Header ads

Featured Post (Slider)

Fatwa Ulama Seputar Ihdaad [masa berkabung bagi wanita]

أبو المنذر بن محمد Senin, 31 Agustus 2015 0

Hukum Ihdaad dan Iddah
Pertanyaan: Apakah hukum menjalani masa berkabung (al-ihdaad) dan masa iddah?
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Adapun al-ihdaad, ia adalah meninggalkan semua hal yang dapat menggoda lelakiuntuk menikahi seorang wanita. Dengan begitu, seorang wanita (yang ditinggal mati suaminya -pent.) wajib meninggalkan segala bentuk tata rias, dan segala macam wewangian juga minyak rambut yang berbau harum. Juga meninggalkan berbagai jenis perhiasan termasuk cincin dan yang semisalnya, dan tidak mengenakan pakaian berwarna-warni untuk mempercantik diri.
Tidak berarti ia harus mengenakan pakaian berwarna hitam. Ia bisa mengenakan pakaian sederhana apa saja, yang biasanya dipakai bukan untuk mempercantik diri. Demikian pula, ia tidak berias dengan make-up, bedak, celak dan pewarna yang digunakan sebagai kosmetik.
Hal demikian berdasarkan hadits-hadits yang shahih, seperti hadits Ummu ‘Athiah, ia berkata: “Dahulu kami dilarang untuk berkabung selama lebih dari tiga hari atas kematian seseorang, kecuali atas kematian suami, yaitu selama 4 bulan 10 hari. Kami tidak memakai celak, wangi-wangian, dan tidak mengenakan pakaian yang dicelup. Dan kami diberi keringanan untuk menggunakan sedikit wewangian dan dupa ketika telah suci dari haid dan melakukan mandi.”
Adapun al-iddah, ia adalah menjalani masa tunggu selama empat bulan sepuluh hari kalau sang istri tidak sedang hamil. Tapi jika ia dalam keadaan hamil maka masa iddahnya berakhir dengan kelahiran anaknya.
Istri wajib menjalani masa iddahnya di rumah yang ia tempati ketika suaminya meninggal. Tidak diperbolehkan baginya keluar dari kediamannya kecuali memang ada keperluan mendesak, seperti kalau ia khawatir jiwa dan hartanya akan terancam. Atau seperti jika si pemilik rumah mengusirnya tanpa ada pilihan lain baginya, atau yang semisal itu.
Bila ia keluar dari kediamannya dengan alasan yang tak dapat diterima menurut syariat, maka ia wajib kembali ke rumahnya untuk menyempurnakan iddahnya. Dan wanita yang sedang menjalani masa iddah tidak boleh keluar dari rumahnya pada malam hari. Ia juga hanya boleh bermalam di rumahnya.
Adapun pada siang hari, ia boleh keluar rumah untuk menunaikan keperluannya sendiri. Tidak boleh baginya keluar rumah untuk memenuhi keperluan orang lain, mengunjungi orang sakit, mengunjungi sanak famili ataupun teman, dan semisalnya. Jika ia memiliki pekerjaan di siang hari, seperti sebagai perawat dan semisalnya, maka tidak ada penghalang baginya untuk keluar di siang hari saat bertemu dengan wanita-wanita lain. Kemudian ia merawat pasien perempuan, anak-anak atau semisalnya. Ia menjauhi ikhtilath dengan kaum pria, berbincang-bincang dengan mereka atau khalwat dengan salah seorang dari mereka. Adapun bepergian jauh, maka ini tidak boleh ia lakukan kecuali setelah masa iddahnya selesai. Wallahul muwaffiq.
(Dinukil dari fatwa beliau 1/28 pada 10/1386 H, Fatawa dan Rosail milik Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh (11/161, 162).)
* * *
Keluarnya Wanita yang Sedang Ihdaad
Pertanyaan: Apakah wanita yang ditinggal mati suaminya, ketika pindah dari rumah suami ke rumah saudara laki-lakinya, kemudian mendapatkan tekanan dan perlakuan buruk di sana, apakah boleh ia pindah ke rumah anak-anak suaminya, atau ke rumah pamannya untuk menetap di sana?
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Alhamdulillah. Ia tidak boleh pindah dari rumah suaminya sampai masa iddahnya selesai, kecuali dengan udzur yang syar’i. Kalau ia pindah tanpa udzur syar’i maka ia harus kembali ke rumah yang telah ia tinggalkan sebelumnya. Namun kalau kepindahannya itu dengan udzur syar’i, maka ia boleh pindah dari rumah yang sekarang ia tempati, ke rumah anak suaminya ataupun yang lain. Dan hukum-hukum ihdaad lainnya tetap harus ia lakukan.
(Dinukil dari fatwa beliau 304 pada 21/3/1377 H, Fatawa dan Rosail milik Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh (11/162, 163).)
* * *
Keluar Rumah karena Mendesak
Pertanyaan: Wanita yang ditinggal mati oleh suaminya dan masih dalam masa berkabung apakah ia boleh meninggalkan tempat di mana ia berada sekarang untuk suatu kebutuhan mendesak, walaupun hanya sekali saja?
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah menjawab:
Wanita yang ditinggal mati suaminya wajib menjalani masa tunggu atas kematian tersebut, di rumah tempat ia berada ketika suaminya itu meninggal dunia. Ia tidak boleh pindah dari rumah itu kecuali untuk keperluan mendesak, seperti kalau ia khawatir akan keselamatan jiwanya, atau ia pindah dari rumah itu secara dipaksa, atau bila rumah yang ditempati adalah rumah kontrakan yang masa kontraknya telah habis, atau alasan-alasan mendesak lainnya.
Dan ia tidak boleh keluar dari rumah itu untuk mengunjungi tetangga atau bekerja, kecuali bila keadaan mendesaknya untuk itu, maka ia boleh keluar rumah pada waktu siang, dan segera kembali ke rumah pada waktu malam. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda kepada seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya:
“Tetaplah engkau tinggal di rumahmu yang di sana engkau menerima kabar kematian suamimu, hingga selesai kewajiban iddahmu.” (Diriwayatkan oleh 5 imam (Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasaa-i), dan hadits ini dishahihkan oleh At-Tirmidzi)
(Dinukil dari Fatawa Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/174)
* * *
Wanita yang Sedang Berkabung Pergi Haji
Pertanyaan: Seorang lelaki bertanya perihal ibunya yang sedang menjalani ihdaad, apakah ia boleh pergi haji? Ibunya ini berkata bahwa masa iddahnya baru akan selesai pada hari kedelapan bulan Dzuihijjah.
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Alhamdulillah. Wanita yang masih dalam masa iddah tidak boleh pergi untuk menunaikan ibadah haji, sebagaimana madzhab imam yang empat.
Adapun alasan yang diajukan, bahwa ia baru dibolehkan pergi haji pada hari tersebut, maka itu bukanlah alasan syar’i yang dapat membolehkan wanita yang sedang dalam masa ihdaad untuk bepergian.
(Dinukil dari fatwa beliau 161 pada 12/11/1374 H, Fatawa dan Rosail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh, 11/163)
* * *
Keluar Rumah untuk Mengajar atau Merawat Pasien
Pertanyaan: Apa hukum melakukan pekerjaan mengajar, merawat pasien, dan semisalnya bagi wanita yang sedang menjalani masa iddah?
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Kami sampaikan kepada anda bahwa tidak mengapa seorang wanita yang sedang menjalani masa iddah atas kematian suaminya keluar rumah pada siang hari untuk memenuhi keperluan-keperluannya yang mendesak, yang tidak dapat digantikan oleh orang lain. Misalnya, keluar rumah untuk melakukan pekerjaan yang menjadi kewajibannya seperti mengajar, merawat pasien dan pekerjaan-pekerjaan semisalnya yang khusus dilakukan oleh wanita dan tidak terkait dengan kaum pria. Hal ini seraya ia meninggalkan wangi-wangian dan pakaian untuk mempercantik diri dan semisalnya.
(Dinukil dari fatwa beliau 1/246 pada 21/1/1386 H, Fatawa dan Rosail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh, 11/164)
* * *
Keluar Rumah untuk Mengikuti Ujian Akhir Sekolah
Pertanyaan: Dari seorang laki-laki, tentang adik perempuannya yang ditinggal mati suaminya. Dan ia hendak melaksanakan ujian kelulusan untuk mendapatkan ijazah SMA, sedangkan dia dalam masa iddah. Ia meminta fatwa tentang tindakannya keluar rumah ke tempat ujian untuk melaksanakan ujian tersebut. Dan bahwa saudara laki-lakinya itulah yang akan mengantarnya sendiri dengan mobil, kemudian mengantarnya pulang ke rumah. Ruang ujiannya pun hanya dimasuki oleh perempuan. Dan ia keluar rumah dengan pakaian syar’i tanpa merias diri, serta hanya selama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan ujian.
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Alhamdulillah. Jika kondisinya memang seperti apa yang telah dijabarkan, maka yang zahir adalah bahwa ia boleh keluar dikarenakan hal-hal yang disebutkan tadi. Dan ia wajib untuk tetap menjalani hukum-hukum ihdad, mengikuti aturan dalam hal berpakaian, dan tidak berikhtilath dengan kaum pria, karena para ulama membolehkan wanita yang sedang menjalani ihdad untuk keluar rumah guna memenuhi kebutuhannya di siang hari kalau memamg tidak mungkin dilakukan oleh orang lain. Dan mengikuti ujian ini termasuk keperluannya yang paling penting. Wallahu a’lam.
(Dinukil dari fatwa beliau 1/804 pada 2/3/1389 H, Fatawa dan Rosail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh, 11/164, 165)
* * *
Menjalani Masa Iddah dan Ihdaad Lebih Lama
Pertanyaan: Tentang seorang wanita yang suaminya meninggal dunia. Wanita itu pun menjalani masa iddah dan ihdad selama empat bulan sepuluh hari. Namun tanpa sengaja dan karena lupa, ia menjalaninya dengan kelebihan dua hari. Apakah tambahan dua hari ini merusak masa iddah dan ihdad yang telah ia jalani atau tidak?
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Kelebihan hari untuk waktu iddah dan ihdad tidaklah merusaknya. Ketika waktu itu telah menyelesaikan masa iddahnya, maka ia telah keluar dari iddah. Tambahan hari untuk iddah dan ihdad itu tidak boleh hanya kalau ia dilakukan dengan sengaja. Adapun orang yang mengerjakan hal itu karena lupa maka tidak mengapa baginya, dengan dalil firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala:
“(Mereka berdoa): Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (Al-Baqarah: 286)
Wallahu a’lam.
(Dinukil dari fatwa beliau 1/2128 pada 10/8/1384 H, Fatawa dan Rosail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh, 11/165, 166)
* * *
Pernikahan yang Fasid (tidak sah) dan Ihdad si Wanita
Pertanyaan: Apakah konsekuensi menjalani ihdad tetap berlaku bagi pernikahan yang fasid (tidak sah)?
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahumenjawab:
Ya, tetap berlaku. Karena pada nikah yang fasid itu diberlukan ketentuan-ketentuan yang sama dengan ketentuan-ketentuan pada pernikahan sah dalam sekian banyak hukumnya. Terkhusus hukum-hukum yang dituntut kehati-hatian tatkala menjalaninya. Dan melaksanakan konsekuensi ihdad ini termasuk realisasi dari sikap kehati-hatian tersebut.
(Al-Fatawa As-Sa’diah, hal. 540)

Sumber: Majalah Akhwat Shalihah vol. 13/1432 H/2011, hal. 91-95
Sumber: https://fadhlihsan.wordpress.com/2011/11/19/fatwa-ulama-seputar-ihdaad-masa-berkabung-bagi-wanita/

Jenazah Koruptor Tidak Dishalati?

أبو المنذر بن محمد Jumat, 07 Agustus 2015 0

Assalamu’alaikum.

baru-baru ini dalam pemberitaan muktamar Muhammadiyah, salah seorang perwakilan peserta dari PP Muhammadiyah menyarankan agar dikeluarkannya fatwa pelarangan shalat jenazah bagi koruptor. pelarangan shalat ini disetujui oleh Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis dan pernah diutarakan oleh Marzukie Alie pada tahun 2010 lalu. namun, usulan ini mendapat penolakan dari Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif dengan alasan dishalatkannya seseorang adalah hak setiap muslim ketika ia meninggal, dan merupakan kewajiban setiap muslim yang masih hidup untuk mensholatkannya.

Pertanyaannya, adakah dalil tertentu yang mengatur ketentuan tersebut? mohon kiranya diberikan pencerahan.

Wassalamu’alaikum

Dirman

Jawab:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Koruptor yang belum bertaubat dan tidak mengembalikan hasil korupsinya sampai meninggal dunia, berarti mati dalam keadaan membawa dosa besar. Meskipun dosa besar, namun tindak korupsi  tidak menyebabkan pelakunya jadi kafir. Artinya, jenazahnya tetap disikapi sebagai jenazah muslim. Dia wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan di pemakaman kaum muslimin.

Selama dia muslim, dia mendapat hak untuk ditangai sebagai muslim.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ

“Kewajiban seorang muslim kepada muslim yang lain, ada enam.”

Para sahabat bertanya, ‘Apa saja itu, Ya Rasulullah?’

Beliau sebutkan dengan rinci, diantaranya,

وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Apabila sakit, mereka menjenguknya dan apabila meninggal, harus diantarkan jenazahnya. (HR. Ahmad 9080 dan Muslim 5778).

Tokoh Agama tidak Menshalati

Meskipun demikian, bukan berarti setiap orang dianjurkan menshalati jenazahnya. Karena koruptor yang mati dan belum bertaubat, dia berhak mendapatkan hukuman sosial. Hukuman dalam bentuk jenazahnya tidak dishalati oleh tokoh agama dan setiap orang yang diharapkan doanya.

Bukan karena mereka kafir, namun sebagai peringatan bagi masyarakat lainnya, bahwa orang semacam ini tidak dishalati oleh mereka yang diharapkan doanya.

Imam an-Nawawi menukil riwayat dari Imam Malik,

عن مالك وغيره أن الإمام يجتنب الصلاة على مقتول في حد وأن أهل الفضل لا يصلون على الفساق زجرا لهم

Dari Imam Malik dan yang lainnya, bahwa pemuka masyarakat selayaknya menghindari shalat jenazah yang mati karena hukuman had. Dan tokoh agama, tidak boleh menshalati orang fasik, sebagai peringatan bagi mereka. (Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 7/47)

Hukuman sosial semacam ini, pernah diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada koruptor di masa beliau.

Sahabat Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meninggal pada peristiwa Khaibar. Merekapun berharap agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalati jenazahnya. Namun beliau tidak berkenan menshalatkannya. Beliau justru menyuruh kami,

صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ

“Shalati teman kalian.”

Wajah para sahabat spontan berubah karena sikap beliau.

Di tengah kesedihan yang menyelimuti mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan alasanya,

إِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Teman kalian ini melakukan korupsi saat jihad fi sabilillah.”

Kami pun memeriksa barang bawaannya, ternyata dia mengambil manik-manik milik orang Yahudi (hasil perang Khaibar), yang nilainya kurang dari dua dirham. (HR. an-Nasai 1959, Abu Daud 2710, Ibnu Majah 2848, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Ada beberapa pelajaran dari hadis ini,

Pertama, orang yang mati dalam kondisi suul khatimah, disarankan agar tokoh agama tidak turut menshalati jenazahnya. Sebagai hukuman sosial baginya, dan memberikan efek jera bagi masyarakat lainnya. Betapa sedih pihak keluarga, ketika jenazah sang ayah tidak dishalati tokoh agama dan orang shaleh yang diharapkan doanya.

Kedua, orang yang mati suul khotimah statusnya masih muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyuruh para sahabat untuk menshalati jenazah orang ini. Sekalipun beliau tidak mau menshalatkannya.

Ketiga, sekecil apapun korupsi, tetap korupsi. Manik-manik seharga dua dirham, nilai yang sangat murah. Apa yang bisa kita bayangkan, ketika dia korupsi raturan juta?

Keempat, pahala jihad, tidak memadamkan dosa korupsi. Orang itu, meninggal di medan jihad. Namun sebelum meninggal, dia korupsi. Korupsi di negara kita, apa ada yang punya pahala jihad?

Semua ancaman di atas, menunjukkan betapa buruknya tindak korupsi di mata agama dan masyarakat.

Semoga Allah melindungi diri kita dan masyarkat kita dari penyakit berbahaya ini.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

http://www.konsultasisyariah.com/jenazah-koruptor-tidak-dishalati/

Renungan munculnya khowârij dan jamâ’ah tahdzìr

أبو المنذر بن محمد Rabu, 05 Agustus 2015 0

Renungan munculnya khowârij dan jamâ’ah tahdzìr


Oleh : al-Ustâdz Abû Qotâdah حفظه الله تعالى 

بسم الله الرحمن الرحيم
1. Kaum khowârij adalah sekelompok orang yg mengambil ayat² yg Allâh turunkan untuk orang kafir lalu mereka alamatkan kepada “ushôtul mu’minîn” (para pelaku maksiat) lalu mereka mengkafirkan kaum muslimin (dengan sebab kemaksiatan tersebut)…
2. Jamâ’ah tahdzîr adalah sekelompok org²  yang mengambil nash² tentang tabdî’ (vonis bid’ah) baik dari al-Qur’ân, hadìts, atau perkataan para ‘Ulama, kemudian mereka alamatkan kepada siapa saja yg mereka anggap salah atau menyelisihi mereka lalu menghukumi ahli sunnah sebagai mubtadi’ (Ahlil bid’ah). 

Mereka merasa sedang mengamalkan ‘adillah (dalil²) syar’îyah dan aqwâl (ucapan) Ulama. Seperti Ibnu Muljam yg menikam sahabat ‘Alî رضي الله عنه
sembari membacakan 2 ayat Al-Qur’an. Ia menyangka sedang mengamalkan ayat tersebut.
نعم الدليل بئس الاستدلال
(dia menggunakan) sebaik² dalil namun dg seburuk² cara penempatan dalil.
Dishare di grup Multaqō ad-Du’ât ilallâh dg sedikit perbaikan tulisan dan redaksi
@abinyasalma
Via status facebook Ust Yulian Purnama

Apakahkah Suami Istri Kembali Bersatu Di Surga Kelak?

أبو المنذر بن محمد 0

Akankah seorang istri akan berkumpul kembali dengan suaminya di surga kelak? Akankah mereka tinggal bersama-sama lagi?
Jawab:
Alhamdulillah,
1. Benar. Seorang istri akan bersatu kembali dengan suaminya di surga kelak bahkan bersama-sama anak keturunannya baik laki-laki dan perempuan selama mereka beragama Isalam (mentauhidkan Allah -pen). Hal ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala,
والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء
” Dan orang-orang beriman, berserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedkitpun pahala amal (kebajikan) mereka.” (QS. Ath Thur: 21).
Allah menceritakan diantara doa malaikat pemikul ‘Arsy,
ربنا وأدخلهم جنات عدن التي وعدتهم ومَن صلح مِن آبائهم وأزواجهم وذرياتهم إنك أنت العزيز الحكيم
“Ya Rabb kami masukanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang shalih diantara nenek moyang mereka, istri-istri dan anak keturunan mereka. Sungguh Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ghafir: 8)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,
“Allah Ta’ala akan mengumpulkan mereka berserta anak keturunannya agar menyejukkan pandangan mereka karena berkumpul pada satu kedudukan yang berdekatan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya,
“Dan orang-orang beriman, berserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal (kebajikan) mereka.”
Artinya, akan Kami samakan mereka pada satu kedudukan agar mereka (orang yg berkedudukan lebih tinggi-pen) merasa tenang. Bukan dengan mengurangi kedudukan mereka yang lebih tinggi, sehingga bisa setara dengan mereka yang rendah kedudukannya, namun dengan kami angkat derajat orang yang amalnya kurang, sehingga kami samakan dia dengan derajat orang yang banyak amalnya. Sebagai bentuk karunia dan kenikmatan yang kami berikan.
Said bin Jubair mengatakan, “Tatkala seorang mukmin memasuki surga maka ia akan menanyakan tentang bapaknya, anak-anaknya dan saudara-saudaranya dimanakah mereka? Maka dikatakan kepadanya bahwa mereka semua tidak sampai pada derajatmu di surga. Maka orang mukmin tersebut menjawab ‘Sesungguhnya pahala amal kebaikanku ini untukku dan untuk mereka.’ Maka mereka (keluarganya) dipertemukan pada satu kedudukan dengannya.” (Tafsir Ibn Katsir, 4/73).
2. Kita sedikitpun tidak akan sampai mengira, ketika ada orang yang Allah masukkan ke dalam surga, Allah hilangkan sifat kebencian dari hatinya, kemudian dia lebih memilih berpisah.
Dan kita tidaklah tahu tentang seseorang yang telah Allah takdirkan ia memasuki surga dan telah dicabut rasa dengki di hati mereka namun mereka memilih berpisah daripada bersatu kembali.
3. Apabila wanita tersebut belum pernah menikah tatkala di dunia maka Allah akan menikahkannya dengan laki-laki yang sangat dia cintai di surga. Orang yang mendapat kenikmatan di surga tidaklah terbatas laki-laki saja, namun untuk laki-laki dan perempuan. Dan diantara bentuk kenikmatan surga adalah menikah. Demikian nukilan dari Majmu’ Fatawa Ibni ‘Utsaimin (2/53). Dan di dalam surga tidak ada oranng yang melajang.
Wallahu A’lam.
Diterjemahkan: Tim Penerjemah muslimah.or.id
Muroja’ah: Ust. Ammi Nur Baits
Artikel muslimah.or.id

Kisah Seorang Pemuda Yang Selalu Jelalatan

أبو المنذر بن محمد Jumat, 24 Juli 2015 0


ﻗﺼﺔ ﺷﺎﺏ ﺩﺍﺋﻢ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻔﺘﻴﺎﺕ

Kisah Seorang Pemuda Yang Selalu Jelalatan Memandang Para Gadis 


ﻗَﺪِﻡَ ﺷﺎﺏ ﺇﻟﻰ ﺷﻴﺦ ﻭﺳﺄﻟﻪ :
ﺃﻧﺎ ﺷﺎﺏ ﺻﻐﻴﺮ ﻭﺭﻏﺒﺎﺗﻲ ﻛﺜﻴﺮﺓ
ﻭﻻ ﺃﺳﺘﻄﻴﻊ ﻣﻨﻊ ﻧﻔﺴﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻈﺮ
ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺍﻟﻔﺘﻴﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻮﻕ ، ﻓﻤﺎﺫﺍ ﺃﻓﻌﻞ؟

Seorang pemuda datang kpd Seorang Syeikh . Kemudian dia bertanya :
Aku seorang pemuda tanggung akan tetapi nafsu syahwatku besar sekali
Akan tdk dapat menahan pandanganku ketika melihat manusia, dan para gadis di pasar ( dan jalalan), maka apa solusinya yg harus aku kerjakan ?

ﻓﺄﻋﻄﺎﻩ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻛﻮﺑﺎً ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ ﻣﻤﺘﻠﺌﺎً ﺣﺘﻰ ﺣﺎﻓﺘﻪ ﻭﺃﻭﺻﺎﻩ ﺃﻥ ﻳﻮﺻﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﻭﺟﻬﺔ ﻣﻌﻴﻨﺔ ﻳﻤﺮّ ﻣﻦ ﺧﻼﻟﻬﺎ ﺑﺎﻟﺴﻮﻕ ﺩﻭﻥ ﺃﻥ ﻳﻨﺴﻜﺐ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻮﺏ ﺃﻱ ﺷﻲﺀ ! ﻭﺍﺳﺘﺪﻋﻰ ﻭﺍﺣﺪﺍً ﻣﻦ ﻃﻼﺑﻪ ﻟﻴﺮﺍﻓﻘﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻭﻳﻀﺮﺑﻪ ﺃﻣﺎﻡ
ﻛﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺴﻜﺐ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ !!

Maka syeikh tsb memberikan sebuah gelas yg penuh dengan susu hingga rata / tumpah , dan meminta kpd pemuda ini utk mengantarkan segelas susu tersebut kpd seseorang , yang jalanannya melewati pasar dan tidak boleh tumpah sedikitpun susu tsb, ! Dan syeikh meminta salah satu muridnya utk mengikuti dan mengawasi pemuda ini dan memukulnya didepan orang jika menumpahkan susu tersebut .

ﻭﺑﺎﻟﻔﻌﻞ .. ﺃﻭﺻﻞ ﺍﻟﺸﺎﺏ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ ﻟﻠﻮﺟﻬﺔ ﺍﻟﻤﻄﻠﻮﺑﺔ ﺩﻭﻥ ﺃﻥ ﻳﻨﺴﻜﺐ ﻣﻨﻪ ﺷﻲﺀ ..

Maka pemuda itu menjalankan perintah syeikh tsb .. Dia antarkan susu itu kpd orang yg dimaksudkan syeikh tanpa menumpahkan sedikitpun susunya

ﻭﻟﻤﺎ ﺳﺄﻟﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻛﻢ ﻣﺸﻬﺪﺍً ﻭﻛﻢ ﻓﺘﺎﺓ ﺭﺃﻳﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ؟

Kemudian setelah selesai syeikh bertanya : berapa pemadangan yg kamu saksikan, dan berapa gadis yg engkau lihat di jalanan ?

ﻓﺄﺟﺎﺏ ﺍﻟﺸﺎﺏ : ﺷﻴﺨﻲ ﻟﻢ ﺃﺭَ ﺃﻱ ﺷﻲﺀ ﺣﻮﻟﻲ ..
ﻛﻨﺖ ﺧﺎﺋﻔﺎً ﻓﻘﻂ ﻣﻦ ﺍﻟﻀﺮﺏ
ﻭﺍﻟﺨﺰﻱ ﺃﻣﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺴﻜﺐ ﻣﻨﻲ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ !

Maka pemuda tsb menjawab : wahai syeikh aku tdk melihat sesuatu apapun disekitarku ..
Aku takut dan ingat akan dipukul didepan khalayak umum jika menumahkan susu !sedikitpun

ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻫﻮ ﺍﻟﺤﺎﻝ ﻣﻊ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ..
ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻳﺨﺎﻑ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻣﻦ ﺧﺰﻱ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﺭﺗﻜﺐ ﻣﻌﺼﻴﺔ ...

Berkata syeikh : demikianlah Seharusnya keadaan seorang mukmin , orang yg beriman selalu takut kpd Allah danselalu ingat dihari kiamat akan disiksa jika bermaksiyat

ﻫﺆﻻﺀ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻳﺤﻤﻮﻥ ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﻲ ﻓﻬﻢ ﺩﺍﺋﻤﻮﺍ ﺍﻟﺘﺮﻛﻴﺰ ﻋﻠﻰ " ﻳَــــﻮﻡ ﺍﻟــﻘِﻴـــﺎﻣﺔ ...

Mereka itulah orang2 beriman menjaga dirinya dari maksiyat , mereka selalu ingat akan hari kiamat ...

ﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳَﻐُﻀُّﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈُﻮﺍ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺯْﻛَﻰ ﻟَﻬُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺼْﻨَﻌُﻮﻥَ * ﻭَﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﻳَﻐْﻀُﻀْﻦَ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻦَّ ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈْﻦَ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻦَّ ﻭَﻻ ﻳُﺒْﺪِﻳﻦَ ﺯِﻳﻨَﺘَﻬُﻦَّ ﺇِﻻ ﻣَﺎ ﻇَﻬَﺮ
َ
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". .Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.
( QS An Nuur: 30-31 ‏)

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺟﻌﻠﻨﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻐﻀﻮﻥ ﺃﺑﺼﺎﺭﻫﻢ
ﺍﻟﻠﻬــــــــــــــــﻢ ﺍّﻣﻴـــــــــــــﻦ

Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang2 yg menundukkan pandangan kami
aminn ya Allah

 ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﺷﻴﺨــﺔ

WA DIKS

Via Grup WA An Nashihah Bontang


Keutamaan Puasa Enam Hari Bulan Syawal

أبو المنذر بن محمد Rabu, 22 Juli 2015 0

Apa hukumnya puasa enam hari bulan Syawal, apakah wajib?
Puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa wajib bulan Ramadhan adalah amalan sunnat yang dianjurkan bukan wajib. Seorang muslim dianjurkan mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal. Banyak sekali keutamaan dan pahala yang besar bagi puasa ini. Diantaranya, barangsiapa yang mengerjakannya niscaya dituliskan baginya puasa satu tahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Ramadhan). 
Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:

"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh."
(H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)
Rasulullah telah menjabarkan lewat sabda beliau:
"Barangsiapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas 'Iedul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat."
Dalam sebuah riwayat berbunyi:
"Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun."
(H.R An-Nasa'i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih At-Targhib).
Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan lafazh:
"Puasa bulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedang puasa enam hari bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Itulah puasa setahun penuh."
Para ahli fiqih madzhab Hambali dan Syafi'i menegaskan bahwa puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa Ramadhan setara dengan puasa setahun penuh, karena pelipat gandaan pahala secara umum juga berlaku pada puasa-puasa sunnat. Dan juga setiap kebaikan dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali lipat.

Salah satu faidah terpenting dari pelaksanaan puasa enam hari bulan Syawal ini adalah menutupi kekurangan puasa wajib pada bulan Ramadhan. Sebab puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan pasti tidak terlepas dari kekurangan atau dosa yang dapat mengurangi keutamaannya. Pada hari kiamat nanti akan diambil pahala puasa sunnat tersebut untuk menutupi kekurangan puasa wajib.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam :
"Amal ibadah yang pertama kali di hisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Ta'ala berkata kepada malaikat -sedang Dia Maha Mengetahui tentangnya-: "Periksalah ibadah shalat hamba-hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang. Jika sempurna maka pahalanya ditulis utuh sempurna. Jika kurang, maka Allah memerintahkan malaikat: "Periksalah apakah hamba-Ku itu mengerjakan shalat-shalat sunnat? Jika ia mengerjakannya maka tutupilah kekurangan shalat wajibnya dengan shalat sunnat itu." Begitu pulalah dengan amal-amal ibadah lainnya." H.R Abu Dawud
Wallahu a'lam.
✍ Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid حفظه الله تعالى
Sumber: islamqa.info

APABILA HARI RAYA 'IED BERTEPATAN DENGAN HARI JUM'AT

Kajian Salaf Minggu, 12 Juli 2015 0

Berikut adalah fatwa Lajnah Daimah tentang peristiwa hari raya yang bertepatan dengan hari jumat.

Fatwa no. 21160 diterbitkan tanggal 8 Dzulqa’dah 1420 H.

Alhamdulillah wahdah, was shalatu was salamu ‘ala man laa nabiyya ba’dah, amma ba’du,
Terdapat banyak pertanyaan terkait peritiwa hari raya yang bertepatan dengan hari jumat. Baik idul fitri maupun idul adha. Apakah jumatan tetap wajib dilaksanakan bagi mereka yang telah melaksanakan shalat id? Bolehkah mengumandangkan adzan di masjid yang diadakan shalat dzuhur? Dan beberapa pertanyaan terkait lainnya. Untuk itu, Lajnah Daimah menerbitkan fatwa berikut:
Dalam permasalahan ini, ada beberapa hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dana keterangan sahabat yang menjelaskan hal itu. Diantaranya:
Pertama, hadis Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepadanya: “Apakah anda pernah mengikuti hari raya yang bertepatan dengan hari jumat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” “Lalu apa yang beliau lakukan?” Jawab Zaid:
صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: من شاء أن يصلي فليصل
“Beliau shalat id, dan memberi keringanan untuk tidak shalat jumat. Beliau berpesan: ‘Siapa yang ingin shalat jumat, hendaknya dia shalat.’” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, ibn Majah, Ad-Darimi).
Kedua, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون
“Pada hari ini terkumpul dua hari raya (jumat dan id). Siapa yang ingin shalat hari raya, boleh baginya untuk tidak jumatan. Namun kami tetap melaksanakan jumatan.” (HR. Abu Daud, Ibn Majah, Ibnul Jarud, Baihaqi, dan Hakim).
Ketiga, hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:
اجتمع عيدان على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى بالناس ثم قال: من شاء أن يأتي الجمعة فليأتها ومن شاء أن يتخلف فليتخلف
Pernah terkumpul dua hari raya dalam sehari di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau mengimami shalat id, dan berkhutbah: “Siapa yang ingin jumatan, silahkan datang jumatan. Siapa yang ingin tidak hadir jumatan, boleh tidak hadir.” (HR. Ibn Majah).
Sementara dalam riwayat At-Thabrani di Al-Mu’jam Al-Kabir, dinyatakan bahwa Ibnu Umar menceritakan:
اجتمع عيدان على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم: يوم فطر وجمعة، فصلى بهم رسول الله صلى الله عليه وسلم العيد، ثم أقبل عليهم بوجهه فقال: يا أيها الناس إنكم قد أصبتم خيراً وأجراً وإنا مجمعون، ومن أراد أن يجمع معنا فليجمع، ومن أراد أن يرجع إلى أهله فليرجع
“Pernah terkumpul dua hari raya dalam sehari di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, idul fitri dan hari jumat. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami shalat id, lalu berkhutbah di hadapan para sahabat: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah mendapatkan kebaikan dan pahala, namun kami akan tetap melaksanakan jumatan. Siapa yang ingin ikut jumatan bersama kami, silahkan ikut. Siapa yang ingin pulang ke keluarganya, silahkan pulang.”
Keempat, hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
اجتمع عيدان في يومكم هذا فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا مجمعون إن شاء الله
“Terkumpul dua hari raya pada hari ini. Siapa yang ingin shalat id, maka boleh baginya untuk tidak ikut jumatan. Dan kami akan tetap melaksanakan jumatan, insyaaAllah.” (HR. Ibn Majah, kata Al-Bushiri: Sanadnya shahih dan perawinya tsiqat).
Kelima, riwayat dari Atha bin Abi Rabah, beliau menceritakan:
“Abdullah bin Zubair pernah mengimami kami shalat id pada hari jumat di pagi hari. Kemudian (si siang hari) kami berangkat jumatan. Namun Abdullah bin Zubair tidak keluar untuk mengimami jumatan, sehingga kami shalat (dzuhur) sendiri-sendiri. Ketika itu, Ibnu Abbas sedang di Thaif. Ketika kami datang ke Thaif, kami ceritakan kejadian ini dan beliau mengatakan, ‘Dia (Ibn Zubair) sesuai sunah.’” (HR. Abu Daud). Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah terdapat tambahan, bahwa Ibnu Zubair mengatakan:
رأيت عمر بن الخطاب إذا اجتمع عيدان صنع مثل هذا
“Saya melihat Umar bin Khatab, ketika ada dua hari raya yang bersamaan, beliau melakukan seperti itu.”
Keenam, riwayat dari Abu Ubaid, bekas budak Ibnu Azhar, bahwa beliau pernah mengalami kejadian berkumpulnya dua hari raya di zaman Utsman bin Affan. Ketika itu hari jumat. Kemudian beliau shalat hari raya, lalu berkhutbah:
يا أيها الناس إن هذا يوم قد اجتمع لكم فيه عيدان، فمن أحب أن ينتظر الجمعة من أهل العوالي فلينتظر، ومن أحب أن يرجع فقد أذنت له
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya pada hari ini terkumpul dua hari raya. Siapa diantara penduduk pedalaman yang ingin menunggu jumatan maka hendaknya dia menunggu (tidak pulang). Dan siapa yang ingin pulang, aku izinkan dia untuk pulang.” (HR. Bukhari dan Malik dalam Al-Muwatha’)
Ketujuh, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa terkumpul dua hari raya di hari jumat, beliau berkhutbah setelah shalat id:
من أراد أن يجمع فليجمع، ومن أراد أن يجلس فليجلس
“Siapa yang ingin menghadiri jumatan, silahkan datang. Siapa yang ingin tetap di rumah, silahkan duduk di rumahnya (tidak berangkat jumatan).” (HR. Ibn Abi Syaibah dan Abdur Razaq).
Berdasarkan beberapa hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, keterangan dan praktek sejumlah sahabatradhiyallahu ‘anhum, serta pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama, maka Lajnah Daimah memutuskan hukum berikut:
  1. Orang yang telah menghadiri shalat id, mendapat keringanan untuk tidak menghadiri jumatan. Dan dia wajib shalat dzuhur setelah masuk waktu dzuhur. Akan tetapi jika dia tidak mengambil keringanan, dan ikut shalat jumat maka itu lebih utama.
  2. Orang yang tidak menghadiri shalat id maka tidak termasuk yang mendapatkan keringanan ini. Karena itu, kewajiban jumatan tidak gugur baginya, sehingga dia
  3. wajib berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat jumat. Jika di masjid tempatnya tidak ada shalat jumat maka dia shalat dzuhur.
  4. Wajib bagi takmir masjid atau petugas jumatan untuk mengadakan jumatan di masjidnya, untuk menyediakan sarana bagi mereka yang tidak shalat id atau orang yang ingin melaksanakan jumatan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya: “Namun kami tetap melaksanakan jumatan” sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis di atas.
  5. Orang yang shalat id dan mengambil keringanan untuk tidak jumatan, dia wajib shalat dzuhur setelah masuk waktu dzuhur.
  6. Tidak disyariatkan mengumandangkan adzan di hari itu, kecuali adzan di masjid yang diadakan shalat jumat. Karena itu, tidak disyariatkan melakukan adzan dzuhur di hari itu.
  7. Pendapat yang menyatakan bahwa orang yang shalat id maka gugur kewajibannya untuk shalat jumat dan shalat dzuhur pada hari itu, adalah pendapat yang tidak benar. Oleh sebab itu, para ulama menghindari pendapat ini, dan menegaskan salahnya pendapat ini, karena bertentangan dengan ajaran dan menganggap ada kewajiban yang gugur tanpa dalil.
Allahu a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa aalihii wa shahbihii wa sallam..
Ditandatangi oleh:
Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh
Anggota : Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghadyan, Bakr bin Abdullah Abu Zaid, dan Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan
Demikian Fatwa Lajnah Daimah, dengan beberapa penyesuaian.
Dialihbahasakan oleh 
✍ Ustadz Ammi Nur Baits حفظه الله تعالى