Header ads

» » » » » SANGGAHAN UNTUK PENDAPAT BAHWA PUASA HARUS MENCOCOKI WUKUF

SANGGAHAN UNTUK PENDAPAT BAHWA PUASA HARUS MENCOCOKI WUKUF


Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Khalil
(Ringkasan dari tulisan beliau)
Dalil-dalil mereka adalah:
1. Dalil pertama, yang dimaksud hari Arafah adalah hari ketika jama'ah hari wukuf di Arafah. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa dalil:
Dari ‘Atha’ rahimahullah ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
( أضحاكم يوم تضحون ) وأراه قال : ( وعرفة يوم تعرفون )
“Hari ‘Idhul Adha kalian adalah hari di mana kalian berkurban” Dan aku mengira beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ”dan hari ‘Arafah adalah hari ketika kalian melakukan wukuf ‘Arafah” (HR. AlBaihaqi dalam Sunan Al Kubra 5/176 dan Asy Syafi’i dalam Al-Umm 1/264 dari ‘Atha’ secara mursal dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 4224)
Dari Ibnul Munkadir, dari 'Aisyah radhiallahu'anha ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
عرفة يوم يعرف الإمام
"hari ‘Arafah adalah hari ketika imam melakukan wukuf ‘Arafah" (HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra 5/175, Ibnu Hajar dalam At Talkhis berkata: "dalam riwayat ini Mujahid bersendirian, lalu Al Baihaqi berkata bahwa periwayatan Muhammad bin Al Munkadir dari 'Aisyah statusnya mursal. Dan perkataan Al Baihaqi ini benar. Walaupun At Tirmidzi telah menukil dari Imam Bukhari bahwa beliau berkata bahwa Ibnul Munkadir mendengar hadits dari 'Asiyah")
Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah dalam tahqiq beliau terhadap tulisan Imam Ibnu Rajab yang berjudul Ahkamul Ikhtilaf fi Ru'yatil Hilal Dzulhijjah (hal. 24), beliau berkata: "sanad hadits ini lemah, Muhammad bin Ismail Al Farisi disebutkan dalam Ibnu Hibban dalam kitab Ats Tsiqat (9/78): 'ia sering meriwayatkan hadits gharib' dan lihat juga Lisanul Mizan (5/77). Namun walau demikian, Asy Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini dalam tulisan beliau yang berjudul Awa'ilus Syuhur Al 'Arabiyyah Hal Yajuz Syar'an Itsbatuha bil Hisab Al Falakiy (hal. 26)".
Dari Masruq, beliau menemui 'Aisyah radhiallahu'anha di hari Arafah, kemudian Masruq berkata: 'beri aku minum'. Lalu 'Aisyah berkata: 'wahai budak, berilah ia minuman madu. wahai Masruq, apakah engkau tidak puasa?'. Masruq berkata: 'tidak, saya khawatir ini sudah hari Idul Adha'. Lalu 'Aisyah berkata:
ليس ذلك إنما عرفة يوم يعرف الإمام ، ويوم النحر يوم ينحر الإمام ، أو ما سمعت يا مسروق أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعدله بألف يوم
"bukan demikian, sesungguhnya hari ‘Arafah adalah hari ketika imam melakukan wukuf ‘Arafah dan hari idul adha adalah hari ketika imam berkurban. Atau mungkin engkau belum mendengar wahai Masruq, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam menyamakan puasa Arafah dengan puasa 1000 hari?" (HR. Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman, Ath Thabrani dalam Mu'jam Al Ausath, Al Haitsami dalam Majma' Az Zawaid (3/190) berkata: "dalam sanadnya ada Dalham bin Shalih ia dianggap lemah oleh Ibnu Ma'in dan Ibnu Hibban, sehingga sanadnya hasan", dan hadits ini dilemahkan oleh Syaikh Al Albani dalam Dha'if At Targhib wat Tarhib).
Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Khalid bin Usaid ia berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
يوم عرفة اليوم الذي يعرف الناس فيه
"hari Arafah adalah hari ketika orang-orang berwukuf di Arafah ketika itu" (HR. Ad Daruquthni dalam Sunan-nya (2/224) dan Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubra (5/176) dan ia berkata: 'hadits ini mursal jayyid di keluarkan oleh Abu Daud dalam Al Marasil").
SANGGAHAN:
Jika kita perhatikan dengan seksama dalil-dalil yang ada, tidak ada dalil yang sharih (tegas) menyatakan bahwa puasa Arafah itu mengikuti wukufnya jama'ah haji. Yang ada adalah penyebutan hari Arafah sebagai hari wukufnya jama'ah haji. Dan hadits-hadits tersebut semisal dengan hadits:
صَوْمُكُمْ يَوْمَ تَصُومُونَ , وَفِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُونَ
“Kalian berpuasa ketika kalian semuanya berpuasa, dan kalian berbuka ketika kalian semua berbuka” (HR Ad Daruquthni 385, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnad-nya 238).
Oleh karena itu, karena hadits-hadits ini semisal, mengapa membedakan antara ini dan itu. Semestinya berlakukan kaidah yang sama antara puasa Arafah dan puasa Ramadhan dan Idul Fitri. Yaitu mengikuti hilal masing-masing negeri.
***
2. Dalil kedua, Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam menyandingkan kata "shiyam" dengan kata "hari 'Arafah", dalam hadits
صيام يوم عرفة
"Puasa hari 'Arafah" (HR. Muslim 116)
ini menunjukkan bahwa puasa dilakukan ketika orang-orang berwukuf di Arafah sehingga dinamakan puasa hari Arafah.
SANGGAHAN:
Pendalilan ini juga tidak sharih (tegas) menunjukkan bahwa puasa Arafah dilakukan di hari ketika jama'ah haji wukuf di Arafah. Karena pada hadits yang lain justru tegas disebutkan hari tersebut adalah 9 Dzulhijjah. Dari Aisyah radhiallahu'anha ia berkata:
كانَ رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ علَيهِ وسلَّمَ يصومُ تسعَ ذي الحجَّةِ
"Biasanya Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam puasa di tanggal 9 Dzulhijjah" (HR. Abu Daud 2437, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).
***
3. Dalil ketiga, adanya ijma amali selama puluhan tahun bahwa hari Arafah itu mengikuti wukufnya jama'ah haji di Arafah. Telah dinukil oleh Syaikh Hisamuddin 'Affanah dari Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar bahwa beliau berkata:
إن المسلمين في جميع أقطار العالم الإسلامي قد أجمعوا إجماعاً عملياً منذ عشرات السنين على متابعة الحجاج في عيد الأضحى ولا يجوز لأي جهة أو مجموعة من الناس مخالفة هذا الإجماع
"kaum Muslimin di seluruh negeri sudah ijma secara praktek sejak puluhan tahun bahwa Idul Adha itu mengikuti jamaah haji, dan tidak boleh sedikit pun atau sekelompok orang manapun menyelisihi ijma ini".
Syaikh Abdurrahman As Suhaim mengatakan:
ولا عبرة هنا باختلاف المطالع ؛ لأن الأمة تجتمع على أن يوم عرفة في ذلك اليوم الْمُحدَّد ، وعادة من يُخالف في ذلك لا يُخالف لأجل اختلاف مطالع ، بل لأمور سياسية !
"perbedaan mathla tidak ada artinya dalam masalah ini, karena umat telah sepakat bahwa hari Arafah itu pada waktu yang ditentukan tersebut. Dan biasanya, perbedaan dalam masalah ini bukanlah karena perbedaan mathla' namun karena sekedar kepentingan politik"
SANGGAHAN:
Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Khalil mengatakan:
فهو أمر غير مسلم به ولا يستند إلى دليل ، فمازال الناس يختلفون في ذلك . فأما عدم اجتماعهم قبل توفر وسائل العلم الحديثة للاتصال فهو معلوم لا يشك فيه عاقل ، فإن المسلمين قبل اختراع وسائل الإتصال الحديثة ، لم يلتفتوا أصلاً إلى وقوف الناس في عرفة كشرط لصومهم عرفةَ في بلادهم، طوال أكثر من ألف وثلاثمائة عام ، بل ولم يذكر أحد من الفقهاء أن من شرط صحة صيام يوم عرفة أن يوافق وقوف الناس بعرفة
"Ini adalah perkara yang perlu dikritisi, karena justru sejak dahulu manusia berselisih pendapat dalam hal ini. Adapun perselisihan yang terjadi sebelum banyaknya media komunikasi maka ini wajar dan tidak diragukan lagi bagi orang berakal. Karena kaum Muslimin ketika belum ditemukan media komunikasi modern mereka sama sekali tidak berpatokan pada wukufnya jama'ah haji, semisal dalam hal menentukan puasa Arafah. Ini terjadi sepanjang 1300 tahun lebih. Bahkan tidak ada satu pun fuqaha yang mensyaratkan sahnya puasa Arafah adalah mencocoki wukufnya jama'ah haji di Arafah".
***
4. Dalil keempat, jika melihat keutamaan dan keagungan hari Arafah dalam hadits-hadits maka hari yang layak dan sesuai dengannya adalah hari ketika jamaah haji wukuf di Arafah.
SANGGAHAN:
Keutamaan dan keagungan hari Arafah adalah bagi orang-orang yang wukuf di Arafah. Adapun keutamaan puasa Arafah itu untuk seluruh manusia yang tidak sedang berhaji. Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
صيامُ يومِ عرفةَ ، أَحتسبُ على اللهِ أن يُكفِّرَ السنةَ التي قبلَه . والسنةَ التي بعده
"Puasa di hari Arafah aku harapkan bisa menggugurkan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang" (HR. Muslim no. 1162).
Hadits ini umum berlaku untuk semua orang yang tidak berhaji. Maka puasa Arafah tidak harus mencocoki wukufnya jama'ah haji.
Wallahu a'lam.
***
[Selesai ringkasan tulisan Syaikh Ahmad]
Maka yang rajih, puasa Arafah dan lebaran Idul Adha ikut hasil rukyah pemerintah.
Lebih baik dan berhati-hati jika puasa tanggal 8 dan 9 Dzulhijjah. Sehingga mencakup semua kemungkinan. Dan memang disyariatkan puasa tanggal 1 - 9 Dzulhijjah.
Ustadz Yulian Purnama hafidzahullah.
--Diambil dari laman facebooknya.

Didistribusikan oleh: Kajian Salaf

Salam dari redaksi

Jazakumullahu khairan telah membaca artikel "SANGGAHAN UNTUK PENDAPAT BAHWA PUASA HARUS MENCOCOKI WUKUF". Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amiin. Silahkan berselancar lebih jauh untuk menikmati artikel lainnya di www.kajiansalaf.com
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply