Header ads

Kisah Seorang Pemuda Yang Selalu Jelalatan

aboū almundziri Jumat, 24 Juli 2015 0


ﻗﺼﺔ ﺷﺎﺏ ﺩﺍﺋﻢ ﺍﻟﻨﻈﺮ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻔﺘﻴﺎﺕ

Kisah Seorang Pemuda Yang Selalu Jelalatan Memandang Para Gadis 


ﻗَﺪِﻡَ ﺷﺎﺏ ﺇﻟﻰ ﺷﻴﺦ ﻭﺳﺄﻟﻪ :
ﺃﻧﺎ ﺷﺎﺏ ﺻﻐﻴﺮ ﻭﺭﻏﺒﺎﺗﻲ ﻛﺜﻴﺮﺓ
ﻭﻻ ﺃﺳﺘﻄﻴﻊ ﻣﻨﻊ ﻧﻔﺴﻲ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻈﺮ
ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﺍﻟﻔﺘﻴﺎﺕ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻮﻕ ، ﻓﻤﺎﺫﺍ ﺃﻓﻌﻞ؟

Seorang pemuda datang kpd Seorang Syeikh . Kemudian dia bertanya :
Aku seorang pemuda tanggung akan tetapi nafsu syahwatku besar sekali
Akan tdk dapat menahan pandanganku ketika melihat manusia, dan para gadis di pasar ( dan jalalan), maka apa solusinya yg harus aku kerjakan ?

ﻓﺄﻋﻄﺎﻩ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻛﻮﺑﺎً ﻣﻦ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ ﻣﻤﺘﻠﺌﺎً ﺣﺘﻰ ﺣﺎﻓﺘﻪ ﻭﺃﻭﺻﺎﻩ ﺃﻥ ﻳﻮﺻﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﻭﺟﻬﺔ ﻣﻌﻴﻨﺔ ﻳﻤﺮّ ﻣﻦ ﺧﻼﻟﻬﺎ ﺑﺎﻟﺴﻮﻕ ﺩﻭﻥ ﺃﻥ ﻳﻨﺴﻜﺐ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﻮﺏ ﺃﻱ ﺷﻲﺀ ! ﻭﺍﺳﺘﺪﻋﻰ ﻭﺍﺣﺪﺍً ﻣﻦ ﻃﻼﺑﻪ ﻟﻴﺮﺍﻓﻘﻪ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ ﻭﻳﻀﺮﺑﻪ ﺃﻣﺎﻡ
ﻛﻞ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺴﻜﺐ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ !!

Maka syeikh tsb memberikan sebuah gelas yg penuh dengan susu hingga rata / tumpah , dan meminta kpd pemuda ini utk mengantarkan segelas susu tersebut kpd seseorang , yang jalanannya melewati pasar dan tidak boleh tumpah sedikitpun susu tsb, ! Dan syeikh meminta salah satu muridnya utk mengikuti dan mengawasi pemuda ini dan memukulnya didepan orang jika menumpahkan susu tersebut .

ﻭﺑﺎﻟﻔﻌﻞ .. ﺃﻭﺻﻞ ﺍﻟﺸﺎﺏ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ ﻟﻠﻮﺟﻬﺔ ﺍﻟﻤﻄﻠﻮﺑﺔ ﺩﻭﻥ ﺃﻥ ﻳﻨﺴﻜﺐ ﻣﻨﻪ ﺷﻲﺀ ..

Maka pemuda itu menjalankan perintah syeikh tsb .. Dia antarkan susu itu kpd orang yg dimaksudkan syeikh tanpa menumpahkan sedikitpun susunya

ﻭﻟﻤﺎ ﺳﺄﻟﻪ ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻛﻢ ﻣﺸﻬﺪﺍً ﻭﻛﻢ ﻓﺘﺎﺓ ﺭﺃﻳﺖ ﻓﻲ ﺍﻟﻄﺮﻳﻖ؟

Kemudian setelah selesai syeikh bertanya : berapa pemadangan yg kamu saksikan, dan berapa gadis yg engkau lihat di jalanan ?

ﻓﺄﺟﺎﺏ ﺍﻟﺸﺎﺏ : ﺷﻴﺨﻲ ﻟﻢ ﺃﺭَ ﺃﻱ ﺷﻲﺀ ﺣﻮﻟﻲ ..
ﻛﻨﺖ ﺧﺎﺋﻔﺎً ﻓﻘﻂ ﻣﻦ ﺍﻟﻀﺮﺏ
ﻭﺍﻟﺨﺰﻱ ﺃﻣﺎ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺴﻜﺐ ﻣﻨﻲ ﺍﻟﺤﻠﻴﺐ !

Maka pemuda tsb menjawab : wahai syeikh aku tdk melihat sesuatu apapun disekitarku ..
Aku takut dan ingat akan dipukul didepan khalayak umum jika menumahkan susu !sedikitpun

ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﺸﻴﺦ : ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻫﻮ ﺍﻟﺤﺎﻝ ﻣﻊ ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ..
ﺍﻟﻤﺆﻣﻦ ﻳﺨﺎﻑ ﻣﻦ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﻣﻦ ﺧﺰﻱ ﻳﻮﻡ ﺍﻟﻘﻴﺎﻣﺔ ﺇﺫﺍ ﺍﺭﺗﻜﺐ ﻣﻌﺼﻴﺔ ...

Berkata syeikh : demikianlah Seharusnya keadaan seorang mukmin , orang yg beriman selalu takut kpd Allah danselalu ingat dihari kiamat akan disiksa jika bermaksiyat

ﻫﺆﻻﺀ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﻳﺤﻤﻮﻥ ﺃﻧﻔﺴﻬﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﻌﺎﺻﻲ ﻓﻬﻢ ﺩﺍﺋﻤﻮﺍ ﺍﻟﺘﺮﻛﻴﺰ ﻋﻠﻰ " ﻳَــــﻮﻡ ﺍﻟــﻘِﻴـــﺎﻣﺔ ...

Mereka itulah orang2 beriman menjaga dirinya dari maksiyat , mereka selalu ingat akan hari kiamat ...

ﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳَﻐُﻀُّﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈُﻮﺍ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺯْﻛَﻰ ﻟَﻬُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺼْﻨَﻌُﻮﻥَ * ﻭَﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﻳَﻐْﻀُﻀْﻦَ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻦَّ ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈْﻦَ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻦَّ ﻭَﻻ ﻳُﺒْﺪِﻳﻦَ ﺯِﻳﻨَﺘَﻬُﻦَّ ﺇِﻻ ﻣَﺎ ﻇَﻬَﺮ
َ
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". .Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.
( QS An Nuur: 30-31 ‏)

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺍﺟﻌﻠﻨﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻳﻐﻀﻮﻥ ﺃﺑﺼﺎﺭﻫﻢ
ﺍﻟﻠﻬــــــــــــــــﻢ ﺍّﻣﻴـــــــــــــﻦ

Ya Allah jadikanlah kami termasuk orang2 yg menundukkan pandangan kami
aminn ya Allah

 ﺳﻠﻴﻤﺎﻥ ﺃﺑﻮ ﺷﻴﺨــﺔ

WA DIKS

Via Grup WA An Nashihah Bontang


Keutamaan Puasa Enam Hari Bulan Syawal

aboū almundziri Rabu, 22 Juli 2015 0

Apa hukumnya puasa enam hari bulan Syawal, apakah wajib?
Puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa wajib bulan Ramadhan adalah amalan sunnat yang dianjurkan bukan wajib. Seorang muslim dianjurkan mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal. Banyak sekali keutamaan dan pahala yang besar bagi puasa ini. Diantaranya, barangsiapa yang mengerjakannya niscaya dituliskan baginya puasa satu tahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Ramadhan). 
Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:

"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh."
(H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)
Rasulullah telah menjabarkan lewat sabda beliau:
"Barangsiapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas 'Iedul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat."
Dalam sebuah riwayat berbunyi:
"Allah telah melipatgandakan setiap kebaikan dengan sepuluh kali lipat. Puasa bulan Ramadhan setara dengan berpuasa sebanyak sepuluh bulan. Dan puasa enam hari bulan Syawal yang menggenapkannya satu tahun."
(H.R An-Nasa'i dan Ibnu Majah dan dicantumkan dalam Shahih At-Targhib).
Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dengan lafazh:
"Puasa bulan Ramadhan setara dengan puasa sepuluh bulan. Sedang puasa enam hari bulan Syawal setara dengan puasa dua bulan. Itulah puasa setahun penuh."
Para ahli fiqih madzhab Hambali dan Syafi'i menegaskan bahwa puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa Ramadhan setara dengan puasa setahun penuh, karena pelipat gandaan pahala secara umum juga berlaku pada puasa-puasa sunnat. Dan juga setiap kebaikan dilipat gandakan pahalanya sepuluh kali lipat.

Salah satu faidah terpenting dari pelaksanaan puasa enam hari bulan Syawal ini adalah menutupi kekurangan puasa wajib pada bulan Ramadhan. Sebab puasa yang kita lakukan pada bulan Ramadhan pasti tidak terlepas dari kekurangan atau dosa yang dapat mengurangi keutamaannya. Pada hari kiamat nanti akan diambil pahala puasa sunnat tersebut untuk menutupi kekurangan puasa wajib.

Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam :
"Amal ibadah yang pertama kali di hisab pada Hari Kiamat adalah shalat. Allah Ta'ala berkata kepada malaikat -sedang Dia Maha Mengetahui tentangnya-: "Periksalah ibadah shalat hamba-hamba-Ku, apakah sempurna ataukah kurang. Jika sempurna maka pahalanya ditulis utuh sempurna. Jika kurang, maka Allah memerintahkan malaikat: "Periksalah apakah hamba-Ku itu mengerjakan shalat-shalat sunnat? Jika ia mengerjakannya maka tutupilah kekurangan shalat wajibnya dengan shalat sunnat itu." Begitu pulalah dengan amal-amal ibadah lainnya." H.R Abu Dawud
Wallahu a'lam.
✍ Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid حفظه الله تعالى
Sumber: islamqa.info

APABILA HARI RAYA 'IED BERTEPATAN DENGAN HARI JUM'AT

Kajian Salaf Minggu, 12 Juli 2015 0

Berikut adalah fatwa Lajnah Daimah tentang peristiwa hari raya yang bertepatan dengan hari jumat.

Fatwa no. 21160 diterbitkan tanggal 8 Dzulqa’dah 1420 H.

Alhamdulillah wahdah, was shalatu was salamu ‘ala man laa nabiyya ba’dah, amma ba’du,
Terdapat banyak pertanyaan terkait peritiwa hari raya yang bertepatan dengan hari jumat. Baik idul fitri maupun idul adha. Apakah jumatan tetap wajib dilaksanakan bagi mereka yang telah melaksanakan shalat id? Bolehkah mengumandangkan adzan di masjid yang diadakan shalat dzuhur? Dan beberapa pertanyaan terkait lainnya. Untuk itu, Lajnah Daimah menerbitkan fatwa berikut:
Dalam permasalahan ini, ada beberapa hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dana keterangan sahabat yang menjelaskan hal itu. Diantaranya:
Pertama, hadis Zaid bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, bahwa Muawiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepadanya: “Apakah anda pernah mengikuti hari raya yang bertepatan dengan hari jumat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?” “Lalu apa yang beliau lakukan?” Jawab Zaid:
صلى العيد ثم رخص في الجمعة، فقال: من شاء أن يصلي فليصل
“Beliau shalat id, dan memberi keringanan untuk tidak shalat jumat. Beliau berpesan: ‘Siapa yang ingin shalat jumat, hendaknya dia shalat.’” (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, ibn Majah, Ad-Darimi).
Kedua, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
قد اجتمع في يومكم هذا عيدان، فمن شاء أجزأه من الجمعة، وإنا مجمعون
“Pada hari ini terkumpul dua hari raya (jumat dan id). Siapa yang ingin shalat hari raya, boleh baginya untuk tidak jumatan. Namun kami tetap melaksanakan jumatan.” (HR. Abu Daud, Ibn Majah, Ibnul Jarud, Baihaqi, dan Hakim).
Ketiga, hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau menceritakan:
اجتمع عيدان على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فصلى بالناس ثم قال: من شاء أن يأتي الجمعة فليأتها ومن شاء أن يتخلف فليتخلف
Pernah terkumpul dua hari raya dalam sehari di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau mengimami shalat id, dan berkhutbah: “Siapa yang ingin jumatan, silahkan datang jumatan. Siapa yang ingin tidak hadir jumatan, boleh tidak hadir.” (HR. Ibn Majah).
Sementara dalam riwayat At-Thabrani di Al-Mu’jam Al-Kabir, dinyatakan bahwa Ibnu Umar menceritakan:
اجتمع عيدان على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم: يوم فطر وجمعة، فصلى بهم رسول الله صلى الله عليه وسلم العيد، ثم أقبل عليهم بوجهه فقال: يا أيها الناس إنكم قد أصبتم خيراً وأجراً وإنا مجمعون، ومن أراد أن يجمع معنا فليجمع، ومن أراد أن يرجع إلى أهله فليرجع
“Pernah terkumpul dua hari raya dalam sehari di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, idul fitri dan hari jumat. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami shalat id, lalu berkhutbah di hadapan para sahabat: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah mendapatkan kebaikan dan pahala, namun kami akan tetap melaksanakan jumatan. Siapa yang ingin ikut jumatan bersama kami, silahkan ikut. Siapa yang ingin pulang ke keluarganya, silahkan pulang.”
Keempat, hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:
اجتمع عيدان في يومكم هذا فمن شاء أجزأه من الجمعة وإنا مجمعون إن شاء الله
“Terkumpul dua hari raya pada hari ini. Siapa yang ingin shalat id, maka boleh baginya untuk tidak ikut jumatan. Dan kami akan tetap melaksanakan jumatan, insyaaAllah.” (HR. Ibn Majah, kata Al-Bushiri: Sanadnya shahih dan perawinya tsiqat).
Kelima, riwayat dari Atha bin Abi Rabah, beliau menceritakan:
“Abdullah bin Zubair pernah mengimami kami shalat id pada hari jumat di pagi hari. Kemudian (si siang hari) kami berangkat jumatan. Namun Abdullah bin Zubair tidak keluar untuk mengimami jumatan, sehingga kami shalat (dzuhur) sendiri-sendiri. Ketika itu, Ibnu Abbas sedang di Thaif. Ketika kami datang ke Thaif, kami ceritakan kejadian ini dan beliau mengatakan, ‘Dia (Ibn Zubair) sesuai sunah.’” (HR. Abu Daud). Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah terdapat tambahan, bahwa Ibnu Zubair mengatakan:
رأيت عمر بن الخطاب إذا اجتمع عيدان صنع مثل هذا
“Saya melihat Umar bin Khatab, ketika ada dua hari raya yang bersamaan, beliau melakukan seperti itu.”
Keenam, riwayat dari Abu Ubaid, bekas budak Ibnu Azhar, bahwa beliau pernah mengalami kejadian berkumpulnya dua hari raya di zaman Utsman bin Affan. Ketika itu hari jumat. Kemudian beliau shalat hari raya, lalu berkhutbah:
يا أيها الناس إن هذا يوم قد اجتمع لكم فيه عيدان، فمن أحب أن ينتظر الجمعة من أهل العوالي فلينتظر، ومن أحب أن يرجع فقد أذنت له
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya pada hari ini terkumpul dua hari raya. Siapa diantara penduduk pedalaman yang ingin menunggu jumatan maka hendaknya dia menunggu (tidak pulang). Dan siapa yang ingin pulang, aku izinkan dia untuk pulang.” (HR. Bukhari dan Malik dalam Al-Muwatha’)
Ketujuh, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa terkumpul dua hari raya di hari jumat, beliau berkhutbah setelah shalat id:
من أراد أن يجمع فليجمع، ومن أراد أن يجلس فليجلس
“Siapa yang ingin menghadiri jumatan, silahkan datang. Siapa yang ingin tetap di rumah, silahkan duduk di rumahnya (tidak berangkat jumatan).” (HR. Ibn Abi Syaibah dan Abdur Razaq).
Berdasarkan beberapa hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, keterangan dan praktek sejumlah sahabatradhiyallahu ‘anhum, serta pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama, maka Lajnah Daimah memutuskan hukum berikut:
  1. Orang yang telah menghadiri shalat id, mendapat keringanan untuk tidak menghadiri jumatan. Dan dia wajib shalat dzuhur setelah masuk waktu dzuhur. Akan tetapi jika dia tidak mengambil keringanan, dan ikut shalat jumat maka itu lebih utama.
  2. Orang yang tidak menghadiri shalat id maka tidak termasuk yang mendapatkan keringanan ini. Karena itu, kewajiban jumatan tidak gugur baginya, sehingga dia
  3. wajib berangkat ke masjid untuk melaksanakan shalat jumat. Jika di masjid tempatnya tidak ada shalat jumat maka dia shalat dzuhur.
  4. Wajib bagi takmir masjid atau petugas jumatan untuk mengadakan jumatan di masjidnya, untuk menyediakan sarana bagi mereka yang tidak shalat id atau orang yang ingin melaksanakan jumatan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam khutbahnya: “Namun kami tetap melaksanakan jumatan” sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis di atas.
  5. Orang yang shalat id dan mengambil keringanan untuk tidak jumatan, dia wajib shalat dzuhur setelah masuk waktu dzuhur.
  6. Tidak disyariatkan mengumandangkan adzan di hari itu, kecuali adzan di masjid yang diadakan shalat jumat. Karena itu, tidak disyariatkan melakukan adzan dzuhur di hari itu.
  7. Pendapat yang menyatakan bahwa orang yang shalat id maka gugur kewajibannya untuk shalat jumat dan shalat dzuhur pada hari itu, adalah pendapat yang tidak benar. Oleh sebab itu, para ulama menghindari pendapat ini, dan menegaskan salahnya pendapat ini, karena bertentangan dengan ajaran dan menganggap ada kewajiban yang gugur tanpa dalil.
Allahu a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa aalihii wa shahbihii wa sallam..
Ditandatangi oleh:
Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah Alu Syaikh
Anggota : Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghadyan, Bakr bin Abdullah Abu Zaid, dan Sholeh bin Fauzan Al-Fauzan
Demikian Fatwa Lajnah Daimah, dengan beberapa penyesuaian.
Dialihbahasakan oleh 
✍ Ustadz Ammi Nur Baits حفظه الله تعالى