Header ads

Wahai Hamba Allah, Didiklah Anak-Anak kalian!

Kajian Salaf Selasa, 28 Februari 2012 0

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah menjadikan umat ini sebagai umat terbaik yang pernah dimunculkan di tengah manusia. Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Rabb manusia, penguasa dan sesembahan manusia. Aku pun bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau, keluarga dan sahabat beliau yang memiliki keberanian dan kekuatan.

Selanjutnya. Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah Ta’ala dengan melakukan perintah, menjahui larangan dan mensyukuri nikmat-Nya. Pegangilah tangan pemuda dan bimbinglah mereka dengan pengarahan yang baik. Sesungguhnya Allah telah menyerahkan tanggung jawab mereka kepada kalian. Maka setiap dari kalian itu adalah pemimpin dan setiap dari kalian akan ditanya (Allah) tentang yang dipimpinnya.

Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya para pemuda itu adalah tiangnya umat, mereka adalah generasi penerus dan dari merekalah akan berdiri bangunan umat ini. Dari mereka akan muncul para ulama, pembimbing umat, para mujahid, dan para teknokrat. Bila mereka menjadi pemuda yang shalih maka akan menjadi penyejuk mata bagi orang tua mereka yang masih hidup dan menjadi pahala yang terus mengalir bagi orang tua mereka yang telah meninggal dunia. Mereka akan saling bertemu bila kesemuanya masuk ke dalam surga.

Allah berfirman (artinya) : “Dan orang-orang beriman lalu diikuti anak keturunannya dalam keimanan, maka Kami pertemukan mereka dengan anak keturunannya tersebut.” [Ath Thuur : 21 ]

Allah berfirman (artinya) : “Surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama orang-orang shalih dari kalangan bapak-bapak, istri-istri dan anak keturunan mereka. Para malaikat menyambut mereka di setiap pintu surga.” [Ar Ra’d : 23]

Karena itu, perhatian para nabi ‘alaihimus Salaam sangat diarahkan kepada anak keturunan mereka sebelum lahir. Inilah Nabi Ibrahim Al Khalil ‘alaihis Salam yang berdoa (artinya) : “Ya Rabbku, jadikanlah aku sebagai orang yang menegakan shalat dan juga demikian bagi anak keturunanku.” [Ibrahim : 40]

Inilah Nabi Zakariya ‘alaihis Salaam yang berdoa (artinya) : “Ya Rabbku, anugerahkanlah bagiku anak keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa hamba-Mu.” [ Ali Imran : 38]

Hamba yang shalih pun berdoa (artinya) : “Ya Rabbku, limpahkanlah anugerah untuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu, berbakti kepada kedua orangtuaku, beramal shalih yang Engkau ridhai dan perbaikilah anak keturunanku.”[Al Ahqaf : 15]

Dahulu para salaf ash-shalih memberikan perhatian kepada anak-anak mereka sejak usia dini. Mereka mengajari dan menumbuhkembangkan anak-anak di atas kebaikan, menjauhkan anak-anak dari kejelekan, memilihkan guru yang shalih, pendidik yang bijak dan bertakwa untuk anak-anak. Nabi Shalallahu ‘alaihi Wasallam mendorong para orang tua untuk memulai dengan pendidikan agama dan akhlak kepada anak-anak sejak usia tamyiz. Beliau bersabda (artinya) : “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat pada usia 7 tahun. Pukullah mereka (bila meninggalkan shalat) pada usia 10 tahun. Pisahkanlah tempat tidur mereka (di usia tersebut).”

Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya pemuda umat ini bila rusak maka robohlah bangunan umat ini. Musuh-musuh Islam akan menguasai mereka. Selanjutnya akan sirnalah keberadaan umat ini. Diantara hal yang menyayat hati dan membuat mata kita menangis adalah apa yang kita saksikan dari kebanyakan pemuda saat ini. Mereka berani kepada orang tuanya, akhlaknya bejat, agamanya rusak, bergerombol di jalan-jalan setelah waktu ashar sampai penghujung malam untuk melakukan kesia-siaan dengan mobil mereka (kalau di negeri kita-motor-pent.), menggangu pengguna jalan dan penduduk, mengundang bahaya bagi orang lain, meninggalkan shalat bahkan mengganggu kekhusyu’an orang shalat, keburukan menyelimuti mereka, menyebarnya rokok dan narkoba, buruknya akhlak dan terjerumus dalam kekejian.

Keburukan telah berhasil membeli mereka, bahaya telah mengancam, mereka telah berani melawan orang yang menasehati dan melarang perbuatan mereka.

Hendaknya kalian bertakwa kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah. Ketahuilah bahwa kalian sedang berada di masa yang penuh dengan kerusakan. Kalian hidup di tengah-tengah musuh. Orang-orang jahat menebarkan kerusakan di tengah-tengah kalian dalam bentuk makar yang halus dan tipu daya yang jahat. Ketahuilah bahwa perbendaharaan dan kekayaan terbesar yang kalian hasilkan di dunia ini setelah amal shalih adalah anak-anak kalian. Di dalam sebuah hadits, Nabi  Shalallahu ‘alaihi Wasallam bersabda (artinya) : “Bila anak cucu Adam meninggal dunia, maka terputuslah pahala amal shalihnya, kecuali pahala dari 3 hal : shadaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kebaikan untuk orang tuanya.”

Sesungguhnya anak-anak itulah yang akan menjaga kalian setelah kalian berusia lanjut dan lemah. Merekalah yang akan mengganti kalian untuk menjaga kehormatan kalian. Mereka lebih bermanfaat bagi kalian daripada harta kalian. Lalu bagimana kalian bisa menyia-nyiakan urusan mereka dan tidak peduli terhadap mereka?!

Seseorang menyesal dan minder takala melihat orang-orang kafir mampu memperhatikan pendidikan anak-anaknya dengan materi duniawi, tidak membiarkan anak-anaknya berkeliaran dijalan-jalan, tidak membiarkan anak-anaknya menganggur, bahkan mengatur kehidupan anaknya dengan tertib. Adapaun kebanyakan kaum muslimin, mereka tidak memberikan perhatian kepada anak-anaknya kecuali sebatas memberi nama ketika lahir, memberi makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal lalu tidak mengerti apa yang harus dilakukan setelah itu. Bahkan sebagian kaum muslimin menyediakan sarana-sarana kerusakan untuk anak mereka. Mereka memenuhi saku anak-anaknya dengan uang, memberikan mobil mewah (kalau di negeri kita-motor mahal-pent.), memenuhi rumah dengan alat-alat musik, film yang tidak bermoral, sehingga jangan engkau tanya lagi bagaimana pertumbuhan anak-anak yang mendapatkan sarana-sarana tersebut berupa kebejatan akhlak, kerusakan pola pikir, moral binatang yang melampaui batas. Jangan engkau tanya pula tentang dosa yang ditimpakan kepada orang tua mereka, penyesalan yang dirasakan orang tua tatkala didurhakai sang anak, tidak mendapatkan kebaikan dari sang anak tatkala orang tua tersebut berusia lanjut dan sedang butuh terhadap anaknya. Sesungguhnya balasan itu sesuai dengan jenis perbuatannya. Sebenarnya Allah telah mewasiatkan kepada anak-anak untuk membalas kebaikan orang tua dengan berbakti saat orang tua mereka berusia lanjut.

Allah Ta’ala berfirman (artinya) : “Dan Rabbmu telah menetapkan agar kalian tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya (Allah) dan (agar) kalian berbakti kepada orang tua. Bila salah satu atau kedua orangtuanya telah berusia lanjut maka janganlah engkau mengatakan ‘ah’ kepada keduanya dan jangan pula membentak. Namun katakanlah kepada keduanya dengan perkataan yang mulia. Rendahkanlah sayap kepatuhan kepada keduanya karena kasih sayang dan ucapkanlah : “Ya Rabbku, rahmatilah kedua orang tuaku sebagaimana keduanya dahulu menyayangi aku.” [Al Israa’ : 23-24]

Allah memerintah seorang anak untuk senantiasa mengingat kebaikan kedua orang tua saat anak tersebut (dahulu) lemah dan masih kecil, agar dapat membalas kebaikan kedua orang tuanya tersebut saat keduanya lemah dan berusia lanjut. Lalu bagimana bila sang anak tidaklah mengingat kedua orangtuanya melainkan kesia-siaan, kejelekan, dan pendidikan yang rusak yang diberikan kedua orang tuanya? Apa yang dilakukan sang anak untuk membalas hal itu?

Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah. Ketahuilah bahwa anak itu adalah amanah bagi kalian. Bertakwalah kepada Allah terhadap anak dan amanah. Allah berfirman (artinya) : “Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah, rasul-Nya, dan amanah yang dibebankan kepada kalian dalam keadaan kalian mengetahui. Ketahuilah bahwa harta dan anak itu adalah ujian bagi kalian. Di sisi Allah-lah pahala yang sangat besar.” [Al Anfaal : 27-28]

Dialihbahasakan dari salah satu khutbah Asy Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan hafizhahullah yang dihimpun di dalam kitab “Al Khuthab Al Minbariyah fil Munasabatil ‘Ashriyah’ dengan beberapa perubahan.

Mengetahui Qalbu Yang Memiliki Rasa Takut Kepada Allah

Kajian Salaf Senin, 20 Februari 2012 3

Oleh: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc

Cara mengetahui kesehatan qalbu kita adalah dengan melihat kadar rasa takutnya kepada Allah, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati (kalbu) mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al-Anfaal: 2)

Tanda-tanda qalbu yang memiliki rasa takut kepada Allah, diantaranya adalah,

1. Rasa gemetar pada tubuh dan rasa tenang pada kulit dan hati ketika mendengar Al-Qur’an.

Sebagaimana Allah berfirman,

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu Al-Qur’an) yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” (Az-Zumar: 23)

2. Kekhusyukan hati ketika berdzikir kepada Allah.

Sebagaimana Allah berfirman,

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”(Al-Hadiid: 16)

3. Mendengarkan kebenaran dan tunduk terhadapnya.

Sebagaimana Allah berfirman,

“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati (kalbu) mereka kepadanya dan sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Al-Hajj: 54)

4. Selalu kembali bertobat kepada Allah.

Sebagaimana Allah berfirman,
“Yaitu orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati (kalbu) yang bertaubat.” (Qaaf: 33)

5. Ketenangan dan kewibawaan.

Sebagaimana Allah berfirman,

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati (kalbu) orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-Fath: 4)

6. Berdebarnya kalbu karena cinta kaum mukminin.

Sebagaimana Allah berfirman,

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)

7. Selamatnya hati dari iri dan dengki.

Sebagaimana Allah berfirman,

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imraan: 103)

Apabila hati kita telah demikian maka bersyukurlah kepada Allah dengan mempertahankannya dan memeliharanya agar dapat istiqamah. Namun sebaliknya bila tanda-tanda ini belum ada maka hendaknya banyak lagi bertaubat.

Mari obati qalbu kita agar selamat didunia dan akhirat.

Sumber: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc

Tabligh Akbar Syaikh Abdurrozaq Yogya, Magelang, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Malang dan Jakarta Februari 2012

Kajian Salaf Senin, 06 Februari 2012 5



HARAP SEBARKAN INFO KAJIAN BERIKUT!!!

Hadirilah TERBUKA UNTUK UMUM
Tabligh Akbar dan Safari Dakwah Bersama :
FADHILATUS SYAIKH Prof. Dr. Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al’Abbad Al Badr
(Dosen Ilmu Aqidah Program Pasca Sarjana, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia)

Syaikh insyaAllah akan mengadakan safari dakwah di beberapa kota di P. jawa, diantaranya:



TABLIGH AKBAR DI MAGELANG

Penerjemah :
Ustadz Abdus Salam Busro, Lc.

Insya Allah akan diselenggarakan pada:
Hari: Selasa, 14 Februari 2012
Pukul: 12.30 – Ashar,
Tempat: Masjid Sa’ad bin Abi Waqos
Alamat: Belakang SMA Negeri 1 Salaman, Magelang
Islamic Centre Sa’ad bin Abi Waqos, Salaman, Magelang

Informasi:
Ustadz Muhammad Wujud Abu Ammar – 081 328 600 73
Prajoko, SH – 081 125 3010
Fuad Toto Suslio, SE – 087 834 237 464

 

 

TABLIGH AKBAR DI YOGYAKARTA

Hari/tgl :Rabu, 15 Februari/ 22 Rabiul Awwal 1433 H
Waktu : 08.00 – Dhuhur
Tempat : Islamic Centre Bin Baz
Jl. Wonosari KM 10, Karanggayam, Sitimulyo, Piyungan, Bantul, Yogyakarta

Tema : Untaian Nasehat Untuk Umat
CP : 082135770347, 082135505903

Muslim.or.id
Penyelenggara : Islamic Centre Bin Baz
Disiarkan juga di radiomuslim.com

 

 

TABLIGH AKBAR DI SURABAYA DAN SIDOARJO
Penerjemah:

Ustadz Mubarok Bamu’alim, Lc.

insya Allah diselenggarakan pada:

Hari: Kamis, 23 Robi’ul Awwal 1433 H / 16 Februari 2012Pukul: 09.00 – 12.00
Tempat: LPI (Lembaga Pendidikan Islam) Sari Bumi
Alamat: Jalan Raya Lingkar Timur Km. 15 Bluru Sidoarjo

Pukul: Ba’da Maghrib s.d. selesai
Tempat: Kampus STAI Ali bin Abi Thalib
Alamat: SurabayaInformasi:

(031) 71856076, 085850322171

 

 

 

TABLIGH AKBAR DI GRESIK

Hadirilah Terbuka untuk umum!
insya Allah diselenggarakan pada:

Hari: Jumat, 24 Robi’ul Awwal 1433 H / 17 Februari 2012

Pukul : 08.30 - 15.00 WIB

Tempat : Masjid Jami' Sulthon Az-Zakary PonPes Al-Furqon Al-Islami Sidayu Gresik Jatim

InsyaAllah khutbah jum'at bersama syaikh abdurrazaq al-badr.

Info : 081357907627

TABLIGH AKBAR DI MALANG

Insya Allah pada:
Hari : Sabtu
Tanggal : 25 Rabi’ul Awwal 1433 H/ 18 Februari 2012 M
Jam : 9.00 – Dhuhur
Tempat : Masjid An – Nur
Alamat : Jl. Jagalan Saleyer IC/7C (belakang Rumah Makan Cairo) – Malang.

Info : (0341) 336476 atau 081334183554

Kajian ini terbuka untuk umum bagi kaum muslimin dan muslimat, ajaklah seluruh keluarga,karib kerabat dan rekan-rekan anda.

Insya Allah LIVE di Radio Dakwah Islamiyah (RDI) FM 100.5

Bagi antum yang tidak bisa menangkap siaran Radio Dakwah Islamiyah insya Allah bisa mengikuti melalui raduo streaming di http://www.kajianislam.net/ atau melalui telpon Flexi ketik *55*571005

 

TABLIGH AKBAR DI JAKARTA

Dengan tema :

MENITI JALAN MERAIH KECINTAAN ALLAH TA’ALA

Waktu : Ahad, 26 Rabi’ul Awwal 1433 H/ 19 Februari 2012 M
Jam : 9.00 – dzuhur
Tempat : Masjid ISTIQLAL Jakarta Pusat

Info : (021) 8233661, (021) 70736543 , 08121055891

Kajian ini terbuka untuk umum bagi kaum muslimin dan muslimat, ajaklah seluruh keluarga,karib kerabat dan rekan-rekan anda.

Insya Allah LIVE di radio rodja 756 am dan rodja TV.


Pentingnya Tauhid, Sudahkah Kita Mempelajarinya?

Kajian Salaf Sabtu, 04 Februari 2012 2

Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukan.
Hanya amal yang dilandasi dengan tauhidullah, menurut tuntunan Islam, yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti.
Allah berfirman:

(مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُون) (النحل:97)


“Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik lagi dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl: 97).
Berdasarkan pada pentingnya peranan tauhid dalam kehidupan manusia, maka wajib bagi setiap muslim memperlajarinya.
Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah; bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan) Nya, dan wahdaniyah (keesaan) Nya, dan bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan Sifat-Nya.
Iblis mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah; bahkan mengakui keesaan dan kemaha-kuasaan Allah dengan meminta kepada Allah melalui Asma’ dan Sifat-Nya. Kaum jahiliyah kuno yang dihadapi Rasulullah juga meyakini bahwa Tuhan Pencipta, Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta ini adalah Allah.   (Lihat Al Qur’an: 38: 82, 31: 25, 23: 84-89). Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka itu belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk yang berpredikat muslim, yang beriman kepada Allah .
Dari sini timbullah pertanyaan: “Apakah hakikat tauhid itu?
Tauhid adalah pemurnian ibadah kepada Allah. Maksudnya yaitu: menghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekwen dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepada-Nya.
Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah, dan sesungguhnya misi para Rasul adalah untuk menegakkan tauhid dalam pengertian tersebut di atas, mulai dari Rasul pertama sampai Rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad . (Lihat Al Qur’an: 16: 36, 21: 25, 7: 59, 65, 73, 85, dan lain-lain).

Mengingat begitu pentingnya tauhid, marilah kita mengingat kembali beberapa poin keutamaan tauhid. Karena dengan begitu bisa menambah keyakinan kita atau meluruskan tujuan sepak terjang kita yang selama ini yang mungkin keliru. Karena melalaikan masalah tauhid akan berujung pada kehancuran dunia dan akhirat.

Tujuan Diciptakannya Makhluk Adalah untuk Bertauhid

Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz Dzariyaat: 56). Imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata, yaitu tujuan mereka Kuciptakan adalah untuk Aku perintah agar beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka (Tafsir Al Qur’anul ‘Adzhim, Tafsir surat Adz Dzariyaat). Makna menyembah-Ku dalam ayat ini adalah mentauhidkan Aku, sebagaimana ditafsirkan oleh para ulama salaf.

Tujuan Diutusnya Para Rasul Adalah untuk Mendakwahkan Tauhid

Allah Ta’ala berfirman, “Sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul (yang mengajak) sembahlah Allah dan tinggalkanlah thoghut.” (An Nahl: 36). Thoghut adalah sesembahan selain Allah. Syaikh As Sa’di berkata, Allah Ta’ala memberitakan bahwa hujjah-Nya telah tegak kepada semua umat, dan tidak ada satu umatpun yang dahulu maupun yang belakangan, kecuali Allah telah mengutus dalam umat tersebut seorang Rasul. Dan seluruh Rasul itu sepakat dalam menyerukan dakwah dan agama yang satu yaitu beribadah kepada Allah saja yang tidak boleh ada satupun sekutu bagi-Nya (Taisir Karimirrohman, Tafsir surat An Nahl). Beribadah kepada Allah dan mengingkari thoghut itulah hakekat makna tauhid.

Tauhid Adalah Kewajiban Pertama dan Terakhir

Rasul memerintahkan para utusan dakwahnya agar menyampaikan tauhid terlebih dulu sebelum yang lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ta’ala ‘anhu, “Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan ialah agar mereka mentauhidkan Allah.” (Riwayat Bukhori dan Muslim). Nabi juga bersabda, “Barang siapa yang perkataan terakhirnya Laa ilaaha illalloh niscaya masuk surga.” (Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Hakim dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Gholil).

Tauhid Adalah Kewajiban yang Paling Wajib

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan Allah mengampuni dosa selain itu bagi orang-orang yang Dia kehendaki.” (An Nisaa’: 116). Sehingga syirik menjadi larangan yang terbesar. Sebagaimana syirik adalah larangan terbesar maka lawannya yaitu tauhid menjadi kewajiban yang terbesar pula. Allah menyebutkan kewajiban ini sebelum kewajiban lainnya yang harus ditunaikan oleh hamba. Allah Ta’ala berfirman, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah pada kedua orang tua.” (An Nisaa’: 36)

Kewajiban ini lebih wajib daripada semua kewajiban, bahkan lebih wajib daripada berbakti kepada orang tua. Sehingga seandainya orang tua memaksa anaknya untuk berbuat syirik maka tidak boleh ditaati. Allah berfirman, “Dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya…” (Luqman: 15)

Hati yang Saliim Adalah Hati yang Bertauhid

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah di dalam tubuh itu ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (Riwayat Bukhori dan Muslim). Allah Ta’ala berfirman, “Hari dimana harta dan keturunan tidak bermanfaat lagi, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang saliim (selamat).” (Asy Syu’araa’: 88-89). Imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata, yaitu hati yang selamat dari dosa dan kesyirikan (Tafsir Al Qur’anul ‘Adzhim, Tafsir surat Asy Syu’araa’). Maka orang yang ingin hatinya bening hendaklah ia memahami tauhid dengan benar.

Tauhid Adalah Hak Allah yang Harus Ditunaikan Hamba

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak Allah yang harus ditunaikan hamba yaitu mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun…” (Riwayat Bukhori dan Muslim). Menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya artinya mentauhidkan Allah dalam beribadah. Tidak boleh menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dalam beribadah, sehingga wajib membersihkan diri dari syirik dalam ibadah. Orang yang tidak membersihkan diri dari syirik maka belumlah dia dikatakan sebagai orang yang beribadah kepada Allah saja (diringkas dari Fathul Majid).

Ibadah adalah hak Allah semata, maka barangsiapa menyerahkan ibadah kepada selain Allah maka dia telah berbuat syirik. Maka orang yang ingin menegakkan keadilan dengan menunaikan hak kepada pemiliknya sudah semestinya menjadikan tauhid sebagai ruh perjuangan mereka.

Tauhid Adalah Sebab Kemenangan di Dunia dan di Akhirat

Para sahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshor radhiyallahu ta’ala ‘anhum adalah bukti sejarah atas hal ini. Keteguhan para sahabat dalam mewujudkan tauhid sebagai ruh kehidupan mereka adalah contoh sebuah generasi yang telah mendapatkan jaminan surga dari Allah serta telah meraih kemenangan dalam berbagai medan pertempuran, sehingga banyak negeri takluk dan ingin hidup di bawah naungan Islam. Inilah generasi teladan yang dianugerahi kemenangan oleh Allah di dunia dan di akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Orang-orang yang terdahulu (masuk Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah telah ridho kepada mereka dan mereka pun telah ridho kepada Allah. Allah telah menyiapkan bagi mereka surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At Taubah: 100)

sumber : kitab tauhid dan artikel di www.muslim.or.id tulisan Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi