Header ads

Fatwa Ulama Seputar Ihdaad [masa berkabung bagi wanita]

AZDINAWAWI Senin, 31 Agustus 2015 0

Hukum Ihdaad dan Iddah
Pertanyaan: Apakah hukum menjalani masa berkabung (al-ihdaad) dan masa iddah?
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Adapun al-ihdaad, ia adalah meninggalkan semua hal yang dapat menggoda lelakiuntuk menikahi seorang wanita. Dengan begitu, seorang wanita (yang ditinggal mati suaminya -pent.) wajib meninggalkan segala bentuk tata rias, dan segala macam wewangian juga minyak rambut yang berbau harum. Juga meninggalkan berbagai jenis perhiasan termasuk cincin dan yang semisalnya, dan tidak mengenakan pakaian berwarna-warni untuk mempercantik diri.
Tidak berarti ia harus mengenakan pakaian berwarna hitam. Ia bisa mengenakan pakaian sederhana apa saja, yang biasanya dipakai bukan untuk mempercantik diri. Demikian pula, ia tidak berias dengan make-up, bedak, celak dan pewarna yang digunakan sebagai kosmetik.
Hal demikian berdasarkan hadits-hadits yang shahih, seperti hadits Ummu ‘Athiah, ia berkata: “Dahulu kami dilarang untuk berkabung selama lebih dari tiga hari atas kematian seseorang, kecuali atas kematian suami, yaitu selama 4 bulan 10 hari. Kami tidak memakai celak, wangi-wangian, dan tidak mengenakan pakaian yang dicelup. Dan kami diberi keringanan untuk menggunakan sedikit wewangian dan dupa ketika telah suci dari haid dan melakukan mandi.”
Adapun al-iddah, ia adalah menjalani masa tunggu selama empat bulan sepuluh hari kalau sang istri tidak sedang hamil. Tapi jika ia dalam keadaan hamil maka masa iddahnya berakhir dengan kelahiran anaknya.
Istri wajib menjalani masa iddahnya di rumah yang ia tempati ketika suaminya meninggal. Tidak diperbolehkan baginya keluar dari kediamannya kecuali memang ada keperluan mendesak, seperti kalau ia khawatir jiwa dan hartanya akan terancam. Atau seperti jika si pemilik rumah mengusirnya tanpa ada pilihan lain baginya, atau yang semisal itu.
Bila ia keluar dari kediamannya dengan alasan yang tak dapat diterima menurut syariat, maka ia wajib kembali ke rumahnya untuk menyempurnakan iddahnya. Dan wanita yang sedang menjalani masa iddah tidak boleh keluar dari rumahnya pada malam hari. Ia juga hanya boleh bermalam di rumahnya.
Adapun pada siang hari, ia boleh keluar rumah untuk menunaikan keperluannya sendiri. Tidak boleh baginya keluar rumah untuk memenuhi keperluan orang lain, mengunjungi orang sakit, mengunjungi sanak famili ataupun teman, dan semisalnya. Jika ia memiliki pekerjaan di siang hari, seperti sebagai perawat dan semisalnya, maka tidak ada penghalang baginya untuk keluar di siang hari saat bertemu dengan wanita-wanita lain. Kemudian ia merawat pasien perempuan, anak-anak atau semisalnya. Ia menjauhi ikhtilath dengan kaum pria, berbincang-bincang dengan mereka atau khalwat dengan salah seorang dari mereka. Adapun bepergian jauh, maka ini tidak boleh ia lakukan kecuali setelah masa iddahnya selesai. Wallahul muwaffiq.
(Dinukil dari fatwa beliau 1/28 pada 10/1386 H, Fatawa dan Rosail milik Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh (11/161, 162).)
* * *
Keluarnya Wanita yang Sedang Ihdaad
Pertanyaan: Apakah wanita yang ditinggal mati suaminya, ketika pindah dari rumah suami ke rumah saudara laki-lakinya, kemudian mendapatkan tekanan dan perlakuan buruk di sana, apakah boleh ia pindah ke rumah anak-anak suaminya, atau ke rumah pamannya untuk menetap di sana?
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Alhamdulillah. Ia tidak boleh pindah dari rumah suaminya sampai masa iddahnya selesai, kecuali dengan udzur yang syar’i. Kalau ia pindah tanpa udzur syar’i maka ia harus kembali ke rumah yang telah ia tinggalkan sebelumnya. Namun kalau kepindahannya itu dengan udzur syar’i, maka ia boleh pindah dari rumah yang sekarang ia tempati, ke rumah anak suaminya ataupun yang lain. Dan hukum-hukum ihdaad lainnya tetap harus ia lakukan.
(Dinukil dari fatwa beliau 304 pada 21/3/1377 H, Fatawa dan Rosail milik Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh (11/162, 163).)
* * *
Keluar Rumah karena Mendesak
Pertanyaan: Wanita yang ditinggal mati oleh suaminya dan masih dalam masa berkabung apakah ia boleh meninggalkan tempat di mana ia berada sekarang untuk suatu kebutuhan mendesak, walaupun hanya sekali saja?
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al-Fauzan hafizhahullah menjawab:
Wanita yang ditinggal mati suaminya wajib menjalani masa tunggu atas kematian tersebut, di rumah tempat ia berada ketika suaminya itu meninggal dunia. Ia tidak boleh pindah dari rumah itu kecuali untuk keperluan mendesak, seperti kalau ia khawatir akan keselamatan jiwanya, atau ia pindah dari rumah itu secara dipaksa, atau bila rumah yang ditempati adalah rumah kontrakan yang masa kontraknya telah habis, atau alasan-alasan mendesak lainnya.
Dan ia tidak boleh keluar dari rumah itu untuk mengunjungi tetangga atau bekerja, kecuali bila keadaan mendesaknya untuk itu, maka ia boleh keluar rumah pada waktu siang, dan segera kembali ke rumah pada waktu malam. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah bersabda kepada seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya:
“Tetaplah engkau tinggal di rumahmu yang di sana engkau menerima kabar kematian suamimu, hingga selesai kewajiban iddahmu.” (Diriwayatkan oleh 5 imam (Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasaa-i), dan hadits ini dishahihkan oleh At-Tirmidzi)
(Dinukil dari Fatawa Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/174)
* * *
Wanita yang Sedang Berkabung Pergi Haji
Pertanyaan: Seorang lelaki bertanya perihal ibunya yang sedang menjalani ihdaad, apakah ia boleh pergi haji? Ibunya ini berkata bahwa masa iddahnya baru akan selesai pada hari kedelapan bulan Dzuihijjah.
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Alhamdulillah. Wanita yang masih dalam masa iddah tidak boleh pergi untuk menunaikan ibadah haji, sebagaimana madzhab imam yang empat.
Adapun alasan yang diajukan, bahwa ia baru dibolehkan pergi haji pada hari tersebut, maka itu bukanlah alasan syar’i yang dapat membolehkan wanita yang sedang dalam masa ihdaad untuk bepergian.
(Dinukil dari fatwa beliau 161 pada 12/11/1374 H, Fatawa dan Rosail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh, 11/163)
* * *
Keluar Rumah untuk Mengajar atau Merawat Pasien
Pertanyaan: Apa hukum melakukan pekerjaan mengajar, merawat pasien, dan semisalnya bagi wanita yang sedang menjalani masa iddah?
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Kami sampaikan kepada anda bahwa tidak mengapa seorang wanita yang sedang menjalani masa iddah atas kematian suaminya keluar rumah pada siang hari untuk memenuhi keperluan-keperluannya yang mendesak, yang tidak dapat digantikan oleh orang lain. Misalnya, keluar rumah untuk melakukan pekerjaan yang menjadi kewajibannya seperti mengajar, merawat pasien dan pekerjaan-pekerjaan semisalnya yang khusus dilakukan oleh wanita dan tidak terkait dengan kaum pria. Hal ini seraya ia meninggalkan wangi-wangian dan pakaian untuk mempercantik diri dan semisalnya.
(Dinukil dari fatwa beliau 1/246 pada 21/1/1386 H, Fatawa dan Rosail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh, 11/164)
* * *
Keluar Rumah untuk Mengikuti Ujian Akhir Sekolah
Pertanyaan: Dari seorang laki-laki, tentang adik perempuannya yang ditinggal mati suaminya. Dan ia hendak melaksanakan ujian kelulusan untuk mendapatkan ijazah SMA, sedangkan dia dalam masa iddah. Ia meminta fatwa tentang tindakannya keluar rumah ke tempat ujian untuk melaksanakan ujian tersebut. Dan bahwa saudara laki-lakinya itulah yang akan mengantarnya sendiri dengan mobil, kemudian mengantarnya pulang ke rumah. Ruang ujiannya pun hanya dimasuki oleh perempuan. Dan ia keluar rumah dengan pakaian syar’i tanpa merias diri, serta hanya selama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan ujian.
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Alhamdulillah. Jika kondisinya memang seperti apa yang telah dijabarkan, maka yang zahir adalah bahwa ia boleh keluar dikarenakan hal-hal yang disebutkan tadi. Dan ia wajib untuk tetap menjalani hukum-hukum ihdad, mengikuti aturan dalam hal berpakaian, dan tidak berikhtilath dengan kaum pria, karena para ulama membolehkan wanita yang sedang menjalani ihdad untuk keluar rumah guna memenuhi kebutuhannya di siang hari kalau memamg tidak mungkin dilakukan oleh orang lain. Dan mengikuti ujian ini termasuk keperluannya yang paling penting. Wallahu a’lam.
(Dinukil dari fatwa beliau 1/804 pada 2/3/1389 H, Fatawa dan Rosail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh, 11/164, 165)
* * *
Menjalani Masa Iddah dan Ihdaad Lebih Lama
Pertanyaan: Tentang seorang wanita yang suaminya meninggal dunia. Wanita itu pun menjalani masa iddah dan ihdad selama empat bulan sepuluh hari. Namun tanpa sengaja dan karena lupa, ia menjalaninya dengan kelebihan dua hari. Apakah tambahan dua hari ini merusak masa iddah dan ihdad yang telah ia jalani atau tidak?
Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh rahimahullahu menjawab:
Kelebihan hari untuk waktu iddah dan ihdad tidaklah merusaknya. Ketika waktu itu telah menyelesaikan masa iddahnya, maka ia telah keluar dari iddah. Tambahan hari untuk iddah dan ihdad itu tidak boleh hanya kalau ia dilakukan dengan sengaja. Adapun orang yang mengerjakan hal itu karena lupa maka tidak mengapa baginya, dengan dalil firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala:
“(Mereka berdoa): Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (Al-Baqarah: 286)
Wallahu a’lam.
(Dinukil dari fatwa beliau 1/2128 pada 10/8/1384 H, Fatawa dan Rosail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Syaikh, 11/165, 166)
* * *
Pernikahan yang Fasid (tidak sah) dan Ihdad si Wanita
Pertanyaan: Apakah konsekuensi menjalani ihdad tetap berlaku bagi pernikahan yang fasid (tidak sah)?
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahumenjawab:
Ya, tetap berlaku. Karena pada nikah yang fasid itu diberlukan ketentuan-ketentuan yang sama dengan ketentuan-ketentuan pada pernikahan sah dalam sekian banyak hukumnya. Terkhusus hukum-hukum yang dituntut kehati-hatian tatkala menjalaninya. Dan melaksanakan konsekuensi ihdad ini termasuk realisasi dari sikap kehati-hatian tersebut.
(Al-Fatawa As-Sa’diah, hal. 540)

Sumber: Majalah Akhwat Shalihah vol. 13/1432 H/2011, hal. 91-95
Sumber: https://fadhlihsan.wordpress.com/2011/11/19/fatwa-ulama-seputar-ihdaad-masa-berkabung-bagi-wanita/

Jenazah Koruptor Tidak Dishalati?

AZDINAWAWI Jumat, 07 Agustus 2015 0

Assalamu’alaikum.

baru-baru ini dalam pemberitaan muktamar Muhammadiyah, salah seorang perwakilan peserta dari PP Muhammadiyah menyarankan agar dikeluarkannya fatwa pelarangan shalat jenazah bagi koruptor. pelarangan shalat ini disetujui oleh Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Cholil Nafis dan pernah diutarakan oleh Marzukie Alie pada tahun 2010 lalu. namun, usulan ini mendapat penolakan dari Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syafii Maarif dengan alasan dishalatkannya seseorang adalah hak setiap muslim ketika ia meninggal, dan merupakan kewajiban setiap muslim yang masih hidup untuk mensholatkannya.

Pertanyaannya, adakah dalil tertentu yang mengatur ketentuan tersebut? mohon kiranya diberikan pencerahan.

Wassalamu’alaikum

Dirman

Jawab:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Koruptor yang belum bertaubat dan tidak mengembalikan hasil korupsinya sampai meninggal dunia, berarti mati dalam keadaan membawa dosa besar. Meskipun dosa besar, namun tindak korupsi  tidak menyebabkan pelakunya jadi kafir. Artinya, jenazahnya tetap disikapi sebagai jenazah muslim. Dia wajib dimandikan, dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan di pemakaman kaum muslimin.

Selama dia muslim, dia mendapat hak untuk ditangai sebagai muslim.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan,

حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ

“Kewajiban seorang muslim kepada muslim yang lain, ada enam.”

Para sahabat bertanya, ‘Apa saja itu, Ya Rasulullah?’

Beliau sebutkan dengan rinci, diantaranya,

وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ

Apabila sakit, mereka menjenguknya dan apabila meninggal, harus diantarkan jenazahnya. (HR. Ahmad 9080 dan Muslim 5778).

Tokoh Agama tidak Menshalati

Meskipun demikian, bukan berarti setiap orang dianjurkan menshalati jenazahnya. Karena koruptor yang mati dan belum bertaubat, dia berhak mendapatkan hukuman sosial. Hukuman dalam bentuk jenazahnya tidak dishalati oleh tokoh agama dan setiap orang yang diharapkan doanya.

Bukan karena mereka kafir, namun sebagai peringatan bagi masyarakat lainnya, bahwa orang semacam ini tidak dishalati oleh mereka yang diharapkan doanya.

Imam an-Nawawi menukil riwayat dari Imam Malik,

عن مالك وغيره أن الإمام يجتنب الصلاة على مقتول في حد وأن أهل الفضل لا يصلون على الفساق زجرا لهم

Dari Imam Malik dan yang lainnya, bahwa pemuka masyarakat selayaknya menghindari shalat jenazah yang mati karena hukuman had. Dan tokoh agama, tidak boleh menshalati orang fasik, sebagai peringatan bagi mereka. (Syarh Shahih Muslim, an-Nawawi, 7/47)

Hukuman sosial semacam ini, pernah diberikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada koruptor di masa beliau.

Sahabat Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Ada salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang meninggal pada peristiwa Khaibar. Merekapun berharap agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalati jenazahnya. Namun beliau tidak berkenan menshalatkannya. Beliau justru menyuruh kami,

صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ

“Shalati teman kalian.”

Wajah para sahabat spontan berubah karena sikap beliau.

Di tengah kesedihan yang menyelimuti mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan alasanya,

إِنَّ صَاحِبَكُمْ غَلَّ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Teman kalian ini melakukan korupsi saat jihad fi sabilillah.”

Kami pun memeriksa barang bawaannya, ternyata dia mengambil manik-manik milik orang Yahudi (hasil perang Khaibar), yang nilainya kurang dari dua dirham. (HR. an-Nasai 1959, Abu Daud 2710, Ibnu Majah 2848, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Ada beberapa pelajaran dari hadis ini,

Pertama, orang yang mati dalam kondisi suul khatimah, disarankan agar tokoh agama tidak turut menshalati jenazahnya. Sebagai hukuman sosial baginya, dan memberikan efek jera bagi masyarakat lainnya. Betapa sedih pihak keluarga, ketika jenazah sang ayah tidak dishalati tokoh agama dan orang shaleh yang diharapkan doanya.

Kedua, orang yang mati suul khotimah statusnya masih muslim. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menyuruh para sahabat untuk menshalati jenazah orang ini. Sekalipun beliau tidak mau menshalatkannya.

Ketiga, sekecil apapun korupsi, tetap korupsi. Manik-manik seharga dua dirham, nilai yang sangat murah. Apa yang bisa kita bayangkan, ketika dia korupsi raturan juta?

Keempat, pahala jihad, tidak memadamkan dosa korupsi. Orang itu, meninggal di medan jihad. Namun sebelum meninggal, dia korupsi. Korupsi di negara kita, apa ada yang punya pahala jihad?

Semua ancaman di atas, menunjukkan betapa buruknya tindak korupsi di mata agama dan masyarakat.

Semoga Allah melindungi diri kita dan masyarkat kita dari penyakit berbahaya ini.

Allahu a’lam

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

http://www.konsultasisyariah.com/jenazah-koruptor-tidak-dishalati/

Renungan munculnya khowârij dan jamâ’ah tahdzìr

AZDINAWAWI Rabu, 05 Agustus 2015 0

Renungan munculnya khowârij dan jamâ’ah tahdzìr


Oleh : al-Ustâdz Abû Qotâdah حفظه الله تعالى 

بسم الله الرحمن الرحيم
1. Kaum khowârij adalah sekelompok orang yg mengambil ayat² yg Allâh turunkan untuk orang kafir lalu mereka alamatkan kepada “ushôtul mu’minîn” (para pelaku maksiat) lalu mereka mengkafirkan kaum muslimin (dengan sebab kemaksiatan tersebut)…
2. Jamâ’ah tahdzîr adalah sekelompok org²  yang mengambil nash² tentang tabdî’ (vonis bid’ah) baik dari al-Qur’ân, hadìts, atau perkataan para ‘Ulama, kemudian mereka alamatkan kepada siapa saja yg mereka anggap salah atau menyelisihi mereka lalu menghukumi ahli sunnah sebagai mubtadi’ (Ahlil bid’ah). 

Mereka merasa sedang mengamalkan ‘adillah (dalil²) syar’îyah dan aqwâl (ucapan) Ulama. Seperti Ibnu Muljam yg menikam sahabat ‘Alî رضي الله عنه
sembari membacakan 2 ayat Al-Qur’an. Ia menyangka sedang mengamalkan ayat tersebut.
نعم الدليل بئس الاستدلال
(dia menggunakan) sebaik² dalil namun dg seburuk² cara penempatan dalil.
Dishare di grup Multaqō ad-Du’ât ilallâh dg sedikit perbaikan tulisan dan redaksi
@abinyasalma
Via status facebook Ust Yulian Purnama

Apakahkah Suami Istri Kembali Bersatu Di Surga Kelak?

AZDINAWAWI 0

Akankah seorang istri akan berkumpul kembali dengan suaminya di surga kelak? Akankah mereka tinggal bersama-sama lagi?
Jawab:
Alhamdulillah,
1. Benar. Seorang istri akan bersatu kembali dengan suaminya di surga kelak bahkan bersama-sama anak keturunannya baik laki-laki dan perempuan selama mereka beragama Isalam (mentauhidkan Allah -pen). Hal ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala,
والذين آمنوا واتبعتهم ذريتهم بإيمان ألحقنا بهم ذريتهم وما ألتناهم من عملهم من شيء
” Dan orang-orang beriman, berserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedkitpun pahala amal (kebajikan) mereka.” (QS. Ath Thur: 21).
Allah menceritakan diantara doa malaikat pemikul ‘Arsy,
ربنا وأدخلهم جنات عدن التي وعدتهم ومَن صلح مِن آبائهم وأزواجهم وذرياتهم إنك أنت العزيز الحكيم
“Ya Rabb kami masukanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang shalih diantara nenek moyang mereka, istri-istri dan anak keturunan mereka. Sungguh Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ghafir: 8)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,
“Allah Ta’ala akan mengumpulkan mereka berserta anak keturunannya agar menyejukkan pandangan mereka karena berkumpul pada satu kedudukan yang berdekatan. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, yang artinya,
“Dan orang-orang beriman, berserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan. Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga) dan kami tidak mengurangi sedikitpun pahala amal (kebajikan) mereka.”
Artinya, akan Kami samakan mereka pada satu kedudukan agar mereka (orang yg berkedudukan lebih tinggi-pen) merasa tenang. Bukan dengan mengurangi kedudukan mereka yang lebih tinggi, sehingga bisa setara dengan mereka yang rendah kedudukannya, namun dengan kami angkat derajat orang yang amalnya kurang, sehingga kami samakan dia dengan derajat orang yang banyak amalnya. Sebagai bentuk karunia dan kenikmatan yang kami berikan.
Said bin Jubair mengatakan, “Tatkala seorang mukmin memasuki surga maka ia akan menanyakan tentang bapaknya, anak-anaknya dan saudara-saudaranya dimanakah mereka? Maka dikatakan kepadanya bahwa mereka semua tidak sampai pada derajatmu di surga. Maka orang mukmin tersebut menjawab ‘Sesungguhnya pahala amal kebaikanku ini untukku dan untuk mereka.’ Maka mereka (keluarganya) dipertemukan pada satu kedudukan dengannya.” (Tafsir Ibn Katsir, 4/73).
2. Kita sedikitpun tidak akan sampai mengira, ketika ada orang yang Allah masukkan ke dalam surga, Allah hilangkan sifat kebencian dari hatinya, kemudian dia lebih memilih berpisah.
Dan kita tidaklah tahu tentang seseorang yang telah Allah takdirkan ia memasuki surga dan telah dicabut rasa dengki di hati mereka namun mereka memilih berpisah daripada bersatu kembali.
3. Apabila wanita tersebut belum pernah menikah tatkala di dunia maka Allah akan menikahkannya dengan laki-laki yang sangat dia cintai di surga. Orang yang mendapat kenikmatan di surga tidaklah terbatas laki-laki saja, namun untuk laki-laki dan perempuan. Dan diantara bentuk kenikmatan surga adalah menikah. Demikian nukilan dari Majmu’ Fatawa Ibni ‘Utsaimin (2/53). Dan di dalam surga tidak ada oranng yang melajang.
Wallahu A’lam.
Diterjemahkan: Tim Penerjemah muslimah.or.id
Muroja’ah: Ust. Ammi Nur Baits
Artikel muslimah.or.id