Header ads

RENUNGAN UNTUK UMAT NASRANI YANG BERKEYAKINAN ALLAH MEMILIKI ANAK

aboū almundziri Kamis, 29 Desember 2016 0

RENUNGAN UNTUK UMAT NASRANI YANG BERKEYAKINAN ALLAH MEMILIKI ANAK

Ustadz Sofyan Chalid bin Idham Ruray hafidzahullaah
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
لَا أَحَدَ أَصْبَرُ عَلَى أَذًى يَسْمَعُهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِنَّهُ يُشْرَكُ بِهِ، وَيُجْعَلُ لَهُ الْوَلَدُ، ثُمَّ هُوَ يُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ
“Tidak ada satu pun yang lebih sabar dari Allah ‘azza wa jalla atas ucapan jelek yang ia dengarkan, sungguh Dia dipersekutukan dan dianggap memiliki anak, kemudian Dia senantiasa memberi nikmat dan rezeki kepada mereka.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan ini lafaz Muslim, dari Abu Musa Al-‘Asy’ari radhiyallahu’anhu]
Beberapa_Pelajaran:
1) Sangat besar murka Allah jalla wa ‘ala atas orang-orang yang menyekutukan-Nya dan mengatakan Dia memiliki anak, karena mereka telah merendahkan-Nya padahal Dia senantiasa menganugerahkan nikmat dan rezeki kepada mereka.
2) Menyekutukan Allah adalah perendahan terhadap-Nya karena hakikat kesyirikan adalah menyamakan Allah yang Maha Besar lagi Maha Mulia dengan mahkluk yang lemah lagi hina, serta penentangan terhadap-Nya yang telah memerintahkan untuk mentauhidkan-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
3) Mengatakan Allah memiliki anak juga perendahan terhadap-Nya karena itu berarti menyamakan Allah dengan makhluk yang butuh kepada istri dan anak, maka tidaklah patut bagi umat Islam untuk mengucapkan Selamat Natal apalagi turut serta merayakan dan membantu perayaan kekafiran dan perendahan terhadap Allah ta’ala tersebut.
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ، فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لاَ أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ، وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ، فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ، فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا
 “Allah ta’ala berfirman: Anak Adam mendustakan Aku padahal itu tidak patut baginya, ia juga mencaciku padahal itu tidak patut baginya. Adapun pendustaannya kepada-Ku adalah ia menyangka bahwa Aku tidak mampu menghidupkannya kembali seperti sebelumnya, sedangkan caciannya kepada-Ku adalah ia berkata bahwa Aku memiliki anak, Maha Suci Aku dari memiliki istri dan anak.” [HR. Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallaahu’anhuma]
4) Renungan bagi umat Nasrani untuk bertaubat kepada Allah ta’ala dengan masuk Islam dan memurnikan ibadah hanya kepada Allah ta’ala semata serta tidak mengatakan Allah memiliki anak, karena Allah ta’ala Dia-lah satu-satunya sesembahan yang benar, Dia tidak seperti makhluk yang beranak dan diperanakan, bahkan Nabi Isa ‘alaihissalaam yang kalian sebut Yesus pun telah memerintahkan kalian untuk beribadah kepada Allah semata.
Perhatikanlah ayat berikut ini,
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam", padahal Al-Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu" Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” [Al-Maidah: 72]
5) Secara akal sehat, seorang manusia seperti Nabi ‘Isa ‘alaihissalaam yang kalian sebut Yesus tidaklah patut disembah, karena beliau hanya manusia biasa seperti kita juga yang lahir dari rahim seorang ibu dan kelak akan wafat, bahkan kalian menyadari ia adalah manusia yang dilahirkan sehingga kalian merayakan hari kelahirannya walau ia sendiri tidak pernah memerintahkan kalian untuk merayakannya. Andai beliau pantas disembah karena lahir tanpa ayah maka sungguh Nabi Adam ‘alaihissalaam yang lebih patut disembah karena beliau lahir tanpa ayah dan ibu sekaligus.
Allah ta’ala berfirman,
إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
 “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia.” [Ali Imron: 59]
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
══════ ❁✿❁ ══════

AWAS..!! MURKA ALLAH TURUN BAGI YANG MERAYAKAN TAHUN BARU

aboū almundziri Rabu, 28 Desember 2016 0

AWAS..!! MURKA ALLAH TURUN BAGI YANG MERAYAKAN TAHUN BARU
Source @indonesiabertauhidofficial
Amirul mukminin Umar radhiallahu anhu mengatakan: “Jauhilah musuh-musuh Allah pada momentum hari raya mereka” (HR. Baihaqi)
Beliau juga mengatakan, “Janganlah kalian mengunjungi kaum musyrikin di gereja-gereja (rumah-rumah ibadah) mereka pada perayaan hari besar mereka, karena sesungguhnya kemurkaan Allah akan turun atas mereka”
Sementara Abdullah bin Amr –radhiallahu ‘anhuma- mengatakan: “Barangsiapa yang tinggal dinegeri orang ajam (non muslim) lalu turut merayakan hari raya Nairuz dan Mahrajan bersama mereka dan ikut serta turut menyerupai mereka, kemudian dia mati dalam keadaan demikian, maka pada hari kiamat kelak dia akan dibangkitakan bersama mereka” (Sunan Al Kubro jilid: 9/243)
Hari raya Nairuz merupakan perayaan tahun baru Majusi, sama seperti perayaan Tahun baru Masehi
Atsar-atsar diatas sangat jelas menunjukkan ketidakbolehan merayakan pesta tahun baru bagi kaum muslimin.
Sahabat fillah….
Mari merenung sejenak…
Sungguh Allah telah memuliakan kita dengan Islam.
Kitapun memiliki momentum perayaan sendiri yang lebih baik dari hari raya mereka. Tidak pantas bagi umat pilihan turut serta dalam perayaan hari besar non muslim. Karena hal tersebut merupakan bentuk tasyabbuh (penyerupaan) yang dilarang. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang meniru-niru suatu kaum, maka dia adalah bagian dari kaum itu”. Maukah anda menjadi bagian orang-orang yang di murkai Allah.? Padahal Allah ‘azza wa jallah berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran : 85)
Sahabat… Tahun baru bukan sekedar tiupan terompet semata, tapi soal aqidah yang tergadaikan
| Ustadz Aan Chandra Thalib hafidzahullaah.
Via IG @indonesiabertauhidofficial


SukaTunjukkan lebih banyak tanggapan
Komentari

IBU... MAAF BILA TAK ADA UCAPAN SELAMAT UNTUKMU

aboū almundziri Kamis, 22 Desember 2016 0

IBU... MAAF BILA TAK ADA UCAPAN SELAMAT UNTUKMU

Ibu…. 
Maaf bila hari ini tak ada ucapan selamat hari ibu untukmu..
Bagiku, tak ada tanggal khusus untuk mengungkapkan 
rasa sayang dan cinta itu padamu.
Setiap kali sinar fajar menyemburat 
bersama kabut tipis yang menyelimuti pagi, 
engkau selalu terucap dalam baris do'aku.
Seperti kasih sayangmu yang tak pernah pudar oleh waktu, 
seperti itulah aku mengingatmu di kota Rasulullah ini. 
Walau ku tau baktiku takkan pernah bisa membayar 
setitik peluh yang menetes saat engkau membesarkanku, 
bahkan tidak untuk sepenggal malam 
yang membuatmu terjaga karena tangisku dulu.
Maaf.. Bila tak ada ucapan selamat untukmu…
Karena aku tak ingin menyelisihi Rasulullah 
dengan mengkhususkan hari untuk merayakan kasihmu.
Dan karena bakti, cinta serta kasih sayang 
tak perlu waktu khusus untuk mengungkapkannya.
Maaf… Bila hari ini tak ada kado untukmu…. 
Namun aku berjanji untuk menjadi kado terindah bagimu, 
agar aku mendoakanmu disaat engkau ada ataupun tiada..
Semoga Allah selalu menjagamu ibu
Aku tau kalau engkau takkan pernah mebaca goresan pena ini, 
namun biarkan aku menulisnya untukmu 
dan untuk mereka yang ingin tetap mencintai kedua ibu bapaknya disisa waktu yang ada.
___________
Senja di tepi laut merah,
Jum'at 17 Shafar 1435 H.
ACT El Gharantaly

Mengapa Aku Tak Mengucapkan Selamat Natal

aboū almundziri 0

ANDA MUSLIM?
Bagaimana hukum mengucapkan selamat natal pada rekan atau teman yang beragama Nashrani? Apakah boleh seorang muslim mengucapkan selamat natal?
# Muslim: Aku Tidak Mau Mengucapkan Selamat Natal, Itu Prinsipku
Ada diskusi menarik sebagai ilustrasi bahwa mengucapkan selamat natal tidaklah pantas bagi seorang muslim walau hanya sekedar kata-kata di lisan.
(Muslimah = Muslim, Natali = Nashrani)
Natali : Mengapa engkau tidak mengucapkan selamat natal padaku?
Muslimah : Ooh maaf, untuk yang satu ini aku tidak bisa. Agama kami mengajarkan berbuat baik terhadap sesama termasuk pada non muslim. Namun jika ada sangkut paut dengan urusan agama, maka prinsip kami, “Lakum diinukum wa liyadiin“, bagi kalian agama kalian, bagi kami agama kami. Monggo kalian berhari raya, kami tidak mau turut campur. Demikian toleransi antar beragama dalam agama kami.
Natali : Kenapa tidak mau ucapkan selamat? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Teman muslimku yang lain mengucapkannya padaku.
Muslimah : Mungkin mereka belum tahu kalau itu tidak boleh. Natali, coba seandainya saya suruh kamu mengucapkan “dua kalimat syahadat”, asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, engkau mau?
Natali : Oh tidak, saya tidak bisa mengucapkannya. Itu akan mengganggu kepercayaan saya.
Muslimah : Kenapa gak mau? Bukankah itu hanya sekedar kata-kata? Ayo, ucapkanlah. Sekali saja.
Natali : Baik, sekarang, saya mengerti.
Inilah logika yang sederhana namun cerdas cukup menggambarkan kepada kita bagaimana seharusnya hubungan antara kedua umat yang berbeda keyakinan. Sementara hari ini banyak orang yang dianggap “tokoh” masyarakat level nasional/lokal dari kalangan muslim tampil sok humanis, pluralis, wisdom, menjadi pahlawan, pemimpin hebat kemudian mengucapkan “selamat natal” kepada umat Nashrani tanpa disadari hal tersebut telah merusak akidah dirinya dan umat Islam. Tentu ini menabrak tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Sosok muslim yang kehilangan jati diri, “muslim KTP” yang eksis terlepas dari pakem dan manhaj hidup yang digariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “selamat” artinya terhindar dari bencana, aman sentosa; sejahtera tidak kurang suatu apa; sehat; tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb; beruntung; tercapai maksudnya; tidak gagal. Dengan begitu ucapan selamat artinya adalah doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera, tidak kurang suatu apa pun, beruntung, tercapai maksudnya, dsb.
Adapun natal adalah sebuah perayaan kelahiran Yesus Kristus (Nabi Isa Al Masih ‘alaihis salam) yang dalam pandangan umat Nashrani saat ini ia adalah anak Tuhan dan Tuhan anak serta meyakini ajaran Trinitas. Lalu bagaimana bisa seorang muslim yang bertolak belakang dan jelas berbeda pemahamannya mengenai Nabi Isa mendoakan kaum Kristen keselamatan atas apa yang mereka pahami tadi? Padahal dengan sangat jelas Allah menyatakan mereka sebagai orang kafir,
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ ُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ (72) لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (73) أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (74) مَا الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ وَأُمُّهُ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأْكُلَانِ الطَّعَامَ انْظُرْ كَيْفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ الْآَيَاتِ ثُمَّ انْظُرْ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (75)
“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Al Masih putera Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu). ” (QS. Al Maidah: 72-75).
Jadi, sekiranya ada umat muslim yang berkata, “Selamat Hari Natal” berarti dia menganggap, bahwa Yesus itu memang pernah lahir pada tanggal 25 Desember, sebagai anak Tuhan. Dan jelaslah hal ini haram. Karena telah merusak akidah Islamnya.
SHARE YUK!

Source : Akun FB Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah

Rayakan Dengan Mengamalkan Sunnah-Sunnah

aboū almundziri Senin, 12 Desember 2016 0

Rasulullah..
Kelahirannya berarti kelahiran sunnah dan risalahnya.
Sehingga kapan saja engkau mengamalkan sunnahnya, saat itulah engkau merayakan kelahirannya.
Namun bila engkau meninggalkannya apalagi merendahkannya, maka cintamu takkan berarti, meski kau larut dalam bait pujian di malam kelahirannya.

Cintailah ia dengan ittiba…

Ingatlah dia bersama jenggot yang engkau biarkan tumbuh..
Bersama pakaian yang tak kau biarkan menjulur melewati mata kaki..
Dalam shalawat yang terucap setiap kali namanya disebut.
Dalam senyum tulus untuk saudaramu saat bertemu.
Bersama ayunan langkah menuju masjid untuk sholat berjamaah.
Disaat menaiki kendaraan dengan do’a yang pernah dia ajarkan dulu..

Cintailah ia seperti yang dia inginkan..

Dengan sunnah yang diajarkannya bukan dengan bid’ah yang dicelanya.
Saya pernah mendengar sebuah ungkapan indah tentang konsekuensi cinta.

لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقاً لَأَطَعْتَـهُ إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ أَحَبَّ مُطِيْـعُ

"Bila cintamu tulus murni (kepadanya), niscaya engkau akan mentaatinya.
Karena sesungguhnya orang yang mencintai akan patuh terhadap orang yang dicintainya.”
Sekali lagi…

Cintailah dia dengan ittiba’..

Sebagaimana firman Allah: "Katakanlah (hai Muhāmmad), jika kalian (benar-benar) mencintai Allâh maka ikutilah aku (nabi muhammad sholAllahu ‘alaihi wa sallam ), niscaya Allah akan mencintai kalian dan Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian, dan Allah Māhapengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-‘Imrân: 31)

Allahumma sholli ala Muhammad wa ala aali Muhammad.
________
Madinah 08-03-1437 H
ACT El Gharantaly
Ustādz Aan Chandra Thalib hafidzahullāh

#Maulid #MaulidBid'ah #Sunnah #Bid'ah

Menerima Orderan Natal

aboū almundziri 0

Apa hukum menerima orderan atau pesanan natal? 

Seringkali didapat pertanyaan hangat seperti ini menjelang natal terutama dari para pelaku bisnis karena banyak orderan menjelang natal 25 Desember.

Tentu saja kita selaku muslim tidak mendukung ritual keagamaan non-muslim. Menerima orderan berkaitan dengan acara natal berarti mendukung. Mendukung seperti ini tidaklah dibolehkan dalam agama kita.

Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. ” (QS. Al-Maidah: 2). Ayat ini menunjukkan bahwa terlarang saling tolong menolong dalam maksiat.

Kami cuma ingatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut bagi yang begitu khawatir rugi karena meninggalkan order yang tidak boleh diterima seorang muslim.

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik bagimu.” (HR. Ahmad 5/363. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih)

Padahal rezeki kita tidak pernah tertukar. Kenapa khawatir?


Moga siapa saja yang meninggalkan sesuatu karena Allah, moga usaha dan bisnisnya lebih berkah.

Sumber : https://rumaysho.com/12562-menerima-orderan-natal.html


#Natal #OrderanNatal #HukumOrderanNatal