Header ads

Keistimewaan Do'a di Bulan Ramadhan

Kajian Salaf Minggu, 31 Juli 2011 1

Ramadhan adalah bulannya ahlul munajat, bulan berpesta bagi hamba-hamba Allah yang tak pernah bosan dan letih memanjatkan do’a kepada-Nya.

Renungkanlah! Wahai hamba-hamba Allah, satu ayat mulia berikut ini, yang urutannya dalam mushaf al-Qur-aan berada di antara ayat-ayat yang berbicara tentang Ramadhan (ayat 183  s.d. ayat 187, QS. al-Baqarah):

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ



“Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Aku, maka (katakanlah bahwa) sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan hamba yang berdo’a jika ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala) perintah-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” [QS. Al-Baqarah: 186]

Keberadaan ayat ini di tengah-tengah ayat tentang Ramadhan, mengandung hikmah yang begitu mendalam. Al-Hafizh Ibnu Katsir mengupas hikmah tersebut dalam kitab tafsirnya yang terkenal, beliau mengatakan:

وَفِيْ ذِكْرِهِ تَعَالَى هٰذِهِ الْآيَةَ الْبَاعِثَةَ عَلَى الدُّعَاءِ مُتَخَلِّلَةً بَيْنَ أَحْكَامِ الصِّيَامِ، إِرْشَادٌ إِلَى الْإجْتِهَادِ فِيْ الدُّعَاءِ عِنْدَ إِكْمَالِ الْعِدَّةِ بَلْ وَعِنْدَ كُلِّ فِطْرٍ



“Firman Allah ta’ala pada ayat ini perihal motivasi berdo’a yang disebutkan di sela-sela ayat tentang hukum-hukum seputar puasa (Ramadhan), menyiratkan petunjuk untuk bersungguh-sungguh dalam berdo’a saat menyempurnakan puasa, bahkan saat berbuka...” [Tafsir Ibnu Katsir: I/hal. 471, cet. Daar Ibnu Hazm 1419-H]

 

Sejarah emas Islam mencatat bahwasanya kemenangan terbesar umat ini pada Perang Badr terjadi di bulan Ramadhan, tepatnya 2 tahun setelah hijrah. Dan itu tentu saja tidak lepas dari sebab munajat dan do’a kepada Rabbul ‘Aalamiin. Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu mengisahkan:

 

لَقَدْ رَأَيْتُنَا لَيْلَةَ بَدْرٍ وَمَا مِنَّا إِنْسَـانٌ إِلاَّ نَائِمٌ إِلاَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَإِنَّهُ كَانَ يُصَلِّى إِلَى شَجَرَةٍ وَيَدْعُو حَتَّى أَصْبَحَ



“Sungguh aku melihat kami pada malam (perang) Badr, di mana tidak ada satu pun di antara kami melainkan ia tertidur, kecuali Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, beliau sholat menghadap pohon dan berdo’a (kepada Allah) sampai subuh...” [Hadist Shahih, riwayat Ahmad no. 1161]

Dan kita tahu bahwa keeseokan harinya, Allah menjawab do’a tersebut dengan menurunkan ribuan bala tentara Malaikat untuk menolong kaum muslimin yang berjumlah sedikit dan lemah waktu itu. Ini adalah salah satu bukti, betapa dahsyatnya do’a di bulan yang suci ini.

Mereka yang dekat dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, sangat memahami betapa Ramadhan adalah waktu yang istimewa untuk memanjatkan do’a tanpa rasa takut akan ditolak. Lihatlah bagaimana ‘Aisyah radhiallahu’anha meminta do’a khusus dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam untuk dibaca saat Lailatul Qadr, beliau radhiallahu’anha berkata:

Wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, jikalau aku mendapati satu malam (Ramadhan) ternyata adalah Lailatul Qadr, maka do’a apa yang aku ucapkan? Maka Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab; ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ



“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah. Engkau mencintai maaf, maka maafkanlah aku.” [Sunan Ibnu Majah no. 3850, dishahihkan al-Albani]

SUMBER-SUMBER KEKUATAN DO’A

Do’a adalah sebab terkuat dalam menolak perkara-perkara yang tidak disukai (seperti musibah dan bencana), dan do’a juga merupakan sebab terkuat dalam usaha meraih cita-cita. Namun pengaruh yang dihasilkan dari kekuatan do’a setiap hamba, berbeda-beda.

Berikut ini adalah beberapa perkara yang sepatutnya diilmui oleh setiap mukmin dalam berdo’a kepada Allah, agar do’a yang dipanjatkannya memberikan pengaruh yang luar biasa ampuhnya baik di kehidupan dunia maupun di akhirat.

Yakin Akan Terkabulnya Do’a

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

ادْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالإِجَـابَةِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ



“Berdo’alah kepada Allah, disertai keyakinan kalian akan ijabah (terkabulnya do’a), dan ketahuilah oleh kalian, bahwa Allah tidak menerima do’a dari hati yang lupa lagi lalai” [Hadits Hasan, lihat ash-Shahihah: 596]

Do’a yang dipanjatkan seorang hamba tidak akan memberikan pengaruh apa-apa baginya, selama hatinya hampa dari mengingat Allah. Lalai dari Allah (sebagai Dzat yang menjadi tujuan do’anya), justru akan membatalkan dan melemahkan kekuatan do’anya.

Menjaga Kehalalan

Darah dan daging yang tumbuh dari makanan yang haram bisa menjadi penghalang utama terkabulnya do’a seorang hamba, sekalipun hamba tersebut telah mewujudkan faktor-faktor terbesar terkabulnya do’a. Disebutkan dalam hadits yang shahih:

ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ! يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّ يُسْتَجَابُ لِذٰلِكَ؟



“(Bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam) berkisah tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan berdebu, dia mengangkat tangannya tinggi ke langit seraya berseru, Yaa Rabb.... Ya Rabb....(menandakan hajatnya yang sangat mendesak), namun (ternyata) makanan yang dikonsumsinya haram, pakaiannya bersumber dari yang haram, dan tumbuh dari bekal yang haram. Maka bagaimana mungkin do’anya akan dikabulkan?” [Shahih Muslim no. 1015]

Para ulama menjelaskan bahwa laki-laki yang dikisahkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam dalam hadits di atas telah mengumpulkan beberapa faktor terbesar yang bisa menyebabkan terkabulnya do’a, di antaranya adalah; kondisi musafir, ditambah lagi kebutuhan genting yang mendesak, serta sifat ketundukan dan kehinaan dalam meminta kepada Allah. Namun semua itu ternyata tidak berarti apa-apa di hadapan Allah, karena sang hamba bergelut dengan keharaman dan jauh dari yang halal.

Sikap Memelas Kepada Allah

Hendaknya seorang hamba menampakkan rasah butuhnya yang mendesak kepada Allah tatkala berdo’a. Hendaknya ia memperlihatkan keputusasaannya dari segenap kekuatan dan penolong kecuali dari Allah semata.

Di dalam Kitab az-Zuhd (hadits no. 7) karya Imam Ahmad rahimahullaah, disebutkan bahwasanya seorang ulama salaf mengatakan:

“Aku tidak menemukan gambaran yang lebih pantas bagi seorang mukmin (ketika berdo’a) daripada gambaran (rasa takut dan harap) seorang laki-laki di atas sepotong kayu di tengah lautan, lalu dia menyeru; Yaa Rabb...Yaa Rabb..., agar sudi kiranya Allah menyelamatkannya.”

Jangan Tergesa-gesa dan Putus Asa

Janganlah seorang hamba berprasangka buruk kepada Allah dengan menganggap do’anya lambat terkabul atau tidak dijawab sama sekali, sehingga ia menyerah dan berputus asa dari do’a. Layaknya seorang petani yang menggarap lahan dan menanam, ia merawat dan menyiraminya, namun ia menganggap tanamannya sangat lamban menghasilkan buah, sehingga ia meninggalkan tanaman tersebut sampai layu dan akhirnya mati, diapun dipastikan tidak memperoleh apa-apa.

Rasulullah r bersabda dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallaahu’anhu:

يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَالَمْ يَعْجَلْ يَقُوْلُ دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِـــيْ



“Akan dikabulkan do’a seseorang di antara kalian selama ia tidak tergesa-gesa, dengan mengatakan ‘aku telah berdo’a tapi tidak (atau belum juga) dikabulkan’” [Shahih Bukhari no. 6340]

Sedangkan di dalam Shahih Muslim (no. 2735) disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda (yang artinya):

“Senantiasa akan dikabulkan do’a seorang hamba selama ia tidak berdo’a dengan do’a yang mengandung dosa atau pemutusan silaturrahim, dan juga selama ia tidak tergesa-gesa. Ditanyakan kepada beliau: Wahai Rasulullah r, apa yang dimaksud tergesa-gesa? Beliau menjawab: Jika seseorang berkata; ‘Aku telah berdo’a dan berdo’a, namun aku belum melihat do’a-ku dikabulkan, maka ia pun berputus asa lantas meninggalkan do’a”

Mencari Waktu Ijabah

Di antara waktu-waktu terkabulnya do’a berdasarkan dalil yang shahih adalah; sepertiga malam yang akhir (kira-kira tengah malam sampai menjelang shubuh), waktu antara adzan dan iqomah, pada saat turun hujan, saat sujud dalam shalat, dan tentu saja pada saat berpuasa di bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالْإمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ



“Ada tiga orang yang do’anya tidak akan ditolak; seseorang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan do’anya orang yang terzhalimi.” [Hadits Hasan riwayat at-Tirmidzi, lih. Al-Kalimut Thoyyib no. 163]

Berdo’a Dengan Asma’ullaahil A’zhom

Do’a akan semakin kuat pengaruhnya jika dihiasi dengan Asma’ullaahil A’zhom, yaitu nama-nama Allah yang isitimewa nan agung. Salah satunya adalah dengan membaca kalimat berikut ini sebelum mengutarakan permintaan kepada Allah:

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ أَنِّى أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِى لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ



Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda ketika mendengar seorang laki-laki yang berdo’a menggunakan kalimat di atas:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الأَعْظَمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى



“Demi Allah yang jiwaku dalam gengaman-Nya, sungguh ia telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang agung, yang mana jika Dia diminta dengan nama tersebut, niscaya akan di-ijabah, dan jika Dia dimohon dengan nama tersebut niscaya Dia akan memberi.” [Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3857, al-Albani]

Catatan: Ada banyak lafaz-lafaz Asma’ullaahil A’zhom selain lafaz di atas, untuk itu silahkan merujuk kitab ad-Daa’ wad Dawaa’ (hal. 28-32, Cet. V, Daar Ibn Katsir, 1421 H) karya Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (wafat: 751 H)

***

Disarikan dan diramu oleh Redaksi al-Hujjah dari sumber bacaan:

ad-Daa’ wad Dawaa’, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah.

Tafsirul Qur-aanil ‘Azhiim, Ibnu Katsir.

al-Kalimut Thoyyib, Ibnu Taimiyah.

Muroja’ah: Ust. Fakhruddin Abdurrahman, Lc.

Bagaimana Menyambut Ramadhan?

Kajian Salaf Jumat, 22 Juli 2011 0

Tulisan ini ditulis oleh Ust. Ahmad Zainuddin di Dammam KSA pada hari Rabu, 19 Sya’ban 1432H yang dipublikasikan di blog ini.

Tulisan ini kami angkat sebagai pegangan dan tambahan ilmu bagi pembaca setia web ini untuk menyambut bulan Ramadhan. Semoga dapat diambil manfaatnya.


 
بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين, و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Tulisan ini mengajak kepada penulis dan pembaca agar menyambut Ramadhan, Bulan Penuh Berkah, dengan: suka cita dan penuh keimanan serta bertekad bulat untuk semangat beribadah di dalamnya karena iman dan berharap pahala.

عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ لِلَّهِ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Telah datang kepada kalian Ramadhan bulan penuh berkah, Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa padanya, di dalamnya

1. dibukakan pintu-pintu langit,

2. ditutup pintu-pintu neraka,

3. dibelenggu pemimpin setan,

4. dan di dalamnya Allah memiliki 1 malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang diharamkan dari kebaikannya maka sungguh dia telah-benar-benar diharamkan kebaikan”.

Hadits riwayat An Nasai, dinyatakan shahih lighairi di dalam kitab Shahih At Targhib wa At Tarhib.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ. رواه الترمذي و صححه الألباني.

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Jika pada awal malam bulan Ramadhan maka

1. para syetan dan pemimpin  jin terbelenggu

2. dan tertutup pintu-pintu neraka dan tidak satu pintupun terbuka

3. dan dibukakan pintu-pintu surga dan tidak satu pintupun tertutup

4. lalu ada suara yang menyeru: "Wahai pencari kebaikan, sambutlah! Dan wahai pencari keburukan, cukuplah!

5. Dan Allah mempunyai orang-orang yang dimerdekakan dari neraka dan yang demikian itu pada setiap malam!".

Hadits riwayat Tirmidzi, dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’.

Subhanallah…luar biasa…!

Jadi, bagaimana kita sambut bulan ini…???

قال أبن باز رحمه الله: "هذا الشهر شهر عظيم مبارك فاستقبلوه رحمكم الله بالفرح و السرور و العزيمة الصادقة على صيامه و قيامه و المسابقة فيه إلى الخيرات و المبادرة إلى التوبة النصوح من سائر الذنوب و السيئات و التناصح و التعاون على البر و التقوى و التواصي بالأمر بالمعروف و النهي عن المنكر و الدعوة إلى كل خير لتفوزوا بالكرامة و الأجر العظيم". (مجموع فتاوى أبن باز رحمه الله 15/38)

Ibnu Baz rahimahullah berkata: "Bulan ini adalah bulan yang agung penuh dengan berkah, sambutlah bulan ini…

1.        Dengan kegembiraan dan suka cita.

2.        Dengan tekad yang bulat untuk berpuasa dan beribadah di malam harinya.

3.        Dengan berlomba-lomba untuk mengerjakan kebaikan.

4.        Dengan segera bertaubat yang nasuha (sebenarnya).

5.        Dengan saling menasehati dan tolong menolong atas kebaikan dan taqwa.

6.        Dengan saling memberi wasiat agar beramar ma'ruf dan nahi mungkar.

7.        Dengan berdakwah kepada setiap kebaikan.

Agar kalian menang dengan mendapatkan kemuliaan dan pahala yang sangat besar". (Majmu' fatawa Ibnu Baz, 15/38).

Kapan Mulai Puasa Ramadhan?

Kajian Salaf 0

Tulisan ini ditulis oleh Ust. Ahmad Zainuddin di Dammam KSA yang dipublikasikan di blog ini.

Tulisan ini kami angkat sebagai pegangan dan tambahan ilmu bagi pembaca setia web ini untuk menyambut bulan Ramadhan. Semoga dapat diambil manfaatnya.


بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

Saya melihat Pemerintah Indonesia adalah pemerintah yang dipimpin oleh seorang muslim, yaitu bapak SBY beserta jajarannya, semoga Allah selalu membenarkan langkah-langkah beliau dalam mengurus Negara ini..

Saya melihat kementrian Agama Republik Indonesia sudah sesuai sunnah dalam menentukan masuknya bulan Ramadhan, yaitu dengan ru'yah hilal.

Saya juga telah membaca hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam:

« الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ ». رواه الترمذى

"Puasa itu pada hari kalian semua berpuasa, berbuka pada hari kalian semua berpuasa dan dan hari 'iedul Adhha ketika kalian semua berkurban". HR Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani di dalam Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah no. 224

Berkata Al Mubarakfury rahimahullah di dalam Tuhfatul Ahwadzi: "Sebagian Ulama menafsirkan bahwa puasa dan berbuka sesungguhnya hanya bersama sekumpulan besar manusia (dari kaum muslimin-pent)”.

Saya juga sangat kagum dengan Indahnya perkataan Al Muhaddits Al-Albani rahimahullah tentang kewajiban mengikuti pemimpin yang sah dan kesatuan kaum muslimin di dalam memulai berpuasa dan berbuka (yaitu mengakhirinya-pent), dan setiap individu hendaknya mengikuti kesatuan kaum muslimin, beliau berkata:

"و هذا هو اللائق بالشريعة السمحة التي من غاياتها تجميع الناس و توحيد صفوفهم ، و إبعادهم عن كل ما يفرق جمعهم من الآراء الفردية ، فلا تعتبر الشريعة رأي الفرد - و لو كان صوابا في وجهة نظره - في عبادة جماعية كالصوم و التعبيد و صلاة الجماعة ، ألا ترى أن الصحابة رضي الله عنهم كان يصلي بعضهم وراء بعض و فيهم من يرى أن مس المرأة و العضو و خروج الدم من نواقض الوضوء ، و منهم من لا يرى ذلك ، و منهم من يتم في السفر ، و منهم من يقصر ، فلم يكن اختلافهم هذا و غيره ليمنعهم من الاجتماع في الصلاة وراء الإمام الواحد ، و الاعتداد بها ، و ذلك لعلمهم بأن التفرق في الدين شر من الاختلاف في بعض الآراء ، و لقد بلغ الأمر ببعضهم في عدم الإعتداد بالرأي المخالف لرأى الإمام الأعظم في المجتمع الأكبر كمنى ، إلى حد ترك العمل برأيه إطلاقا في ذلك المجتمع فرارا مما قد ينتج من الشر بسبب العمل برأيه ، فروى أبو داود ( 1 / 307 ) أن عثمان رضي الله عنه

صلى بمنى أربعا ، فقال عبد الله بن مسعود منكرا عليه : صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين ، و مع أبي بكر ركعتين ، و مع عمر ركعتين ، و مع عثمان صدرا من إمارته ثم أتمها ، ثم تفرقت بكم الطرق فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتين متقبلتين ، ثم إن ابن مسعود صلى أربعا ! فقيل له : عبت على عثمان ثم صليت أربعا ؟ ! قال : الخلاف شر . و سنده صحيح . و روى أحمد ( 5 / 155 ) نحو هذا عن أبي ذر رضي الله عنهم أجمعين .

فليتأمل في هذا الحديث و في الأثر المذكور أولئك الذين لا يزالون يتفرقون في صلواتهم ، و لا يقتدون ببعض أئمة المساجد ، و خاصة في صلاة الوتر في رمضان ، بحجة كونهم على خلاف مذهبهم ! و بعض أولئك الذين يدعون العلم بالفلك ، ممن يصوم و يفطر وحده متقدما أو متأخرا عن جماعة المسلمين ، معتدا برأيه و علمه ، غير مبال بالخروج عنهم ، فليتأمل هؤلاء جميعا فيما ذكرناه من العلم ، لعلهم يجدون شفاء لما في نفوسهم من جهل و غرور ، فيكونوا صفا واحدا مع إخوانهم المسلمين فإن يد الله مع الجماعة ".

"Hal inilah yang paling sesuai dengan syari'at yang mudah, yang mana tujuannya mengumpulkan manusia dan menyatukan barisan mereka, menjauhkan mereka dari setiap hal yang memecah belahkan kesatuan mereka, syari'at Islam tidak menganggap pendapat personal -meskipun benar di dalam pandangannya- di dalam ibadah yang dilakukan secara bersama-sama, seperti; berpuasa, berhari raya, shalat berjama'ah.

Bukankah Anda melihat para shahabat nabi radhiyallahu 'anhum, sebagian mereka shalat dibelakang yang lainnya, padahal di antara mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita dan kemaluan serta keluarnya darah membatalkan wudhu, sedangkan di antara mereka ada yang tidak berpendapat demikian, di antara mereka ada yang menyempurnakan shalat ketika safar dan diantara mereka ada yang mengqashar, tidak menjadikan perbedaan mereka dalam permasalahan ini atau yang lainnya, melarang mereka untuk bersatu di dalam perkara shalat di belakang satu imam dan menganggap shalatnya sah. Yang demikian itu, karena pengetahuan mereka bahwa berpecah belah di dalam perkara agama adalah lebih buruk daripada hanya sekedar berselisih di dalam beberapa pendapat.

Bahkan perkara bersatu ini, sampai kepada bahwa sebagian mereka tidak menganggap pendapat yang menyelisihi pendapat pemimpin yang utama di dalam kesatuan umat yang sangat besar, seperti keadaan ketika di Mina, yang menyebabkan meninggalkan pendapat mereka. Sampai-sampai ada yang benar-benar meninggalkan beramal dengan pendapatnya di kumpulan masyarakat tersebut, agar terlepas dari sesuatu yang mengakibatkan keburukan karena beramal dengan pendapatnya.

Abu Daud meriwayatkan (1/307): bahwa Utsman radhiyallahu ‘anhu pernah mengerjakan shalat di Mina empat raka’at (dengan menyempurnakannya tanpa di qashar-pent), berkatalah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu seraya mengingkari atas perbuatan Utsman radhiyallahu ‘anhu: “Aku pernah shalat (di Mina-pent) bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dua raka’at, bersama Abu Bakar dan Umar dua raka’at, lalu bersama Utsman radhiyallahu ‘anhu di awal kepemimpinan dua raka’at kemudian setelah itu Utsman menyempurnakan menjadi empat raka’at, kemudian terpecah belah jalan bagi kalian. Maka aku berharap dari empat raka’at ini, dua raka’atnya semoga diterima". Lalu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu shalat empat raka’at (mengikuti Utsman radhiyallahu ‘anhu -pent), maka ada yang berkata: “Engkau menegur Utsman radhiyallahu ‘anhu atas empat raka’atnya tetapi engkau sendiri shalatnya empat raka’at (ketika di Mina-pent), beliau menjawab: “Perbedaan itu adalah buruk”. Sanadnya shahih dan Imam Ahmad meriwayatkan juga seperti ini dari Abu Dzarr radhiyallahu ‘anhum seluruhnya.

Maka orang-orang yang masih saja berbeda pada shalat mereka dan tidak mengikuti imam di beberapa masjid, hendaklah memperhatikan tentang hadits dan riwayat yang disebutkan tadi, khususnya pada shalat witir dengan alasan bahwa imam tidak sesuai dengan madzhab mereka! juga sebagian mereka yang mengaku mengetahui ilmu hisab, sehingga berpuasa dan berbuka sendirian, baik itu mendahului atau terlambat dari kesatuan kaum muslimin, bersandarkan dengan pendapat dan pengetahuannya, tanpa memperhatikan bahwa ia telah keluar dari kesatuan kaum muslimin.

Sekali lagi, hendaklah orang-orang tesebut memperhatikan dari apa yang telah kami sebutkan dari ilmu pengetahuan, semoga saja mereka mendapatkan obat penawar bagi kebodohan dan kekeliruan yang ada pada diri mereka. Yang mana pada akhirnya, mereka menjadi satu barisan dengan kaum muslimin, karena sesungguhnya Tangan Allah bersama kesatuan (kaum muslim)”. Lihat kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, (1/50) dalam penjelasan hadits no. 229.

Oleh karenanya, mari Ikuti Pemerintah kita dalam penentuan masuk dan keluarnya Bulan Ramadhan agar kesatuan kaum muslimin di Indonesia tetap terjaga.

Selamat menunaikan Ibadah Puasa di Bulan Ramadhan Penuh Berkah tahun 1432H.

Semoga Allah Ta'ala selalu memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada kaum muslim.