Header ads

MITOS-MITOS ANEH YANG BUKAN BERASAL DARI ISLAM

azdinawawi Selasa, 31 Juli 2018 0

MITOS-MITOS ANEH YANG BUKAN BERASAL DARI ISLAM

1. Ngidam tidak dipenuhi, berpengaruh pada bayi.
Diyakini bahwa keinginan yang biasanya dialami oleh wanita hamil ( dikenal dengan istilah ‘ngidam’ ) bila tidak terpenuhi akan berpengaruh pada sang bayi !
Dikatakan bahwa ngidam yang tidak dipenuhi akan menyebabkan si anak suka berliur ( Jawa : ngileran ) ketika sudah terlahir ke dunia. Ini hanya mitos belaka.
2. Acara tujuh bulanan.
Di daratan jawa acara tujuh bulanan ( Jawa : mitoni ) bagi wanita yang sedang hamil masih terpelihara pada sebagian daerah. Tujuan mereka membuat acara agar si bayi nanti hidup sehat, selamat sampai lahir. Jelas ini tidak ada ajarannya dalam islam.
3. Suami si wanita yang hamil dilarang membunuh hewan.
Atau membunuh yang semisalnya dengan keyakinan akan membahayakan bayi.
4. Ucapan ‘amit-amit jabang bayi.
Kata-kata ini yang diucapkan ibu hamil ketika melihat sesuatu yang dia benci, dengan keyakinan bahwa jika tidak mengucapkan itu maka apa yang ia benci itu akan dialami oleh bayinya.
5. Ibu hamil membaca al-Qur’an surat Yusuf dan Maryam.
Dengan itu diharapkan bila yang lahir laki-laki akan tampan dan ganteng seperti Nabi Yusuf ‘alayhissalam.
Dengan membaca al-Qur’an surat Maryam diharapkan bila yang lahir perempuan akan cantik seperti Maryam.
Jelas ini tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan para sahabatnya.
6. Kokok ayam ditengah malam, isyarat wanita hamil diluar nikah.
Kepercayaan ini hasil utak-atik orang terhadap perkara yang dianggap ganjil. Misalnya secara kebetulan ada kejadian yang berbarengan. Keyakinan seperti ini tidaklah dibenarkan karena tidak berlandaskan dalil.
7. Wanita hamil harus membawa gunting.
Hal itu dianggap benteng untuk menolak bala dan musibah.
8. Membuat tempat khusus untuk ari-ari.
Bahkan diberi lampu dan penerang lainnya selama beberapa hari.
9. Ari-ari adalah saudara kembar bayi.
Ada anggapan bahwa ari-ari adalah saudara si bayi. Karena itu, perlu diberi perlakuan khusus dengan mengadakan upacara tertentu ketika memendamnya.
10. Keberatan nama.
Jika bayi mempunyai nama yang panjang kemudian si bayi sering sakit maka masyarakat beranggapan bahwa bayi tersebut keberatan nama.
11. Kupu-kupu masuk rumah.
Jika ada kupu-kupu masuk rumah maka itu dikatakan merupakan pertanda akan ada tamu berkunjung. Allahu A’lam, kami tidak mengetahui dari mana asalnya keyakinan semacam ini.
12. Jika berjumpa ular atau menabrak kucing.
Jika anda berjumpa ular weling melintas dijalan yang akan anda lalui, atau anda menabrak kucing di jalan, maka diyakini bahwa itu pertanda buruk. Jelas ini adalah tathayyur yang dilarang dalam Islam.
13. Burung hantu hinggap di atas rumah.
Jika burung hantu berbunyi di sebuah rumah maka diyakini itu pertanda ada orang di rumah itu yang akan segera meninggal.
Itulah sebagian pemikiran penyimpangan berbahaya yang sering dilakukan oleh para wanita dan hendaknya segera ditingggalkan. Allahu A’lam.
Ustadz Abu Aniisah Syahrul Fatwa bin Lukman, حفظه الله تعالى
[Diambil dari sebuah postingan di Facebook]
--------
Artikel Tambahan Tentang Mitos
Sebagian masyarakat kita sangat percaya dengan mitos kesialan yang disebabkan hal-hal tertentu. Misalnya anggapan sial supir setelah menabrak kucing hingga mati, burung gagak yang dipercaya membawa kematian, hingga mitos angka tertentu yang dipercaya membawa sial seperti angka 13. Anda dapat menjumpai betapa hebatnya dampak dari mitos anggapan sial ini dengan melihat gedung-gedung pencakar langit yang dirancang, dihitung dengan software canggih, dan dibangun oleh engineer terkemuka lulusan universitas ternama, namun kenyataanya mereka tidak berani menamai lantai 13 karena anggapan sial, dan mengganti nama lantainya dengan lantai 12A. Allahul musta’an.
Islam sebagai agama yang paripurna, datang dan menghapus seluruh anggapan masyarakat jahiliah terkait adanya kesialan. Islam mengajarkan pemeluknya untuk bertawakkal kepada Allah Ta’ala, mengerahkan seluruh daya upaya (sebab) sembari tetap menyandarkan diri pada Allah Ta’ala. Tulisan berikut akan mengupas lebih jauh tentang anggapan sial (thiyarah) menurut pandangan Islam. Semoga Allah mudahkan.
Mengenal Thiyarah
Ibn Hajar Al Asqalani As Syafi’i rahimahullah menjelaskan, “Asal usul thiyarah (berasal dari kata tha’ir yang artinya burung -pent) yaitu bangsa Arab di masa jahiliah mereka suka berpatokan pada burung. Apabila mereka keluar rumah kemudian melihat burung yang terbang ke arah kanan, mereka menganggapnya sebagai pertanda baik. Namun bila burung itu mengarah ke sisi kiri, dianggapnya pertanda sial dan mereka kembali lagi ke rumah dan tidak jadi pergi. Kemudian datanglah syariat Islam yang melarang hal demikian” (Fathul Bari). Apabila burung tersebut sengaja dilempar untuk mengetahui arah terbangnya, lalu dikaitkan dengan mitos kesialan, maka aktifitas ini disebut dengan tathayyur.
Contoh penggunaan kata thaa’ir yang bermakna kesialan dalam Al Qur’an diantaranya firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Ketahuilah sesungguhnya thaa’ir (kesialan) mereka itu adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi mereka tidak mengetahui” (QS. Al A’raaf : 131). Ayat ini berkisah tentang anggapan sial yang sengaja diciptakan oleh Fir’aun terhadap dakwahnya Nabi Musa ‘alaihissalam. Firaun melemparkan tuduhan bahwa dakwah Nabi Musa adalah penyebab sial berupa wabah dan bencana yang melanda negerinya. Di zaman ini pun banyak mitos anggapan sial yang sengaja diciptakan untuk menjauhkan manusia dari Rabbnya, membuat mereka tidak lagi bertawakkal menyandarkan dirinya pada Allah semata.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pun dengan tegas melarang anggapan sial dan memasukkannya dalam salah satu jenis kesyirikan. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “At thiyarah (anggapan sial) itu perbuatan syirik, at thiyarah itu perbuatan syirik” (HR Abu Daud, shahih).
Hukum Mempercayai Mitos Kesialan
Al Imam An Nawawi rahimahullah berkata, “Apabila seseorang meyakini bahwa mitos kesialan tertentu jika terjadi, dapat memberi manfaat atau mendatangkan marabahaya serta ia meyakini akan dampaknya, maka ia telah berbuat kesyirikan karena menganggap suatu mitos sebagai penyebab terjadinya suatu hal” (Syarh Shahih Muslim).
Adapun dari sisi apakah tathayyur termasuk syirik akbar ataukah syirik kecil, dijelaskan sebagai berikut.
Apabila ia meyakini bahwa suatu mitos kesialan sebagai penentu bagi terjadinya marabahaya, seperti meyakini bahwa sebuah kecelakaan terjadi adalah murni karena supir telah menabrak kucing hingga mati, tanpa menyandarkan kecelakaan tersebut pada Allah Ta’ala sama sekali, maka ini syirik akbar yang mengeluarkan dari Islam karena pelakunya telah meyakini adanya pengatur alam semesta selain Allah Ta’ala.
Apabila ia meyakini bahwa suatu mitos kesialan sebagai sebab yang berdampak negatif, padahal itu hanyalah mitos yang tidak ditetapkan syariat, dan tidak pula masuk akal, maka ini termasuk syirik kecil. Syirik kecil termasuk dosa besar yang dosanya lebih besar dari zina dan membunuh seorang muslim tanpa hak, dan wajib bagi seorang muslim untuk bertaubat darinya. Contohnya seorang supir setelah menabrak kucing hingga mati kemudian supir tersebut mengalami kecelakaan. Seseorang meyakini kecelakaan tersebut dapat terjadi karena takdir Allah, namun juga meyakini karena pengaruh supir menabrak kucing hingga mati. Maka ini termasuk Syirik kecil. (lihat Qaulul Mufid).
Dampak Negatif Mitos Sial
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Seorang yang percaya dengan mitos kesialan, hatinya akan terasa capek dan dadanya terasa sempit. Ia akan senantiasa berkhayal bahwa apa yang ia lihat dan ia dengar adalah penyebab sial. Ia menjadi manusia yang paling pengecut, paling sempit dadanya, dan paling sedih hatinya. Betapa banyak rasa waswasnya atas bahaya yang akan terjadi dan ia akan sering membatalkan suatu urusan karena percaya mitos kesialan itu, hingga berakibat terhalang baginya berbagai peluang rizki dan berbagai macam kebaikan.” (Miftah Daar Aas Sa’adah).
Agar Terhindar dari Mitos Sial
Berikut ini beberapa tips agar kita terhindar dari mempercayai anggapan sial.
Bertawakkal kepada Allah Ta’ala. Ibn Rajab rahimahullah berkata, ”Tawakkal ialah bergantungnya hati dengan jujur pada Allah Ta’ala, dalam memperoleh kemanfaatan maupun terhindar dari kemadharatan, dalam seluruh perkara, baik perkara dunia maupun akhirat”. Tawakkal amatlah penting bagi seorang mukmin, karena itulah bukti keimanannya pada Alllah Ta’ala. Allah berfirman (yang artinya), “Dan kepada Allah hendaknya engkau bertawakkal, bila kalian memang orang-orang yang beriman” (QS. Al Maidah : 23). Seorang yang bertawakkal tidak akan terpengaruh dengan mitos sial yang menimpanya. Ia akan menggantungkan hatinya pada Allah Ta’ala yang Maha Berkuasa dan Berkehendak atas segala sesuatunya.
Tidak memperdulikan bila melihat sesuatu yang dianggap membawa sial. Al Munawi berkata, “Barangsiapa yang mendapati suatu yang dianggap membawa sial, hendaklah ia memohon kebaikan pada Allah, berlindung kepada Allah dari keburukan, dan tetap melanjutkan urusan seraya bertawakkal padaNya” (Faidhul Qadir). Seseorang telah dianggap terjatuh dalam perbuatan thiyarah apabila ia membatalkan urusan setelah melihat kejadian yang dianggap membawa sial. Maka apabila menjumpainya, jangan membatalkan urusan dan tetap lanjutkan hingga selesai.
Menunaikan kaffarah thiyarah. Apabila telanjur seseorang membatalkan urusan setelah melihat suatu yang dianggap membawa sial, hendaklah ia menunaikan kaffarah (tebusan). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang thiyarah menghalangi keperluannya maka ia telah berbuat syirik. Para shahabat bertanya, ‘Lalu apakah kaffarahnya (penggantinya)?’. Beliau menjawab, ‘Hendaklah ia berdoa “Allahumma laa khaira illa khairuka, wa laa thiyara illaa thiyaruka, wa laa ilaaha ghairuka” Ya Allah, tiada kebaikan selain kebaikanMu, tiada kesialan selain dari ketetapanMu, dan tiada sesembahan yang berhak selainMu (HR Ahmad, Ibn Sunniy, dan At Thabrani, shahih).
Anjuran tafa’ul, sebagai ganti dari tathayyur. Berbeda dengan tathayyur, tafa’ul ialah beranggapan untung setelah menjumpai sesuatu. Misalnya dalam suatu perjalanan di bus, berkenalan dengan seorang penumpang yang bernama Slamet, maka ia berprasangka baik pada Allah bahwa perjalanannya semoga akan diberi keselamatan sampai tujuan (Mutiara Faidah Kitab Tauhid, Ust. Abu Isa). Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada thiyarah, dan al fa’lu adalah yang terbaik”. Para shahabat bertanya, “Apakah itu fa’l?”. Rasulullah menjawab, “Yaitu kalimat baik yang didengar salah seorang diantara kalian” (HR Bukhari dan Muslim).
Keterangan Ulama Madzhab Syafi’i Mengenai Tathayyur
Ibnu Hajar Al Haitsami As Syafi’i dalam Fatawa Al Haditsiyah berkata, “Barangsiapa yang bertanya tentang hari sial dan sesudahnya maka tidak perlu dijawab, melainkan dengan berpaling, menganggap bodoh tindakannya dan menjelaskan keburukannya. Dan menjelaskan bahwa semua itu merupakan kebiasaan orang Yahudi, bukan petunjuk bagi orang Islam yang bertawakal kepada penciptanya yang tidak pernah menggunakan hisab (perhitungan hari baik dan buruk). Sedangkan keterangan menegenai hari-hari sial dan semacamnya yang dinukil dari Ali radhiyallahu ‘anhu adalah batil dan merupakan suatu kebohongan yang tidak memiliki dasar. Karena itu berhati-hatilah kalian dari hal-hal tersebut” (fatwa ini dapat dilihat dalam Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama Ke-3 di Surabaya pada tanggal 12 Rabiuts Tsani 1347 H / 28 September 1928 M).
Semoga Allah memberikan kita taufiq dan hidayah dalam mentauhidkanNya.
Penulis : Yhouga Pratama, ST. (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)
Muroja’ah : Ustadz Abu Salman, BIS
Pertanyaan :Sebutkan tips agar kita terhindar dari mempercayai anggapan sial?
Jawaban:Bertawakkal kepada Allah Ta’ala
Tidak memperdulikan bila melihat sesuatu yang dianggap membawa sial
Menunaikan kaffarah thiyarah
Melakukan tafa’ul, sebagai ganti dari tathayyur.


Menolak Pinangan Karena Tidak Sekufu [?]

azdinawawi Minggu, 29 Juli 2018 0

Tanya:

“Assalamu’alaikum. Bagaimana maksud sekufu dalam menentukan jodoh? Jika ada seorang ikhwan yang shalih yang bermaksud meminang seorang akhwat yang secara latar belakang ekonomi dan sosial memiliki perbedaan sosial yang cukup jauh (akhwatnya dari keluarga menengah sehingga ortu akhwat tidak bisa menerima). Apakah syar’i jika akhwat menolak pinangan tersebut?”
08193172xxxx
Jawab:
Wassalamu’alaikum wa rahmatullah
Yang dimaksud dengan sekufu adalah kesetaraan. Artinya ada kesetaraan dan kesamaan antara calon suami dengan calon istri dalam hal-hal tertentu. Misalnya sekufu dalam hal harta artinya kekayaan calon suami itu kurang lebih setara dengan kekayaan istri.
Kesetaraan yang disepakati ulama bahkan menyebabkan pernikahan tidak sah jika kesetaraan ini tidak diperhatikan adalah kesetaraan dalam agama. Setara dalam agama artinya agama calon suami dan istri itu sama. Seorang muslimah hanya setara dengan seorang muslim. Para ulama sepakat bahwa seorang wanita muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki kafir (Tanya Jawab Masalah Nikah dari A sampai Z hal 150, terbitan Media Hidayah).
Sedangkan kesetaraan dalam masalah yang lainnya diperselisihkan oleh para ulama, apakah perlu diperhatikan ataukah tidak.
Pernikahan yang tidak dilandasi oleh kesetaraan (selain sekufu dalam agama dan menjaga kehormatan) itu tidaklah haram. Setelah Allah menyebutkan wanita-wanita yang haram dinikahi, Allah berfirman,
وَأُحِلَّ لَكُمْ مَا وَرَاءَ ذَلِكُمْ أَنْ تَبْتَغُوا بِأَمْوَالِكُمْ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ
“Dan dihalalkan bagi kamu perempuan selain itu (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina …” (QS An Nisa:24).
Dampak negatif pernikahan yang tidak dilandasi kesetaraan adalah timbulnya dampak bagi pihak perempuan dan walinya. Kalau seandainya pihak perempuan dan walinya ridha dengan aib yang ditanggungnya maka akad nikah sah. Demikianlah pendapat ulama yang beranggapan bahwa sekufu dalam selain masalah agama adalah masalah yang urgen. (Tanya Jawab Masalah Nikah dari A dari Z hal 167).
Dalil ulama yang berpendapat adanya sekufu dalam masalah harta adalah sebagai berikut:
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتَقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لاَ مَالَ لَهُ انْكِحِى أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ ».
فَكَرِهْتُهُ ثُمَّ قَالَ « انْكِحِى أُسَامَةَ ». فَنَكَحْتُهُ فَجَعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا وَاغْتَبَطْتُ بِهِ.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah binti Qais tentang dua orang yang telah melamarnya,
“Abu Jahm adalah orang yang suka memukul istrinya. Sedangkan Muawiyah adalah orang yang tidak berharta. Menikahlah dengan Usamah”. Sebenarnya aku tidak suka dengan Usamah namun sekali lagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Menikahlah dengan Usamah”. Ahirnya aku menikah dengannya. Dengan sebab tersebut Allah memberikan kebaikan yang banyak sehingga aku merasa beruntung (HR Muslim no 3770 dari Fathimah binti Qois).
عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ أَحْسَابَ أَهْلِ الدُّنْيَا هَذَا الْمَالُ ».
Dari Buraidah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kemulian orang yang hidup di dunia adalah dengan harta” (HR Ahmad no 23109, sanadnya kuat menurut Syeikh Syuaib Al Arnauth).
Di antara dalil yang digunakan oleh para ulama yang berpendapat bahwa sekufu dalam harta itu tidak teranggap adalah hadits dalam Shahih Bukhari. Dalam riwayat tersebut disebukan bahwa Zainab, isteri Abdullah bin Mas’ud meminta izin kepada Rasulullah untuk memberikan sedekah kepada suaminya. Kejadian ini menunjukan bahwa Zainab itu jauh lebih kaya dibandingkan Ibnu Mas’ud. (Lihat Tanya Jawab Masalah Nikah dari A Sampai Z hal 161-163).
Ringkasnya kita punya kewajiban untuk menghormati orang yang memilih pendapat adanya sekufu dalam masalah harta dalam pernikahan. Oleh karena itu, kami nasehatkan kepada orang yang mendapatkan musibah karena hal ini untuk bersabar. Sesungguhnya dunia itu tidaklah selebar daun kelor.
Meski pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan tidak adanya sekufu dalam masalah harta dalam pernikahan.
Muhammad bin Ismail Ash Shan’ani mengatakan, “Terdapat perselisihan yang banyak di antara para ulama tentang sekufu yang harus diperhatikan dalam pernikahan. Pendapat yang kuat adalah pendapat Zaid bin Ali dan Malik. Juga terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa hal ini adalah pendapat Umar, Ibnu Mas’ud, Ibnu Sirin, Umar bin Abdul Aziz dan salah satu pendapat An Nashir. Pendapat ini mengatakan bahwa sekufu yang teranggap dalam pernikahan hanyalah agama mengingat firman Allah,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (QS Al Hujurat:13).

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم الناس ولد آدم وآدم من تراب

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua manusia adalah keturunan Adam dan Adam itu tercipta dari tanah” (HR Ibnu Saad dalam Thabaqat dan dinilai hasan oleh al Albani dalam Silsilah Shahihah no 1009).[Subulus Salam al Mushilah ila Bulugh Maram 6/58, terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh cetakan keempat 1424H].
Source : ustadzaris.com

Bila Kehidupanmu tak Terarah

azdinawawi Sabtu, 28 Juli 2018 0

Bila Kehidupanmu Tak Terarah...
=====
Ibnul Qayyim -rahimahullah- mengatakan:
"Hati yang kacau tidak menentu, 
tidak ada yang bisa memperbaikinya 
kecuali menghadapkan hati itu kepada Allah".
[Zadul Ma’ad 2/82]
Sufyan bin Uyainah -rahimahullah- sebelumnya telah mengatakan:
"Para ulama dahulu biasa saling menasehati satu sama lain dengan kata-kata ini:
Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, 
niscaya Allah perbaiki keadaan lahirnya.
Barangsiapa memperbaiki hubungan dia dengan Allah, 
niscaya Allah akan perbaiki hubungan dia dengan manusia.
Barangsiapa beramal untuk akhiratnya, 
niscaya Allah akan cukupkan kehidupan dunianya".
[Kitab Ikhlash, karya Ibnu Abid Dunya]
-----
Seringkali kita merasa keadaan kita tidak terarah, 
tidak menentu, tidak teratur, hampa, gersang, dan seterusnya..
Jika keadaan ini menimpa kita, 
ingatlah bahwa itu pertanda kita sudah jauh dari Allah.. 
Solusinya sangat sederhana sebenarnya, 
hanya saja semua kembali kepada kita, mau atau tidak untuk move on.
Segeralah kembali kepada Allah, dan fokuslah dengan ibadah..
Jika ibadah kita beres, Allah akan membereskan kehidupan kita dan memberkahi waktu kita.. 
Karena sangat tidak mungkin Allah menelantarkan orang yang mendekat kepada-Nya 
dengan ikhlas dan sesuai tuntunan.

Silahkan dishare.. 
Semoga bermanfaat..

Ustadz DR. Musyaffa' Ad Dariny, MA hafizhahullah 
(Status Facebook, 16 Juli 2017).

Beda Shalat Syuruq (Isyraq) dengan Shalat Dhuha

azdinawawi 0

Beda Shalat Syuruq dengan Shalat Dhuha

Apa beda antara shalat syuruq dan shalat dhuha?. Jika orang sudah shalat syuruq, apakah masih perlu shalat dhuha?
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Kita akan melihat definisi dhuha. Dhuha adalah nama untuk waktu. Secara bahasa “Dhuha” diambil dari kata ad-Dhahwu [arab: الضَّحْوُ] artinya siang hari yang mulai memanas. (Al-Ain, kata: ضحو).
Allah berfirman:
وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَى
Di surga kamu tidak akan mengalami kehausan dan kepanasan karena sinar matahari” (QS. Thaha: 119).
Kaitannya dengan makna bahasa kata dhuha, pada ayat di atas, Allah menyebutkan kenikmatan ketika di surga, salah satunya tidak kepanasan karena sinar matahari, yang itu diungkapkan dengan kata: [وَلَا تَضْحَى].
Sedangkan menurut ulama ahli fiqh, Dhuha artinya,
ما بين ارتفاع الشمس إلى زوالها
“Waktu ketika matahari mulai meninggi sampai datangnya zawal (tergelincirnya matahari). (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 27/221).
Nama “shalat dhuha” dikaitkan kepada waktu. Seperti shalat dzuhur, atau shalat maghrib, dst. Nama-nama ini dikaitkan dengan waktu. Sehingga shalat dhuha berarti shalat yang dilaksanakan di waktu dhuha.
Sebagaian ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa waktu mulainya shalat dhuha adalah tepat setelah terbitnya matahari. Namun dianjurkan untuk menundanya sampai matahari setinggi tombak. Pendapat ini diriwayatkan An Nawawi dalam kitab Ar-Raudhah.
Sebagian ulama syafi’iyah lainnya berpendapat bahwa shalat Dhuha dimulai ketika matahari sudah setinggi kurang lebih satu tombak. Pendapat ini ditegaskan oleh Ar Rofi’i dan Ibn Rif’ah.
Demikian yang menjadi pendapat Imam Abu Syuja’ dalam matan At-Taqrib, ketika beliau menjelaskan waktu-waktu yang terlarang untuk shalat. Hal yang sama juga menjadi pendapat Imam Al-Albani. Beliau ditanya tentang berapakah jarak satu tombak. Beliau menjawab: “Satu tombak adalah 2 meter menurut standar ukuran sekarang.” (Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah, 2/167). Sebagian ulama’ menjelaskan, jika diukur dengan waktu maka matahari pada posisi setinggi satu tombak kurang lebih 15 menit setelah terbit.
Shalat Syuruq
Kita beralih ke shalat syuruq. Syuruq artinya terbit. Syaraqat as-Syamsu [شَرَقَتِ الشَّمْسُ] artinya matahari terbit.
Istilah shalat syuruq juga dikaitkan dengan waktu. Shalat syuruq berarti shalat yang dikerjakan di waktu matahari terbit.
Diantara syarat dalam pelaksanaan shalat syuruq yang perlu diperhatikan, shalat ini dikerjakan ketika matahari sudah meninggi, kurang lebih satu tombak dalam pandangan mata manusia. Karena ketika matahari tepat di garis terbit, kita dilarnag melakukan shalat.
Dari Uqbah bin Amir radhiallahu anhu dia berkata:
ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيْهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِيْنَ يَقُوْمُ قَائِمُ الظَّهِيْرَةِ حَتَّى تَمِيْلَ الشَّمْسُ، وَحِيْنَ تَضَيَّف لِلْغُرُوْبِ حَتَّى تَغْرُبَ
“Ada tiga waktu di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami: [1] ketika matahari terbit sampai tinggi, [2] ketika seseorang berdiri di tengah bayangannya sampai matahari tergelincir dan [3] ketika matahari miring hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam.” (HR. Muslim 1926)
Berdasarkan penjelasan di atas, berarti mulainya waktu dhuha dan waktu syuruf itu sama, yaitu ketika matahari telah terbit setinggi satu tombak. Sehingga kesimpulannya “shalat syuruq adalah shalat dhuha di waktu yang paling awal.”
Imam Ibnu Utsaimin mengatakan,
سنة الإشراق هي سنة الضحى ، لكن إن أديتها مبكراً من حين أشرقت الشمس وارتفعت قيد رمح فهي صلاة الإشراق، وإن كان في آخر الوقت أو في وسط الوقت فإنها صلاة الضحى
Shalat sunah syuruq termasuk shalat dhuha, hanya saja dikerjakan di awal waktu, ketika matahari terbit, dan sudah naik sekitar satu tombak, itulah syarat isyraq. Namun jika dilakukan di akhir waktu atau di pertengahan waktu maka statusnya shalat dhuha. (Liqa’at Bab al-Maftuh, 24/141)
Sehingga orang yang mengerjakan shalat syuruq hakekatnya dia mengerjakan shalat dhuha.
Bagi orang yang sudah mengerjakan shalat syuruq, bolehkah mengerjakan shalat dhuha?
Shalat dhuha tidak harus dilakukan di satu titik waktu, tapi boleh dikerjakan di sepanjang rentang waktu dhuha, yaitu sejak matahari setinggi satu tombak hingga sebelum waktu istiwa’ (matahari tepat di tengah).
Karena itu, bagi yang sudah mengerjakan shalat dhuha di awal waktu, dia boleh mengerjakan shalat dhuha di akhir waktu.. misal jam 6:30 mengerjakan shalat syuruq, sewaktu di kantor mengerjakan shalat dhuha.
Demikian..
Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits 
(Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Amalan yang Sepadan dengan Ibadah Haji

azdinawawi 0

Haji adalah ibadah yang sangat agung dan memiliki banyak fadilah yang agung pula, diantaranya seperti yang disebutkan dalam hadits berikut ini :

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, dia berkata, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

"Barangsiapa yang berhaji karena Allah, lalu tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya". [ HR. Bukhari no. 1521]

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu, Rasulullah vshallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

"Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga". [ HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349]

Tidak semua mampu menunaikan haji, karena haji mensyaratkan adanya kemampuan berupa bekal yang cukup, sehat, aman perjalanan, dan bagi muslimah harus ada mahram. 

*Bagi yang belum mampu menunaikan haji, maka Allah - dengan rahmatNya - menawarkan beberapa amalan ringan yang pahalanya senilai dengan haji, di antaranya :

1) Menghadiri majelis-majelis ilmu di masjid

Dari Abu Umâmah radiyallahu "anhu, Nabi Shallallâhu alaihi wa Salam bersabda :

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يَعْلَمَهُ ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتهُ

"Barangsiapa bersegera ke masjid, tidak menginginkan sesuatu kecuali mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka (pahala) baginya seperti pahala orang yang haji sempurna hajinya".

📚 [ Diriwayatkan oleh Ath-Thobroni di dalam Al-Mu’jam Al-Kabir VI/99. Dan derajatnya dinyatakan Hasan Shahih oleh syaikh Al-Albani di dalam Shohih At-Targhib Wa At-Tarhib no. 86 ]

2) Berdiam di Masjid selepas sholat shubuh sampai terbitnya matahari, lalu sholat 2 rakaat. 

Dari Anas bin Mâlik radiyallahu ' anhu, bahwasannya Nabi Shallallâhu alaihi wa Salam bersabda :

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ

"Barangsiapa yang shalat Subuh berjamaah, kemudian ia duduk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian ia shalat dua raka’at, maka baginya (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna, sempurna, sempurna". 

📚 [ HR at-Tirmidzi, II/481 no.586 dan dinilai sebagai hadits hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash Shahihah, IX/189 no.3403 ]

Semoga Allah memberikan kita semua taufiqNya kepada kita untuk bisa mengunjungi Mekkah dalam rangka melaksanakan ibadah haji dan Umroh, dan memudahkan kita melakukan apa yang dicintai dan diridhaiNya.

Penulis Al-Ustâdz Musta'in Syahri, Lc حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى

Source : 💻 www.suaraaliman.com [Dikutip dari grup WA]

Keutamaan dan Hikmah Ibadah Qurban

azdinawawi 0

Pensyariatan Udhiyah
Udhiyah pada hari nahr (Idul Adha) disyariatkan berdasarkan beberapa dalil, di antaranya,
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Dirikanlah shalat dan berqurbanlah (an nahr).” (QS. Al Kautsar: 2). Di antara tafsiran ayat ini adalah “berqurbanlah pada hari raya Idul Adha (yaumun nahr)”. Tafsiran ini diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu ‘Abbas, juga menjadi pendapat ‘Atho’, Mujahid dan jumhur (mayoritas) ulama.[1]
Dari sunnah terdapat riwayat dari Anas bin Malik, ia berkata,
ضَحَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ قَالَ وَرَأَيْتُهُ يَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ وَرَأَيْتُهُ وَاضِعًا قَدَمَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا قَالَ وَسَمَّى وَكَبَّرَ
“Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam berkurban dengan dua ekor kambing kibasy putih yang telah tumbuh tanduknya. Anas berkata : “Aku melihat beliau menyembelih dua ekor kambing tersebut dengan tangan beliau sendiri. Aku melihat beliau menginjak kakinya di pangkal leher kambing itu. Beliau membaca basmalah dan takbir” (HR. Bukhari no. 5558 dan Muslim no. 1966).
Kaum muslimin pun bersepakat (berijma’) akan disyari’atkannya udhiyah.[2]
Udhiyah disyari’atkan pada tahun 2 Hijriyah. Tahun tersebut adalah tahun di mana disyari’atkannya shalat ‘iedain (Idul Fithri dan Idul Adha), juga tahun disyari’atkannya zakat maal.[3]
Keutamaan Udhiyah
Tak diragukan lagi, udhiyah adalah ibadah pada Allah dan pendekatan diri pada-Nya, juga dalam rangka mengikuti ajaran Nabi kita Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kaum muslimin sesudah beliau pun melestarikan ibadah mulia ini. Tidak ragu lagi ibadah ini adalah bagian dari syari’at Islam. Hukumnya adalah sunnah muakkad (yang amat dianjurkan) menurut mayoritas ulama. Ada beberapa hadits yang menerangkan fadhilah atau keutamaannya, namun tidak ada satu pun yang shahih. Ibnul ‘Arobi dalam ‘Aridhotil Ahwadzi (6: 288) berkata, “Tidak ada hadits shahih yang menerangkan keutamaan udhiyah. Segelintir orang meriwayatkan beberapa hadits yang ajiib (yang menakjubkan), namun tidak shahih.”[4]
Sejumlah hadits dho’if yang membicarakan keutamaan udhiyah,
عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلاً أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ هِرَاقَةِ دَمٍ وَإِنَّهُ لَيَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلاَفِهَا وَأَشْعَارِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا »
Dari ‘Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah pada hari nahr manusia beramal suatu amalan yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah dari hewan qurban. Ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, rambut hewan qurban tersebut. Dan sungguh, darah tersebut akan sampai kepada (ridha) Allah sebelum tetesan darah tersebut jatuh ke bumi, maka bersihkanlah jiwa kalian dengan berkurban.” (HR. Ibnu Majah no. 3126 dan Tirmidiz no. 1493. Hadits ini adalah hadits yang dho’if kata Syaikh Al Albani)
عَنْ أَبِى دَاوُدَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الأَضَاحِىُّ قَالَ « سُنَّةُ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ». قَالُوا فَمَا لَنَا فِيهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « بِكُلِّ شَعَرَةٍ حَسَنَةٌ ». قَالُوا فَالصُّوفُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « بِكُلِّ شَعَرَةٍ مِنَ الصُّوفِ حَسَنَةٌ ».
Dari Abu Daud dari Zaid bin Arqam dia berkata, “Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah maksud dari hewan-hewan kurban seperti ini?” beliau bersabda: “Ini merupakan sunnah (ajaran) bapak kalian, Ibrahim.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas apa yang akan kami dapatkan dengannya?” beliau menjawab: “Setiap rambut terdapat kebaikan.” Mereka berkata, “Bagaimana dengan bulu-bulunya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Dari setiap rambut pada bulu-bulunya terdapat suatu kebaikan.” (HR. Ibnu Majah no. 3127. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if jiddan)[5]
Hikmah di Balik Menyembelih Qurban
Pertama: Bersyukur kepada Allah atas nikmat hayat (kehidupan) yang diberikan.
Kedua: Menghidupkan ajaran Nabi Ibrahim –kholilullah (kekasih Allah)- ‘alaihis salaam yang ketika itu Allah memerintahkan beliau untuk menyembelih anak tercintanya sebagai tebusan yaitu Ismail ‘alaihis salaam ketika hari an nahr (Idul Adha).
Ketiga: Agar setiap mukmin mengingat kesabaran Nabi Ibrahim dan Isma’il ‘alaihimas salaam, yang ini membuahkan ketaatan pada Allah dan kecintaan pada-Nya lebih dari diri sendiri dan anak. Pengorbanan seperti inilah yang menyebabkan lepasnya cobaan sehingga Isma’il pun berubah menjadi seekor domba. Jika setiap mukmin mengingat kisah ini, seharusnya mereka mencontoh dalam bersabar ketika melakukan ketaatan pada Allah dan seharusnya mereka mendahulukan kecintaan Allah dari hawa nafsu dan syahwatnya.[6]
Keempat: Ibadah qurban lebih baik daripada bersedekah dengan uang yang senilai dengan hewan qurban. Ibnul Qayyim berkata, “Penyembelihan yang dilakukan di waktu mulia lebih afdhol daripada sedekah senilai penyembelihan tersebut. Oleh karenanya jika seseorang bersedekah untuk menggantikan kewajiban penyembelihan pada manasik tamattu’ dan qiron meskipun dengan sedekah yang bernilai berlipat ganda, tentu tidak bisa menyamai keutamaan udhiyah.”[7]
Moga sajian ringkas ini semakin membuat kita bersemangat untuk melakukan ibadah yang mulia ini. Nantikan pembahasan serial ketiga mengenai hukum udhiyah atau qurban. Semoga Allah beri kemudahan dan kekuatan dalam beramal baik.
Wallahu waliyyut taufiq was sadaad.
Penyusun : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah

In Syaa Allaah, In Shaa Allaah, inshaallah, Insyaallah, Mana Yang Baku?

azdinawawi 0


Menyebar tulisan yang mempermasalahkan tulisan “insyaallah” karena selama ini yang ditulis itu salah atau kurang tepat. Mereka mengklaim tulisan yang benar adalah:
in syaa-a Allaah
sesuai tulisan arabnya yaitu (إِنْ شَاءَ اللهُ)
Sedangkan yang lain adalah salah
Kami perlu jelaskan bahwa menyalahkan yang lain dan mengklaim benar sendiri dalam hal ini adalah tidak tepat. Karena ini hanya masalah transliterasi bahasa saja. Kita tidak mempermasalahkan orang inggris yang menulis “inSHaallah” atau negara lain yang menulis “inchaallah”
Jadi dalam hal ini perlu berlapang-lapang dan tidak perlu saling menyalahkan. Ini juga mirip dengan perbedaan istilah saja, padahal hakikat tujuannya sama. Sebagaimana kaidah:
ﻻ ﻣﺸﺎﺣﺔ ﻓﻰ ﺍﻻﺻﻄﻼﺡ
Tidak ada perdebatan dalam istilah (jika hakihatnya sama)
Kami jawab klaim mereka ini kurang tepat, dengan beberapa alasan:
1) Bahasa kita adalah bahasa indonesia sehingga kita harus patuh dengan aturan bahasa Indonesia. Penulisan yang benar adalah:
“Insyaallah”
Sebagaimana dalam kamus besar Bahasa Indonesia.[1]
2) Sebagai muslim dan orang Indonesia yang taat aturan, kita dihimbau agar taat aturan dan persyaratan yang berlaku
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺷَﺮُﻭْﻃِﻬِﻢْ .
Kaum muslimin itu (mematuhi) berdasarkan syarat-syarat mereka.” [2]
3) Mungkin ada yang menulis “insyaAllah” dengan membesarkan huruf “A” pada lafadz Jalalah Allah
Ini juga kurang tepat, karena huruf “A” yang dibesarkan itu bukan huruf awal lafadz Jalalah Allah, tetapi huruf hamzah pada kata (شَاءَ).
Huruf “A” pada lafadz Jalalah Allah adalah “hamzah/alif washal” yaitu huruf alif yang tidak dibaca jika menyambung dengan kata sebelumnya.
Misalnya kata Rasulullah (رَسُولُ اللهِ)
Pada kata ini ada juga lafadz Jalalah Allah, terapi “Hamzah/alif washal” tidak dibaca karena menyambung dibaca dengan kata “Rasul”.
Sehingga tidak tepat jika ditulis “RasulUllah”
4) Jika mengklaim yang benar “inshaallah”, maka menulisnya harus konsisten dengan kata lainnya seperti:
mushawarah, mashaallah, mati shahid dll
Begitu juga jika mengklaim “in syaa-a Allaah”, maka harus konsisten menulis:
Musyaawarah, maa syaa-a Allah dll
Sekali lagi, kami tidak menyalahkan total mereka yang ingin menulis dengan bentuk yang lain, silahkan saja. Kami hanya ingin menjelaskan yang lebih dekat pada kebenaran. 
Wallahu a’lam

Penyusun: Ustadz dr. Raehanul Bahraen hafidzahullah
Source www.muslimafiyah.com
-----------
Catatan kaki:

[1] Silahkan cek: