Header ads

LARANGAN MEMOTONG KUKU DAN RAMBUT BAGI SHAHIBUL QURBAN

AZDI NAWAWI Sabtu, 19 Agustus 2017 0

Shahibul Qurban Tidak Potong Kumis dan Kuku selama 10 Hari Awal Dzulhijjah
-Larangan ini berlaku hanya kepada shahibul Qurban yaitu biasanya kepala keluarga (bapak), karena qurban itu berlaku satu untuk satu keluarga dan dikeluarkan oleh kepala keluarga yang menanggung nafkah
-Larangan ini diperselisihkan hukumnya antara makruh dan haram, pendapat terpilih adalah haram sesuai dzahir hadits
-
Larangan memotong rambut mencakup kumis, rambut kemaluan, ketiak dll
Telah kita ketahui bahwa bagi shabihul qurban misalnya kepala rumah tangga (bapak) yang akan berqurban dilarang memotong kuku dan rambut selama 10 hari awal bulan Dzulhijjah Sampai ia qurbannya disembelih (larangan ini tidak berlaku bagi anggota keluarganya semisal istri). Larangan ini hukumnya haram bukan makruh karena hukum asal sesuatu larangan adalah haram.
sebagaimana dalil dari beberapa hadits Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam. Dari Ummu Salamah bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallambersabda,
مَن كانَ لَهُ ذِبحٌ يَذبَـحُه فَإِذَا أَهَلَّ هِلاَلُ ذِى الْحِجَّةِ فَلاَ يَأْخُذَنَّ مِنْ شَعْرِهِ وَلاَ مِنْ أَظْفَارِهِ شَيْئًا حَتَّى يُضَحِّىَ
Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berkurban maka janganlah dia menyentuh (memotong) sedikitpun bagian dari rambut dan kukunya.”[1]
Di riwayat lainnya,
إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الْحِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ
Jika kalian melihat hilal bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih (kurban) maka hendaknya dia tidak memotong rambut dan kukunya”[2]
Kumis termasuk rambut yang dilarang dipotong
Bagi laki-laki mungkin ada yang memiliki kebiasaan mencukur atau merapikan kumisnya. Ia tetap memotong dan merapikan kumis karena yang menyangka bahwa memotong rambut hanya rambut di sini maksudnya hanya rambut kepala saja.
Yang benar bahwa yang dimaksud rambut kepala di sini mencakup juga kumis. Jadi sebaiknya laki-laki yang menjadi shahibul qurban hati-hati dengan kebiasaan mencukur atau merapikan kumis. Jangan mencukurnya sampai hewan qurban disembelih
Dalam fatwa Al-Lajnah Ad-daimah (semacam MUI di Saudi) dijelaskan
حرم على من أراد الضحية من الرجال أو النساء أخذ شيء من الشعر، أو الظفر، أو البشرة من جميع البدن، سواء كان من شعر الرأس، أو من الشارب أو من العانة، أو من الإبط، أو من بقية البدن
Haram bagi mereka yang ingin melaksanakan qurban baik laki-laki maupun wanita, memotong rambut badannya, memorong kuku atau bagian kulitnya (misalnya kulit dekat kuku). Sama saja baik itu rambut kepala, kumis, rambut kemaluan atau rambut ketiak serta rambut lainnya di badannya.”[3]
Sebagaimana juga larangan mencabut uban di rambut kepala, maka ini mencakup semua rambut di kepala seperti jenggot dan kumis.
Syaikh Al-Mubarakfuri rahimahullahmenjelaskan mengenai hal ini,
نهى عن نتف الشيب : أي الشعر الأبيض من اللحية أو الرأس
“Larangan memcabut uban yaitu rambut putih pada jenggot (jambang) dan rambut kepala.”[4]
Bagaimana dengan yang tidak sengaja atau tidak tahu
Karena hukumnya haram, mungkin ada yang bertanya bagaiamana atau apa kafarahnya jika melanggar larangan ini?
Syaikh Abdul Aziz bin Bazrahimahullah menjelaskan bahwa tidak ada kafarah atau hukuman dalam hal ini, cukup bertaubat dan beristigfar saja, beliau berkata:
ومن أخذ شيئاً من شعره أو أظفاره أو بشرته في العشر ناسياً أو جاهلاً وهو عازم على التضحية فلا شيء عليه ، لأن الله سبحانه قد وضع عن عباده الخطأ والنسيان في هذا الأمر وأشباهه ، وأما من فعل ذلك عمداً فعليه التوبة إلى الله سبحانه ولا شيء عليه اهـ . ( يعني ليس عليه فدية ولا كفارة ) .
Barangsiapa yang memotong rambut atau kukunya karena lupa atau tidak tahu sedangkan ia ingin melaksanakan qurban, maka tidak mengapa baginya (tidak ada kafarah). Karena Allah subhanuhu memaafkan hamba-Nya dari kesalahan dan lupa dalam kondisi ini dan semisalnya. Adapun jika melakukannya dengan sengaja maka wajib baginya bertaubat kepada Allah dan tidak ada kewajiban apapun baginya (yaitu tidak ada fidyah atau kafarah).”[5]
Demikian semoga bermanfaat
Penyusun: Ustadz dr. Raehanul Bahraen hafidzahullah
-------
[1] HR. Muslim
[2] HR Muslim
[3] Fatawa Al-Lajnah juz 18 no 181, bisa di akses dihttp://www.alifta.net/fatawa/fatawachapters.aspx?View=Page&PageID=5174&PageNo=1&BookID=5
[4] Tuhfatul Ahwadzi 7/238
[5] Fatawa Al-Islamiyah 2/316, sumber:http://islamqa.info/ar/33760

SEORANG MUADZIN JUGA DISUNNAHKAN MEMBACA DOA SETELAH ADZAN

AZDI NAWAWI 0


Faidah: Seorang muadzin juga disunnahkan membaca doa setelah adzan.
=====
Ada seorang ustadz mengatakan, bahwa seorang muadzin tidak dibenarkan membaca doa setelah adzan, karena sasaran hadits tentang doa itu adalah orang yang mendengarkan adzan, bukan orang yg mengumandangkan adzan.
Kita katakan, pendapat ini jauh dari kebenaran, karena seorang muadzin juga masuk dalam keumuman hadits tentang anjuran doa setelah adzan tersebut, karena dia juga termasuk orang yang mendengarkan adzan, meski yg dia dengar adalah adzannya sendiri.
Hal ini telah ditegaskan oleh para ulama dalam 4 madzhab sejak dahulu.. dan banyak juga ulama kontemporer yang menegaskan hal ini.
Syeikh Muhammad Al-Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:
"Pendapat yang jelas (kuat), bahwa seorang muadzin juga berdoa (setelah adzan), karena doa ini tidak ada yang serupa dengannya dalam adzan.
Hanya saja dia tidak menjawab (adzan) dirinya sendiri sebagaimana hal itu dikatakan oleh sebagian ulama. Sebagian ulama mengatakan bahwa seorang muadzin juga (dianjurkan) menjawab adzannya sendiri, sehingga jika dia mengatakan: Allahu Akbar dengan suara keras; ia mengatakan dg suara lirih (setelahnya) Allahu Akbar...
Dengan keterangan ini, berarti semua lafal adzan itu terulang-ulang, yang pertama dengan adzannya, yang kedua dengan jawaban dia sendiri. Namun pendapat ini lemah, karena Rasul -shallallahu alaihi wasallam- mengatakan: "jika kalian mendengar muadzin, maka katakanlah ...", beliau di sini membedakan antara pendengar dengan muadzin.
Adapun dzikir (doa setelah adzan), maka karena muadzin tidak mengatakannya saat adzan, maka hendaknya dia mengatakannya setelah adzan sebagaimana orang lain.
Maka yang benar, bahwa doa setelah adzan itu mencakup muadzin dan pendengarnya". (yakni disunnahkan bagi keduanya untuk berdoa setelah adzan, karena keumuman hadits itu mencakup keduanya).

Ustadz Musyaffa ad Darany, MA hafidzahullah.

Faidah Dalam “Keinginan Buruk”

azdinawawi Selasa, 08 Agustus 2017 0

Rasulullāh ﷺ pernah bersabda:
“Jika seseorang ingin melakukan keburukan, tapi dia tidak jadi melakukannya, maka Allah mencatat baginya satu kebaikan yang sempurna”. [HR. Bukhori Muslim].
Keinginan untuk melakukan keburukan ada beberapa keadaan:
Pertama: jika seseorang ingin melakukan keburukan, dan ia bertekad bulat dalam hatinya untuk melakukan keburukan itu, bukan terbetik dalam hati saja. Tapi kemudian dia mengoreksi dirinya, dan akhirnya dia meninggalkan keburukan itu karena Allāh ﷻ.
Maka orang seperti ini diberi pahala, dan dicatat baginya satu kebaikan yang sempurna, karena dia meninggalkan keburukan itu karena Allah.
Kedua: jika seseorang ingin melakukan keburukan dan dia bertekad melakukannya, namun akhirnya dia tidak mampu melakukannya, tanpa ada usaha untuk melakukan langkah² menuju ke sana.
Seperti orang yang dikabarkan oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bahwa dia mengatakan: “seandainya aku punya harta seperti harta si fulan, maka aku akan melakukan apa yang dia lakukan”, padahal si fulan tersebut adalah orang yang biasa menghambur-hamburkan hartanya.
Maka orang ini, dicatat baginya satu keburukan, tapi dia tidak seperti pelaku keburukan, karena yang ditulis dosa niatnya (saja).
Ketiga: jika seseorang ingin melakukan keburukan, dan dia telah berusaha untuk mewujudkannya, tapi tidak mampu = maka dicatat baginya dosa keburukan secara sempurna.
Dalilnya adalah sabda Nabi ﷺ: “Jika dua muslim berhadapan dengan dua pedangnya, maka pembunuh dan korbannya di neraka (semua)”. Para sahabat bertanya: ya Rasulullah, pembunuhnya ini (sudah jelas di neraka), lalu mengapa korbannya (juga di neraka)? Beliau menjawab: “Karena korbannya itu juga telah berusaha membunuh temannya”. Maka dicatat baginya hukuman sebagai pembunuh.
Keempat: jika seseorang ingin melakukan keburukan, kemudian dia meninggalkannya, bukan karena Allah, bukan pula karena tidak mampu.
Maka ini tidak ada pahala baginya dan juga tidak ada dosa atasnya. Dia tidak diberi pahala, karena dia meninggalkannya bukan karena Allah. Dia tidak diberi hukuman, karena dia belum melakukan perbuatan yg bisa mendatangkan hukuman.
[Diringkas dari penjelasan Syeikh Utsaimin -rohimahulloh- dalam kitabnya Syarah Arbain Nawawi, hal: 400-401].
Silahkan dishare… 
semoga bermanfaat…
Ustādz Musyaffa ad-Dariny, MA hafidzahullāh.