Header ads

Ayo Puasa Sunnah Syawal

Kajian Salaf Rabu, 31 Agustus 2011 0

Oleh: Ust. Abu Ya'la Hizbul majid.

Salah satu dari pintu-pintu kebaikan adalah melakukan puasa. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
.....أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ

“Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, …” (HR. Tirmidzi, hadits ini hasan shohih)
Puasa dalam hadits ini merupakan perisai bagi seorang muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa adalah perisai dari perbuatan-perbuatan maksiat, sedangkan di akhirat nanti adalah perisai dari api neraka. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam hadits Qudsi:
وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ

“Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)
Oleh karena itu, untuk mendapatkan kecintaan Allah ta’âlâ, maka lakukanlah puasa sunnah setelah melakukan yang wajib. Di antara puasa sunnah yang Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam anjurkan setelah melakukan puasa wajib (puasa Ramadhan) adalah puasa enam hari di bulan Syawwal.
Dianjurkan untuk Puasa Enam Hari di Bulan Syawal
Puasa ini mempunyai keutamaan yang sangat istimewa. Hal ini dapat dilihat dari sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Dari sahabat Abu Ayyub Al Anshorî, beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Pada hadits ini terdapat dalil tegas tentang dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal dan pendapat inilah yang dipilih oleh madzhab Syafi’i, Ahmad dan Abu Daud serta yang sependapat dengan mereka. Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah menyatakan makruh. Namun pendapat mereka ini lemah karena bertentangan dengan hadits yang tegas ini. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56)
Puasa Syawal, Puasa Seperti Setahun Penuh
Dari Tsauban, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا

“Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].” (HR. Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Irwâ’ul Gholîl)
Orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal. Puasa ramadhan adalah selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa syawal adalah enam hari berarti akan semisal dengan 60 hari yang sama dengan 2 bulan. Oleh karena itu, seseorang yang berpuasa ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh. (Lihat Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/56 dan Syarh Riyadhus Sholihin, 3/465). Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat ini bagi umat Islam.
Apakah Puasa Syawal Harus Berurutan dan Dilakukan di Awal Ramadhan ?
Imam Nawawi dalam Syarh Muslim, 8/56 mengatakan, “Para ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa paling afdhol (utama) melakukan puasa syawal secara berturut-turut (sehari) setelah shalat ‘Idul Fithri. Namun jika tidak berurutan atau diakhirkan hingga akhir Syawal maka seseorang tetap mendapatkan keutamaan puasa syawal setelah sebelumnya melakukan puasa Ramadhan.” Oleh karena itu, boleh saja seseorang berpuasa syawal tiga hari setelah Idul Fithri misalnya, baik secara berturut-turut ataupun tidak, karena dalam hal ini ada kelonggaran. Namun, apabila seseorang berpuasa syawwal hingga keluar waktu (bulan Syawwal) karena bermalas-malasan maka dia tidak akan mendapatkan ganjaran puasa syawal.
Catatan: Apabila seseorang memiliki udzur (halangan) seperti sakit, dalam keadaan nifas, sebagai musafir, sehingga tidak berpuasa enam hari di bulan syawal, maka boleh orang seperti ini meng-qodho’ (mengganti) puasa syawal tersebut di bulan Dzulqo’dah. Hal ini tidaklah mengapa. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 3/466)
Tunaikanlah Qodho’ (Tanggungan) Puasa Terlebih Dahulu
Lebih baik bagi seseorang yang masih memiliki qodho’ puasa Ramadhan untuk menunaikannya daripada melakukan puasa Syawal. Karena tentu saja perkara yang wajib haruslah lebih diutamakan daripada perkara yang sunnah. Alasan lainnya adalah karena dalam hadits di atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” Jadi apabila puasa Ramadhannya belum sempurna karena masih ada tanggungan puasa, maka tanggungan tersebut harus ditunaikan terlebih dahulu agar mendapatkan pahala semisal puasa setahun penuh.
Apabila seseorang menunaikan puasa Syawal terlebih dahulu dan masih ada tanggungan puasa, maka puasanya dianggap puasa sunnah muthlaq (puasa sunnah biasa) dan tidak mendapatkan ganjaran puasa Syawal karena kita kembali ke perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi, “Barang siapa berpuasa Ramadhan.” (Lihat Syarhul Mumthi’, 3/89, 100)
Catatan: Adapun puasa sunnah selain puasa Syawal, maka boleh seseorang mendahulukannya dari mengqodho’ puasa yang wajib selama masih ada waktu lapang untuk menunaikan puasa sunnah tersebut. Dan puasa sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Tetapi perlu diingat bahwa menunaikan qodho’ puasa tetap lebih utama daripada melakukan puasa sunnah. Hal inilah yang ditekankan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin -semoga Allah merahmati beliau- dalam kitab beliau Syarhul Mumthi’, 3/89 karena seringnya sebagian orang keliru dalam permasalahan ini.
Kita ambil permisalan dengan shalat dzuhur. Waktu shalat tersebut adalah mulai dari matahari bergeser ke barat hingga panjang bayangan seseorang sama dengan tingginya. Kemudian dia shalat di akhir waktu misalnya jam 2 siang karena udzur (halangan). Dalam waktu ini bolehkah dia melakukan shalat sunnah kemudian melakukan shalat wajib? Jawabnya boleh, karena waktu shalatnya masih lapang dan shalat sunnahnya tetap sah dan tidak berdosa. Namun hal ini berbeda dengan puasa syawal karena puasa ini disyaratkan berpuasa ramadhan untuk mendapatkan ganjaran seperti berpuasa setahun penuh. Maka perhatikanlah perbedaan dalam masalah ini!
Boleh Berniat di Siang Hari dan Boleh Membatalkan Puasa Ketika Melakukan Puasa Sunnah
Permasalahan pertama ini dapat dilihat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah masuk menemui keluarganya lalu menanyakan: “Apakah kalian memiliki sesuatu (yang bisa dimakan, pen)?” Mereka berkata, “tidak” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau begitu sekarang, saya puasa.” Dari hadits ini berarti seseorang boleh berniat di siang hari ketika melakukan puasa sunnah.
Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga terkadang berpuasa sunnah kemudian beliau membatalkannya sebagaimana dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha dan terdapat dalam kitab An Nasa’i. (Lihat Zadul Ma’ad, 2/79)
Semoga dengan sedikit penjelasan ini dapat mendorong kita melakukan puasa enam hari di bulan Syawal, semoga amalan kita diterima dan bermanfaat pada hari yang tidak bermanfaat harta dan anak kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallaahu ‘alaa nabiyyina Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shohbihi wa sallam.

Kapankah Malam Lailatul Qadar?

Kajian Salaf Jumat, 19 Agustus 2011 0

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ {1} وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ {2} لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ {3} تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ {4} سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ {5}‏


1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur`an) pada malam kemuliaan.
2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?
3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan.
5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

KAPANKAH LAILATUL QADR?
Sudah dijelaskan di atas bahwa Lailatul Qadr terjadi pada satu malam saja dari bulan Ramadhan pada setiap tahun, akan tetapi tidak dapat dipastikan kapan terjadinya [1]. Sehingga banyak hadits-hadits dan atsar-atsar yang menerangkan waktu-waktu malam, yang mungkin terjadi padanya Lailatul Qadr[2]. Di antara waktu-waktu yang di terangkan hadits-hadits dan atsar-atsar tersebut ialah sebagai berikut:

1. Pada Malam Pertama Pada Bulan Ramadhan.
Ibnu Katsir berkata: “Ini diriwayatkan dari Abu Razin Al ‘Uqaili (seorang sahabat)” [3].

2. Pada Malam Ke Tujuh Belas Pada Bulan Ramadhan.
Ibnu Katsir berkata [4]: “Dalam hal ini Abu Dawud telah meriwayatkan hadits marfu’ [5] dari Ibnu Mas’ud. Juga diriwayatkan dengan mauquf [6] darinya, Zaid bin Arqam dan Utsman bin Abi Al ‘Ash [7]. Dan ini adalah salah satu perkataan Muhammad bin Idris Asy Syafi’i. Juga diriwayatkan dari Al Hasan Al Bashri. Mereka semua beralasan, karena (malam ke tujuh belas Ramadhan adalah) malam (terjadinya) perang Badr, yang terjadi pada malam Jum’at, malam ke tujuh belas dari bulan Ramadhan, dan di pagi harinya (terjadilah) perang Badr. Itulah hari yang Allah katakan dalam firmanNya:

يَوْمَ الْفُرْقَانِ


(Di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan) [8].

3. Pada Malam Ke Sembilan Belas Pada Bulan Ramadhan.
Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum [9].

4. Pada Malam Ke Dua Puluh Satu Pada Bulan Ramadhan.
Sebagaimana hadits Abu Sa’id Al Khudri, beliau berkata:

اِعْتَكَفَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ الأَوَّلِ مِنْ رَمَضَانَ, وَاعْتَكَفْنَا مَعَهُ, فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ, فَقَالَ: (إِنَّ الَّذِيْ تَطْلُبُ أَمَامَكَ), فَاعْتَكَفَ العَشْرَ الأَوْسَطَ فَاعْتَكَفْنَا مَعَهُ, فَأَتَاهُ جِبْرِيْلُ, فَقَالَ: (إِنَّ الَّذِيْ تَطْلُبُ أَمَامَكَ), قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطِيْباً صَبِيْحَةَ عِشْرِيْنَ مِنْ رَمَضَانَ, فَقَالَ: ((مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلْيَرْجِعْ, فَإِنِّيْ أُرِيْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ, وَإِنِّيْ نُسِّيْتُهَا, وَإِنَّهَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فِيْ وِتْرٍ, وَإِنِّيْ رَأَيْتُ كَأَنِّيْ أَسْجُدُ فِيْ طِيْنٍ وَمَاءٍ)), وَكَانَ سَقْفُ الْمَسْجِدِ جَرِيْدَ النَّخْلِ, وَمَا نَرَى فِيْ السَّمَاءِ شَيْئاً فَجَاءَتْ قَزَعَةٌ فَأُمْطِرْنَا, فَصَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى رَأَيْتُ أَثَرَ الطِّيْنِ وَالْمَاءِ عَلَى جَبْهَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَرْنَبَتِهِ تَصْدِيْقَ رُؤْيَاهُ.


“Rasulullah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari pertama di bulan Ramadhan, dan kamipun beri’tikaf bersamanya. Lalu Jibril datang dan berkata: “Sesungguhnya apa yang kamu minta (ada) di depanmu,” lalu Rasulullah berkhutbah pada pagi hari yang ke dua puluh di bulan Ramadhan dan bersabda: “Barangsiapa yang i’tikaf bersama Nabi, pulanglah. Karena sesungguhnya aku telah diperlihatkan Lailatul Qadr, dan aku sudah lupa. Lailatul Qadr akan terjadi pada sepuluh hari terakhir pada (malam) ganjilnya, dan aku sudah bermimpi bahwa aku bersujud di atas tanah dan air”. Saat itu atap masjid (terbuat dari) pelepah daun pohon kurma, dan kami tidak melihat sesuatupun di langit. Lalu tiba-tiba muncul awan, dan kamipun dihujani. Lalu Rasulullah shalat bersama kami, sampai-sampai aku melihat bekas tanah dan air yang melekat di dahi dan ujung hidungnya sebagai pembenaran mimpinya”.[10]

Asy Syafi’i berkata: “Hadits ini adalah riwayat paling shahih”.[11]

5. Pada Malam Ke Dua Puluh Tiga Pada Bulan Ramadhan.
Sebagaimana hadits Abdullah bin Unais, beliau berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((أُرِيْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ثُمَّ أُنْسِيْتُهَا, وَأَرَانِيْ صُبْحَهَا أَسْجُدُ فِيْ مَاءٍ وَطِيْنٍ)), قَالَ: فَمُطِرْنَا لَيْلَةَ ثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ, فَصَلَّى بِنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْصَرَفَ, وَإِنَّ أَثَرَ الْمَاءِ وَالطِّيْنِ عَلَى جَبْهَتِهِ وَأَنْفِهِ, قَالَ: وَكَانَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أُنَيْسٍ يَقُوْلُ: ثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ.


“Sesungguhnya Rasulullah bersabda: ((Aku telah diperlihatkan Lailatul Qadr kemudian aku dibuat lupa, dan aku bermimpi bahwa aku bersujud di atas tanah dan air)). Maka kami dihujani pada malam yang ke dua puluh tiga, Rasulullah shalat bersama kami, kemudian beliau pergi sedangkan bekas air dan tanah (masih melekat) di dahi dan hidungnya”.

Dan Abdullah bin Unais berkata: Dua puluh tiga [12].

6. Pada Malam Ke Dua Puluh Empat Di Bulan Ramadhan
Sebagaimana hadits Abu Sa’id Al Khudri, berkata:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ أَرْبَعٍ وَعِشْرِيْنَ)).


“Rasulullah bersabda: ((Lailatul Qadr malam yang ke dua puluh empat))” [13].

Ibnu Katsir berkata: “Sanadnya para perawi tsiqat (kuat)” [14].

Demikian juga lafazh hadits yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanadnya dari Bilal.[15]

Kemudian Ibnu Katsir melanjutkan perkataannya (untuk mengomentari hadits Bilal tersebut): “(Pada sanadnya ada) Ibnu Lahi’ah (dan dia) dha’if, dan (hadits ini) tidak sesuai dengan apa yang telah diriwayatkan oleh Al Bukhari dari Ashbagh, dari Ibnu Wahb, dari ‘Amr bin Al Harits, dari Yazid bin Abi Habib, dari Abu Al Khair, dari Abu Abdillah Ash Shunaabihi berkata: “Bilal -Mu’adzin Rasulullah- telah memberitahu kepadaku bahwa Lailatul Qadr dimulai malam ke tujuh dari sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan). [16]” Maka hadits yang mauquf ini lebih sah, wallahu a’lam.

Demikian halnya telah diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir, Al Hasan, Qatadah, Abdullah bin Wahb (yang semuanya mengatakan) bahwa Lailatul Qadr adalah pada malam yang ke dua puluh empat. [17]

7. Pada Malam Ke Dua Puluh Lima Di Bulan Ramadhan
Sebagaimana hadits Abdullah bin Abbas, beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: اِلْتَمِسُوْهَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ, فِيْ تَاسِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ سَابِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ خَامِسَةٍ تَبْقَى.


“Nabi bersabda: Carilah Lailatul Qadr di bulan Ramadhan, pada sembilan malam yang tersisa, tujuh malam yang tersisa, lima malam yang tersisa” [18].

8. Pada Malam Ke Dua Puluh Tujuh Pada Bulan Ramadhan.
Sebagaimana hadits yang di keluarkan oleh Imam Muslim dari Ubay bin Ka’b:

عَنْ عَبْدَةَ وَعَاصِمِ بْنِ أَبِيْ النُّجُوْدِ سَمِعَا زِرَّ بْنَ حُبَيْشٍ يَقُوْلُ: سَأَلْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ, فَقُلْتُ: إِنَّ أَخَاكَ ابْنَ مَسْعُوْدٍ يَقُوْلُ: مَنْ يُقِمْ الحَوْلَ يُصِبْ لَيْلَةَ القَدْرِ, فَقَالَ: رَحِمَهُ اللهُ, أَرَادَ أَنْ لاَ يَتَّكِلَ النَّاسُ, أَمَا إِنَّهُ قَدْ عَلِمَ أَنَّهَا فِيْ رَمَضَانَ, وَأَنَّهَا فَيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ, وَأَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ. ثُمَّ حَلَفَ لاَ يَسْتَثْنِيْ أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ, فَقُلْتُ: بِأَيِّ شَيْءٍ تَقُوْلُ ذَلِكَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ؟ قَالَ: بِالْعَلاَمَةِ أَوْ بِالآيَةِ الَّتِي أَخْبَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, أَنَّهَا تَطْلُعُ يَوْمَئِذٍ لاَ شُعَاعَ لَهَا.


“Dari Abdah dan Ashim bin Abi An Nujud, mereka mendengar Zirr bin Hubaisy berkata: Aku pernah bertanya Ubai bin Ka’b, maka aku berkata: “Sesungguhnya saudaramu Ibnu Mas’ud berkata, barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) selama setahun, pasti akan mendapatkan Lailatul Qadr.” Ubay bin Ka’b berkata: “Semoga Allah merahmatinya, beliau bermaksud agar orang-orang tidak bersandar (pada malam tertentu untuk mendapatkan Lailatul Qadr, Pen), walaupun beliau sudah tahu bahwa malam (Lailatul Qadr) itu di bulan Ramadhan, dan ada pada sepuluh malam terakhir, dan pada malam yang ke dua puluh tujuh”. Kemudian Ubay bin Ka’b bersumpah tanpa istitsna’ [19], dan yakin bahwa malam itu adalah malam yang ke dua puluh tujuh. Aku (Zirr) berkata: “Dengan apa (sehingga) engkau berkata demikian, wahai Abu Al Mundzir? [20]” Beliau berkata: “Dengan tanda yang pernah Rasulullah kabarkan kepada kami, yaitu (matahari) terbit (pada pagi harinya) tanpa sinar (yang terik)”.[21]

Juga hadits Abdullah bin Umar:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رِجَالاً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِيْ الْمَنَامِ فِيْ السَّبْعِ الأَوَاخِرِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِيْ السَّبْعِ الأَوَاخِرِ, فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِيْ السَّبْعِ الأَوَاخِرِ)).


“Dari Ibnu Umar, bahwa beberapa orang sahabat Nabi diperlihatkan (mimpi) Lailatul Qadr pada tujuh malam terakhir, lalu Rasulullah bersabda: “Aku kira mimpi kalian telah bersesuaian pada tujuh malam terakhir. Maka barangsiapa yang ingin mendapatkannya, carilah pada tujuh malam terakhir” [22].

Demikian pula hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan:

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ, عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ قَالَ: ((لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ)).


“Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dari Nabi dalam (masalah) Lailatul Qadr bersabda: “Lailatul Qadr pada malam ke dua puluh tujuh” [23]

Ibnu Katsir berkata: “Dan ini (Lailatul Qadr adalah malam ke dua puluh tujuh) adalah pendapat sebagian ulama salaf, pendapat madzhab Ahmad bin Hanbal, dan riwayat dari Abi Hanifah. Juga telah diriwayatkan dari sebagian Salaf, mereka berusaha mencocokkan malam Lailatul Qadr dengan malam yang ke dua puluh tujuh dengan firman Allah ( هِيَ) . Karena, kata ini adalah kata yang ke dua puluh tujuh dari surat Al Qadr. Wallahu a’lam”. [24]

9. Pada Malam Ke Dua Puluh Sembilan Pada Bulan Ramadhan.
Sebagaimana hadits Abu Hurairah, berkata:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ: إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ أَوْ تَاسِعَةٍ وَعِشْرِيْنَ, إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِيْ الأَرْضِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى.


“Sesungguhnya Rasulullah bersabda tentang Lailatul Qadr: “Sesungguhnya malam itu malam yang ke (dua puluh) tujuh atau ke dua puluh sembilan. Sesungguhnya, malaikat pada malam itu, lebih banyak dari jumlah butiran kerikil (pasir)” [25].

Juga hadits ‘Ubadah bin Shamit:

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ, أَنَّهُ سَأَلَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((فِيْ رَمَضَانَ, فَالْتَمِسُوْهَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ, فإِنَّهَا فَيْ وِتْرٍ, فِيْ إِحْدَى وَعِشْرِيْنَ, أَوْ ثَلاَثٍ وَعِشْرِيْنَ, أَوْ خَمْسٍ وَعِشْرِيْنِ, أَوْ سَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ, أَوْ تِسْعٍ وَعِشْرِيْنَ, أَوْ فِيْ آخِرِ لَيْلَةٍ, فَمَنْ قَامَهَا ابْتِغَاءَهَا إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً ثُمَّ وُفِّقَتْ لَهُ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ)).


“Dari Ubadah bin Ash Shamit, beliau bertanya kepada Rasulullah tentang Lailatul Qadr, maka Rasulullah bersabda: “Di bulan Ramadhan. Maka carilah ia pada sepuluh malam terakhir. Karena malam (Lailatul Qadr) itu (terjadi) pada malam-malam ganjil, pada malam ke dua puluh satu, atau dua puluh tiga, atau dua puluh lima, atau dua puluh tujuh, atau dua puluh sembilan, atau pada akhir malam (bulan Ramadhan). Barangsiapa yang menghidupkan malam itu untuk mendapatkannya dengan penuh harapan (pada Allah) kemudian dia mendapatkannya, akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu dan yang akan datang” [26].

10. Pada Malam Terakhir Pada Bulan Ramadhan.
Sebagaimana hadits Ubadah bin Ash Shamit [27] di atas, dan hadits Abu Bakrah:

عَنْ عُيَيْنَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: حَدَّثَنيِ أبِيْ قَالَ: ذَكَرْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ أَبِيْ بَكْرَةَ فَقَالَ: مَا أناَ مُلْتَمِسُهَا لِشَيْءٍ سَمِعْتهُ مِنْ رَسُوْلِ الله صَلىَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنِّيْ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: ((اِلْتَمِسُوْهَا فَيْ تِسْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ سَبْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ خَمْسٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ ثَلاَثٍ, أَوْ آخِرِ لَيْلَةٍ)), قَالَ: وَكَانَ أَبُوْ بَكْرَةَ يُصَلِّيْ فِيْ الْعِشْرِيْنَ مِنْ رَمَضَانَ كَصَلاَتِهِ فِيْ سَائِرِ السَّنَةِ, فَإذا دَخَلَ الْعَشْرَ اِجْتَهَدَ.


“Dari Uyainah bin Abdurrahman, ia berkata: “Ayahku telah mengkhabarkan kepadaku, (ia) berkata, aku menyebutkan tentang Lailatul Qadr kepada Abu Bakrah, maka beliau berkata, tidaklah aku mencari malam Lailatul Qadr dengan suatu apapun yang aku dengarkan dari Rasulullah, melainkan pada sepuluh malam terakhir; karena sesungguhnya aku mendengarkan beliau berkata: ‘Carilah malam itu pada sembilan malam yang tersisa (di bulan Ramadhan), atau tujuh malam yang tersisa, atau lima malam yang tersisa, atau tiga malam yang tersisa, atau pada malam terakhir’,” berkata Abdurrahman: “Dan Abu Bakrah shalat pada dua puluh hari pertama di bulan Ramadhan seperti shalat-shalat beliau pada waktu-waktu lain dalam setahun, tapi apabila masuk pada sepuluh malam terakhir, beliau bersungguh-sungguh” [28].

Hadits yang serupa telah diriwayatkan dari Mu’awiyah [29].

Inilah waktu-waktu yang diterangkan di berbagai kitab-kitab tafsir maupun hadits. Jika kita perhatikan, banyak hadits-hadits shahih yang menerangkan, bahwa kemungkinan terbesar terjadinya Lailatul Qadr ialah malam-malam ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, terutama pada malam ke dua puluh satu dan dua puluh tujuh.

Muhammad Amin Asy Syinqithi berkata: “Tidak pernah ada ketentuan (pembatasan) yang memastikan waktu terjadinya malam itu (Lailatul Qadr) pada bulan Ramadhan. Para ulama telah banyak membawakan pendapat (perkataan) dan nash-nash. Di antara perkataan (para ulama) tersebut ada yang sangat umum. (Bahwa Lailatul Qadr) mungkin terjadi pada setahun penuh, akan tetapi ini tidak mengandung hal yang baru. Perkataan ini dinisbatkan kepada Ibnu Mas’ud, tetapi (sebetulnya) maksudnya ialah (agar manusia) bersungguh-sungguh (dalam mencarinya). Ada yang mengatakan bahwa malam itu (mungkin) terjadi pada bulan Ramadhan seluruhnya. (Mereka) berdalil dengan keumuman nash-nash Al Qur`an. Ada pula yang berkata, Lailatul Qadr mungkin terjadi pada sepuluh malam terakhir. Pendapat ini lebih khusus dari sebelumnya. Dan ada yang berpendapat, malam itu terjadi pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir tersebut. Maka dari sini, ada yang berpendapat pada malam ke dua puluh satu, ke dua puluh tiga, ke dua puluh lima, ke dua puluh tujuh, ke dua puluh sembilan, dan malam terakhir, sesuai dengan masing-masing nash yang menunjukkan terjadinya Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil tersebut. Akan tetapi, yang paling mashur dan shahih (dari nash-nash tersebut) adalah pada malam ke dua puluh tujuh dan dua puluh satu… (Dengan demikian), apabila seluruh nash yang menerangkan Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil tersebut semuanya shahih, maka besar kemungkinan Lailatul Qadr terjadi pada malam-malam ganjil tersebut. Dan bukan berarti malam Lailatul Qadr tersebut tidak berpindah-pindah, akan tetapi (ada kemungkinan), dalam tahun ini terjadi pada malam ke dua puluh satu, dan pada tahun berikutnya pada malam ke dua puluh lima atau dua puluh tujuh, dan pada tahun yang lainnya lagi terjadi pada malam ke dua puluh tiga atau dua puluh sembilan, dan begitulah seterusnya. Wallahu a’lam”[30]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07-08/Tahun IX/1426/2005M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]

Penulis: Ustadz Arief B bin Usman Rozali

Sumber: Almanhaj.or.id

_______
Footnote
[1]. Dan hal ini ada hikmahnya, sesuai dengan hadits yang telah berlalu dalam Shahih Al Bukhari (2/711 no.1919 & 5/2248 no.5705) dari Ubadah bin Shamit: (وَعَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْراً لَكُمْ), “dan mudah-mudahan hal itu lebih baik untuk kalian”, sehingga Ibnu Katsir berkata: “Maksudnya adalah ketidaktahuan kalian terhadap kapan terjadinya Lailatul Qadr itu lebih baik bagi kalian, karena hal itu membuat orang-orang yang betul-betul ingin mendapatkannya akan berusaha dengan sungguh-sungguh beribadah di setiap kemungkinan waktu terjadinya Lailatul Qadr tersebut, maka dia akan lebih banyak melakukan ibadah-ibadah. Lain halnya jika waktu Lailatul Qadr sudah diketahui, kesungguhan pun akan berkurang dan dia akan beribadah pada waktu malam itu saja”. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al Azhim (8/451).
[2]. Al Hafizh Ibnu Hajar di kitabnya Fathul Bari (4/262-266) membawakan lebih dari empat puluh lima pendapat ulama yang berkaitan dengan keterangan kemungkinan waktu-waktu terjadinya Lailatul Qadr.
[3]. Tafsir Al Quran Al Azhim (8/447). Dan kami tidak mendapatkan atsar yang menerangkan hal ini, kecuali apa yang telah dinukilkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar di kitabnya Fathul Bari (4/263) dari Ibnu Abi Ashim dari Anas berkata: “Lailatul Qadr adalah malam pertama di bulan Ramadhan”.
[4]. Di dalam tafsirnya (8/447).
[5]. Hadits marfu’ adalah hadits yang disandarkan kepada Nabi, baik berupa perkataan,perbuatan, pernyataan, ataupun sifat beliau.
[6]. Hadits mauquf adalah hadits yang disandarkan kepada seorang sahabat Nabi, baik berupa perkataan,perbuatan, atau pernyataan.
[7]. Sunan Abu Dawud (2/53 no.1384). Dan Syaikh Al Albani mendha’ifkan hadits ini. (Lihat Dha’if Sunan Abi Dawud).
[8]. Al Anfaal:41.
[9]. Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim (8/447) dan Fathul Bari (4/263).
[10]. HR Al Bukhari (1/280 no.780, 2/709 & 710 no.1912 & 1914, 2/716 no.1931) dan Muslim (2/826 no. 1167), dan lain-lainnya.
[11]. Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim (8/447).
[12]. Muslim (2/826 no. 1167), dan Al Muwatha’ (1/320)
[13]. Musnad Ath Thayalisi (1/288).
[14]. Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim (8/447).
[15]. Musnad Imam Ahmad (6/12), dan Syaikh Al Albani mendha’ifkan hadits ini (Lihat Dha’if Al Jami’ no.4957).
[16]. HR Al Bukhari (4/1621)
[17]. Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim (8/448), dan lihat juga tafsir beliau pada surat Al Baqarah ayat 185 (Tafsir Al Quran Al Azhim (1/505).
[18]. HR Al Bukhari (2/711 no.1917), Abu Dawud (2/52 no.1381), Ahmad (1/231 no.2052, 1/279 no.2520, 1/360 no.3401, 1/365 no.3456), dan lain-lainnya.
[19]. Bersumpah tanpa istitsnaa’ adalah bersumpah dengan tidak menyebutkan kata “Insya Allah” setelahnya.
[20]. Kunyahnya Ubay bin Ka’b. (Lihat Taqrib At Tahdzib hal:120).
[21]. HR Muslim (2/828 no.762), Abu Dawud (2/51 no.1378), At Tirmidzi (3/160 no.793 dan 5/445 no.3351), Ahmad (5/130 no.21231).
[22]. HR Muslim (2/822 no.1165), Ahmad (2/8 no.4547, 2/27 no.4808, 2/157 no.6474) dan dishahihkan Al Albani (Shahih Al Jami’ no.2920).
[23]. HR Abu Dawud (2/53 no.1386). Dan Hadits ini dishahihkan Al Albani (Lihat Shahih Sunan Abi Dawud dan Shahih Al-Jami no.1240).
[24]. Tafsir Al Quran Al Azhim (8/448), dikatakan pula bahwa kata ( لَيْلَةُ الْقَدْرِ ) ada sembilan huruf, dan kata ini terdapat dalam surat Al Qadr sebanyak tiga kali pengulangan, maka jumlah keseluruhan hurufnya ada dua puluh tujuh, maka itulah malam Lailatul Qadr. (Lihat Adhwa’ Al Bayan 9/37).
[25]. Musnad Ahmad (2/519 no.10745 dan 2/529 no.10860), Shahih Ibnu Khuzaimah (3/332 no.2194), Musnad Ath Thayalisi (1/332 no.2545). Dan Al Albani menghasankan hadits ini. (Lihat Shahih Al Jami’ no.5473, dan Silsilah Ash Shahihah 5/240).
[26]. HR Ahmad (5/318, 321, 324 no.22675, 22793, 22815 dan 22817).
[27]. Ibid.
[28]. HR At Tirmidzi (3/160 no.794), An Nasa’i di As-Sunan Al Kubra (2/273 no.3403, 3404), Ahmad (5/36 no.20392, 5/39 no.20420), Ibnu Hibban di Shahihnya (8/442 no.3686), Al Hakim di Al Mustadraknya(1/604 no.1594), dan lain-lainnya. Dan hadits ini dishahihkan Al Albani. (Lihat Shahih Sunan At Tirmidzi, Shahih Al Jami’ no.1243).
[29]. Shahih Ibnu Khuzaimah (3/330 no.2189). Dan hadits ini dishahihkan Al Albani. (Lihat Shahih Al Jami’ no.1238).
[30].Adhwa’ Al Bayan (9/35-36). Syaikh Al Utsaimin pernah ditanya: ”Apakah malam lailatul qadar tertentu pada satu malam ataukah berpindah-pindah (berubah-ubah pada setiap tahunnya) dari satu malam ke malam yang lainnya?”, beliaupun menjawab dengan jawaban yang serupa dengan perkatan Syaikh Asy Syinqithi dalam tafsirnya tersebut, yaitu berpindah-pindah/berubah-ubah pada setiap tahunnya. Wallahu a’lam. (Lihat Majmu’ Fatawa Lajnah Da’imah: 14/228-229).
Ibnu Katsir juga membawakan pendapat ulama dalam masalah ini secara panjang lebar. (Lihat Tafsir Al Quran Al Azhim: 8/450).

Menyongsong Malam Lailatul Qadar

Kajian Salaf 0

Keutamaan Lailatul Qadar

Pertama, lailatul qadar adalah malam yang penuh keberkahan (bertambahnya kebaikan). Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan.” (QS. Al Qadar: 1). Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya (yang artinya), “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qadar: 3-5). Sebagaimana kata Abu Hurairah, malaikat akan turun pada malam lailatul qadar dengan jumlah tak terhingga. Malaikat akan turun membawa kebaikan dan keberkahan sampai terbitnya waktu fajar. (Zaadul Maysir, 6/179)

Kedua, lailatul qadar lebih baik dari 1000 bulan. An Nakho’i mengatakan, “Amalan di lailatul qadar lebih baik dari amalan di 1000 bulan.” Mujahid dan Qotadah berpendapat bahwa yang dimaksud dengan lebih baik dari seribu bulan adalah shalat dan amalan pada lailatul qadar lebih baik dari shalat dan puasa di 1000 bulan yang tidak terdapat lailatul qadar.

Ketiga, menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat akan mendapatkan pengampunan dosa. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi?

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari no. 2017)

Lalu kapan tanggal pasti lailatul qadar terjadi? Ibnu Hajar Al Asqolani telah menyebutkan empat puluhan pendapat ulama dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana dikatakan oleh beliau adalah lailatul qadar itu terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan waktunya berpindah-pindah dari tahun ke tahun (Fathul Baari, 6/306, Mawqi’ Al Islam Asy Syamilah). Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua puluh lima, itu semua tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)

Para ulama mengatakan bahwa hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tanggal pasti terjadinya lailatul qadar adalah agar orang bersemangat untuk mencarinya. Hal ini berbeda jika lailatul qadar sudah ditentukan tanggal pastinya, justru nanti malah orang-orang akan bermalas-malasan.

Do’a di Malam Lailatul Qadar

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita –Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah. Beliau radhiyallahu ‘anha berkata, ”Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, ”Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’ (Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Adapun tambahan kata “kariim” setelah “Allahumma innaka ‘afuwwun …” tidak terdapat satu dalam manuskrip pun. Lihat Tarooju’at no. 25)

Tanda Malam Lailatul Qadar

Pertama, udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan periwayatnya adalah tsiqoh/terpercaya)

Kedua, malaikat turun dengan membawa ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah yang tidak didapatkan pada hari-hari yang lain.

Ketiga, manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada sebagian sahabat.

Keempat, matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar, seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.” (HR. Muslim no. 1174)

Bagaimana Seorang Muslim Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?

Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput dari lailatul qadar, maka dia telah terluput dari seluruh kebaikan. Sungguh merugi seseorang yang luput dari malam tersebut. Seharusnya setiap muslim mengecamkan baik-baik sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah ketika itu dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah. Seharusnya dia dapat mencontoh Nabinya yang giat ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim no. 1175)

Seharusnya setiap muslim dapat memperbanyak ibadahnya ketika itu, menjauhi istri-istrinya dari berjima’ dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan, “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174)

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksana kan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)

Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam lailatul qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan bukan seluruh malam. Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Menghidupkan malam lailatul qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al Qur’an (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 3/313, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam lailatul qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Bagaimana Wanita Haidh Menghidupkan Malam Lailatul Qadar?

Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari lailatul qadar?” Adh Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331)

Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haidh, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian lailatul qadar. Namun karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu adalah: (1) Membaca Al Qur’an tanpa menyentuh mushaf, (2) Berdzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya, (3) Memperbanyak istighfar, dan (4) Memperbanyak do’a. (Lihat pembahasan di “Al Islam Su-al wa Jawab” pada link http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753)

Beri’tikaf Demi Menanti Lailatul Qadar

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau. Inilah penuturan ‘Aisyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu. (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim 1172)

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika ingin beri’tikaf.

Pertama, i’tikaf harus dilakukan di masjid dan boleh di masjid mana saja. I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid” (QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah sama sekali.

Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid”. Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, ”Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid yaitu masjidil harom, masjid nabawi dan masjidil aqsho”. Perlu diketahui, hadits ini masih dipersilisihkan statusnya, apakah marfu’ (sabda Nabi) atau mauquf (perkataan sahabat).

Kedua, wanita juga boleh beri’tikaf sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk beri’tikaf. Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: (1) Diizinkan oleh suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki).

Ketiga, yang membatalkan i’tikaf adalah: (1) Keluar masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan, mandi junub, yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), (2) Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 187 di atas.

Keempat, hal-hal yang dibolehkan ketika beri’tikaf di antaranya: (1) Keluar masjid disebabkan ada hajat seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid, (2) Melakukan hal-hal mubah seperti bercakap-cakap dengan orang lain, (3) Istri mengunjungi suami yang beri’tikaf dan berdua-duaan dengannya, (4) Mandi dan berwudhu di masjid, dan (5) Membawa kasur untuk tidur di masjid.

Kelima, jika ingin beri’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang beri’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 (sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan keluar setelah shalat shubuh pada hari ‘Idul Fithri menuju lapangan.

Keenam, hendaknya ketika beri’tikaf, sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, bershalawat pada Nabi, mengkaji Al Qur’an dan mengkaji hadits. Dan dimakruhkan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. (pembahasan i’tikaf ini disarikan dari Shahih Fiqih Sunnah, 2/150-158)

Semoga Allah memudahkan kita menghidupkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan dengan amalan ketaatan. Hanya Allah-lah yang memberi taufik.

Penulis : Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Sumber: Buletin At Tauhid edisi V/37

DAUROH 10 AKHIR RAMADHAN MAHAD ALI AL-IRSYAD SURABAYA

Kajian Salaf Rabu, 17 Agustus 2011 0

Kepada segenap kaum muslimin yang sedang berbahagia menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini, kami ucapkan…

السَّــلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاةُهُ


Melengkapi kebahagiaan Anda dalam aktifitas ibadah di bulan yang diberkahi ini, alhamdulillah STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya insyaAllah akan kembali mengadakan dauroh mulai tanggal 21 – 28 Ramadhan 1432 H yang bertepatan dengan tanggal 21 – 28 Agustus 2011 M.

Pemateri dalam dauroh tersebut adalah para staff pengajar STAI Ali Bin Abi Thalib. Adapun materi yang akan disampaikan adalah Kitab al-Arba’in an-Nawawiyyah karya Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah.

Berikut ini adalah pamflet & jadwal acara dauroh yang bisa Anda download dengan mengklik tautannya masing-masing:


Pemateri :




  1. Fadhilatul Ustadz Mubarak Bamu’allim, Lc.

  2. Fadhilatul Ustadz Salim Ali Ghanim, Lc.

  3. Al-Ustadz ‘Abdurrahman bin Thayyib, Lc.

  4. Al-Ustadz Imam Wahyudi, Lc.

  5. Al-Ustadz ‘Abdurrahman Hadi, Lc.

  6. Al-Ustadz Muhammad Sulhan, Lc.


Bersamaan dengan kegiatan dauroh tersebut, STAI Ali bin Abi Thalib juga mengadakan sholat malam di 10 malam terakhir bulan Ramadhan ini. Sholat malam tersebut insyaAllah akan dipimpin oleh Ustadz Mubarak Bamualim, LC. M.H.I. Pelaksanaan sholat dimulai Pukul 00.30 WIB.

Kegiatan dauroh & sholat malam bertempat di Masjid Darul Hijrah Kampus STAI Ali Bin Abi Thalib, Jl. Sidotopo Kidul No. 51 Surabaya.



Demikian kabar gembira ini disampaikan, semoga Allah Subhaanahu wa Ta’aala senantiasa memberikan taufik kepada kita semua untuk mengisi bulan yang mulia ini dengan iman & amal shaleh dan menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang bisa menggapai malam lailatul qadar & membebaskan kita semua dari api Neraka, aamiin.

Akhir kata, kami ucapkan…

 

والسَّــلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاةُهُ

Pilih Koran Atau Tadabbur Al-Qur'an

Kajian Salaf Jumat, 12 Agustus 2011 1

Oleh Ustadz Abu Ihsan al-Atsari

Sekarang ini membaca koran sudah menjadi rutinitas yang nyaris tidak bisa ditinggalkan oleh manusia. Dimana-mana tersedia bacaan yang satu ini, di rumah, kantor, restoran, warung, bahkan sebagian orang ada yang menyempatkan diri membaca koran di toilet. Seakan koran sudah seperti bacaan wajib bagi mereka. Sikap yang berbeda mereka tujukan untuk al-Qur’ân, sebuah kitab yang menjadi pedoman hidup. Al-Qur'ân nyaris tidak tersentuh, apalagi diperhatikan. Mereka lebih hafal nama koran, atau tokoh-tokoh dalam koran daripada nama surat-surat al-Qur’ân. Bahkan lebih ironinya lagi, banyak dari mereka yang tampak tekun memelototi koran, ternyata tidak bisa baca al-Qur’ân. Sebegitu pentingkah berbagai sajian koran bagi mereka ? Sehingga rela meluangkan waktu ditengah kesibukannya untuk membaca dan mengikuti buah tangan para wartawan.

Allâh Azza wa Jalla telah menyediakan bacaan bagi orang-orang yang beriman. Bacaan yang sangat berkualitas, berisi hidayah yang menunjukkan hal-hal terbaik bagi mereka. Membacanya adalah ibadah yang berbuah pahala, bahkan pada setiap huruf dihitung satu pahala.
Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ آلم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ


"Barangsiapa membaca satu huruf dari kitabullah, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim adalah satu huruf, tetapi alif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf" [1]

Al-Qur'an adalah bacaan yang tidak ada kebohongan dan kebatilan di dalamnya, dari depan maupun dari belakang. Sebuah bacaan yang akan mendatangkan ketenangan jiwa dan kekhusyukan hati. Itulah al-Qur’ânul Karîm, Kalâmullâh yang diturunkan kepada Nabi-Nya yang terakhir, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Membaca al-Qur'ân adalah ibadah yang tidak selayaknya diremehkan apalagi ditinggalkan oleh seorang Muslim. Membaca al-Qur'ân termasuk dzikrullâh yang sangat agung. Allâh Subhanahu wa Ta'ala telah menjanjikan pahala dan keutamaan yang sangat besar bagi orang yang senantiasa membaca dan mempelajari al-Qur’ân.

Allâh Subhanahu wa Ta'ala berfirman :

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ


"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allâh dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allâh menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karuniaNya. Sesungguhnya Allâh Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri". [Fâthir/35:29-30]

Dan Allâh Azza wa Jalla telah memerintahkan kita supaya membacanya dengan tartil dan sungguh-sungguh.

أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا


"Dan bacalah al-Qur'ân itu dengan tartil (perlahan-lahan)". [al-Muzammil/73:4].

ذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ ۗ وَمَن يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ


"Orang-orang yang telah Kami berikan al kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenar-benarnya". [al-Baqarah/2:121]
Yaitu membacanya dengan memperhatikan hukum-hukum tajwîd, kaidah-kaidah bacaan, mentadabburi kandungan dan mengamalkan isinya.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah menganjurkan kita untuk senantiasa membaca, mentadabburi, mempelajari, mengajarkan dan memperhatikannya.

Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ القُرْآنَ وَ عَلَّمَهُ


"Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur'ân dan mengajarkannya".[2]

Bahkan kalaupun belum lancar, kita tetap dianjurkan untuk membacanya.
Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ


"Orang yang mahir membaca al-Qur'ân akan bersama rombongan Malaikat yang mulia lagi terpuji. Dan orang yang terbata-bata dan sulit membacanya akan mendapatkan dua pahala". [3]

Dan dengan membaca al-Qur'ân, seorang mukmin akan terbedakan dengan fasik, Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الَّذِي لَا يَقْرَأُ كَالتَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلَا رِيحَ لَهَا وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ طَعْمُهَا مُرٌّ وَلَا رِيحَ لَهَا


"Perumpamaan seorang mukmin yang membaca al-Qur'ân adalah seperti al-utrujjah (sejenis jeruk), aromanya harum dan rasanya enak. Dan perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur'ân adalah seperti buah kurma yang tidak memiliki aroma tapi manis rasanya. Perumpamaan seorang fasiq yang membaca al-Qur'ân seperti ar-raihaanah, aromanya wangi tapi rasanya pahit dan perumpamaan seorang fasiq yang tidak membaca al-Qur'ân seperti al-hanzhalah, rasanya pahit dan tidak memiliki aroma".[4]

Disamping itu, al-Qur'ân juga akan menjadi pemberi syafa'at baginya pada hari Kiamat. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَجِيءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ


"Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi pembacanya". [5]

Setiap kali membaca al-Qur'ân, seorang Mukmin akan naik derajatnya satu tingkatan. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ حَلِّهِ فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ زِدْهُ فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً


"Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat seraya berkata, “Wahai Rabbku, hiasilah ia (penghafal al-Qur’ân).” Maka iapun dipakaikan mahkota kemuliaan. Lalu al-Qur'ân berkata, “Wahai Rabbku, tambahkanlah untuknya.” Maka iapun dipakaikan jubah kemuliaan. Lalu al-Qur'ân berkata, “Wahai Rabbku, ridhailah ia.” Maka Allâh pun meridhainya. Kemudian dikatakan kepadanya (penghafal al-Qur’an), “Bacalah dan naiklah, untuk tiap-tiap ayat akan ditambahkan bagimu satu pahala.". [6]

Dan masih banyak lagi keutamaan yang disebutkan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang keutamaan membaca al-Qur'ân. Lalu pantaskah kita ganti yang lebih utama ini dengan sesuatu yang rendah ?

Bukankah menyibukkan diri dengan tilâwah al-Qur'ân dan menghafalnya lebih utama daripada menyibukkan diri membaca koran ?

Mengabaikan al-Qur'ân dan beralih kepada koran akan menyebabkan kekosongan hati dan kehampaan pikiran. Sebagian orang jahil apabila sedang kosong, ia sibuk menelaah. Menelaah apa? Menelaah majalah, koran dan tabloid. Bukankah lebih baik mengisi kekosongan waktu dengan membaca atau menghafal al-Qur'ân ? Terlebih bagi seorang penuntut ilmu. Bahkan salah satu penyebab seorang penuntut ilmu itu mengalami future (sindrom) adalah beralih dari al-Qur'ân ke koran.

Termasuk bentuk fitnah pada hari ini adalah promosi-promosi terselubung yang banyak sebarkan oleh orang-orang kafir dan fasik melalui berbagi media audio visual maupun cetak, melalui program-program radio dan televisi, majalah, koran, buku dan selebaran-selebaran. Orang-orang jahil kembali menjadi korban dengan mengkonsumsi barang-barang itu. Merekapun percaya, meyakini kebenarannya, menggandrunginya dan akhirnya terpedaya. Tanpa sadar mereka mengagumi keyakinan dan ibadah orang-orang kafir. Orang-orang awam akan melahap semua yang ada di koran-koran itu.

Ini merupakan bahaya besar yang dapat menerkam setiap orang jahil yang tidak punya tameng ilmu untuk menangkis syubhat-syubhat tersebut. Sebagian orang yang merasa berilmu beralasan bahwa kesibukannya membaca koran adalah untuk mengetahui fiqhul waqi’, mengetahui perkembangan terkini. Inilah syubhat mereka. Sehingga membaca koran menjadi kegiatan utama sementara membaca al-Qur'ân menjadi kegiatan nomor sekian bahkan tidak masuk agenda sama sekali.

Syaikh Abdul Mâlik ar-Ramadhâni hafizhahullâh telah membantah syubhat seperti ini. Beliau hafizhahullâh mengatakan, “Alangkah besar kejahatan para pendidik itu! Karena mereka telah memalingkan umat dari penyakit sesungguhnya! Lalu bagaimana umat bisa mendapatkan obatnya?! Betapa besar musibah ini! Musibah yang memalingkan umat dari jalan Allâh Azza wa Jalla ! Memalingkan umat dari ilmu al-Qur'ân dan as-Sunnah, dari mengangungkan keduanya dan berkumpul di majelis-majelis Ulama kepada ilmu politik terkini dan berkumpul mendengarkannya dari media-media informasi politik audio maupun visual (radio dan televisi), koran-koran maupun majalah! Yang mana kejujuran adalah suatu hal yang tabu! Bahkan berlalu tanpa acuh di hadapan para pengikut al-Qur'ân dan as-Sunnah! Hobbi mereka adalah melihat video (film) dan membaca majalah al-Bayân dan as-Sunnah [7]. Setiap hari, setiap pekan bahkan setiap bulan tidak ada waktu dan kecenderungan mendengarkan ayat al-Qur'ân! Silakan tanya sendiri, sudah berapa lama kitab shahîhain (Shahih Bukhâri dan Muslim) nyaris tidak tersentuh sementara tidak sesaatpun mereka lepas dari koran yang menghidangkan berita-berita terkini dan berita-berita lalu! Semua urusan terpulang kepada Allâh!

Jangan buru-buru menyanggah! Karena yang saya paparkan tadi bukanlah ilmu hingga perlu dibahas, itu hanyalah kabar tentang realita yang terjadi!

Abu Nu'aim rahimahullah meriwayatkan dalam kitab al-Hilyah [8] dengan sanadnya dari seorang lelaki dari Bani Asyja' ia berkata, "Orang-orang mendengar berita kedatangan Salman al-Fârisi di masjid. Merekapun ramai-ramai mendatangi beliau Radhiyallahu 'anhu dan berkumpul di hadapannya, jumlah yang hadir ketika itu mencapai ribuan orang.

Ia melanjutkan, "Salman pun bangkit dan berkata, "Duduklah, duduklah! Setelah semua hadirin duduk, beliau Radhiyallahu 'anhu membuka majelis dengan membacakan surat Yûsuf. Seketika saja mereka bubar dan meninggalkan majelis hingga hanya sekitar seratusan saja yang tersisa. Melihat itu Salmân Radhiyallahu 'anhu marah. Beliau Radhiyallahu 'anhu berkata, "Apakah kata-kata manis penuh tipuan yang kalian inginkan ? Aku bacakan ayat-ayat Allâh kepada kalian lalu kalian bubar?!"

Barangkali Salman al-Fârisi Radhiyallahu 'anhu sengaja memilih surat Yûsuf karena di dalamnya terkandung anjuran qanâ'ah (mencukupkan diri) dengan kisah-kisah yang tersebut dalam Kitâbullâh, bukan dengan kisah-kisah dan hikayat-hikayat yang digandrungi orang banyak. Itulah yang disebutkan Allâh Azza wa Jalla :

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ


"Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik". [Yûsuf/12:3]

Dan karena mengikuti sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam diminta membacakan kisah-kisah, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membacakan kepada mereka ayat-ayat yang diturunkan Allâh Subhanahu wa Ta'ala kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam surat Yûsuf ini.

Seperti itu pulalah yang dilakukan oleh Umar Radhiyallahu 'anhu ketika melihat orang-orang lebih suka membaca kitab yang bercerita tentang keajaiban-keajaiban umat terdahulu.[9]

Semoga Allâh meridhai para Salaf ! Betapa besar kesungguhan mereka dalam mengikuti sunnah nabi!”

Kemudian beliau melanjutkan, “Umar bin al-Khathtab Radhiyallahu 'anhu serta para sahabat lainnya telah mendengar desas-desus bahwa raja Ghassân hendak menyerang mereka. Namun hal itu tidak menghalangi mereka untuk menuntut ilmu dengan alasan mengikuti perkembangan ! Sangat disayangkan sekali, bila Anda memasuki perpustakaan-perpustakaan umum yang biasa dikunjungi oleh para pelajar, akan Anda lihat mereka lebih banyak berkumpul di bagian majalah dan koran-koran sedang asyik mengulas berita. Padahal perpustakaan itu dipenuhi dengan koleksi kitab-kitab tauhid, tafsir dan hadits. Jarang sekali Anda lihat mereka menjamah kitab-kitab tersebut kecuali bila terpaksa, misalnya untuk menulis makalah untuk meraih gelar atau untuk mencari sesuap nasi. Kecuali segelintir pelajar saja yang memang benar-benar berminat menimba ilmu agama! Sungguh aneh memang! Berapa banyak diantara mereka yang tidak memiliki buku doa harian dan dzikir nabawi. Wajar saja karena dzikir dan wirid mereka bersama siaran-siaran radio dan televisi serta berita-berita koran ! Wallâhul Musta'ân.

Syaikh al-Albâni rahimahullah mengkritik perkataan Nashir al-Umar tentang referensi fiqih wâqi' yang mengatakan, "Berita politik dan informasi dari media massa merupakan referensi terpenting sekarang ini. Dalam bentuk media cetak (koran dan majalah) maupun audio visual (radio dan televisi). Sebagai contoh : koran, majalah, tabloid, bulletin, informasi dari sejumlah kantor berita internasional, siaran radio dan televisi, kaset, piagam dan beberapa media informasi modern lainnya"

Salah seorang hadirin bertanya kepada Syaikh al-Albâni rahimahullah , "Bagaimana pandangan Anda tentang referensi tersebut ?" Syaikh al-Albâni rahimahullah menjawab, "Itu musibah! Kita semua tahu bahwa berita yang disebarkan oleh orang kafir ke negara-negara Islam hanyalah untuk memperdaya kaum Muslimin. Lalu bagaimana mungkin berita-berita seperti itu digunakan untuk mengetahui situasi dan kondisi ? Sebagai konsekuensinya, harus dibentuk tim wartawan atau reporter Muslim yang tugasnya khusus mempelajari berita-berita itu menurut kode etik aqidah dan agama. Tim ini harus independen, tidak boleh bergantung kepada pihak lain sebagaimana yang Anda singgung tadi. Sumber berita yang Anda sebutkan tadi tentu tidak sama dengan konsekuensi yang saya sebutkan ini !"

Nashir al-Umar berusaha membela diri, ia mengklaim telah memberi batasan-batasan dan pantangan-pantangan, ia menyebutkan diantaranya :

  1. "Pertama, memegang teguh kaedah-kaedah dasar syariat, pedoman ilmiah dan logika dalam menganalisa berita, memprediksi kemungkinan dan meramalkan masa depan.

  2. Kedua, mengecek kebenaran berita dan teliti dalam menyampaikannya. Saya telah menjelaskan masalah ini sebagai berikut : Tindakan yang tepat, menjauhi bahaya dan kesalahan serta memperhatikan batasan-batasan tersebut dalam menerima berita."


Syaikh al-Albâni rahimahullah berkata: "Akan tetapi hal itu tidak mungkin diwujudkan. Anda meletakkan kaedah yang teoritis dan cuma berlaku di atas kertas saja! Hal itu tidak mungkin diwujudkan kecuali dengan konsekuensi yang saya sebutkan tadi. Dan itu merupakan tanggung jawab pemerintah, bukan tanggung jawab kelompok tertentu apalagi orang-perorang. Sebagaimana yang kami ketahui, saluran radio BBC London bukanlah milik pemerintah, namun milik perusahaan swasta.

Syaikh rahimahullah melanjutkan: "Jadi harus ada lembaga atau badan yang didirikan atas kesepakatan negara-negara Islam untuk melaksanakan fardhu kifâyah ini dalam rangka membantu memahami berita-berita tersebut. Jika pemerintah tidak sanggup -–dalam hal ini pemerintahlah yang paling berhak dan paling kuasa melaksanakan fardhu kifayah tersebut-- barulah badan-badan swasta yang ditangani oleh kaum Muslimin yang punya kepedulian dalam masalah ini yang melaksanakannya. Mereka harus menugaskan pekerja-pekerjanya untuk menukil berita-berita itu, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Jika hal itu terlaksana barulah kita tidak lagi bergantung kepada pihak lain dalam mengolah berita musuh dan seteru kita. Kemudian barulah kita coba menerapkan batasan-batasan yang Anda sebutkan tadi. Sebab, tidak seorangpun dapat memastikan kebenaran berita-berita itu selama masih bersumber dari orang-orang kafir. Sama halnya bila kita ingin memastikan kebenaran sejumlah berita dalam Taurat dan Injil, manakah yang benar dan mana yang salah. Hal itu hanya dapat dilakukan setelah membandingkannya dengan berita orang yang terpercaya lagi tsiqah.....Jika mereka itu tidak ada, maka putuslah mata rantai orang-orang yang ingin menyelami fiqh waqi' dan hanya bersandar kepada berita-berita yang datang dari negera kafir dan sesat serta berita-berita dari orang fasik dan jahat. Maka tidaklah mungkin merealisasikan gagasan-gagasan Anda itu. Oleh sebab itu, fiqh waqi' seperti yang Anda sebutkan itu hanyalah teori belaka, tidak mungkin diwujudkan di alam nyata. Kecuali dengan mendirikan suatu badan yang menugaskan beberapa orang untuk menukil berita lewat jalur terpercaya sebagaimana halnya proses pengolahan berita yang tertuang dalam ilmu mushtalah hadits."

al-Umar berkata, "Bagaimana jika kita menunggu sampai hal itu ada, wahai Syaikh?"

Syaik al-Albâni rahimahullah menanggapi, "Hal itu sangat sulit diwujudkan!"

al-Umar berkata, "Bukankah kita boleh mengambil faedah dari sebagian orang, wahai Syaikh...."

Syaikh al-Albâni rahimahullah menjawab: "Semoga Allâh memberkati Anda, berhubung melimpahnya berita dan banyaknya sumber berita dari kalangan kaum kafir, maka akibatnya seseorang akan tenggelam ditelan gelombang berita tersebut. Hal itu sangat sulit terealisasi sekarang ini !"[10]

Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata, "Apa sandaran fiqih yang mereka sebut fiqh waqi' itu ? Apakah koran, majalah dan siaran-siaran radio ? Bukankah berita-berita koran, majalah dan radio itu banyak bohongnya ? Media-media informasi cetak maupun eletronik sekarang ini tidak bisa dijadikan sandaran. Boleh jadi beberapa rancangan terdahulu sudah basi karena keadaan ternyata berubah! Bilamana seorang yang berakal memperhatikan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir ini tentu ia dapat mengetahui bahwa seluruh prediksi yang mereka sebutkan itu tidak lagi riil. Oleh sebab itu menurut kami memalingkan para pemuda dari menuntut ilmu agama dan mengalihkannya kepada berita-berita fiqih waqi' itu, membolak-balik majalah, koran dan mendengar siaran-siaran berita merupakan penyimpangan manhaj!"[11]

Itulah nasihat dari para ulama rabbani kepada umat khususnya kepada para pemuda dan kalangan penuntut ilmu. Janganlah terpedaya dengan syubhat-syubhat yang menyesatkan, sehingga kita terpalingkan dari kebenaran dan hidayah, wallahul musta’ân.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi, 04-05/Tahun XIV/1431/2010M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]

_______
Footnote
[1]. HR at-Tirmidzi dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu 'anhu, dan dishahihkan oleh al-Albâni rahimahullah dalam Silsilah Shahihah (3327).
[2]. HR Bukhâri dari Utsmân bin Affân Radhiyallahu 'anhu.
[3]. HR Bukhâri dan Muslim dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha.
[4]. HR Bukhâri dan Muslim Abu Musa al-Asy’âri Radhiyallahu 'anha.
[5]. HR Muslim dari Abu Umâmah Radhiyallahu 'anhu
[6]. HR Tirmidzi dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu dan dihasankan oleh al-Albâni dalam Shahihul Jâmi’ (8030).
[7]. Majalah al-Bayân dan as-Sunnah yang diterbitkan oleh Yayasan Muntada Islami Birmingham London UK yang dikepalai oleh Muhammad Surur! Bukan majalah as-Sunnah kita ini, seperti yang dikira oleh sebagian penyebar fitnah berusaha melakukan kebohongan publik dan fitnah keji, wallahul musta’aan.
[8]. Hilyatul Auliyâ', I/203
[9]. Diriwayatkan oleh Ibnul Dharis dalam Fadhâilul Qur'ân (88) dan al-Khathib dalam al-Jâmi' (1490), dicantumkan juga oleh Ibnul Jauji dalam kitab Tarikh Umar, hlm. 145.
[10]. Dinukil dari kaset Silsilatul Huda wan Nûr bertajuk Fiqhul Waqi', berisi rekaman dialog antara Syaikh al-Albâni rahimahullah dengan Nashir al-Umar pada tahun 1412 H.
[11]. Dinukil dari kaset bertajuk: "Dialog Syeikh Abul Hasan Al-Ma'ribi dengan Syeikh Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin"

Mengenal Sunnah-Sunnah Puasa

Kajian Salaf Jumat, 05 Agustus 2011 0

Berikut penjelasan mengenai berbagai hal yang disunnahkan ketika puasa:

1. Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan bagi orang yang hendak berpuasa untuk makan sahur. Al Khottobi mengatakan bahwa makan sahur merupakan tanda bahwa agama Islam selalu mendatangkan kemudahan dan tidak mempersulit.[1] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ أَرَادَ أَنْ يَصُومَ فَلْيَتَسَحَّرْ بِشَىْءٍ


Barangsiapa ingin berpuasa, maka hendaklah dia bersahur.”[2]

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan demikian karena di dalam sahur terdapat keberkahan. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السَّحُورِ بَرَكَةً


Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.”[3] An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Karena dengan makan sahur akan semakin kuat melaksanakan puasa.”[4]

Makan sahur juga merupakan pembeda antara puasa kaum muslimin dengan puasa Yahudi-Nashrani (ahlul kitab). Dari Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ


Perbedaan antara puasa kita (umat Islam) dan puasa ahlul kitab terletak pada makan sahur.”[5] At Turbasyti mengatakan, “Perbedaan makan sahur kaum muslimin dengan ahlul kitab adalah Allah Ta’ala membolehkan pada umat Islam untuk makan sahur hingga shubuh, yang sebelumnya hal ini dilarang pula di awal-awal Islam. Bagi ahli kitab dan di masa awal Islam, jika telah tertidur, (ketika bangun) tidak diperkenankan lagi untuk makan sahur. Perbedaan puasa umat Islam (saat ini) yang menyelisihi ahli kitab patut disyukuri karena sungguh ini adalah suatu nikmat.”[6]

Sahur ini hendaknya tidak ditinggalkan walaupun hanya dengan seteguk air sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,


السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلاَ تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى المُتَسَحِّرِينَ


Sahur adalah makanan yang penuh berkah. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkannya sekalipun hanya dengan minum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.”[7]

Disunnahkan untuk mengakhirkan waktu sahur hingga menjelang fajar. Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut. Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata,


تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قُمْنَا إِلَى الصَّلاَةِ. قُلْتُ كَمْ كَانَ قَدْرُ مَا بَيْنَهُمَا قَالَ خَمْسِينَ آيَةً.


Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid, ”Berapa lama jarak antara adzan Shubuh[8] dan sahur kalian?” Zaid menjawab, ”Sekitar membaca 50 ayat”.[9] Dalam riwayat Bukhari dikatakan, “Sekitar membaca 50 atau 60 ayat.”

Ibnu Hajar mengatakan, “Maksud sekitar membaca 50 ayat artinya waktu makan sahur tersebut tidak terlalu lama dan tidak pula terlalu cepat.” Al Qurthubi mengatakan, “Hadits ini adalah dalil bahwa batas makan sahur adalah sebelum terbit fajar.”

Di antara faedah mengakhirkan waktu sahur sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar yaitu akan semakin menguatkan orang yang berpuasa. Ibnu Abi Jamroh berkata, “Seandainya makan sahur diperintahkan di tengah malam, tentu akan berat karena ketika itu masih ada yang tertidur lelap, atau barangkali nantinya akan meninggalkan shalat shubuh atau malah akan begadang di malam hari.”[10]

Bolehkah Makan Sahur Setelah Waktu Imsak (10 Menit Sebelum Adzan Shubuh)?

Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baz –pernah menjabat sebagai ketua Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi fatwa Saudi Arabia)- pernah ditanya, “Beberapa organisasi dan yayasan membagi-bagikan Jadwal Imsakiyah di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Jadwal ini khusus berisi waktu-waktu shalat. Namun dalam jadwal tersebut ditetapkan bahwa waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum, -pen) adalah 15 menit sebelum adzan shubuh. Apakah seperti ini memiliki dasar dalam ajaran Islam? “

Syaikh rahimahullah menjawab:

Saya tidak mengetahui adanya dalil tentang penetapan waktu imsak 15 menit sebelum adzan shubuh. Bahkan yang sesuai dengan dalil Al Qur’an dan As Sunnah, imsak (yaitu menahan diri dari makan dan minum, -pen) adalah mulai terbitnya fajar (masuknya waktu shubuh). Dasarnya firman Allah Ta’ala,


وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ


Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al Baqarah: 187)

Juga dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,


الفَجْرُ فَجْرَانِ ، فَجْرٌ يُحْرَمُ الطَّعَامُ وَتَحِلُّ فِيْهِ الصَّلاَةُ ، وَفَجْرٌ تُحْرَمُ فِيْهِ الصَّلاَةُ (أَيْ صَلاَةُ الصُّبْحِ) وَيَحِلُّ فِيْهِ الطَّعَامُ


“Fajar ada dua macam: [Pertama] fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat (yaitu fajar shodiq, fajar masuknya waktu shubuh, -pen) dan [Kedua] fajar yang diharamkan untuk shalat shubuh dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shodiq, -pen).” (Diriwayatakan oleh Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro no. 8024 dalam “Puasa”, Bab “Waktu yang diharamkan untuk makan bagi orang yang berpuasa” dan Ad Daruquthni dalam “Puasa”, Bab “Waktu makan sahur” no. 2154. Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim mengeluarkan hadits ini dan keduanya menshahihkannya sebagaimana terdapat dalam Bulughul Marom)

Dasarnya lagi adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,


إِنَّ بِلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ فَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ


Bilal biasa mengumandangkan adzan di malam hari. Makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum.” (HR. Bukhari no. 623 dalam Adzan, Bab “Adzan sebelum shubuh” dan Muslim no. 1092, dalam Puasa, Bab “Penjelasan bahwa mulainya berpuasa adalah mulai dari terbitnya fajar”). Seorang periwayat hadits ini mengatakan bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta dan beliau tidaklah mengumandangkan adzan sampai ada yang memberitahukan padanya “Waktu shubuh telah tiba, waktu shubuh telah tiba.”[11]

2. Menyegerakan berbuka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ


Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”[12]

Dalam hadits yang lain disebutkan,


لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ


Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.”[13] Dan inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka.[14]

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata,


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّىَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.”[15]

3. Berbuka dengan kurma jika mudah diperoleh atau dengan air.

Dalilnya adalah hadits yang disebutkan di atas dari Anas. Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketika berbuka disunnahkan pula untuk berbuka dengan kurma atau dengan air. Jika tidak mendapati kurma, bisa digantikan dengan makan yang manis-manis. Di antara ulama ada yang menjelaskan bahwa dengan makan yang manis-manis (semacam kurma) ketika berbuka itu akan memulihkan kekuatan, sedangkan meminum air akan menyucikan.[16]

4. Berdo’a ketika berbuka

Perlu diketahui bersama bahwa ketika berbuka puasa adalah salah satu waktu terkabulnya do’a. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ


Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolimi.”[17] Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.[18]

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka beliau membaca do’a berikut ini,


ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ


Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)[19]

Adapun do’a berbuka,


اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ


Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)[20] Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah).

Begitu pula do’a berbuka,


اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ


Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih.[21] Sehingga cukup do’a shahih yang kami sebutkan di atas (dzahabazh zhomau …) yang hendaknya jadi pegangan dalam amalan.

5. Memberi makan pada orang yang berbuka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا


Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”[22]

6. Lebih banyak berderma dan beribadah di bulan Ramadhan

Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,


كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – يَلْقَاهُ كُلَّ لَيْلَةٍ فِى رَمَضَانَ حَتَّى يَنْسَلِخَ ، يَعْرِضُ عَلَيْهِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – الْقُرْآنَ ، فَإِذَا لَقِيَهُ جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ أَجْوَدَ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling gemar melakukan kebaikan. Kedermawanan (kebaikan) yang beliau lakukan lebih lagi di bulan Ramadhan yaitu ketika Jibril ‘alaihis salam menemui beliau. Jibril ‘alaihis salam datang menemui beliau pada setiap malam di bulan Ramadhan (untuk membacakan Al Qur’an) hingga Al Qur’an selesai dibacakan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila Jibril ‘alaihi salam datang menemuinya, beliau adalah orang yang lebih cepat dalam kebaikan dari angin yang berhembus.”[23]

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih banyak lagi melakukan kebaikan di bulan Ramadhan. Beliau memperbanyak sedekah, berbuat baik, membaca Al Qur’an, shalat, dzikir dan i’tikaf.”[24]

Dengan banyak berderma melalui memberi makan berbuka dan sedekah sunnah dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga.[25] Dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


« إِنَّ فِى الْجَنَّةِ غُرَفًا تُرَى ظُهُورُهَا مِنْ بُطُونِهَا وَبُطُونُهَا مِنْ ظُهُورِهَا ». فَقَامَ أَعْرَابِىٌّ فَقَالَ لِمَنْ هِىَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « لِمَنْ أَطَابَ الْكَلاَمَ وَأَطْعَمَ الطَّعَامَ وَأَدَامَ الصِّيَامَ وَصَلَّى لِلَّهِ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ »


Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari diwaktu manusia pada tidur.”[26]

Semoga sajian ini bermanfaat.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal dimuat di www.muslim.or.id

Catatan Perjuangan Orang Muslim 'Ajam (Non Arab) Dalam Islam

Kajian Salaf Kamis, 04 Agustus 2011 0

Segala puji milik Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan kepada-Nya, dan kami berlindung dari kejelekan jiwa kami dan kejelekan amal kami, barang siapa diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barang siapa disesatkan maka dia tidak akan memperoleh petunjuk. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi dengan benar kecuali Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya salawat dan salam senantiasa tercurahkan untuknya, amma ba’du:

Apabila kita menilik sejarah Islam dan merenunginya akan nampak jelas bagi kita  kesungguhan dan pengorbanan yang dilakukan oleh orang-orang muslim ‘Ajam (non Arab) semenjak munculnya fajar Islam sampai hari ini. Banyak sekali contoh-contoh yang menggambarkan keseriusan orang-orang ‘Ajam, kesabaran, dan pengorbanan mereka terhadap Islam, sehingga mereka pun menjadi tauladan bagi orang-orang muslim Arab dan menjadi tempat rujukan mereka.

Sesungguhnya peran yang penting dalam Islam tidak hanya didominasi oleh orang-orang Arab, bahkan banyak sekali contoh yang menunjukan bahwasanya orang-orang Islam dari kalangan ‘Ajam pun banyak berperan penting didalamnya.

Saya ingin memeberikan beberapa contoh dalam hal ini agar kita tahu betapa besarnya peran orang-orang muslim dari kalangan ‘Ajam bagi agama Islam ini sepanjang zaman.

Kita mulai dari zaman sahabat generasi pertama, yaitu kiasah seoarng sahabat yang mulia Salman al-Fârisî radiyallâhu’anhu sang pencari kebenaran”.

Dialah seorang sahabat yang telah berkelana dibumi bagian barat dan timur dalam rangka mencari nabi yang hak nabi Muhammad shallallâhu’alaihi wasallam.

Salman berasal dari negeri Persia[1] sebelah timur Jazirah Arab. Sunguh sahabat ini memiliki kisah yang sangat menakjubkan dalam kesungguhannya mencari kebenaran, yang mana hal ini menunjukan akan keseriusan dan kesungguhan seorang ‘Ajam di dalam mencari kebenaran walaupun melalui berbagai macam kesulitan dan aral rintangan.

Salman adalah seorang yang berasal dari kota Ashfahân[2] sedangkan ayahnya adalah pembesar dan orang yang ditokohkan dikalangan masyarakatnya. Keluarganya pun terhitung sebagai keluarga bangsawan.

Salman dan keluarganya dahulu beragama Majusi[3], bahkan Salman-lah yang bertugas sebagai penjaga apinya agar tetap menyala.

Suatu ketika bapaknya mengembankan tugas penting kepadanya sehingga ia harus keluar untuk melaksanakan tugas tersebut. Ketika beliau melakukan perjalanan beliau melewati gereja Nasrani dan mendengar suara orang yang sedang salat didalamnya sembari memperhatikan salat tersebut dengan seksama, maka Salman merasa takjub dengan ibadah yang mereka lakukan (yang mana menurut pandangannya ini lebih baik dari agamanya, kemudian Salman bertanya kepada mereka, “Dari manakah asal agama ini?” Mereka menjawab, “Dari negeri Syam.”

Maka setelah Salman pulang kerumah ia menceritakan hal ini kepada ayahnya, maka ayahnya pun merasa kaget dan khawatir kalau anaknya keluar dari agamanya (Majusi), sehingga Salman pun dikurung dirumahnya dan diikat kakinya.

Akan tetapi Salman mampu lolos dari kurungan tersebut, maka tatkala salman bertemu dengan sekelompok rombongan yang bertolak dari Ashfahân menuju Syam dan ikut bersama mereka dengan sembunyi-sembunyi. Dari sinilah sejarah mencatat suatu pengembaraan yang luar biasa dalam rangka mencari suatu kebenaran.

Sungguh suatu perjalanan yang dipenuhi dengan kesulitan dan kesusahan, namun itu semua rela ditempuh dalam rangka mencari kebenaran. Inilah gambaran dan keteguhan dari orang ‘Ajam dalam  mencari kebenaran.

Maka tatkala sampai dinegeri Syam Salman bertanya tentang orang yang paling alim tentang agama Nasrani di negeri tersebut, maka ditunjukanlah beliau kepada salah seorang Uskup gereja, salman pun mengikutinya dan berkhidmat kepadanya agar bisa belajar agama darinya. Akan tetapi ternyata uskup tersebut adalah seorang yangh jelek yang mana ia memerintahkan orang untuk bersedekah namun ia sendiri yang memakan sedakahnya, maka Salman pun membencinya. Maka tatkala uskup ini mati digantilah uskup lainnya yang mana penggantinya adalah orang yang baik maka Salman pun menyertainya dan selalu bersamanya, bahkan Salman mnganggap bahwa ia adalah orang yang paling zuhud. Maka tatkala uskup tersebut akan meninggal Salman pun berkata kepadanya, “Siapakah yang engkau wasiatkan untukku (dalam mempelajari agama Nasrani) sepeninggalmu?” Maka uskup tersebut menjawab, “Wahai anakku aku tidak mengetahui seorang pun melainkan si Fulan yang ada di Mausil [4] yang dia tidak merubah agamanya.”

Maka tatkala Uskup tersebut meninggal Salman pun mempersiapkan dirinya untuk melanjutkan pengembaraannya yang baru dalam rangka mencari kebenaran.

Maka tatkala Salman sampai di Mausil bertemulah ia dengan uskup tersebut, kemudian Salman pun mendampinginya dan ia mendapati uskup tersebut adalah uskup yang sangat mulia.

Namun tidak lama kemudian uskup tersebut mengalami sakaratul maut, maka Salman pun bertanya kepadanya, “Siapakah yang engkau wasiatkan untukku (dalam mempelajari agama Nasrani) sepeninggalmu?” Maka uskup tersebut menjawab, “Wahai anakku aku tidak mengetahui satu orang pun yang seperti apa yang kita anut kecuali si fulan yang ada di Nâshibîn[5] maka pergilah kepadanya.”

Maka Salman pun mempersiapkan dirinya untuk melakukan pengembaraan yang ketiga kalinya dalam mencari kebenaran hingga sampailah di kota Nâshibîn. Namun tidak lama kemudian uskup tersebut meninggal dunia. Sebelum meninggalnya uskup tersebut Salmanpun bertanya kepadanya seperti pertanyaan kepada uskup-uskup sebelumnya. Maka uskup tersebut mengarahkannya untuk menemui uskup lainnya yang ada di kota ‘Amûriya.[6]

Maka Salman pun mempersiapkan dirinya untuk melakukan pengembaraannya yang keempat dalam rangka mencari kebenaran. Kemudian bertemulah Salman dengan uskup tersebut dan senantiasa mendampinginya, namun tidak lama kemudian uskup tersebut pun meninggal dunia. Menjelang meninggalnya uskup tersebut  Salman pun bertanya kepadanya dengan pertanyaan seperti yang ditanyakan kepada uskup-uskup sebelumnya, maka uskup tersebut menjawab, “Wahai anakku demi Allah saya tidak mengetahui ada seorangpun yang beragama semisal dengan kita, sesungguhnya telah dekat zamannya akan keluar seorang nabi dari Arab yang akan membawa agama nabi Ibrahim ‘alaihissalâm yang lurus, kemudian ia berhijrah ke suatu tempat yang banyak pohon kurmanya, (nabi tersebut) memiliki beberapa tanda yang nampak…

  • Tidak mau memakan shadaqah.

  • Ia mau memakan hadiah .

  • Diantara kedua lengannya ada cincin kenabian.


Apabila engkau mampu untuk bertemu dengannya maka lakukanlah…   Tentulah hal itu mampu dilakukan oleh Salman yang telah berkali-kali melakukan  pengembaraan di berbagai penjuru dunia.

Kemudian Salman pun berjumpa dengan sekelompok pedagang dari Arab yang berada di ‘Amûria dan hendak pulang kenegerinya, maka Salman pun ikut bersama mereka, akan tetapi Salman dikhianati sehingga kemudian ia pun dijual ke seorang Yahudi dan dijadikan sebagai budak, disinilah Salman kembali mengalami musibah dan penderitaan lainnya dalam rangka mencari kebenaran, padahal dulunya ia adalah seorang bangsawan dan terkemuka dikalangan kaumnya.

Kemudian orang Yahudi tersebut menjualnya ke anak pamannya yang hidup dikota Yatsrib[7] maka berpindahlah Salman kekota tersebut dan disana ia melihat pohon kurma yang sangat banyak, maka Salman pun tahu bahwa itulah kota yang dimaksudkan oleh uskup dari ‘Amûria kepadanya yaitu tempat hijrahnya nabi tersebut.

Kemudian tidak lama kemudian nabi Muhammad shallallâhu’alaihi wasallam pun hijrah ke Madinah, dan sampailah berita itu kepada Salman yang nabi tersebut hijrah dari Makkah menuju Madinah dan mengajak untuk menyembah Allah semata. Maka bergetarlah badan Salman ketika mendengar hal tersebut.

Maka Salman pun hendak memastikan tiga tanda kenabian yang dikabarkan oleh uskup ‘Amuria kepadanya. Yaitu akan keluar seorang nabi dari negeri Arab dan memiliki tiga tanda:

  1. Ia tidak mau memakan sadaqah .

  2. Mau memakan hadiah.

  3. Diantara kedua lengannya ada cincin kenabian.


Maka diwaktu sore hari Salman pun mengambil korma  kemudian ingin disedekahkan kepada Nabi shallallâhu’alaihi wasallam yang mana ketika itu beliau ada di Quba, maka Salman pun berkata kepada beliau, “Sesungguhnya telah sampai kepadaku bahwa engkau adalah seorang yang sholeh datang bersama saudara-saudaramu dari negeri yang jauh, oeh karena itu aku hendak menyedekahkan korma ini untuk kalian,” Maka nabi shallallâhu’alaihi wasallam pun bersabda kepada para sahabatnya, “Makanlah.” Namun beliau menahan diri dan tidak memakannya, maka Salman pun berbicara dalam hatinya, “Inilah tanda yang pertama.” Artinya telah terbukti tanda yang pertama. Yaitu Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak memakan sadaqah.

Kemudian Salman pergi dan mengumpulkan korma untuk dihadiahkan kepada Nabi shallallâhu’alaihi wasallam yang beliau telah berpindah dari Quba’ dan tinggal di Madinah. Kemudian Salman berkata kepada beliau shallallâhu’alaihi wasallam, “Sesungguhnya aku mengetahui bahwa engkau tidak memakan shadaqah maka terimalah ini (korma) sebagai hadiah bagimu.. maka Rasulullah shallallâhu’alaihi wasallam pun memakannya dan memerintahkan para sahabatnya untuk memakannya.” Maka kemudian Salman pun berucap didalam hatinya, “Inilah yang kedua.”  Artinya telah nampak tanda yang kedua yaitu Nabi shallallahu’alaihi wasallam mau memakan hadiah.

Kemudian Salman kembali datang kepada Nabi shallallâhu’alaihi wasallam yang mana beliau ketika itu ada di Baqî’ Gharqad [8] yang mana Rasulullah ketika itu sedang menabur tanah di kuburan salah seorang sahabatnya yang meninggal, maka Salman pun melihat nabi sallallâhu’alaihi wasallam dalam keadaan duduk dengan mengenakan pakaian tebal. Salman pun mengucapkan salam kepadanya dan berusaha untuk melihat cincin kenabian di punggungnya seperti yang disifatkan oleh uskup dari ‘Amûria dahulu, maka nabi shallallâhu’alaihi wasallam mengetahui apa yang diinginkan Salman, maka nabi pun melepas selendang yang ada di punggungnya kemudian Salman pun melihat cincin kenabian di antara kedua lengannya maka Salman pun mencium Nabi shallallahu’alaihi wasallam dan menangis. Sungguh ia telah menemukan hakekat kebenaran yang selama ini dia cari dan ia berkeliling ke bumi di bagian barat maupun timur karenanya.

Maka Nabi shallallâhu’alaihi wasallam pun merasa takjub dengan apa yang dilakukan oleh Salman kemudian beliau bertanya kepadanya, “Perihal apa yang ada padamu?” Maka Salman pun mengkisahkan pengembaraannya yang menakjubkan dalam rangka mencari kebenaran semenjak dari Ashfahan sampai detik itu. Maka Nabi shalallahu’alaihi wasallam pun merasa takjub dengan hal tersebut kemudian beliau meminta agar Salman mengkisahkan hal tersebut kepada para sahabatnya radiyallâhu’anhum dan para sahabat pun merasa takjub dan gembira dengan hal tersebut.[9]

Lihatlah bagaimana Salman tatkala mengkisahkan riwayat hidupnya dihadapan para sahabat hal itu adalah sebagai contoh dan tauladan bagi orang-orang Arab dan sebagai bentuk pengajaran bagi mereka.

Demikian juga di sana masih ada orang ‘Ajam lainnya yang menjadi contoh dan tauladan bagi kita, dialah Suhaib bin Sinân ar-Rûmî radiyallâhu’anhu.

Beliau hidup di lingkungan yang dipenuhi dengan maksiat, dan perbuatan-perbuatan yang keji, meskipun demikian hal itu tidaklah menghalanginya untuk melakukan suatu perbuatan yang mulia dan pengorbanan yang besar terhadap agama ini.

Suhaib berasal dari negeri Roma [10] hanya beliau adalah orang yang selamat fitrahnya di tengah masayarakatnya yang dipenuhi dengan berbagai macam perbuatan maksiat. Suhaib berkata, “Masyarakat yang seperti ini kondisinya lebih layak untuk mendapat musibah banjir besar”.

Suatu ketika ia mendengar tukang ramal dari kalangan Nasrani mengatakan, “Telah dekat masa kemunculan seorang nabi yang berasal dari Makkah di Jazirah Arab yang mana ia membenarkan risalah yang dibawa oleh nabi ‘Isa ‘alaihis sallâm serta misinya mengeluarkan manusia dari gelap gulita menuju cahaya yang terang”. Mendengar hal tersebut maka Suhaib pun merasa rindu bertemu dengan nabi tersebut dan meninggalkan negerinya yang penuh dengan kemungkaran.

Oleh karena itu sebagai renungan bagi kita bersama… betapapun banyaknya kemungkaran yang ada di negeri anda yang mana akhirnya anda sematalah yang berpegang dengan kebenaran…apabila anda memang memiliki niat yang ikhlas untuk menolong agama ini niscaya Allah akan menolong anda..

Kembali kepada kisah Suhaib..

Tatkala Suhaib telah meninggalkan negerinya yang penuh dengan kemungkaran dan sampai di kota Makkah, beliau bekerja sebagai pedagang hingga memperoleh kesuksesan dan keuntungan yang banyak dalam waktu yang singkat. Namun itu bukanlah tujuan utamanya karena tujuan utamanya datang ke Arab adalah untuk mencari kebenaran.

Pada suatu ketika sampailah kabar kepadanya munculnya seoarang nabi dari Makkah yang bernama Muhammad bin Abdillâh sallallâhu’alaihi wasallam yang mengajak untuk beriman kepada Allah dan mentauhidkan-Nya, serta mengajak umat manusia untuk berbuat keadilan dan kebaikan dan melarang mereka dari kejelekan dan kemungkaran. Maka telah terbuktilah selama ini tentang apa yang dicari oleh Suhaib yaitu keluarnya nabi yang membawa cahaya keimanan dan tauhid.

Semenjak itulah Suhaib senantiasa memberikan sumbangsihnya kepada agama ini dan senantiasa bersabar dengan gangguan orang-orang kafir Quraisy. Lihatlah apa yang dilakukan oleh sahabat ‘Ajam ini sesuatu yang keluar dari kebanyakan logika manusia, keluar dari negerinya sendiri yang penuh dengan kenikmatan kemudian pergi ke negeri Makkah untuk bersyahadat walaupun gangguan dan intimidasi yang didapat?!

Dan hal menakjubkan lainnya dari sahabat yang berasal dari negeri non Arab ini, beliau adalah termasuk diantara sederetan para sahabat yang pertama kali masuk Islam, di saat banyak dari orang-orang Arab memeranginya.

Maka tatkala Rasulullah sallallâhu’alaihi wasallam memerintahkan para sahabatnya untuk hijrah ke Madinah,  Suhaib ingin mememani Nabi sallallâhu’alaihi wasallam dan Abu Bakr radiyallâhu’anhu dalam perjalanan mereka, namun orang-orang kafir Quraisy mengawasi gelagat tersebut dan mengutus beberapa orang untuk menghalangi keluarnya Suhaib.

Sehingga Suhaib pun berfikir bagaimana caranya agar dapat mengelabui mereka sehingga bisa keluar dari Makkah untuk Hijrah ke Madinah.

Pada suatu malam yamg dingin ia keluar dari rumahnya menuju tempat buang hajat sementara orang-orang kafir Quraisy terus memperhatikannya, namun tidak lama kemudian Suhaib pun kembali ke rumahnya, kemudian ia keluar lagi dari rumahnya menuju tempat buang hajat namun tidak lama kemudian ia kembali lagi kerumahnya dan ini dilakukan berkali-kali, sehingga orang-orang kafir Quraisy yang mengawasinya mengira bahwasanya Suhaib sakit perut. Maka tidak lama kemudian orang-orang yang mengawasinya pun tertidur karena mengira dalam kondisi Suhaib yang seperti itu dia tidak akan mungkin bisa lari. Maka setelah para penjaga tadi tertidur Suhaib pun lolos dari intaian mereka dan berhasil keluar untuk hijrah ke Madinah. Akan tetapi Suhaib mengalami ujian lainnya yang mana para pengintai tadi mengetahui kepergian Suhaib kemudian mereka pun mengejarnya sehingga ia tertangkap.

Setelah itu orang-orang yang menangkapnya menjelaskan perihal mereka menghalangi keluarnya Suhaib dari Makkah dengan mengatakan, “Demi Allah kami tidak akan membiarkanmu keluar begitu saja dengan membawa harta padahal dahulunya engkau adalah seorang yang miskin dan tidak memiliki apa pun kemudian setelah itu engkau menjadi kaya raya.”

Maka jelaslah bahwa selama ini yang diincar oleh mereka dari Suhaib adalah harta, lalu bagaimanakah sikap Suhaib dalam melayani keinginan mereka terhadap hartanya?

Suhaib pun mengatakan, “Bagaimana menurut kalian kalau aku tinggalkan seluruh hartaku apakah kalian akan membiarkan aku pergi?” Mereka menjawab, “Iya.” Maka Suhaib pun menunjukinya tempat perbendaharaan hartanya di rumahnya yang ada di Makkah, sehingga Suhaib pun bisa pergi dengan leluasa untuk hijrah ke Madinah walaupun dengan resiko meninggalkan hartanya yang ia kumpulkan dengan  susah payah sepanjang hidupnya tanpa merasa sayang sedikit pun.

Maka tatkala Suhaib sampai di Madinah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam melihatnya dari jauh yang mana Jibril telah memberitahukan kepada beliau tentang kisah Suhaib, maka tatkala Nabi shallallahu’alaihi wasallam melihatnya beliau bersabda,


رَبِحَ الْبَيعُ أَبَا يَحْيَى رَبِحَ الْبَيعُ أَبَا يَحْيَى


“Amat beruntunglah perniagaan Abu Yahya (suhaib), dan amat beruntunglah perniagaan Abu Yahya.”

Apakah keberuntungan yang di peroleh oleh Suhaib sementara hartanya telah di ambil seluruhnya? Keberuntungan itu tidak lain adalah keberuntungan akherat berupa sorga, meskipun ia di dunia telah rugi dengan meninggalkan harta dan keluarganya. Sungguh Allah Rabb semesta alam lah yang memberikan rekomendasi baginya berupa keberuntungan di akherat, sehingga hal tersebut diabadiakan dalam sebuah ayat yang terus dibaca sampai hari kiamat, yaitu firman Allah,


وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغاءَ مَرْضاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَؤُفٌ بِالْعِبادِ


“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya Karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.”(Al-Baqarah:207)

Sungguh menakjubkan ayat ini turun berkaitan dengan sahabat yang ia bukan orang Arab, mudah-mudahan Allah senantiasa meridoi Suhaib ar-Rûmî dan dan mengumpulkan kita bersama di sorganya yang tinggi âmîn yâ Rabbal’âlamîn.[11]

Kemudian kita beralih kepada sahabat non Arab yang lainnya seorang sahabat yang sangat terkenal di kalangan orang-orang besar maupun kecil seorang sahabat yang memiliki pengorbanan yang besar terhadap agama ini, dialah Bilâl bin Rabâh radiyallâhu’anhu.
Hal ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi kita bahwa peran penting dalam agama ini yang dilakukan oleh para sahabat dari kalangan ‘Ajam tidak hanya dilakukan oleh sebagian orang saja atau dari sebagian negeri saja bahkan mereka berasal dari berbagai negeri. Perhatikanlah Salmân datang dari negeri Persia sebelah timur Jazirah Arab, Suhaib datang dari  Roma sebelah utara Jazirah Arab, dan Juga Bilâl yang datang dari negeri Habasyah yang sekarang ini lebih dikenal dengan Etiopia.

Sungguh sahabat Bilâl mengalami ujian yang luar biasa di awal-awal masa Islam walaupun begitu kerasnya siksaan yang mendera beliau namun beliau tetap mengucapkan “Ahad ahad” yang maknanya hanya Allah lah satu-satunya dzat yang berhak untuk diibadahi.

Diantara hal yang menunjukan keutamaan Bilâl bin Rabâh antara lain:

Dari Abdullah bin Mas’ûd berkata, “Ada tujuh orang yang pertama kali menampakkan keislamannya: Rasulullah shallallâhu’alaihi wasallam, Abu Bakr, ‘Ammâr bin Yâsir, ibunya Sumayyah, Suhaib, Bilâl, dan Miqdad.

Yang menjadi bahan renungan kita adalah diantara dua sahabat diatas yaitu Suhaib dan Bilal keduanya adalah orang non Arab yang mana keduanya dengan cepat menyambut seruan Islam.

Kemudian Ibnu Mas’ûd melanjutkan ucapannya, “Adapun Rasulullah maka dilindungi oleh pamannya Abu Thâlib, adapun Abu Bakr maka dilindungi oleh kaumnya, adapun yang selainnya maka mereka diberi pakaian dari besi kemudian di panaskan di terik matahari  sehingga karena terpaksa akhirnya menuruti keinginan orang-orang kafir tersebut (meskipun dalam hatinya tetap menyimpan keimanan), kecuali Bilal ia tetap teguh walaupun ia disiksa sampai diarak di hadapan anak-anak kecil ia tetap mengucapkan  “Ahad ahad”.

Perhatikanlah akan keteguhan sahabat yang satu ini ia tetap teguh meskipun dalam keadaan darurat dan dipaksa, yang mana para sahabat yang lainnya mengambil rukhshoh (keringanan) dengan berpura-pura kembali kepada kekufuran.

Namun perhatikanlah setelahnya yang mana Bilâl menjadi seorang yang mulia dan selalu dikenang oleh umat Islam yang mana Bilal mendapatkan penghargaan besar dari Rasulullah sallallahu’alaihi wasallam menjadi Muadzin yang mengumandangkan adzan untuk shalat lima waktu. Bahkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memerintahkannya untuk beradzan diatas Ka’bah ketika hari Fatkhu Makkah (pembukaan kota Makkah). Dan orang-orang Arab pun membelalakkan matanya kepada Bilal padahal sebelumnya Bilal adalah seorang budak yanmg tertindas.

Inilah beberapa gambaran tentang para sahabat yang mereka notabenenya orang-orang non Arab namun dengan keikhlasan dan keteguhan mereka Allah pun mengangkat derajat mereka didunia dan di akherat.

 

Kesungguhan Orang-orang ‘Ajam Dalam Ilmu Syar’i

Tidak hanya sebatas dalam keagamaan saja bahkan ada beberapa orang ‘Ajam yang memiliki peran sentral dalam ilmu syar’i dan penyebarannya setelah generasi para sahabat bahkan sampai masa kita sekarang.

○  Dalam Bidang Fiqih:

Kalau kita menilik sejarah fiqih dan para Fuqahâ’ (pakar dalam bidang Fiqih) kita akan dapati betapa banyaknya para Imam di dalam bidang Fiqih yang berasal dari negeri ‘Ajam, diantara yang paling masyhur adalah Imam Abu Hanifah an-Nu’man, imam madzhab hanafiyah yang sangat masyhur, yang mana berkata Imam Syafi’i tentang beliau,”Dalam permasalahan Fiqih kita semua menginduk kepada Abu Hanifah. Sungguh sejarahnya sangatlah harum dan terkenal, beliau bukan berasal dari negeri Arab akan tetapi berasal dari negeri Persia sebelah timur Jazirah Arab.

Demikian juga di belahan bumi bagian barat melahirkan seorang pakar Fiqih yang sangat terkenal dan terdepan di zamannya yaitu Ibnu Hazm al-Andalûsî, dari negeri Andalus.[12]

○  Dalam Bidang Hadits.

Apabila kita berbicara didalam bidang Hadits dan penghimpunannya kita dapati bahwasanya para ulama yang terdepan di dalam hal ini adalah orang-orang ‘Ajam. Kita banyak mendapati para ulama  yang menghimpun hadits-hadits shahîh dan menjaganya dari hadits-hadits dho’îf berasal dari negeri ‘Ajam. Diantara kitab Shahîh itu antara lain:

  1. Shahîh al-Bukhârî, yang ditulis oleh Imamnya ahli hadits Muhammad bin Isma’il al-Bukhârî dari Bukhârâ negeri ‘Ajam.

  2. Shahîh Muslim, yang ditulis oleh Imam Muslim dari Naisâbûr negeri ‘Ajam.

  3. Shahîh Ibnu Hibbân, yang ditulis oleh Imam Ibnu Hibbân dari Bust negeri ‘Ajam.

  4. Shahîh Ibnu Khuzaimah, yang ditulis oleh Imam Ibnu Khuzaimah dari Naisâbûr negeri ‘Ajam.

  5. Mustadrâk al-Hâkim, yang ditulis oleh Imam al-Hâkîm dari Naisâbûr negeri ‘Ajam.


Bila kita menilik para penilis Kitab-kitab sunan empat yang Masyhur kita akan dapati bahwasanya mereka seluruhnya adalah orang-orang ‘Ajam. Diantara kitab-kitab Sunan tersebut antara lain:

  1. Sunan Abî Dawûd, yang ditulis oleh Imam Abû Dâwûd dari Sijistân negeri ‘Ajam.

  2. Sunan an-Nasâ’î, yang ditulis oleh Imam an-Nasâ’î dari Nasâ negeri ‘Ajam.

  3. Sunan at-Tirmidzî, yang ditulis oleh Imam at-Tirmidzî dari Tirmidz negeri ‘Ajam.

  4. Sunan Ibnu Mâjah, yang ditulis oleh Imam Ibnu Mâjah dari Qazwain negeri ‘Ajam.


Ringkasnya bahwa penulis al-Kutub as-Sittah (enam kitab referinsi utama dalam bidang hadits) seluruhnya adalah orang-orang non Arab.

○ Didalam Bidang Ilmu Al- Jarh Wat Ta’dîl.[13]

Apabila kita menilik para pakar dalam bidang al-Jarh Wat Ta’dîl ini kita dapati banyak diantara oreang-orang ‘Ajam yang memiliki peran besar dalam  hal tersebut, diantaranya: al-Imam Ibnu Abi Hâtim ar-Râzî dari negeri Roi negeri ‘Ajam beliau memiliki karya tulis yang berjudul “Al-Jarh Wat Ta’dîl” beliau menghimpun didalam kitabnya tersebut perkataan ayahnya Imam Abu Hâtim ar-Râzî dan Imam Abu Zur’ah ar-Râzî dan para ulama yang lainnya dalam permasalahan periwayatan hadits. Kitab ini terhitung sebagai referinsi utama dalam bidang ini.

○ Dalam Bidang Tafsir Al-Qur’ânul Karîm

Apabila kita menilik para pakar dalam bidang Tafsir maka kita dapati bahwasanya para ulama dari kalangan ‘Ajam memiliki peran besar dalam bidang ini. Ambil contoh Imam Ibnu Jarîr ath-Thabarî  beliau berasal dari negeri Thabaristân beliau memiliki sebuah karya tulis monumental dalam bidang Tafsir yang menghimpun didalamnya  perkataan para sahabat, dan para Tabi’in disertai dengan sanad nya.

Contoh lainnya adalah Imam al-Qurthubi berasal dari kordoba salah satu kota yang ada di negeri Andalus (spanyol) memiliki sebuah karya tulis dalam bidang Tafsir yang luar biasa yang berjudul “Al-Jâmi’ Li Ahkâmil Qur’ân.”



○ Dalam Bidang Ushul Fiqih.

Diantara para ulama dari kalangan ‘Ajam yang mahir dalam bidang ini adalah Imam asy-Syairâzî penulis kitab “Al-Luma’” berasal dari kota Syairâz negeri ‘Ajam.

Demikian pula Imam ar-Râzî memiliki sebuah karya tulis dalam bidang ini yang berjudul “al-Mahshûl” dan para ulama yang lainnya.

○ Dalam Bidang Bahasa Arab.

Sungguh merupakan hal yang sangat menakjubkan bahkan dalam bidang bahasa Arab pun orang-orang ‘Ajam banyak mendominasinya bahkan banyak sekali para Imam dalam bidang ini berasal dari orang-orang ‘Ajam.

Diantara sederetan Imam tersebut antara lain:

  • Sibawaih pakar dan imam dalam bidang Nahwu dan bahasa berasal dari negeri Persia.

  • Al-Fairûz Ābâdi penulis Kitab “Al-Qâmûs al-Muhîth” salah satu kamus paling utama dalam bahasa Arab beliau bukan dari negeri Arab.


Bahkan salah seorang sejarawan Islam ternama Imam Ibnu Khaldûn memberikan sebuah faedahnya yang sangat berharga setelah beliau melakukan penelitian dan penelusuran mendalam beliau menyimpulkan bahwa mayoritas ulama Islam banyak didominasi orang-orang ‘Ajam dari pada orang-orang Arab.

Kemudian saya bawakan disini sebuah kisah menjelaskan bahwa orang-orang ‘Ajam mendominasi dunia ini disebabkan mereka berilmu dan menjaga agama Allah ta’ala.

Dari az-Zuhrî rahimahullâh berkata, “Berkata kepadaku Abdul Malik bin Marwân (khalifah ketika itu), “Dari mana saja engkau?” Aku menjawab, “Dari Makkah”, dia berkata, “Siapakah yang engkau jadikan referinsi bagi penduduknya (dalam Ilmu Syar’i)”, aku menjawab,” ’Athâ’”,  dia bertanya, “Apakah dia orang Arab atau bukan?”, aku menjawab, “Bukan”, dia bertanya, “Kenapa engkau jadikan ia sebagai referensi?”, aku menjawab, “Karena keteguhannya dalam beragama dan banyaknya riwayat hadits yang dihafal, dia berkata, “Seorang yang teguh dalam beragama dan banyak menghafal riwayat hadits mereka lebih utama untuk dijadikan referensi”. Dia berkata, “siapakah yang engkau jadikan referensi bagi penduduk Yaman”? Aku menjawab, “Thâwûs”, dia berkata, “Apakah dia orang Arab atau bukan?” aku menjawab, “Bukan.” Dia bertanya kembali, “Siapakah yang menjadi referensi penduduk Syam”? aku menjawab, “Makhul”, dia berkata, “Apakah dia orang Arab atau bukan?” aku menjawab, “Bukan dia adalah seorang hamba sahaya yang dimerdekakan oleh wanita dari Hudzail”. Dia berkata lagi, “Siapakah yang menjadi referensi penduduk Jazirah”? aku menjawab, “Maimûn bin Mihrân ia bukan dari Arab”. Dia bertanya lagi, “Siapakah yang menjadi referensi penduduk Khurasan”? aku menjawab, “Adh-Dhahhâk bin Muzâhim dia bukan orang Arab, Dia berkata, “Siapakah yang menjadi referensi penduduk Bashrah”? aku menjawab, “Al-Hasan dia bukan orang Arab”. Kemudian ia bertanya lagi, “Siapakah yang engkau jadikan referensi bagi penduduk Kuffah?” aku menjawab, “Ibrahim an-Nakha’I”.Ia bertanya, “Apakah ia dari Arab atau bukan?” aku menjawab, “dari Arab”.  Abdul Malaik bin Marwan berkata, “Aduhai engkau benar-benar mengagetkanku, apakah orang-orang non Arab itu akan berkhutbah diatas minbar sementara orang-orang Arab duduk mendengarkan dibawah mereka? Maka aku menjawab, “Wahai amirul mu’minin sesungguhnya ini adalah agama barang siapa yang mampu menjaganya ia akan menjadi tinggi, dan barangsiapa yang melalaikannya ia akan menjadi rendah.”

Bagi yang ingin mendapatkan faidah tambahan terkait dengan tema ini silahkan membaca kitab “al-Ansâb” karya al-Imam as-Sam’ânî yang mana beliau menyebutkan beberapa ulama terkemuka dari ‘Ajam didalam kitabnya ini, atau bisa juga membaca kitab “Mu’jamul Buldân” karya Yâqût al-Hamawî dengan melihat negeri-negeri ‘Ajam dan melihat beberapa ulama ternama dari negeri tersebut.

 

Kesungguhan Orang-Orang ‘Ajam Dalam Mencari Ilmu.

Ketahui lah wahai saudara ku sekalian bahwa derajat tinggi yang di raih oleh orang-orang muslim ‘Ajam dalam ilmu syar’i ini tidaklah diraih dengan hidup serba enak, bergelimang dengan kenikmatan, atau serba makan enak dan lezat, akan tetapi itu semua di raih dengan kerja keras, mengorbankan hal berharga yang ia miliki dalam rangka untuk mencari ilmu syar’i. Disini kami ingin membawakan sebuah kisah menakjubkan dalam mencari ilmu yang dilakukan salah seorang imam besar dari negeri ‘Ajam yaitu kisah Imam Baqî bin Makhlad rahimahullâh dari negeri Andalus.

Baqî bin Makhlad adalah seorang yang hidup dinegeri Andalus yang ketika itu adalah negeri Islam yanh ada di bumi bagian barat. Beliau memiliki inisiatif untuk melakukan perjalanan jauh menuju bumi Islam bagian timur yaitu negeri Baghdad dalam rangka untuk belajar kepada imam besar di zamannya yaitu Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, akan tetapi beliau adalah seorang yang faqir  tidak memiliki bekal untuk melakukan perjalanan kesana. Namun itu semua tidaklah memutuskan semangatnya agar dapat bergi ke Baghdad dalam rangka bertemu dengan Imam Ahmad rahimahullâh, walaupun kebanyakan perjalanannya kesana harus ditempuh dengan jalan kaki.

Mungkin anda bisa membayangkan wahai saudaraku bagaimana lelahnya perjalanan panjang tersebut perjalanan dari bumi barat menuju ke bumi bagian timur dalam rangka mencari ilmu.

Akan tetapi segala kesuliatan itu di tempuh oleh Baqî bin Makhlad agar bisa berjumpa dengan Imam Ahmad di Baghdad. Akan tetapi sesampainya di Baghdad beliau mengalami kesedihan yang luar biasa dikarenakan ketika itu kaum muslimin mendapatkan sebuah ujian yang luar biasa. [14] Sehingga imbasnya Imam Ahmad pun harus diisolir dari pergaulan masyarakat dan orang-orang dilarang belajar kepada Imam Ahmad. Akan tetapi meskipun demikian keadaannya Imam Baqî tetap bertekad untuk belajar dengan Imam Ahmad apapun resikonya.

Pergilah Imam Baqî menuju rumahnya Imam Ahmad kemudian ia mengetuk pintu rumahnya sembari berkata, “Wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad) aku adalah seorang yang datang dari negeri yang jauh, aku baru pertama kalinya datang ke negeri ini, dan aku datang kepadamu untuk mengambil hadits darimu.” Kemudian berkata Imam Ahmad kepadanya, “Masuklah agar tidak ada orang lain yang melihat kita.

Kemudian Imam Ahmad pun menanyakan tentang daerah asalnya, maka Baqî menjawab bahwasanya ia berasal dari Andalus, kemudian Imam Ahmad berkata, “Sesungguhnya engkau datang dari negeri yang jauh dan pantas untuk aku layani (untuk belajar kepadanya)”, akan tetapi Imam Ahmad meminta udzur kepadanya karena ia dalam keadaan diisolir dan dilarang menyampaikan hadits dan pelajaran, serta dilarang berjumpa dengan siapapun dari penuntut ilmu dirumahnya.

Kemudian Imam Baqî menawarkan sebuah usulan cerdik  tatkala beliau beliau mengambil hadits dari Imam Ahmad, yaitu tatkala beliau datang kepada Imam Ahmad beliau datang dengan menyamar sebagai pengemis, maka ide ini kemudian disepakati oleh Imam Ahmad .

Maka tibalah saatnya datang Imam Baqî kepada Imam Ahmad dalam keadaan berpakaian seperti pengemis sembari berkata, “Berilah aku upah mudah-mudahan Allah memberimu ganjaran..” Maka kemudian Imam Ahmad mempersilahkannya untuk masuk kemudian beliau mencatat hadits dari Imam Ahmad satu hadits atau dua hadits saja agar tidak diketahuia oleh orang yang mengintai. Hal ini terus berjalan sampai terkumpul pada beliau kurang lebih sekitar tiga ratus hadits .

Kemudian hilanglah ujian yang menimpa Imam Ahmad dengan ijin Allah, sehingga beliau bisa kembali lagi mengajar dan mendikte hadits, maka beliau pun memuji Imam Baqî dihadapan murid-muridnya yang lain tentang keseriusan dan kesengguhan nya dalam menuntut ilmu.

Pada suatu ketika Imam Baqî jatuh sakit sehingga tidak bisa menghadiri majelis Imam Ahmad, kemudian datanglah Imam Ahmad menjenguknya. Maka terkejutlah orang-orang yang ada di sekitarnya setelah melihat kedatangan Imam Ahmad menjenguknya, sehingga setelah itu mereka mengetahui bahwa Imam Baqî adalah seorang yang mulia dan memiliki kedudukan dikarenakan imam Ahmad datang secara pribadi untuk menjenguknya. Setelah itu orang-orang yang ada di sekitarnya mengirimkan makanan, selimut, kasur, atau yang lainnya kepada Imam Baqî, sehingga berkata Imam Baqî, “Pelayanan mereka ketika aku sakit lebih banyak dari pada pelayanan yang diberikan oleh keluargaku ketika aku sakit.”

Mudah-mudahan Allah ta’âla merahmati beliau dengan rahmat yang luas, sungguh beliau telah mengerahkan kemampuan yang ada dalam rangka mencari ilmu.

 

Peran Kaum Muslimin ‘Ajam Dalam Jihad Fî Sabîlillâh.



Peran sentral Kaum muslim ‘Ajam tidak hanya sebatas pada bidang keilmuan saja, bahkan dalam hal jihad fî sabî lillâh untuk menjaga agama Allah pun mereka memiliki andil yang besar pula. Diantar mereka adalah Shalahuddîn al-Ayyûbî berasal dari Kurdi bukan orang Arab, beliaulah yang membebaskan tanah palestin dari penjajahan orang-orang salibis.

Demikian juga Saefuddîn Quthuz dari negeri Ashfahân yang mana ia berhasil mengusir pasukan tatar (Mongolia) dari negeri Islam dengin izin Allah ta’âla.

Allah telah menjaga agama Islam ini dengan prantaraan mereka dan orang-orang yang semil dengan mereka.

Ceramah ini tidak lain dalam rangka untuk menumbuhkan semangat kita bersama terutama orang-orang ‘Ajam (non Arab) untuk meniru para pendahulu mereka tersebut dalam rangka berkhidmat kepada Islam.

Apakah kita lupa atau tidak tahu siapakah pembaharu dan pakar dalam bidang hadits pada abad ini? Dia bukanlah orang Arab, dialah Syaikh Muhammad Nâshiruddîn al-Albânî rahimahullâh beliau berasal dari negeri Albania yang ada dibenua Eropa, sungguh keilmuan beliau telah membuat banyak orang-orang Arab mengambil faidah darinya.

 

Sebagai penutup:

Sudah tibalah saatnya bagi anda untuk berkhidmat kepada Islam ini...

Bulatkanlah tekad dari sekarang untuk berkhidmat bagi agama Islam ini sebagaimana yang telah dilakukan oleh para pendahulu anda dari kalangan ‘Ajam ..bersiaplah untuk menghadapi rintangan dan kesulitan , atau menempuh perjalanan dalam rangka mencari ilmu seperti yang dilakukan oleh Salmân. Serta bersiaplah untuk berkorban dengan harta anda sebagaimana yang dilakukan oleh Suhaib. Atau bersabarlah sebagaimana sabarnya Bilâl.

Sudah saatnya lah bagi orang-orang ‘Ajam untuk berperan aktif dalam mencari ilmu dan menyebarkannya.

Apabila anda ingin menonjol dalam keilmuan Fiqih maka teladanilah orang-orang seperti Abu Hanîfah, Ibnu Hazm dan yang lain-lainnya, serta mulailah dari sekarang.

Dan apabila anda ingin menonjol dalam bidang Hadits maka teladanilah imam Bukhâri , serta mulailah dari sekarang.

Dan saya yakin para hadirin yang hadir merasa tergerak setelah mendengarkan ceramah ini untuk membulatkan tekadnya dalam rangka untuk berkhidmat demi kebangkitan umat ini. Walhamdulillahi Rabbil ‘âlamin.





Diadabtasi dari Ceramah di masjid Abu Bakr as-Siddîq Bontang disampaikan oleh Syaikh Dr. Syâdi bin Muhammad bin Nu’mân.

(diambil dari www.serambiyemen.com)

Pimpinan lembaga An-Nu’mân (lembaga di bidang penelitian manuskrip Islam)

Karya tulis beliau:

  1. Mausû’atul Al-Bânî 50 jilid. Sudah terbit 9 jilid tentang masalah Aqidah.

  2. Qadhôul Wathor syarah Nuzhatun Nadzar (3 jilid).

  3. Syarah Alfiyah As-suyûthî (1 jilid)

  4. At-Takmîl Fî JarhiWat Ta’dîl Ibni Katsîr. Dll.









[1] Sekarang ini adalah Negara Iran dan sekitarnya.




[2] Kota yang sekarang ini terletak di Iran tengah.




[3] Yaitu agama yang menyembah api dan matahari.




[4] Salah satu nama kota yang ada di Iraq.




[5] Kota yang ada di negeri Iraq.




[6] Kota yang terletak di Eropa timur.




[7] Yang sekarang ini dikenal dengan Madinah Munawwarah.




[8] Suatu tempat pekuburan yang ada di kota Madinah.




[9] Berkaitan dengan kisah Salman lihatlah literature berikut ini, Siyar min a’lâmin Nubalâ (1/362-405), dan Suwar min hayâtis shahâbah (hal 109-116).




[10] Yang sekarang ini masuk benua Eropa.




[11] Tentang biografi Suhaib bin Sinân ar-Rûmî radiyallahu’anhu silahkan dibaca literatur berikut ini: Al-Ishâbah (2/195) Suwar Min Hayâtish Shahâbah (hal 198-205).




[12] Sekarang ini adalah Spanyol.




[13] Ilmu yang mempelajari tentang kredibilitas seorang perawi dalam periwayatan haditsnya.




[14] Adanya intimidasi dan paksaan dari khalifah ketika itu untuk mengatakan aqidah yang terlarang yaitu Al-Qur’an adalah makhluq, sehingga diantara para ulama ketika itu yang diintimidasi, di penjara, dan mendapat siksa adalaha imam Ahmad bin Hanbal.