Header ads

Jangan Salah Mencintai

aboū almundziri Jumat, 25 Desember 2015 0


Rasulullah  bersabda :
المَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ
“Seseorang bersama dgn yg dicintainya” 
(HR Al-Bukhari no 6169)
Fenomena menyedihkan tatkala banyak kaum muslimin (terutama dari golongan pemuda) yang sangat mencintai para pelaku maksiat, bahkan mereka dari kalangan orang-orang kafir !! (terutama para pemain film & penyanyi serta olahragawan).
Foto orang-orang kafir tersebut dipajang di kamar-kamar mereka, menjadi penyejuk pandangan mereka…. sebelum dan tatkala bangun tidur…
Bahkan mereka meniru gaya berpakaian orang-orang kafir tersebut…
mereka hafalakan lantunan-lantunan orang-orang kafir tersebut...
mereka pelajari perjalanan hidup orang-orang kafir tersebut…!!
Jika salah seorang dari mereka ditanya tentang sejarah, nama dan nasehat2 Abu Bakar…Umar… Imam Syafii ?, maka terdiamlah ia... !!!
Bahkan kecintaan sebagian mereka sudah sangat mendalam kepada orang-orang kafir tsb, terbukti tatkala para artis tsb datang ke negeri-negeri kaum muslimin maka merekapun berbondong-bondong menyambut para idola mereka yang kafir, hingga ada yang histeris tatkala menyaksikan idolanya, bahkan ada diantara mereka yg pingsan.... karena terlalu gembira..?
Apa yg akan mereka perbuat dengan sabda Nabi “Seseorang (dikumpulkan diakhirat kelak) bersama yang ia cintai” ???!!!
KARENANYA…
cintailah orang-orang sholeh...
Tirulah gaya hidup mereka…
patuhilah petuah-petuah mereka..
yaitu orang-orang yg jika kita mengingat mereka… maka kita akan mengingat akhirat…
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullāh pernah berkata dgn penuh tawadhu'
أُحِبُّ الصَّالحين وَ لَسْتُ مِنْهُمْ *** لَعَلِّيَ أََنْ أَنَالَ بِهِمْ شَفَاعَهْ
Aku mencintai orang-orang shaleh meski aku bukan dari mereka
Aku berharap, dgn mencintai mereka, aku nanti mendapatkan syafaat
وَأَكْرَهُ مَنْ تِجَارَتُهُ الْمَعَاصِي *** وَلَوْ كُنَّا سَوَاءً فِي الْبِضَاعَهْ
Dan aku membenci orang yg maksiat adalah dagangannya
Meski dagangan kami sama…

✍ Ustādz Firanda Andirja, MA hafidzahullāh 

Adab Kepada Ustādz Yang Semakin Pudar

aboū almundziri Kamis, 24 Desember 2015 0

Al-‘Abdari menceritakan dalam Rihlah-nya hlm. 110 tentang sebab mengapa al-Qa’nabi tidak mendengar dari Syu’bah kecuali hanya satu hadits saja. Alkisah, suatu saat al-Qa’nabi pergi menuju kota Bashrah untuk mendengar hadits dari Syu’bah, tetapi ternyata majelis kajiannya telah selesai dan Syu’bah telah pulang ke rumahnya. Karena dorongan semangat menggelora yang tinggi, dia bertanya alamat rumah Syu’bah, dia pun menuju ke rumah (Syu’bah) yang kebetulan pintunya tengah terbuka. Tanpa permisi, dia pun langsung masuk dan berkata kepada Syu’bah yang sedang buang hajat, “Assalamu’alaikum. Saya orang asing, datang dari jauh untuk mendapatkan hadits dari Anda.”

Mendengar hal itu, Syu’bah kaget dan geram seraya mengatakan, “Wahai orang ini, Anda masuk rumahku tanpa permisi, lalu mengajak bicara denganku padahal kondisiku sekarang seperti ini, tolong menjauhlah dariku sehingga aku selesai buang hajat!!” Dia mengatakan, “Saya khawatir ketinggalan lagi dan luput hadits dariku.” Dia terus mengulang kata-kata tersebut. Karena terdesak, maka Syu’bah berkata, “Ya sudah, tulislah hadits Manshur bin Mu’tamir dari Rib’i dari Abu Mas’ud al-Badri dari Nabi bahwa beliau bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ

“Termasuk ucapan peninggalan para nabi dahulu adalah: ‘Jika engkau tidak malu maka berbuatlah sesukamu.’ ” (HR. Bukhari no. 3483)

Setelah itu, Syu’bah tidak menceritakan hadits lainnya kepadanya. Itulah sebabnya dia (al-Qa’nabi) meriwayatkan dari Syu’bah hanya satu hadits saja.
[Dinukil oleh Syaikh Masyhur bin Hasan alu Salman dalam al-Bayan wal Idhah Syarh Nazhmil al-Iraqi lil Iqtirah hlm. 124 dan ta’liq al-Kafi fi ’Ulumil Hadits hlm. 658 oleh at-Tibrizi.)

Di antara faedah berharga dari kisah ini adalah agar kita menjaga adab kepada guru ketika kita bertanya atau bertemu dengannya, maka carilah situasi dan kondisi yang tepat dan bertanyalah dengan santun dan keikhlasan.

✍ Ustādz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi hafidzahullāh 

Ucapan "SELAMAT NATAL" Haram Berdasarkan Ijma'

aboū almundziri Rabu, 23 Desember 2015 0

Ucapan "Selamat Natal" Haram Berdasarkan Ijma'

Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menerangkan:
وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه
“Adapun tahni’ah (ungkapan selamat) atas syi’ar-syi’ar orang kafir yang menjadi kekhususan mereka hukumnya haram menurut kesepakatan para Ulama (ijma'). Seperti mengucapkan selamat atas hari-hari raya mereka atau puasa mereka. Umpamanya dengan mengatakan, “Hari yang berkah atasmu”, atau “Selamat hari raya”, atau yang semisalnya. Maka sekalipun pengucapnya itu selamat dari kekufuran, akan tetapi ia telah terjerumus dalam perbuatan yang haram. Konteksnya sama saja seperti memberi ucapan selamat terhadap sujudnya mereka kepada salib, bahkan hal tersebut lebih berat lagi dosanya di sisi Allah dan lebih besar lagi kemurkaan-Nya ketimbang mengucapkan selamat atas meminum khamr, membunuh orang, atau berzina dan yang semisalnya.” (Ahkamu Ahlidz Dzimmah 1/205)
Kerancuan Memahami Ayat
Sebagian orang yang berpenyakit hatinya terus berusaha membikin talbis (pengkaburan) pemahaman kaum Muslimin dengan mencatut ayat dan menerjemahkan sesuai selera hawa nafsunya. Akibatnya ucapan “selamat natal” pun ditolerir dengan dalih ayat berikut:
وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam: 33)
Kalimat, “Was salaam (dan kesejahteraan) semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku…” mereka terjemahkan “Selamat natal (kelahiran) Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.”
Itulah syubhat (kerancuan) yang disuarakan oleh kelompok-kelompok pluralis di hari-hari mendekati perayaan natal ini. Dan untuk mematahkan syubhat mereka cukuplah kita merujuk kepada warisan Salafusshalih dalam memahami ayat-ayat tersebut. Sebab para Salafusshalih adalah pihak yang paling dikenal keistiqamahannya dalam meneladani cara beragama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Shahabatnya.
Al-Imam Ibnu Jarir At-Thabari (Wafat 310 H) berkata:
والأمنة من الله عليّ من الشيطان وجنده يوم ولدت
“(Maknanya) dan penjagaan Allah terhadapku (Nabi ‘Isa) dari Syaithan dan tentaranya ketika aku dilahirkan.” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an 18/193)
Al-Imam Al-Baghawi Asy-Syafi’i (Wafat 510 H):
السلامة عند الولادة من طعن الشيطان
“Keselamatan dari celaan syaithan pada saat kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.” (Ma’alimut Tanzil 5/230)
Al-Hafidzh Ibnu Katsir Asy-Syafi’i (Wafat 774 H):
ولكن له السلامة في هذه الأحوال
“Akan tetapi, Allah selamatkan Nabi ‘Isa pada saat-saat tersebut (dilahirkan, diwafatkan, dibangkitkan).” (Tafsirul Qur’anil ‘Adzhim 5/230)
Dan masih banyak lagi keterangan para Ulama Mufassirin lainnya yang menerangkan bahwa makna ayat tersebut sebagai penjagaan Allah terhadap Nabi ‘Isa, sama sekali tidak menunjukkan ucapan “selamat natal” yang sejatinya mengakui kelahiran anak Tuhan. Dan para Ulama telah mencapai kata sepakat atas haramnya ucapan tersebut. Maka jika mengucapkan selamat hari raya orang kafir saja dilarang, tentu lebih berat lagi jika sampai mengikuti hari raya mereka, wallahul musta'an.
✒_____
Fikri Abul Hasan
🌍 WhatsApp Group
"Al-Madrasah As-Salafiyyah"

Jadikanlah Amalmu Sebagai Kekasihmu

aboū almundziri Senin, 14 Desember 2015 0


JADIKANLAH AMALMU SEBAGAI KEKASIHMU !



 ✍ Ustādz Musyaffa ad Dariny, حفظه الله تعالى
Hatim -rohimahulloh- mengatakan:
“Aku telah memperhatikan semua makhluk, kudapati setiap orang memiliki kekasih, tapi jika sampai ke kuburnya, kekasih itu pun meninggalkannya.
Oleh karena itu, aku jadikan kekasihku adalah amal-amal baikku, agar dia di alam kubur bersamaku”.
[Sumber: Mukhtashor Minhajul Qoshidin, hal:28]