIB
@Masjid Raya Cipaganti, Jl. Raya Cipaganti Bandung

Pemateri:
Al-Ustadz Abu Haidar Al-Sundawy
Pembina Yayasan Ihya'u Al-Sunnah Bandung

Cp.: +62817400989

 


Diselenggarakan oleh:
Yayasan Ihya'u Al-Sunnah Bandung www.alsunnah.or.id
Tashfiyah UPI www.tashfiyah.or.id
Udrussunnah ITB www.udrussunnah.or.id

Disiarkan oleh:
Radio Rodja Bandung 1476AM
www.radiorodjabandung.com


 

Hadirilah Dauroh Keluarga Sakinah
Gratis, terbuka untuk umum kaum muslimin & muslimat

"Bila anda ingin mengabadikan cinta sejati antara suami istri, penuhi hak dan laksanakan kewajiban suami-istri"

Tema :
Hak dan Kewajiban Suami Istri

Waktu & tempat:
Sabtu, 15 Maret 2014, pukul 16.30 WIB - menjelang maghrib
Ahad, 16 Maret 2014, pukul 08.00 WIB - 11.00 WIB
@Masjid Raya Cipaganti, Jl. Raya Cipaganti Bandung

Pemateri:
Al-Ustadz Abu Haidar Al-Sundawy
Pembina Yayasan Ihya'u Al-Sunnah Bandung

Cp.: +62817400989

Diselenggarakan oleh:
Yayasan Ihya'u Al-Sunnah Bandung www.alsunnah.or.id
Tashfiyah UPI www.tashfiyah.or.id
Udrussunnah ITB www.udrussunnah.or.id

Disiarkan oleh:
Radio Rodja Bandung 1476AM
www.radiorodjabandung.com
- See more at: http://jadwalkajiansunnah.blogspot.com/2014/03/info-kajian-duroh-keluarga-sakinah-abu.html#sthash.etJ2XL9Y.dpuf

Obat Penyakit Hati (TOMBO ATI)

Kajian Salaf Senin, 10 Maret 2014 0

Ketahuilah, sesungguhnya kebahagiaan yang hakiki itu, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan keselamatan dan kesucian hati. Dan tidak ada yang sempurna, yang lebih bahagia, yang lebih baik, dan tidak ada pula yang lebih nikmat daripada kehidupan orang-orang yang berhati bersih juga mulia. Namun hati manusia terkadang tidak stabil atau sakit seperti halnya badan. Meskipun berbeda antara sifat maupun obatnya. Maka menjadi sangat penting untuk mengetahui obat yang bisa dipakai untuk mengobati hati yang sakit. Berikut ini kami sebutkan 8 obatnya. Semoga bermanfaat.

Pertama: al-Qur’an al-Karim.


Allah berfirman,
artinya, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS.Yunus: 57). 

Dia juga berfirman,
artinya, “Dan Kami turunkan dari al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. al-Isra: 82)

Ibnu Qoyyim berkata, “Inti penyakit hati itu adalah syubhat dan nafsu syahwat. Sedangkan al-Qur’an adalah penawar bagi kedua penyakit itu, karena di dalamnya terdapat penjelasan-penjelasan dan argumentasi-argumentasi yang akurat, yang membedakan antara yang haq dengan yang batil, sehingga penyakit syubhat hilang. Penyembuhan al-Qur’an terhadap penyakit nafsu syahwat, karena di dalam al-Qur’an terdapat hikmah, nasihat yang baik, mengajak zuhud di dunia dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat.”

Orang yang ingin memperbaiki hatinya hendaknya mengetahui bahwa berobat dengan al-Qur’an itu tidak cukup hanya dengan membaca al-Qur’an saja, tetapi harus memahami, mengambil pelajaran dan mematuhi hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.

Ya Allah, jadikanlah al-Qur’an itu sebagai pelipur lara, penawar hati dan penghilang kegundahan dan kegelisahan kami. Amin.

Kedua: Cinta kepada Allah.


Cinta kepada Allah merupakan terapi yang mujarab bagi hati. Cinta seorang hamba kepada Allah akan menjadikan hatinya tunduk kepada-Nya, merasa tenteram tatkala mengingat-Nya, mengorbankan perasaannya demi sang kekasihnya, yaitu Allah. Hatinya senantiasa mengharap kepada yang dicintainya untuk memecahkan problem yang ia hadapi. Ia pun tak putus asa dari kasih sayang-Nya. Ia yakin bahwa yang dicintainya adalah Dzat yang tepat untuk mengadukan berbagai masalah. Ia yakin akan diberikan solusi yang terbaik untuknya. Kecintaan kepada-Nya menyebabkan dapat menikmati manisnya iman yang bersemayam di dalam hati.

Ketiga: Berdzikir atau mengingat Allah.


Ketidaktenteraman hati merupakan hal yang membahayakan. Allah memberikan salah satu obat yang bisa menjadi sarana terapi keadaan hati yang demikian. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram” demikianlah arti firman Allah dalam QS. ar-Ra’d : 28. Obat ini menjadikan hati seseorang hidup, terhindar dari kekerasan dan kegelapan. Ibnu Qayyim berkata, “Segala sesuatu itu mempunyai penerang, dan sesungguhnya penerang hati itu adalah dzikrullah (mengingat Allah).

Suatu ketika, seorang berkata kepada Hasan al-Basri, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadu kepadamu, hati saya membatu.” Maka beliau menjawab, “Lunakkanlah dengan dzikir, karena tidak ada yang dapat melunakkan kerasnya hati yang sebanding dengan dzikrullah.” maka dari itu Allah di dalam banyak ayat-ayat-Nya menyuruh orang-orang yang beriman agar banyak dan sering berdzikir kepada-Nya. Seperti pada firman-Nya, artinya, “Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. al-Ahzab: 41). Nabi kita Muhammad selalu berdzikir kepada Allah pada setiap saat, sebagaimana dituturkan oleh istri beliau ‘Aisyah.

 

Keempat: Taubat nasuha dan banyak beristighfar (minta ampun).


Perhatikanlah sabda Rasulullah, “Sesungguhnya hatiku kadang keruh, maka aku beristighfar dalam satu hari sebanyak seratus kali” (HR. Ahmad)

Dalam hadis ini Nabi menjelaskan bahwa beliau menghilangkan kabut atau kekeruhan hati beliau dengan istighfar, padahal dosa-dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang telah diampuni oleh Allah. Bagaimanakah dengan kita yang banyak dosa dan banyak melakukan kemaksiatan? Tidakkah kita lebih membutuhkan istighfar untuk hati kita yang sakit?! Demi Allah, betapa kita semua, sangat membutuhkan istighfar.

Kelima: Banyak berdoa dan permintaan kepada Allah untuk memperbaiki dan membersihkan hati serta memberinya petunjuk.


Berdoa merupakan pintu utama yang agung untuk memperbaiki hati. Allah berfirman, artinya, “Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk me- rendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan setan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 43).

Teladan kita yang mulia Muhammad sendiri selalu memohon kepada Allah untuk kesucian hatinya, kokoh berjalan di atas kebenaran dan petunjuk. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dari Ummu Salamah. Ia meriwayatkan bahwa doa Nabi yang sering beliau panjatkan ialah, “wahai Tuhan Pembolak-balik hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu” (HR. at-Tirmidzi)

Keenam: Sering mengingat kehidupan akhirat.


Sesungguhnya kelalaian mengingat akhirat itu adalah penghambat segala kebaikan, kebajikan dan merupakan pemicu setiap malapetaka dan kejahatan. Seseorang yang banyak mengingat akhirat, akan menyadarkan dirinya bahwa kehidupan sebenarnya, yang dia hidup selama-lamanya adalah kehidupan akhirat. Dengan demikian, hatinya lurus dalam mengendalikan jasad. Tindak tanduknya mencerminkan amal nyata yang ia tanam di dunia ini dengan harapan ia akan dapat menuai hasilnya yang baik di akhirat kelak.

Ketujuh: Membaca dan mempelajari sejarah kehidupan orang-orang yang shalih.


Ini pun bisa menjadi salah satu obat bagi hati. Banyak pelajaran tentang teguhnya hati dari hempasan badai kehidupan yang menerjang. Siapa saja yang memperhatikan dan mempelajari kehidupan atau sejarah suatu kaum berdasarkan pengetahuan dan penghayatan, maka niscaya hatinya dihidupkan kembali oleh Allah dan disucikan batinnya. Itulah sejarah dan perjalanan hidup Nabi Muhammad. Sejarah kehidupan beliau merupakan terapi untuk mempertebal iman dan memperbaiki hati.

Kedelapan: Bersahabat dengan orang-orang shalih, bertakwa dan berbuat kebaikan.


Seseorang yang bergaul dengan orang yang bertakwa niscaya tidak celaka. Karena mereka tidak akan mengajak selain kepada kebaikan. Selamatlah hati dari terkontaminasi penyakit-penyakit hati. Sebaliknya, jika Anda bersahabat dengan orang-orang yang tidak shalih, tidak bertakwa dan tidak berbuat kebaikan, niscaya Anda akan celaka. Mereka akan mengajak Anda untuk melakukan berbagai kejelekan yang akan menyebabkan hati Anda menjadi kotor. Allah secara tegas berfirman, artinya, “… dan janganlah kamu mengikuti orang-orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”(QS. al-Kahfi : 28)

Maka berupayalah untuk bersahabat dengan orang-orang yang shalih.
Demikian 8 obat untuk menyembuhkan penyakit hati. Berusahalah Anda untuk memahami dengan baik dan mengamalkan dengan tekun, karena sesungguhnya kebahagiaan yang hakiki itu, tidak akan dapat dicapai kecuali dengan keselamatan dan kesucian hati. Dan tidak ada yang sempurna, yang lebih bahagia, yang lebih baik, dan tidak ada pula yang lebih nikmat daripada kehidupan orang-orang yang berhati bersih juga mulia. Wallahu ‘alam bish shawab (Redaksi)
[Sumber: Disarikan dari “Shalahul Qulub”, Syaikh Dr. Khalid bin Abdullah al-Mushlih –semoga Allah menjaganya- dengan sedikit gubahan./alsofwah]

Diambil dari : www.kajianislam.net