Header ads

Sebuah Kisah Nyata Penuh Hikmah Suami Shalih - Istri Shalihah

Kajian Salaf Selasa, 04 November 2014 0

Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :

Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.

Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa') tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…
Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.

Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur'an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.

Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.

Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku...
Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.

Putriku bercerita :

Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, "Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??"

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do'aku, "Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa 'Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut'aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…

Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…

Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…"

Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.

Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., "Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?". Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, "Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!". Maka aku berkata kepadanya, "Aku ini putrimu Asmaa'". Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.

Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : "Subhaanallahu…". Dokter yang lain dari Mesir berkata, "Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…". Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??

          Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa' akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do'a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo' kecuali do'a…barang siapa yang menjaga syari'at Allah maka Allah akan menjaganya.

Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai 'ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…

Maka ketuklah pintu langit dengan do'a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil 'Aaalamiin (SELESAI…)

          Janganlah pernah putus asa…jika Tuhanmu adalah Allah…
          Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus…
          Hiaslah do'amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci
          Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya…


(sumber : http://www.muslm.org/vb/archive/index.php/t-416953.html , Diterjemahkan oleh Firanda Andirja)

Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 19-11-1434 H / 25 September 2013 M
www.firanda.com

Saudaraku, Jangan Engkau Sia-Siakan Puasamu?

Kajian Salaf Senin, 30 Juni 2014 0

Saudaraku, janganlah engkau sia-siakan puasamu. Janganlah sampai engkau hanya mendapat lapar dan dahaga saja, lalu engkau lepaskan pahala yang begitu melimpah dan tak terhingga di sisi Allah dari amalan puasamu tersebut. Isilah hari-harimu di bulan suci ini dengan amalan yang bermanfaat, bukan dengan perbuatan yang sia-sia atau bahkan mengandung maksiat. Janganlah engkau berpikiran bahwa  karena takut berbuat maksiat dan perkara yang sia-sia, maka lebih baik diisi dengan tidur. Lihatlah suri tauladan kita memberi contoh kepada kita dengan melakukan banyak kebaikan seperti banyak berderma, membaca Al Qur’an, banyak berzikir dan i’tikaf di bulan Ramadhan. Manfaatkanlah waktumu di bulan yang penuh berkah ini dengan berbagai macam kebaikan dan jauhilah berbagai macam maksiat.

Di bulan Ramadhan ini setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjalankan puasa dengan menahan lapar dan dahaga mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari. Namun ada di antara kaum muslimin yang melakukan puasa, dia tidaklah mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja yang menghinggapi tenggorokannya. Inilah yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang jujur lagi membawa berita yang benar,
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thobroniy dalam Al Kabir dan sanadnya tidak mengapa. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1084 mengatakan bahwa hadits ini shohih ligoirihi -yaitu shohih dilihat dari jalur lainnya-)
Apa di balik ini semua? Mengapa amalan puasa orang tersebut tidak teranggap, padahal dia telah susah payah menahan dahaga mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari?
Saudaraku, agar engkau mendapatkan jawabannya, simaklah pembahasan berikut mengenai beberapa hal yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia -semoga Allah memberi taufik pada kita untuk menjauhi hal-hal ini-.

1. Jauhilah Perkataan Dusta (az zuur)
Inilah perkataan yang membuat puasa seorang muslim bisa sia-sia, hanya merasakan lapar dan dahaga saja.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari no. 1903)
Apa yang dimaksud dengan az zuur? As Suyuthi mengatakan bahwa az zuur adalah berkata dusta dan menfitnah (buhtan). Sedangkan mengamalkannya berarti melakukan perbuatan keji yang merupakan konsekuensinya yang telah Allah larang. (Syarh Sunan Ibnu Majah, 1/121, Maktabah Syamilah)

2. Jauhilah Perkataan lagwu (sia-sia) dan rofats (kata-kata porno)
Amalan yang kedua yang membuat amalan puasa seseorang menjadi sia-sia adalah perkataan lagwu dan rofats.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ
Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.” (HR. Ibnu Majah dan Hakim. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib no. 1082 mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Apa yang dimaksud dengan lagwu? Dalam Fathul Bari (3/346), Al Akhfasy mengatakan,
اللَّغْو الْكَلَام الَّذِي لَا أَصْل لَهُ مِنْ الْبَاطِل وَشَبَهه
Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.”
Lalu apa yang dimaksudkan dengan rofats? Dalam Fathul Bari (5/157), Ibnu Hajar mengatakan,
وَيُطْلَق عَلَى التَّعْرِيض بِهِ وَعَلَى الْفُحْش فِي الْقَوْل
“Istilah Rofats digunakan dalam pengertian ‘kiasan untuk hubungan badan’ dan semua perkataan keji.”
Al Azhari mengatakan,
الرَّفَث اِسْم جَامِع لِكُلِّ مَا يُرِيدهُ الرَّجُل مِنْ الْمَرْأَة
“Istilah rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita.” Atau dengan kata lain rofats adalah kata-kata porno.
Itulah di antara perkara yang bisa membuat amalan seseorang menjadi sia-sia. Betapa banyak orang yang masih melakukan seperti ini, begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata kotor, dusta, sia-sia dan menggunjing orang lain.

3. Jauhilah Pula Berbagai Macam Maksiat
Ingatlah bahwa puasa bukanlah hanya menahan lapar dan dahaga saja, namun hendaknya seorang yang berpuasa juga menjauhi perbuatan yang haram. Perhatikanlah saudaraku petuah yang sangat bagus dari Ibnu Rojab Al Hambali berikut:
“Ketahuilah, amalan taqarrub (mendekatkan diri) pada Allah ta’ala dengan meninggalkan berbagai syahwat yang mubah ketika di luar puasa (seperti makan atau berhubungan badan dengan istri, -pen) tidak akan sempurna hingga seseorang mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan perkara yang Dia larang yaitu dusta, perbuatan zholim, permusuhan di antara manusia dalam masalah darah, harta dan kehormatan.” (Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah)
Jabir bin ‘Abdillah menyampaikan petuah yang sangat bagus:
“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram serta janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama saja.” (Lihat Latho’if Al Ma’arif, 1/168, Asy Syamilah)
Itulah sejelek-jelek puasa yaitu hanya menahan lapar dan dahaga saja, sedangkan maksiat masih terus dilakukan. Hendaknya seseorang menahan anggota badan lainnya dari berbuat maksiat. Ibnu Rojab mengatakan,
أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ
“Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja.”
Itulah puasa kebanyakan orang saat ini. Ketika ramadhan dan di luar ramadhan, kondisinya sama saja. Maksiat masih tetap jalan. Betapa banyak kita lihat para pemuda-pemudi yang tidak berstatus sebagai suami-istri masih saja berjalan berduaan. Padahal berduaan seperti ini telah dilarang dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun hal ini tidak diketahui dan diacuhkan begitu saja oleh mereka.
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ
Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahramnya.” (HR. Bukhari, no. 5233)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ
Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. (HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi –shohih dilihat dari jalur lain-)
Apalagi dalam pacaran pasti ada saling pandang-memandang. Padahal Nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah memerintahkan kita memalingkan pandangan dari lawan jenis. Namun, orang yang mendapat taufik dari Allah saja yang bisa menghindari semacam ini. Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.
Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku. (HR. Muslim no. 5770)
Kalau di luar Ramadhan, perbuatan maksiat semacam ini saja jelas-jelas dilarang maka tentu di bulan Ramadhan lebih tegas lagi pelarangannya. Semoga kita termasuk orang yang mendapat taufik dari Allah untuk menjauhi berbagai macam maksiat ini.

Apakah Dengan Berkata Dusta dan Melakukan Maksiat, Puasa Seseorang Menjadi Batal?
Untuk menjelaskan hal ini, perhatikanlah perkataan Ibnu Rojab berikut, “Mendekatkan diri pada Allah ta’ala dengan meninggalkan perkara yang mubah tidaklah akan sempurna sampai seseorang menyempurnakannya dengan meninggalkan perbuatan haram. Barangsiapa yang melakukan yang haram (seperti berdusta) lalu dia mendekatkan diri pada Allah dengan meninggalkan yang mubah (seperti makan di bulan Ramadhan), maka ini sama halnya dengan seseorang meninggalkan yang wajib lalu dia mengerjakan yang sunnah. Walaupun puasa orang semacam ini tetap dianggap sah menurut pendapat jumhur (mayoritas ulama) yaitu orang yang melakukan semacam ini tidak diperintahkan untuk mengulangi (mengqodho’) puasanya. Alasannya karena amalan itu batal jika seseorang melakukan perbuatan yang dilarang karena sebab khusus dan tidaklah batal jika melakukan perbuatan yang dilarang yang bukan karena sebab khusus. Inilah pendapat mayoritas ulama.”
Ibnu Hajar dalam Al Fath (6/129) juga mengatakan mengenai hadits perkataan zuur (dusta) dan mengamalkannya:
“Mayoritas ulama membawa makna larangan ini pada makna pengharaman, sedangkan batalnya hanya dikhususkan dengan makan, minum dan jima’ (berhubungan suami istri).”
Mula ‘Ali Al Qori dalam Mirqotul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih (6/308) berkata, “Orang yang berpuasa seperti ini sama keadaannya dengan orang yang haji yaitu pahala pokoknya (ashlu) tidak batal, tetapi kesempurnaan pahala yang tidak dia peroleh. Orang semacam ini akan mendapatkan ganjaran puasa sekaligus dosa karena maksiat yang dia lakukan.”
Kesimpulannya: Seseorang yang masih gemar melakukan maksiat di bulan Ramadhan seperti berkata dusta, memfitnah, dan bentuk maksiat lainnya yang bukan pembatal puasa, maka puasanya tetap sah, namun dia tidak mendapatkan ganjaran yang sempurna di sisi Allah. –Semoga kita dijauhkan dari melakukan hal-hal semacam ini-

Ingatlah Suadaraku Ada Pahala yang Tak Terhingga di Balik Puasa Kalian
Saudaraku, janganlah kita sia-siakan puasa kita dengan hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Marilah kita menjauhi berbagai hal yang dapat mengurangi kesempurnaan pahala puasa kita. Sungguh sangat merugi orang yang melewatkan ganjaran yang begitu melimpah dari puasa yang dia lakukan. Seberapa besarkah pahala yang melimpah tersebut? Mari kita renungkan bersama hadits berikut ini.
Dalam riwayat Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى »
Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim no. 1151)
Lihatlah saudaraku, untuk amalan lain selain puasa akan diganjar dengan 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Namun, lihatlah pada amalan puasa, khusus untuk amalan ini Allah sendiri yang akan membalasnya. Lalu seberapa besar balasan untuk amalan puasa? Agar lebih memahami maksud hadits di atas, perhatikanlah penjelasan Ibnu Rojab berikut ini:
“Hadits di atas adalah mengenai pengecualian puasa dari amalan yang dilipatgandakan menjadi 10 kebaikan hingga 700 kebaikan yang semisal. Khusus untuk puasa, tak terbatas lipatan ganjarannya dalam bilangan-bilangan tadi. Bahkan Allah ‘Azza wa Jalla akan melipatgandakan pahala orang yang berpuasa hingga bilangan yang tak terhingga. Alasannya karena puasa itu mirip dengan sabar. Mengenai ganjaran sabar, Allah ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” (QS. Az Zumar [39]: 10). Bulan Ramadhan juga dinamakan dengan bulan sabar. Juga dalam hadits lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa adalah setengah dari kesabaran.” (HR. Tirmidzi, Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Al Jami’ Ash Shogir no. 2658 mengatakan bahwa hadits ini dho’if , -pen)
Sabar ada tiga macam yaitu sabar dalam menjalani ketaatan, sabar dalam menjauhi larangan dan sabar dalam menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan. Dan dalam puasa terdapat tiga jenis kesabaran ini. Di dalamnya terdapat sabar dalam melakukan ketaatan, juga terdapat sabar dalam menjauhi larangan Allah yaitu menjauhi berbagai macam syahwat. Dalam puasa juga terdapat bentuk sabar terhadap rasa lapar, dahaga, jiwa dan badan yang terasa lemas. Inilah rasa sakit yang diderita oleh orang yang melakukan amalan taat, maka dia pantas mendapatkan ganjaran sebagaimana firman Allah ta’ala,
ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At Taubah [9]: 120).” -Demikianlah penjelasan Ibnu Rojab (dalam Latho’if Al Ma’arif, 1/168) yang mengungkap rahasia bagaimana puasa seseorang bisa mendapatkan ganjaran tak terhingga, yaitu karena di dalam puasa tersebut terdapat sikap sabar.-

Saudaraku, sekali lagi janganlah engkau sia-siakan puasamu. Janganlah sampai engkau hanya mendapat lapar dan dahaga saja, lalu engkau lepaskan pahala yang begitu melimpah dan tak terhingga di sisi Allah dari amalan puasamu tersebut.
Isilah hari-harimu di bulan suci ini dengan amalan yang bermanfaat, bukan dengan perbuatan yang sia-sia atau bahkan mengandung maksiat. Janganlah engkau berpikiran bahwa  karena takut berbuat maksiat dan perkara yang sia-sia, maka lebih baik diisi dengan tidur. Lihatlah suri tauladan kita memberi contoh kepada kita dengan melakukan banyak kebaikan seperti banyak berderma, membaca Al Qur’an, banyak berzikir dan i’tikaf di bulan Ramadhan. Manfaatkanlah waktumu di bulan yang penuh berkah ini dengan berbagai macam kebaikan dan jauhilah berbagai macam maksiat.
Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, kemampuan untuk menjauhi yang larang dan diberikan rasa kecukupan.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Penulis : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal. Sumber: www.muslim.or.id

Nasehat Syaikh Utsaimin Berkenaan Dengan Datangnya Bulan Ramadhan

Kajian Salaf Jumat, 27 Juni 2014 0

Berikut adalah nasehat dari syaikh utsaimin rahimahullah kepada kaum muslimin berkaitan denan datangnya bulan ramadhan. Silahkan disimak dan semoga kita bisa mengamalkannya.
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Berkenan dengan datangnya bulan Ramadhan, yang bulan itu sebagai musim ibadah dan ketaatan. Alangkah baiknya jika Anda berkenan memberikan nasihat kepada kaum muslimin berkaitan dengan hal ini. Semoga Allah Azza wa Jalla menjaga, menolong dan memberikan taufiq kepada Anda.
Jawaban
Sebuah kalimat yang saya tujukan kepada kaum muslimin, bahwasanya pada bulan ini terdapat tiga macam ibadah yang agung, yaitu zakat, puasa, dan qiyam (berdiri untuk shalat).
1. Zakat
Kebanyakan manusia menunaikan zakatnya pada bulan ini. Menunaikan zakat dengan penuh amanah merupakan kewajiban setiap orang. Hendaknya seseorang merasa bahwa zakat merupakan ibadah dan sebagai salah satu kewajiban Islam. Dengan itu, ia bisa mendekatkan diri kepada Rabbnya dan melaksanakan salah satu dari rukun Islam yang agung. Membayar zakat bukan sebuah kerugian sebagaimana yang digambarkan syaitan.

Allah Azza wa Jalla berfirman.
الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ ۖ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir). Sedangkan Allah menjanjikan kepadamu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lag Maha Mengetahui” [al-Baqarah/2 : 268]
Bahkan membayar zakat sebenarnya merupakan keuntungan. Karena Allah Azza wa Jalla telah berfirman.
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir. Pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui” [al-Baqarah/2 : 261]
وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
“Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka adalah seperti kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat. Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat itu tidak menyiraminya, maka hujan gerimispun (telah cukup baginya). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” [al-Baqarah/2 : 265]
Kemudian hendaknya seorang muslim mengeluarkan zakat yang wajib atasnya, baik dari harta yang sedikit maupun banyak. Selalu mengintropeksi diri dan tidak melalaikan setiap yang wajib dizakati, melainkan ia membayarkannya. Dengan demikian, dia akan terbebas dari tanggungan dan ancaman dahsyat, sebagaimana Allah Azza wa Jalla berfirman.
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil terhadap harta-harta yang Allah berikan kepada mereka sebagai karunia-Nya itu menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sesungguhnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di lehernya kelak pada hari Kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala urusan(yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” [Ali-Imran/3 : 180]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman.
وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ ﴿٣٤﴾ يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ ۖ هَٰذَا مَا كَنَزْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنْتُمْ تَكْنِزُونَ
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkan pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu” [at-Taubah/9 : 34-35]
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَلَمْ يُؤَدِّ زَكَاتَهُ مُثِّلَ لَهُ مَالُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُجَاعًا أَقْرَعَ لَهُ زَبِيبَتَانِ يُطَوَّقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِلِهْزِمَتَيْهِ يَعْنِي بِشِدْقَيْهِ
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang diberi harta oleh Allah Azza wa Jalla, lalu ia tidak menunaikan zakatnya, (maka) pada hari Kiamat hartanya dijelmakan menjadi seekor ular jantan aqra’ (yang putih kepalanya, karena banyaknya racun pada kepala itu) yang berbusa di dua sudut mulutnya. Ular itu dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat. Ular itu mencengkeram dengan kedua rahangnya, lalu ular itu berkata, ‘Saya adalah hartamu, saya adalah simpananmu”.
Adapun ayat yang kedua, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menafsirkannya dengan bersabda.
مَا مِنْ صَاحِبِ ذَهَبٍ وَلَا فِضَّةٍ لَا يُؤَدِّي مِنْهَا حَقَّهَا إِلَّا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صُفِّحَتْ لَهُ صَفَائِحَ مِنْ نَارٍ فَأُحْمِيَ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَيُكْوَى بِهَا جَنْبُهُ وَجَبِينُهُ وَظَهْرُهُ كُلَّمَا بَرَدَتْ أُعِيدَتْ لَهُ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ حَتَّى يُقْضَى بَيْنَ الْعِبَادِ فَيَرَى سَبِيلَهُ إِمَّا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِمَّا إِلَى النَّارِ
“Tidaklah pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan haknya (yaitu zakat) melainkan pada hari Kiamat akan dijadikan lempengan-lempengan di neraka. Kemudian dipanaskan di dalam neraka Jahannam. Lalu dibakarlah dahi, lambung dan punggungnya. Tiap-tiap lempengan itu dingin kembali (dipanaskan dalam neraka Jahannam) untuk (menyiksa)nya. (Hal itu dilakukan pada hari Kiamat), yang satu hari sebanding dengan 50 ribu tahun, hingga diputuskan (hukuman) di antara seluruh hamba. Kemudian dia akan melihat (atau akan diperlihatkan) jalannya. Apakah dia menuju surga atau neraka.
Demikian juga wajib baginya untuk memberikan zakat kepada orang yang berhak menerimnya. Janganlah membayar zakat hanya sebagai kebiasaan atau dalam keadaan terpaksa. Dan dengan pembayaran zakat itu, (kemudian) tidak (berarti) menjadikan kewajiban-kewajiban selain zakat menjadi gugur. Sehingga dengan demikian, pembayaran zakat akan menjadi amalan yang diterima.
2. Adapun Perkara Kedua Yang Dilakukan Kaum Muslimin Pada Bulan Ini, Ialah Puasa Ramadhan, Satu Diantara Rukun-Rukun Islam.
Adapun manfaat puasa, ialah sebagaimana telah disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” [al-Baqarah/2 : 183]
Maka manfaat puasa yang sesungguhnya, ialah takwa kepada Allah Azza wa Jalla dengan cara melaksanakan perintah-perintahNya dan menjauhi laranganNya. Sehingga manusia melaksanakan apa yang diwajibkan Allah Azza wa Jalla kepadanya, yaitu berupa bersuci dan shalat, serta menjauhi yang telah Allah Azza wa Jalla haramkan baginya, seperti berdusta, menggunjing, dan menipu, serta lalai dengan kewajiban-kewajibannya.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan masih juga melakukannya, serta melakukan perbuatan-perbuatan bodoh, maka Allah tidak membutuhkan terhadap puasanya, meskipun ia meninggalkan makan dan minumnya”.
Yang amat disayangkan, kebanyakan kaum muslimin yang berpuasa pada bulan ini, perbuatan mereka tidak jauh berbeda dengan tatkala hari-hari berbuka (saat tidak berpuasa). Terkadang antara mereka dijumpai ada yang masih melalaikan kewajiban atau melakukan keharaman. Dan sekali lagi, ini sangat disesalkan. Adapun mukmin yang berakal, ialah mereka yang tidak menjadikan hari-hari puasanya sama seperti hari-hari berbukanya. Akan tetapi (sudah menjadi keharusan), apabila pada hari-hari puasanya, ia menjadi hamba yang lebih bertakwa dan lebih taat kepadaNya.
3. Perkara Ketiga, Yaitu Qiyam (Berdiri Untuk Shalat)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajak untuk melakukan qiyam dengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang melaksanakan shalat malam pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan balasan, maka dia akan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat”.
Sebagaimana telah dimaklumi, qiyam Ramadhan ini mencakup shalat-shalat sunnah pada malam hari dan shalat tarawih. Oleh karena itu, seharusnya setiap orang supaya memperhatikan dan menjaganya, serta berusaha mengikuti imam shalat sampai selesai. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Barangsiapa yang shalam (malam) bersama imam hingga selesai shalatnya, akan ditulis (pahala) shalat semalaman”.
Adapun bagi para imam yang mengimami manusia pada shalat tarawih, mereka wajib bertakwa kepada Allah dalam hal-hal yang berkaitan dengan ma’mum. Mereka harus shalat dengan tuma’ninah dan tenang (tidak tergesa-tergesa), sehingga para ma’mum bisa melaksanakan setiap kewajiabn dan amalan-amalan sunnah sebaik mungkin. Sedangkan yang dilakukan kebanyakan manusia pada hari ini. Mereka shalat secara cepat sehingga tidak tuma’ninah. Padahal tuma’ninah merupakan bagian dari rukun-rukun shalat. Shalat tidak sah kecuali dengan tuma’ninah. Oleh karena itu, tergesa-gesa dalam shalat adalah haram. Sebab (1) mereka meninggalkan tuma’ninah, (2) seandainya mereka (imam) tidak meninggalkan tuma’ninah, maka sesungguhnya mereka menjadikan lelah orang-orang yang di belakangnya serta menyebabkan orang-orang itu meninggalkan tuma’ninah.
Oleh karena itu, seseorang yang mengimami manusia, jangan seperti jika ia shalat sendiri. Dia harus menjaga amanah terhadap manusia dan melaksanakan shalat dengan benar. Para ulama telah menyebutkan, bahwasanaya seorang imam dimakruhkan untuk mempercepat shalat sehingga menghalangi ma’mum untuk melaksanakan amalan sunnah. (Apabila demikian keadaannya), maka bagaimana jika imam mempercepat shalat sehingga menghalangi ma’mum dari mengerjakan sesuatu yang wajib?

Sumber: http://almanhaj.or.id/content/3943/slash/0/nasihat-menjelang-bulan-ramadhan/

Tabligh Akbar Nasional 22 Juni 2014

Kajian Salaf Senin, 16 Juni 2014 0

HADIRILAH!!
Tabligh Akbar Nasional Bersama Ulama Timur Tengah
Kajian Ini Terbuka Untuk Umum Bagi Kaum Muslimin Dan Muslimah

Pemateri
Syaikh Ali bin Hasan bin Abdul Hamid Al Halabi hafidzhahullah
(Ulama Ahlus Sunnah Yordania, murid Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani)
Syaikh Ali Hasan Al Halabi adalah ulama yang sering datang berkunjung ke Indonesia untuk mengisi acara tabligh akbar dan seminar para da’i. Beliau adalah salah satu murid senior dari ahli hadits terkenal zaman ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.  

Waktu
Ahad 22 Juni 2014, pukul 15.30 s/d 20.30WIB

Tempat
Masjid Al Istiqlal, Jakarta Pusat

Tema
“Meneladani Kepemimpinan Umar bin Khathab Radhiallahu’anhu”

Penerjemah
Ustadz Firanda Andrija, Lc., MA.
Info: 0821 4067 5825


Nasehat dalam Menyambut Bulan Ramadhan

Kajian Salaf Jumat, 13 Juni 2014 2

Hendaklah kita menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah, bulan yang memiliki banyak keistimewaan, dengan penuh harapan dan kebahagiaan. Kita harus bersyukur kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala, karena masih memberi kita kesempatan untuk berjumpa dengannya. Pada bulan Ramadhân, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih giat lagi beribadah dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Ini juga yang dilakukan oleh para ulama salaf. Mereka benar-benar serius memperhatikan bulan ini. Mereka meluangkan waktunya untuk beribadah kepada kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan menunaikan berbagai amal shaleh. Mereka memanfaatkan detik demi detik waktu dalam ketaatan kepada Rabb mereka. Hendaklah kita memohon kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala agar ditolong dalam melakukan berbagai amal shalih, serta mohonlah kepada-Nya agar Allâh Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amal kita. Amin
Sebagai seorang muslim kita diwajibkan selama masih hidup untuk senantiasa taat dan beribadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Allâh berfirman,
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kematian kepadamu.” (Q.S. al-Hijr/15: 99) .
Sebagian ulama salaf mengatakan, “Tiada tujuan lain amalan seorang muslim, kecuali untuk menghadapi kematian.”
Oleh karena itu, merupakan suatu keharusan bagi seorang muslim untuk lebih serius memperhatikan dan mengerahkan segala kemampuannya pada mawâsimil khair (waktu-waktu yang utama untuk melakukan kebaikan). Di antara bentuk rahmat Allâh Subhanahu wa Ta’ala yaitu Dia menyediakan bagi para hamba-Nya waktu-waktu utama yang pada saat itu semua kebaikan dilipat gandakan balasannya dibandingkan waktu-waktu lainnya. Di antara waktu itu adalah bulan Ramadhân yang penuh berkah. Pada bulan ini, Allâh Subhanahu wa Ta’ala menurunkan Alqurân yang merupakan petunjuk bagi umat manusia. Inilah musim melakukan kebaikan yang sangat agung.

Sungguh akan datang kepada kalian tamu yang membawa keberkahan dan lagi mulia. Maka, hendaklah kita menyambutnya dengan penuh harapan dan kebahagiaan. Hendaklah kalian bersyukurlah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala, karena Allâh Subhanahu wa Ta’ala masih memberi kita kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadhân! Hendaklah kita memohon kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala agar ditolong dalam melakukan berbagai amal shalih, serta mohonlah kepada-Nya agar Allâh Subhanahu wa Ta’ala menerima seluruh amal kita. Karena bulan Ramadhân sebagaimana telah kita ketahui memiliki banyak keistimewaan.
Di antara keistimewaannya adalah Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan puasa pada bulan Ramadhân sebagai salah satu rukun Islam. Orang yang telah memenuhi persyaratan tidak diperkenankan meninggalkan berpuasa pada bulan itu, kecuali dengan alasan yang dibenarkan syariat, seperti bepergian jauh atau sakit. Itupun dia tetap dikenai beban untuk menggantinya di bulan-bulan yang lain. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. (Q.S. al-Baqarah/2: 185).
Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keringanan kepada orang yang sudah berusia lanjut dan tidak mampu lagi untuk berpuasa. Orang seperti ini tidak dikenai kewajiban mengganti pada bulan yang lain. Dia hanya dikenai kewajiban membayar fidyah sesuai dengan ketentuan syariat.

Di antara keistimewaan Ramadhân yaitu shalat tarawih yang disyariatkan khusus pada bulan ini. Shalat sunat disyariatkan dikerjakan secara berjamaah di masjid. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
Barangsiapa yang shalat bersama imam, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mencatat untuknya pahala shalat semalam penuh.
Para ulama mengatakan bahwa shalat ini hukumnya sunat mukkad, sehingga seharusnya bagi seluruh kaum muslimin memperhatikannya dengan baik. Hendaknya kita memperhatikan cara pelaksanaanya agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak hanya sekadar mengikuti adat atau kebiasaan. Sangat disayangkan fenomena di tengah masyarakat, banyak di antara mereka yang melaksanakannya, namun seakan sebagai adat saja. Sehingga, apa yang mereka lakukan tidak berbekas sama sekali dalam jiwa. Nas’alullah ‘afiyah.

Keistimewaan lain dari Ramadhân yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala memilihnya sebagai waktu untuk menurunkan Alquran yang merupakan petunjuk bagi manusia. Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhân, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alqurân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Qs al-Baqarah/2:185)
Ibnu Abbâs mengatakan, “Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan seluruh Alquran sekaligus dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul Izzah di langit dunia pada bulan Ramadhân. Lalu di sana, diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan berbagai kejadian.”

Keistimewaan ramadhan yang selalu ditunggu-tunggu dan diharap-harap yaitu dia memiliki Lailatul Qadr yang dijelaskan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala keistimewaannya yaitu lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang diberi taufik oleh untuk beramal malam itu, berarti sama dengan beramal selama delapan puluh tiga tahun. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk beramal shalih pada malam itu.
Dan masih banyak lagi keistimewaan bulan Ramadhân, bulan yang ditunggu kehadirannya oleh seluruh kaum muslimin yang memiliki kepedulian terhadap hari akhiratnya. Bulan yang penuh berkah ini akan segera datang. Mestinya, sejak sekarang sudah bertekad akan bersungguh-sungguh dalam melakukan amal shalih pada bulan Ramadhân, sebagaimana anjuran Rasûlullâh. Bersungguh-sungguh melaksanakan berbagai amalan shalih, baik yang wajib, ataupun sunnah, seperti shalat, shadaqah, dan sabar dalam melaksanakan ketaatan kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Maka, janganlah kita sia-siakan bulan ini dengan melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat, sebagaimana kelakuan orang-orang celaka. Yaitu orang-orang yang lupa kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala, sehingga Allâh pun melupakan mereka. Mereka tidak bisa memetik manfaat apapun dari bulan yang penuh kebaikan yang akan menjelang ini. Mereka tidak mengetahui kehormatan bulan ini dan tidak mengetahui nilainya.

SIKAP YANG PERLU DIWASPADAI
Pada bulan Ramadhân, pintu-pintu surga dibuka, sementara pintu-pintu neraka ditutup. Setan yang senantiasa menggoda dan menjebak manusia agar berbuat maksiat pun dibelenggu. Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ
Apabila bulan Ramadhân telah tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. (H.R. Muslim).
Dengan demikian, kesempatan untuk melakukan kebaikan itu terbuka lebar. Kita juga bisa menyaksikan pada bulan Ramadhân, banyak orang yang berubah drastis. Dari yang tidak pernah ke masjid jadi gemar ke masjid; dari yang bakhil berubah menjadi pemurah dan lain sebagainya.
Namun sangat disayangkan, banyak orang yang tidak mengerti hakikat bulan yang mulia ini, yang mereka tahu adalah bulan ini merupakan kesempatan untuk menghidangkan dan menyantap makanan dan minuman yang bervariasi. Asumsi ini mendorong berusaha keras untuk memenuhi apapun yang diinginkan oleh hawa nafsunya. Mereka mengeluarkan biaya yang banyak untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Mereka berfoya-foya. Padahal sudah dimaklumi bersama, bahwa terlalu banyak makan menyebabkan seseorang malas melaksanakan perbuatan taat. Sementara pada bulan yang mulia ini, seorang muslim diharapkan mengurangi makan sehingga bisa bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Sebagian lagi memahaminya sebagai kesempatan untuk tidur dan bermalas-malasan. Dia pun “memanfaatkan” sebagian besar waktunya untuk mendengkur, bahkan sampai tertinggal shalat jamaah di masjid. Mereka berdalil dengan hadits lemah,
نَوْمُ الصَّائِمِ عِبَادَةٌ
Tidurnya orang yang berpuasa itu ibadah. (Hadits ini dinyatakan dhaif oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah Ahadits adh-Dhaifah, no. 4696).
Ini jelas sebuah kekeliruan.
Sebagian lagi memahaminya sebagai waktu untuk begadang, bukan dalam rangka beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tapi mereka habiskan waktu malam mereka dengan bercanda-ria dan melakukan berbagai aktivitas yang sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka di akhirat. Ketika badan sudah terasa lelah akibat begadang, mereka segera sahur, selanjutnya tidur sampai melewati shalat Shubuh. Na’udzubillah.
Sebagian lagi asik menyantap hidangan saat berbuka sampai lupa diri dan meninggalkan shalat Maghrib berjama’ah di masjid. Inilah di antara fenomena meyedihkan yang sering kita temukan di tengah masyarakat pada bulan Ramadhân. Mereka meninggalkan berbagai kewajiban dan melakukan aneka perbuatan yang diharamkan. Rasa takut kepada adzab Allâh Subhanahu wa Ta’ala seakan sudah tidak ada lagi di hati mereka. Kalau kelakuan mereka, masihkah Ramadhân memiliki keistimewaan di mata mereka? Manfaat apa yang bisa mereka petik darinya?

Ada lagi sebagian orang yang memahami bulan Ramadhân sebagai kesempatan emas untuk berbisnis. Mereka mencurahkan segala kemampuan untuk menyusun strategi demi meraup untung sebanyak-banyaknya di bulan ini. Waktu-waktu mereka dihabiskan di lokasi-lokasi bisnis, sampai-sampai tidak lagi untuk ke masjid, kecuali sebentar saja dan itupun dalam suasana terburu-buru. Di kepala mereka, Ramadhân merupakan kesempatan meraih dunia dan bukan akhirat. Mereka letihkan diri mereka pada bulan Ramadhân demi mencari sesuatu yang fana dan meninggalkan sesuatu yang manfaatnya kekal abadi.
Inilah beberapa contoh sikap yang keliru dalam menyikapi kemuliaan bulan Ramadhân. Tanpa disadari, ini merupakan musibah besar bagi mereka. Mereka dari terhalang berbagai kebaikan yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala janjikan bagi orang-orang yang memanfaatkan momen berharga ini dalam rangka beribadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala semata. Semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengerti akan arti Ramadhân dan semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua untuk senantiasa beramal shaleh.

Sikap sebagian kaum Muslimin yang keliru dalam menyikapi Ramadhân bertolak belakang dengan sikap Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena, pada bulan Ramadhân, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih giat lagi beribadah dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggalkan berbagai kesibukan demi beribadah kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala. Ini juga yang dilakukan oleh para ulama salaf. Mereka benar-benar serius memperhatikan bulan ini. Mereka meluangkan waktunya untuk beribadah kepada kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dengan menunaikan berbagai amal shaleh. Mereka memanfaatkan detik demi detik waktu dalam ketaatan kepada Rabb mereka dan bersungguh-sungguh melaksanakan shalat tahajjud. Az-Zuhri rahimahullah mengatakan, “Apabila bulan Ramadhân telah tiba, maka waktu itu hanya untuk membaca Alqurân dan memberi makan orang lain.” Para ulama salaf juga senantiasa duduk di masjid dan mengatakan, “Kami menjaga puasa kami dan tidak menggunjing seorangpun.” Mereka juga memiliki antusias tinggi untuk melaksanakan shalat tarawih dan menyelesaikannya bersama imam. Maka dengan demikian bertakwalah kalian kepada Allâh wahai kaum muslimin dan jagalah bulan Ramadhân ini, perbanyaklah di dalamnya ketaatan-ketaatan kepada Allâh mudah-mudahan Allâh menggolongkan (menetapkan) bagi kita ke dalam orang-orang yang beruntung dan memperoleh kemenangan di bulan ini.





Kajian Balikpapan Mei 2014 Bersama Ust. Syafiq Basalamah

Kajian Salaf Senin, 19 Mei 2014 0

Berikut rangkaian agenda kajian daurah bersama Ust. Syafiq Basalamah di Balikpapan, dari jumat 23 mei 2014 sampai senin 26 mei 2014. Ayo ajak semuanya untuk menghadirinya. Pamflet bisa didownload dibawah.

JUM’AT, 23 MEI 2014
Waktu : Khutbah Jum’at
Tempat : Masjid As-Salam (Bandara Sepinggan)
Tema : Mengumpulkan Pundi Kesenangan Akhirat
Waktu : Ba’da Maghrib – Selesai
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Masjid Istiqomah (Jl. Sport, Gn Dubs, Samping Lapangan Merdeka)
Tema : Do’aku untuk Pemimpinku

SABTU, 24 MEI 2014
Waktu : 08.30 – 11.30 Wita
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Pondokan Nadita (Jl. Marsma Iswahyudi)
Tema : Akibat Lidah Tak Bertulang.
Waktu : Ba’da Maghrib – Selesai
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Masjid Baiturrahman (Balikpapan Regency Sektor II)
Tema : Masih Adakah Hari Esok Untuk Kita?

AHAD, 25 MEI 2014
Waktu : 08.30 – Zhuhur
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Masjid Al-Imam An-Nasa’i (Jl. Syarifudin Yos, Depan Sepinggan Pratama)
Tema : Gali Lubang Tutup Lubang
Waktu : Ba’da Maghrib – Selesai
Peserta : Umum (Muslim & Muslimah)
Tempat : Masjid Istiqlal (Jl. Panorama, Samping Stadion PERSIBA)
Tema : Bahagia di Alam Kubur

SENIN, 26 MEI 2014
Waktu : 09.00 – 11.30 Wita
Peserta : Khusus Muslimah
Tempat : Pondokan Nadita (Jl. Marsma Iswahyudi)
Tema : Suamiku, “Sudah Cantikkah Aku?”


Diselenggarakan atas kerjasama :
Pondokan Nadita
Yayasan Ath-Thoifah Al-Manshuroh
Ruziqa TV
Informasi :
0812 5437 401
Grup FB : Majelis Ilmu Balikpapan
Web : majelisilmu.com

Daurah Islamiyah Semarang Mei-Juni 2014

Kajian Salaf Rabu, 14 Mei 2014 0

DAUROH ISLAMIYYAH

BERSAMA USTADZ DR. ERWANDI TARMIZI, MA

(Doktor lulusan fakultas syariah Universitas Al-Imam Muhammad bin Sa’ud, Riyadh, Arab Saudi)

“DAUROH KITAB” (Untuk peserta undangan dan peserta terdaftar)

Membahas KITABUL BUYUU’ dari kitab MANHAJUS SAALIKIEN (Syaikh Sa’diy Rohimahullah)

Kamis – Sabtu (29 – 31 Mei 2014)

Masjid Imam Ahmad bin Hambal

Jl. Durenan Asri RT. 01 RW.09 Dukuh Tunggu
Kel. Meteseh Kec. Tembalang , Semarang

Pendaftaran Hub. 085727290077 via sms ketik (Nama_Umur_Kota Asal_Utusan(…)/Bukan utusan)

Syarat : 1. Bisa memahami kitab ulama 2.Bersedia mengikuti dauroh sampai selesai

Batas akhir pendaftaran Tgl 20 Mei 2014 jam 12.00WIB

Kitab disediakan dengan mengganti biaya copy (Kitab Terbatas)


“DAUROH UMUM” (untuk umum, ikhwan & akhwat)

dengan tema “TINJAUAN SYAR’I DALAM BERMUAMALAH DENGAN PERBANKAN”

Ahad (1 Juni 2014) 08.30WIB – Selesai

Masjid Raya Candi Lama

Jalan Doktor Wahidin 109 Semarang

Informasi Kajian : 081914547674
binhambal.wordpress.com


Kajian Ilmiah Tanjung Priok Jakarta Utara Mei 2014

Kajian Salaf 0

Hadirilah...!!
TEBAR KAJIAN ILMIAH, .....!!!
& Tabligh Akbar, DI TANJUNG PRIOK JAKARTA UTARA

Insya Alloh bersama;

1. Ustdz Badru Salam,Lc
Tema:
"SECAWAN AIR DARI TELAGA AL'KAUTSAR"
Ahad, 25 mei 2014,
Jam 09.00 - Dzuhur
Tempat Masjid AL-HUSNAH
Jl. Enggano tanjung priok Jakarta utara.

2. Ustadz DR. Syafiq Basalamah,MA
Tema:
"AKU SETIA MENANTIMU DIPINTU SYURGA"
Selasa, 27 Mei 2014
Jam 09.00-dzuhur
Tempat ; masjid Astra,
Jl. Raya Gaya motor sunter II Jakarta utara,

3. Ustadz Mubaroq bamualim,Lc
Tema :
"10 Wasiat Rasulullah shalallahu'alihi wasallam, kepada Mu'adz bin Jabal"
Kamis, 29 Mei 2014
jam : 09.00-Dzuhur
Tempat :
"Jakarta Islamic Centre,"
Jl. Kramat koja tanjung priok jakarta Utara,.

Jangan lewatkan,..!
TERBUKA UNTUK UMUM IKHWAN AKHWAT,..
ajak keluarga, kerabat, teman dan handaitaulan utk Dpt hadir pd kajian yg sangat menarik ini.

Penyelenggara:
Majelis ilmu,
AL'MADINAH AN'NABAWIYAH JAKARTA

Informasi :
-0812-956-7095
-0815-904-2654
-0812-8233-5270

Berbaiksangka(Husnudzon) Kepada Allah

Kajian Salaf Senin, 28 April 2014 0

Husnudzon kepada Allah adalah ibadah yang sangat agung, ibadah hati, yaitu berbaik sangka kepada Allah subhanallahu wa ta’ala.

Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu, “tidak ada kebaikan yang lebih berharga bagi seorang Mukmin kecuali berbaik sangka kepada Allah. Demi dzat yang tiada Tuhan selain Dia, tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah kecuali Dia pasti akan memberikan segala prasangka tersebut. Itu karena segala kebaikan ada ditangan-Nya.”
Berbaiksangka kepada Allah terutama pada kondisi berikut:
  1. Tatkala seseorang melakukan dosa maka segera taubat dan berbaik sangka kepada Allah bahwasannya Allah akan menerima taubatnya. 
  2. Tatkala berdoa kepada Allah ta’ala, yaitu berdoa dengan kondisi meyakini bahwa Allah akan mengabulkan doa kita. 
  3. Tatkala mencari rizqi. 
  4. Tatkala akan meninggal dunia. 
  5. Tatkala ketika ditimpa musibah. 
Untuk lebih lengkapnya, silahkan dengarkan khutbah jumat yang sangat penuh motivasi ini:

Doa Perlindungan Anak Dari Setan

Kajian Salaf Senin, 31 Maret 2014 3

Sebagai orang tua, pernahkah kita mengucapkan doa tersebut. Doa memohon perlindungan bagi anak kita dari gangguan setan. Doa tersebut artinya “Aku memohon perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna untuk kalian berdua, dari gangguan setan dan binatang berbisa, dan dari pandangan mata (ain) yang membuat sakit.”
 Ukuran wallpaper download disini
Berikut beberapa orang soleh yang disebutkan dalam dalil, yang berdoa kepada Allah, memohon perlindungan dari gangguan setan untuk anak keturunannya,

Pertama, Istri Imran (Neneknya Nabi Isa)

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ( ) فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.”Tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk., ” (QS. Ali Imran: 35 – 36)

Allah kabulkan doa wanita salihah ini, dan Allah memberikan perlindungan kepada keturunannya dari gangguan jin dan godaan setan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ بَنِي آدَمَ مَوْلُودٌ إِلَّا يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ، غَيْرَ مَرْيَمَ وَابْنِهَا » ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ: {وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ }

“Setiap anak manusia pasti diganggu setan ketika dia dilahirkan, sehingga dia teriak menangis, karena disentuh setan. Kecuali Maryam dan putranya.” Kemudian Abu Hurairah membaca surat Ali Imran: 36. (HR. Bukhari 3431).

Kedua, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan perlindungan untuk Hasan dan Husain, (beliau membaca)

أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة

“Aku memohon perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna untuk kalian berdua, dari gangguan setan dan binatang berbisa, dan dari pandangan mata (ain) yang membuat sakit.” (HR. Bukhari 3371 & Abu Daud 4737).

Ketiga, Nabi Ibrahim ‘alahis shalatu was salam

Dalam hadis Ibnu Abbas di atas, setelah Rasulullah mengajarkan doa tersebut, beliau bersabda,

كان أبوكم يعوذ بهما إسماعيل وإسحاق

“Ayah kalian (Ibrahim) memohon perlindungan untuk Ismail dan Ishaq dengan kalimat doa tersebut.” (HR. Abu Daud 4737).

Dari Muhammad bin Ali dari ayahnya, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan perlindungan untuk Hasan dan Husain, beliau membaca,

أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة

“Aku memohon perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna untuk kalian berdua, dari gangguan setan dan binatang berbisa, dan dari pandangan mata (ain) yang membuat sakit.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَوِّذُوا بِهَا أَبْنَاءَكُمْ، فَإِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا ابْنَيْهِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ

”Jadikanlah kalimat ini untuk memohon perlindungan dari gangguan setan bagi anak kalian. Karena Ibrahim ‘alaihis salam, beliau memohon perlindungan untuk Ismail dan Ishaq dengan kalimat doa tersebut.” (HR. Abdur Razaq dalam Mushannaf, no. 7987).

Sebagai umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang baik, selayaknya kita perlu melestarikan kebiasaan tersebut. Selengkapnya, klik di sini 
Allahu a’lam

Keterangan : Bacaan U'IDZUKUMAA, itu untuk dua orang anak..Jika satu orang saja, maka bacaannya U'IDZUKA (untuk anak laki2) dan U'IDZUKI (untuk anak perempuan). Kalau untuk diri sendiri A'UUDZU.


Kajian "Pemuda Yang Tumbuh Bersama Al Qur-an" Jakarta Timur 31 Maret 2014

Kajian Salaf Minggu, 23 Maret 2014 0

Kajian "Pemuda Yang Tumbuh Bersama Al Qur-an" ini merupakan Kajian Pembukaan GEHAMA (Gerakan Hafal Juz 'Amma) yang diselenggarakan oleh TKPM (Tim Kajian Pelajar dan Mahasiswa) bekerjasama dengan DKM Al Fattah.

 Kajian ini akan diselenggarakan pada :

Hari : Senin, 31 Maret 2014
Waktu : 08.00 - 12.00
Tempat : Masjid Al Fattah, Jl. Jatinegara Timur No.50, Kp. Melayu, Jakarta Timur.
Narasumber : Ust.Kurnaedi, Lc
Tema : Pemuda Yang Tumbuh Bersama Al Qur-an
Kajian ini khusus untuk Pelajar dan Mahasiswa.
CP : 0856 9706 3573
 Rute ke Masjid Al Fattah :
 Dengan Kereta

Turun di Stasiun Tebet, kemudian naik Mikrolet 44 atau Metromini 52 ke arah Jatinegara. Turun di belokan seberang RS. Premier,

atau

Turun di Stasiun Jatinegara, kemudian naik angkot ke arah Kp.Melayu (Mikrolet 02 atau Mikrolet 44), turun depan Masjid Al-Fattah

Dengan Busway
Naik koridor Kp Melayu-Ancol turun di Shelter RS. Premier

Dengan Bis atau kendaraan Umum
Dari Bekasi naik Bis Mayasari 9a tujuan pasar Senen turun depan Masjid
Dari Pasar Rebo atau UKI naik mikrolet 06a turun depan Masjid
Dari Kampung Melayu sama seperti dr Stas Tebet


Semoga Allah -subhaanahu wa ta'aala- memudahkan langkah kaki kita untuk memenuhi undangan yang berbahagia ini.

Mari datang dan ajak teman-temanmu menikmati indahnya kalamullaah, Al Qur-an !
sumber: pelajarmuslim.com

Keutamaan Menjadi Perintis dan Pembuka Pintu Kebaikan

Kajian Salaf Minggu, 16 Maret 2014 0

Barang siapa yang membuat jalan kebaikan dalam Islam, kemudian amalan tersebut tetap diamalkan setelahnya, maka akan dituliskan baginya ganjaran pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa harus mengurangi pahala mereka. dan Barang siapa yang membuat jalan kejelekan dalam Islam, kemudian kejelekan tersebut tetap dilakukan setelahnya, maka akan dituliskan baginya ganjaran dosa orang-orang yang melakukannya tanpa harus mengurangi dosa-dosa mereka.
Keutamaan menjadi perintis kebaikan
Dari Jarir bin Abdillah radhiallahu ’anhu berkata:” Datang serombongan orang dari dusun menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam maka Beliau melihat kondisi mereka yang memperihatinkan, ditimpa kemiskinan. Maka Beliau menganjurkan agar manusia bersedekah, namun mereka terlihat tidak menanggapi Beliau sehingga terlihat (kegelisahan) pada wajah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, hingga datanglah seorang lelaki dari golongan Ansar membawa satu kantong  uang perak, yang kemudian di ikuti yang lainnya sehingga terlihat kegembiraan di wajah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, setelah itu barulah beliau shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:”

مَنْ سَنَّ فِي الإسلام سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِها بعْدَهُ كُتِب لَه مثْلُ أَجْر من عَمِلَ بِهَا وَلا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ، ومَنْ سَنَّ فِي الإسلام سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وزر من عَمِلَ بِهَا ولا يَنْقُصُ من أَوْزَارهِمْ شَيْءٌ
“Barang siapa yang membuat jalan kebaikan dalam Islam, kemudian amalan tersebut tetap diamalkan setelahnya, maka akan dituliskan baginya ganjaran pahala orang-orang yang mengamalkannya tanpa harus mengurangi pahala mereka. dan Barang siapa yang membuat jalan kejelekan dalam Islam, kemudian kejelekan tersebut tetap dilakukan setelahnya, maka akan dituliskan baginya ganjaran dosa orang-orang yang melakukannya tanpa harus mengurangi dosa-dosa mereka. HR Muslim
Nabi shallallahu ’alaihi wasallambersabda:”
الدال على الخير كفاعله
Yang menunjukkan manusia jalan kebaikan seolah-olah dia sama dengan orang yang mengamalkannya. (Disahihkan oleh syeikh al-Albani).
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda:”
خير الناس أنفعهم للناس
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat  bagi manusia lainnya. (Di Hasankan oleh syeikh al-Albani rahimahullah).

Jadilah pembuka pintu kebaikan
Ibnu majah dan Ibnu Abi ‘Ashim meriwayatkan dalam sunannya, dari hadis Anas bin Malik radhiallahu ’anhu dari Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:”
Sesungguhnya sebagian dari manusia ada yang menjadi pembuka kebaikan, penutup kejelekan, dan sesungguhnya ada sebagian manusia yang menjadi pembuka kejelekan, penutup kebaikan, maka beruntunglah orang-orang yang dijadikan Allah kedua tangannya sebagai pembuka kebaikan, dan binasalah orang-orang yang dijdikan Allah kedua tanggannya sebagai pembuka kejelekan.”
” إن من الناس ناس مفاتيح للخيرمغاليق للشر، وإن من الناس ناس مفاتيح للشر مغاليق للخير فطوبى لمن جعل الله مفتاح الخيرعلى يديه وويل لمن جعل الله مفتاح الشر على يديه “
Hartamu adalah milik Allah
قال الله -تعالى-: (آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ)(الحديد:7)،
Maka berimanlah pada Allah dan RasulNya dan berinfaqlah dari apa-apa yang telah Allah berikan kepada kalian, dan adapun bagi mereka yang beriman dan berinfaq ganjaran yang besar
وقال -تعالى-: (وَمَا لَكُمْ أَلا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ)(الحديد:10).
Dan kenapa kalian enggan berinfaq di jalan Allah padahal milik Allah semua kekayaan yang terdapat di langit dan bumi.

Keutamaan bersedekah
قال -تعالى-: (مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِئَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ)(البقرة:261).
Perumpamaan orang-orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah sebagaimana perumpamaan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, di setiap tangkai menghasilkan seratus biji dan Allah akan melipat gandakan terhadap orang-orang yang dia kehendaki dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.

Investasi akhirat yang tidak terputus
قال صلى الله عليه و سلم ” إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث : علم ينتفع به ، وصدقة جارية ، وولد صالح يدعو له “
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:” Jika Anak Adam meninggal, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: ilmu yang bermanfaat, shadaqah jariyah dan anak yang sholeh yang mendoakannya

Potret para salaf dalam berinfaq

Kisah Abu Thalhah al-Ansari radhiallahu ’anhu yang menyedekahkan kebun kurmanya ketika turun ayat
 (لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ)(آل عمران:92)
Kamu tidak akan pernah mendapatkan kebaikan hingga mampu menginfaqkan dari apa yang kamu cintai.
Ayat ini diwahyukan pada saat Rasulullah sudah menetap di Madinah. Diriwayatkan dalam hadis, sesaat setelah mendengarkan ayat 92 Surat Al Imran ini dibacakan, Abu Thalhah langsung menghadap Rasulullah. Sahabat ini mantap menyerahkan harta yang paling dicintainya, yakni kebun kurma ‘Bairahah’ kepada Rasulullah untuk dimanfaatkan sebagai pembiayaan perjuangan. Kebun ‘Bairahah’ saat itu terletak di depan masjid Nabawi Madinah, letaknya strategis di pinggir jalan raya, pun hasilnya selalu melimpah dan pemandangannya terkenal sangat indah.
Bagi para petani Madinah, kebun serupa ‘Bairahah’ adalah investasi ekonomi yang menjanjikan keuntungan berlipat ganda di dunia. Namun bagi Abu Thalhah, investasi akhirat jauh lebih mendatangkan manfaat, berbunga syafaat dan berjangka selamanya, yaitu dengan cara menyedekahkan harta ‘Bairahah’ tercintanya itu kepada kepentingan sosial.
Abu Thalhah meyakini jika kebun itu tertinggal di dunia dan tidak disedekahkan, mungkin hanya akan jadi hiasan atau seonggok warisan bagi keluarganya saja. Tapi bila didermakan, akan lebih banyak manusia selain keluarganya bisa menikmati hasil kebun itu.

Kisah Abu Dahdah radhiallahu ’anhu ketika turun ayat yang berbunyi
(مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا)(البقرة:245).
Siapa yang mau meminjamkan untuk Allah pinjaman yang baik
Abu Dahdah bergegas mendatangi Rasulullah untuk bertanya: “Ya Rasululah, apakah Allah ingin meminjam dari hambanya?” “Benar” jawab Rasul. Spontan Abu Dahdah mengacungkan tangannya seraya berkata “Ulurkan tangan anda, wahai Rasulullah”.
Rasulullah mengulurkan tangannya, dan langsung disambut olehAbu Dahdah sambil berkata “Aku menjadikan anda sebagai saksi bahwa kupinjamkan kebunku kepada Allah“.Tsabit sangat gembira dengan keputusannya itu. dalam perjalanan pulang, dia mampir ke kebunnya. Dilihatnya istri dan anak-anaknya tengah bercengkrama dibawah pepohonan yang sarat dengan buah kurma.
Dari pintu kebun, Abu Dahdah memanggil istrinya, “Hai Ummu Dahdah! cepat keluar dari kebun ini, Aku sudah meminjamkan kebun ini kepada Allah SWT” Istrinya menyambut dengan suka cita. “Engkau tidak rugi, suamiku, engkau beruntung, engkau sungguh beruntung,” katanya seraya mengeluarkan kurma yang sudah berada dalam mulut anak-anaknya. “Nak, ayo keluarkan, ayahmu sudah meminjamkan kebunini kepada Allah Ta’ala.”
Atas peristiwa tersebut Ibnu Mas’ud menceritakan bahwa Rasulullah mengabarkan “Berapa banyak pohon sarat buah yang kulihat di surga atas nama Abu Dahdah“.

Kisah Utsman bin Affan radhiallahu ’anhu dan infaqnya pada perang Tabuk.
Abdurrahman bin Khabbab radhiallahu ’anhu mengkisahkan:Aku menyaksikan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam memotifasi berinfak kepada para pasukan dalam perang sulit(perang Tabuk), maka Utsman radhiallahu ’anhu berdiri dan berrkata:” Wahai Rasulullah…biar aku yang menanggung biaya perang dengan menginfakkan seratus ekor untaku lengkap dengan seluruh benda dan perbendaharaan yang ada diatas punggungnya”. Kemudian Nabi shallallahu ’alaihi wasallam kembali memotivasi pasukan untuk berinfaq, ternyata kembali Utsman berkata: Biar aku yang menanggungnya Ya Rasulullah dengan menginfakkan tiga ratus ekor untaku lengkap dengan seluruh benda dan perbendaharaan yang ada padanya”. Berkata Abdurrahman: Aku  melihat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam turun dari mimbar  sembari berkata:”
« ما على عثمان ما فعل بعد هذه.. ما على عثمان ما فعل بعد هذه» أخرجه الترمذي وقال: غريب وله شواهد.
Tidak berbahaya lagi apa yang dilakukan Utsman setelah ini. Tidak berbahaya lagi apa yang dilakukan setelah ini. HR Tirimizi

Kisah Sahabat yang menjamu tamu Rasulullah yang padanya turun ayat
 (وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ)(الحشر:9)
Dan mereka lebih mendahulukan orang lain atas diri mereka walaupun sebenarnya mereka sangat membutuhkannya

Berinfaqlah sebelum matimu
قال الله -تعالى-: (وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ)(المنافقون:10)،
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Dan Infaqkanllah dari apa yang kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada kalian, maka ketika itulah baru jiwa berkata: Ya Rabb kenapa tidak kau tangguhkan  sebentar agar aku dapat berinfaq dan jadi orang yang sholeh.
وقال -صلى الله عليه وسلم-: (يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ) متفق عليه.
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:” Ada tiga Hal yang mengikuti jenazah, yang dua kembali dan yang satu menetap bersamanya, yang akan mengiringinya adalah keluarga, harta dan amalnya, adapun keluarga dan hartanya akan kembali dan yang tetap bersamanya adalah amalnya.

Sumber : www.abufairuz.com

Download Kajian Kitab Minhajus Salikin dan Ushulus Sunnah (Padang Februari 2014)

Kajian Salaf 0

Berikut ini rekaman dalam format mp3, yang berisi kajian yang membahas kitab Minhajus Salikin dan Ushulus Sunnah. Pemateri kajian ustadz Abu Ya'la. Beliau alumni Pondok Pesantren Imam Bukhari Solo dan Markaz Darul Hadits Ma'rib Yaman. Silahkan didownload dan diambil manfaatnya.
 Download di Link berikut ini:
1. Minhajus Salikin:
http://www.mediafire.com/listen/140hfs5pb78b254/Minhajus_Salikin.mp3

2. Ushulus Sunnah:
http://www.mediafire.com/listen/ycl7v1cp0oa9mr4/Dauroh_Ushulus_Sunnah.MP3

3. Rumah Tanggaku Surgaku:
http://www.mediafire.com/listen/96v5c3alm1p39y1/Tabligh_Akbar_Rumah_Tanggaku_Surgaku_.MP3


sumber: www.serambiyemen.com

Banyaknya Pintu Bersedekah... Semua Dari Kita Bisa Bersedekah

Kajian Salaf Rabu, 12 Maret 2014 0

Setiap kita –baik lelaki maupun wanita- bisa menemukan orang yang lebih miskin darinya lalu memberi bantuan kepadanya. Bagaimanapun miskinnya seseorang maka ia mampu untuk memberikan sesuatu kepada orang yang lebih miskin darinya. Dan banyak pintu-pintu cara bersedekah yang dilalaikan oleh banyak orang, padahal mudah untuk dilakukan. Barang siapa yang ingin Allah kirimkan baginya orang yang lebih kaya dan lebih kuat darinya (untuk membantunya) maka hendaknya ia memperhatikan orang yang lebih lemah dan lebih miskin darinya. Hendaknya kalian memuji Allah dengan praktek nyata, dan berbuatlah baik kepada orang lain sebagaimana kalian suka Allah berbuat baik kepada kalian.


Syaikh Ali At-Thonthoowi rahimahullah berkata :

"Semalam aku amati, kudapati ruangan terasa hangat dan api penghangat ruangan menyala. Sedangkan aku berada di dipan sambil santai. Aku sedang berfikir tentang tema yang akan kutulis. Lampu ada di sampingku, telepon di dekatku, anak-anakku sedang menulis, adapun ibu mereka sedang menenun kain wol.

Kami telah makan dan minum, dan radio mengeluarkan suara lirih, semuanya dalam ketenangan. Tidak ada yang aku keluhkan dan tidak ada pula yang aku meminta tambahannya. Maka lisanku berucap "Alhamdulillah...", kulepaskan dari lubuk hatiku

Lalu akupun merenung ... aku mendapati bahwasanya "Alhamdulillah" bukanlah sebuah kata yang sekedar diucapkan oleh lisan, meskipun diulan-ulang seribu kali...., akan tetapi "Alhamdulillah" atas kenikmatan-kenikmatan adalah sampainya aliran kenikmatan tersebut kepada orang yang membutuhkannya.

"Alhamdulillah" nya si kaya adalah memberi pemberian kepada faqir miskin, "alhamdulillah" nya si kuat dengan membantu kaum lemah, "alhamdulillah" nya si sehat dengan membantu orang-orang sakit, dan "alhamdulillah" nya si hakim dengan berbuat adil kepada orang-orang yang ia hukumi.

Lantas apakah aku sedang memuji Allah atas nikmat-nikmat ini, jika aku dan anak-anakku dalam keadaan kenyang dalam ruangan yang hangat, sementara tetanggaku dan anak-anaknya kelaparan dan kedinginan??

Jika tetanggaku tidak meminta-minta kepadaku, lantas apakah tidak wajib bagiku untuk bertanya kepadanya tentang kondisinya??

Istriku bertanya kepadaku, "Apa yang sedang kau renungkan?", lalu akupun mengabarkannya. Iapun berkata, "Benar, akan tetapi tidak ada yang bisa memberi kecukupan bagi para hamba kecuali Dzat yang telah menciptakan mereka. Jika engkau hendak memberi kecukupan kepada tetangga-tetanggamu yang miskin maka engkau akan memiskinkan dirimu sebelum engkau berhasil menjadikan mereka berkecukupan"

Aku berkata, "Jika aku seorang kaya tentunya aku tidak akan mampu menjadikan mereka berkecukupan (kaya), maka bagaimana lagi jika aku hanyalah seorang yang pas-pasan (tidak ada penghasilan jelas), Allah memberi rezeki kepadaku sebagaimana memberi rezeki kepada burung yang terbang di pagi hari dengan perut kosong dan balik di sore hari dengan perut kenyang"?

Tidak..., tidak...!!, aku tidak ingin menjadikan para faqir miskin menjadi orang-orang yang kaya berkecukupan, akan tetapi aku ingin berkata, "Permasalahannya adalah relatif !!!"

Dibandingkan para pemilik jutaan uang, aku adalah seorang yang faqir miskin, akan tetapi jika dibandingkan dengan pekerja yang menanggung sepuluh anak dan ia tidak memiliki penghasilan lain kecuali upah kulinya maka aku adalah seorang yang kaya. Pekerja ini jika dibandingkan dengan seorang wanita janda yang hidup sendirian tanpa penghasilan sama sekali dan tidak memegang sepeser hartapun maka sang pekerja adalah seorang kaya. Sang jutawan terhitung miskin jika dibandingkan dengan sang milyarder. Tidak ada seorangpun di dunia yang miskin absolut mutlak atau kaya secara mutlak/absolute (semuanya relatif).

Kalian (mungkin) berkata, "Hari ini si At-Thonthoowi berfilsafat !!"

Tidak…, aku tidak sedang berfilsafat, akan tetapi aku ingin mengutarakan kepada kalian bahwasanya setiap kita –baik lelaki maupun wanita- bisa menemukan orang yang lebih miskin darinya lalu memberi bantuan kepadanya. Jika engkau wahai wanita yang mulia tidak memiliki kecuali lima potong roti, dan sepiring mujaddaroh (yaitu jenis makanan yang terbuat dari nasi dan 'adas, yang ini merupakan sederhana yang ma'ruf di Suria-pen) maka engkau mampu untuk memberikan sepotong rotimu kepada seorang yang sama sekali tidak memiliki roti. Seseorang yang setelah makan malam masih tersisa tiga piring sayur fasuliya (sejenis kacang-kacangan), nasi, dan sedikit buah-buahan, serta sedikit kue, maka ia mampu untuk memberikan sebagiannya sedikit kepada sang pemilik roti.

Bagaimanapun miskinnya seseorang maka ia mampu untuk memberikan sesuatu kepada orang yang lebih miskin darinya.

Dan janganlah kalian menyangka bahwa apa yang kalian berikan akan pergi hilang begitu saja gratisan, tidak demi Allah…, sesungguhnya kalian akan menerima harga pembayarannya berlipat-lipat ganda, kalian akan menerimanya di dunia sebelum di akhirat. Sungguh aku telah mencobanya dan merasakannya sendiri.

Aku bekerja dan berusaha, dan aku berinfaq/membiyai keluargaku semenjak lebih dari tiga puluh tahun. Aku tidak memiliki pintu-pintu kebaikan dan ibadah yang aku buka kecuali aku menyumbang di jalan Allah jika aku memiliki harta. Seumur hidup aku tidak pernah menabung sedikitpun. Istriku selalu berkata kepada, "Wahai suamiku, paling tidak minimal kau bangunkan rumah buat putri-putri kita !!". Aku hanya bisa berkata, "Biarlah itu diserahkan kepada Allah".

Tahukah kalian apa yang terjadi??. Sungguh apa yang telah aku sumbangkan di jalan Allah telah Allah simpan untukku di "bank" kebaikan yang bank tersebut memberi keuntungan bagi para nasabahnya setiap tahun besarnya 7000 %.

Iya…, Allah berfirman

كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ

"Serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji,…" (QS. Al Baqarah : 261)

Dan ada juga tambahan-tambahan yang melipat gandakan keuntungan

وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ

"…,Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki" (QS. Al Baqarah : 261)


Allah mengirimkan kepadaku seorang teman yang baik dan mulia, yang termasuk orang-orang terkenal di Damaskus, lalu iapun memberi pinjaman kepadaku biaya untuk membangun rumah. Lalu Allah juga mengirimkan kepadaku sahabat-sahabat yang baik, lalu mereka membangunkan rumah hingga selesai dan sempurna bangunannya. Adapun saya –demi Allah- sama sekali tidak mengetahui perkembangan pembangunan rumah tersebut kecuali sebagaimana orang-orang yang berjalan lewat depan rumah tersebut. Kemudian Allah menolongku dengan menganugerahkan kepadaku rizki yang halal yang tidak aku sangka-sangka, maka akupun melunasi seluruh hutang-hutangku. Kalau ada yang mau tahu maka aku akan menyebutkannya secara rinci dan aku akan sebutkan nama-nama para sahabatku tersebut.

Dan tidaklah aku terjatuh dalam kondisi sempit apapun kecuali Allah akan melapangkannya bagiku. Tidaklah aku membutuhkan sesuatupun kecuali Allah memberikannya kepadaku. Dan setiap aku memiliki harta berlebih kecuali aku simpan di bank akhirat ini.

Apakah ada di dunia ini orang yang berakal yang lebih memilih untuk berhubungan dengan bank makhluk (bank dunia) yang hanya memberi keuntungan yang haram yang hanya 5% , dan bisa jadi bank tersebut bangkrut atau terbakar, lalu ia meninggalkan bank Allah yang memberikan keuntungan bunga 7000% ?, selain itu hartanya di bank akhirat tersebut aman di sisi Penguasa alam semesta?, yang bank tersebut tidak akan bangkrut, tidak akan terbakar, dan tidak memakan harta masyarakat?

Karenanya janganlah kalian menyangka bahwa apa yang kalian sedekahkan akan hilang sia-sia, sesungguhnya Allah akan menggantinya (dengan lebih banyak) di dunia sebelum di akhirat.

Aku akan membawakan sebuah kisah bagi kalian, kisah tentang seorang ibu yang putranya sedang bersafar. Suatu hari ibu ini duduk sambil makan, dan tidak ada dihadapannya kecuali hanya sesuap sayur dan sepotong roti. Lalu datanglah seorang peminta-minta, lalu sang ibupun menahan mulutnya untuk tidak makan lalu ia memberikan makanan tersebut kepada sang peminta-minta sehingga iapun bermalam kelaparan. 

Tatkala sang putra tiba dari safarnya maka sang putrapun menceritakan kepada sang ibu tentang apa yang ia temukan dalam perjalanan safarnya. Sang putra berkata, "Diantara perkara yang sangat menakjubkan dalam safarku yaitu di tengah jalan ada seekor singa yang mengikutiku, dan tatkala itu aku hanya sendirian. Maka akupun lari, akan tetapi sang singa berhasil meloncat menerkam aku, dan tanpa aku sadari tiba-tiba aku sudah di hadapan mulutnya. Akan tetapi tiba-tiba ada seorang lelaki yang memakai baju putih muncul di hadapanku lalu menyelamatkan aku dari singa tersebut. Lalu lelaki itu berkata, "Suapan dibalas dengan suapan". Dan aku tidak paham maksudnya.".

Lalu sang ibupun bertanya kepada putranya tersebut tentang kapan waktu kejadian tersebut, ternyata pada hari yang sama tatkala ia memberi sesuap makanan kepada pengemis. Sang ibu telah melepaskan tangannya yang berisi sesuap makanan yang hendak ia makan untuk  diberikan sesuap makanan tersebut kepada sang pengemis, maka Allahpun melepaskan dan menyelamatkan anaknya yang hampir menjadi suapan bagi mulut singa.

Sedekah menolak bala' dan dengan sedekah Allah menyembuhkan orang yang sakit, dan Allah menolak gangguan-gangguan. Hal ini sudah terbukti. Dan ada hadits-hadits yang menunjukkan tentang hal ini.

Seseorang yang beriman bahwasanya alam semesta ini memiliki Tuhan yang mengatur alam, dan di tanganNya lah karunia, dan Dialah yang meyembuhkan dan menyelamatkan, maka dia akan tahu bahwasanya hal ini adalah benar.

Para wanita lebih dekat kepada keimanan dan kelembutan, dan saya sedang menujukan pembicaraanku kepada para wanita yang mulia. Barang apa saja yang sudah tidak dibutuhkan seorang wanita, seperti baju lamanya atau baju anak-anaknya, atau barang-barang yang sudah tidak dibutuhkan seperti kasur atau karpet, demikian juga makanan dan minuman yang berlebihan. Lalu hendaknya ia mengecek keluarga yang miskin dan memberikan kepada mereka, maka jadilah barang-barang ini menjadi kebahagiaan bagi mereka pada bulan ini. Dan janganlah ia memberikan dengan gaya seorang yang sombong dan merasa tinggi. Sesungguhnya pemberian yang sederhana jika disertai dengan senyuman dihadapan wajah sang miskin lebih baik dari pada uang banyak yang kau berikan kepadanya sementara engkau sambil mengangkat hidung karena sombong dan merasa tinggi.

Sungguh aku masih ingat –beberapa tahun yang silam-  putri kecilku si Banan membawa dua piring makanan –di bulan Ramadhan- hendak ia berikan kepada seorang penjaga. Maka aku berkata kepadanya, "Wahai putriku, kemarilah…, ambilah nampan, sendok, garpu, dan gelas yang bersih, lalu berikan dua piring makanan tersebut bersamanya begini…, engkau tidak rugi sedikitpun. Makanannya tidak berubah sama saja, akan tetapi jika engkau berikan kepadanya hanya piring dan roti maka engkau akan menyedihkan hatinya, engkau membuatnya merasa seakan-akan ia seorang peminta-minta atau pengemis. Adapun jika engkau berikan makanan tersebut di atas sebuah nampan disertai gelas, sendok, dan garpu, serta tempat bumbu maka akan mengobati perasaannya dan dia akan merasa seakan-akan ia adalah seorang tamu yang dimuliakan.

Banyak pintu-pintu cara bersedekah yang dilalaikan oleh banyak orang, padahal mudah untuk dilakukan. Diantaranya bersikap mudah dan ramah terhadap para pedagang yang datang ke pintu-pintu rumah-rumah, mereka menjual sayur-mayur, buah-buahan, dan bawang. Lalu ada seorang wanita yang menawarnya dan mendebatnya agar ia menurunkan harga barangnya meskipun sedikit, agar sang wanita menampakkan kemahiran dan kehebatannya dalam menawar. Padahal bisa jadi wanita ini adalah dari keluarga jutawan/ keluarga kaya raya. Adapun sang penjual yang miskin tersebut harga dagangannya yang seharian penuh ia memutari rumah-rumah untuk menjualnya hanya senilai taruhlah 100 ribu rupiah, sementara untungnya hanya 20 ribu rupiah !!!

Wahai para wanita…aku mohon kepada kalian atas nama Allah agar kalian bermudah-mudah untuk membeli dagangan para penjual tersebut, berikan kepada mereka apa yang mereka minta. Jika salah seorang dari kalian merasa rugi sejumlah uang (karena tidak menawar…), maka anggaplah itu sebagai sedekah, bahkan sedekah kepada para penjual tersebut lebih baik daripada sedekah kepada pengemis…

Intinya -wahai para pembaca yang budiman- barang siapa yang ingin Allah kirimkan baginya orang yang lebih kaya dan lebih kuat darinya (untuk membantunya) maka hendaknya ia memperhatikan orang yang lebih lemah dan lebih miskin darinya. Hendaknya setiap kita memposisikan dirinya seperti posisi saudaranya (yang miskin), hendaknya ia menghendaki kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia menghendaki kebaikan bagi dirinya. Sesungguhnya kenikmatan dan karunia hanyalah terjaga dan bertambah dengan bersyukur kepada Allah, dan bersyukur tidak hanya dengan sekedar diucapkan oleh lisan saja. Jika ada seseorang yang memegang tasbih lalu mengucapkan "Alhamdulillah" sebanyak 1000 kali, sementara ia tetap pelit dengan hartanya, pelit dengan kedudukannya (tidak mau membantu dengan memanfaatkan kedudukannya-pen), dan ia menzolimi dengan kekuasaannya jika ia memiliki kekuasaan, maka ia bukanlah orang yang memuji Allah, akan tetapi seorang yang pendusta dan riyaa'.

Hendaknya kalian memuji Allah dengan praktek nyata, dan berbuatlah baik kepada orang lain sebagaimana kalian suka Allah berbuat baik kepada kalian. Ketahuilah apa yang aku serukan kepada kalian pada hari ini adalah merupakan sebab kemenangan dan kejayaan Islam mengalahkan para musuh, dan merupakan bentuk persiapan untuk meraih kemenangan. Ini merupakan bentuk jihad dengan berkorban harta, dan jihad ini adalah saudaranya jihad dengan berkorban jiwa.

Semoga Allah merahmati seorang yang mendengar nasehat lalu ia mengamalkannya, dan tidak menjadikan nasehat tersebut masuk di telinga kanannya untuk dikeluarkan dari telinga kirinya. 

(Tulisan indah ini ditulis oleh Syaikh Ali Ath-Thonthoowi rahimhaullah di majalah al-Idzaa'ah pada tahun 1956. Tulisan ini banyak disebarkan di internet, diantaranya silahkan lihat http://www.paldf.net/forum/showthread.php?t=1075215, http://www.khawlan.com/vb/t23874.html, dan http://www.lyaleal6rb.net/vb/showthread.php?t=1405)
Tidak…, aku tidak sedang berfilsafat, akan tetapi aku ingin mengutarakan kepada kalian bahwasanya setiap kita –baik lelaki maupun wanita- bisa menemukan orang yang lebih miskin darinya lalu memberi bantuan kepadanya. Jika engkau wahai wanita yang mulia tidak memiliki kecuali lima potong roti, dan sepiring mujaddaroh (yaitu jenis makanan yang terbuat dari nasi dan 'adas, yang ini merupakan sederhana yang ma'ruf di Suria-pen) maka engkau mampu untuk memberikan sepotong rotimu kepada seorang yang sama sekali tidak memiliki roti. Seseorang yang setelah makan malam masih tersisa tiga piring sayur fasuliya (sejenis kacang-kacangan), nasi, dan sedikit buah-buahan, serta sedikit kue, maka ia mampu untuk memberikan sebagiannya sedikit kepada sang pemilik roti.

Pemateri: Ustadz Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja
Sumber: www.firanda.com