Header ads

Apakah Anda Wahai Orang Kaya Tidak Ingin Mendapatkan Ini?

Kajian Salaf Jumat, 20 Januari 2012 1

Apakah Anda (wahai orang kaya) tidak ingin menjadi orang yang beruntung menurut Allah Ta'ala?

{قَالَ الله تَعَالَى: {وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ


Artinya: "Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat keberuntungan”. QS. Al-Hajj: 77

Apakah Anda (wahai orang kaya) tidak ingin mendapatkan kebaikan yang sempurna dari Allah Ta'ala?

{لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ }


Artinya: "Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya". QS. Ali Imran: 92

Apakah Anda (Wahai orang kaya) tidak ingin mendapatkan ini:

a. Allah Ta'ala selalu memenuhi hajat Anda?

b. Allah Ta'ala selalu menghilangkan kesusahan Anda pada hari kiamat?

وعن ابن عمر رضي الله عنهما : أنَّ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ : ((المُسْلِمُ أخُو المُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يُسْلِمُهُ . مَنْ كَانَ في حَاجَة أخِيه ، كَانَ اللهُ في حَاجَتِهِ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللهُ عَنْهُ بِهَا كُرْبَةً مِنْ كرَبِ يَومِ القِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ يَومَ القِيَامَةِ


Artinya: "Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang muslim adalah saudara untuk muslim yang lain, tidak menzhaliminya dan tidak menyerahkannya kepada musuh, barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya (muslim) maka niscaya Allah akan memenuhi kebutuhannya, barangsiapa yang menghilangkan kesusahan seorang muslim maka niscaya Allah akan menghilangkan kesusahan-kesusahannya pada hari kiamat dan barangsiapa yang menutupi aib seorang msulim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat". HR. Bukhari dan Muslim

Apakah Anda (wahai orang kaya) tidak ingin mendapatkan ini:

a. dimudahkan Allah Ta'ala urusan apapun di dunia dan akhirat?

b. selalu dalam pertolongan Allah Ta'ala?

وعن أَبي هريرة - رضي الله عنه - ،عن النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم -، قَالَ: ((مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنيَا ، نَفَّسَ الله عَنْهُ كُربَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ ، وَمَنْ يَسَّر عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ الله عَلَيهِ في الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ الله في الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، والله في عَونِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ في عَونِ أخِيهِ ....)) رواه مسلم


Artinya: "Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa RAsulullah shallahu 'alaihi wasallam bersabda: " barangsiapa yang menghilangkan kesusahan seorang muslim maka niscaya Allah akan menghilangkan kesusahan-kesusahannya pada hari kiamat, barangsiapa yang memudahkan orang yang lagi dalam kesusahan maka niscaya Allah akan memudahkan atasnya kesusahan di dunia dan akhirat dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat, senantiasa Allah di dalam menolong seorang hamba selam dia menolong saudaranya". HR. Muslim.

Apakah Anda (wahai orang kaya) tidak tergugah hati untuk mendapatkan ini semua padahal kesempatan di depan Anda:

a. Orang yang paling dicintai Allah Ta'ala?

b. Mengerjakan amalan yang paling dicintai Allah Ta'ala?

c. Ditetapkan kaki pada hari yang mana semua kaki terpeleset masuk ke dalam neraka (hari kiamat)?

"عن ابن عمر : أن رجلا جاء إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال : يارسول الله أي الناس أحب إلى الله ؟ وأي الأعمال أحب إلى الله ؟ أحب الناس إلى الله تعالى أنفعهم للناس و أحب الأعمال إلى الله عز وجل سرور يدخله على مسلم أو يكشف عنه كربة أو يقضي عنه دينا أو تطرد عنه جوعا و لأن أمشي مع أخ في حاجة أحب إلي من أن أعتكف في هذا المسجد ، ( يعني مسجد المدينة ) شهرا و من كف غضبه ستر الله عورته و من كظم غيظه و لو شاء أن يمضيه أمضاه ملأ الله قلبه رجاء يوم القيامة و من مشى مع أخيه في حاجة حتى تتهيأ له أثبت الله قدمه يوم تزول الأقدام ( و إن سوء الخلق يفسد العمل كما يفسد الخل العسل


Artinya: "Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma menceriatakan bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya: "Wahai Rasulullah, siapakah yang paling dicintai Allah Ta'ala? amalan apakah yang paling dicintai Allah Ta'ala?", Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Orang yang paling dicintai Allah Ta'ala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (orang lain) dan amalan yang paling dicintai Allah Ta'ala adalah sebuah kebahagiaan yang dimasukkan ke dalam seorang muslim atau meringankan kesusahan atasnya atau membayarkan hutangnya atau menghilangkan rasa lapar darinya dan sungguh aku berjalan bersama seorang saudara (muslim) di dalam sebuah keperluan lebih aku cintai daripada aku beri'tikaf di dalam masjid ku (masjid Nabawi) ini selam sebulan, barangsiapa yang menahan amarahnya maka Allah akan menutup auratnya, barangsiapa yang bisa menahan murkanya kalau seandainya dia ingin tumpahkan murkanya maka dia sangat sanggup untuk menumpahkannya, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan penuh harapan pada hari kiamat, barangsaiapa yang berjalan dengan saudara dalam sebuah kebutuhan sampai selesai keperluannya maka Allah akan menetapkan kakinya pada hari seluruh kaki terpeleset (hari kiamat) dan sesungguhnya akhlak yang buruk menghancurkan amalan sebagaimana cuka merusak madu". HR. Ath-Thabarani di dalam Al-Mu'jamul Kabir dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Silsilat Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 906.

Terakhir…bagi seluruh kaum muslimin…

Ingatlah beberapa pesan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada kita berikut ini:

عن أَبي موسى - رضي الله عنه - ، قَالَ: قَالَ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم -: ((المُؤْمِنُ للْمُؤْمِنِ كَالبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضَاً)) وشبَّكَ بَيْنَ أصَابِعِهِ. مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.


Artinya: "Abu Musa Al Asy'ari radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang mukmin bagi mukmin yang lain laksana satu bangunan saling menguatkan satu dengan yang lainnya". HR. Bukhari dan Muslim.

عن النعمان بن بشير رضي الله عنهما ، قَالَ : قَالَ رَسُول الله - صلى الله عليه وسلم - : ((مَثَلُ المُؤْمِنينَ في تَوَادِّهِمْ وتَرَاحُمهمْ وَتَعَاطُفِهمْ ، مَثَلُ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بِالسَّهَرِ والحُمَّى)) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ


Artinya: "An Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perumpamaan orang-orang beriman di dalam persahabatan dan kasih sayang serta kelembutan mereka, laksana satu jasad, jika satu anggota tubuh merasakan sakit maka seluruh anggota tubuh lainnya merasakannya dengan tidak bisa tidur dan rasa panas (demam)". HR. Bukhari dan Muslim

وعن أنس - رضي الله عنه - ، عن النَّبيّ - صلى الله عليه وسلم - ، قَالَ: ((لاَ يُؤمِنُ أحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأخِيهِ مَا يُحِبُّ لنَفْسِهِ)) مُتَّفَقٌ عَلَيهِ


Artinya: "Anas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak sempurna keimanan salah seorang dari kalian sampai dia mencintai (kebaikan) untuk saudaranya sesuatu yang dia cintai untuk dirinya". HR. Bukhari dan Muslim.

Tabligh Akbar Samarinda 21 Januari 2012

Kajian Salaf Kamis, 19 Januari 2012 0

HADIRILAH!!!


Terbuka untuk UMUM Ikhwan dan Akhwat


Tabligh Akbar Kajian Islam


Bersama: Ust. Ainur Rofiq Gufron, Lc (Pimpinan Ponpes Al-Furqon Gresik Jatim). Beliau juga penasehat majalah islam Al-Furqon dan Al-Mawaddah.


Hari : Sabtu, tanggal 21 januari 2012 | 26 Safar 1433 H


Tema : "Wasiat Perpisahan Rasulullah"


Tempat : Masjid Al-Ma'ruf depan Mall Lembuswana Samarinda


Jam : 09.00 s/d 12.00 WITA


Masjid Al-Ma'ruf Samarinda


dan


Hari : Sabtu, tanggal 21 januari 2012 | 26 Safar 1433 H


Tema : "Membangun Keluarga Sakinah"


Tempat : Masjid Al-Mansyur


Jl. Dato Iba Sei Keledang Samarinda Seberang.


Jam : Ba'da magrib.


CP. Hendrana 081520903330


serta berlanjut di Balikpapan


Hari : Ahad, tanggal 22 januari 2012 | 27 Safar 1433 H


Jam : 08.30 WITA - Selesai


Tema : "Keutamaan-Keutamaan Sunnah"


Tempat : Masjid Istiqomah Balikpapan


100% ILMU


JANGAN LUPA AJAK KERABAT ANDA!



 

 

Hakikat dan Kedudukan Tauhid

Kajian Salaf Kamis, 12 Januari 2012 0

Allah ta'ala berfirman di dalam surat adz-dzariyat ayat 56 :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْأِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون(الذريات:56)

 “Tidak Aku ciptakan jin dan Manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku.” (QS.  Adz –Dzariyat: 56 ).
Yang dimaksud ibadah adalah penghambaan diri kepada Allah ta’ala dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.  Dan inilah hakekat agama Islam, karena Islam maknanya ialah penyerahan diri kepada Allah semata, yang disertai dengan kepatuhan mutlak kepada-Nya, dengan penuh rasa rendah diri dan cinta.
Ibadah berarti juga segala perkataan dan perbuatan, baik lahir maupun batin, yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Dan suatu amal akan diterima oleh Allah sebagai ibadah apabila diniati dengan ikhlas karena Allah semata dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Allah ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوت(النحل:36)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): “Beribadalah kepada Allah (saja) dan jauhilah thaghut”  (QS.  An – Nahl: 36).

Ibadah adalah hakekat (tauhid), sebab pertentangan yang terjadi antara Rasululloh ShallAllohu’alaihi wa Sallam dengan kaumnya adalah dalam masalah tauhid ini. Barang siapa yang belum merealisasikan tauhid ini dalam hidupnya, maka ia belum beribadah (menghamba) kepada  Alloh Tabaroka waSubhanahu wa Ta’ala inilah sebenarnya makna firman Alloh :
ولا أنتم عابدون ما أعب

        “Dan sekali-kali kamu sekalian bukanlah penyembah (Tuhan) yang aku sembah” (QS. Al Kafirun, 3)

Yang dimaksud dengan thoghut ialah : setiap yang diagungkan  - selain Allah – dengan disembah, ditaati, atau dipatuhi ; baik yang diagungkan itu berupa batu, manusia ataupun setan. Menjauhi thoghut berarti mengingkarinya, tidak menyembah dan memujanya, dalam bentuk dan cara apapun. Masalah yang sangat penting adalah : bahwa ibadah kepada Alloh Ta’ala tidak akan terealisasi dengan benar kecuali dengan adanya pengingkaran terhadap thoghut. Dan inilah maksud dari firman Alloh Ta’ala :
فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقى

“Barang siapa yang mengingkari thoghut dan beriman kepada Alloh, maka ia benar benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat” (QS. Al Baqarah, 256).
وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

 “Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan beribadah kecuali hanya kepada-Nya, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al – Isra’: 23-24).

Ayat-ayat Muhkamat yang tersebut dalam surah Al-Isra` di atas, mengandung delapan belas masalah, dimulai dengan firman Allah (yang artinya): Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela. (Al-Isra`:22) Dan diakhiri dengan firman-Nya (yang artinya): Dan janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, sehingga kamu (nantinya) dicampakkan ke dalam neraka jahannam dalam keadaan tercela lalu dijauhkan (dari rahmat Allah). (Al-Isra`:39) Serta Allah mengingatkan kepada kita akan pentingnya masalah-masalah ini dengan firman-Nya (yang artinya): Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. (Al-Isra`:39)
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلاَّ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلاَ تَقْتُلُوا أَوْلاَدَكُمْ مِنْ إِمْلاَقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلاَ تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ وَلاَ تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لاَ نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 “Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah         (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya). Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah kerabat(mu). Dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat. Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.” ( QS. Al  An’am: 151-153).

Ketiga ayat muhkamat yang tersebut dalam surah Al-An`am di atas penting kedudukannya menurut kaum salaf; terkandung di dalamnya sepuluh masalah, yang pertama adalah larangan terhadap perbuatan syirik.
Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata: “Barang siapa yang ingin melihat wasiat Muhammad shalallahu 'alaihi wasalam yang tertera di atasnya  cincin stempel milik beliau, maka supaya membaca firman Allah ta'ala :  “Katakanlah (Muhammad) marilah kubacakan apa yang diharamkan kepadamu oleh Tuhanmu, yaitu “Janganlah kamu berbuat syirik sedikitpun kepadaNya, dan “Sungguh inilah jalan-Ku berada dalam keadaan lurus, maka ikutilah jalan tersebut, dan janganlah kalian ikuti jalan-jalan yang lain. (Atsar ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Abi Hatim ) ”

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu berkata:

(( كُنْتُ رَدِيْفَ النَّبِيِّ  عَلَى حِمَارٍ، فَقَالَ لِيْ: يَا مُعَاذُ، أَتَدْرِيْ مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ، وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ؟ قُلْتُ: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَلاَ يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا، وَحَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا، قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَلاَ أُبَشِّرُ النَّاسَ؟ قَالَ: (( لاَ تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوْا ))

“Aku pernah diboncengkan Nabi shalallahu 'alaihi wasalam di atas keledai, kemudian beliau berkata kepadaku:  “wahai Muadz, tahukah kamu apakah hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya, dan apa hak hamba-hamba-Nya yang pasti dipenuhi oleh Allah? Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”, kemudian beliau bersabda: “Hak Allah yang harus dipenuhi oleh hamba-hamba-Nya ialah hendaknya mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, sedangkan hak hamba yang pasti dipenuhi oleh Allah ialah bahwa Allah tidak akan menyiksa orang-orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatupun, lalu aku bertanya: "ya Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan berita gembira ini kepada orang-orang? beliau menjawab: “Jangan engkau lakukan itu, karena khawatir mereka nanti bersikap pasrah.” (HR. Bukhari, Muslim).

Riwayat da atas tidak diketahui oleh sabagian besar para Sahabat, karena Rasulullah  Shallallahu `Alaihi wa Sallam menyuruh Mu`adz agar tidak memberitahukannya kepada mereka, dengan alasan beliau khawatir kalau mereka nanti akan bersikap menyandarkan diri kepada keluasan rahmat Allah sehingga tidak mau berlomba-lomba dalam mengerjakan amal shaleh.  Maka Mu`adz pun tidak memberitahukan masalah tersebut kecuali di akhir hayatnya dengan rasa berdosa.  Oleh sebab itu, di masa hidup Mu`adz masalah ini tidak diketahui oleh kebanyakan sahabat.