Header ads

Cerdaslah Dalam Memilih Ustadz

AZDINAWAWI Jumat, 31 Maret 2017 0

PILIHLAH RUJUKAN ILMU YANG SUDAH JELAS MANHAJNYA
http://assunnah.tumblr.com/post/159015977746/pilihlah-rujukan-ilmu-yang-sudah-jelas-manhajnya
Dengan semakin besarnya dakwah sunnah di NKRI, banyak dai-dai bermunculan…Ini merupakan sisi baik yang harus kita syukuri, karena dengan semakin banyaknya dai sunnah, maka semakin luas jangkauan yang bisa disasar, dan semakin meringankan tugas dai-dai sunnah yang sudah ada sebelumnya.
Namun di sisi lain, kita akan menghadapi penurunan dari sisi kualitas.. karena memang biasanya kualitas akan menurun, seiring dengan bertambahnya kuantitas.. dan ini yang seharusnya disadari dan diwaspadai.
Penurunan kualitas itu tentu bukan hanya pada audiens, tapi juga pada ustadznya… Itu bisa dilihat, diantaranya dari menurunnya semangat menyebarkan atau mendengarkan tauhid… Menurunnya semangat menerapkan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pada individunya… Menurunnya semangat mengedepankan pendapat generasi salaf dalam membahas sebuah masalah… dst.
Oleh karena itu, menjadi sangat urgen dan sangat penting bagi kita, untuk memilih ustadz yang sudah jelas manhajnya.. khususnya di daerah-daerah yang sudah banyak ustadznya.
Diantara cara sederhana dan mudah dalam melihat seorang ustadz sunnah, apakah manhajnya bagus atau tidak adalah:
1. Lihatlah, bersama siapakah ustadz tersebut berkumpul… apakah bersama ustadz-ustadz yang bermanhaj salaf atau tidak.. karena seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya.
2. Darimana ustadz tersebut menimba ilmu, baik almamater, maupun para ustadz dan masyikhnya.. Atau siapa tokoh favoritnya.. karena sumber ilmu akan sangat mempengaruhi pemahaman dan manhaj seseorang.
3. Dari sisi pendapat, apakah banyak menyelisihi pendapat ulama yang bermanhaj salaf ataukah tidak… bila banyak sekali pendapatnya yang menyelisihi pendapat ulama yang bermanhaj salaf.. maka itu indikasi bahwa manhaj yang merupakan landasan seseorang dalam menganalisa dalil juga berbeda.
4. Dari sisi topik dakwah yang disampaikan, apakah perhatiannya besar terhadap tauhid ataukah tidak…karena itulah pembeda antara dakwah salaf dengan dakwah lainnya.
5. Dari sisi perhatiannya kepada Ijma’ generasi salaf… jika tidak memperhatikan sisi ini, maka dia akan bermudah-mudahan dalam membahas sebuah masalah, terutama dalam masalah akidah dan bid’ah. Oleh karena itu, cerdaslah dalam memilih ustadz, karena itu adalah sumber agama kita… yang terpenting adalah manhajnya… adapun sisi lain seperti kecerdasan, retorika, kuatnya hapalan, dll, maka itu adalah pelengkap… jangan menjadikan pelengkap sebagai intinya.
Perlu diingat, tidak menjadikannya sebagai ustadz rujukan, bukan berarti membencinya, atau memusuhinya, atau tidak menerima kebenaran darinya… sebagaimana kita sering merujuk ke dokter tertentu dalam penyakit tertentu, karena kehati-hatian, bukan karena kita benci kepada dokter yang lain.
Silahkan dishare…Semoga bermanfaat.
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى
#manhaj #kajiansalaf #kajiansunnah

Teman Medsos

AZDI NAWAWI Kamis, 30 Maret 2017 0

Fenomena saat ini, dimana kebanyakan orang terlalu disibukkan mencari teman di dunia maya, padahal mereka tidak akan menemaninya hingga alam kubur.

Perhatikan hadits berikut,
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari, no. 6514; Muslim, no. 2960)

‘Ali bin Muhammad Abul Hasan Nuruddin Al-Mala Al-Harawi Al-Qari (meninggal dunia tahun: 1014 H) menyatakan bahwa seseorang ketika mati ada tiga yang mengikutinya hingga ke kubur. Pertama adalah keluarganya, yaitu anak dan kerabatnya, begitu pula sahabat dan kenalannya. Kedua adalah hartanya, seperti budak laki-laki atau perempuannya, juga hewan tunggangannya. Ketiga adalah amalannya, yaitu amal baik atau buruk yang pernah ia lakukan. Keluarga dan harta tadi akan kembali. Yang tersisa hanyalah amalnya yang menemani ia di kubur. (Mirqah Al-Mafatih Syarh Misykah Al-Mashabih, 8: 3235. Dinukil dari Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab, no. 199542)

Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

قَوْلُهُ ( يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ) هَذَا يَقَعُ فِي الْأَغْلَبِ ، وَرُبَّ مَيِّتٍ لَا يَتْبَعُهُ إِلَّا عَمَلُهُ فَقَطْ

“Mayit akan diikuti oleh keluarga, harta dan amalnya. Itu adalah umumnya. Bisa jadi ada mayit yang hanya diikuti oleh amalnya saja, tanpa membawa harta dan keluarga ketika diantar ke kuburan.” (Fath Al-Bari, 11: 365)

Disebutkan dalam hadits Al-Bara’ bin ‘Azib yang panjang tentang pertanyaan di alam kubur. Ada ketika itu datang seseorang yang berwajah tampan dan berpakaian bagus, baunya pun wangi. Ia adalah wujud dari amalan shalih seorang hamba. Sedangkan orang kafir didatangi oleh orang yang berwajah jelek. Itu adalah wujud dari amalan jeleknya. (HR. Ahmad, 4: 287. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth menyatakan bahwa sanad hadits ini shahih, perawinya adalah perawi yang shahih)

Lantas amal kita bagaimana? Sudahkah amal kita siap untuk menemani kita kelak di alam kubur?

Sumber : https://rumaysho.com/14414-tiga-yang-menemani-dua-pulang-satu-tersisa.html


http://assunnah.tumblr.com/post/158979094156/teman-medsos

DAN RAJAB PUN TIBA

AZDINAWAWI Senin, 27 Maret 2017 0

DAN RAJAB PUN TIBA 

Sahabat fillah….
Tak terasa kita telah memasuki bulan Rajab, bulan yang dimuliakan dan diharamkan Allah ‘Azza wa Jalla. Dinamakan bulan haram karena Allah 'Azza wa Jalla mengharamkan peperangan dan kedzoliman di dalamnya. Ini tidak berarti bahwa boleh melakukan kedzoliman diluar bulan tersebut. Akan tetapi pelarangan di bulan ini sangat ditekankan lagi
Walaupun bulan ini dimuliakan oleh Allah 'Azza wa Jalla, tidak lantas patut dijadikan alasan bagi kita untuk mengkhususkan amalan-amalan tertentu di dalamnya. Karena ibadah sifatnya tauqifiyah, hukum asalnya haram (untuk dilakukan) sampai ada dalil yang menunjukkan landasan ibadah tersebut.
Syariat kita juga telah menetapkan bahwa tidak boleh mengkhususkan ibadah tertentu pada waktu tertentu tanpa adanya dalil. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak kami perintahkan, maka amalan tersebut tertolak” 
[HR. Muslim]
Beberapa Amalan Populer Di Bulan Rajab
1. Sholat Raghaib
Ibadah ini tidak dikenal dikalangan salafusshalih, ia baru muncul pada abad ke 5 hijriah. Tidak ada hadits sohih yang menunjukkan bahwa amalan ini disyariatkan. Adapun riwayat yang mengatakan:
“ Bulan Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku, dan tidaklah seseorang melakukan puasa pada kamis pertama bulan Rajab, kemudian melakukan sholat antara magib dan isya (malam jumat), dan membaca surat Al Fatihah sekali, inna anzalnahu fii lailatil qadr” tiga kali, Qul huwallahu ahad 12 kali dan melakuan salam pada setiap dua rakaatnya, bila telah selesai melaksanakan shalat dia bershalawat kepadaku 70 kali kemudian berdoa meminta apa saja niscaya akan dikabulkan untuknya dst…“
Riwayat ini adalah riwayat palsu.
Imam At Tharthusi menyebutkan:
"Hadits ini pertama kali dibuat di baitul maqdis pada tahun 448 H, saat itu seorang laki-laki nablus yang bernama Ibnu Abi Al Hamraa’ datang ke Baitul Maqdis. Orang ini sangat bagus bacaannya, dia pertama kali melakukan sholat ini dimasjid al aqsha, setelah itu ritual ini menyebar dan tak seorangpun dari pakar hadits yang menyatakan kesohihan riwayat tentang sholat ini”
Di dalam Asna Al-Mathaalib (1/206) Al-Allamah Zakaria Al-Anshori As Syafi'i -rahimahullah- meyatakan bahwa
“diantara bidah yang tercela adalah sholat raghaib yang jumlahnya 12 rakaat dilaksanakan antara maghrib dan isya pada malam jum'at pertama bulan Rajab. Begitu juga dengan shalat malam nishfu sya'ban sebanyak 100 rakaat? dan jangan terpedaya dengan orang yang menyebutkan (adanya) kedua amalan tersebut”
Syaikhul Islam Ahmad Ibnu Abdil Halim Al-Harrany saat ditanya tentang shalat raghaib apakah disunnahkan atau tidak.? Beliau menjawab : “Shalat ini tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi waSallam, tidak juga oleh para sahabat, tabiin, maupun imam-imam kaum muslimin. Rasulullah tidak pernah menganjurkannya, tidak juga salaf dan para imam. Mereka juga tidak menyebutkan bahwa malam ini memiliki keutamaan khusus.
Adapun hadits-hadist yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam seputar hal itu adalah dusta dan palsu berdasarkan kesepakatan para ahli yang kompeten dibidangnya
[muhaddits]
Imam Nawawi -rahimahullah- berkata:
“Shalat yang dikenal dengan sebutan shalat Ragha’ib yaitu shalat 12 rakaat yang dilakukan antara Maghrib dan Isya’, yakni malam awal hari Jumat pada bulan Rajab, dan shalat malam pada nishfu sya’ban seratus rakaat, maka dua shalat ini adalah bid’ah munkar yang buruk, janganlah terkecoh karena keduanya disebutkan dalam kitab Quut al Qulub dan Ihya Ulumuddin, tidak ada satu pun hadits yang menyebutkan dua shalat ini, maka semuanya adalah batil.”
[Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 2/379.]
Adz Dzahabi mengatakan:
"Hadits sholat Raghaaib batil tanpa keraguan sedikitpun.”
Hukum para ulama berkenaan dengan hadits seputar rajab juga disepakati oleh Al Hafidz Ibnul Qayyim, Al Hafidz Al Khattabi, Al Hafidz Ibnu Rajab dan Al Hafidz Ibnu Hajar -Rahimahumullah-
2. Shalat pada Pertengahan Bulan Rajab dan Shalat Malam Mi’ raj.
Kedua amalan diatas tidak disyariatkan karena dalil yang dijadikan dasar untuk kedua amalan tersebut palsu.
3. Puasa Rajab.
Amalan ini juga tidak disyariatkan, sementara riwayat yang mengatakan, “Di dalam surga ada sungai yang bernama Rajab, airnya lebih putih dari salju, lebih manis dari madu, barangsiapa yang berpuasa sehari di bulan rajab maka dia akan meminum dari sungai tersebut”.
Ibnul Jauzy mengatakan hadits ini tidak shahih, sementara Adz Dzahaby menyebut hadits ini batil. Namun bila seseorang melakukan puasa senin kamis atau puasa putih (puasa ayyamul bidh) tanpa bermaksud mengkhususkannya dengan bulan rajab maka hal itu tidak mengapa.
4. Umroh di bulan Rajab
Sebagian kaum muslimin meyakini bahwa umroh di bulan Rajab itu disunnahkan. mereka berhujjah dengan peristiwa umroh Rasulullah Shallallahu 'Aaihi wa Sallam yang bertepatan dengan bulan Rajab. Pendapat ini tentunya keliru. Sebab Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tidak mengkhususkan bulan itu untuk melaksanakan umroh, hanya saja umroh beliau bertepatan dengan bulan tetsebut. Namun bila seseorang melakukan umroh tanpa mengaitkannya dengan kekhususan bulan Rajab, maka hal tersebut tidak mengapa.
5. Merayakan Malam Isra’ Dan Mi'raj.
Untuk amalan yang terakhir ini sama sekali tidak di dukung oleh hadits yang palsu sekalipun apalagi shahih. Bila memang baik tentunya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dan para Sahabat telah melakukannya. lagipula terjadi silang pendapat dikalangan ulama mengenai kapan pastinya peristiwa besar itu terjadi.
Ibnul Haaj mengatakan, “Di antara praktik yang tidak memiliki tuntunan dan diada-adakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab.”
[Al Bida’ Al Hawliyah; 275]
Jadi….

“Ikutilah dan jangan berbuat bid'ah, karena kalian telah dicukupi”
[Ibnu Mas'ud -Radhiyallahu 'Anhu-]
Semoga bermanfaat
——————————–
Ditulis Oleh: Ustadz Aan Chandra Thalib hafidzahullah

Simak pula artikel berikut
http://assunnah.tumblr.com/post/158966515071/adakah-amalan-khusus-di-bulan-rajab
#BulanRajab #Rajab #Bidah #PuasaRajab #ShalatRaghaib #IsraMiraj

KISAH NYATA DARI TANAH ARAB

AZDINAWAWI Jumat, 10 Maret 2017 0

Kisah Nyata Dari Tanah Arab
Diambil dari status FB Ustādz Abu Ya'la Abu Ya'la Hizbul Majid hafidzahullāh
KOTA RIYADH TERNYATA MENYIMPAN BANYAK KISAH DAN RAHASIA YANG HANYA DIPERLIHATKAN PADA TELINGA YANG MAU MENDENGAR DAN HATI YANG MAU MERASA. TENTU SAJA HIDAYAH ADALAH KEHENDAK NYA DAN HANYA AKAN DIBERIKAN KEPADA MEREKA YANG MENCARINYA.
-------------------------
Ada sebuah energi yang luar biasa ketika beberapa hari yang lalu kudengar cerita dari beberapa sahabatku. Mereka berasal dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka Mesir, Afrika dan Saudi Arabia . Salah satunya adalah teman dari Sudan.
Aku mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu muslim kulit hitam yang juga bekerja di hotel ini. Beberapa bulan belakangan aku tak lagi melihatnya. Biasanya ia bekerja bersama pekerja lain menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh .
Hari itu Ammar tidak terlihat, karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal .
“Oh kamu tidak tahu?” jawabnya balik bertanya dengan bahasa Inggris khas India.
“Iya, beberapa minggu ini dia tak terlihat di mushola.”
Selepas itu tanpa diduga Iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar.
Ternyata Ammar datang ke kota Riyadh lima tahun lalu. Ia datang ke negeri ini dengan tangan kosong, dan nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di kota ini. Saudi Arabia memang memberikan free visa untuk negara negara Arab lainnya termasuk Sudan, maka Ammar bisa bebas mencari kerja disini asal punya pasport dan tiket.
Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul. Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal bersa,a teman temannya. Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan.
Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat, bulan ketiga hingga tahun tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah pindah di kota ini.
Bekerja dibawah tekanan panas matahari dan suasana kota yang garang, tapi amar tetap bertahan dalam kesabaran.
Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, dihutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah buah, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.
Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia, hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 Jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Di hampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Disini hanya terlihat kurma kurma yang berbuah satu kali dalam setahun..
Amar seperti terjerat di belantara kota ini. Pulang ke Sudan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya disana, itu tekadnya. Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya disini.
Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.
Tapi Ammar pun manusia.
Di tahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah pindah kerja dan numpang di teman temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah. Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan, tekadnya telah bulat untuk kembali berkumpul dengan keluarganya di Sudan.
Saat itu ia tidak memiliki uang meski sebatas untuk tiket pulang. Ia terpaksa menceritakan keinginannya untuk pulang kepada teman2 terdekatnya. Dan salah satu teman baik Ammar memberinya sejumlah uang untuk membeli tiket ke Sudan.
Hari itu juga Ammar berpamitan pada teman2nya, ia pergi ke sebuah agen perjalanan di Olaya- Riyadh, untuk membeli tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh-Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, negara tetangganya. Saat itu tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.
Akhirnya ia membeli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Tiket sudah ditangan, dan jadwal terbang masih minggu depan. Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya.Tadi pagi ia tidak sarapan , siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan keadaan itu.
Adzan dzuhur bergema, semua toko toko, supermarket, bank, dan kantor pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security kota berjaga jaga di luar kantor menunggu hingga waktu shalat berjamaah selesai. Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh. Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu, membasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air. Lalu ia masuk ke dalam mesjid, shalat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah.
Hanya disaat shalat itulah dia merasakan kesejukan, Ia merasakan terlepas dari beban dunia yang menghimpitnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan ditiap menit yang ia lalui.
Shalat telah selesai.
Ammar masih bingung kemana harus melangkah, sedangkan penerbangan masih seminggu lagi. 
Dilihatnya beberapa mushaf Al Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar mesjid yang kokoh itu. Ia mengambil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca al Qur’an hingga adzan ashar tiba menyapanya, selepas maghrib ia masih di sana. Akhirnya Ammar memutuskan untuk tinggal disana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba.
Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya, seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota. Ia selalu mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk shalat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing. Adzannya memang khas, hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk shalat subuh berjamaah disana. Adzan yang juga ia kumandangkan disetiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh.
Di tiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23am, artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya. Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis, Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota.
Ammar sudah duduk diruang tunggu bandara, tampaknya penerbangan sediikit tertunda. Ammar melamun dan kecemasan mulai menghantui dirinya. Ia harus pulang tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ia terus bekerja keras. 
Namun ia memahami, inilah kehidupan dan dunia hanyalah persinggahan sementara. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam semesta dengan mengeluh. Ia tetap berjalan walau tertatih memenuhi kewajiban sebagai Hamba Allah, dan sebagai imam dalam keluarganya.
Tiba tiba dari speaker bandara terdengar suara memanggil namanya. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba2 datang sekelompok orang berbadan tegap menghampirinya. Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata “Prince memanggilmu”. Ammar semakin bingung ada apa Prince memanggilnya?
Kerajaan Saudi memiliki banyak Prince dan Princess (Putra dan Putri Kerajaan) , mereka tersebar hingga ratusan diseluruh jazirah Arab ini dan tinggal di istana masing masing.
Setiap kali Ammar adzan Prince selalu bangun dan merasa terpanggil untuk sholat. Hingga suatu hari suara Ammar beradzan tak terdengar lagi . Prince merasa kehilangan dan saat mengetahui bahwa sang muadzin pulang kenegerinya. dia langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar .
Ammar sudah tiba di istana dan Prince menyambutnya dengan ramah sambil menanyakan mengapa Ammar ingin kembali ke negerinya. Lalu ia mulai bercerita bahwa sudah lima tahun bekerja di kota Riyadh tapi tak pernah mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya di Sudan.
Prince mengangguk nganguk dan bertanya:
“Berapakah gajimu dalam satu bulan?”
Amar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji berbulan bulan. Prince memakluminya, lalu beliau bertanya lagi:
“Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu terima ?”
Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun ini.
“Alhamdulilah, SR 1.400 “, jawab Ammar.
Prince langsung memerintahkan bendahara untuk menghitung 1.400 Real dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184. 800.000). Lalu Prince menyerahkan uang tersebut kepada Ammar.
Tubuh Amar gemetar melihat keajaiban dihadapannya, belum selesai bibir mengucapkan Al Hamdalah, Prince menghampiri dan memeluknya seraya berkata:
“Aku tahu cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan. Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini, lalu kembalilah setelah 3 bulan. Saya siapkan tiket untuk kamu dan keluargamu kembali ke kota Riyadh. Jadilah Bilal di masjidku dan hiduplah bersama kami di Palace ini.“
Ammar tak dapat menahan air matanya, ia bukan terharu karena menerima sejumlah uang walau uang itu sangat besar artinya bagi keluarganya yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikan hambanya, kesabaran selama lima tahun berakhir dengan indah.Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan Ammar.
Semua berubah dalam sekejap, lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. tapi nothing imposible for Allah, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.
Ini kisah nyata yang tokohnya masih berada di kota Riyadh, saat ini Ammar hidup cukup di sebuah rumah di dalam istana milik Prince. Ammar dianugerahi Allah hidup yang baik didunia, menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat kota Riyadh.
Subhanallah….seperti itulah buah dari kesabaran.
“Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya.
Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran, karena Sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhaan Nya”. (NAI)
وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
*”Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.”* (Al Fushilat 35)
Allahu akbar! Maha Benar Allah dengan segala Firman Nya.
Kisah nyata yang memberi pelajaran pada kita semua. Insya Allah yg terbaik akan diberikan Allah pada mereka yang berdo'a dengan ikhlas dan terus berusaha.
Semoga bermanfaat ...

Jangan Risau Dicela Orang

AZDINAWAWI Selasa, 07 Maret 2017 0

Jangan Risau Dicela Orang
@saad_alkhathlan
Salah seorang salaf berkata: “Kalau sampai kepadamu perkataan dari saudaramu (berupa celaan –pent) yang menyakitimu, maka janganlah engkau risau. Seandainya perkataan saudaramu itu benar, maka itu adalah hukuman bagimu yang disegerakan (daripada mendapatkan hukuman di akhirat –pent). Seandainya perkataan saudaramu tidak benar, maka itu menjadi pahala kebaikan untukmu tanpa engkau harus berbuat baik".
Prof. Dr. Sa’ad Al Khathlan, dosen di King Saud University (KSU) Riyadh, Saudi Arabia.
Twit Ulama | twitulama.com | twitter, instagram & telegram: @twitulama