Header ads

Featured Post (Slider)

PEMIMPIN KAFIR HARAM?

AZDI NAWAWI Rabu, 19 April 2017 0


Kata Siapa Tidak Boleh Memilih Pemimpin Kafir?

Ustadz Amir As-Soronji, Lc hafidzahullah

Termasuk aqidah al-wala (loyalitas) dan al-bara (disloyalitas) yang diantara maknanya adalah memilih pemimpin muslim dan membenci orang-orang kafir secara mutlaq, serta tidak menjadikan mereka sebgai pemimpin. Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari dari apa-apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”. (Al-Mumtahanah:4).

Perhatikanlah –semoga Allah Ta’ala menjagamu– bagaimana Ibrahim ‘alahissalam berlepas diri dari kaum dan keluarganya, termasuk di dalamnya ayahnya. Bukan itu saja, bahkan lebih dari itu, beliau ‘alahissalam berlepas diri dari sesembahan-sembahan mereka, lalu menjadikan batasan akhir dari permusuhan dan kebencian itu sampai kaumnya, termasuk bapaknya, beriman kepada Allah Ta’ala semata, serta tidak menyekutukan-Nya dengan selain-Nya. Kemudian –perhatikanlah (ayat ini) dengan cermat– niscaya kamu akan dapati bahwa Allah Ta’ala menjadikan perbuatan Ibrahim di atas sebagai contoh teladan yang baik bagi orang-orang sesudahnya.

Ayat lain yang melarang kita memilih orang kafir sebagai pemimpin firman Allah Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”. (Al-Maidah: 51).

Syariat Islam yang indah mengharamkan mejadikan orang kafir sebagai pemimpin karena beberapa alasan diantaranya:

1) Memilih mereka merupakan sebab yang bisa mengantarkan seorang muslim mengikuti agama mereka. Maka dalam rangka menjaga agama, dia dilarang memilih mereka.

2) Mempersempit ruang gerak kaum muslimin dalam menerapkan syariat islam

3) Mereka adalah musuh Allah dan Rasul-Nya
Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi pemimpin-pemimpinmu”. (Al-Mumtahanah: 1)

4) Diantara sebab diharamkan memilih pemimpin kafir, karena mereka sangat berharap bisa menyesatkan kita dan menjadikan kita termasuk pengikut agama mereka yang batil. Dzat yang Maha Benar Perkataan-Nya berfirman:

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)”. (An-Nisa: 89).

Tatkala ini adalah misi utama mereka, maka kita diperintahkan untuk memusuhi mereka yang mengharuskan tidak memilih mereka sebagai pemimpin. Sehingga mereka tidak dapat menyesatkan dan menjadikan kita termasuk pengikut agama mereka.

MENJAGA AGAMA LEBIH DIDAHULUKAN DARIPADA SEGALA SESUATU


http://assunnah.tumblr.com/post/159736597066/kata-siapa-tidak-boleh-memilih-pemimpin-kafir

HARI JUMAT ADALAH HARI IBADAH

Kajian Salaf Sabtu, 08 April 2017 0

HARI JUMAT ADALAH HARI IBADAH
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan;
“Hari Jum’at adalah hari ibadah. Apabila ia dibandingkan dengan hari-hari lainnya, maka permisalannya seperti bulan Ramadhann dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain.
Waktu mustajab pada hari Jum’at ibarat malam lailatul qadar pada bulan Ramadhann.”
[Zaadul Ma’aad (1/386)]
http://assunnah.tumblr.com/post/159331587471/hari-jumat-adalah-hari-ibadah-al-imam-ibnul-qayyim

MUNGKINKAH INI KALI TERAKHIR ANDA MENATAP WAJAH IBUMU

Kajian Salaf Kamis, 06 April 2017 0

Berikut ini adalah resume dari suatu sesi tanya jawab pada kajian Ustadz DR. Syafiq bin Riza bin Basalamah, Lc MA hafidzahullah dengan tema "Bangkai Hidup" pada Sabtu, 23 Mei 2015 M di Masjid Ar Rahmat, Slipi.
Sebelum memulai kajian Ustadz mereview jamaah dengan pertanyaan-pertanyaan kajian sebelumnya seperti Rumah ku masih ngontrak, ½ isi ½ kosong, dll. terlihat antusiame jamaah muda dan tua menjawab pertanyaan sang ustadz.
Sekitar pukul 10.20-an ustadz menutup sessi kajian dan langsung di lanjutkan sesi tanyajawab. Pertanyaan diawali dgn kertas pertanyaan mengenai diri ustadz “Ustadz!, agar tidak ada ghibah diantara jamaah ikhwan/ akhwat , berapakah jumlah istri antum saat ini?
Ustadz muda ini pun menjawab,
BENAR! saat ini saya ada 4 anak dari 1 istri, mohon do’a agar tetap dengan satu istri ini. Sehingga bertasbih lah seluruh jamaah terutama jamaah akhwat di lantai bawah. Sehingga ustadz muda ini pun menegaskan agar tidak meng-gibah lagi diantara jamaah.
Selanjutnya ada satu pertanyaan dan sungguh jawabannya-lah yang sangat menyentuh hati ribuan jamaah yg hadir. Semua tunduk bersimpuh, khusu’, hening yang terdengar hanya suara lirih ustadz dan isak tangis para jamaah.
Dibacakan lah pertanyaan nya,
“Ustadz, bagaimana cara agar saya yang di Jakarta, tetap bisa bermuamalah baik kepada orangtua saya yang tinggal di Bogor?”
Ustadz pun menjawab ringan diselipi senyum dan canda khasnya..
“Ya akhi.. ana ini orang jember mau tanya ke hadirin, di Jakarta ada kereta gaks? Cepat kan ya akhiperjalanan kereta ? Ada kan
kereta-nya yaa masya Allah.. Naik
kereta kan bisa ya akhi.. nggak
kayak dulu harus naik Unta.. lama sampainya.. ”
Jama'ah pun tertawa.Intinya saya mencatat kendala jarak dan waktu jangan sampai menjadi kita tidak birrul walidayn (berbakti pada kedua orangtua) dan menjadi bangkai hidup.
Tak bebeberapa detik kemudian, mendadak wajah Ustadz berubah. beliau tertunduk. Saya yang duduk dibarisan depan tepatnya arah jam 1 melihat dengan jelas beliau merapihkan kertas-kertas tanya jawab yg menumpuk menutupi kitab ustadz dan terlihat matanya berkaca-kaca, sambil tertunduk seakan (ingin menutupi kondisi beliau) namun akhirnya beliau pun angkat bicara dengan suara parau.
“Ana mau cerita kisah nyata yang ana dengar dari syaikh saat menuntut ilmu di Madinah. Semoga ana dan antum semua yg hadir bisa mendapat ibrah (pelajaran) & faidah.dari kisah ini.”
Sepasang suami istri, telah menikah 21 tahun lamanya, namun suami ini jarang sekali mengunjungi ibu-nya sendiri kecuali hanya pada hari raya saja.
Di suatu malam istri bertanya,
“Wahai Suamiku, tidak inginkah kau keluar malam ini dengan seorang wanita?”
Suami terkejut.
“Bersama seorang wanita? Apa maksudmu? Aku tak mengerti?
Sang istri berkata, “iya, Seorang wanita, Ibu-mu… Ibu-mu, wahai suamiku..”. Si suami terheran dan terdiam, merenungkan dan menyadari bahwa selama ini ia tak memiliki waktu khusus dengan ibunya. Terlebih di usia 40 tahun ini ia sibuk dgn istri , keluarga dan pekerjaannya. Ia pun segera menelpon ibu-nya, hanya untuk mengajak makan malam bersama. Saat si anak mengutarakan keinginannya, ibu-nya terheran-heran dan bingung.
“Ada apa anakku? Apa yang terjadi?
Ada apa dengan istri & anak2mu?
Ada apa? Kenapa tiba-tiba mengajakku pergi?”
“Tidak ibu, istri & anak-anaku baik, pekerjaan ku juga lancar dan tidak ada apa-apa, sungguh bu tidak ada apa-apa. Begini Ibu… Aku hanya ingin mengajak ibu makan malam. Bagaimana bu ? bisa yaa”
Di ujung telepon, sang ibu sangat terharu. Karena setelah sekian lama, akhirnya ia memiliki waktu khusus bersama puteranya seperti tak kala dahulu menyusui, mendidik dan mengantar puteranya sekolah.
Sore itu juga putera nya menuju rumah sang ibu, sesampai di rumah ibunya, terlihat dengan jelas ibunya sudah berdiri di depan pintu rumah dengan pakaian rapih senyum yang tulus menyambut puteranya tercintanya. Sangat terlihat bahwa ibu-nya tak ingin terbuang waktunya barang sedetikpun.
Setelah salam keduanya menuju mobil dan masuklah ke dalam mobil, senyum kebahagiaan terus terlihat jelas dipipi sang ibu, sepanjang perjalananpun sang ibu memperhatikan puteranya dan tersenyum kepada puteranya hingga berkatalah,
Ibu “Nak, ibu sangat berbahagia sekali malam ini .. terimakasih ya nak…..”
Puteranya pun membalasnya,
“sama bu begitu juga aku, bu..”, sambil mencium tangan sang ibu.
Lalu mereka pun berangkat menuju restoran.
Setelah tiba di restoran keduanya duduk dan tak berapa lama makanan telah terhidang. Si ibu menuangkan minuman ke gelas anaknya dan sesekali menyuapkan hidangan ke mulut anaknya demikian seterusnya episode kasih sayang ibu dan anak berlanjut. Si Ibu seakan tak ingin melewatkan waktu terbuang sedikitpun. Sungguh tampak sekali kerinduan dan kasih sayang yang (mungkin) tak dimiliki oleh istrinya sekalipun.
Dilanjutkan oleh ustadz bahwa singkat cerita, tak lama beberapa pekan dari makan malam tersebut, sang ibunda pun meninggal dunia… Inna lillahi wa inna ilayhi rojiun.
Masyaallah…Qoddarallah. Pertemuan makan malam itu adalah keberkahan terakhir bagi si anak dan ibunya.Si anak menyesali diri akan yang telah di perbuatnya selama ini. Ya itulah malam terakhir , sungguh episode hidup yang memang diatur oleh Allah jalla Jalaluhu. Kenyataan yang harus di terima dengan keihklasan dan dengan mengharap kepada Allah atas Mahabbah(Cinta), Al-Khauf (Takut) dan Ar-Rajaa' (Harap) serta Ashma Wasshifat Allah, si anak berdoa agar Allah jalla jalaluhu menempatkan ibunda tercinta di sisi-Nya.
Beberapa hari setelah kepergian sang ibu, si anak mendadak dihubungi oleh seseorang yang mengaku sebagai manager dari salah satu restoran.
“Assalamu’alaikum, apakah benar Anda bernama fulan bin fulan? ,
Naam benar, itu nama saya,.. jawab si anak”. “Bapak, Anda dan sekeluarga diundang oleh seseorang untuk makan malam nanti di restoran kami,” ujar manager restoran tersebut.
“Oh begitu..sambil keheranan, Kalau boleh tahu, siapa yang mengundang ya, pak?” ujarnya dengan keheranan.
“Seseorang pak,” jawab si manager.
Singkat cerita Ia pun datang bersama keluarga memenuhi undangan makan malam. Lalu ia bertanya kepada pramusaji “Maaf mas, sebenarnya siapa yang
mengundang kami kesini? Mana ya orangnya?”. Saya tidak tahu pak, Silakan duduk dulu pak saya nanti saya tanyakan ke bagian front office.
Tak lama pramusaji datang kembali Pramu saji tersebut menjelaskan bahwa tempat dan menu ini sudah dipesan beberapa pekan yang lalu namun pramusaji menegaskan kami untuk tenang karena semua sudah di bayar oleh si pemesan.
Pramu saji pun mohon maaf karena ternyata front office sudah berusaha menghubungi si pemesan namun tidak berhasil. Si anak, istri dan keluarganya pun semakin heran. Ditengah keheranan nya keluarga tersebut mendengar nama pemesan adalah nama yang sangat tidak asing di telinga keluarga bahkan si anak.
Nama pemesannya adalah Ibunda tercinta yang telah wafat namun sudah memesan menu, tata letak persis seperti pertemuan makan malam terakhir mereka.

------
Jadi, pembaca sekalian, jadilah kita manusia yang hidup – bukan bangkai hidup
Semoga bermanfaat..
assunnah.tumblr.com

SEPERTI DIA YANG DIAM-DIAM MENDOAKAN KAMU

Kajian Salaf Rabu, 05 April 2017 0

Menyembunyikan Amalan

“Duhai parahnya pilek ini,” ucap Ayub Sikhtiyani tersedu. Murid-muridnya yang hadir menjadi saksi bagaimana cara guru mereka Ayub menutupi isak tangisnya di tengah majelis saat itu. Ia tak kuasa menahan tangis saat membacakan hadits Nabi ‎ﷺ, untuk menyembunyikannya ia tarik kain surban menutupi matanya kemudian terucaplah kata-kata tadi.
Diceritakan pula bahwa Ayub biasa mengerjakan sholat malam sampai shubuh. Hingga ketika shubuh menjelang ia mengangkat suara seolah-olah baru terbangun dari tidur.
Kisah lain datang dari Daud bin Abi Hind. Selama 40 tahun ia berpuasa namun tak seorangpun dari anggota keluarganya yang tahu. Bagaimana cara ia mensiasatinya ? Begini, Daud memiliki sebuah kedai tempat dimana ia berdagang. Sarapan pagi yang telah disiapkan sang istri, ia bawa ke kedainya lalu disedekahkan. Begitupula saat waktu makan siang, ia pulang mengambil bekal makanannya kemudian kembali pergi ia sedekahkan. Sehingga anggota keluarganya menyangka ia memilih makan di tempat dagangnya. Lalu baru ketika malam hari, ia bersantap bersama keluarga sembari berbuka. Dan itu berlangsung selama 40 tahun.
Ada lagi Manshur bin al-Mu’tamir yang beribadah 40 tahun mengisi siang dengan shiyam dan malam dengan qiyam. Kegigihan beribadahnya membuat ibu Manshur merasa perlu bertanya kepadanya, “kamu habis membunuh orang, nak ?” “Aku lebih tau kondisiku wahai Ibunda,” jawabnya. Yang menjadi saksi dari judul tulisan ini adalah kebiasaan Manshur memakai celak di pagi hari. Itu ia lakukan demi menutupi bekas tangis di matanya setelah sepanjang malam bermunajat.
Sangat banyak kisah-kisah terabadikan dalam adabiyyat dantarojum orang-orang saleh terdahulu. Ada dari mereka yang selalu menutup wajahnya ketika berjihad. Ada juga yang menyembunyikan mushafnya ketika sedang membaca kalamullah. Ada pula yang rela memburu waktu tersunyi untuk berderma. Banyak cara yang mereka lakukan untuk menyembunyikan ketaatan. Mereka taat namun enggan dipandang taat. Kebaikan yang mereka laksanakan tidak lantas membuat mereka besar diri, menganggap diri sudah baik, apalagi demi agar manusia menganggap mereka baik. Mereka cukupkan diri dengan ridha Allah, mereka dahulukan penilaian Allah jauh di atas penilaian manusia.
Abdullah Khuraibi berpesan, “Mereka (orang-orang terdahulu) menganjurkan tiap orang agar memiliki amalan rahasia antara dirinya dan Allah, yang bahkan tidak diketahui istri dan anak-anaknya.”
Pada asalnya amalan terbaik adalah yang dikerjakan dengan sembunyi-sembunyi, karena dengan itu keikhlasan menjadi lebih mudah digapai. Orang-orang terbaik umat ini mengusahakan semua cara agar amalan baik mereka terpelihara dari niat mencari pandangan dan pujian manusia. Tidak butuh dokumentasi dan publikasi sana-sini, karena yakin bahwa tidak seremeh amal pun yang luput dari penglihatan Allah, satu-satunya Dzat yang hanya untukNya amal kebaikan mereka persembahkan. Hanya keridhaan Pencipta yang mereka kejar. Wahai indahnya ibadah para mukhlisin dan mukhlasin itu. Kebaikan yang dilakukan tak ubah keburukan yang harus disimpan rapat-rapat. Sebab mereka tau, satu titik riya’ mampu melumat habis pahala amalan yang telah dikerjakan, hingga menjadi debu yang tak berarti.
Catatan:
Mari menjadi agen rahasia dalam beribadah, seperti dia yang diam-diam mendoakan kamu. Dia, iya dia. Bergerilya dia di dalam doa. Dengan tulus dan rahasia. Hanya kepada Pemilik hati ia titipkan segenap rasa dan pinta. Mendoakan orang lain memang begitu rumusnya, semakin rahasia semakin bertenaga dan semakin diumbar semakin hambar. Dan ingat itu doa bukan pelet.
______________
Madinah Al-Munawwarah 
Penulis: Ustadz Arif Rinanda 
Murajaah: ACT El-Gharantaly

Cerdaslah Dalam Memilih Ustadz

Kajian Salaf Jumat, 31 Maret 2017 0

PILIHLAH RUJUKAN ILMU YANG SUDAH JELAS MANHAJNYA
http://assunnah.tumblr.com/post/159015977746/pilihlah-rujukan-ilmu-yang-sudah-jelas-manhajnya
Dengan semakin besarnya dakwah sunnah di NKRI, banyak dai-dai bermunculan…Ini merupakan sisi baik yang harus kita syukuri, karena dengan semakin banyaknya dai sunnah, maka semakin luas jangkauan yang bisa disasar, dan semakin meringankan tugas dai-dai sunnah yang sudah ada sebelumnya.
Namun di sisi lain, kita akan menghadapi penurunan dari sisi kualitas.. karena memang biasanya kualitas akan menurun, seiring dengan bertambahnya kuantitas.. dan ini yang seharusnya disadari dan diwaspadai.
Penurunan kualitas itu tentu bukan hanya pada audiens, tapi juga pada ustadznya… Itu bisa dilihat, diantaranya dari menurunnya semangat menyebarkan atau mendengarkan tauhid… Menurunnya semangat menerapkan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pada individunya… Menurunnya semangat mengedepankan pendapat generasi salaf dalam membahas sebuah masalah… dst.
Oleh karena itu, menjadi sangat urgen dan sangat penting bagi kita, untuk memilih ustadz yang sudah jelas manhajnya.. khususnya di daerah-daerah yang sudah banyak ustadznya.
Diantara cara sederhana dan mudah dalam melihat seorang ustadz sunnah, apakah manhajnya bagus atau tidak adalah:
1. Lihatlah, bersama siapakah ustadz tersebut berkumpul… apakah bersama ustadz-ustadz yang bermanhaj salaf atau tidak.. karena seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya.
2. Darimana ustadz tersebut menimba ilmu, baik almamater, maupun para ustadz dan masyikhnya.. Atau siapa tokoh favoritnya.. karena sumber ilmu akan sangat mempengaruhi pemahaman dan manhaj seseorang.
3. Dari sisi pendapat, apakah banyak menyelisihi pendapat ulama yang bermanhaj salaf ataukah tidak… bila banyak sekali pendapatnya yang menyelisihi pendapat ulama yang bermanhaj salaf.. maka itu indikasi bahwa manhaj yang merupakan landasan seseorang dalam menganalisa dalil juga berbeda.
4. Dari sisi topik dakwah yang disampaikan, apakah perhatiannya besar terhadap tauhid ataukah tidak…karena itulah pembeda antara dakwah salaf dengan dakwah lainnya.
5. Dari sisi perhatiannya kepada Ijma’ generasi salaf… jika tidak memperhatikan sisi ini, maka dia akan bermudah-mudahan dalam membahas sebuah masalah, terutama dalam masalah akidah dan bid’ah. Oleh karena itu, cerdaslah dalam memilih ustadz, karena itu adalah sumber agama kita… yang terpenting adalah manhajnya… adapun sisi lain seperti kecerdasan, retorika, kuatnya hapalan, dll, maka itu adalah pelengkap… jangan menjadikan pelengkap sebagai intinya.
Perlu diingat, tidak menjadikannya sebagai ustadz rujukan, bukan berarti membencinya, atau memusuhinya, atau tidak menerima kebenaran darinya… sebagaimana kita sering merujuk ke dokter tertentu dalam penyakit tertentu, karena kehati-hatian, bukan karena kita benci kepada dokter yang lain.
Silahkan dishare…Semoga bermanfaat.
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
#manhaj #kajiansalaf #kajiansunnah

Teman Medsos

AZDI NAWAWI Kamis, 30 Maret 2017 0

Fenomena saat ini, dimana kebanyakan orang terlalu disibukkan mencari teman di dunia maya, padahal mereka tidak akan menemaninya hingga alam kubur.

Perhatikan hadits berikut,
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari, no. 6514; Muslim, no. 2960)

‘Ali bin Muhammad Abul Hasan Nuruddin Al-Mala Al-Harawi Al-Qari (meninggal dunia tahun: 1014 H) menyatakan bahwa seseorang ketika mati ada tiga yang mengikutinya hingga ke kubur. Pertama adalah keluarganya, yaitu anak dan kerabatnya, begitu pula sahabat dan kenalannya. Kedua adalah hartanya, seperti budak laki-laki atau perempuannya, juga hewan tunggangannya. Ketiga adalah amalannya, yaitu amal baik atau buruk yang pernah ia lakukan. Keluarga dan harta tadi akan kembali. Yang tersisa hanyalah amalnya yang menemani ia di kubur. (Mirqah Al-Mafatih Syarh Misykah Al-Mashabih, 8: 3235. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 199542)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

قَوْلُهُ ( يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ) هَذَا يَقَعُ فِي الْأَغْلَبِ ، وَرُبَّ مَيِّتٍ لَا يَتْبَعُهُ إِلَّا عَمَلُهُ فَقَطْ

“Mayit akan diikuti oleh keluarga, harta dan amalnya. Itu adalah umumnya. Bisa jadi ada mayit yang hanya diikuti oleh amalnya saja, tanpa membawa harta dan keluarga ketika diantar ke kuburan.” (Fath Al-Bari, 11: 365)

Disebutkan dalam hadits Al-Bara’ bin ‘Azib yang panjang tentang pertanyaan di alam kubur. Ada ketika itu datang seseorang yang berwajah tampan dan berpakaian bagus, baunya pun wangi. Ia adalah wujud dari amalan shalih seorang hamba. Sedangkan orang kafir didatangi oleh orang yang berwajah jelek. Itu adalah wujud dari amalan jeleknya. (HR. Ahmad, 4: 287. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya adalah perawi yang shahih)

Lantas amal kita bagaimana? Sudahkah amal kita siap untuk menemani kita kelak di alam kubur?

Sumber : https://rumaysho.com/14414-tiga-yang-menemani-dua-pulang-satu-tersisa.html


http://assunnah.tumblr.com/post/158979094156/teman-medsos

DAN RAJAB PUN TIBA

Kajian Salaf Senin, 27 Maret 2017 0

DAN RAJAB PUN TIBA 

Sahabat fillah….
Tak terasa kita telah memasuki bulan Rajab, bulan yang dimuliakan dan diharamkan Allah ‘Azza wa Jalla. Dinamakan bulan haram karena Allah 'Azza wa Jalla mengharamkan peperangan dan kedzoliman di dalamnya. Ini tidak berarti bahwa boleh melakukan kedzoliman diluar bulan tersebut. Akan tetapi pelarangan di bulan ini sangat ditekankan lagi
Walaupun bulan ini dimuliakan oleh Allah 'Azza wa Jalla, tidak lantas patut dijadikan alasan bagi kita untuk mengkhususkan amalan-amalan tertentu di dalamnya. Karena ibadah sifatnya tauqifiyah, hukum asalnya haram (untuk dilakukan) sampai ada dalil yang menunjukkan landasan ibadah tersebut.
Syariat kita juga telah menetapkan bahwa tidak boleh mengkhususkan ibadah tertentu pada waktu tertentu tanpa adanya dalil. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak” 
[HR. Muslim]
Beberapa Amalan Populer Di Bulan Rajab
1. Sholat Raghaib
Ibadah ini tidak dikenal dikalangan salafusshalih, ia baru muncul pada abad ke 5 hijriah. Tidak ada hadits sohih yang menunjukkan bahwa amalan ini disyariatkan. Adapun riwayat yang mengatakan:
“ Bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku, dan tidaklah seseorang melakukan puasa pada kamis pertama bulan Rajab, kemudian melakukan sholat antara magib dan isya (malam jumat), dan membaca surat Al Fatihah sekali, inna anzalnahu fii lailatil qadr” tiga kali, Qul huwallahu ahad 12 kali dan melakuan salam pada setiap dua rakaatnya, bila telah selesai melaksanakan shalat dia bershalawat kepadaku 70 kali kemudian berdoa meminta apa saja niscaya akan dikabulkan untuknya dst…“
Riwayat ini adalah riwayat palsu.
Imam At Tharthusi menyebutkan:
"Hadits ini pertama kali dibuat di baitul maqdis pada tahun 448 H, saat itu seorang laki-laki nablus yang bernama Ibnu Abi Al Hamraa’ datang ke Baitul Maqdis. Orang ini sangat bagus bacaannya, dia pertama kali melakukan sholat ini dimasjid al aqsha, setelah itu ritual ini menyebar dan tak seorangpun dari pakar hadits yang menyatakan kesohihan riwayat tentang sholat ini”
Di dalam Asna Al-Mathaalib (1/206) Al-Allamah Zakaria Al-Anshori As Syafi'i -rahimahullah- meyatakan bahwa
“diantara bidah yang tercela adalah sholat raghaib yang jumlahnya 12 rakaat dilaksanakan antara maghrib dan isya pada malam jum'at pertama bulan Rajab. Begitu juga dengan shalat malam nishfu sya'ban sebanyak 100 rakaat? dan jangan terpedaya dengan orang yang menyebutkan (adanya) kedua amalan tersebut”
Syaikhul Islam Ahmad Ibnu Abdil Halim Al-Harrany saat ditanya tentang shalat raghaib apakah disunnahkan atau tidak.? Beliau menjawab : “Shalat ini tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi waSallam, tidak juga oleh para sahabat, tabiin, maupun imam-imam kaum muslimin. Rasulullah tidak pernah menganjurkannya, tidak juga salaf dan para imam. Mereka juga tidak menyebutkan bahwa malam ini memiliki keutamaan khusus.
Adapun hadits-hadist yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam seputar hal itu adalah dusta dan palsu berdasarkan kesepakatan para ahli yang kompeten dibidangnya
[muhaddits]
Imam Nawawi -rahimahullah- berkata:
“Shalat yang dikenal dengan sebutan shalat Ragha’ib yaitu shalat 12 rakaat yang dilakukan antara Maghrib dan Isya’, yakni malam awal hari Jumat pada bulan Rajab, dan shalat malam pada nishfu sya’ban seratus rakaat, maka dua shalat ini adalah bid’ah munkar yang buruk, janganlah terkecoh karena keduanya disebutkan dalam kitab Quut al Qulub dan Ihya Ulumuddin, tidak ada satu pun hadits yang menyebutkan dua shalat ini, maka semuanya adalah batil.”
[Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/379.]
Adz Dzahabi mengatakan:
"Hadits sholat Raghaaib batil tanpa keraguan sedikitpun.”
Hukum para ulama berkenaan dengan hadits seputar rajab juga disepakati oleh Al Hafidz Ibnul Qayyim, Al Hafidz Al Khattabi, Al Hafidz Ibnu Rajab dan Al Hafidz Ibnu Hajar -Rahimahumullah-
2. Shalat pada Pertengahan Bulan Rajab dan Shalat Malam Mi’ raj.
Kedua amalan diatas tidak disyariatkan karena dalil yang dijadikan dasar untuk kedua amalan tersebut palsu.
3. Puasa Rajab.
Amalan ini juga tidak disyariatkan, sementara riwayat yang mengatakan, “Di dalam surga ada sungai yang bernama Rajab, airnya lebih putih dari salju, lebih manis dari madu, barangsiapa yang berpuasa sehari di bulan rajab maka dia akan meminum dari sungai tersebut”.
Ibnul Jauzy mengatakan hadits ini tidak shahih, sementara Adz Dzahaby menyebut hadits ini batil. Namun bila seseorang melakukan puasa senin kamis atau puasa putih (puasa ayyamul bidh) tanpa bermaksud mengkhususkannya dengan bulan rajab maka hal itu tidak mengapa.
4. Umroh di bulan Rajab
Sebagian kaum muslimin meyakini bahwa umroh di bulan Rajab itu disunnahkan. mereka berhujjah dengan peristiwa umroh Rasulullah Shallallahu 'Aaihi wa Sallam yang bertepatan dengan bulan Rajab. Pendapat ini tentunya keliru. Sebab Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak mengkhususkan bulan itu untuk melaksanakan umroh, hanya saja umroh beliau bertepatan dengan bulan tetsebut. Namun bila seseorang melakukan umroh tanpa mengaitkannya dengan kekhususan bulan Rajab, maka hal tersebut tidak mengapa.
5. Merayakan Malam Isra’ Dan Mi'raj.
Untuk amalan yang terakhir ini sama sekali tidak di dukung oleh hadits yang palsu sekalipun apalagi shahih. Bila memang baik tentunya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para Sahabat telah melakukannya. lagipula terjadi silang pendapat dikalangan ulama mengenai kapan pastinya peristiwa besar itu terjadi.
Ibnul Haaj mengatakan, “Di antara praktik yang tidak memiliki tuntunan dan diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.”
[Al Bida’ Al Hawliyah; 275]
Jadi….

“Ikutilah dan jangan berbuat bid'ah, karena kalian telah dicukupi”
[Ibnu Mas'ud -Radhiyallahu 'Anhu-]
Semoga bermanfaat
——————————–
Ditulis Oleh: Ustadz Aan Chandra Thalib hafidzahullah

Simak pula artikel berikut
http://assunnah.tumblr.com/post/158966515071/adakah-amalan-khusus-di-bulan-rajab
#BulanRajab #Rajab #Bidah #PuasaRajab #ShalatRaghaib #IsraMiraj