Header ads

Al-khilaf (Perselisihan Pendapat) dan Bagaimana Cara Menyikapinya?

Kajian Salaf Kamis, 16 Juni 2011 0



Ditulis oleh: ustadz Abu Ya'la

Al-Khilaf (perselisihan pendapat) dalam perkara agama memang jamak terjadi bahkan di kalangan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekalipun. Namun demikian hal itu berbeda dengan yang selama ini dipahami banyak orang yang justru menjauh dari upaya mencari kebenaran dengan dalih “ini adalah masalah khilafiyah”.

Al-khilaf (perselisihan pendapat) di antara manusia adalah perkara yang sangat mungkin terjadi. Yang demikian karena kemampuan, pemahaman, wawasan dan keinginan mereka berbeda-beda. Namun perselisihan masih dalam batas wajar manakala muncul karena sebab yang masuk akal, yang bukan bersumber dari hawa nafsu atau fanatik buta dengan sebuah pendapat. Meski kita memaklumi kenyataan ini, namun (perlu diingat bahwa) perselisihan pada umumnya bisa menyeret kepada kejelekan dan perpecahan. Oleh karena itu, salah satu tujuan dari syariat Islam yang mudah ini adalah berusaha mempersatukan persepsi umat dan mencegah terjadinya perselisihan yang tercela. Tetapi, karena perselisihan merupakan realita yang tidak bisa dihindarkan dan merupakan tabiat manusia, Islam telah meletakkan kaidah-kaidah dalam menyikapi masalah yang diperselisihkan, berikut orang-orang yang berselisih, serta mencari cara yang tepat untuk bisa sampai kepada kebenaran yang seyogianya hal ini menjadi tujuan masing-masing pribadi. Para salaf (generasi awal) umat Islam telah terbukti sangat menjaga adab di saat khilaf, sehingga tidak menimbulkan perkara yang jelek, karena mereka selalu komitmen dengan adab-adab khilaf. (Kata pengantar Dr. Mani’ bin Hammad Al-Juhani terhadap kitab Adabul Khilaf hal. 5)

Macam-macam Khilaf


Adapun macam khilaf adalah sebagai berikut.


  1. Ikhtilaf tanawwu’.
    Yaitu suatu istilah mengenai beragam pendapat yang bermacam-macam namun semuanya tertuju kepada maksud yang sama, di mana salah satu pendapat tidak bisa dikatakan bertentangan dengan yang lainnya. Semisal perbedaan ahli tafsir dalam menafsirkan Ash-Shirath Al-Mustaqim dalam surat Al-Fatihah. Ada yang menafsirkannya dengan Al-Qur`an, Islam, As-Sunnah, dan Al-Jama’ah. Semua pendapat ini benar dan tidak bertentangan maksudnya.
    Demikian pula orang yang membaca tasyahhud dengan yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, dia memandang bolehnya membaca tasyahhud yang lain seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan lainnya. Perbedaan yang seperti ini tidak tercela. Namun bisa menjadi tercela manakala perbedaan seperti ini dijadikan sebab atau alat untuk menzalimi orang lain.

  2. Ikhtilaf tadhad.
    Yaitu suatu ungkapan tentang pendapat-pendapat yang bertentangan di mana masing-masing pendapat orang yang berselisih itu berlawanan dengan yang lainnya, salah satunya bisa dihukumi sebagai pendapat yang salah. Misalnya dalam satu perkara, ada ulama yang mengatakan haram dan ulama yang lain mengatakan halal.
    Dalam perselisihan semacam ini tidak boleh bagi seseorang untuk mengambil pendapat tersebut menurut keinginan (hawa nafsu)nya, tanpa melihat akar masalah yang diperselisihkan dan pendapat yang dikuatkan oleh dalil.

  3. Ikhtilaf afham.
    Yaitu perbedaan dalam memahami suatu nash. Hal ini boleh namun dengan beberapa syarat di antaranya: Ia harus berpijak di atas jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah, tidak banyak menyelisihi apa yang Ahlus Sunnah di atasnya, kembali kepada yang haq ketika terbukti salah, dan hendaknya ia termasuk orang yang telah memiliki kemampuan untuk berijtihad.
    (Hujajul Aslaf, Abu Abdirrahman dan Al-Qaulul Hasan fi Ma’rifatil Fitan, Muhammad Al-Imam)




 

Penyebab Perbedaan Pendapat di antara Ulama


Suatu hal yang telah kita ketahui bersama bahwa tidak ada seorang ulama pun –yang tepercaya keilmuan, amanah, dan ketaatannya– sengaja menyelisihi apa yang ditunjukkan oleh dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah. Karena orang yang sejatinya alim, niscaya yang menjadi penunjuk jalannya adalah kebenaran. Namun para ulama bisa saja terjatuh ke dalam kesalahan saat menyebutkan suatu hukum syariat. Kesalahan pasti bisa terjadi, karena manusia pada dasarnya lemah ilmu dan pemahamannya. Pengetahuannya pun terbatas, tidak bisa meliputi seluruh perkara.

Sebab terjadinya perselisihan pendapat di kalangan ulama dalam suatu hukum sendiri di antaranya sebagai berikut:


  1. Karena dalil belum sampai kepadanya.
    Hal ini tidak hanya terjadi setelah zaman para sahabat. Bahkan di zaman mereka pun pernah terjadi. Seperti tersebut dalam Shahih Al-Bukhari bahwa Amirul Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu melakukan safar menuju Syam. Di tengah perjalanan dikabarkan kepadanya bahwa di Syam tengah terjadi wabah tha’un. ‘Umar menghentikan perjalanannya dan bermusyawarah dengan para sahabat. Mereka berselisih pendapat. Ada yang mengusulkan untuk pulang dan ada yang berpendapat terus melanjutkan. Ketika mereka tengah bermusyawarah, datang Abdurrahman bin ‘Auf yang tadinya tidak ikut musyawarah karena ada suatu keperluan. Abdurrahman mengatakan: “Saya memiliki ilmu tentang ini. Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 
    إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ فِي أَرْضٍ فَلاَ تَقْدُمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ وَأَنْتُمْ فِيْهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

    “Jika kalian mendengar di suatu negeri ada tha’un maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika terjadi di tempat yang kalian ada di sana maka janganlah keluar (dari daerah tersebut, red.) untuk lari darinya.” (Lihat Shahih Al-Bukhari no. 5729)

  2. Adakalanya hadits telah sampai kepada seorang alim namun dia belum percaya (penuh) kepada yang membawa beritanya. Dia memandang bahwa hadits itu bertentangan dengan yang lebih kuat darinya. Sehingga dia mengambil dalil yang menurutnya lebih kuat.

  3. Hadits telah sampai kepada seorang alim namun dia lupa.

  4. Dalil telah sampai kepadanya namun ia memahaminya tidak sesuai dengan yang diinginkan.
    Misalnya kalimat “أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاء" artinya: Atau kalian menyentuh perempuan, dalam surat Al-Ma`idah ayat 6. Sebagian ulama mengatakan bahwa sekadar seorang lelaki menyentuh perempuan batal wudhunya. Sebagian lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan menyentuh di sini adalah jima’ (bersetubuh) sebagaimana pendapat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Pendapat inilah yang benar, dengan landasan adanya riwayat bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium sebagian istrinya lalu berangkat menuju shalat dan tidak berwudhu.

  5. Telah sampai dalil kepadanya dan dia sudah memahaminya, namun hukum yang ada padanya telah mansukh (dihapus) dengan dalil lain yang menghapusnya. Sementara dia belum tahu adanya dalil yang menghapusnya.

  6. Telah datang kepadanya dalil namun ia meyakini bahwa dalil itu ditentang oleh dalil yang lebih kuat darinya, dari nash Al-Qur`an, hadits, atau ijma’ (kesepakatan ulama).

  7. Terkadang sebabnya karena seorang alim mengambil hadits yang dhaif (lemah) atau mengambil suatu pendalilan yang tidak kuat dari suatu dalil.


(Diringkas dari risalah Al-Khilaf Bainal Ulama, Asbabuhu wa Mauqifuna minhu bersama Kitabul Ilmi karya Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu)

Sikap Kita terhadap Perselisihan yang Ada
Perlu diketahui bahwa yang dimaksud dengan khilaf yang memiliki bobot dan dianggap adalah perbedaan pendapat ulama yang tepercaya secara keilmuan dan ketaatannya. Bukan mereka yang dianggap atau mengaku ulama namun sebenarnya bukan ulama. Bukan pula khilaf antara ahlul bid’ah seperti Khawarij, Syi’ah, dan lainnya dengan Ahlus Sunnah. Sikap kita terhadap perselisihan ulama adalah:


  1. Kita yakin bahwa khilaf mereka bukan karena menyengaja menentang dalil, namun karena sebab-sebab yang sudah kita sebutkan di atas serta sebab lain yang belum disebutkan.

  2. Kita mengikuti pendapat yang lebih kuat dari sisi dalil. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah mewajibkan untuk mengikuti ucapan seseorang kecuali hanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik jiwa ini menyukainya atau tidak. Adapun selain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada jaminan terbebas dari kesalahan. Sehingga apa yang sesuai dengan hujjah dari pendapat mereka, itulah yang kita ambil dan ikuti. Sedangkan yang tidak sesuai dengan hujjah maka kita tinggalkan. Sebagaimana wasiat para imam untuk meninggalkan pendapat mereka yang menyelisihi dalil. Di sisi lain, meski kita dapatkan dari mereka adanya pendapat yang salah, ini bukanlah suatu celah untuk menjatuhkan mereka. Usaha untuk sampai kepada kebenaran telah mereka tempuh, namun mereka belum diberi taufiq untuk mendapatkannya. Jika mereka salah dengan pendapatnya –setelah usaha maksimal– maka tidak ada celaan atas mereka. Bahkan mereka mendapatkan satu pahala. Semestinya tertanam dalam jiwa kita sikap hormat dan memuliakan para ulama serta mendoakan rahmat dan ampunan bagi mereka. (Lihat Kitabul 'Ilmi karya Asy-Syaikh Muhammad Al-‘Utsaimin rahimahullahu)




Bolehkah Mengingkari Pihak Lain dalam Permasalahan yang Sifatnya Khilafiyah?


Ada dua hal yang harus dibedakan yaitu, masalah-masalah khilafiyah dan masalah-masalah ijtihadiyah.
Masalah khilafiyah lebih umum sifatnya daripada masalah ijtihadiyah. Karena masalah khilafiyah (perbedaan pendapat) ada yang sifatnya bertentangan dengan dalil dari Al-Qur`an, hadits, atau ijma’. Permasalahan khilafiyah yang seperti ini harus diingkari.
Berbeda dengan permasalahan ijtihadiyah yang memang tidak ada nash atau dalil dalam permasalahan tersebut. Dalam masalah ijtihadiyah (yakni yang muncul karena ijtihad pada masalah yang memang diperkenankan berijtihad padanya), seseorang memiliki keluasan padanya. Manakala dia mengambil suatu pendapat yang ia pandang lebih kuat, maka yang menyelisihinya tidak boleh mencela.
Sebagai misal dalam masalah khilafiyah -untuk membedakan antara keduanya- adalah pendapat sebagian ulama yang membolehkan pernikahan tanpa wali nikah. Pendapat ini salah karena bertentangan dengan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
لَا نِكَاحَ إِلاَّ بِوَلِيٍّ

“Tidak ada nikah kecuali dengan wali.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menshahihkannya dalam Al-Irwa` no. 1839)
Ini dinamakan masalah khilafiyah.



Adapun contoh masalah ijtihadiyah seperti bersedekap atau meluruskan tangan setelah bangkit dari ruku’, di mana tidak ada nash yang sharih (jelas) yang menunjukkan posisi tangan setelah ruku’. Wallahu a’lam.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu menyatakan: “Ucapan mereka (sebagian orang) bahwa masalah-masalah khilafiyah tidak boleh diingkari, ini tidaklah benar. Karena pengingkaran adakalanya tertuju kepada ucapan atau pendapat, fatwa, atau amalan. Adapun yang pertama, jika suatu pendapat menyelisihi sunnah atau ijma’ yang telah menyebar maka wajib untuk diingkari menurut kesepakatan (ulama). Meskipun pengingkaran tidak secara langsung, namun menjelaskan lemahnya pendapat ini dan penyelisihannya terhadap dalil juga merupakan bentuk pengingkaran. Adapun masalah amalan jika ia menyelisihi sunnah atau ijma’ maka wajib diingkari sesuai dengan derajat pengingkaran. Bagaimana seorang ahli fiqih mengatakan bahwa tidak ada pengingkaran pada masalah yang diperselisihkan, padahal ulama dari semua golongan telah menyatakan secara tegas batalnya keputusan hakim jika menyelisihi Al-Qur`an atau As-Sunnah, meskipun keputusan tadi telah mengikuti atau mencocoki pendapat sebagian ulama?! Adapun bila dalam suatu permasalahan tidak ada dalil dari As-Sunnah atau ijma’ dan ada jalan (bagi ulama) untuk berijtihad dalam hal ini, (maka benar) tidak boleh diingkari orang yang mengamalkannya, baik dia seorang mujtahid atau yang mengikutinya….” (I’lamul Muwaqqi’in, 3/252)

Permasalahan ijtihadiyah jangan sampai menjadi sebab perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin, seberapapun besarnya permasalahan. Karena jika demikian, kaum muslimin justru akan bercerai berai, tidak punya kekuatan dan menjadi permainan setan dari kalangan jin dan manusia, serta menjadi umpan yang empuk bagi para musuh Islam. Sebagian orang tidak memerhatikan jenis ikhtilaf yang seperti ini, sehingga mereka menyangka bahwa setiap permasalahan yang diperselisihkan oleh ulama dijadikan dasar untuk memberikan loyalitas karenanya atau memusuhi yang menyelisihinya. Sikap yang seperti ini akan memicu berbagai kerusakan dan kebencian yang hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahuinya. Hendaklah semboyan kita dalam permasalahan seperti ini adalah berlapang dada, yang mana salafus shalih berlapang dada padanya. Adalah Al-Imam Ahmad rahimahullahu berpendapat keharusan berwudhu karena keluar darah dari hidung dan karena berbekam. Maka Al-Imam Ahmad ditanya: “Bagaimana jika seorang imam shalat lalu keluar darinya darah dan tidak berwudhu, apakah anda bermakmum di belakangnya?” Beliau menjawab: “Bagaimana saya tidak mau shalat di belakang Al-Imam Malik dan Sa’id bin Musayyib?!” Yakni bahwa Al-Imam Malik dan Sa’id rahimahumallah berpendapat tidak wajibnya berwudhu karena keluar darah. (Adabul Khilaf, Hujajul Aslaf dan Al-Qawa'id Al-Fiqhiyah)
Dianjurkan untuk Keluar dari Lingkup Perselisihan
Ulama fiqih menyebutkan suatu kaidah yang penting yang seyogianya dijadikan pegangan yaitu:
يُسْتَحَبُّ الْخُرُوْجُ مِنَ الْخِلاَفِ

“Dianjurkan untuk keluar dari perselisihan.”
Puncak yang dicapai dari kaidah ini adalah kehati-hatian dalam beragama dan menumbuhkan sikap saling mencintai serta menyatukan hati, dengan cara melepaskan diri dari perselisihan pada perkara yang kemudaratannya ringan. Apabila meninggalkan sebagian hal yang disunnahkan akan menyampaikan kepada maslahat yang lebih dominan dan menutup pintu khilaf, maka perkara sunnah ditinggalkan.
Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membatalkan rencana untuk memugar Ka’bah dan menjadikannya dua pintu. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa membiarkan Ka’bah seperti itu lebih besar maslahatnya, di mana banyak orang Quraisy yang baru masuk Islam dikhawatirkan akan punya anggapan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menghormati kesucian Ka’bah. Dikhawatirkan nantinya mereka bisa murtad dari agama karenanya.
Demikian pula sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhumengingkari Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu di saat ia shalat dengan tetap seperti ketika bermukim (tidak qashar) dalam bepergian. Namun Ibnu Mas’ud tetap shalat di belakang ‘Utsman dengan tidak meng-qashar dan mengikuti khalifah. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Perselisihan itu jelek.”
Oleh karena itu sejak dahulu ulama telah sepakat tentang sahnya shalat orang yang bermazhab Syafi’i di belakang orang yang bermazhab Hanafi. Demikian pula sebaliknya, sekalipun mereka berselisih tentang batal atau tidaknya wudhu seseorang bila menyentuh perempuan.
Kemudian yang perlu diperhatikan, dalam perkara yang diperselisihkan keharamannya maka jalan keluarnya adalah dengan meninggalkannya. Sedangkan perkara yang diperselisihkan tentang wajibnya maka jalan keluarnya adalah dengan dikerjakan.
Namun tingkatan untuk dianjurkan keluar dari area khilaf berbeda-beda sesuai dengan kuat atau lemahnya dalil. Yang menjadi ukuran adalah kuatnya dalil yang menyelisihi. Jika dalil yang menyelisihi lemah maka tidak dianggap, terlebih jika menjaga kaidah ini (karena dalil yang lemah) bisa menyampaikan kepada meninggalkan sunnah yang telah kuat.
Sebagai misal, bila ada yang mengatakan bahwa mengangkat tangan dalam shalat menjadikan batal shalatnya. Pendapat seperti ini tidak perlu dihiraukan karena bertentangan dengan hadits-hadits yang kuat dalam permasalahan ini.
Kemudian juga yang perlu diperhatikan bahwa jangan sampai karena menjaga kaidah ini kita menyelisihi ijma’. Jadi untuk bisa dijalankan kaidah tadi adalah dengan melihat kuatnya dalil orang yang khilafnya teranggap. Adapun bila khilafnya jauh dari dalil syariat atau merupakan suatu pendapat yang ganjil maka tidak dianggap. Orang yang pengambilan dalilnya kuat maka khilafnya dianggap meskipun derajatnya di bawah orang yang diselisihinya. (Diringkas dari Al-Qawa'id Al-Fiqhiyyah karya Ali Ahmad An-Nadawi dari hal. 336-342)

Adab yang harus Diperhatikan untuk Mengobati Perselisihan yang Terjadi di Antara Ahlus Sunnah

Pertama: Niatan yang tulus dan ingin mencari kebenaran. Seorang penuntut ilmu seharusnya bersikap obyektif.

Ini mudah secara teori namun susah dalam praktik. Karena tidak sedikit orang yang lahiriahnya seolah menyeru kepada kebenaran, padahal sejatinya dia sedang mengajak kepada dirinya atau membela dirinya dan syaikhnya. Mungkin hal ini yang menjadikan sebagian orang ketika membantah dan berdiskusi tidak bisa ilmiah, namun semata ingin menjatuhkan lawannya (yang menyelisihinya) dengan mengangkat masalah pribadi dan menggunakan bahasa celaan. Hendaklah masing-masing menjadikan Al-Qur`an dan hadits sebagai hakim yang memutuskan di antara mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa`: 59)
Kedua: Bertanya kepada ulama Ahlus Sunnah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.” (Al-Anbiya`: 7)
Ketiga: Menghindarkan perselisihan beserta penyulutnya semampu mungkin.
Hal ini bisa terwujudkan dengan:
1. Berbaik sangka terhadap ulama dan para penuntut ilmu serta mengutamakan ukhuwah Islamiah di atas segala kepentingan.
2. Apa yang dinyatakan/keluar dari mereka atau disandarkan kepada mereka dibawa kepada kemungkinan yang baik.
3. Bila keluar dari mereka sesuatu yang tidak bisa dibawa kepada penafsiran yang baik maka dicarikan alasan yang paling tepat. Hal ini bukan dimaksudkan untuk menyatakan bahwa ulama itu ma’shum atau tidak bisa salah, namun sebagai bentuk berbaik sangka kepada ulama.
4. Koreksi diri serta tidak memberanikan diri menyalahkan ulama kecuali setelah penelitian yang mendalam dan kehati-hatian yang panjang.
5. Membuka dada untuk menerima segala kritikan dari saudaramu dan menjadikannya sebagai acuan untuk ke depan yang lebih baik.
6. Menjauhkan diri dari perkara yang bisa menimbulkan fitnah dan huru-hara.
7. Komitmen dengan adab-adab Islam dalam memilih kata-kata yang bagus serta menjauhkan kata-kata yang tidak pantas.
(Lihat Adabul Khilaf, Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid hal. 44-47 dan An-Nush-hul Amin Asy-Syaikh Muqbil)

Contoh Penerapan Adabul Khilaf di Masa Salaf


Di antara sahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dengan Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu terjadi perselisihan pendapat tentang masalah yang berkaitan dengan hukum waris, di mana ia berpendapat bahwa kedudukan kakek itu seperti ayah, bisa menggugurkan saudara-saudara mayit dari mendapatkan warisan. Sementara sahabat Zaid radhiyallahu ‘anhu berpendapat bahwa saudara-saudara mayit tetap mendapat warisan bersama adanya kakek. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma sangat yakin bahwa pendapat Zaid radhiyallahu ‘anhu salah, sampai-sampai Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkeinginan untuk menantangnya bermubahalah (saling berdoa agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi laknat kepada yang salah) di sisi Ka’bah.
Pada suatu saat, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma melihat Zaid radhiyallahu ‘anhu mengendarai kendaraannya. Maka dia pun mengambil kendali kendaraan Zaid dan menuntunnya. Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata: “Lepaskan, wahai anak paman Rasulullah!” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjawab: “Seperti inilah yang kita diperintahkan untuk melakukan (penghormatan) kepada ulama dan pembesar kita.”
Zaid radhiyallahu ‘anhu berkata: “Perlihatkan kepadaku tanganmu!” Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengeluarkan tangannya. Lalu Zaid radhiyallahu ‘anhu menciumnya, seraya mengatakan: “Seperti inilah kita diperintahkan untuk menghormati keluarga Nabi.”
Ketika Zaid radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia, Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Seperti inilah –yakni wafatnya ulama– (caranya) ilmu itu lenyap. Sungguh pada hari ini telah terkubur ilmu yang banyak.” (Adabul Khilaf hal. 21-22)

Penutup
Telah terang atas kita rambu-rambu dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara ulama Ahlus Sunnah. Yang tak kalah pentingnya bahwa kita hendaknya selalu memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk ditunjuki kepada kebenaran pada perkara yang diperselisihkan. Kita yakin bahwa kita lemah dalam segala sisinya. Hawa nafsu sering kita kedepankan sehingga jalan kebenaran seolah tertutup di hadapan kita. Kita menghormati para pendahulu kita yang telah mendahului kita dalam iman dan amal serta mendoakan kebaikan untuk mereka.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului dengan keimanan, dan janganlah Engkau jadikan pada hati kami kedengkian kepada orang-orang yang beriman, wahai Rabb kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)
Wallahu a’lam.

Dauroh / Tabligh Akbar Bontang Kaltim Juni 2011

Kajian Salaf 0

Tema : Tazkiyatun Nufus
Pembicara : Dr. Syadi Muhammad Salim An Nu’man ( Dari Yaman )
Hari / Tanggal : Sabtu – Ahad / 25 – 26 Juni 2011
Pukul : 08.30 S/D 12.00

Tema : Mulia Dengan Manhaj Salaf
Pembicara : Ust. Bahri Qosim. Ma ( Dari Bekasi )
Hari / Tanggal : Jum’at-sabtu / 24-25 Juni 2011
Pukul :jum’at : Bada Maghrib, Sabtu : Bada Subuh Dan Bada Maghrib

Tema : Tafsir Ayat Kursi
Pembicara : Ust. Ahmad Zakaria ( Dari Purwokerto )
Hari / Tanggal : Sabtu-ahad / 25-26 Juni 2011
Pukul : Sabtu : Bada Maghrib, Ahad : Bada Subuh Dan Bada Maghrib

Tempat : Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq Yayasan Ihyaussunnah Pisangan Bontang Kaltim
CP: Abu Ya'la 082110375445

Wasiat Itu Adalah Taqwa

Kajian Salaf Jumat, 10 Juni 2011 0

Ditulis oleh Ustadz Abu Minhal

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ ٨:٢٩


Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqân dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. [al-Anfâl/8:29]


ALLAH SUBHANAHU WA TA'LA MEMANGGIL DENGAN PANGGILAN YANG BAIK DAN MENARIK

Di ayat ini, Allah Azza wa Jalla memberikan contoh terbaik dalam mentarbiyah manusia agar mau menerima ajaran-ajaran-Nya. Allah Azza wa Jalla memanggil para hamba-Nya dengan sebutan terbaik  'wahai orang-orang yang beriman '.  Setelah itu, perintah atau larangan datang menyertainya. Panggilan ini mencakup seluruh umat Islam dengan berbagai strata keimanannya. Baik mereka yang sudah mencapai derajat keimanan yang tinggi, atau masih berada dalam level pertengahan, maupun mereka yang keimanannya masih dangkal, mudah terpengaruh dengan fitnah-fitnah yang menerjang. Orang yang baru memeluk Islam pun termasuk di dalamnya. Intinya, seluruh kaum mukminin dengan beragam tingkat keimanannya masuk dalam konteks ayat ini.

Penggunaan bentuk khithâb (arah pembicaraan) demikian ini mengandung dua manfaat sekaligus pada diri mukhâthab (kaum mukminin).

  1. Ajakan kepada mereka supaya memahami konsekuensi gelar iman tersebut hingga tergerak untuk menyempurnakan keimanan mereka dan melengkapi seluruh cabang-cabangnya, secara lahiriah maupun batiniah.

  2. Agar mereka ingat gelar sangat mulia itu dan pada gilirannya tertuntut untuk mensyukurinya dengan mematuhi perintah dan larangan-Nya.[1]


SANGAT PENTING, WASIAT UNTUK BERTAKWA KEPADA ALLAH SUBHANAHU WA TA'LA

Perintah untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla senantiasa relevan dengan waktu dan tempat, kapanpun dan dimanapun. Mengingat, ragam fitnah yang mengancam hati seorang hamba, lingkungan yang tidak kondusif ataupun lantaran hati manusia yang rentan mengalami perubahan dan sebab-sebab lainnya yang berpotensi menimbulkan pengaruh negatif pada keimanan dan ketakwaan.

Urgensi berwasiat untuk takwa dapat disaksikan dari kenyataan bahwa Allah k menjadikannya wasiat bagi orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Allah k berfirman: (an-Nisâ/4:131)

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ


… dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang dibumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. [an-Nisâ/4:131]

Ketakwaan juga merupakan wasiat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada umatnya. Pada haji wada', Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

اتَّقُوا اللَّهَ رَبَّكُمْ وَصَلُّوا خَمْسَكُمْ وَصُومُوا شَهْرَكُمْ وَأَدُّوا زَكَاةَ أَمْوَالِكُمْ وَأَطِيعُوا ذَا أَمْرِكُمْ تَدْخُلُوا جَنَّةَ رَبِّكُمْ


Bertakwalah kepada Allah, kerjakan sholat lima waktu, berpuasalah di bulan (Ramadhan), tunaikan zakat harta kalian, taati para penguasa, niscaya kalian masuk syurga Allah. [HR. at-Tirmidzi. Lihat Shahîhul Jâmi' no. 109]

Beliau juga menyampaikan pesan penting ini kepada pasukan ekspedisi (sariyyah) sebelum mereka berangkat menyelesaikan misinya. Dan ini, selanjutnya membudaya pada generasi Salaf sejak dahulu.

'Umar bin Khaththâb Radhiyallahu 'anhu pernah berpesan:

أُوْصِيْكَ بِتَقْوَى اللهِ - عَزّ وَجَلَّ – فَإِنَّهُ مَنْ اتَّقَاهُ وَقَاهُ , وَمَنْ أَقْرََضَهُ جَزَاهُ وَمَنْ شَكَرَهُ زَادَهُ


Amma ba'du, sesungguhnya aku berwasiat kepadamu untuk bertakwa kepada Allah Azza Wa Jalla. Sungguh orang yang bertakwa kepada-Nya, Allah akan melindunginya. Barang siapa menginfakkan hartanya, niscaya Allah akan memberinya balasan. Barang siapa mensyukuri-Nya, niscaya akan diberi tambahan

KEUTAMAAN TAKWA DALAM AYAT DI ATAS

Ketakwaan (at-taqwa, Arab) bermakna luas. Hal ini dapat diketahui dari definisi para ulama yang menerangkan bahwa ketakwaan ialah upaya seorang hamba membuat pelindung antara dirinya dengan sesuatu yang ia takuti. Dengan begitu, seorang hamba yang ingin bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, berarti ia ingin membangun pelindung antara dirinya dari Allah Azza wa Jalla Ta'ala yang ia takuti kemarahan dan kemurkaan-Nya, dengan melaksanakan amal ketaatan dan menjauhi larangan.

Berdasarkan keterangan Ibnul Jauzi rahimahullah [2] , seseorang mesti menjaga hal-hal berikut hingga berhasil memperoleh ketakwaan:

Mata : Karena mata pemberi perintah kepada hati. Apa saja yang dilihat, akan ia kirim ke hati, baik yang diperbolehkan maupun terlarang. Dengan pelindung takwa, mata hanya mengirimkan obyek-obyek yang diperbolehkan saja kepada hati

Telinga : Penerima suara-suara yang juga berperan besar mengantarkannya ke hati. Kebatilan yang datang lebih banyak ketimbang kebenaran. Oleh sebab itu, kewajiban seorang hamba mengekang dari berbaur dengan kebatilan, dan menjauhkan diri dari orang-orangnya. Bila mendengar perkataan, hanya mengikuti yang terbaik, dan mencerna yang paling selamat, dan memelihara telinga dari lainnya atau melontarkannya jauh-jauh bila telah sampai ke telinga.

Lisan : Terdapat 20 lebih pelanggaran yang dapat dilakukan oleh lidah. Bila ia dibentengi dengan kejujuran, ketakwaan akan menjadi sempurna dan kedudukan tinggi pun teraih

Tangan: Alat untuk mengambil atau berbuat aniaya. Cara pemeliharaannya deng menahannya dari segala sesuatu kecuali yang dikehendaki Allah k

Kaki : Untuk melangkah kepada hal-hal yang halal atau tidak. Pemeliharaannya dengan menghalanginya dari hal-hal yang tidak boleh.

Hati: Ini bagaikan lautan yang luas. Selain berfungsi positif, hati juga dapat melakukan perkara-perkara negatif. Bila telah dibentengi, maka akan menanggalkan seluruh potensi buruknya, memenuhinya dengan niat yang murni dan melapangkannya untuk bertauhid kepada Allah Azza wa Jalla.

Allah Azza wa Jalla telah memberitakan bahwa penghuni syurga adalah al-muttaqîn (insan-insan yang bertakwa kepada-Nya). Karenanya, sudah menjadi kewajiban seorang manusia (muslim) untuk bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, guna menggapai pahala dari-Nya dan mengharap keselamatan dari siksa-Nya.

Ketakwaan seorang hamba kepada Allah Azza wa Jalla akan memunculkan banyak manfaat dan keutamaan. Secara khusus, dalam ayat di atas, Allah Azza wa Jalla mengetengahkan empat keutamaan besar dari buah ketakwaan seseorang kepada Allah Rabbul 'alamîn. Dikatakan Syaikh al-Jazâiri , bahwa ayat ini merupakan himbauan dan anjuran untuk bertakwa dengan cara mengetengahkan manfaat-manfaat besarnya [3].

Manfaat-manfaat tersebut, ialah:

Pertama: Memperoleh furqân. Allah Azza wa Jalla berfirman:

يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا


(Jika kamu bertaqwa kepada Allah) niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqân [Al Anfaal : 29]

Inilah manfaat pertama bila seseorang bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla. Sebagian ulama memaknai kata furqân dengan pengertian makhraja, yaitu jalan keluar, sesuai dengan kandungan firman Allah k dalam surat ath-Thalâq/2 berikut ini :

وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا


Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar.

Sebagian lain, memaknainya dengan fathan (penaklukan kota musuh), nashran (kemenangan) atau najâtan (keselamatan).[4]

Sementara itu, Muhammad bin Ishâq rahimahullah mengatakan: "(niscaya Dia Azza wa Jalla akan memberikan kepadamu) kata pemutus (fashlan) antara kebenaran dan kebatilan". Penafsiran terakhir ini dinilai Imam Ibnu Katsîr rahimahullah lebih kompleks dari apa yang telah disebutkan sebelumnya. Bahkan bisa mengandung konsekuensi-konsekuensi pengertian yang ada pada pendapat-pendapat sebelumnya. Lantas, beliau menjabarkannya dengan berkata: "Barang siapa bertakwa kepada Allah k dengan menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-larangan, akan mendapatkan taufik (kemudahan) untuk mengenali antara kebenaran dan kebatilan. Dan itu (pada gilirannya) merupakan faktor yang mendatangkan kemenangan, keselamatan dan solusi bagi masalahnya di dunia dan kebahagiaannya di hari Kiamat". [5]

Syaikh asy-Syinqîthi rahimahullah dalam tafsirnya juga merajihkan pendapat Ibnu Ishaq rahimahullah. Kata beliau, "Pendapat yang dikuatkan oleh ayat al-Qur`an dan bahasa Arab adalah pendapat Ibnu Ishaq rahimahullah. Sebab kata furqân merupakan bentuk washf (sifat, adjektif) yang berarti pembeda antara kebenaran dan kebatilan". Kemudian beliau membawakan beberapa ayat yang memuat makna sepadan dengan furqân yang ada dalam ayat di atas. Salah satunya, firman Allah Azza wa Jalla dalam surat al-Hadîd/57: 28 berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَآمِنُوا بِرَسُولِهِ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِن رَّحْمَتِهِ وَيَجْعَل لَّكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ


Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kami.Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Cahaya yang dimaksud dalam surat al-Hadîd/28 di atas maknanya ilmu dan hidayah guna membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Hal ini akan semakin jelas bila juga diperhatikan firman Allah Azza wa Jalla berikut ini, yang membicarakan mengenai orang yang kafir kemudian memperoleh hidayah Allah Azza wa Jalla dan memeluk Islam. Allah Azza wa Jalla berfirman:

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ


Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia,…. [al-An'âm/6:122]

Allah Azza wa Jalla menjadikan cahaya yang disebutkan dalam surat al-Hadîd bermakna furqân yang termaktub dalam surat al-Anfâl. Begitu juga, pengguguran kesalahan dan penghapusan dosa yang merupakan buah ketakwaan juga disebutkan pula di surat al-Hadîd.[7]

Jadi, pengertian furqân ialah alat pembeda antara kebenaran dan kebatilan maupun saat menghadapi perkara-perkara musytabih (yang hakikatnya masih kabur). Dengan 'piranti' ini, kaum muttaqîn (orang-orang yang bertakwa) – setelah dengan taufik dari Allah k - dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara yang berbahaya dan hal-hal yang bermanfaat, antara halal dan haram, serta orang-orang yang berbahagia dan orang-orang celaka di akhirat kelak.[8]

Termasuk dalam konteks ini, seseorang memperoleh ilmu dari Allah k yang tidak berhasil digapai orang lain. Dengan ketakwaan, seseorang mendapatkan tambahan hidayah, ilmu, pemahamahan dan hafalan.

Allah Azza wa Jalla anugerahkan kepada orang yang bertakwa. Dengan firasat shadiqah (benar), kendatipun hanya dengan melihat saja, seorang muslim mampu mengetahui si A berkata dusta, jujur, orang baik atau seorang yang berkepribadian jahat. Bahkan terkadang ia dapat menilai orang lain meski belum pernah berinteraksi dengannya sekalipun karena memperoleh kekuatan firasat dari Allah Azza wa Jalla.[9]

Kedua: Penghapusan segala kesalahan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ


dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan

Ini artinya seseorang yang bertakwa, Allah akan memudahkannya untuk beramal sholeh yang nantinya menjadi penghapus dan menggugurkan dosa-dosanya.[10]

Ketiga: Pengampunan dosa-dosa.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَيَغْفِرْ لَكُمْ


dan mengampuni (dosa-dosa)mu.

Allah Azza wa Jalla memudahkan untuk beristighfar dan taubat. Itu termasuk nikmat Allah kAzza wa Jalla yang tercurah pada seorang hamba yang bertakwa. [11]

Menurut pandangan Syaikh as-Sa'di rahimahullah terdapat sisi persamaan antara manfaat kedua (pengguguran dosa) dengan manfaat ketiga (mengampuni dosa), baik secara mutlak (saat disebutkan sendiri-sendiri) dan saat keduanya disebut secara bersamaan. Takfîrudz dzunûb bermakna menghapuskan dosa-dosa kecil. Sedangkan maghfiratudz dzunûb, demikian juga bermakna menghapuskan dosa. Namun dikhususkan pada dosa-dosa besar.[12]

Keempat: Pahala besar berupa Jannah.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ


Dan Allah mempunyai karunia yang besar.

Penutup ayat di atas mengindikasikan bahwa orang yang bertakwa kepada Allah k dan mengutamakan ridha-Nya di atas keinginan nafsu pribadi akan memperoleh pahala agung dan ganjaran besar di akhirat, yaitu Jannah.[13]

Diantara Pelajaran dari ayat di atas:

  1. Keutamaan takwa yang sangat besar

  2. Luasnya karunia Allah Azza wa Jalla bagi para hamba-Nya yang beriman

  3. Dengan furqân adalah cahaya di hati yang dipakai oleh orang bertakwa untuk membedakan antara perkara-perkara yang meragukan dimana kebenaran masih tampak kabur dan belum kentara.


Wallahu a'lam

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XII/1430H/2009M Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]

_______

Footnote

[1]. Lihat al-Qawâid al-Hisân kaidah no. 9 hal. 30-31

[2]. Ahkâmul Qur`ân (2/320-321) dengan diringkas

[3]. al-Aisar (1/439)

[4]. al-Jâmi Li Ahkâmil Qur`ân (7/347-348), Ahkâmul Qur`ân (3/321), Tafsîrul Qur`ânil 'Azhîm (4/43)

[5]. Lihat Tafsirul Qur`ânil 'Azhim (4/43), Jâmi'ul Bayân (9/264)

[6]. Adhwâul Bayân (2/313)

[7]. Adhwâul Bayân 2/313

[8]. Silahkan lihat at-Taisîr hal. 330, al-Aisar (1/440)

[9]. Kitâbul 'Ilmi hal. 58

[10]. Ibdi hal. 59

[11]. Ibid

[12]. at-Taisîr hal. 330

[13]. Lihat at-Taisiir dan al-Aisar (1/440)

Adakah Orang Yang Mau Bersegera?

Kajian Salaf Rabu, 08 Juni 2011 0

Adakah orang yang mau bersegera?

Seandainya ada orang yang mengabdi atau memuliakanmu sehari atau dua hari, pasti engkau akan berlebihan memujinya, dikarenakan kebaikan dan pengabdiannya kepadamu. Lalu engkau akan berharap ada kesempatan untuk membalas budi baiknya. Bukankah demikian seharusnya?

Dan disana..... ada orang yang mengabdi untukmu bertahun-tahun. Mereka berkorban untukmu bertahun-tahun. Menyuapimu makan sewaktu engkau masih kecil, bahkan mengganti celanamu sewaktu engkau mengompol dan mencebokimu ketika engkau buang air besar. Mereka bertahun-tahun mengantarmu pergi ke sekolah.  Ya.. bertahun-tahun mereka mendidikmu dan berkorban apa saja untukmu.

Sewaktu engkau sakit seketika mereka membawamu ke rumah sakit. Saat engkau menangis hati mereka seakan teriris-iris.... bahkan mungkin air mata mereka juga ikut mengalir.

Mereka mendoakanmu di keheningan malam dan bekerja keras untukmu di terik siang. Bertahun-tahun lamanya. Ya... bertahun-tahun lamanya dan mereka menikmati semuanya itu.

Lalu apa balasannya? Adakah orang yang bersegera?



……Wahai, Rabb-ku. Kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil.
(QS Al Isra' 24)

Waktu Membaca Amin dalam Shalat Berjama'ah

Kajian Salaf Selasa, 07 Juni 2011 0

Pertanyaan:

Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Apabila dia ruku’ maka ruku’lah kalian, dan apabila dia sujud maka sujudlah kalian. dan apabila dia membaca ‘amin’ maka bacalah amin.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lalu apakah makna sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila dia membaca amin, maka bacalah amin.”?

 

Jawaban:

Maknanya adalah apabila dia (imam) sudah mulai membaca amin, atau apabila dia telah sampai tempat bacaan amin maka bacalah amin, sebab terdapat riwayat yang sah dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah -radhiyallahu’anhu-, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila imam telah membaca, ‘waladhdhaalliin, maka ucapkanlah amin.” (HR. Muslim).

Sebagian orang ada yang berpendapat bahwa makna sabda beliau ‘apabila dia membaca amin’ yaitu apabila dia telah selesai membaca amin, akan tetapi bukan seperti itu yang benar. Namun, maksudnya adalah apabila dia sudah sampai tempat bacaan amin, maka bacalah amin oleh kalian. Hadits Abu Hurairah di dalam Shahih Muslim menjelaskan hal itu, “Apabila imam telah membaca, ‘waladhdhaalliin, maka ucapkanlah amin.’.”

(Ibnu Utsaimin –rahimahullah-)

Diterjemahkan dari:
Fatawa Tata’allaqu Bi Syarhi Ba’dhil Ahadits,
Penyusun Dakhilullah bin Bakhit,
Penerbit Dar Ibnu Khuzaimah
Cet ke-1 1422 H.
Halaman 19-20

Tidakkah kita tergerak untuk segera menyambut ampunan-Nya?

Kajian Salaf 1

Diambil dari : Artikel ustadz Abu Mushlih Hafidzahullahu Ta’ala.

Saudara-saudaraku, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Semua orang pasti pernah berbuat dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah yang rajin bertaubat kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Az-Zumar [39] : 53).

Saudara-saudaraku, kezaliman apa pun yang pernah kau lakukan, maka ketahuilah bahwa pintu ampunan Allah sangatlah lebar. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Rabbmu adalah pemilik ampunan bagi umat manusia atas kezaliman mereka, dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar keras siksanya.” (QS. Ar-Ra’d [13] : 6).

Saudara-saudaraku, kemanakah hendak kau cari ampunan itu kalau bukan kepada-Nya yang berada di atas langit sana. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Rabbmu adalah pemilik ampunan sekaligus pemilik siksaan yang amat pedih.” (QS. Fushshilat [41] : 43).

Saudara-saudaraku, tidakkah engkau ingin termasuk orang-orang yang dicintai-Nya, tidakkah engkau ingin menjadi orang yang diampuni kesalahan dan dosa-dosanya? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang rajin bertaubat dan (Allah) mencintai orang-orang yang suka membersihkan diri.” (QS. Al-Baqarah [2] : 222).

Saudara-saudaraku, apakah kamu enggan untuk bertaubat dan menerima ampunan dari-Nya? Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah mereka tidak mau bertaubat kepada Allah dan meminta ampunan-Nya. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Maa’idah [5] : 74).

Saudara-saudaraku, apakah kita tidak ingin terbebas dari azab yang sangat pedih? Apakah kita tidak ingin mendapatkan kebaikan? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Apabila kalian bertaubat maka itulah yang lebih baik bagi kalian. Apabila kalian justru berpaling, ketahuilah bahwa kalian tidak akan bisa melemahkan Allah, dan berikanlah kabar gembira untuk orang-orang kafir bahwa mereka akan mendapatkan siksa yang amat pedih.” (QS. At-Taubah [9] : 3).

Saudara-saudaraku, kembalilah kepada Dzat Yang Maha pengasih lagi Maha penyayang, sungguh Dia tidak akan menyia-nyiakan doa dan amal-amal kalian. Nabi Syu’aib ‘alaihis salam memerintahkan kepada kaumnya, sebagaimana tercantum dalam ayat (yang artinya), “Mintalah ampunan kepada Rabb kalian kemudian bertaubatlah kepada-Nya, sesungguhnya Rabbku Maha pengasih lagi Maha penyayang.” (QS. Hud [11] : 90).

Saudara-saudaraku, marilah kita sambut kebahagiaan dan kesuksesan hidup dengan senantiasa bertaubat kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bertaubatlah kalian semua kepada Allah wahai orang-orang yang beriman, agar kalian berbahagia.” (QS. An-Nur [24] : 31).

Saudara-saudaraku, tidak inginkah kita amal-amal buruk dan kemaksiatan kita terhapus dan dimaafkan oleh Allah kemudian Allah gantikan dengan kebaikan dan ketaatan kepada-Nya? Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan melakukan amal salih, maka mereka itulah orang-orang yang akan diganti kejelekan mereka dengan kebaikan. Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Furqan [25] : 70).

Saudara-saudaraku, marilah kita gapai ampunan Allah dan keberuntungan dari-Nya dengan taubat yang murni, iman yang tulus dan lurus, serta amal yang ikhlas dan mengikuti tuntunan. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Adapun orang yang bertaubat, beriman, dan beramal salih, maka semoga saja dia termasuk golongan orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Qashash : 67).

Saudara-saudaraku, Allah Maha mengetahui isi hati kita dan keinginan-keinginan yang terbetik di dalamnya. Tidakkah kita tergerak untuk segera menyambut ampunan-Nya dan bersimpuh di hadapan-Nya untuk memperbaharui taubat kita. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dialah (Allah) yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan. Allah Maha mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Asy-Syura [42] : 25).

Ya Allah, terimalah taubat hamba-hamba-Mu ini… Sesungguhnya Engkau Maha penerima taubat lagi Maha penyayang.

Dauroh Keluarga Muslim Indonesia Malang (tanggal 8,9,10 Juli 2011)

Kajian Salaf Sabtu, 04 Juni 2011 0

Dengan mengharap Ridho Allah
IKUTILAH…………….
DAUROH KELUARGA MUSLIM INDONESIA

LOKASI :
WISATA AGRO WONOSARI, LAWANG-MALANG,JAWA TIMUR
untuk melihat gambaran lokasi bisa di lihat di
http://www.agro-ptpn12.com/

WAKTU :
JUMAT,SABTU & AHAD ,8,9,10 JULI 2011
di mulai jumat jam 13.00 WIB, berakhir ahad jam 14.00 WIB

Pemateri:
Al-Ustadz.Aunur Rofiq Gufron,Lc (mudir mahad alfurqon sidayu-gresik dan Penasehat Majalah Alfurqon-Alumni ibnu su’ud saudi arabia)
Al-Ustadz.Ahmad Sabiq,Lc(Staff Pengajar Mahad Al-Furqon dan Pemimpin Redaksi Majalah keluarga Al-Mawaddah http://ahmadsabiq.com/)
Al-Ustadz.Ustadz Muhammad Washito Abu Fawwaz. MA(Dewan Pembina majalah Pengusaha Muslim, Alumni Jami’ah Islamiyah -Madinah,Saudi Arabia http://abufawaz.wordpress.com/)
Al-Ustadz..Fadil Fuad Basymeleh (Dewan Pembina KOMUNITAS PENGUSAHA MUSLIM INDONESIA(KPMI),Direktur Utama www.zahiraccounting.com)

Sumber: muslimah.or.id