Header ads

Download Freeware Program Al-Qur'an AYAT Versi Windows, Linux dan Macs

Kajian Salaf Rabu, 29 Agustus 2012 8

Ayat adalah versi desktop dari Proyek Al-Qur’an Al-Karim dari King Sa’ud University, yang menawarkan semua fitur versi online tanpa perlu koneksi internet. Aplikasi ini memiliki beberapa fitur menarik diantaranya :

  1. Terjemah Al-Qur’an ke dalam lebih dari Duapuluh Bahasa : Inggris, Indonesia, Perancis, Jerman, dll.

  2. Tafsir Al-Qur’an dari Enam Kitab Tafsir : Tafsir As-Sa’di, Tafsir Ibn Katsir, Tafsir Al-Baghawi, Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al-Muyassar.

  3. Pembacaan oleh beberapa Qari’ ternama : Syaikh Al-Hudzaify, Syaikh Sa’ad Al-Ghamidi, Syaikh Abdulbashit, Syaikh Al-Husari, Syaikh Misyari Rasyid Al-’Afasy.

  4. Pengulangan bacaan untuk membantu dalam menghafal terutama bagi anak-anak.

  5. [Fitur Baru] I’rab Al-Qur’an.


Untuk dapat menggunakan program tanpa koneksi internet Anda harus pertama untuk men-download konten yang diperlukan (tilawah file audio, file gambar (scan halaman Alquran), terjemahan file) pada PC Anda, ada tiga metode untuk men-download isi:

  1. mendownload konten melalui panel download (di kiri layar) yang memungkinkan Anda untuk men-download bacaan file audio, file gambar dan file terjemahan.

  2. men-download file patch yang berisi konten yang diperlukan, patch ini tersedia di website program.

  3. download sesuai permintaan – program akan mencoba untuk mendownload konten yang hilang dan akan menyimpannya untuk penggunaan offline, misalnya jika Anda mencoba untuk mendengarkan Surat Al-Faatiha program akan mencoba untuk mendownload file audio diperlukan dan cahce itu.


Untuk bantuan lebih lanjut silahkan kunjungi website program.

Download Versi Windows :

Download Versi Linux :

Linux Version [22 MB Contains the program only, You will have to download content packs separately]

Download Versi Mac :

Mac version [Contains the program only, You will have to download content packs separately]

Download Package Untuk Tilawah dsb. di sini.

Terima kasih terkhusus untuk : King Fahd Complex for the Printing of the Holy Qur’an (source file gambar Al-Qur’an) , Tanzil.net (source Text Al-Qur’an dan Terjemahnya) , mosshaf.com (source file untuk Tafsir) and Verse by Verse Quran (source file audio).

Homepage : http://quran.ksu.edu.sa dan Indonesia info dari : Abu Umamah

Pembahasan Tentang Halal Bi Halal Menurut Syariat

Kajian Salaf Minggu, 19 Agustus 2012 1

Pengertian Halal Bihalal dan Sejarahnya

Secara bahasa, halal bihalal adalah kata majemuk dalam bahasa Arab dan berarti halal dengan halal atau sama-sama halal. Tapi kata majemuk ini tidak dikenal dalam kamus-kamus bahasa Arab maupun pemakaian masyarakat Arab sehari-hari. Masyarakat Arab di Makkah dan Madinah justru biasa mendengar para jamaah haji Indonesia –dengan keterbatasan kemampuan bahasa Arab mereka- bertanya ‘halal?’ saat bertransaksi di pasar-pasar dan pusat perbelanjaan. Mereka menanyakan apakah penjual sepakat dengan tawaran harga yang mereka berikan, sehingga barang menjadi halal untuk mereka. Jika sepakat, penjual akan balik mengatakan “halal”. Atau saat ada makanan atau minuman yang dihidangkan di tempat umum, para jamaah haji biasa bertanya “halal?” untuk memastikan bahwa makanan / minuman tersebut gratis dan halal untuk mereka.

Kata majemuk ini tampaknya memang ‘made in Indonesia’. Kata halal bihalal justru diserap Bahasa Indonesia dan diartikan sebagai “hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan, biasanya diadakan di sebuah tempat (auditorium, aula, dsb) oleh sekelompok orang dan merupakan suatu kebiasaan khas Indonesia.” [1]

Penulis Iwan Ridwan menyebutkan bahwa halal bihalal adalah suatu tradisi berkumpul sekelompok orang Islam di Indonesia dalam suatu tempat tertentu untuk saling bersalaman sebagai ungkapan saling memaafkan agar yang haram menjadi halal. Umumnya kegiatan ini diselenggarakan setelah melakukan salat Idul Fitri.[2] Kadang-kadang, acara halal bihalal juga dilakukan di hari-hari setelah Idul Fitri dalam bentuk pengajian, ramah tamah atau makan bersama.

Konon, tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I (lahir 8 April 1725), yang terkenal dengan sebutan ‘Pangeran Sambernyawa’. Untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam dengan istilah halal bihalal. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halal bihalal, yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama.[3]

Halal bihalal dengan makna seperti di atas juga tidak ditemukan penyebutannya di kitab-kitab para ulama. Sebagian penulis dengan bangga menyebutkan bahwa halal-bihalal adalah hasil kreativitas bangsa Indonesia dan pribumisasi ajaran Islam di tengah masyarakat Indonesia[4]. Namun, dalam kaca mata ilmu agama, hal seperti ini justru patut dipertanyakan; karena semakin jauh suatu amalan dari tuntunan kenabian, ia akan semakin diragukan keabsahannya. Islam telah sempurna dan penambahan padanya justru mengurangi kesempurnannya. Tulisan pendek ini berusaha mengulas keabsahan tradisi halal bihalal menurut pandangan syariah.

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan halal bihalal bukanlah tradisi saling mengunjungi di hari raya Idul Fitri yang juga umum dilakukan di dunia Islam yang lain. Tradisi ini keluar dari pembahasan tulisan ini, meskipun juga ada acara bermaaf-maafan di sana.

Hari raya dalam Islam harus berlandaskan dalil (tauqifiy)
Hukum asal dalam bab ibadah adalah bahwa semua ibadah haram sampai ada dalilnya. Sedangkan dalam bab adat dan muamalah, segala perkara adalah halal sampai ada dalil yang mengharamkannya. Perayaan hari raya (‘id) sebenarnya lebih dekat kepada bab mu’amalah. Tapi masalah ‘id adalah pengecualian, dan dalil-dalil menunjukkan bahwa ‘id adalah tauqifiy (harus berlandaskan dalil). Hal ini karena ‘id tidak hanya adat, tapi juga memiliki sisi ibadah. Asy-Syathibi mengatakan:

وإن العاديات من حيث هي عادية لا بدعة فيها، ومن حيث يُتعبَّد بها أو تُوْضع وضْع التعبُّد تدخلها البدعة.

“Dan sungguh adat istiadat dari sisi ia adat, tidak ada bid’ah di dalamnya. Tapi dari sisi ia dijadikan/diposisikan sebagai ibadah, bisa ada bid’ah di dalamnya.” [5]

Dan tauqifiy dalam perayaan ‘id memiliki dua sisi:

  1. Tauqifiy dari sisi landasan penyelenggaraan, di mana Nabi –shallallah ‘alaih wasallam- membatasi hanya ada dua hari raya dalam satu tahun, dan hal ini berdasarkan wahyu.

    عَنْ أَنَسِ بْنَ مَالِكٍ قَالَ: قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ. قَالَ: إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا؛ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ.

    Anas bin Malik berkata: “Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam- datang ke Madinah dan penduduknya memiliki dua hari di mana mereka bermain di dalamnya. Maka beliau bertanya: “Apakah dua hari ini?” Mereka menjawab: “Dahulu kami biasa bermain di dua hari ini semasa Jahiliyah.” Beliaupun bersabda: “Sungguh Allah telah menggantikannya dengan dua hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Abu Dawud no. 1134, dihukumi shahih oleh al-Albani) [6]Maka, sebagai bentuk pengalaman dari hadits ini, pada zaman Nabi –shallallah ‘alaih wasallam- dan generasi awal umat Islam tidak dikenal ada perayaan apapun selain dua hari raya ini [7], berbeda dengan umat Islam zaman ini yang memiliki banyak sekali hari libur dan perayaan yang tidak memiliki landasan syar’i.

  2. Tauqifiy dari sisi tata cara pelaksanaannya, karena dalam Islam, hari raya bukanlah sekedar adat, tapi juga ibadah yang sudah diatur tata cara pelaksanaannya. Setiap ibadah yang dilakukan di hari raya berupa shalat, takbir, zakat, menyembelih dan haramnya berpuasa telah diatur. Bahkan hal-hal yang dilakukan di hari raya berupa keleluasaan dalam makan minum, berpakaian, bermain dan bergembira juga tetap dibatasi oleh aturan-aturan syariah [8].


 

Pengkhususan membutuhkan dalil

Di satu sisi Islam telah menjelaskan tata cara perayaan hari raya, tapi di sisi lain tidak memberi batasan tentang beberapa sunnah dalam perayaan ‘id, seperti bagaimana menampakkan kegembiraan, bagaimana berhias dan berpakaian, atau permainan apa yang boleh dilakukan. Syariah Islam merujuk perkara ini kepada adat dan tradisi masing-masing.

Jadi, boleh saja umat Islam berkumpul, bergembira, berwisata, saling berkunjung dan mengucapkan selamat. Bahkan kegembiraan ini perlu ditekankan agar anggota keluarga merasakan hari yang berbeda dan puas karenanya, sehingga mereka tidak tergoda lagi dengan hari besar-hari besar yang tidak ada dasarnya dalam Islam [9].

Namun mengkhususkan hari Idul Fitri dengan bermaaf-maafan membutuhkan dalil tersendiri. Ia tidak termasuk dalam menunjukkan kegembiraan atau berhias yang memang disyariatkan di hari raya. Ia adalah wazhifah (amalan) tersendiri yang membutuhkan dalil.

Nabi –shallallah ‘alaih wasallam- dan para sahabat tidak pernah melakukannya, padahal faktor pendorong untuk bermaaf-maafan juga sudah ada pada zaman mereka. Para sahabat juga memiliki kesalahan kepada sesama, bahkan mereka adalah orang yang paling bersemangat utnuk membebaskan diri dari kesalahan kepada orang lain. Tapi hal itu tidak lantas membuat mereka mengkhususkan hari tertentu untuk bermaaf-maafan.

Jadi, mengkhususkan Idul Fitri untuk bermaaf-maafan adalan penambahan syariah baru dalam Islam tanpa landasan dalil. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:

فَكُلُّ أمرٍ يَكُوْنُ المُقْتَضِي لِفعْلِه عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَوْجُوْداً لَوْ كَانَ مَصْلَحَةً وَلَمْ يُفْعَلْ، يُعْلَمُ أنَّهُ لَيْسَ بِمَصْلَحَةٍ.

“Maka setiap perkara yang faktor penyebab pelaksanaannya pada masa Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam- sudah ada jika itu maslahat (kebaikan), dan beliau tidak melakukannya, berarti bisa diketahui bahwa perkara tersebut bukanlah kebaikan.” [10]

 

Serupa dengan bersalam-salaman setelah shalat dan mengkhususkan ziarah kubur di hari raya

Karena tidak dikenal selain di Indonesia dan baru muncul pada abad-abad terakhir ini, tidak banyak perkataan ulama yang membahas secara khusus tentang halal bihalal. Namun ada masalah lain yang memiliki kesamaan karakteristik dengan halal bihalal dan sudah banyak dibahas oleh para ulama sejak zaman dahulu, yaitu masalah berjabat tangan atau bersalam-salaman setelah shalat dan pengkhususan ziarah kubur di hari raya.

Berjabat tangan adalah sunnah saat bertemu dengan orang lain, sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَاََََ

Dari al-Bara’ (bin ‘Azib) ia berkata: Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam- bersabda: “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu berjabat tangan, melainkan keduanya sudah diampuni sebelum berpisah.” (HR. Abu Dawud no. 5.212 dan at-Tirmidzi no. 2.727, dihukumi shahih oleh al-Albani) [11]

Tapi ketika sunnah ini dikhususkan pada waktu tertentu dan diyakini sebagai sunnah yang dilakukan terus menerus setiap selesai shalat, hukumnya berubah; karena pengkhususan ini adalah tambahan syariah baru dalam agama. Di samping itu, bersalama-salaman setelah shalat juga membuat orang tersibukkan dari amalan sunnah setelah shalat yaitu dzikir [12].

Ibnu Taimiyyah ditanya tentang masalah ini, maka beliau menjawab: “Berjabat tangan setelah shalat bukanlah sunnah, tapi itu adalah bid’ah, wallahu a’lam“ [13].

Lebih jelas lagi, para ulama menghitung pengkhususan ziarah kubur di hari raya termasuk bid’ah[14] ,padahal ziarah kubur juga merupakan amalan yang pada dasarnya dianjurkan dalam Islam, seperti dijelaskan dalam hadits berikut:

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا؛ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَة

Dari Buraidah (al-Aslami) ia berkata: Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam- bersabda: “Sungguh aku dulu telah melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah; karena ia mengingatkan akhirat.” (HR Ashhabus Sunan, dan lafazh ini adalah lafazh Ahmad (no. 23.055) yang dihukumi shahih oleh Syu’aib al-Arnauth)

Demikian pula berjabat tangan dan bermaaf-maafan adalah bagian dari ajaran Islam. Namun ketika dikhususkan pada hari tertentu dan diyakini sebagai sunnah yang terus menerus dilakukan setiap tahun, hukumnya berubah menjadi tercela. Wallahu a’lam.

 

Beberapa pelanggaran syariah dalam halal bihalal

Di samping tidak memiliki landasan dalil, dalam halal bihalal juga sering didapati beberapa pelanggaran syariah, di antaranya:

  1. Mengakhirkan permintaan maaf hingga datangnya Idul Fitri. Ketika melakukan kesalahan atau kezhaliman pada orang lain, sebagian orang menunggu Idul Fitri untuk meminta maaf, seperti disebutkan dalam ungkapan yang terkenal “urusan maaf memaafkan adalah urusan hari lebaran”. Dan jadilah “mohon maaf lahir batin” ucapan yang “wajib” pada hari Raya Idul Fitri. Padahal belum tentu kita akan hidup sampai Idul Fitri dan kita diperintahkan untuk segera menghalalkan kezhaliman yang kita lakukan, sebagaimana keterangan hadits berikut:

    عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا؛ فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ

    Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam- bersabda: “Barang siapa melakukan kezhaliman kepada saudaranya, hendaklah meminta dihalalkan (dimaafkan) darinya; karena di sana (akhirat) tidak ada lagi perhitungan dinar dan dirham, sebelum kebaikannya diberikan kepada saudaranya, dan jika ia tidak punya kebaikan lagi, maka keburukan saudaranya itu akan diambil dan diberikan kepadanya”. (HR. al-Bukhari nomor 6.169)

  2. Ikhtilath (campur baur lawan jenis) yang bisa membawa ke maksiat yang lain, seperti pandangan haram dan zina. Karenanya, Nabi –shallallah ‘alaih wasallam- melarangnya, seperti dalam haditsAbu Usaid berikut:

    عَنْ أَبِى أُسَيْدٍ الأَنْصَارِىِّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ وَهُوَ خَارِجٌ مِنَ الْمَسْجِدِ فَاخْتَلَطَ الرِّجَالُ مَعَ النِّسَاءِ فِى الطَّرِيقِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِلنِّسَاءِ « اسْتَأْخِرْنَ فَإِنَّهُ لَيْسَ لَكُنَّ أَنْ تَحْقُقْنَ الطَّرِيقَ عَلَيْكُنَّ بِحَافَاتِ الطَّرِيقِ »
    . فَكَانَتِ الْمَرْأَةُ تَلْتَصِقُ بِالْجِدَارِ حَتَّى إِنَّ ثَوْبَهَا لَيَتَعَلَّقُ بِالْجِدَارِ مِنْ لُصُوقِهَا بِهِ.

    Dari Abu Usaid al-Anshari ia mendengar Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam- berkata saat keluar dari masjid dan kaum pria bercampur baur dengan kaum wanita di jalan. Maka beliau mengatakan kepada para wanita: “Mundurlah kalian, kalian tidak berhak berjalan di tengah jalan, berjalanlah di pinggirnya.” Maka para wanita melekat ke dinding, sehingga baju mereka menempel di dinding, saking lekatnya mereka kepadanya”. (HR. Abu Dawud no. 5272, dihukumi hasan oleh al-Albani) [15]

  3. Berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Maksiat ini banyak diremehkan oleh banyak orang dalam halal bihalalatau kehidupan sehari-hari, padahal keharamannya telah dijelaskan dalam haditsberikut:

    عن مَعْقِل بن يَسَارٍ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ
    بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

    ”Dari Ma’qil bin Yasar ia berkata: Rasulullah –shallallah ‘alaih wasallam- bersabda: “Sungguh jika seorang di antara kalian ditusuk kepalanya dengan jarum dari besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya”. (HR. ath-Thabrani, dihukumi shahih oleh al-Albani) [16]Al-Albani berkata: “Ancaman keras bagi orang yang menyentuh wanita yang tidak halal baginya. Di dalamnya terkandung dalil haramnya menjabat tangan wanita, karena tidak diragukan lagi bahwa berjabat tangan termasuk menyentuh. Banyak umat Islam yang jatuh dalam kesalahan ini, bahkan sebagian ulama.” [17]


Penutup

Dari paparan di atas, bisa kita simpulkan bahwa yang dipermasalahkan dalam halal bihalal adalah pengkhususan bermaaf-maafan di hari raya. Pengkhususan ini adalah penambahan syariah baru yang tidak memiliki landasan dalil. Jadi seandainya perkumpulan-perkumpulan yang banyak diadakan untuk menyambut Idul Fitri kosong dari agenda bermaaf-maafan, maka pertemuan itu adalah pertemuan yang diperbolehkan; karena merupakan ekspresi kegembiraan yang disyariatkan Islam di hari raya, dan batasannya merujuk ke adat dan tradisi masyarakat setempat. Tentunya jika terlepas dari pelanggaran-pelanggaran syariah, antara lain yang sudah kita sebutkan di atas. Selain di Indonesia, pertemuan yang umum disebut mu’ayadah (saling mengucapkan selamat ‘id) ini juga ada di belahan dunia Islam lain tanpa pengingkaran dari ulama.

Bagi yang mengatakan “ah, cuma begini saja kok tidak boleh!“, ingatlah bahwa Nabi –shallallah ‘alaih wasallam- menyebut setiap perkara baru dalam agama sebagai syarrul umuur (seburuk-buruk perkara). Maka bagaimana kita bisa meremehkannya? Setiap muslim harus berhati-hati dengan perkara-perkara baru yang muncul belakangan. Amalkanlah sunnah dan Islam yang murni, karena itulah wasiyat Nabi tercinta –shallallah ‘alaih wasallam-. Wallahu a’lam.

footnote:

[1] http://bahasakita.com/2009/08/23/halal-bi-halal2/
[2] http://bahasakita.com/2009/08/23/halal-bi-halal2/
[3] http://bahasakita.com/2009/08/23/halal-bi-halal2/
[4] http://bahasakita.com/2009/08/23/halal-bi-halal2/
[5] Al-I’tisham, 2/98
[6] Shahih Sunan Abi Dawud, 4/297
[7] Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim, 1/499
[8] Mi’yarul Bid’ah hal. 262
[9] Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim, 2/6
[10] Iqtidha’ ash-Shirath al-Mustaqim, 2/101
[11] As-Silsilah ash-Shahihah, 2/24 no. 525
[12] Fatawa Syaikh Abdullah bin ‘Aqiel, 1/141.
[13] Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah, 23/339
[14] Al-A’yad wa Atsaruha ‘alal Muslimin, hal. 247
[15] As-Silsilah ash-Shahihah, 2/355 no. 856
[16] Ghayatul Maram, 1/137
[17] Majmu’ Fatawa al-Albani, 1/220 (asy-Syamilah)

Penulis: Ustadz Anas Burhanuddin MA.

Sumber: Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XIII/1430/2009 M

Pembahasan Tentang Hadits Puasa Sunnah Syawal

Kajian Salaf 0

Termasuk rahmat Allah kepada para hambaNya, Dia menjadikan amalan sunnah pada setiap jenis amalan wajib, seperti shalat, ada yang wajib ada yang sunnah, demikian pula puasa, shodaqoh, haji dan lain sebagainya.

Ketahuilah wahai saudaraku seiman –semoga Allah merahamtimu- bahwa adanya amalan-amalan sunnah tersebut memiliki beberapa faedah bagi umat manusia:

  1. Menyempurnakan kekurangan pada amalan wajib, sebab bagaimanapun seorang telah berusaha agar ibadah wajibnya sempurna semaksimal mungkin namun tidak luput dari kekurangan. Di sinilah peran amalan sunnah untuk menutup lubang-lubang tersebut.

  2. Menambah pahala disebabkan bertambahnya amal shaleh

  3. Menggapai kecintaan Allah

  4. Menambah keimanan seorang hamba

  5. Menambah kuatnya hubungan seorang hamba dengan Robbnya

  6. Merupakan medan untuk berlomba-lomba dalam ketaatan

  7. Mendorong hamba dalam melakukan amalan wajib, sebab sepertinya mustahil kalau ada seorang yang rajin mengamalkan perkara sunnah tetapi mengabaikan amal yang wajib

  8. Pembuka amalan wajib

  9. Penutup pintu bid’ah dalam agama

  10. Mencontoh Nabi dan para salaf shalih.


Di antara amalan sunnah tersebut adalah puasa syawwal sebagaimana ditegaskan dalam banyak hadits. Masalahnya, ada sebagian kalangan yang masih meragukan tentang sunnahnya ibadah ini seraya mengatakan bahwa hadits tidak shahih!! Haditsnya tidak diamalkan para ulama!! Bagaimana sebenarnya duduk permasalahannya?! Pembahasan berikut mencoba untuk mengoreknya. Semoga bermanfaat.

TEKS DAN TAKHRIJ HADITS
Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah selalu merahmatimu- bahwa hadits pembahasan ini adalah SHOHIH dengan tiada keraguan di dalamnya sebagaimana ditegaskan oleh ahli hadits. Diriwayatkan dari jalur yang banyak sekali. Berikut pembasan singkat tentangnya.

1. Hadits Abu Ayyub al-Anshori
عَنْ أبِي أَيُّوْبَ اْلأَنْصَارِيِّ – رضي الله عنه – أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه و سلّم- قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَ أَْتبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَهْرِ
Dari Abu Ayyub al-Anshari –radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam- bersabda, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari bulan Syawwal, maka dia seperti berpuasa satu tahun penuh.”

 

SHOHIH. Diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahihnya 1164, Ahmad dalam Musnadnya 5/417, 419, Tirmidzi 759, Abu Dawud 2433, Nasai dalam Sunan Kubro 2862-2864, Ibnu Majah 1716, ad-Darimi 1761, Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 9723, Abdur Rozzaq dalam al-Mushonnaf 7918-7921, Abu Dawud ath-Thoyyalisi dalam Musnadnya 948, ath-Thobarani dalam Mu’jamul Kabir 4/134-137, Ibnu Khuzaimah 2114, Ibnu Hibban 3626, Abdu bin Humaid dalam al-Muntakhob 228, Abu Awanah 2696-2700, al-Baihaqi dalam Sunan Kubro 4/292 dan lain sebagainya dari beberapa jalan yang cukup banyak sekali dari Sa’d bin Sa’id dari Umar bin Tsabit al-Anshari dari Abu Ayyub –radhiyallahu ‘anhu- dari Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam-.
Imam Tirmidzi berkata: “Hadits hasan shahih.” Lalu lanjutnya:
“Sebagian ahli ilmu membicarakan Sa’d bin Sa’id dari segi hafalannya.”
Tetapi, Sa’d bin Sa’id tidaklah sendirian dalam meriwayatkan hadits ini, sebagaimana akan datang penjelasannya.

2. Hadits Tsauban Maula Rasulullah
عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ – صلى الله عليه و سلّم- عَنْ رَسُوْلِ اللهِ – صلى الله عليه و سلّم- أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَنَّةِ. مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشَرُ أَمْثَالِهَا
Dari Tsauban, budak Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam-, bahwasanya beliau –shallallahu ‘alahi wa sallam- bersabda, “Barangsiapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fithri, maka seperti telah berpuasa setahun penuh. Barangsiapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh lipatnya.”


SHOHIH.
Diriwayatkan Ibnu Majah 1715, ad-Darimi 1762, Nasa’i dalam Sunan Kubra 2810, 2861, Ibnu Khuzaimah 2115, Ibnu Hibban 928, dan Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya 5/280, ath-Thobarani dalam Mu’jamul Kabir 1451 dan Musnad Syamiyyin 485, ath-Thohawi dalam Musykil Atsar 1425, ar-Ruyani dalam Musnadnya 634, Ibnu Muqri’ dalam Mu’jamnya 1250 dari jalan Yahya bin Harits ad-Dhimari dari Abu Asma’ ar-Rakhabi dari Tsauban dari Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam-.

Sanad hadits ini shahih, sebagaimana ditegaskan Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 4/107.




3. Hadits Abu Hurairah



عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صلى الله عليه و سلّم- : مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ, فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah –shallallahu ‘alahi wa sallam-, bersabda: “Barangsiapa berpuasa ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari syawal, maka seperti telah berpuasa setahun penuh”.

 

SHOHIH. Diriwayatkan Abu Awanah dalam Musnadnya 2702 dan al-Bazzar dalam Musnadnya 669 –Mukhtashor- dari Amr bin Abu Salamah dari Zuhair bin Muhammad dari Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah.
Sanad hadits ini shohih Al-Haitsami berkata dalam Majma’ Zawaid 3/183: “Diriwayatkan oleh al-Bazzar, dan memiliki banyak jalur yang perawi sebagian jalurnya adalah perawi shahih”. Demikian juga dikatakan oleh al-Mundziri dalam At-Targhib 2/111.

4. Hadits Syaddad bin Aus
عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ – صلى الله عليه و سلّم- عَنْ رَسُوْلِ اللهِ n أَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَأَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ , فَذَلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ
Dari Syaddad bin Aus dari Rasulullah bahwasanya beliau –shallallahu ‘alahi wa sallam- bersabda, “Barangsiapa berpuasa ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari syawal setelah hari raya Idul Fithri, maka seperti telah berpuasa setahun penuh”.

 

SHOHIH. Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim dalam al-’Ilal 1/253 dari jalur Marwan ath-Thothori dari Yahya bin Hamzah dari Yahya bin Harits dari Asy’ats ash-Shon’ani dari Syaddad bin Aus. Ibnu Abi Hatim menukil dari ayahnya (Abu Hatim ar-Rozi) bahwa beliau menilai hadits ini shahih.
Sanad hadits shahih, seluruh perawinya terpercaya sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Qayyim dalam Tahdzib Sunan 7/88 dan al-Ala’i dalam Raf’ul Isykal hal. 68.
Hadits ini juga diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas bin Malik, Ghonnam al-Anshori, tetapi semuanya tidak luput dari kecacatan dan pembicaraan. Sengaja kami tinggalkan, agar tidak mempertebal jumlah halaman. Wallahu A’lam.




SYUBHAT DAN JAWABANNYA
Ketahuilah wahai saudaraku -semoga Allah merahmatimu- bahwa hadits pembahasan ini telah dibicarakan oleh sebagian kalangan dengan berbagai kritikan yang menjatuhkan derajat hadits ini. Oleh karena itu, berikut ini ulasan untuk menyingkap alasan mereka. Kita memohon kepada Allah untuk memudahkan kita dalam menjalan syari’atNya yang mulia ini.

A. SANAD HADITS
Sebagian kalangan mengkritik hadits ini, karena dalam sanad hadits Abu Ayyub terdapat seorang rawi bernama Sa’ad bin Sa’id al-Anshori, dan dia dilemahkan oleh sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Nasa’i.

Jawaban:
Ada beberapa point untuk menjawab kritikan ini:

  • Pertama: Tidak semua ‘illah (kecacatan) itu melemahkan hadits


Telah mapan dalam disiplin ilmu hadits bahwa ‘illah (kecacatan) itu terbagi menjadi dua macam:

  1. Kecacatan yang menjadikan lemahnya suatu hadits

  2. Kecacatan yang tidak menjadikan lemahnya hadits


Jadi, tidak semua kecacatan itu menjadikan lemahnya suatu hadits. Menariknya, Syaikh Muhammad al-Utsaimin dalam kitabnya “Mushtolah Hadits” hal. 20 menjadikan hadits pembahasan ini sebagai contoh hadits yang kecacatannya tidak menjadikan lemahnya hadits.

  • Kedua: Mayoritas Ulama Menilainya Positif


Benar, Sa’ad bin Sa’id dilemahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Nasai. Namun, bagi orang yang meneliti kitab-kitab rijal hadits, niscaya akan mendapati bahwa mayoritas ulama telah menilai positif kepada Sa’ad bin Sa’id al-Anshori, diantaranya adalah Yahya bin Ma’in, Ibnu Abi Hatim, al-’Ijli, Ibnu Sa’ad, Ibnu Syahin, ad-Daraquthni, Muslim dan lain sebagainya.

  • Ketiga: Imam Muslim Berhujjah Dengannya


Telah dimaklumi bersama bagi kita kedudukan Imam Muslim dan kitab Shohihnya. Maka melemahkan hadits yang beliau riwayatkan di dalamnya atau perawi yang dijadikan hujjah olehnya bukanlah suatu hal yang ringan. Al-Hafizh Ibnu Qayyim berkata tentang metode Imam Muslim: “Tidaklah salah Imam Muslim tatkala mengeluarkan haditsnya (Harits bin Ubaid), karena beliau memilah hadits-hadits orang sepertinya yang beliau ketahui bahwa perawi tersebut menghafalnya, sebagaimana beliau tidak mencantumkan hadits perawi terpercaya karena beliau mengatahui bahwa rawi tersebut keliru. Metode Muslim ini adalah metode para ahli hadits”.

  • Keempat: Dia Tidak Sendirian dan Haditsnya Memiliki syawahid (penguat)


Dia dikuatkan oleh para perawi lainnya juga, seperti Shafwan bin Sulaim, Zaid bin Aslam, Yahya bin Sa’id al-Anshari, Abdu Rabbihi bin Sa’id al-Anshari, dan lain-lain.
As-Subki berkata:
“Syaikh kami Abu Muhammad ad-Dimyati telah mencurahkan tenaganya mengumpulkan jalan-jalan riwayat hadits ini. Akhirnya beliau mendapatkan sebanyak dua puluh lebih orang telah meriwayatkan dari Sa’d bin Sa’id. Dan riwayat Sa’d bin Sa’id ini dikuatkan oleh saudaranya Yahya bin Sa’id, Abdu Rabbihi, Shafwan bin Sulaim, dan sebagainya. Hadits ini juga mempunyai syawahid (penguat-penguat) yang diriwayatkan dari beberapa sahabat seperti Tsauban, Abu Hurairah, Jabir bin Abdullah, Ibnu Abbas, Barra’ bin Azib, dan Aisyah radhiyallahu ‘anhum …. “.


  • Kelima: Para ulama membela dan menshohihkan hadits


Hadits ini adalah shahih dengan tidak ada keraguan di dalamnya. Hal ini telah ditegaskan oleh para ulama ahli hadits, mereka menegaskan keshahihannya, membantah orang yang melemahkannya, bahkan ada yang menulis kitab-kitab khusus tentangnya, di antaranya:

  1. Imam Muslim dalam Shohihnya

  2. Imam Tirmidzi berkata: “Hadits Hasan shohih”.

  3. Imam Nawawi berkata: “Sanadnya shohih”.

  4. Al-Hafizh ad-Dimyati mengumpulkan jalur-jalur hadits ini.

  5. Al-Hafizh al-Ala’i menulis kitab khusus berjudul Raf’ul Isykal ‘an Shiyam Sittah Ayyam min Syawwal. Kitab ini merupakan bantahan beliau kepada Ibnu Dihyah al-Kalbi yang melemahkan hadits ini dalam kitabnya “Al-Ilmu Masyhur fi Fadhoil Ayyam wa Syuhur”.

  6. Al-Hafizh al-Iraqi mengumpulkan jalur-jalur hadits ini

  7. Al-Hafizh Ibnul Qayyim membela secara kuat dan panjang dalam Tahdzib Sunan Abu Dawud 7/62 -Aunul Ma’bud-

  8. Al-Hafizh Ibnu Muflih menshahihkannya dalam al-Furu’ 3/106

  9. Al-Hafizh Ibnul Mulaqqin menshahihkannya dalam al-Badrul Munir 1/336 -Khulashoh-.

  10. Al-Hafizh Al-Qurthubi berkata: “Hadits hasan shohih”

  11. Syaikh Qashim bin Qhotlubiho menulis risalah khusus berjudul Tahrir Aqwal fi Shoum Sitti Min Syawwal. Dalam kitab ini beliau membantah pernyataan penulis Mandzumah at-Tubbani dan Syarhnya yang menyandarkan kepada Abu Hanifah bahwa beliau membencinya secara mutlak.

  12. Al-Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Irwa’ul Ghalil 4/106-107

  13. Dr. Abdul Aziz al-Utaibi menulis pembelaan hadits ini dalam kitabnya Makanah Shohihain.


Dengan penjelasan di atas, maka jelaslah bagi kita keshohihan hadits ini dan selamatnya hadits ini dari kecacatan. Walhamdulillah.




B. MATAN HADITS
Sebagian kalangan ada yang mengkritik dari segi matannya, dimana Imam Malik dan Abu Hanifah tidak mengambil kandungan isinya. Alasan Imam Malik, karena beliau tidak melihat seorang alim-pun dari kalangan salaf yang berpuasa seperti itu dan beliau khawatir bila orang yang jahil akan memasukkannya ke dalam puasa Ramadhan. Demikian pula alasan Abu Yusuf, kawan Imam Abu Hanifah, beliau khawatir apabila puasa tersebut dianggap wajib oleh orang yang jahil.

Jawaban:
Ada beberapa point juga untuk membantah kritikan ini:

  • Pertama: Inilah Metode Yang Benar


“Sesungguhnya kami mencintai para ulama kaum muslimin dan memilih dari pendapat mereka yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah, kita menimbang pendapat mereka dengan kedua timbangan tersebut, kita tidak menimbangnya dengan ucapan seorangpun, siapapun dia. Kita tidak menjadikan seorang selain Allah dan rasulNya yang terkadang benar dan terkadang salah untuk kita ikuti setiap pendapatnya dan melarang orang lain untuk menyelisihinya.
Demikianlah wasiat para imam Islam kepada kita, maka hendaknya kita untuk mengikuti jejak dan petunjuk mereka”.

  • Kedua: Berikanlah Udzur Kepada Para Ulama


“Perlu diketahui bahwa tidak ada satupun dari para imam dan ulama yang sengaja untuk menyelisihi Rasulullah dalam sunnahnya, sebab mereka semua bersepakat dalam satu kata tentang wajibnya mengikuti Rasulullah dan bahwasanya semua manusia selainnya bisa diterima dan bisa ditolak ucapannya. Hanya saja, apabila ada pendapat dari salah seorang diantara mereka yang menyelisihi hadits shahih, maka harus ada di sana suatu alasan kenapa dia meninggalkannya. Semua udzur tersebut berputar pada tiga perkara:
1. Dia tidak yakin bahwa Nabi mengatakan hal itu
2. Dia tidak menghendaki masalah tersebut
3. Dia menyakini bahwa hukum tersebut telah terhapus”.

  • Ketiga: Membantah Alasan


Alasan dibencinya puasa sunnah ini dapat kita simpulkan menjadi dua sebagai berikut:
Pertama: Perkataan Imam Malik: “Saya tidak melihat seorang pun alim dari kalangan salaf yang berpuasa seperti itu”
Kedua: Kekhawatiran bila puasa ini dianggap sebagai suatu kewajiban seperti puasa Ramadhan.

Untuk menjawab dua alasan ini, kita katakan:

  1. Pertama: Apakah hadits yang shahih dari Nabi Muhammad –shallallahu ‘alahi wa sallam- akan kita tinggalkan hanya karena alasan-alasan lemah seperti ini?! Al-Hafizh asy-Syaukani berkata: “Pendapat ini adalah bathil, tidak pantas bagi seorang yang berakal, lebih-lebih orang berilmu untuk meninggalkan sunnah yang shohih lagi jelas dengan alasan seperti itu”.

  2. Kedua: Alasan Imam Malik bahwa beliau tidak mendapati seorang salaf yang melakukannya adalah tertolak setelah jelas bagi kita keshohihan hadits ini. Imam Nawawi berkata: “Apabila telah shohih suatu hadits, maka tidaklah ditinggalkan dengan alasan karena sebagian manusia meninggalkannya”. “Ucapan ini bukanlah hujjah, sebab sunnah telah shohih, adapun beliau tidak mengetahuinya maka hal itu tidak menjadi masalah”.Dalam masalah lain, beliau membantah alasan ini: “Sunnah Nabi lebih didahulukan daripada pendapat beliau (imam Malik). Sewajibnya mengikuti hadits, adapun Malik maka beliau mendapatkan udzur karena hadits ini belum sampai kepadanya”. Inilah juga yang dikatakan oleh Imam Ibnu Abdil Barr bahwa hadits ini belum sampai kepada Imam Malik, seandainya beliau mengetahuinya, neiscaya beliau akan mengambilnya.

  3. Ketiga: Adapun alasan khawatir dianggap wajib oleh sebagian orang jahil, maka ini adalah alasan yang lemah ditinjau dari beberapa segi:



  • a) Kekhawatiran ini sekarang hampir bisa dikatakan tidak ada wujudnya, sebab semua orang telah mengetahui bahwa puasa syawal hukumnya adalah sunnah.



  • b) Menghilangkan kekhawatiran ini bukanlah caranya dengan menolak sunnah yang telah shohih, tetapi bisa dengan cara lainnya, seperti penjelasan kepada mereka bahwa puasa ini hukumnya hanya sunnah, atau dengan meninggalkannya sesekali agar tidak dianggap wajib.



  • c) Kekhawatiran ini bisa hilang apabila seseorang memisahnya dengan tidak berpuasa pada hari raya karena memang hal itu terlarang, atau dengan berpuasa pada pekan kedua atau ketiga dari bulan syawal.



  • d) Bila alasan ini dipertahankan maka konsekuansinya juga adalah meninggalkan puasa-puasa sunnah lainnya yang dianjurkan seperti Asyuro, Arofah dan lain-lain dengan alasan khawatir dianggap wajib, padahal tidak ada seorang ulama-pun yang berpendapat demikian.


FIQIH HADITS
Lumayan panjang untuk membahas tentang faedah dan hukum-hukum seputar puasa syawal, namun semoga pembahasan berikut ini sedikit mencukupi:

1. Disyari’atkannya Puasa Enam Hari Pada Bulan Syawwal
Puasa enam hari bulan syawwal hukumnya sunnah, baik bagi kaum pria maupun wanita. Hal ini merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu seperti diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ka’b al-Akhbar, Sya’bi, Thawus, Maimun bin Mihran, Abdullah bin Mubarok, Ahmad bin Hanbal dan Syafi’i.
Imam Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil yang jelas bagi madzhab Syafi’i, Ahmad, Dawud beserta ulama yang sependapat dengannya mengenai sunnahnya puasa enam hari bulan Syawwal.”
Ibnu Hubairah berkata: “Mereka bersepakat tentang sunnahnya puasa enam hari Syawal kecuali Abu Hanifah dan Malik yang mengatakan bahwa hal itu dibenci dan tidak disunnahkan”.
Alangkah bagusnya ucapan Al-Allamah al-Mubarakfuri: “Pendapat yang menyatakan dibencinya puasa enam hari Syawwal merupakan pendapat yang bathil dan bertentangan dengan hadits-hadits shahih. Oleh karena itu, mayoritas ulama Hanafiyah berpendapat tidak mengapa seorang berpuasa enam hari Syawwal tersebut. Ibnu Humam berkata : “Puasa enam hari Syawwal menurut Abu Hanifah dan Abu Yusuf makruh (dibenci) tetapi ulama Hanafiyah berpendapat bahwa hal itu tidak mengapa”.

2. Keutamaan puasa enam hari Syawwal.
Yaitu dihitung seperti puasa setahun penuh, karena satu kebaikan berkelipatan sepuluh. Satu bulan 30 hari x 10 = 10 bulan, dan enam hari 6 x 10 = 2 bulan. Jadi, jumlah seluruhnya 12 bulan = 1 tahun. Hal ini sangat jelas dalam riwayat Tsauban.
Namun hal ini bukan berarti dibolehkan atau disunnahkan puasa dahr (setahun) sebagaimana anggapan sebagian kalangan, karena beberapa sebab:
Pertama: Maksud perumpamaan Nabi di atas adalah sebagai anjuran dan penjelasan tentang keutamaannya, bukan untuk membolehkan puasa dahr (setahun) yang jelas hukumnya haram dan memberatkan diri, apalagi dalam setahun seorang akan berbenturan dengan hari-hari terlarang untuk puasa seperti hari raya dan hari tasyriq.
Kedua: Nabi telah melarang puasa dahr. Kalau demikian, lantas mungkinkah kemudian hal itu dinilai sebagai puasa yang dianjurkan?!
Ketiga: Nabi bersabda: “Sebaik-baik puasa adalah puasa Dawud, beliau sehari puasa dan sehari berbuka”. Hadits ini sangat jelas sekali menunjukkan bahwa puasa Dawud lebih utama daripada puasa dahr sekalipun hal itu lebih banyak amalnya.

3. Beberapa Faedah Puasa Syawal
Membiasakan puasa setelah ramadhan memiliki beberapa faedah yang cukup banyak, diantaranya:

  • Puasa enam hari syawal setelah ramadhan berarti meraih pahala puasa setahun penuh

  • Puasa syawal dan sya’ban seperti shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat fardhu, untuk sebagai penyempurna kekurangan yang terdapat dalam fardhu

  • Puasa syawal setelah ramadhan merupakan tanda bahwa Allah menerima puasa ramadhannya, sebab Allah apabila menerima amal seorang hamba maka Dia akan memberikan taufiq kepadanya untuk melakukan amalan shalih setelahnya

  • Puasa syawal merupakan ungkapan syukur setelah Allah mengampuni dosanya dengan puasa ramadhan

  • Puasa syawwal merupakan tanda keteguhannya dalam beramal shalih, karena amal shalih tidaklah terputus dengan selesainya ramadhan tetapi terus berlangusng selagi hamba masih hidup.


4. Haruskah berturut-turut setelah Idul Fithri?!
Ash-Shon’ani berkata:
“Ketahuilah bahwa pahala puasa ini bisa didapatkan bagi orang yang berpuasa secara berpisah atau berturut-turut, dan bagi yang berpuasa langsung setelah hari raya atau di tengah-tengah bulan”.
An-Nawawi berkata:

“Afdhalnya, berpuasa enam hari berturut turut langsung setelah Idhul Fithri. Namun jika seseorang berpuasa Syawwal tersebut dengan tidak berturut-turut atau berpuasa di akhir-akhir bulan, dia masih mendapatkan keutamaan puasa Syawwal, berdasarkan konteks hadits ini.” Yakni keumuman sabda Nabi “enam hari bulan syawal”.

Inilah pendapat yang benar. Jadi, boleh berpuasa secara berturut-turut atau tidak, baik di awal, di tengah maupun di akhir bulan Syawwal. Namun, yang lebih utama adalah bersegera melakukan puasa Syawwal karena beberapa sebab:

  • Pertama: Bersegera dalam beramal shalih



  • Kedua: Agar tidak terhambat oleh halangan dan godaan syetan sehingga menjadikannya tidak berpuasa



  • Ketiga: Manusia tidak tahu kapan malaikat maut menjemputnya.


Dengan demikian, maka kita dapat mengetahui kesalahan keyakinan sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa puasa sunnah syawwal harus pada hari kedua setelah hari raya, bila tidak maka sia-sia puasanya!!

5. Bila Masih Punya Tanggungan Puasa Ramadhan
Apabila seorang ingin berpuasa Syawwal tetapi dia masih memiliki tangungan puasa ramadhan, bagaimana hukumnya?!

  • Al-Hafizh Ibnu Rajab berkata:


“Barangsiapa yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan, kemudian dia memulai puasa enam syawal, maka dia tidak mendapatkan keutamaan pahala orang yang puasa ramadhan dan mengirinya dengan enam syawal, sebab dia belum menyempurnakan puasa ramadhan”.


  • Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin berkata:


“Puasa enam syawal berkaitan dengan ramadhan, dan tidak dilakukan kecuali setelah melunasi tanggungan puasa wajibnya. Seandainya dia berpuasa syawal sebelum melunasinya maka dia tidak mendapatkan pahala keutamaannya, berdasarkan sabda Nabi: “Barangsiapa puasa ramadhan kemudian dia menyertainya dengan enam hari syawal maka seakan-akan dia berpuasa setahun penuh”.
Dan telah dimaklumi bersama bahwa orang yang masih memiliki tanggungan puasa ramadhan berarti dia tidak termasuk golongan orang yang telah puasa ramadhan sampai dia melunasinya terlebih dahulu. Sebagian manusia keliru dalam masalah ini, sehingga tatkala dia khawatir keluarnya bulan syawal maka dia berpuasa sebelum melunasi tanggungannya. Ini adalah suatu kesalahan“.

6. Kalau Memang Ada Udzur Sehingga Keluar Bulan Syawwal
Bagaimana kalau seseorang tidak bisa melakukan puasa syawal karena ada udzur seperti sakit, nifas atau melunasi hutang puasanya sebanyak sebulan, sehingga keluar bulan syawal. Apakah dia boleh menggantinya pada bulan-bulan lainnya dan meraih keutamaannya, ataukah tidak perlu karana waktunya telah keluar?! Masalah ini diperselisihkan oleh ulama:

  • Pertama. Boleh menggodho’nya karena ada udzur. Pendapat ini dipilih oleh Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di dan Syaikh Ibnu Utsaimin . Alasannya adalah menqiyaskan dengan ibadah-ibadah lain yang bisa diqodho’ apabila ada udzur seperti shalat.



  • Kedua. Tidak disyariatkan untuk mengqodho’nya apabila telah keluar bulan syawal, baik karena ada udzur atau tidak, karena waktunya telah lewat. Pendapat ini dipilih oleh syaikh Abdul Aziz bin Baz .


Pendapat kedua inilah yang tentram dalam hati penulis, karena qodho’ membutuhkan dalil khusus dan tidak ada dalil dalam masalah ini. Wallahu A’lam. Alhamdulillah, kalau memang dia benar-benar jujur dalam niatnya yang seandainya bukan karena udzur tersebut dia akan melakukan puasa syawal, maka Allah akan memberikan pahala baginya, sebagaimana dalam hadits:
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلَ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيْمًا صَحِيْحًا
Apabila seorang hamba sakit atau bepergian, maka dia ditulis seperti apa yang dia lakukan dalam muqim sehat.

(HR. Bukhari: 2996)

 

7. Menggabung Niat Puasa
Kalau ada orang yang berpuasa syawwal dan ingin menggabungnya dengan qodho’ puasa ramadahan, atau dengan puasa senin kamis, atau tiga hari dalam sebulan, bagaimana hukumnya?! Menjawab masalah ini, hendakanya kita mengetahui terlebih dahulu sebuah kaidah berharga yang disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Rojab, yaitu
“Apabila berkumpul dua ibadah satu jenis dalam satu waktu, salah satunya bukan karena qodho’ (mengganti) atau mengikut pada ibadah lainnya, maka dua ibadah tersebut bisa digabung jadi satu”.

Jadi, menggabung beberapa ibadah menjadi satu itu terbagi menjadi dua macam:


  • Pertama: Tidak mungkin digabung, yaitu apabila ibadah tersebut merupakan ibadah tersendiri atau mengikut kepada ibadah lainnya, maka di sini tidak mungkin digabung.

  • Contoh: Seorang ketinggalan shalat sunnah fajar sampai terbit matahari dan datang waktu sholat dhuha, di sini tidak bisa digabung antara shalat sunnah fajar dan shalat dhuha, karena shalat sunnah fajar adalah ibadah tersendiri dan shalat dhuha juga ibadah tersendiri.



  • Contoh lain: Seorang sholat fajar dengan niat untuk shalat sunnah rawatib dan shalat fardhu, maka tidak bisa, karena shalat sunnah rawatib adalah mengikut kepada shalat fardhu.





  • Kedua: Bisa untuk digabung, yaitu kalau maksud dari ibadah tersebut hanya sekedar adanya perbuatan tersebut, bukan ibadah tersendiri, maka di sini bisa untuk digabung.

  • Contoh: Seorang masuk masjid dan menjumpai manusia sedang melakukan shalat fajar, maka dia ikut shalat dengan niat shalat fajar dan tahiyyatul masjid, maka boleh karena tahiyyatul masjid bukanlah ibadah tersendiri.



Nah, dari sini dapat kita simpulkan bahwa kalau seorang menggabung puasa syawwal dengan mengqodho’ puasa ramadhan maka hukumnya tidak boleh karena puasa syawal di sini mengikut kepada puasa ramadhan . Namun apabila seseorang menggabung puasa syawwal dengan puasa tiga hari dalam sebulan, puasa dawud, senin kami maka hukumnya boleh. Wallahu A’lam.

Demikianlah beberapa pembahasan yang dapat kami ketengahkan. Semoga bermanfaat.

Penulis : Abu Ubaidah Yusuf bin Mokhtar As-Sidawi

Catatan di Penghujung Akhir Ramadhan dan Saat Idul Fitri Datang

Kajian Salaf 0

Tidak terasa sudah sebulan kita menjalani ibadah di bulan Ramadhan. Dan saatnya kita berpisah dengan bulan yang penuh barokah, bulan yang penuh rahmat dan ampunan Allah, serta bulan di mana banyak yang dibebaskan dari siksa neraka. Pada pembahasan kali ini, kami mengangkat sebuah pelajaran yang cukup berharga yang kami olah dari kitab Latho-if Al Ma’arif karangan Ibnu Rajab Al Hambali dengan judul “Wadha’ Ramadhan”(Perpisahan dengan Bulan Ramadhan), juga terdapat beberapa tambahan pembahasan dari kitab lainnya. Semoga kalimat-kalimat yang secuil ini bermanfaat bagi kita semua.

Sebab Ampunan Dosa di Bulan Ramadhan

Saudaraku, jika kita betul-betul merenungkan, Allah begitu sayang kepada orang-orang yang gemar melakukan ketaatan di bulan Ramadhan. Cobalah kita perhatikan dengan seksama, betapa banyak amalan yang di dalamnya terdapat pengampunan dosa. Maka sungguh sangat merugi jika seseorang meninggalkan amalan-amalan tersebut. Dia sungguh telah luput dari ampunan Allah yang begitu luas.

Cobalah kita lihat pada amalan puasa yang telah kita jalani selama sebulan penuh, di dalamnya terdapat ampunan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.”[1]

Pengampunan dosa di sini bisa diperoleh jika seseorang menjaga diri dari batasan-batasan Allah dan hal-hal yang semestinya dijaga.[2]

Begitu pula pada amalan shalat tarawih, di dalamnya juga terdapat pengampunan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[3]

Barangsiapa yang menghidupkan malam lailatul qadar dengan amalan shalat, juga akan mendapatkan pengampunan dosa sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”[4]

Amalan-amalan tadi akan menghapuskan dosa dengan syarat apabila seseorang melakukan amalan tersebut karena (1) iman yaitu membenarkan pahala yang dijanjikan oleh Allah dan (2) mencari pahala di sisi Allah, bukan melakukannya karena alasan riya’ atau alasan lainnya.[5]

Adapun pengampunan dosa di sini dimaksudkan untuk dosa-dosa kecil sebagaimana pendapat mayoritas ulama.[6] Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ

“Antara shalat yang lima waktu, antara jum’at yang satu dan jum’at berikutnya, antara Ramadhan yang satu dan Ramadhan berikutnya, di antara amalan-amalan tersebut akan diampuni dosa-dosa selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.”[7] Yang dimaksud dengan pengampunan dosa dalam hadits riwayat Muslim ini, ada dua penafsiran:

Pertama, amalan wajib (seperti puasa Ramadhan, -pen) bisa memnghapus dosa apabila seseorang menjauhi dosa-dosa besar. Apabila seseorang tidak menjauhi dosa-dosa besar, maka amalan-amalan tersebut tidak dapat mengampuni dosa baik dosa kecil maupun dosa besar.

Kedua, amalan wajib dapat mengampuni dosa namun hanya dosa kecil saja, baik dia menjauhi dosa besar ataupun tidak. Dan amalan wajib tersebut sama sekali tidak akan menghapuskan dosa besar.[8]

Pendapat yang dianut oleh mayoritas ulama bahwa dosa yang diampuni adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar bisa terhapus hanya melalui taubatan nashuhah (taubat yang sesungguhnya).[9]

Adapun pengampunan dosa pada malam lailatul qadar adalah apabila seseorang mendapatkan malam tersebut, sedangkan pengampunan dosa pada puasa Ramadhan dan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) adalah apabila bulan Ramadhan telah sempurna (29 atau 30 hari). Dengan sempurnanya bulan Ramadhan, seseorang akan mendapatkan pengampunan dosa yang telah lalu dari amalan puasa dan amalan shalat tarawih yang ia laksanakan.[10]

Selain melalui amalan puasa, shalat malam di bulan Ramadhan dan shalat di malam lailatul qadar, juga terdapat amalan untuk mendapatkan ampunan Allah yaitu melalui istighfar. Memohon ampun seperti ini adalah di antara bentuk do’a. Dan do’a orang yang berpuasa adalah do’a yang mustajab (terkabulkan), apalagi ketika berbuka.[11]

Begitu pula pengeluaran zakat fithri di penghujung Ramadhan, itu juga adalah sebab mendapatkan ampunan Allah. Karena zakat fithri akan menutupi kesalahan berupa kata-kata kotor dan sia-sia. Ulama-ulama terdahulu mengatakan bahwa zakat fithri adalah bagaikan sujud sahwi (sujud yang dilakukan ketika lupa, -pen) dalam shalat.[12]

Jadi dapat kita saksikan, begitu banyak amalan di bulan Ramadhan yang terdapat pengampunan dosa, bahkan itu ada sampai penutup bulan Ramadhan. Sampai-sampai Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Tatkala semakin banyak pengampunan dosa di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang tidak mendapati pengampunan tersebut, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan yang banyak.”[13]

Seharusnya Keadaan Seseorang di Hari Raya Idul Fithri Seperti Ini

Setelah kita mengetahui beberapa amalan di bulan Ramadhan yang bisa menghapuskan dosa-dosa, maka seseorang di hari raya Idul Fithri, ketika dia kembali berbuka (tidak berpuasa lagi) seharusnya dalam keadaan bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya bersih dari dosa. Namun hal ini dengan syarat, seseorang haruslah bertaubat dari dosa besar yang pernah ia terjerumus di dalamnya, dia bertaubat dengan penuh rasa penyesalan.

Lihatlah perkataan Az Zuhri berikut, “Ketika hari raya Idul Fithri, banyak manusia yang akan keluar menuju lapangan tempat pelaksanaan shalat ‘ied, Allah pun akan menyaksikan mereka. Allah pun akan mengatakan, “Wahai hambaku, puasa kalian adalah untuk-Ku, shalat-shalat kalian di bulan Ramadhan adalah untuk-Ku, kembalilah kalian dalam keadaan mendapatkan ampunan-Ku.”

Ulama salaf lainnya mengatakan kepada sebagian saudaranya ketika melaksanakan shalat ‘ied di tanah lapang, “Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.”[14]

Selepas Ramadhan, Para Salaf Khawatir Amalannya Tidak Diterima

Para ulama salaf terdahulu begitu semangat untuk menyempurnakan amalan mereka, kemudian mereka berharap-harap agar amalan tersebut diterima oleh Allah dan khawatir jika tertolak. Merekalah yang disebutkan dalam firman Allah,
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.” (Qs. Al Mu’minun: 60)

‘Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Mereka para salaf begitu berharap agar amalan-amalan mereka diterima daripada banyak beramal. Bukankah engkau mendengar firman Allah Ta’ala,
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Ma-idah: 27)”

Dari Fudholah bin ‘Ubaid, beliau mengatakan, “Seandainya aku mengetahui bahwa Allah menerima dariku satu amalan kebaikan sebesar biji saja, maka itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya, karena Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (Qs. Al Ma-idah: 27)”

Ibnu Diinar mengatakan, “Tidak diterimanya amalan lebih ku khawatirkan daripada banyak beramal.”

Abdul Aziz bin Abi Rowwad berkata, “Saya menemukan para salaf begitu semangat untuk melakukan amalan sholih. Apabila telah melakukannya, mereka merasa khawatir apakah amalan mereka diterima ataukah tidak.”

Oleh karena itu sebagian ulama sampai-sampai mengatakan, “Para salaf biasa memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Kemudian enam bulan sisanya, mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.”

Lihat pula perkataan ‘Umar bin ‘Abdul Aziz berikut tatkala beliau berkhutbah pada hari raya Idul Fithri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri. Dikatakan  kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”

Itulah kekhawatiran para salaf. Mereka begitu khawatir kalau-kalau amalannya tidak diterima. Namun berbeda dengan kita yang amalannya begitu sedikit dan sangat jauh dari amalan para salaf. Kita begitu “pede” dan yakin dengan diterimanya amalan kita. Sungguh, teramatlah jauh kita dengan mereka.

Bagaimana Mungkin Mendapatkan Pengampunan di Bulan Ramadhan?

Setelah kita melihat bahwa di bulan Ramadhan ini penuh dengan pengampunan dosa dari Allah Ta’ala, namun banyak yang menyangka bahwa dirinya kembali suci seperti bayi yang baru lahir selepas bulan Ramadhan, padahal kesehariannya di bulan Ramadhan tidak lepas dari melakukan dosa-dosa besar. Sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwa dosa-dosa kecil bisa terhapus dengan amalan puasa, shalat malam dan menghidupkan malam lailatul qadar. Namun ingatlah bahwa pengampunan tersebut bisa diperoleh bila seseorang menjauhi dosa-dosa besar. Lalu bagaimanakah dengan kebiasaan sebagian kaum muslimin yang berpuasa namun menganggap remeh shalat lima waktu, bahkan seringkali meninggalkannya ketika dia berpuasa padahal meninggalkannya termasuk dosa besar?!

Sebagian kaum muslimin begitu semangat memperhatikan amalan puasa, namun begitu lalai dari amalan shalat lima waktu. Padahal dengan sangat nyata dapat kami katakan bahwa orang yang berpuasa namun enggan menunaikan shalat, puasanya tidaklah bernilai apa-apa. Bahkan puasanya menjadi tidak sah disebabkan meninggalkan shalat lima waktu.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin mengatakan, “Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan shalat tidaklah diterima karena orang yang meninggalkan shalat telah melakukan dosa kekafiran dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman Allah Ta’ala,
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (Qs. At Taubah: 11)

Alasan lain adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.”[15]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” [16]“[17] Namun ini nyata terjadi pada sebagian orang yang menunaikan puasa. Mereka begitu semangat menunaikan puasa Ramadhan, namun begitu lalai dari rukun Islam yang lebih penting yang merupakan syarat sah keislaman seseorang yaitu menunaikan shalat lima waktu. Hanya Allah lah yang memberi taufik.

Lalu seperti inikah Idul Fithri dikatakan sebagai hari kemenangan sedangkan hak Allah tidak dipedulikan? Seperti inikah Idul Fithri disebut hari yang suci sedangkan ketika berpuasa dikotori dengan durhaka kepada-Nya? Kepada Allah-lah tempat kami mengadu, semoga Allah senantiasa memberi taufik. Ingatlah, meninggalkan shalat lima waktu bukanlah dosa biasa, namun dosa yang teramat bahaya.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” [18] Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata,  “Tidak ada dosa setelah kejelekan yang paling besar daripada dosa meninggalkan shalat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang bisa dibenarkan.”[19]

Itulah kenyataan yang dialami oleh orang yang berpuasa. Kadang puasa yang dilakukan tidak mendapatkan ganjaran apa-apa atau ganjaran yang kurang dikarenakan ketika puasa malah diisi dengan berbuat maksiat kepada Allah, bahkan diisi dengan melakukan dosa besar yaitu meninggalkan shalat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.”[20] Jika demikian, di manakah hari kemenangan yang selalu dibesar-besarkan ketika Idul Fithri? Di manakah hari yang dikatakan telah suci lahir dan batin sedangkan hak Allah diinjak-injak? Lalu apa gunanya minta maaf kepada sesama begitu digembar-gemborkan di hari ied sedangkan permintaan maaf kepada Rabb atas dosa yang dilakukan disepelekan?

Takbir di Penghujung Ramadhan

Karena begitu banyak pengampunan dosa di bulan Ramadhan, kita diperintahkan oleh Allah di akhir bulan untuk bertakbir kepada-Nya dalam rangka bersyukur kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (Qs. Al Baqarah: 185)

Yang dimaksud dengan takbir di sini adalah bacaan “Allahu Akbar”. Mayoritas ulama mengatakan bahwa ayat ini adalah dorongan untuk bertakbir di akhir Ramadhan. Sedangkan kapan waktu takbir tersebut,  para ulama berbeda pendapat.

Pendapat pertama, takbir tersebut adalah ketika malam idul fithri.
Pendapat kedua, takbir tersebut adalah ketika melihat hilal Syawal hingga berakhirnya khutbah Idul Fithri.
Pendapat ketiga, takbir tersebut dimulai ketika imam keluar untuk melaksanakan shalat ied.
Pendapat keempat, takbir pada hari Idul Fithri.
Pendapat kelima yang merupakan pendapat Imam Malik dan Imam Asy Syafi’i, takbir ketika keluar dari rumah menuju tanah lapang hingga imam keluar untuk shalat ‘ied.
Pendapat keenam yang merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, takbir tersebut adalah ketika Idul Adha dan ketika Idul Fithri tidak perlu bertakbir.[21]

Syukur di sini dilakukan untuk mensyukuri nikmat Allah berupa taufik untuk melakukan puasa, kemudahan untuk melakukannya, mendapat pembebasan dari siksa neraka dan ampunan yang diperoleh ketika melakukannya. Atas nikmat inilah, seseorang diperintahkan untuk berdzikir kepada Allah, bersyukur kepada-Nya dan bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa.

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa sebenar-benarnya takwa adalah mentaati Allah tanpa bermaksiat kepada-Nya, mengingat Allah tanpa lalai dari-Nya dan bersyukur atas nikmat-nikmat Allah, tanpa kufur darinya.[22]

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd. Di penghujung bulan Ramadhan ini, hanyalah ampunan dan pembebasan dari siksa neraka yang kami harap-harap dari Allah yang Maha Pengampun. Kami pun berharap semoga Allah menerima amalan kita semua di bulan Ramadhan, walaupun kami rasa amalan kami begitu sedikit dan begitu banyak kekurangan di dalamnya. Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian). Semoga Allah menjadi kita insan yang istiqomah dalam menjalankan ibadah selepas bulan Ramadhan.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat (Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya setiap kebaikan menjadi sempurna). Wa shallallahu wa salaamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal (www.muslim.or.id)

Seputar Malam Lailatul Qadr

Kajian Salaf Kamis, 16 Agustus 2012 2

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ۝وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ۝لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ۝تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ۝سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ۝

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. al-Qadr: 1-5)

Surat al-Qadr adalah surat ke-97 menurut urutannya di dalam Mushaf. Ia ditempatkan sesudah surat Iqro’. Para ulama al-Qur’an menyatakan bahwa ia turun jauh sesudah turunnya surat Iqra’ tetapi tersimpan rahasia di balik urutan tersebut sehingga antara kedua surat tadi (al-Qadr dan Iqra’) ada keserasian-keserasian yang mengagumkan. Kalau dalam surat Iqra’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan untuk membaca al-Qur’an, maka wajarlah jika surat sesudahnya adalah surat al-Qadr yang berbicara tentang turunnya al-Qur’an dan kemuliaan malam yang terpilih sebagai malam nuzul al-Qur’an[1] (turunnya al-Qur’an).

Syaikh al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan: “Dalam surah yang mulia ini terdapat beberapa keistimewaan Lailatul Qadr sebagai berikut:

  1. Allah menurunkan pada malam tersebut kitab suci al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan kunci kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat.

  2. Allah mengagungkannya dengan bentuk pertanyaan “Dan tahukah kamu, apa Lailatul Qadr itu?”

  3. Malam itu lebih baik daripada seribu bulan.

  4. Para malaikat turun pada malam tersebut dengan membawa kebaikan, rahmat dan barakah.

  5. Malam itu disebut “Salam” (Malam Kesejahteraan) karena banyak hamba Allah yang selamat dari siksaan disebabkan ketaatannya kepada Allah.

  6. Allah menurunkan tentang keutamaan Lailatul Qadr dalam sebuah surah al-Qur’an yang akan dibaca sepanjang masa hingga kiamat tiba.” (Lihat “Majalis Syahri Ramadhan” hal. 253-253 cet. Maktabah Adhwa’ Salaf)


Kita bisa membayangkan seribu bulan yang kurang lebih sebanding dengan 83 (delapan puluh tiga) tahun, padahal umur manusia sedikit sekali yang melebihi itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh. Yang melebihi (umur) itu sangat sedikit sekali. (Hasan. Riwayat Tirmidzi 2/272, Ibnu Majah (4236) dan dihasankan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 11/240 dan al-Albani dalam as-Shahihah no. 757)

Aduhai, alangkah besarnya karunia Allah pada hamba-Nya yang lemah!!

MENGAPA DISEBUT LAILATUL QODR?

Lailatul Qadr diambil dari dua rangkaian kata:

Pertama: Lailat yang berarti malam. Dipilih malam hari, bukan siang menunjukkan keistimewaan waktu malam. Oleh karena itulah, Allah dan rasul-Nya seringkali menyebut waktu malam seperti:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam. (QS. al-Isra’: 1)
وَمِنَ اللَّيْلِ فَسَبِّحْهُ وَأَدْبَارَ السُّجُودِ

Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai shalat. (QS. Qaaf:  40) (Baca juga surat Adz-Dzariyat: 17 dan al-Muzammil: 6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ينزل ربنا تبارك وتعلى كل ليلةٍ إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل

 Allah turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir. (Muttafaq ‘alaihi)

Hal itu karena pada waktu malam terdapat kebeningan hati, keikhlasan dan ketenangan jiwa dari kesibukan. (Lihat “Adhwa’ul Bayan” 9/38 oleh Syaikh Muhammad Amin as-Syinqithi).

Kedua: al-Qadr mempunyai dua arti:

1. Kemuliaan. Malam tersebut adalah mulia yang tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya al-Qur’an dan turunnya para malaikat dengan membawa berkah/kesejahteraan. Makna al-Qdr seperti ini dikuatkan dengan ayat lain yang berbunyi:
وَمَا قَدَرُواْ اللّهَ حَقَّ قَدْرِهِ

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya… (QS. al-An’am: 91)

2. Penetapan. Malam tersebut adalah malam penetapan dan pengaturan Allah bagi perjalanan hidup manusia selama setahun. Makna al-Qadr seperti ini dikuatkan dalam ayat lain yang berbunyi:
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ۝فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ۝أَمْراً مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ۝رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.  (Yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul. sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, (QS. ad-Dukhan: 3-6)

Imam Nawawi rahimahullah berkata: Para ulama menjelaskan: “Dinamakan Lailatul Qadr karena pada malam itu para malaikat menulis segala takdir.” Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari 4/255 mengatakan: “Pendapat ini diriwayatkan oleh Abdur Razaq dan para ahli tafsir lainnya dengan sanad shahih dari Mujahid, Ikrimah, Qatadah dan lain-lain.”

Saya berkata: Tidak ada kontradiksi antara dua pendapat di atas, karena pendapat pertama bahkan mendukungnya, sebab penetapan takdir pada malam itu menambah malam tersebut menjadi mulia. Wallahu A’lam.

KAPANKAH LAILATUL QODR ITU?

Yang jelas, Lailatul Qadr itu jatuh pada setiap bulan Ramadhan karena Allah menginformasikan bahwa al-Qur’an diturunkan pada lailatul Qadr, sedangkan dalam al-Baqarah: 185, Allah menyatakan bahwa al-Qur’an turun di bulan Ramadhan. Firman-Nya:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS. al-Baqarah: 185)

Terutama lagi pada sepuluh hari terakhir sebagaimana hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تحروا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان

Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhari: 2020 dan Muslim: 1169)

Terutama lagi pada sepuluh hari terakhir yang ganjil sebagaimana hadits Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان

Carilah Lailatul Qadr di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. (HR. Bukhari 2017 dan Muslim 1169)

Lebih utamanya lagi pada tujuh (mungkin maksud penulis adalah tiga (3) malam terkahir, -admin) malam ganjil terakhir sebagaimana hadits Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar pada Lailatul Qadr, ternyata ada dua sahabat sedang berdebat, lalu beliau bersabda: “Sebenarnya aku keluar ingin mengabarkan pada kalian tentang Lailatul Qadr tetapi si fulan dan si fulan berdebat sehingga (waktu Lailatul Qadr) dilupakan dariku. Barangkali hal itu lebih baik bagi kalian. Carilah di malam dua sembilan, dua tujuh dan dua lima. (Bukhari: 2023)

Lebih utamanya lagi pada malam dua puluh tujuh berdasarkan hadits Ubai bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
والله اني لأعلم أي ليلة هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين

Sungguh saya tahu malam apakah Lailatul Qadr itu, yaitu malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami supaya menghidupkannya, malam dua puluh tujuh. (Muslim: 762)

Malam ini tidak dapat dikhususkan satu malam saja pada setiap tahun, bahkan bisa jadi berganti-ganti. Misalnya tahun ini malam du puluh tujuh, tahun berikutnya malam dua puluh lima sesuai dengan kehendak Allah. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari 4/266 menjelaskan: “Saya menguatkan bahwa Lailatul Qadr itu pada sepuluh hari terakhir dan berganti-ganti.” Selanjutnya beliau mengatakan: Para ulama mengatakan: “Hikmah tersembunyinya kepastian waktu Lailatul Qadr itu agar manusia bersungguh-sungguh untuk mencarinya. Seandainya kepastian malamnya diberitahu, maka manusia hanya akan bersungguh-sungguh di malam itu saja (sedangkan malam lainnya tidak).”

USAHA MENDAPATKANNYA

Karena begitu agungnya keutamaan malam yang mulia ini, maka hendaknya seorang muslim dan muslimah bersemangat dan berlomba-lomba menghidupkan Lailatul Qadr dengan memperbanyak amal ibadah dan ketaatan seperti shalat, membaca al-Qur’an, shadaqah dan sebagainya di saat mayoritas manusia lalai menyibukkan diri persiapan pakaian baru, kue hari raya dan hiasan rumah. Janganlah Anda lalai seperti mereka!
عن عائشة رضي الله عنها قالت : كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (Ramadhan), maka beliau mengencangkan kainnya (menjauhi istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan para istrinya. (HR. Bukhari: 2024 dan Muslim: 1174)

TANDA-TANDA LAILATUL QODR

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan tanda-tanda Lailatul Qadr agar seorang muslim mengetahuinya. Di antaranya dijelaskan dalam hadits Ubai bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu:
وأما رتها أن تطلع الشمس في صبيحة يومها بيضاء لا شعاء لها

Pagi hari (Lailatul Qadr), matahari terbit putih tidak menyilaukan seperti bejana hingga meninggi. (HR. Muslim: 762)

Dan dijelaskan dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma tanda lainnya sebagai berikut:
ليلة القدر ليلةٌ سمحةٌ طلقةٌ لا حارة ولا باردٌ تصبح الشمس صبيحتها ضعيفةحمراء

Lailatul Qadr adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin. Keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan. (Hasan. Riwayat at-Tayyalisi (349), Ibnu Khuzaimah 3/331 dan al-Bazzar 1/486)

Tetapi hal itu hanyalah tanda saja, tidaklah disyaratkan seorang harus melihatnya sebagaimana diisyaratkan dalam hadits:
من قام ليلة القدر إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه

Barangsiapa yang shalat pada malam Qadr dengan penuh keimanan dan harapan (pahala), niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari: 2014 dan Muslim: 760)

Hadits ini bersifat umum, baik yang mengetahui tandanya maupun tidak. Wallahu a’lam.

DO’A TATKALA MELIHAT LAILATUL QODR

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata: Wahai Rasulullah! Bila aku mendapati Lailatul Qadr, apakah yang saya ucapkan? Nabi bersabda: “Ucapkanlah:
اللهم انك عفوٌ تحب العفو فاعف عني

Ya Allah! Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampun, maka ampunilah aku. (Shahih riwayat Tirmidzi: 3760 dan Ibnu Majah: 3850). Wallahu A’lam

Sumber: Majalah AL FURQON edisi 2 Th III/ Ramadhan 1424 H, hal. 5-7

Ditulis ulang oleh: Abu Yahya







[1] Adapun peringatan Nuzul al-Qur’an yang biasa diselenggarakan oleh mayoritas kaum muslimin sekarang ini, maka hal itu tidak ada dalil yang mendasarinya karena memang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi, para sahabatnya serta para ulama salaf. Semua itu adalah bid’ah yang diada-adakan.  Dan setiap bid’ah adalah sesat sekalipun dianggap baik oleh mayoritas manusia.


Sudah Meninggal Namun Pahala Amal Terus Mengalir

Kajian Salaf Rabu, 01 Agustus 2012 0

Dari Anas  radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ada tujuh hal yang pahalanya akan tetap mengalir bagi seorang hamba padahal dia sudah terbaring dalam kuburnya setelah wafatnya(yaitu) : Orang yang mengajarkan suatu ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanamkan kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf atau meninggalkan anak yang memohonkan ampun buatnya setelah dia meninggal. [1]

Sungguh di antara nikmat agung Allah yang diberikan kepada para hamba-Nya yang beriman adlah Allah menyediakan pintu-pintu kebaikan yang sangat banyak bagi mereka. Pintu-pintu kebaikan yang bisa dikerjakan oleh seorang hamba yang mendapatkan taufiq semasa hidupnya di dunia, namun pahalanya akan terus mengalir sepeninggal si pelaku. (aliran pahala ini sangat dibutuhkan oleh orang yang sudah meninggal.) Karena orang yang sudah meninggal  itu tergadai, mereka tidak bisa lagi beramal dan mereka akan diminta pertanggung jawab lalu diberi balasan dari perbuatan-perbuatan yang pernah mereka lakukan dalam hidup mereka.  (Berbahagialah!) orang yang mendapatkan taufiq (dalam hidupnya, karena) di dalam kuburnya kebaikan-kebaikan, pahala dan keutamaan akan terus mengalir baginya. Dia sudah tidak lagi beramal akan tetapi pahalanya tidak terputus, derajatnya bertambah, dan kebaikannya semakin berkembang, serta pahalanya berlipat ganda padahal dia sudah terbaring kaku dalam kuburnya.

Alangkah mulianya; Alangkah indah dan alangkah nikmatnya. (Semoga Allah menganugerahkan akhir kehidupan yang baik bagi kita semua).

(Bagaimanakah menggapai harapan setiap insan beriman itu?) Dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tujuh perkara yang pahalanya akan terus mengalir kepada seorang hamba setelah ia meninggal.

Wahai saudaraku! Renungkanlah sejenak amalan-amalan ini lalu berusahalah untuk mendapatkan bagian darinya selama engkau masih diberi kesempatan di dunia. Bergegaslah untuk mengerjakannya sebelum umurmu habis dan ajal datang menjemput!

Berikut ini adalah sedikit penjelasan tentang amalan-amalan tersebut :

PERTAMA : MENGAJARKAN ILMU

Kata ilmu yang dimaksudkan disini adalah ilmu bermanfaat yang bisa mengantarkan seseorang agar mengerti tentang agama mereka, bisa mengenalkan Rabb dan sesembahan mereka; ilmu yang bisa menuntun mereka ke jalan yang lurus; ilmu yang dengannya bisa membedakan antara petunjuk dan kesesatan, kebenaran dan kebathilan, serta halal dan haram. Dari sini, nampak jelas besarnya keutamaan para Ulama yang selalu memberi nasehat dan para da’i yang ikhlas. Merekalah (ibarat) pelita bagi manusia, penyangga negara, pembimbing umat dan sumber hikmah. Hidup mereka merupakan kekayaan dan kematian mereka adalah musibah. Karena mereka mengajari orang-orang yang tidak tahu, mengingatkan yang lalai, serta menerangkan petunjuk kepada orang yang sesat. Ketika salah seorang dari para Ulama meninggal dunia, maka ilmunya akan tetap abadi terwariskan di tengah masyarakat, buku karya dan perkataannya akan senantiasa beredar. Masyarakat bisa memanfaatkan dan mengambil faidah dari buah karya mereka. (Dengan sebab inilah) pahala akan terus mengalir, meski mereka sudah berada dalam kuburan.



Dahulu banyak orang mengatakan, “Seorang yang berilmu meninggal dunia sementara kitabnya masih ada.” Namun sekarang, suaranya (pun) terekam dalam pita-pita kaset (atau kepingan CD) yang berisi pelajaran-pelajaran ilmiyah, ceramah dan khuthbah-khuthbah yang sarat dengan manfaat, sehingga generasi-generasi yang datang setelahnya bisa mengambil manfaat darinya.

Orang yang berpartisipasi dalam mencetak buku-buku yang bermanfaat, dan menyebarkan buku-buku karya para Ulama yang sarat dengan faedah serta membagikan kaset-kaset ilmiyah maka dia juga mendapatkan pahala yang besar dari sisi Allah.

KEDUA : MENGALIRKAN SUNGAI

Maksudnya adalah membuat aliran-aliran sungai dari mata air dan sungai induk, supaya airnya bisa sampai ke pemukiman masyarakat serta sawah ladang mereka. Dengan demikian, manusia akan terhindar dari dahaga, tanaman tersirami, serta binatang ternak mendapatkan air minum.



Betapa pekerjaan besar ini akan menghasilkan begitu banyak kebaikan manusia dengan membuat kemudahan dalam mengakses air yang merupakan unsur terpenting dalam kehidupan. Semisal dengan ini yaitu mengalirkan air ke pemukiman masyarakat melalui pipa-pipa , begitu pula menyediakan tendon-tandon air di jalan-jalan dan tempat-tempat yang mereka butuhkan.

KETIGA : MENGGALI SUMUR

Ini sama dengan penjelasan di atas. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu , Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Suatu ketika ada seorang lelaki yang menahan dahaga yang teramat berat berjalan di jalan, lalu dia menemukan sumur. Dia turun ke sumur itu lalu minum kemudian keluar. Sekonyong-konyong dia mendapati seekor anjing terengah menjulurkan lidahnya menjilat tanah karena sangat hausnya. (Melihat pemandangan ini,) lelaki itu mengatakan, “Anjing ini telah dahaga yang sama dengan yang aku rasakan.’ Lalu dia turun ke sumur itu dan memenuhi sepatunya dengan air lalu diminumkan ke anjing tersebut. Maka (dengan perbuatan itu) Allah bersyukur untuknya dan memberikan maghfirah (ampunan)-Nya. Para Sahabat bertanya, “Apakah kita bisa mendapatkan pahala dalam (pemeliharaan) binatang?” Rasulullah menjawab, “Ya, pada setiap nyawa itu ada pahala.”[2]



Ini pahala yang didapatkan oleh orang yang memberikan minum, lalu bagaimana dengan orang yang menggali sumur yang dengan keberadaannya akan tercukupi kebutuhan minum banyak orang dan bisa dimanfaatkan oleh banyak orang.

KEEMPAT : MENANAM POHON KURMA

Telah diketahui bersama bahwa pohon kurma merupakan pohon termulia dan memiliki banyak manfaat buat manusia. Maka barangsiapa menanam pohon kurma dan mendermakan buahnya untuk kaum Muslimin, maka pahalanya akan terus mengalir setiap kali ada orang memakan buahnya atau setiap kali ada yang memanfaatkannya baik manusia maupun hewan. Ini juga berlaku bagi siapa saja yang menanam segala macam pohon yang bermanfaat bagi manusia. Penyebutan kurma dalam hadits di atas secara khusus disebabkan keutamaan dan keistimewaan yang dimiliki oleh pohon  tsbt



KELIMA : MEMBANGUN MASJID

Masjid merupakan tempat yang paling dicintai Allah. Sebuah tempat yang Allah perintahkan untuk diangkat dan disebut nama-Nya di sana. Apabila masjid telah dibangun maka di sana akan dilaksanakan shalat, dibaca ayat-ayat al-Qur’an, nama-nama Allah akan disebut, ilmu-ilmu akan diajarkan, serta bisa menjadi tempat berkumpulnya kaum muslimin, masih banyak faedah-faedah yang lain. Masing-masing poin itu bisa menghasilkan pahala.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan Dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa yang membangun masjid untuk mencari wajah Allah, maka Allah akan membangunkannya rumah yang sama di surga [3]

KEENAM : MEWARISKAN AL-QUR’AN

Ini bisa dilakukan dengan cara mencetak atau membeli mushaf al-Qur’an lalu mewakafkannya di masjid-masjid dan majlis-majlis ilmu agar bisa dimanfaatkan oleh kaum muslimin. Orang yang mewakafkan mushaf  al-Qur’an akan mendapatkan pahala setiap kali ada orang yang membacanya, mentadabburi maknya dan mengamalkan kandungannya.



KETUJU : MENDIDIK ANAK-ANAK

Memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak serta berusaha maksimal membesarkan mereka dalam ketaqwaan dan kebaikan. Sehingga diharapkan, mereka akan menjadi anak-anak yang berbakti dan shalih, yang mendoakan kebaikan untuk kedua orang tua mereka, dan memohonkan rahmat serta ampunan buat kedua mereka. Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa sesungguhnya ini termasuk hal-hal yang masih bermanfaat bagi seseorang meski ia sudah menjadi mayit.



Senada dengan hadits di awal yaitu hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya diantara amal dan kebaikannya yang akan menyertai seorang Mukmin setelah meninggalnya adalah ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak shalih yang ditinggalkannya, mushaf yang diwariskannya, masjid dibangun, rumah persinggahan yang dibangun bagi orang yang sedang menempuh perjalanan, sungai yang dialirkannya, sedekah yang dia keluarkan dari hartanya saat masih sehat dan hidup akan menyertainya sampai meninggalnya.[4]

Juga hadits dari Abu Umamah al-Bahili  dari Rasulullah: Ada empat hal yang pahalanya tetap mengalir bagi pelakunya setelah meninggalnya (yaitu) orang yang meninggal saat menjaga perbatasan dalam jihad fisabilillah, orang yang mengajarkan ilmu dia akan tetap diberi pahala selama ilmunya itu diamalkan; Orang yang bersedekah maka pahalanya akan tetap mengalir selama sedekah itu masih ada; dan orang yang meninggalkan anak shalih yang mendo’akannya.[5]

Juga hadits yang sangat populer yaitu hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Apabila seseorang sudah meninggal maka seluruh amalannya terputus kecuali dari tiga perkara (yaitu) dari sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak shalih yang mendoakannya.[6]

Ketika menjelaskan maksud dari shadaqah jariyah, sekelompok para Ulama mengatakan bahwa maksudnya adalah wakaf. Sebagian besar dari perkara-perkara yang dipaparkan di atas termasuk shadaqah jariyah.

Dan sabdanya yang artinya : rumah yang dibangun untuk orang yang sedang melakukan perjalanan. Di dalam potongan sabda beliau ini terdapat isyarat keutamaan membangun rumah dan mewakafkannya agar bisa dimanfaatkan oleh kaum Muslimin secara umum, baik ibnu sabil, para penuntut ilmu, anak-anak yatim, para janda ataupun orng-orang fakir dan miskin. Alangkah banyak kebaikan dan kemaslahan yang terealisasik dengan hal ini. Terkadang hal-hal tersebut diatas memancing munculnya berbagai amalan-amalan yang penuh barakah yang akan tetap menghasilkan pahala bagi pelakunya meskipun dia sudah meninggal dunia.

Akhirnya kita memohon kepada Allah agar Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita untuk melakukan semua kebaikan dan agar Allah senantiasa membantu kita dalam melakukan berbagai aktivitas kebaikan dan senantiasa membimbing kita dalam meniti jalan petunjuk. []

Diterjemahkan dari al-Fawaid al-Mantsurah, hlm. 11-15

Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi, 11 thn. XV Rabi’ul Akhir 1433H Maret 2012M







[1] Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Kasyful Astar, hlm. 149. hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dan shahihul Jami’, no. 3602.




[2]   HR. al-Bukhari, no. 2466 dan Muslim, no. 2244




[3]   HR. al-Bukhari, no. 450 dan Muslim, no. 533




[4]   HR. Ibnu Majah, no. 242. hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan Ibni Majah, no. 198.




[5]   HR. Ahmad (5/260-261); ath-Thabrani, no. 7831. hadits ini dinilai hasan Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami, no. 877




[6]   HR. Muslim, no. 1631

Artikel: www.ibnuabbaskendari.wordpress.com