Header ads

Kajian Salaf Cara Untuk Mencapai Kebahagiaan dan Ketenangan Hidup

Kajian Salaf Kamis, 31 Mei 2012 4

Banyak cara dilakukan manusia untuk meraih kebahagiaan. Sebagian mereka beranggapan bahwa kebahagiaan bisa diraih dengan banyaknya harta, kedudukan yang terpandang, dan popularitas yang pantang surut. Tak heran bila manusia berlomba-lomba mendapatkan itu semua, termasuk dengan menggunakan segala cara. Lantas apakah bila seseorang sudah menjadi kaya raya, terpandang, dan terkenal otomatis menjadi orang yang selalu bahagia? Ternyata tidak!


Saudaraku… ketahuilah. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, merekalah yang sebenarnya merasakan manisnya kehidupan dan kebahagiaan karena hatinya yang selalu tenang, berbeda dengan orang-orang yang lalai dari Allah yang selalu merasa gelisah. Walaupun mungkin engkau melihat kehidupan mereka begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan harta. Namun jika engkau melihat jauh, engkau akan mengetahui bahwa merekalah orang-orang yang paling berbahagia.


Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan

dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya

akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”

(Q.S. an-Nahl : 97)


Para ulama salaf berkata,

“Seandainya para raja dan pangeran

mengetahui (kenikmatan hidup) yang kami rasakan

(karena memahami dan mengamalkan agama Allah),

niscaya mereka akan berusaha merebut kenikmatan tersebut dari kami

dengan pedang-pedang mereka”


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata,

"Sesungguhnya di dunia ini ada jannnah (surga),

barangsiapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia ini,

maka dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti."




Marilah kita simak bersama rekaman kajian spesial, bedah buku "Meraih Kebahagiaan Tanpa Batas" oleh Ustadz Abu Ihsan al-Atsari al-Maidany. Kajian ini diselenggarakan di Masjid Abu Bakar ash-Shiddiq yang beralamat di Jalan Akasia, depan pom bensin Perumahan Pondok Maharta, Kelurahan Tajur, Ciledug.
Semoga bermanfaat dan selamat menyimak.





Sesi 1



Sesi 2



Tanya Jawab




sumber: www.study-islam.web.id

Adab Islam Dalam Menaiki Kendaraan

Kajian Salaf Rabu, 23 Mei 2012 0

Melihat perkembangan zaman yang sangat pesat, maka nikmat Allah yang diberikan kepada manusia begitu banyak sehingga mereka pun bisa membuat berbagai macam dan ragam kendaraan. Dahulu mereka cuma mengendarai binatang-binatang berupa keledai, kuda, dan lainnya. Kemudian mereka wujudkan semua itu dalam bentuk kendaraan yang lebih bagus, lebih kuat, lebih indah dan lebih cepat dengan adanya sepeda, motor, mobil, pesawat, dan lainnya. Allah -Ta’ala- berfirman,
وَالْخَيْلَ وَالْبِغالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوها وَزِينَةً وَيَخْلُقُ مَا لا تَعْلَمُونَ

“Dan (Dia Telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya”. (QS. An-Nahl: 8).

Dengan adanya berbagai macam nikmat tersebut, hendaklah kita -sebagai orang-orang yang beriman-, senantiasa mengingat dan mensyukuri nikmat-nikmat tersebut. Bukan hanya mengingat bagaimana nikmatnya naik kendaraan, cepatnya sampai ke tujuan, dan bukan pula karena bagusnya kendaraan tersebut. Bahkan seyogyanya kita mengingat dan mensyukuri nikmat tersebut.

Oleh karena itu, perlu kita ingat bahwa dalam berkendaraan pun terdapat adab-adab. Nah, sebagai bukti kesyukuran kita terhadap nikmat-nikmat itu, maka kita dituntut untuk mengamalkan beberapa adab-adab yang syar’i ketika berkendaraan:

 

Mengingat Allah dan Berdo’a Saat Berkendaraan

Seorang dianjurkan ketika awal memulai perjalanan agar membaca do’a naik kendaraan yang pernah diajarkan oleh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada ummatnya. Hikmahnya agar kita selalu mengingat Allah yang telah menganugrahkan dan menundukkan bagi kita kendaraan tersebut. Adapun lafazh do’a naik kendaraan, berikut nashnya:

Ali bin Robi’ah berkata, Aku menyaksikan Ali -radhiyallahu ‘anhu- ; didatangkan suatu kendaraan (kepadanya) agar ia mengendarainya. Tatkala ia menginjakkan kakinya pada kendaraan, ia berkata, “Bismillah“. Tatkala beliau berada di atas punggungnya, beliau berkata, “Alhamdulillah“. Kemudia beliau berdo’a,

Subhaanalladzi sakhkharo lanaa haadza wamaa kunna lahu muqriniin

Kemudian beliau mengucapkan, “Alhamdulillah” sebanyak tiga kali ; lalu mengucapkan,”Allahuakbar” sebanyak tiga kali. Lalu berdo’a,
سُبْحَانَكَ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فاَغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَايَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ

Lalu Ali bin Abi Tholib tertawa. Beliau ditanya, “Kenapa Anda tertawa?” Beliau menjawab, “Aku telah melihat Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah melakukan apa yang aku lakukan, lalu beliau tertawa…”. [HR. Abu Dawud (2602), At-Tirmidziy (3446), dan An-Nasa'iy dalam Al-Kubro (8799, 8800, & 10336). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy Al-Atsariy dalam Mukhtashor Asy-Syama'il Al-Muhammadiyyah (198)]

Tidak Melanggar Peraturan ketika Berkendaraan

Wajib bagi kita untuk menaati peraturan-peraturan yang berlaku ketika berkendaraan, seperti memakai helm pada tempat-tempat yang diwajibkan memakai helm, mempunyai surat-surat yang diperlukan ketika berkendaraan (SIM & STNK), berhenti ketika melihat lampu merah, dan lain-lain. Semua hal tersebut adalah kewajiban kita sebagai pengendara dan sebagai bentuk ketaatan kepada penguasa. Dalilnya adalah firman Allah,

 

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu”. (QS. An-Nisaa’: 56).

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Wajib Bagi seorang muslim untuk mendengar dan mentaati (penguasa) dalam perkara yang ia cintai dan ia benci selama ia tidak diperintahkan (melakukan) suatu maksiat. Jika ia diperintahkan bermaksiat, maka tak boleh mendengar dan taat (kepada penguasa)”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Ahkam (4/no. 6725) & Kitab Al-Jihad (107/no. 2796), Muslim (1839)]

Al-Imam Abul ‘Ula Al-Mubarokfuriy-rahimahullah- berkata, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa jika penguasa memerintahkan perkara yang mandub (sunnah), dan mubah (boleh), maka wajib (ditaati). Al-Muthohhar berkata, “Maksudnya, mendengarkan dan mentaati ucapan penguasa adalah perkara wajib atas setiap muslim, sama saja apakah penguasa memerintahkannya untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya ataukah tidak. Tapi dengan syarat penguasa tidak memerintahkannya untuk berbuat maksiat. Jika ia diperintahkan berbuat maksiat, maka tidak boleh taat kepadanya (saat itu, –pent). Namun tak boleh baginya memerangi penguasa”. [Lihat Tuhfah Al-Ahwadziy (5/298)]

Jika penguasa memerintahkan pakai helm atau SIM dan STNK, maka wajib bagi seorang muslim untuk mentaatinya, walaupun memakai helm, membuat SIM, dan STNK pada asalnya adalah mubah. Namun ketika penguasa memerintahkannya, maka hukumnya berubah menjadi wajib. Jadi, memakai helm, atau SIM dan STNK saat berkendaraan adalah perkara yang wajib.

Seorang ulama kota Madinah dan mantan Rektor Islamic University of Madinah, Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad -hafizhahullah- dalam suatu majelisnya pernah menjelaskan bahwa mentaati lampu merah dan rambu-rambu yang dibuat oleh pemerintah di jalan-jalan adalah wajib, sekalipun hukum asalnya adalah mubah. Tapi hukumnya berubah karena ada perintah dari penguasa. Sedang jika penguasa memerintahkan sesuatu yang mubah atau sunnah, maka hukum perkara itu jadi wajib berdasarkan ayat dan hadits di atas !!

Tidak Ugal-ugalan di Jalan Raya

Seseorang hendaklah memperhatikan keselamatan dirinya dan keselamatan orang lain ketika berkendara. Jangan sampai kita menjadi sebab tertumpahnya darah seseorang serta rusaknya harta saudara kita. Padahal Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
إِنَّ دِمَاؤَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِيْ شَهْرِكُمْ هَذَا فِيْ بَلَدِكُمْ

“Sesungguhnya darah dan harta kalian adalah haram (mulia) atas kalian seperti haramnya hari kalian ini, di bulan kalian ini, di negeri kalian ini”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (1218)]

Jadi, darah dan harta seorang muslim adalah haram kita ganggu, apalagi ditumpahkan dan dirusak, karena harta dan darah seorang muslim memiliki kemuliaan di sisi Allah.

Ada kebiasaan buruk menimpa sebagian tempat di Indonesia Raya, adanya sebagian pemuda yang ugal-ugalan memamerkan “kelincahan” (baca: kenakalan) mereka dalam mengendarai motor atau mobil di jalan raya. Ulah ugal-ugalan seperti ini bisa mengganggu, dan membuat takut bagi kaum muslimin yang berseliweran, dan berada dekat dengan TKP (tempat kejadian peristiwa). Bahkan terkadang mereka menabrak sebagian orang sehingga orang-orang merasa kaget dan takut lewat, karena mendengar suara dentuman knalpot mereka yang dirancang bagaikan suara meriam. Padahal di dalam Islam, Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarang kita mengagetkan seorang muslim.

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda ketika menegur sebagian sahabat yang menyembunyikan tongkat saudaranya sehingga ia panik,
لَايَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Tidak halal bagi seorang muslim untuk membuat takut seorang muslim”. [HR. Abu Dawud (5004). Di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ghoyah Al-Maram (447)]

Kagetnya sahabat yang tertidur ini akibat ulah temannya, jika dibanding dengan kaget, dan takutnya kaum muslimin yang lewat atau berada di lokasi balapan, maka kita bisa pastikan bahwa balapan liar seperti ini, hukumnya haram. Apalagi pemerintah sendiri melarang hal tersebut, karena menelurkan bahaya bagi diri mereka, dan masyarakat !!

Merawat Kendaraan dan tidak Membebani Melebihi Kapasitasnya

Kendaraan adalah nikmat dari Allah, maka hendaklah kita merawatnya dengan baik dan bukan sekedar hanya memakainya sesuka hati. Sebagaimana binatang ternak yang kita miliki, kita tak boleh membebaninya lebih dari kemampuannya. Diantara wujud kesyukuran kita kepada Allah, kita harus menyayangi kendaraan –apakah berupa hewan atau bukan-, dan tidak membebaninya lebih kemampuannya.

Seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Ja’far -radhiyallahu ‘anhu- pernah berkata, “Beliau masuk kedalam kebun laki-laki Anshar. Tiba tiba ada seekor onta. Tatkala Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melihatnya, maka onta itu merintih dan bercucuran air matanya. Lalu Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatanginya seraya mengusap dari perutnya sampai ke punuknya dan tulang telinganya, maka tenanglah onta itu. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah pemilik onta ini, Onta ini milik siapa?” Lalu datanglah seorang pemuda Anshar seraya berkata, “Onta itu milikku, wahai Rasulullah”. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,
أَفَلَا تَتَّقِي اللهَ فِيْ هَذِهِ الْبَهِيْمَةِ الَّتِى مَلَكَّكَ اللهُ إِيَّاهَا فَإِنَّهُ شَكَى إِلَيَّ أَنَّكَ تُجِيْعُهُ وَتُدْئِبُهُ

“Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam binatang ini, yang telah dijadikan sebagai milikmu oleh Allah, karena ia (binatang ini) telah mengadu kepadaku bahwa engkau telah membuatnya letih dan lapar”. [HR.Muslim dalam Shohih-nya (342),dan Abu Dawud dalam As-Sunan ( 2549 ).

Jadi, seorang muslim tidak boleh membebani kendaraan lebih dari kemampuannya, sehingga ia letih atau rusak. Kita juga harus memperhatikan bensinnya, dan olie-nya sebagaimana halnya jika kendaraan berupa hewan, maka kita harus memperhatikan makanan, dan perawatannya. Kendaraan yang kita miliki harus kita rawat dengan baik; jangan dibiarkan terparkir di bawah terik matahari, tapi carilah naungan baginya. Jangan kalian bebani melebihi kapasitas kemampuan yang telah ditetapkan baginya.

Memperlambat Laju Kendaraan ketika Berjalan di Jalan yang Sempit (Lorong) dan Mempercepat ketika Berjalan di Jalan yang Lapang

Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda ketika menegur seorang sahabat yang cepat dan tergesa-gesa dalam menuntun perjalanan para wanita yang menyertai Nabi -Shallallahu 'alaihi wa sallam- berhaji,
وَيْحَكَ يَا أَنْجَشَةُ رُوَيْدَكَ سَوْقَكَ بِالْقَوَارِيْرِ

"Wahai Anjasyah, celaka engkau ! Pelanlah engkau dalam menuntun para wanita". [HR. Al-Bukhoriy (6149, 6161, 6202, & 6209), dan Muslim (2323)]

Al-Imam An-Nawawiy-rahimahullah- berkata saat menyebutkan penafsiran ulama tentang makna hadits ini, “Sesungguhnya yang dimaksudkan hadits ini adalah pelan dalam berjalan, karena jika onta mendengar al-hida’ (nyanyian hewan), maka ia akan cepat dalam berjalan; onta akan merasa senang, dan membuat penumpangnya kaget, dan penat. Maka Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- melarangnya dari hal itu (al-hida’), karena para wanita akan lemah saat kerasnya gerakan, dan beliau khawatir tersakitinya para wanita dan jatuhnya mereka”. [Lihat Syarh Shohih Muslim (15/81)]

Maka sepantasnya ketika berkendaraan, kita tenang dan tidak terburu-buru, karena terburu-buru itu datangnya dari setan. Boleh mempercepat kendaraan jika tidak melampaui batas sehingga ia dianggap terburu-buru, jika ada kemaslahatan, dan tidak menimbulkan kerugian dan bahaya.

Memberi Hak kepada Jalanan

Jalanan juga mempunyai hak-hak untuk kita penuhi. Karena itu, Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- berwasiat kepada para sahabatnya ketika seseorang duduk di pinggir jalan, “Waspadalah kalian ketika duduk di jalan-jalan”. Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, kami harus berbicara di jalan-jalan. Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Jika kalian enggan, kecuali harus duduk, maka berikanlah haknya jalan”. Mereka bertanya, “Apa haknya jalan?” Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
غَضُّ الْبَصَرِ وَكَفُّ الْأَذَى وَرَدُّ السَّلَامِ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

“(Haknya jalan adalah) menundukkan pandangan, menghilangkan gangguan, menjawab salam, memerintahkan yang ma’ruf, dan mencegah yang mugkar“. [HR. Al-Bukhoriy (6229), dan Muslim (2121)]

Jadi, haknya jalanan ada 5: menundukkan pandangan dari melihat perkara haram (seperti melihat kecantikan wanita yang bukan mahram), menghilangkan gangguan apa saja (misalnya, tidak buang sampah & kotoran di jalan, tidak menggoda wanita, tidak menyakiti orang lain, dan lainnya); demikian pula menjawab salam orang yang mengucapkan salam kepada kita dari kalangan kaum muslimin; memerintahkan yang ma’ruf (misalnya, mengingatkan waktu sholat, mengajak bersedekah, dan lainnya); mencegah yang mungkar (misalnya, melarang para pemuda balapan liar, melarang orang bermaksiat di jalan, dan lainnya). Wallahu a’lam.

Tabligh Akbar "Tamasya ke Taman Surga 2" Bersama Syaikh Dr. Syadi (Padang, Mei 2012)

Kajian Salaf Selasa, 22 Mei 2012 0

Hadirilah Kajian Islam

DAURAH PADANG, 25-27 Mei 2012


"Tamasya ke Taman Surga #2"
bersama
Syaikh Dr. Syadi Mohammad Salim An-Nu'many
(Ulama Ahli Hadits Negara Yaman)

Penerjemah:
Ustadz Abul Abbas Thobroni
(Alumnus Darul Hadits Yaman)

insya Allah akan diselenggarakan pada:

Hari: Jum'at, 25 Mei 2012
Pukul: 08.00 - 17.30
Tempat: Masjid Nurul Islam
Alamat: Jalan Surabaya, Kompleks. Asratek Ulak Karang
Materi: "Manajemen Waktu Para Ulama"

Hari: Sabtu, 26 Mei 2012
Pukul: 08.00 - 17.30
Tempat: Masjid Jabal Rahmah
Alamat: Komplek Semen Padang, Indarung
Materi: "Ma'rifatullah (Mengenal Allah Lebih Dekat)"

Hari: Ahad, 27 Mei 2012
Pukul: 08.00 - 15.00
Tempat: Masjid Jami'atul Huda
Alamat: Jalan By Pass, Simpang 4 By Pass Unand, Kelurahan Pasa Ambacang, Kuranji
Materi: "Tolak Bala Menurut Islam"

Penyelenggara:
Forsil Unand - Forum Studi Islam Mahasiswa Universitas Andalas

Informasi:
Genta - 0853 6308 1764
Ridho - 0852 7474 0791
Yingki - 0852 7439 5471

Tabi’in Senior dari Yaman -Thawus bin Kaisan rahimahullah

Kajian Salaf Senin, 21 Mei 2012 0

Beliau adalah Abu Abdirrahman Thawus bin Kaisan al-Yamani al-Himyari maula Bakhir bin Kuraisan al-Himyari, termasuk keturunan bangsa Persia. Ibu beliau dari keturunan Persia, sedang ayah beliau dari Qasith.


Beliau termasuk kibaar at-taabi’iin, sangat dikenal dalam memberi wasiat dan nasihat, dan tidak gentar dalam meluruskan setiap kesalahan. Sebab itu, beliau banyak disegani oleh setiap kaum muslimin sampaipun oleh para raja dan khalifah kaum muslimin.


Ada yang berkata bahwa nama asli beliau adalah Dzakwan, sedangkan Thawus adalah nama julukan. Diriwayatkan dari Yahya bin Ma’in ia berkata, “Beliau dijuluki Thawus (burung merak) karena beliau banyak menimba ilmu (berkeliling) kepada para qurraa’ (ahli qiraah).” [Tahdzibul Kamal 13/357]


Beliau lahir di zaman para sahabat, sehingga beliau banyak berjumpa dan menimba ilmu dari para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, di antaranya adalah Jabir bin Abdillah, Abdullah bin Abbas, Mu’adz bin Jabal, Abdullah bin Umar, Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhum, dan para kibaar ash-shahaabah lainnya. Bahkan beliau juga menimba ilmu kepada Ummul Mukminin Aisyah radhiyallaahu ‘anhaa.


Demikian ilmu dan pemahaman yang beliau dapatkan dari para pendahulunya itu pun beliau ajarkan kepada orang-orang yang setelahnya, karena merekalah para penerus dakwah. Sebut saja di antara murid-murid beliau yang ternama seperti Wahb bin Munabbih, Atha’ bin Abi Rabah, Amr bin Dinar, Mujahid, Laits bin Abi Salim –rahimahumullaah-, dan yang lainnya.


 Berkata adz-Dzahabi rahimahullaah, “Aku berpendapat bahwa beliau dilahirkan pada masa khilafah Utsman radhiyallaahu ‘anhu atau sebelum itu.” [Siyar A’lam an-Nubala’ 5/38]


Diriwayatkan dari Abdul Malik bin Maisarah dari Thawus rahimahullaah ia mengatakan, “Sungguh aku bertemu dengan 50 orang sahabat-sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.” [Tahdzibut Tahdzib 5/9]


PUJIAN ULAMA KEPADA BELIAU

Beliau memiliki bagian yang banyak dalam hal mengambil ilmu dan mengajarkan kepada umat, yang dengan itulah nama beliau tidak asing bagi para penuntut ilmu.


Berkata Ibnu Hibban rahimahullah, “Thawus adalah ahli ibadah penduduk Yaman, ahli fiqih mereka, dan termasuk salah satu pembesar tabi’in.” [Ats-Tsiqat 4/391]


Berkata Hubaib bin asy-Syahid rahimahullaah, “Aku berada di sisi Amr bin Dinat lalu disebutlah perihal Thawus, lalu ia (Amr bin Dinar) mengatakan, ‘Aku tidak melihat seorang pun yang semisal Thawus.’” [Al-Jarh wat Ta’dil 4/2203]


Dari Utsman bin Sa’id rahimahullaah ia berkata, “Aku berkata kepada Yahya bin Ma’in, ‘Apakah Thawus lebih engkau cintai atau Sa’id bin Zubair?’ Beliau menjawab, ‘Ia seorang yang tsiqah yang tidak diperbandingkan.’”


Atha’ bin Abi Rabah [lihatt biografi beliau pada majalah AL-FURQON edisi 107] rahimahullaah meriwayatkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallaahu ‘anhumaa bahwa beliau mengatakan, “Sungguh aku menyangka bahwa Thawus adalah termasuk penduduk surga.” [Siyar A’lam an-Nubala’ 5/39]


POTRET KEPRIBADIAN BELIAU

1. Dalam ibadah

Di antara beberapa nukilan dari para ulama kita tentang kesungguhan beliau dalam ibadah dan menghambakan diri di hadapan Allah ‘azza wa jalla di antaranya:


Berkata Abdurrahman bin Abi Bakr al-Makki rahimahullaah, “Aku melihat Thawus dan di antara kedua mata beliau tampak bekas sujud.” [Siyar A’lam an-Nubala’ 5/44]


Dari Ibnu Syu’dzib rahimahullaah ia berkata, “Aku menyaksikan jenazah Thawus di Makkah pada tahun 150 H, manusia menyebut-nyebut dan memuji beliau. Semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati Abu Abdirrahman, ia telah berhaji sebanyak 40 kali.” [Siyar A’lam an-Nubala’ 5/45]


Dari Dawud bin Ibrahim rahimahullaah, ia menceritakan bahwa suatu hari seekor singa menghalangi jalan kaum muslimin. Seluruh manusia melakukan ronda di malam tersebut dan di waktu sahur singa tersebut baru meninggalkan tempat tersebut, maka semua manusia –baik di kanan maupun di kiri- merebahkan tubuh-tubuh mereka dan tertidur. Maka berdirilah Thawus untuk qiyamul lail (shalat malam), hingga ada seorang yang menegur beliau, “Apakah engkau tidak tidur, bukankah semalaman berjaga malam?” Thawus mengatakan, “Akankah seorang muslim tidur di waktu sahur seperti ini dan tidak ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla ... ??” [Hilyatul Auliya’ 4/14]


2. Dalam zuhud

Berkata Abu Ashim an-Nabil rahimahullaah, “Telah datang putra mahkota, yaitu putra dari Sulaiman bin Abdil Malik, ia datang dan duduk di dekat Thawus, namun beliau tidak menoleh kepdanya sedikit jpun. Lalu seseorang menegur beliau, “Telah datang di sisimu putra dari Amirul Mukminin, tetapi mengapa engkau tidak menoleh kepadanya ...?!” Beliau menjawab, “Aku ingin mengajarkan bahwa hendaknya seorang hamba bersikap zuhud dari apa yang ada di hadapannya.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 5/526)


Dari Abdullah bin Bisry, ia menceritakan bahwa Thawus al-Yamani memiliki dua jalan untuk menuju masjid, satu jalan melewati pasar dan ada satu jalan yang lain. Sehari ini beliau lewat jalan ini dan jalan yang lain pada hari berikutnya, apabila beliau memilih jalan yang melewati pasar hingga melihat kepala-kepala manusia tenggelam dalam dunia dan kehinaan, maka beliau tidak bisa tidur di malam harinya.” (Hilyatul Auliya’ 4/4)


Dari Ibnu Thawus rahimahullaah ia berkata, “Aku mengatakan kepada ayahku (Thawus) bahwa aku hendak menikahi seorang gadis, lalu beliau mengatakan, ‘Kalau begitu pergi dan lihatlah ia terlebih dahulu, lalu aku pun hendak pergi untuk nazhar, aku memakai pakaianku yang terbaik, aku berkeramas, dan berdandan sangat rapi, setelah itu beliau melihat kondisiku seperti ini tiba-tiba beliau mengatakan, ‘Duduklah dan jangan engkau pergi.’” (Hilyatul Auliya’ 4/10)


3. Dalam wara’

Beliau adalah seorang yang wara’ dalam berfatwa, tidak asal menjawab pertanyaan yang diajukan kepada beliau. Beliau sangat berhati-hati karena khawatir apa yang beliau fatwakan ternyata tidak sejalan dengan apa yang dikehendaki Allah ‘azza wajalla.


Dari Ayyub rahimahullaah ia berkata, “Ada seorang yang hendak bertanya tentang sesuatu masalah kepada Thawus, lalu beliau menghardiknya seraya mengatakan, ‘Sungguh ia hendak menjadikan di leherku tali yang aku diputar dengannya.’”


Berkata al-Hafizh rahimahullaah, “Telah berkata Amr bin Dinar, ‘Sungguh aku tidak melihat seseorang yang lebih wara’ dan menjaga diri dari sesuatu yang ada di tangan manusia, daripada Thawus.’”


Berkata Ibnu Abi Sufyan rahimahullaah, “Saya tidak melihat seorang alim yang lebih banyak mengucapkan kalimat ‘Aku tidak tahu masalah tersebut’, kecuali Thawus.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 5/526)


Berkata Sufyan bin Uyainah rahimahullaah, “Orang-orang yang selalu menjauhi kepemimpinan ada tiga: Abu Dzar di zamannya, Thawus di zamannya, dan Sufyan Ats-Tsauri di zaman beliau.” (Tahdzibul Kamal 5/10)


BEBERAPA PERKATAAN MUTIARA BELIAU

Dari Abu Najih dari bapaknya, bahwa Thawus rahimahullaah berkata kepadanya, “Barangsiapa yang berbicara tentang kebaikan dan ia bertakwa kepada Allah ‘azza wajalla, lebih baik daripada seorang yang diam dan bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 5/526)


Dari Ibnu Thawus dari bapaknya (Thawus rahimahullaah), ia berkata, “Bakhil adalah seorang menahan harta miliknya sendiri, adapun syuh adalah seorang mengharapkan harta milik orang lain dengan cara yang haram.” (Hilyatul Auliya’ 4/6)


Dari Thawus rahimahullaah, ia berkata, “Tidaklah seorang anak Adam berbicara kecuali Allah ‘azza wa jalla akan menghisabnya, sampaipun rintihannya tatkala sakit.” (Siyar A’lam an-Nubala’ 5/43)


Thawus rahimahullaah, beliau mengatakan, “Tidak sempurna ibadah/sembelihan seorang pemuda sampai dia menikah.” (Siyar A’lamu an-Nubala’ 5/526)


Beliau meninggal dunia pada tahun 100 H. Semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati Thawus bin Kaisan dan menempatkan beliau di tempat yang tinggi dan mulia di sisi-Nya. Aamiin.


MUTIARA TELADAN

Beberapa catatan penting dari perjalanan hidup beliau yang hendaknya menjadi qudwah (teladan) bagi kita adalah:


  • Seorang muslim diajari untuk saling menasihati demi kebaikan dunia dan akhirat. Nasihat tetap diberikan sampaipun kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya daripada, tentunya dengan cara-cara yang baik tanpa harus menghinakan atau merendahkan kedudukannya.

  • Merupakan sifat baik para as-salah ash-shalih –yang hampir-hampir sifat itu hilang di zaman kita- adalah sifat wara’ dan zuhud terhadap dunia. Sifat itu akan benar-benar tampak pada diri seorang muslim bila ia memahami dengan baik hakikat sebuah kehidupan, bahwa kehidupan yang sebenarnya –yang hakiki dan kekal- adalah kehidupan akhirat, bukan kehidupan dunia, sehingga apapun mereka korbankan demi mendapat kebaikan akhirat sekalipun harus merasakan payah tatkala di dunia.


Semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati Thawus bin Kaisan dan para as-salaf ash-shalih yang telah mengajari kita untuk selalu mendalami ilmu agama, mengajarkan dan mendakwakan kepada orang lain, sebagai mana ini adalah tugas setiap nabi dan rasul dan juga tugas setiap muslim sesuai dengan kadar kemampuan yang diberikan Allah ‘azza wa jalla. Maka dalam setiap perbuatan, mereka mengawalinya dengan ilmu dan mengakhirinya dengan ilmu pula.
Wallaahu a’lamu bish shawab.

Ustadz Abu Faiz –hafizhahullaah di Majalah al-Furqon ed 6 tahun ke-11

Ikuti Dauroh Bahasa Arab dan Aqidah Gresik 09 Juni-02 Juli 2012

Kajian Salaf Selasa, 15 Mei 2012 0



Alhamdulillah, terbuka kesempatan untuk menambah ilmu syar'i, yan akan meluruskan aqidah kita dan meningkatkan kemampuan bahasa arab sebagai bekal untuk lebih memperdalam ilmu syar'i. Karena bahasa arab adalah bahasa Al-quran, sehingga sangat penting bagi seoran muslim untuk mempelajarinya.

Waktu

19 rojab 1433 – 12 Sya’ban 1433 / 09 Juni – 02 Juli 2012 (selama 25 hari)

Tempat

Pondok pesantren AL FURQON AL ISLAMI , Srowo-Sidayu-Gresik

 

Marhalah (tingkat)

1.  Marhalah Ibtidaa'i (pemula)

Untuk ikhwan dan akhwat (putra-putri)

Kitab Mukhtarot Qowaid Lughoh Arobiyyah karya : Ust Aunur Rofiq Ghufron. Lc

Biaya: Rp 350,000,-

2. Marhalah Takmili (lanjutan)

Khusus ikhwan (putra)

Kitab Mulakhos Qowaid Luqhoh Arobiyyah karya: Fuad Ni’mah

Biaya : 400,000,-

Biaya dauroh dan kitab secara paket (kitab disediakan panitia)

Persyaratan

1. Muslim atau muslimah (muslimah / akhwat datang dan pulang harus didampngi mahromnya)

2. Bersungguh-sungguh mengikuti dauroh

3. Bisa membaca al-Qur'anMengisi formulir pendaftaran

4. Membayar biaya program sesuai dengan marhalah yang diikuti

Fasilitas

1. Kitab panduan sesuai dengan marhalah dan kitab aqidah

2. Asrama untuk penginapan peserta ikhwan dan akhwat

3. Makan 3 X sehari

4. Masjid dan maktabah dan fasilitas lainnya

 

Waktu & tempat pendaftaran

- Dimulai pada tanggal 15 Rajab 1433 (6 juni 2012)

- bisa lewat SMS ke nomer (081332360343) dengan menulis data pribadi lengkap dan marhalah yang di inginkan.

- Atau datang langsung di kantor sekretariat pendaftaran dauroh dua hari sebelum pelaksanaan

 

Jam pelajaran












Untuk ikhwan



Untuk akhwat


I 05.30-07.00

II 08.00-09.30

II 09.45-11.15

IV 15.30-17.00

V 19.30-21.00
I 07.00-08.20

II 08.20-09.40

II 10.00-11.20

IV 15.30-17.00

V 19.30-21.00

Harus Bagaimanakah?, Jika Shalat Sunnah Belum Selesai, Iqomah Berkumandang.

Kajian Salaf 2

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat dan seluruh kaum muslimin yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Beliau sampai hari Kiamat.

Pembaca yang dirohmati Allah Ta’ala, sering kali seorang Muslim mengerjakan sholat sunnah Rowatib atau sholat Tahiyatul Masjid sebelum sholat berjama’ah dimulai. Namun tiba-tiba muadzin mengumandangkan iqomah. Apakah yang harus ia lakukan? Melanjutkan sholat sunnahnya hingga salam ataukah segera memutus sholat sunnahnya dan mengikuti sholat wajib? Berikut ini sebagian hadits yang berkaitan dengan masalah ini dan juga jawaban untuk pertanyaan di atas. Semoga bermanfaat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِذَا أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوْبَةُ


“Jika iqomat sholat telah dikumandangkan, maka tidak ada sholat selain sholat wajib.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 710)

Diriwayatkan dari Ibnu Buhainah radhiyallahu ‘anhu, ia bercerita,

أُقِيْمَتْ صَلاَةُ الصُّبْحِ،


فَرَأَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلاً يُصَلِّي وَالْمُؤَذِّنُ يُقِيْمُ،


فَقَالَ: أَتُصَلِّي الصُّبْحَ أَرْبَعًا


“Iqomat sholat Shubuh telah dikumandangkan, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki sedang mengerjakan sholat sementara muadzin mengumandangkan iqomah. Maka beliau berkata, “Apakah kamu akan mengerjakan sholat Shubuh empat rokaat?” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 663 dan Muslim, no. 711. Lafadz di atas adalah lafadz Muslim)

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Sarjis, ia bercerita,

دَخَلَ رَجُلٌ الْمَسْجِدَ وَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ صَلاَةِ الْغَدَاةِ،


فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فِيْ جَانِبِ الْمَسْجِدِ،


ثُمَّ دَخَلَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،


فَلَمَّا سَلَّمَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَا فُلاَنُ بِأَيِّ الصَّلاَتَيْنِ اعْتَدَدْتَ؟


أَبِصَلاَتِكَ وَحْدَكَ أَمْ بِصَلاَتِكَ مَعَنَا؟


“Seorang laki-laki masuk ke dalam masjid sementara Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam sedang mengerjakan sholat Shubuh. Lalu ia sholat dua rokaat di samping (serambi) masjid, kemudian ikut sholat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika selesai mengerjakan sholat, Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda: “Wahai Fulan, sholat manakah yang kamu inginkan? Sholat sendiri atau sholat bersama kami?”

Apakah ini berarti ketika mendengarkan iqomah, kita harus langsung memutus sholat sunnah kita?

Syaikh Husain bin Audah al-Awaisyah hafizhahullah mengatakan bahwa hal ini tidak berarti setiap orang yang sedang mengerjakan sholat harus memutus sholatnya ketika mendengar iqomah. Karena hal ini berbeda antara imam yang satu dengan imam yang lainnya, antara orang yang satu dengan orang yang lainnya.

Mungkin saja, seseorang berada dalam suatu keadaan yang jika ia melanjutkan sholat sunnahnya sampai selesai, ia tetap akan mendapati takbirotul ihrom untuk sholat wajibnya, sehingga ia tidak perlu memutus sholat sunnahnya. Atau bisa pula ketika itu ia berada pada pertengahan sholatnya, namun ia yakin bahwa imamnya akan menunggunya sambil meluruskan shof dan menutup celah. Pada konsisi ini, dianjurkan baginya untuk menyempurnakan sholat sunnahnya dengan mempercepatnya dan tidak merusaknya.

Maka dalam kondisi ini dan kondisi itu, tidak perlu memutus sholatnya. Adapun jika orang yang sedang mengerjakan sholat itu memperkirakan bahwa ia akan terluput dari takbirotul ikrom karena ia baru saja memulai sholat sunnahnya, atau karena imamnya terburu-buru memulai takbir tanpa merapikan shof, maka ia harus bergegas mengikuti sholat wajib dan meninggalkan sholat sunnahnya.

Syaikh Husain bin Audah al-Awaisyah hafizhahullah mengatakan, “Demikianlah penjelasan yang saya dengar dari guru kami, al-Albani rahimahullah.” (Eksiklopedi Fiqih Praktis, penerbit: Pustaka Imam Asy-Syafi’i, hal. 306)

Ditulis oleh klik disini