Header ads

Featured Post (Slider)

KABUT BERACUN ITU BERNAMA VALENTINE’S DAY

Azdi Ben Muhammad Senin, 08 Februari 2016 0

14 Februari adalah hari yang sangat istimewa bagi para pendewa Valentine’s Day. Pada hari itu mereka mengungkapkan rasa cinta dan sayang kepada orang-orang yang diinginkan. Ada yang menyatakan perasaannya kepada teman, guru, orang tua, kakak atau adik, dan yang paling banyak adalah yang menyatakan kepada kekasihnya. Pada hari itu pula mereka mengirimkan kartu atau hadiah bertuliskan ” Be my Valentine” (Jadilah Valentine-ku) atau sama artinya “Jadilah Kekasihku”.
Di Indonesia, sejak era 1980-an, perayaan Hari Valentine ini makin memprihatinkan. Jika kita masuk toko buku atau semisalnya di bulan Februari, akan tampak rak-rak yang berjajar berisikan beragam kartu ucapan Valentine’s Day. Tak mau kalah, toko-toko souvenir pun mulai menjajakan aneka kado bertema Valentine’s Day. Mall dan supermarket juga menghias seluruh ruangan dengan warna-warna pink dan biru lembut, dengan hiasan-hiasan berbentuk hati dan pita di mana-mana. Hampir semua media cetak dan elektronik pun jadi penggesa program misterius ini.
Dengan berfikir sedikit saja kita dapat mengetahui bahwa perayaan ‘aneh’ ini tidak lepas dari trik bisnis para pengusaha tempat hiburan, pengusaha hotel, perangkai bunga, dan lainnya. Akhirnya jadilah perayaan Valentine sebagai perayaan bisnis yang bermuara pada perusakan akidah dan akhlak pemuda Islam (khususnya). Saatnya kita bertanya pada diri kita masing-masing, apa yang sudah kita lakukan dalam penyelamatan generasi penerus kita.
Sekilas Sejarah Valentine’s Day
Ribuan literatur yang menyebutkan sejarah Hari Valentine masih berbeda pendapat. Ada banyak versi tentang asal-usul perayaan Valentine ini. Yang paling populer adalah kisah Valentinus (St. Valentine) yang diyakini hidup pada masa Claudius II yang kemudian menemui ajal pada 14 Februari 269 M. Namun kisah ini pun ada beberapa versi lagi.
Yang jelas dan tidak memiliki silang pendapat adalah kalau kita menilik lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi Kuno. Pada waktu itu ada sebuah perayaan yang disebut Lupercalia. Di dalamnya terdapat rangkaian upacara penyucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama dipersembahkan untuk Dewi Cinta , Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk bersenang-senang dan menjadi objek hiburan.
Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan Dewa Lupercalia terhadap gangguan serigala. Selama upacara ini, kaum muda memecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dipecut karena menganggap pecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur. Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. Kemudian agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Galasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama saint Valentine’s Dayuntuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari.
Jati diri St. Valentine sendiri masih diperdebatkan sejarawan. Saat ini, sekurang-kurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada 14 Februari. Di antaranya ada kisah yang menceritakan bahwa kaisar Caludius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat di medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda menikah. Tindakan kaisar itu mendapatkan tantangan dari St. Valentine yang secara diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga ia pun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M.
Dapat kita tarik beberapa kesimpulan:
1. Valentine’s Day berakar dari upacara keagamaan ritual Romawi Kuno untuk menyembah dewa mereka yang dilakukan dengan penuh kesyirikan.
2. Upacara yang biasa dilaksanakan pada 15 februari tersebut pada tahun 496 oleh Paus Galasius I diganti menjadi 14 Februari.
3. Agar dunia menerima, hari itu disamarkan dengan nama “hari kasih sayang” yang kini telah tersebar diberbagai negeri, termasuk negeri-negeri Islam.
Jangan Ikuti Budaya Kafir
Begitukah wahai saudaraku seiman, Hari Valentine berasal dari zaman Romawi yang seluruhnya tidak lain adalah bersumber dari paganisme syirik, penyembahan berhala, dan penghormatan kepada pastor. Selain itu, perayaan Valentine’s Day adalah salah satu makar orang-orang Yahudi yang diselundupkan ke dalam tubuh unat Islam supaya diikuti. Jadi, perayaan Valentine’s Day adalah salah satu acara yang diadakan orang-orang kafir dan orang-orang yang bergelimang dosa dalam rangka berbuat maksiat, mengumbar syahwat, dan memenuhi hawa nafsu belaka.
Di Bandung 12 Februari 2005, Studio Carton Multi Kreasi menggelar acara lomba menjijikkan yang diadopsi dari Amerika[Harian Pikiran Rakyat 13 Februari 2005]. Arini dari Muri menyatakan bahwa lomba serupa pernah digelar pada Desember 2001 di New York, AS. Mengapa masih banyak pemuda-pemudi Islam tertipu dan ikut-ikutan membeo budaya orang-orang kafir tersebut? Ingatlah wahai kaum muslimin, musuh-musuh Islam selalu berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan kalian dari ajaran agama kalian! Alloh berfirman:
وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar).”…(QS. Al-Baqoroh [2]: 120)
لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Sungguh kalian akan mengikuti sunnah perjalanan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga mereka memasuki lubang dhab (hewan sejenis biawak di Arab). Mereka berkata, “Wahai Rasulullah apakah mereka Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. Bukhari 7325 dan Muslim 2669)
Syaikh Sulaiman bin Abdulloh Alu Syaikh rahimahullah berkata: “Hadits ini merupakan mukjizat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sungguh mayoritas umatnya ini telah mengikuti sunnah perjalanan kaum Yahudi dan Nasrani dalam gaya hidup, berpakaian, syi’ar-syi’ar agama, dan adat-istiadat. Dan hadits ini lafazhnya berupa kabar yang berarti larangan mengikuti jalan-jalan selain agama Islam.” [Taisir Aziz al-Hamid hlm. 32]
Menyoroti Valentine’s Day
Setiap Februari menjelang, banyak remaja Indonesia yang notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan Valentine. Walau sudah banyak yang mendengar bahwa Valentine adalah salah satu hari raya umat Kristiani yang mengandung nilai-nilai akidah Kristen, namun hal ini tidak mereka pedulikan. Bisakah dibenarkan sikap dan pandangan seperti itu?
Lajnah Da’imah Arab Saudi pernah ditanya tentang perayaan Valentine’s Day, mengucapkan ucapan selamat, memberikan hadiah, dan menyediakan alat-alat untuknya, lantas dijawab oleh Lajnah:
“Dalil dalil yang jelas dari al-Qur’an dan sunnah serta kesepakatan ulama salaf telah menegaskan bahwa perayaan dalam Islam hanya ada dua, Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun perayaan-perayaan lainnya yang berkaitan dengan tokoh, kelompok, atau kejadian tertentu adalah perayaan yang diada-adakan [ Al-Hafizh Ibnu Rojab rahimullah berkata: “Sesungguhnya perayaan tidaklah diadakan berdasarkan logika dan akal sebagaimana dilakukan oleh ahli kitab sebelum kita melainkan berdasarkan syari’at dan dalil.” (Fathul-Bari: 1/159, Tafsir Ibnu Rajob: 1/390)]. Tidak boleh umat Islam merayakannya, menyetujuinya, menampakkan kegembiraan padanya, atau membantu kelancarannya karena hal itu berarti melanggar hukum Alloh yang merupakan suatu tindak kezaliman. Dan bila perayaan tersebut merupakan perayaan orang kafir maka maikn parah dosanya sebab hal itu merupakan tasyabbuh (menyerupai) mereka dan termasuk bentuk loyalitas kepada mereka, sedangkan Alloh dalam al-Qur’an yang mulia telah melarang kaum mukminin menyerupai orang-orang kafir dan loyal kepada mereka. Juga, telah shohih bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
و من تشبه بقوم فهو منهم
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.” (HR. Abu Dawud: 4031, Ahmad: 2/50, 92, dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwa’ul-Gholil: 1269)
Perayaan Valentine’s day termasuk hal di atas karena termasuk perayaan penyembah berhala dan umat Nasrani. Maka tidak boleh umat Islam yang beriman kepada Alloh dan hari akhir ikut merayakannya, menyetujuinya, dan mengucapkan selamat untuknya. Bahkan yang wajib adalah meninggalkannya dan menjauhinya sebagai ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya serta menjauhi sebab kemurkaan Alloh. Sebagaimana pula diharamkan membantu semaraknya acara ini atau perayaan-perayaan haram lainnya baik dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, mensponsori, dan sebagainya karena semua itu termasuk tolong-menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Alloh berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…(QS. Al-Ma’idah [5]: 2) [ Fatawa Lajnah Da’imah Lil-Buhuts Ilmiyyah wal-Ifta’: 21203 tgl. 22/11/1420.]
Syaikh Muhammad al-Utsaimin rahimahullah menyebukan beberapa dampak negatif perayaan Valentine’s Day. Beliau berkata dalam fatwa yang beliau tanda tangani bertanggal 5 Dzulqo’dah 1420 H:
“Perayaan ini tidak boleh karena alasan berikut:
Pertama. Valentine’s Day hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam.
Kedua. Merayakan Valentine’s Day dapat menyebabkan cinta yang semu.
Ketiga. Menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salafush-sholih radhiyallahu ‘anhum.
Maka tidak halal melakukan ritual hari raya dalam bentuk makan-makan, minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah, ataupun lainnya. Hendaklah setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, bukan menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan.” [ Majmu’ Fatawa wa Rosa’il kar. Syaikh Ibnu Utsaimin: 16/199-200. Lihat pula Fatawa Ulama’ Baladil-Haram hlm. 1022-1024 dan as-Sunan wal-Mubtada’at fil-A’yad hlm. 52 kar. Dr. Abdurrohman bin Sa’ad asy-Syisyri.]
Dampak buruk lainnya, terhapuslah nilai-nilai Islam serta memperbanyak jumlah mereka dengan mendukung dan mengikuti agama mereka.
Alhasil, hendaklah kaum muslimin sekarang ini mengetahui dan berhati-hati terhadap propaganda yang diserukan oleh orang-orang kafir yang berusaha menjauhkan kaum muslimin dari ajaran Islam dan melegalkan ajarannya yang sesat lagi menyesatkan.
Valentine, Hari Cinta?
Dikatakan, Valentine itu hari untuk menyebarkan kasih sayang dan cinta. Benarkah demikian? Salah, bahkan pernyataan itu sungguh memperihatinkan! Bukankah dengan demikian seolah-olah Islam tidak mengenal cinta kasih, padahal dalam Islam ajaran cinta kasih memiliki kedudukan tersendiri dengan skala prioritas sebagaimana tercantum dalam QS. al-Baqoroh [2]: 165, at-Taubah [9]: 24, al-Fath [48]: 29, dan al-Ma’idah [5]: 54.
Kelihaian dan kelicikan musuh Islam untuk menipu umat Islam patut diacungi jempol. Valentine’s Day yang berbau syirik pun bisa terbungkus dan terpoles rapi dan digandrungi oleh generasi muda Islam yang tidak memiliki kekuatan Ilmu agama.
Sesungguhnya cinta dalam Valentine’s Day hanyalah cinta semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Oleh karenanya, perhatikanlah bagaimana Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh para pemuka Islam melainkan juga oleh pemuka agama-agama lainnya. Di India misalnya, pernah diberitakan bahwa sejumlah aktivis dan pemuka agama Hindu berkumpul di Bombay pada Sabtu, 14 Februari 2004. Dengan lantang mereka menyerukan agar tidak ikut-ikutan merayakan Hari Valentine yang menganjurkan dekadensi moral dan merusak tradisi India. Seorang aktivis berteriak: “Valentine’s Day bukan bagian dari kepribadian dan tradisi agama kita. Selain itu, apa yang diajarkan oleh Valentine’s day itu sungguh-sungguh akan merusak tatanan nilai dan norma kehidaupan bermasyarakat warga India. Janganlah ikut-ikutan Barat!!” [ Kantor BeritaReuters 12 Februari 2005]
Kesimpulan
Valentine’s Day merupakan hari raya orang kafir yang penuh kesyirikan. Tidak boleh umat Islam ikut-ikutan merayakannya, dan membantu memeriahkannya dengan memperdagangkan alat-alat yang digunakan. Wajib umat Islam menghindari kemurkaan Alloh. Allohu A’lam. []
Sumber: Majalah Al Furqon, edisi 6 th. Ke-8, Muhorram 1430 H (Jan. ’09) | abusalma.net


Jangan Salah Mencintai

Azdi Ben Muhammad Jumat, 25 Desember 2015 0


Rasulullah  bersabda :
المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang bersama dgn yg dicintainya” 
(HR Al-Bukhari no 6169)
Fenomena menyedihkan tatkala banyak kaum muslimin (terutama dari golongan pemuda) yang sangat mencintai para pelaku maksiat, bahkan mereka dari kalangan orang-orang kafir !! (terutama para pemain film & penyanyi serta olahragawan).
Foto orang-orang kafir tersebut dipajang di kamar-kamar mereka, menjadi penyejuk pandangan mereka…. sebelum dan tatkala bangun tidur…
Bahkan mereka meniru gaya berpakaian orang-orang kafir tersebut…
mereka hafalakan lantunan-lantunan orang-orang kafir tersebut...
mereka pelajari perjalanan hidup orang-orang kafir tersebut…!!
Jika salah seorang dari mereka ditanya tentang sejarah, nama dan nasehat2 Abu Bakar…Umar… Imam Syafii ?, maka terdiamlah ia... !!!
Bahkan kecintaan sebagian mereka sudah sangat mendalam kepada orang-orang kafir tsb, terbukti tatkala para artis tsb datang ke negeri-negeri kaum muslimin maka merekapun berbondong-bondong menyambut para idola mereka yang kafir, hingga ada yang histeris tatkala menyaksikan idolanya, bahkan ada diantara mereka yg pingsan.... karena terlalu gembira..?
Apa yg akan mereka perbuat dengan sabda Nabi “Seseorang (dikumpulkan diakhirat kelak) bersama yang ia cintai” ???!!!
KARENANYA…
cintailah orang-orang sholeh...
Tirulah gaya hidup mereka…
patuhilah petuah-petuah mereka..
yaitu orang-orang yg jika kita mengingat mereka… maka kita akan mengingat akhirat…
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullāh pernah berkata dgn penuh tawadhu'
أُحِبُّ الصَّالحين وَ لَسْتُ مِنْهُمْ *** لَعَلِّيَ أََنْ أَنَالَ بِهِمْ شَفَاعَهْ
Aku mencintai orang-orang shaleh meski aku bukan dari mereka
Aku berharap, dgn mencintai mereka, aku nanti mendapatkan syafaat
وَأَكْرَهُ مَنْ تِجَارَتُهُ الْمَعَاصِي *** وَلَوْ كُنَّا سَوَاءً فِي الْبِضَاعَهْ
Dan aku membenci orang yg maksiat adalah dagangannya
Meski dagangan kami sama…

✍ Ustādz Firanda Andirja, MA hafidzahullāh 

Adab Kepada Ustādz Yang Semakin Pudar

Azdi Ben Muhammad Kamis, 24 Desember 2015 0

Al-‘Abdari menceritakan dalam Rihlah-nya hlm. 110 tentang sebab mengapa al-Qa’nabi tidak mendengar dari Syu’bah kecuali hanya satu hadits saja. Alkisah, suatu saat al-Qa’nabi pergi menuju kota Bashrah untuk mendengar hadits dari Syu’bah, tetapi ternyata majelis kajiannya telah selesai dan Syu’bah telah pulang ke rumahnya. Karena dorongan semangat menggelora yang tinggi, dia bertanya alamat rumah Syu’bah, dia pun menuju ke rumah (Syu’bah) yang kebetulan pintunya tengah terbuka. Tanpa permisi, dia pun langsung masuk dan berkata kepada Syu’bah yang sedang buang hajat, “Assalamu’alaikum. Saya orang asing, datang dari jauh untuk mendapatkan hadits dari Anda.”

Mendengar hal itu, Syu’bah kaget dan geram seraya mengatakan, “Wahai orang ini, Anda masuk rumahku tanpa permisi, lalu mengajak bicara denganku padahal kondisiku sekarang seperti ini, tolong menjauhlah dariku sehingga aku selesai buang hajat!!” Dia mengatakan, “Saya khawatir ketinggalan lagi dan luput hadits dariku.” Dia terus mengulang kata-kata tersebut. Karena terdesak, maka Syu’bah berkata, “Ya sudah, tulislah hadits Manshur bin Mu’tamir dari Rib’i dari Abu Mas’ud al-Badri dari Nabi bahwa beliau bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ

“Termasuk ucapan peninggalan para nabi dahulu adalah: ‘Jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu.’ ” (HR. Bukhari no. 3483)

Setelah itu, Syu’bah tidak menceritakan hadits lainnya kepadanya. Itulah sebabnya dia (al-Qa’nabi) meriwayatkan dari Syu’bah hanya satu hadits saja.
[Dinukil oleh Syaikh Masyhur bin Hasan alu Salman dalam al-Bayan wal Idhah Syarh Nazhmil al-Iraqi lil Iqtirah hlm. 124 dan ta’liq al-Kafi fi ’Ulumil Hadits hlm. 658 oleh at-Tibrizi.)

Di antara faedah berharga dari kisah ini adalah agar kita menjaga adab kepada guru ketika kita bertanya atau bertemu dengannya, maka carilah situasi dan kondisi yang tepat dan bertanyalah dengan santun dan keikhlasan.

✍ Ustādz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi hafidzahullāh 

Ucapan "SELAMAT NATAL" Haram Berdasarkan Ijma'

Azdi Ben Muhammad Rabu, 23 Desember 2015 0

Ucapan "Selamat Natal" Haram Berdasarkan Ijma'

Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menerangkan:
وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه
“Adapun tahni’ah (ungkapan selamat) atas syi’ar-syi’ar orang kafir yang menjadi kekhususan mereka hukumnya haram menurut kesepakatan para Ulama (ijma'). Seperti mengucapkan selamat atas hari-hari raya mereka atau puasa mereka. Umpamanya dengan mengatakan, “Hari yang berkah atasmu”, atau “Selamat hari raya”, atau yang semisalnya. Maka sekalipun pengucapnya itu selamat dari kekufuran, akan tetapi ia telah terjerumus dalam perbuatan yang haram. Konteksnya sama saja seperti memberi ucapan selamat terhadap sujudnya mereka kepada salib, bahkan hal tersebut lebih berat lagi dosanya di sisi Allah dan lebih besar lagi kemurkaan-Nya ketimbang mengucapkan selamat atas meminum khamr, membunuh orang, atau berzina dan yang semisalnya.” (Ahkamu Ahlidz Dzimmah 1/205)
Kerancuan Memahami Ayat
Sebagian orang yang berpenyakit hatinya terus berusaha membikin talbis (pengkaburan) pemahaman kaum Muslimin dengan mencatut ayat dan menerjemahkan sesuai selera hawa nafsunya. Akibatnya ucapan “selamat natal” pun ditolerir dengan dalih ayat berikut:
وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam: 33)
Kalimat, “Was salaam (dan kesejahteraan) semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku…” mereka terjemahkan “Selamat natal (kelahiran) Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.”
Itulah syubhat (kerancuan) yang disuarakan oleh kelompok-kelompok pluralis di hari-hari mendekati perayaan natal ini. Dan untuk mematahkan syubhat mereka cukuplah kita merujuk kepada warisan Salafusshalih dalam memahami ayat-ayat tersebut. Sebab para Salafusshalih adalah pihak yang paling dikenal keistiqamahannya dalam meneladani cara beragama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Shahabatnya.
Al-Imam Ibnu Jarir At-Thabari (Wafat 310 H) berkata:
والأمنة من الله عليّ من الشيطان وجنده يوم ولدت
“(Maknanya) dan penjagaan Allah terhadapku (Nabi ‘Isa) dari Syaithan dan tentaranya ketika aku dilahirkan.” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an 18/193)
Al-Imam Al-Baghawi Asy-Syafi’i (Wafat 510 H):
السلامة عند الولادة من طعن الشيطان
“Keselamatan dari celaan syaithan pada saat kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.” (Ma’alimut Tanzil 5/230)
Al-Hafidzh Ibnu Katsir Asy-Syafi’i (Wafat 774 H):
ولكن له السلامة في هذه الأحوال
“Akan tetapi, Allah selamatkan Nabi ‘Isa pada saat-saat tersebut (dilahirkan, diwafatkan, dibangkitkan).” (Tafsirul Qur’anil ‘Adzhim 5/230)
Dan masih banyak lagi keterangan para Ulama Mufassirin lainnya yang menerangkan bahwa makna ayat tersebut sebagai penjagaan Allah terhadap Nabi ‘Isa, sama sekali tidak menunjukkan ucapan “selamat natal” yang sejatinya mengakui kelahiran anak Tuhan. Dan para Ulama telah mencapai kata sepakat atas haramnya ucapan tersebut. Maka jika mengucapkan selamat hari raya orang kafir saja dilarang, tentu lebih berat lagi jika sampai mengikuti hari raya mereka, wallahul musta'an.
✒_____
Fikri Abul Hasan
�� WhatsApp Group
"Al-Madrasah As-Salafiyyah"

Jadikanlah Amalmu Sebagai Kekasihmu

Azdi Ben Muhammad Senin, 14 Desember 2015 0

JADIKANLAH AMALMU SEBAGAI KEKASIHMU !

 ✍ Ustādz Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى
Hatim -rohimahulloh- mengatakan:
“Aku telah memperhatikan semua makhluk, kudapati setiap orang memiliki kekasih, tapi jika sampai ke kuburnya, kekasih itu pun meninggalkannya.
Oleh karena itu, aku jadikan kekasihku adalah amal-amal baikku, agar dia di alam kubur bersamaku”.
[Sumber: Mukhtashor Minhajul Qoshidin, hal:28]

WALAUPUN TIDAK WAJIB

AZDI NAWAWI Minggu, 25 Oktober 2015 0

Al Qurthubi rahimahullahu berkata:
“Siapa yang terus menerus meninggalkan sunnah, maka itu kekurangan dalam agamanya..
Jika ia meninggalkannya karena meremehkan dan tidak suka..Maka itu kefasikan.."

Karena adanya ancaman dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

من رغب عن سنتي فليس مني

“Siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.”
Dahulu para shahabat dan orang-orang yang mengikutinya senantiasa menjaga yang sunnah sebagaimana menjaga yang wajib..
Mereka tidak membedakan keduanya dalam meraih pahala..
(Fathul Baari syarah Shahih Al Bukhari 3/265).

Banyak sunnah yang diremehkan di zaman ini..
Dengan alasan: ah itu kan cuma sunnah..
Padahal sunnah bukanlah untuk ditinggalkan..
banyak perkara sunnah yang berpahala amat besar..
Seperti shalat qabliyah shubuh yang lebih baik dari dunia dan seisinya..
Bahkan ada amalan sunnah yang menjadi tonggak kebaikan..

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

“Senantiasa manusia di atas kebaikan selama mereka bersegera berbuka puasa.”
(HR Bukhari dan Muslim).
Bagi kita penuntut ilmu..
Mari hiasi hari hari dengan sunnah..
Meraih cinta Allah..
Dia berfirman dalam hadits qudsi..

ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه

“Senantiasa hambaKu bertaqarrub(mendekatkan diri)kepadaku dengan ibadah yang sunnah hingga Aku mencintainya.”

Untuk inilah kita berlomba..

Barakallahu fikum,
Semoga bermanfaat.

Ustādz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Sabar Saat Mendapat Musibah

AZDI NAWAWI Kamis, 22 Oktober 2015 0



Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata:
Kebaikan yang tiada kejelekan padanya adalah bersyukur ketika sehat wal afiat, serta bersabar ketika diuji dengan musibah. Betapa banyak manusia yang dianugerahi berbagai kenikmatan namun tiada mensyukurinya. Dan betapa banyak manusia yang ditimpa suatu musibah akan tetapi tidak bersabar atasnya.” 
(Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 158)
Beliau rahimahullahu juga berkata:
Tidaklah seorang hamba menahan sesuatu yang lebih besar daripada menahan al-hilm (kesantunan) di kala marah dan menahan kesabaran ketika ditimpa musibah.” (Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 62)
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:
Tiga perkara yang merupakan bagian dari kesabaran; engkau tidak menceritakan musibah yang tengah menimpamu, tidak pula sakit yang engkau derita, serta tidak merekomendasikan dirimu sendiri.” (Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 81)
→ Dikutip dari http://www.asysyariah.com kumpulan permata salaf.