Header ads

Jangan Salah Mencintai

azdinawawi Jumat, 25 Desember 2015 0


Rasulullah  bersabda :
المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang bersama dgn yg dicintainya” 
(HR Al-Bukhari no 6169)
Fenomena menyedihkan tatkala banyak kaum muslimin (terutama dari golongan pemuda) yang sangat mencintai para pelaku maksiat, bahkan mereka dari kalangan orang-orang kafir !! (terutama para pemain film & penyanyi serta olahragawan).
Foto orang-orang kafir tersebut dipajang di kamar-kamar mereka, menjadi penyejuk pandangan mereka…. sebelum dan tatkala bangun tidur…
Bahkan mereka meniru gaya berpakaian orang-orang kafir tersebut…
mereka hafalakan lantunan-lantunan orang-orang kafir tersebut...
mereka pelajari perjalanan hidup orang-orang kafir tersebut…!!
Jika salah seorang dari mereka ditanya tentang sejarah, nama dan nasehat2 Abu Bakar…Umar… Imam Syafii ?, maka terdiamlah ia... !!!
Bahkan kecintaan sebagian mereka sudah sangat mendalam kepada orang-orang kafir tsb, terbukti tatkala para artis tsb datang ke negeri-negeri kaum muslimin maka merekapun berbondong-bondong menyambut para idola mereka yang kafir, hingga ada yang histeris tatkala menyaksikan idolanya, bahkan ada diantara mereka yg pingsan.... karena terlalu gembira..?
Apa yg akan mereka perbuat dengan sabda Nabi “Seseorang (dikumpulkan diakhirat kelak) bersama yang ia cintai” ???!!!
KARENANYA…
cintailah orang-orang sholeh...
Tirulah gaya hidup mereka…
patuhilah petuah-petuah mereka..
yaitu orang-orang yg jika kita mengingat mereka… maka kita akan mengingat akhirat…
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullāh pernah berkata dgn penuh tawadhu'
أُحِبُّ الصَّالحين وَ لَسْتُ مِنْهُمْ *** لَعَلِّيَ أََنْ أَنَالَ بِهِمْ شَفَاعَهْ
Aku mencintai orang-orang shaleh meski aku bukan dari mereka
Aku berharap, dgn mencintai mereka, aku nanti mendapatkan syafaat
وَأَكْرَهُ مَنْ تِجَارَتُهُ الْمَعَاصِي *** وَلَوْ كُنَّا سَوَاءً فِي الْبِضَاعَهْ
Dan aku membenci orang yg maksiat adalah dagangannya
Meski dagangan kami sama…

✍ Ustādz Firanda Andirja, MA hafidzahullāh 

Adab Kepada Ustādz Yang Semakin Pudar

azdinawawi Kamis, 24 Desember 2015 0

Al-‘Abdari menceritakan dalam Rihlah-nya hlm. 110 tentang sebab mengapa al-Qa’nabi tidak mendengar dari Syu’bah kecuali hanya satu hadits saja. Alkisah, suatu saat al-Qa’nabi pergi menuju kota Bashrah untuk mendengar hadits dari Syu’bah, tetapi ternyata majelis kajiannya telah selesai dan Syu’bah telah pulang ke rumahnya. Karena dorongan semangat menggelora yang tinggi, dia bertanya alamat rumah Syu’bah, dia pun menuju ke rumah (Syu’bah) yang kebetulan pintunya tengah terbuka. Tanpa permisi, dia pun langsung masuk dan berkata kepada Syu’bah yang sedang buang hajat, “Assalamu’alaikum. Saya orang asing, datang dari jauh untuk mendapatkan hadits dari Anda.”

Mendengar hal itu, Syu’bah kaget dan geram seraya mengatakan, “Wahai orang ini, Anda masuk rumahku tanpa permisi, lalu mengajak bicara denganku padahal kondisiku sekarang seperti ini, tolong menjauhlah dariku sehingga aku selesai buang hajat!!” Dia mengatakan, “Saya khawatir ketinggalan lagi dan luput hadits dariku.” Dia terus mengulang kata-kata tersebut. Karena terdesak, maka Syu’bah berkata, “Ya sudah, tulislah hadits Manshur bin Mu’tamir dari Rib’i dari Abu Mas’ud al-Badri dari Nabi bahwa beliau bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ

“Termasuk ucapan peninggalan para nabi dahulu adalah: ‘Jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu.’ ” (HR. Bukhari no. 3483)

Setelah itu, Syu’bah tidak menceritakan hadits lainnya kepadanya. Itulah sebabnya dia (al-Qa’nabi) meriwayatkan dari Syu’bah hanya satu hadits saja.
[Dinukil oleh Syaikh Masyhur bin Hasan alu Salman dalam al-Bayan wal Idhah Syarh Nazhmil al-Iraqi lil Iqtirah hlm. 124 dan ta’liq al-Kafi fi ’Ulumil Hadits hlm. 658 oleh at-Tibrizi.)

Di antara faedah berharga dari kisah ini adalah agar kita menjaga adab kepada guru ketika kita bertanya atau bertemu dengannya, maka carilah situasi dan kondisi yang tepat dan bertanyalah dengan santun dan keikhlasan.

✍ Ustādz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi hafidzahullāh 

Ucapan "SELAMAT NATAL" Haram Berdasarkan Ijma'

azdinawawi Rabu, 23 Desember 2015 0

Ucapan "Selamat Natal" Haram Berdasarkan Ijma'

Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menerangkan:
وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه
“Adapun tahni’ah (ungkapan selamat) atas syi’ar-syi’ar orang kafir yang menjadi kekhususan mereka hukumnya haram menurut kesepakatan para Ulama (ijma'). Seperti mengucapkan selamat atas hari-hari raya mereka atau puasa mereka. Umpamanya dengan mengatakan, “Hari yang berkah atasmu”, atau “Selamat hari raya”, atau yang semisalnya. Maka sekalipun pengucapnya itu selamat dari kekufuran, akan tetapi ia telah terjerumus dalam perbuatan yang haram. Konteksnya sama saja seperti memberi ucapan selamat terhadap sujudnya mereka kepada salib, bahkan hal tersebut lebih berat lagi dosanya di sisi Allah dan lebih besar lagi kemurkaan-Nya ketimbang mengucapkan selamat atas meminum khamr, membunuh orang, atau berzina dan yang semisalnya.” (Ahkamu Ahlidz Dzimmah 1/205)
Kerancuan Memahami Ayat
Sebagian orang yang berpenyakit hatinya terus berusaha membikin talbis (pengkaburan) pemahaman kaum Muslimin dengan mencatut ayat dan menerjemahkan sesuai selera hawa nafsunya. Akibatnya ucapan “selamat natal” pun ditolerir dengan dalih ayat berikut:
وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam: 33)
Kalimat, “Was salaam (dan kesejahteraan) semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku…” mereka terjemahkan “Selamat natal (kelahiran) Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.”
Itulah syubhat (kerancuan) yang disuarakan oleh kelompok-kelompok pluralis di hari-hari mendekati perayaan natal ini. Dan untuk mematahkan syubhat mereka cukuplah kita merujuk kepada warisan Salafusshalih dalam memahami ayat-ayat tersebut. Sebab para Salafusshalih adalah pihak yang paling dikenal keistiqamahannya dalam meneladani cara beragama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Shahabatnya.
Al-Imam Ibnu Jarir At-Thabari (Wafat 310 H) berkata:
والأمنة من الله عليّ من الشيطان وجنده يوم ولدت
“(Maknanya) dan penjagaan Allah terhadapku (Nabi ‘Isa) dari Syaithan dan tentaranya ketika aku dilahirkan.” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an 18/193)
Al-Imam Al-Baghawi Asy-Syafi’i (Wafat 510 H):
السلامة عند الولادة من طعن الشيطان
“Keselamatan dari celaan syaithan pada saat kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.” (Ma’alimut Tanzil 5/230)
Al-Hafidzh Ibnu Katsir Asy-Syafi’i (Wafat 774 H):
ولكن له السلامة في هذه الأحوال
“Akan tetapi, Allah selamatkan Nabi ‘Isa pada saat-saat tersebut (dilahirkan, diwafatkan, dibangkitkan).” (Tafsirul Qur’anil ‘Adzhim 5/230)
Dan masih banyak lagi keterangan para Ulama Mufassirin lainnya yang menerangkan bahwa makna ayat tersebut sebagai penjagaan Allah terhadap Nabi ‘Isa, sama sekali tidak menunjukkan ucapan “selamat natal” yang sejatinya mengakui kelahiran anak Tuhan. Dan para Ulama telah mencapai kata sepakat atas haramnya ucapan tersebut. Maka jika mengucapkan selamat hari raya orang kafir saja dilarang, tentu lebih berat lagi jika sampai mengikuti hari raya mereka, wallahul musta'an.
✒_____
Fikri Abul Hasan
🌍 WhatsApp Group
"Al-Madrasah As-Salafiyyah"

Jadikanlah Amalmu Sebagai Kekasihmu

azdinawawi Senin, 14 Desember 2015 0


JADIKANLAH AMALMU SEBAGAI KEKASIHMU !



 ✍ Ustādz Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى
Hatim -rohimahulloh- mengatakan:
“Aku telah memperhatikan semua makhluk, kudapati setiap orang memiliki kekasih, tapi jika sampai ke kuburnya, kekasih itu pun meninggalkannya.
Oleh karena itu, aku jadikan kekasihku adalah amal-amal baikku, agar dia di alam kubur bersamaku”.
[Sumber: Mukhtashor Minhajul Qoshidin, hal:28]

WALAUPUN TIDAK WAJIB

AZDI NAWAWI Minggu, 25 Oktober 2015 0

Al Qurthubi rahimahullahu berkata:
“Siapa yang terus menerus meninggalkan sunnah, maka itu kekurangan dalam agamanya..
Jika ia meninggalkannya karena meremehkan dan tidak suka..Maka itu kefasikan.."

Karena adanya ancaman dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam :

من رغب عن سنتي فليس مني

“Siapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan dari golonganku.”
Dahulu para shahabat dan orang-orang yang mengikutinya senantiasa menjaga yang sunnah sebagaimana menjaga yang wajib..
Mereka tidak membedakan keduanya dalam meraih pahala..
(Fathul Baari syarah Shahih Al Bukhari 3/265).

Banyak sunnah yang diremehkan di zaman ini..
Dengan alasan: ah itu kan cuma sunnah..
Padahal sunnah bukanlah untuk ditinggalkan..
banyak perkara sunnah yang berpahala amat besar..
Seperti shalat qabliyah shubuh yang lebih baik dari dunia dan seisinya..
Bahkan ada amalan sunnah yang menjadi tonggak kebaikan..

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر

“Senantiasa manusia di atas kebaikan selama mereka bersegera berbuka puasa.”
(HR Bukhari dan Muslim).
Bagi kita penuntut ilmu..
Mari hiasi hari hari dengan sunnah..
Meraih cinta Allah..
Dia berfirman dalam hadits qudsi..

ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه

“Senantiasa hambaKu bertaqarrub(mendekatkan diri)kepadaku dengan ibadah yang sunnah hingga Aku mencintainya.”

Untuk inilah kita berlomba..

Barakallahu fikum,
Semoga bermanfaat.

Ustādz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى

Sabar Saat Mendapat Musibah

AZDI NAWAWI Kamis, 22 Oktober 2015 0



Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata:
Kebaikan yang tiada kejelekan padanya adalah bersyukur ketika sehat wal afiat, serta bersabar ketika diuji dengan musibah. Betapa banyak manusia yang dianugerahi berbagai kenikmatan namun tiada mensyukurinya. Dan betapa banyak manusia yang ditimpa suatu musibah akan tetapi tidak bersabar atasnya.” 
(Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 158)
Beliau rahimahullahu juga berkata:
Tidaklah seorang hamba menahan sesuatu yang lebih besar daripada menahan al-hilm (kesantunan) di kala marah dan menahan kesabaran ketika ditimpa musibah.” (Mawa’izh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 62)
Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata:
Tiga perkara yang merupakan bagian dari kesabaran; engkau tidak menceritakan musibah yang tengah menimpamu, tidak pula sakit yang engkau derita, serta tidak merekomendasikan dirimu sendiri.” (Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 81)
→ Dikutip dari http://www.asysyariah.com kumpulan permata salaf.

MILIKI HARTAMU

AZDI NAWAWI Selasa, 20 Oktober 2015 0

Akhi/Ukhti…‬‬
‪‪Ada berapa banyak uang di tabunganmu... ???‬‬
‪‪Atau di brangkas besimu...??‬‬
‪‪Atau dimana saja kau menyimpannya…‬??
‪‪ ‬‬
‪‪Pada suatu hari al Ahnaf bin Qais melihat uang logam satu Dirham di tangan seseorang, maka iapun bertanya kepadanya, "Uang siapakah ini..???‬‬
‪‪Spontan orang itu menjawab, "Uangku!".‬‬ Maka Ahnaf berkata,

"Uang itu menjadi milikmu bila kau nafkahkan dalam rangka mencari PAHALA atau BERSYUKUR pada Allah".‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Kemudian ia mendendangkan sebuah bait sya'ir:‬‬
‪‪ ‬‬
‫أنت للمال إذا أمسكته ... فإذا أنفقته فالمال لك .‬
‪‪ ‬‬
‪‪"Kamu dimiliki oleh hartamu bila kau menyimpannya‬‬
‪‪Namun tatkala kamu MENGINFAKKANNYA, maka HARTA itu menjadi MILIKMU".‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Subhanallah…‬‬
‪‪Jadi yang menjadi milik kita adalah yang telah berpindah tangan dari brangkas dan simpanan kita...‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:‬‬
‫ ‬
‫((يَقُولُ الْعَبْدُ مَالِى مَالِى إِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا أَكَلَ فَأَفْنَى أَوْ لَبِسَ فَأَبْلَى أَوْ أَعْطَى فَاقْتَنَى وَمَا سِوَى ذَلِكَ فَهُوَ ذَاهِبٌ وَتَارِكُهُ لِلنَّاسِ))‬
‫ ‬
‪‪"Hamba itu berkata, "Hartaku, hartaku", tidaklah menjadi hartanya kecuali tiga:‬‬
‪‪Yang ia makan kemudian habis‬‬
‪‪Yang ia kenakan kemudian usang‬‬
‪‪Yang ia sedekahkan, maka itulah yang dikumpulkannya‬‬.
‪‪Adapun yang selain itu, maka akan sirna dan ia akan meninggalkannya untuk orang lain". (HR Muslim)‬‬
‪‪ ‬‬
‪‪Kalau kau cinta kepada hartamu‬‬.....
‪‪Kalau kau ingin menumpuk hartamu‬‬.....
‪‪ ‬‬
‪‪Maka segera pindahkan dari tempatnya, ke tempat yang abadi‬‬...
Tidak perlu takut dirampok atau dicuri
Karena dijaga oleh Pencipta Langit dan Bumi..

Oleh Ust DR Syafiq Riza Basalamah, MA حفظه الله تعالى

Salaf dan Shalat Berjamaah

AZDI NAWAWI 0

Dalam Tadzkiratul Huffazh disebutkan, Said bin Abdul Aziz apabila terlewat menghadiri shalat berjamaah, beliau MENANGIS.
Kita?"

@elmasrw - Dr Ahmad Isa al Mu’sharawi
Www.twitulama.com

BC nasehat dari para ulama
Daftar WA: 085726821240
Invite BBM kami: 5298676D

Untain Zamrud Buat Istri

azdinawawi Kamis, 03 September 2015 0

Untaian Zamrud Buat Istri

oleh : Abu Nasiim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz
.
Untaian Zamrud Buat IstriIstri mana yang tidak akan tersanjung bahagia jika seuntai perhiasan dikadokan sebagai hadiah oleh suaminya? Apalagi, untaian itu bukan sembarang untaian. Zamrud kehijau-hijauan asli dari kawasan tambang Kolombia, Amerika Latin. Ini bukan emas atau perak. Ini zamrud, lambang dari keindahan perhiasan.
Di tambah lagi watak wanita yang sangat menyukai perhiasan, tentu kado tersebut akan sangat berkesan. Jangankan seuntai zamrud, gelang perak atau cincin emas saja akan membuat hati seorang istri berbunga-bunga. Atau tidak usahlah emas dan perak, sebuah jepit rambut berwarna pink yang dibeli suami saat keluar kota, pasti memiliki nilai tersendiri ketika diserahkan sebagai oleh-oleh.
“Harganya memang tidak seberapa. Namun, jepit rambut ini adalah bukti bahwa aku selalu mengingat dirimu saat aku jauh darimu”, sapa sang suami.
Masalahnya, tidak semua suami mampu mengkadokan seuntai zamrud, gelang perak atau sebuah cincin emas. Juga tidak setiap saat seorang suami pergi keluar kota sehingga berkesempatan membeli oleh-oleh untuk sang istri. Padahal setiap istri selalu berangan-angan untuk disenangkan hatinya oleh suami. Jadi, langkah apa yang harus dilakukan seorang suami?
Di salah satu ayat surat AzZukhruf, Allah menegaskan tentang sifat dasar kaum wanita. Allah berfirman,
أَوَ مَن يُنَشَّؤُا فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ
Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran. (QS. 43:18)
Ayat ini menjelaskan bahwa kaum wanita adalah makhluk yang selalu akrab dan senang dengan perhiasan sejak ia dilahirkan. Salah satu fungsinya adalah untuk mempercantik diri secara dzahir. Sifat wanita lainnya adalah keterbatasan di dalam mengungkapkan dan mengutarakan isi hati. Sekuat dan setegar apapun seorang wanita di dalam menghadapi kerasnya kehidupan, tetap saja ia harus memperoleh kelembutan dan perhatian.(Tafsir As Sa’di)
Jangan sakiti hati istrimu! Perlakukanlah dia dengan cinta dan kasih sayang. Berlemah lembutlah kepadanya!

Sebuah Ruang di Sudut Hati Istri

Sadarilah, wahai Suami…
Istri sebagai seorang wanita adalah makhluk yang membutuhkan kelembutan. Jalan terakhir yang bias dilakukan oleh seorang istri–seringnya demikian- hanyalah menangis dan mencucurkan air mata. Pada dasarnya, seorang wanitalebih cenderung untukmenyimpan dan memendam rasa dari pada harus mengungkapkannya.
Tahukah Anda, wahai Suami?  Apakah yang tersembunyi di sudut relung hati seorang istri?
Di sudut relung hati seorang istri ada sebuah ruang kecil dan tersembunyi. Ukuran ruang tersebut memang secara dzahir tidak terlalu besar. Namun, saat Anda benar-benar memasuki ruang tersebut ada sebuah alam ketentraman dan kebahagiaan yang bisa ia rasakan. Dari ruang tersebut memancar cahaya keceriaan yang tak kunjung padam selama Anda sebagai suami selalu menjaga agar sumber cahaya tersebut tetap menyala.
Andai ruang kecil di sudut relung hati istri, mampu Anda isi dan penuhi dengan nyala “perhatian”, pasti ia akan merasa menjadi istri yang beruntung. Bagi seorang istri, perhatian dari suaminya melebihi nilai zamrud, emas, perak dan perhiasan lainnya. Perhatian suami adalah seuntai perhiasan yang selalu di harap-harapkan oleh seorang istri.
Tidak perlu Anda bertanya lagi kepada istri Anda tentang hal ini! Sebab, ia hanya akan menjawab dengan anggukan penuh malu.
Nabi Muhammad adalah figur seorang suami yang sangat sempurna di dalam memberikan perhatian kepada istri. Bila saja kita memiliki kesempatan untuk sebentar saja menilik kehidupan rumah tangga beliau, tentu taman-taman indah akan terbentang luas di hadapan kita. Untuk merinci atau menyebutkan contoh-contoh perhatian Nabi Muhammad kepada istri seyogyanya memang dikhususkan dalam sebuah tulisan tersendiri.
Namun, cukuplah kiranya pesan dari Nabi Muhammad berikutini. Beliau bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَ أَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ
“Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang terbaik di dalam bersikap kepada keluarganya. Dan saya adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku”.Hadist Ibunda Aisyah riwayat Tirmidzi (2/323) dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah 1/513.
Nah, wahaiSuami, baarakallahufiik.
Berbentuk apakah perhatian yang bias dilakukan untuk istri? Sangat banyak dan beragam jawabannya. Mudah-mudahan sepenggal tips berikut bisa Anda renungkan dan pikirkan dengan baik.

Menjadi Pendengar Terbaik Baginya


Sesuai kodratnya seorang istri mengemban tugas yang tidak ringan. Oleh sebab itu, seorang suami berkewajiban untuk membantu meringankan beban tersebut. Caranya?
Luangkan waktu untuk istri Anda! Ya, berilah waktu khusus untuk istri Anda agar dia bisa mengalirkan beban-bebannya yang sekian lama mengendap di hatinya. Kondisikan istri Anda agar mau berbagi cerita tentang aktifitas hari ini yang telah ia lakukan. Dan, Anda harus siap untuk menjadi seorang pendengar yang baik.
Waktu mungkin bukan masalah. Namun, memilih waktu yang tepat tentu semakin membuat istri Anda semakin merasa dicintai dan diperhatikan. Pilihlah waktu di malam hari, saat anak-anak Anda telah tertidur lelap dalam mimpi.
Berilah kesempatan untuk istri Anda bercerita tentang kondisi rumah dan anak-anak hari ini. Pengalaman menarik apa yang dirasakan saat berbelanja ke warung pagi tadi. Tanyakan kepada istri tentang apa yang bisa Anda lakukan untuknya. Buatlah istri Anda merasakan kenyamanan dan ketentraman saat ia bercerita di hadapan Anda. Sebab, tugas suami adalah menghadirkan ketentraman jiwa untuk sang istri.
Sadarilah bahwa salah satu tanda keharmonisan sebuah keluarga adalah komunikasi terbuka antara suami dan istri. Istri tidak pernah merasa khawatir dan cemas jika ia berterus terang. Ia menganggap suaminya sebagai penganyom dan pelindung. Sangat berbahaya sekali, jika istri menganggap Anda sebagai seorang penyidik atau interogator sehingga ia selalu merasa takut jika berbicara di hadapan Anda.
Al Imam Al Bukhari di akhir pembahasan tentang waktu-waktu shalat, membuat sebuah judul bab “Begadang bersama tamu dan keluarga”. Sebab, pada dasarnya begadang malam tidak boleh dilakukan kecuali dalam urusan agama. Namun, karena besarnya hak tamu dan keluarga, Islam lantas membolehkannya.
Sahabat Ibnu Abbas pernah bercerita (ShahihBukhari),
بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ فَتَحَدَّثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ
“Aku pernah menginap di rumah bibiku Maimunah (istri Rasulullah). Malam itu, Rasulullah berbincang-bincang dengan keluarga beliau (Maimunah) beberapa waktu. Setelah itu barulah beliau tidur”

Apakah Anda Merasakan Lelah Juga?


Mungkin Anda bisa saja bertanya? Sebagai suami, saya pun merasakan lelah dan capek. Seharian saya mencari nafkah, dari pagi hingga petang. Malam hari tentu lebih baik saya gunakan tidur untuk beristirahat.
Nah, di titik inilah Anda sebagai seorang suami akan diuji.
Di dalam mencari nafkah, menjalankan rutinitas dalam sebuah profesi, tentu Anda dituntut untuk melayani orang lain, bukan? Dokter, pelayan toko, pedagang, pegawai, karyawan, guru, polisi, tentara, pengelola warung makan atau silahkan saja sebut profesi-profesi lain. Bukankah di setiap profesi tersebut, Anda harus bias memberikan pelayanan kepada masing-masing obyek profesi?
Lalu, jika Anda bisa memberikan pelayanan dan perhatian kepada orang lain, kenapa Anda tidak melakukannya kepada istri Anda sendiri? Selelah apapun Anda, berilah kesempatan istri untuk berbagi cerita.
Bayangkanlah, wahai Suami!
Di sebuah malam. Anak-anak Anda telah nyenyak bermimpi. Secangkir teh panas dan beberapa potong gorengan tersaji di meja makan sederhana. Anda sedang mendengarkan istri Anda bercerita tentang aktifitas hari ini. Tentang anak-anak dan pekerjaan rumah lainnya. Atau apapun cerita yang bisa diungkapkan oleh istri Anda.
Sesekali Anda memberikan tanggapan dengan penuh kelembutan dan canda. Buatlah ia tertawa untuk menggantikan lelahnya! Tataplah wajahnya dengan penuh kasih sayang. Tunjukkan bahwa Anda benar-benar serius mendengarkan ceritanya. Buktikan bahwa Anda adalah seorang suami yang mampu merangkai “perhatian” dalam sebuah untaian indah. Mengalahkan untaian zamrud kehijau-hijauan.
Semoga, istri-istri kita merasakan nyenyak dalam tidurnya dan bermimpi indah terselimuti oleh perhatian suaminya. 

Amin yaa Arham arRahimin

http://www.ibnutaimiyah.org/2013/04/untaian-zamrud-buat-istri/

Fatwa Ulama Seputar Ihdaad [masa berkabung bagi wanita]

azdinawawi Senin, 31 Agustus 2015 0

Hukum Ihdaad dan Iddah
Pertanyaan: Apakah hukum menjalani masa berkabung (al-ihdaad) dan masa iddah?
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Adapun al-ihdaad, ia adalah meninggalkan semua hal yang dapat menggoda lelakiuntuk menikahi seorang wanita. Dengan begitu, seorang wanita (yang ditinggal mati suaminya -pent.) wajib meninggalkan segala bentuk tata rias, dan segala macam wewangian juga minyak rambut yang berbau harum. Juga meninggalkan berbagai jenis perhiasan termasuk cincin dan yang semisalnya, dan tidak mengenakan pakaian berwarna-warni untuk mempercantik diri.
Tidak berarti ia harus mengenakan pakaian berwarna hitam. Ia bisa mengenakan pakaian sederhana apa saja, yang biasanya dipakai bukan untuk mempercantik diri. Demikian pula, ia tidak berias dengan make-up, bedak, celak dan pewarna yang digunakan sebagai kosmetik.
Hal demikian berdasarkan hadits-hadits yang shahih, seperti hadits Ummu ‘Athiah, ia berkata: “Dahulu kami dilarang untuk berkabung selama lebih dari tiga hari atas kematian seseorang, kecuali atas kematian suami, yaitu selama 4 bulan 10 hari. Kami tidak memakai celak, wangi-wangian, dan tidak mengenakan pakaian yang dicelup. Dan kami diberi keringanan untuk menggunakan sedikit wewangian dan dupa ketika telah suci dari haid dan melakukan mandi.”
Adapun al-iddah, ia adalah menjalani masa tunggu selama empat bulan sepuluh hari kalau sang istri tidak sedang hamil. Tapi jika ia dalam keadaan hamil maka masa iddahnya berakhir dengan kelahiran anaknya.
Istri wajib menjalani masa iddahnya di rumah yang ia tempati ketika suaminya meninggal. Tidak diperbolehkan baginya keluar dari kediamannya kecuali memang ada keperluan mendesak, seperti kalau ia khawatir jiwa dan hartanya akan terancam. Atau seperti jika si pemilik rumah mengusirnya tanpa ada pilihan lain baginya, atau yang semisal itu.
Bila ia keluar dari kediamannya dengan alasan yang tak dapat diterima menurut syariat, maka ia wajib kembali ke rumahnya untuk menyempurnakan iddahnya. Dan wanita yang sedang menjalani masa iddah tidak boleh keluar dari rumahnya pada malam hari. Ia juga hanya boleh bermalam di rumahnya.
Adapun pada siang hari, ia boleh keluar rumah untuk menunaikan keperluannya sendiri. Tidak boleh baginya keluar rumah untuk memenuhi keperluan orang lain, mengunjungi orang sakit, mengunjungi sanak famili ataupun teman, dan semisalnya. Jika ia memiliki pekerjaan di siang hari, seperti sebagai perawat dan semisalnya, maka tidak ada penghalang baginya untuk keluar di siang hari saat bertemu dengan wanita-wanita lain. Kemudian ia merawat pasien perempuan, anak-anak atau semisalnya. Ia menjauhi ikhtilath dengan kaum pria, berbincang-bincang dengan mereka atau khalwat dengan salah seorang dari mereka. Adapun bepergian jauh, maka ini tidak boleh ia lakukan kecuali setelah masa iddahnya selesai. Wallahul muwaffiq.
(Dinukil dari fatwa beliau 1/28 pada 10/1386 H, Fatawa dan Rosail milik Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh (11/161, 162).)
* * *
Keluarnya Wanita yang Sedang Ihdaad
Pertanyaan: Apakah wanita yang ditinggal mati suaminya, ketika pindah dari rumah suami ke rumah saudara laki-lakinya, kemudian mendapatkan tekanan dan perlakuan buruk di sana, apakah boleh ia pindah ke rumah anak-anak suaminya, atau ke rumah pamannya untuk menetap di sana?
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Alhamdulillah. Ia tidak boleh pindah dari rumah suaminya sampai masa iddahnya selesai, kecuali dengan udzur yang syar’i. Kalau ia pindah tanpa udzur syar’i maka ia harus kembali ke rumah yang telah ia tinggalkan sebelumnya. Namun kalau kepindahannya itu dengan udzur syar’i, maka ia boleh pindah dari rumah yang sekarang ia tempati, ke rumah anak suaminya ataupun yang lain. Dan hukum-hukum ihdaad lainnya tetap harus ia lakukan.
(Dinukil dari fatwa beliau 304 pada 21/3/1377 H, Fatawa dan Rosail milik Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh (11/162, 163).)
* * *
Keluar Rumah karena Mendesak
Pertanyaan: Wanita yang ditinggal mati oleh suaminya dan masih dalam masa berkabung apakah ia boleh meninggalkan tempat di mana ia berada sekarang untuk suatu kebutuhan mendesak, walaupun hanya sekali saja?
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah menjawab:
Wanita yang ditinggal mati suaminya wajib menjalani masa tunggu atas kematian tersebut, di rumah tempat ia berada ketika suaminya itu meninggal dunia. Ia tidak boleh pindah dari rumah itu kecuali untuk keperluan mendesak, seperti kalau ia khawatir akan keselamatan jiwanya, atau ia pindah dari rumah itu secara dipaksa, atau bila rumah yang ditempati adalah rumah kontrakan yang masa kontraknya telah habis, atau alasan-alasan mendesak lainnya.
Dan ia tidak boleh keluar dari rumah itu untuk mengunjungi tetangga atau bekerja, kecuali bila keadaan mendesaknya untuk itu, maka ia boleh keluar rumah pada waktu siang, dan segera kembali ke rumah pada waktu malam. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda kepada seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya:
“Tetaplah engkau tinggal di rumahmu yang di sana engkau menerima kabar kematian suamimu, hingga selesai kewajiban iddahmu.” (Diriwayatkan oleh 5 imam (Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasaa-i), dan hadits ini dishahihkan oleh At-Tirmidzi)
(Dinukil dari Fatawa Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/174)
* * *
Wanita yang Sedang Berkabung Pergi Haji
Pertanyaan: Seorang lelaki bertanya perihal ibunya yang sedang menjalani ihdaad, apakah ia boleh pergi haji? Ibunya ini berkata bahwa masa iddahnya baru akan selesai pada hari kedelapan bulan Dzuihijjah.
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Alhamdulillah. Wanita yang masih dalam masa iddah tidak boleh pergi untuk menunaikan ibadah haji, sebagaimana madzhab imam yang empat.
Adapun alasan yang diajukan, bahwa ia baru dibolehkan pergi haji pada hari tersebut, maka itu bukanlah alasan syar’i yang dapat membolehkan wanita yang sedang dalam masa ihdaad untuk bepergian.
(Dinukil dari fatwa beliau 161 pada 12/11/1374 H, Fatawa dan Rosail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh, 11/163)
* * *
Keluar Rumah untuk Mengajar atau Merawat Pasien
Pertanyaan: Apa hukum melakukan pekerjaan mengajar, merawat pasien, dan semisalnya bagi wanita yang sedang menjalani masa iddah?
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Kami sampaikan kepada anda bahwa tidak mengapa seorang wanita yang sedang menjalani masa iddah atas kematian suaminya keluar rumah pada siang hari untuk memenuhi keperluan-keperluannya yang mendesak, yang tidak dapat digantikan oleh orang lain. Misalnya, keluar rumah untuk melakukan pekerjaan yang menjadi kewajibannya seperti mengajar, merawat pasien dan pekerjaan-pekerjaan semisalnya yang khusus dilakukan oleh wanita dan tidak terkait dengan kaum pria. Hal ini seraya ia meninggalkan wangi-wangian dan pakaian untuk mempercantik diri dan semisalnya.
(Dinukil dari fatwa beliau 1/246 pada 21/1/1386 H, Fatawa dan Rosail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh, 11/164)
* * *
Keluar Rumah untuk Mengikuti Ujian Akhir Sekolah
Pertanyaan: Dari seorang laki-laki, tentang adik perempuannya yang ditinggal mati suaminya. Dan ia hendak melaksanakan ujian kelulusan untuk mendapatkan ijazah SMA, sedangkan dia dalam masa iddah. Ia meminta fatwa tentang tindakannya keluar rumah ke tempat ujian untuk melaksanakan ujian tersebut. Dan bahwa saudara laki-lakinya itulah yang akan mengantarnya sendiri dengan mobil, kemudian mengantarnya pulang ke rumah. Ruang ujiannya pun hanya dimasuki oleh perempuan. Dan ia keluar rumah dengan pakaian syar’i tanpa merias diri, serta hanya selama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan ujian.
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Alhamdulillah. Jika kondisinya memang seperti apa yang telah dijabarkan, maka yang zahir adalah bahwa ia boleh keluar dikarenakan hal-hal yang disebutkan tadi. Dan ia wajib untuk tetap menjalani hukum-hukum ihdad, mengikuti aturan dalam hal berpakaian, dan tidak berikhtilath dengan kaum pria, karena para ulama membolehkan wanita yang sedang menjalani ihdad untuk keluar rumah guna memenuhi kebutuhannya di siang hari kalau memamg tidak mungkin dilakukan oleh orang lain. Dan mengikuti ujian ini termasuk keperluannya yang paling penting. Wallahu a’lam.
(Dinukil dari fatwa beliau 1/804 pada 2/3/1389 H, Fatawa dan Rosail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh, 11/164, 165)
* * *
Menjalani Masa Iddah dan Ihdaad Lebih Lama
Pertanyaan: Tentang seorang wanita yang suaminya meninggal dunia. Wanita itu pun menjalani masa iddah dan ihdad selama empat bulan sepuluh hari. Namun tanpa sengaja dan karena lupa, ia menjalaninya dengan kelebihan dua hari. Apakah tambahan dua hari ini merusak masa iddah dan ihdad yang telah ia jalani atau tidak?
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Kelebihan hari untuk waktu iddah dan ihdad tidaklah merusaknya. Ketika waktu itu telah menyelesaikan masa iddahnya, maka ia telah keluar dari iddah. Tambahan hari untuk iddah dan ihdad itu tidak boleh hanya kalau ia dilakukan dengan sengaja. Adapun orang yang mengerjakan hal itu karena lupa maka tidak mengapa baginya, dengan dalil firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala:
“(Mereka berdoa): Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (Al-Baqarah: 286)
Wallahu a’lam.
(Dinukil dari fatwa beliau 1/2128 pada 10/8/1384 H, Fatawa dan Rosail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh, 11/165, 166)
* * *
Pernikahan yang Fasid (tidak sah) dan Ihdad si Wanita
Pertanyaan: Apakah konsekuensi menjalani ihdad tetap berlaku bagi pernikahan yang fasid (tidak sah)?
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahumenjawab:
Ya, tetap berlaku. Karena pada nikah yang fasid itu diberlukan ketentuan-ketentuan yang sama dengan ketentuan-ketentuan pada pernikahan sah dalam sekian banyak hukumnya. Terkhusus hukum-hukum yang dituntut kehati-hatian tatkala menjalaninya. Dan melaksanakan konsekuensi ihdad ini termasuk realisasi dari sikap kehati-hatian tersebut.
(Al-Fatawa As-Sa’diah, hal. 540)

Sumber: Majalah Akhwat Shalihah vol. 13/1432 H/2011, hal. 91-95
Sumber: https://fadhlihsan.wordpress.com/2011/11/19/fatwa-ulama-seputar-ihdaad-masa-berkabung-bagi-wanita/

Jenazah Koruptor Tidak Dishalati?

azdinawawi Jumat, 07 Agustus 2015 0

Assalamu’alaikum.

baru-baru ini dalam pemberitaan muktamar Muhammadiyah, salah seorang perwakilan peserta dari PP Muhammadiyah menyarankan agar dikeluarkannya fatwa pelarangan shalat jenazah bagi koruptor. pelarangan shalat ini disetujui oleh Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis dan pernah diutarakan oleh Marzukie Alie pada tahun 2010 lalu. namun, usulan ini mendapat penolakan dari Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif dengan alasan dishalatkannya seseorang adalah hak setiap muslim ketika ia meninggal, dan merupakan kewajiban setiap muslim yang masih hidup untuk mensholatkannya.

Pertanyaannya, adakah dalil tertentu yang mengatur ketentuan tersebut? mohon kiranya diberikan pencerahan.

Wassalamu’alaikum

Dirman

Jawab:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Koruptor yang belum bertaubat dan tidak mengembalikan hasil korupsinya sampai meninggal dunia, berarti mati dalam keadaan membawa dosa besar. Meskipun dosa besar, namun tindak korupsi  tidak menyebabkan pelakunya jadi kafir. Artinya, jenazahnya tetap disikapi sebagai jenazah muslim. Dia wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan di pemakaman kaum muslimin.

Selama dia muslim, dia mendapat hak untuk ditangai sebagai muslim.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ

“Kewajiban seorang muslim kepada muslim yang lain, ada enam.”

Para sahabat bertanya, ‘Apa saja itu, Ya Rasulullah?’

Beliau sebutkan dengan rinci, diantaranya,

وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Apabila sakit, mereka menjenguknya dan apabila meninggal, harus diantarkan jenazahnya. (HR. Ahmad 9080 dan Muslim 5778).

Tokoh Agama tidak Menshalati

Meskipun demikian, bukan berarti setiap orang dianjurkan menshalati jenazahnya. Karena koruptor yang mati dan belum bertaubat, dia berhak mendapatkan hukuman sosial. Hukuman dalam bentuk jenazahnya tidak dishalati oleh tokoh agama dan setiap orang yang diharapkan doanya.

Bukan karena mereka kafir, namun sebagai peringatan bagi masyarakat lainnya, bahwa orang semacam ini tidak dishalati oleh mereka yang diharapkan doanya.

Imam an-Nawawi menukil riwayat dari Imam Malik,

عن مالك وغيره أن الإمام يجتنب الصلاة على مقتول في حد وأن أهل الفضل لا يصلون على الفساق زجرا لهم

Dari Imam Malik dan yang lainnya, bahwa pemuka masyarakat selayaknya menghindari shalat jenazah yang mati karena hukuman had. Dan tokoh agama, tidak boleh menshalati orang fasik, sebagai peringatan bagi mereka. (Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 7/47)

Hukuman sosial semacam ini, pernah diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada koruptor di masa beliau.

Sahabat Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meninggal pada peristiwa Khaibar. Merekapun berharap agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalati jenazahnya. Namun beliau tidak berkenan menshalatkannya. Beliau justru menyuruh kami,

صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ

“Shalati teman kalian.”

Wajah para sahabat spontan berubah karena sikap beliau.

Di tengah kesedihan yang menyelimuti mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan alasanya,

إِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Teman kalian ini melakukan korupsi saat jihad fi sabilillah.”

Kami pun memeriksa barang bawaannya, ternyata dia mengambil manik-manik milik orang Yahudi (hasil perang Khaibar), yang nilainya kurang dari dua dirham. (HR. an-Nasai 1959, Abu Daud 2710, Ibnu Majah 2848, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Ada beberapa pelajaran dari hadis ini,

Pertama, orang yang mati dalam kondisi suul khatimah, disarankan agar tokoh agama tidak turut menshalati jenazahnya. Sebagai hukuman sosial baginya, dan memberikan efek jera bagi masyarakat lainnya. Betapa sedih pihak keluarga, ketika jenazah sang ayah tidak dishalati tokoh agama dan orang shaleh yang diharapkan doanya.

Kedua, orang yang mati suul khotimah statusnya masih muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyuruh para sahabat untuk menshalati jenazah orang ini. Sekalipun beliau tidak mau menshalatkannya.

Ketiga, sekecil apapun korupsi, tetap korupsi. Manik-manik seharga dua dirham, nilai yang sangat murah. Apa yang bisa kita bayangkan, ketika dia korupsi raturan juta?

Keempat, pahala jihad, tidak memadamkan dosa korupsi. Orang itu, meninggal di medan jihad. Namun sebelum meninggal, dia korupsi. Korupsi di negara kita, apa ada yang punya pahala jihad?

Semua ancaman di atas, menunjukkan betapa buruknya tindak korupsi di mata agama dan masyarakat.

Semoga Allah melindungi diri kita dan masyarkat kita dari penyakit berbahaya ini.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

http://www.konsultasisyariah.com/jenazah-koruptor-tidak-dishalati/

Renungan munculnya khowârij dan jamâ’ah tahdzìr

azdinawawi Rabu, 05 Agustus 2015 0

Renungan munculnya khowârij dan jamâ’ah tahdzìr


Oleh : al-Ustâdz Abû Qotâdah حفظه الله تعالى 

بسم الله الرحمن الرحيم
1. Kaum khowârij adalah sekelompok orang yg mengambil ayat² yg Allâh turunkan untuk orang kafir lalu mereka alamatkan kepada “ushôtul mu’minîn” (para pelaku maksiat) lalu mereka mengkafirkan kaum muslimin (dengan sebab kemaksiatan tersebut)…
2. Jamâ’ah tahdzîr adalah sekelompok org²  yang mengambil nash² tentang tabdî’ (vonis bid’ah) baik dari al-Qur’ân, hadìts, atau perkataan para ‘Ulama, kemudian mereka alamatkan kepada siapa saja yg mereka anggap salah atau menyelisihi mereka lalu menghukumi ahli sunnah sebagai mubtadi’ (Ahlil bid’ah). 

Mereka merasa sedang mengamalkan ‘adillah (dalil²) syar’îyah dan aqwâl (ucapan) Ulama. Seperti Ibnu Muljam yg menikam sahabat ‘Alî رضي الله عنه
sembari membacakan 2 ayat Al-Qur’an. Ia menyangka sedang mengamalkan ayat tersebut.
نعم الدليل بئس الاستدلال
(dia menggunakan) sebaik² dalil namun dg seburuk² cara penempatan dalil.
Dishare di grup Multaqō ad-Du’ât ilallâh dg sedikit perbaikan tulisan dan redaksi
@abinyasalma
Via status facebook Ust Yulian Purnama

Apakahkah Suami Istri Kembali Bersatu Di Surga Kelak?

azdinawawi 0

Akankah seorang istri akan berkumpul kembali dengan suaminya di surga kelak? Akankah mereka tinggal bersama-sama lagi?
Jawab:
Alhamdulillah,
1. Benar. Seorang istri akan bersatu kembali dengan suaminya di surga kelak bahkan bersama-sama anak keturunannya baik laki-laki dan perempuan selama mereka beragama Isalam (mentauhidkan Allah -pen). Hal ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala,
والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء
” Dan orang-orang beriman, berserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedkitpun pahala amal (kebajikan) mereka.” (QS. Ath Thur: 21).
Allah menceritakan diantara doa malaikat pemikul ‘Arsy,
ربنا وأدخلهم جنات عدن التي وعدتهم ومَن صلح مِن آبائهم وأزواجهم وذرياتهم إنك أنت العزيز الحكيم
“Ya Rabb kami masukanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang shalih diantara nenek moyang mereka, istri-istri dan anak keturunan mereka. Sungguh Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ghafir: 8)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,
“Allah Ta’ala akan mengumpulkan mereka berserta anak keturunannya agar menyejukkan pandangan mereka karena berkumpul pada satu kedudukan yang berdekatan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya,
“Dan orang-orang beriman, berserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal (kebajikan) mereka.”
Artinya, akan Kami samakan mereka pada satu kedudukan agar mereka (orang yg berkedudukan lebih tinggi-pen) merasa tenang. Bukan dengan mengurangi kedudukan mereka yang lebih tinggi, sehingga bisa setara dengan mereka yang rendah kedudukannya, namun dengan kami angkat derajat orang yang amalnya kurang, sehingga kami samakan dia dengan derajat orang yang banyak amalnya. Sebagai bentuk karunia dan kenikmatan yang kami berikan.
Said bin Jubair mengatakan, “Tatkala seorang mukmin memasuki surga maka ia akan menanyakan tentang bapaknya, anak-anaknya dan saudara-saudaranya dimanakah mereka? Maka dikatakan kepadanya bahwa mereka semua tidak sampai pada derajatmu di surga. Maka orang mukmin tersebut menjawab ‘Sesungguhnya pahala amal kebaikanku ini untukku dan untuk mereka.’ Maka mereka (keluarganya) dipertemukan pada satu kedudukan dengannya.” (Tafsir Ibn Katsir, 4/73).
2. Kita sedikitpun tidak akan sampai mengira, ketika ada orang yang Allah masukkan ke dalam surga, Allah hilangkan sifat kebencian dari hatinya, kemudian dia lebih memilih berpisah.
Dan kita tidaklah tahu tentang seseorang yang telah Allah takdirkan ia memasuki surga dan telah dicabut rasa dengki di hati mereka namun mereka memilih berpisah daripada bersatu kembali.
3. Apabila wanita tersebut belum pernah menikah tatkala di dunia maka Allah akan menikahkannya dengan laki-laki yang sangat dia cintai di surga. Orang yang mendapat kenikmatan di surga tidaklah terbatas laki-laki saja, namun untuk laki-laki dan perempuan. Dan diantara bentuk kenikmatan surga adalah menikah. Demikian nukilan dari Majmu’ Fatawa Ibni ‘Utsaimin (2/53). Dan di dalam surga tidak ada oranng yang melajang.
Wallahu A’lam.
Diterjemahkan: Tim Penerjemah muslimah.or.id
Muroja’ah: Ust. Ammi Nur Baits
Artikel muslimah.or.id